cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Faktor Risiko COVID-19 pada Anak Debora K. Pangow; Novie H. Rampengan; Rocky Wilar
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44321

Abstract

Abstract: The prevalence of COVID-19 cases is still increasing in children, as well as the morbidity and mortality rates. Therefore, it is necessary to understand the risk factors involved in the incidence of COVID-19 infection in children. This study aimed to identify and analyze the risk factors for the transmission of COVID-19 in children. This was a literature review study using four databases namely Scopus, ProQuest, Pubmed, and Science Direct. The results obtained 16 literatures about the risk factors for COVID-19 in children with the basic concept of the epidemiological triad of COVID-19 risk factors, namely the host, agent, and environment. The literatures indicated that the host risk factors were gender, vitamin D deficiency, age, asthma comorbid or underlying medical conditions, and race. The agent risk factors were the emergence of the delta virus variant, meanwhile the environmental risk factors were the exposure to viruses in the household or family cluster, exposure to endemic areas, exposure to bus travel, virus transmission at school, and close contact with people diagnosed with COVID-19. In conclusion, risk factors for COVID-19 in children with interaction of transmission factors of COVID-19 which are host, agent, and environment cause the rapid development of new coronavirus cases. Most transmission of COVID-19 in children is derived from family contact (environment). Keywords: risk factors for COVID -19; transmission in children Abstrak: Prevalensi kasus COVID-19 terus meningkat pada anak, demikian pula angka kesakitan maupun angka kematian. Oleh karena itu faktor risiko yang terlibat kejadian infeksi COVID-19 pada anak perlu dipahami secara detil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko penularan COVID-19 pada anak. Jenis penelitian ialah suatu literature review yang menggunakan empat pengkajian database yaitu Scopus, ProQuest, Pubmed, dan ScienceDirect. Hasil penelitian mendapatkan 16 literatur yang meneliti faktor risiko COVID-19 pada anak, dengan konsep dasar trias epidemiologi faktor risiko COVID-19 yaitu pejamu, agen, dan lingkungan. Faktor-faktor risiko pejamu yaitu jenis kelamin, defisiensi vitamin D, usia, dan komorbiditas asma atau kondisi medis yang mendasari, dan ras. Faktor risiko agen yaitu muncul-nya varian virus delta, sedangkan faktor lingkungan yaitu paparan virus dalam rumah tangga atau klaster keluarga, paparan daerah endemik, paparan perjalanan bus, penularan virus disekolah dan kontak dekat dengan orang terdiagnosis COVID-19. Simpulan penelitian ini ialah faktor-faktor risiko kejadian infeksi COVID-19 pada anak dengan interaksi faktor penularan COVID-19 yaitu faktor pejamu, agen dan lingkungan, mengakibatkan perkembangan kasus coronavirus baru yang sangat cepat. Penularan pada anak terbanyak berasal dari riwayat kontak keluarga (lingkungan). Kata kunci: faktor risiko COVID-19; penularan pada anak
Peran Nutrisi terhadap Kejadian Anemia Defisiensi Besi pada Anak Aurellia M. Salangka; Max F. J. Mantik; Praevilia M. Salendu
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44322

Abstract

Abstract: Iron deficiency anemia is the most common nutritional deficiency problem worldwide, especially in developing countries such as Indonesia. The highest prevalence was found in late infancy and early childhood due to the growth process and nutritional factors. This study aimed to evaluate the role of nutrition in iron deficiency anemia in children aged less than five years. This was a literature review study. The results showed that children aged less than five years suffering from iron deficiency anemia were associated with several factors, as follows: not being given exclusive breastfeeding, giving cow milk compared to iron-fortified formula milk, not consuming heme source foods (meat, legumes, green-leafy vegetables), and the habit of consuming tea. In conclusion, nutritional factors play an important role in iron deficiency anemia in children. Keywords: nutrition; iron deficiency anemia; children under five years of age Abstrak: Anemia defisiensi besi menjadi masalah defisiensi nutrisi yang paling banyak dijumpai di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi anemia defisiensi besi tertinggi didapatkan pada akhir masa bayi dan awal masa kanak-kanak oleh karena proses pertumbuhan dan juga faktor nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran nutrisi terhadap kejadian anemia defisiensi besi pada anak yang berusia kurang dari lima tahun. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Hasil penelitian mendapatkan bahwa anak berusia kurang dari lima tahun dan menderita anemia defisiensi besi dihubungkan dengan faktor tidak diberikan ASI eksklusif, pemberian susu sapi dibandingkan susu formula yang diperkaya zat besi, tidak mengonsumsi makanan sumber heme (daging, kacang polong, sayuran yang berwarna hijau tua), dan kebiasaan mengonsumsi teh. Simpulan penelitian ini ialah faktor nutrisi berperan penting dalam kejadian anemia defisiensi besi. Kata kunci: nutrisi; anemia defisiensi besi; anak usia kurang dari lima tahun
Hubungan Kompetensi dan Kompensasi dengan Kinerja Pegawai Administrasi di RSUP Ratatotok Buyat Yoan Gigir; Karel Pandelaki; Arthur E. Mongan
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44323

Abstract

Abstract: Good competency could increase the productivity of an employee. Meanwhile, to obtain qualified employees’ performance the compensation must be well planned, integrated and compre-hensive in order to provide a high motivation to achieve the organization goals. This study aimed to determine the relationship between competency and compensation with work performance of the administrative employees at RSUP Ratatotok Buyat, Minahasa Tenggara, Indonesia. In this study we used quantitative and qualitative methods (mixed method). This study was conducted at RSUP Ratatotok Buyat with a total sample of 50 employees and six informants. Primary data were obtained from questionnaires and interview guidelines, while secondary data were from document reading. The results showed that from 23 (46%) respondents with good competency, there were 16 (32%) with good performance and seven (14%) with fair performance. From 27 (54%) res-pondents with fair competency, there were eight (16%) with good performance and 19 (38%) with fair performance. In conclusion, there were positive relationships between competence as well as compensation with work performance of the administrative employees of RSUP Ratatotok Buyat.Keywords: performance; competence; compensation; administrative employee Abstrak: Kompetensi yang baik dapat meningkatkan produktifitas seorang pekerja. Selain itu untuk memperoleh kualitas kinerja yang baik dari pekerja, perlu adanya kompensasi yang terencana dengan baik, terintegrasi dan komprehensif agar mampu memberikan semangat kerja yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kompetensi dan kompensasi dengan kinerja pegawai administrasi di RSUP Ratatotok Buyat. Minahasa Tenggara, Indonesia. Jenis penelitian yaitu kombinasi/campuran kualitatif dan kuantitatif (mixed method). Penelitian ini dilakukan di RSUP Ratatotok Buyat dengan total sampel sebanyak 50 orang dan informan sebanyak enam orang. Data primer diperoleh dengan menggunakan kuisioner dan pedoman wawancara sedangkan data sekunder diperoleh melalui penelusuran dokumen. Hasil penelitian mendapatkan bahwa dari 23 responden (46%) yang memiliki kompe-tensi baik, terdapat 16 (32%) dengan kinerja baik dan tujuh (14%) dengan kinerja cukup. Dari 27 responden (54%) yang memiliki kompetensi cukup, terdapat 8 (16%) dengan kinerja baik dan 19 (38%) dengan kinerja cukup. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan positif antara kompetensi dan kompensasi dengan kinerja pegawai adminstrasi di RSUP Ratatotok Buyat.Kata kunci: kinerja; kompetensi; kompensasi; pegawai administrasi
Studi Korelasional antara Minat Pasien dan Sarana Prasarana Terkait Kepuasan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit TNI AU Sam Ratulangi Manado Emmanuela R. Molenaar; Herman Karamoy; Freddy Wagey; Welong S. Surya
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44324

Abstract

Abstract: As a health institution, hospitals are required to understand the needs of patients based on quality service that could affect the patients’ satisfaction towards the attitudes of medical and non-medical personnels, the facilities and infrastructure provided, and the environment that makes the patients feel comfortable and safe. This study aimed to determine the relationships between patients’ interest and infrastructure with patients’ satisfaction at Rumah Sakit TNI AU Sam Ratulangi Manado. This was a quantitative study. Samples were 67 inpatients obtained by using the quota sampling technique. Data were analyzed with the chi-square test. The results showed that based on the patients’ satisfaction, 58.2% of respondents were satisfied and 41.8% were dissatis-fied. Based on patients’ interest, 50.7% were interested and 49.3% were not interested. Based on facilities and infrastructure, 50.7% were good and 49.3% were not good. The results of the chi-square test confirmed that there was a relationship between patients’ interest and patients’ satisfaction (p=0.000), and there was a relationship between facilities and infrastructure with patients’ satisfaction (p=0.000). In conclusion, there are positive relationships between the patients’ interest as well as facilities and infrastructure with the patients’ satisfaction at Rumah Sakit TNI AU Sam Ratulangi Manado. Keywords: patients’ satisfaction; patients’ interest; facilities and infrastructure Abstrak: Rumah Sakit sebagai institusi kesehatan harus memahami kebutuhan pasien dalam hal kualitas pelayanan yang dapat memengaruhi kepuasan pasien terkait kepuasan terhadap sikap tenaga medis maupun non medis, sarana dan prasarana yang disediakan, serta lingkungan yang membuat pasien merasa nyaman dan aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara minat pasien dan sarana prasarana dengan kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit TNI AU Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 67 responden diperoleh dengan menggunakan teknik quota sampling. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian mendapatkan variabel kepuasan pasien yang puas sebesar 58,2% dan tidak puas 41,8%. Variabel minat pasien yang minat sebesar 50,7% dan tidak minat 49,3%. Variabel sarana prasarana yang baik sebesar 50,7% dan kurang baik 49,3%. Hasil uji chi-square menegaskan adanya hubungan antara minat pasien dengan kepuasan pasien (p=0,000), dan adanya hubungan antara sarana prasarana dengan kepuasan pasien (p=0,000). Simpulan penelitian ini terdapat hubungan bermakna antara minat pasien dan sarana prasarana dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit TNI AU Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: kepuasan pasien; minat pasien; sarana prasarana
Kajian Pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit di Instalasi Farmasi dan Pengadaan Peralatan Medik di RSU GMIM Siloam Sonder Saranita V. G. Polii; Gustaaf A. E. Ratag; Fatimawali Fatimawali
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44334

Abstract

Abstract: Hospital management information system (HMIS) processes and integrates the entire flow of hospital service processes to obtain precise and accurate information. This study aimed to analyze the use of HMIS in the management of drugs and consumable medical materials at the Pharmacy Installation and procurement of medical equipment in RSU GMIM Siloam Sonder. This was a qualitative and descriptive study using purposive sampling technique. There were nine informants in this study. Data were obtained from in-depth interviews, document searches, direct surveys, and comparing with theories in the literatures. The results showed that managements of drugs and consumables medical materials at the Pharmacy Installation had used the HMIS which supported the development of service performance in the hospital, improved users’ skills, easy to be understood and learnt, and hospital employees received training in operating the HMIS, however, it was not optimal. Its operation was also supported by a computer that was easy to operate, however, some difficulties used to occur. Moreover, the process of procuring medical equipment did not involve the HMIS. In conclusion, the HMIS at RSU GMIM Siloam Sonder has been used in management of drugs and consumables medical materials at the Pharmacy Installation, albeit, it has not been used in the process of procuring medical equipment. Keywords: HMIS; drugs and consumable medical materials; procurement of medical equipment Abstrak: Sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS) memroses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan rumah sakit untuk memperoleh informasi secara tepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan SIM RS dalam pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai (BHP) di Instalasi Farmasi dan pengadaan peralatan medik di RSU GMIM Siloam Sonder. Jenis penelitian ialah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian ini berjumlah sembilan orang. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam, penelusuran dokumen, survei langsung, serta membandingkan dengan teori-teori pada literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pengelolaan obat dan BHP di Instalasi Farmasi RSU GMIM Siloam Sonder sudah memanfaatkan SIM RS yang mendukung pengembangan kinerja pelayanan di rumah sakit, meningkatkan keterampilan penggunanya, mudah dipahami dan dipelajari, serta karyawan mendapatkan pelatihan dalam mengoperasikan SIM RS, namun belum maksimal. Pengoperasiannya didukung juga oleh komputer yang mudah dioperasikan, namun masih sering terdapat kesulitan. Proses pengadaan peralatan medik belum melibatkan SIM RS. Simpulan penelitian ini ialah SIM RS di RSU GMIM Siloam Sonder sudah dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan obat dan BHP namun belum dimanfaatkan dalam proses pengadaan peralatan medik. Kata kunci: SIM RS; obat dan bahan habis pakai; pengadaan peralatan medik
Analisis Kebijakan Mutu Fasilitas Kesehatan TNI AU Timika dalam Rangka Peningkatan Kelas Pelayanan Albertus Nugraha; Gustaaf A. E Ratag; Eva M. Mantjoro; Welong S. Surya
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44518

Abstract

Abstract: Clinics and other health services are important parts of a social and health organization functioning to provide comprehensive, disease healing (curative) and disease prevention (preventive) services to the community. This study aimed to analyze the quality policy at the health service facilities of TNI AU Timika. This was a qualitative study. The results showed that the reliability of services was not in accordance with the standard operating procedure (SOP); responsiveness, namely the lack of health workers, therefore, the services were not optimal; assurance, namely that all health workers had licenses to practice, and treated the patients carefully and thoroughly; empathy, namely treating the patients according to their needs and responding to complaints open heartedly, such as accepting criticism and suggestions directly as well as through suggestion boxes and other communication media; physical evidence (tangibles), namely the completeness of the infrastructure was not optimal. In conclusion, Timika TNI AU clinic needs to improve and complete its facilities to achieve increased health service standards in order to provide stability and be able to support the military defense of Eastern Indonesian region in the health sector. Keywords: health facility; reliability of services; responsiveness; assurance; empathy; tangibles   Abstrak: Klinik dan layanan kesehatan lainnya merupakan bagian penting dari suatu organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan mutu di fasilitas pelayanan kesehatan TNI AU Timika. Jenis penelitian ialah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reliabilitas pelayanan belum sesuai SOP; daya tanggap, yaitu masih kurangnya jumlah petugas kesehatan sehingga pelayanan tidak maksimal; jaminan, yaitu semua tenaga kesehatan telah memiliki izin praktek dan melakukan tindakan kepada pasien secara hati-hati dan teliti; empati, yaitu menangani pasien sesuai dengan kebutuhannya serta menanggapi keluhan secara terbuka, dan menerima kritik dan saran secara lang-sung, melalui kotak saran dan media komunikasi lainnya; bukti fisik, yaitu sarana prasarana masih kurang lengkap. Simpulan penelitian ini ialah klinik TNI AU Timika perlu membenahi dan meleng-kapi fasilitasnya untuk mencapai peningkatan kelas standar pelayanan kesehatan agar memberikan stabilitas dan dapat mendukung pertahanan militer wilayah Timur Indonesia di bidang kesehatan. Kata kunci: fasilitas kesehatan; reliabilitas pelayanan; daya tanggap; jaminan; empati; bukti fisik
Tatalaksana Status Epileptikus Terkini pada Anak Jose M. Mandei; Praevilia M. Salendu
e-CliniC Vol. 11 No. 1 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i1.44460

Abstract

Absract: Status epilepticus is one of the most common pediatric neurologic emergencies in children with progressive benzodiazepine pharmaco-resistance due to neurotransmitter receptor disturbance. This has led to revisions of definitions and guidelines to emphasize early treatment and faster escalation. The initial management of the stabilization phase is followed by the administration of benzodiazepines as the first line. Second-line medications such as valproate, fosphenytoin, or levetiracetam, or phenobarbital are recommended, and at this point there is no clear evidence that one of these options is better than the other. If seizures persist after second-line drugs, refractory status epilepticus may be established. Treatment of refractory status epilepticus consists of bolus doses and continuous infusion titration with third-line drugs. In conclusion, potential therapeutic approaches for future study may require consideration of interventions that may speed the diagnosis and treatment of status epilepticus. Major advances in the clinical field with new definitions and classifications give the clinicians a better guidance on when to treat, how aggressively to treat, and how to avoid over- or under-treating the condition of status epilepticus. Keywords: status epilepticus; management; children   Abstrak: Status epileptikus merupakan salah satu kedaruratan neurologis yang paling umum pada anak dengan farmakoresistensi benzodiazepine progresif karena gangguan reseptor neurotransmiter. Hal ini menyebabkan dilakukannya revisi definisi dan pedoman untuk menekankan pengobatan dini dan eskalasi yang lebih cepat. Tatalaksana awal fase stabilisasi dilanjutkan pemberian benzodiazepine sebagai lini pertama. Pengobatan lini kedua seperti valproate, fosphenytoin, atau levetiracetam, atau fenobarbital direkomendasikan, dan pada titik ini tidak ada bukti yang jelas bahwa salah satu dari opsi ini lebih baik daripada yang lain. Jika kejang berlanjut setelah obat lini kedua, status epileptikus refrakter dapat ditegakkan. Pengobatan status epileptikus refrakter terdiri dari dosis bolus dan titrasi infus kontinu dengan obat lini ketiga. Simpulan studi ini ialah pendekatan terapeutik potensial untuk studi masa depan mungkin memerlukan pertimbangan intervensi yang dapat mempercepat diagnosis dan pengobatan status epileptikus. Kemajuan besar dalam bidang klinis dengan definisi dan klasifikasi baru memberikan panduan yang lebih baik kepada dokter tentang kapan harus mengobati, seberapa agresif untuk mengobati, dan bagaimana menghindari pengobatan yang berlebihan atau kurang dari kondisi stastus epileptikus. Kata kunci: status epileptikus; tatalaksana; anak
Intussusception: Diagnosis and Management According to the Competence of Primary Service Doctors Nazzirah Al Ammari; Harsali Lampus; Andreas Kurniawan
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37464

Abstract

Abstract: Intussusception is defined as the invagination of a bowel segment into another. Intussusception can occur at any age but it is most common in children aged three months to two years. In children, the cause of intussusception is idio-pathic and is assumed to be associated with uncoordinated intestinal peristalsis or lymphoid hyperplasia, which may be due to gastrointestinal infection. Clinical findings include intermittent abdominal pain, vomiting, and red currant jelly stools. The diagnosis of intussusception is confirmed by using contrast enema, ultrasound, and CT-Scan. Improving condition must be done before performing a surgery. In conclusion, intussusception has a good prognosis with early diagnosis and treat-ment. Surgery is an option if the intussusception is followed with complication or if the enema reduction fails.Keywords: intussusception; invaginationAbstract: Intussusception is defined as the invagination of a bowel segment into another. Intussusception can occur at any age but it is most common in children aged three months to two years. In children, the cause of intussusception is idiopathic and is assumed to be associated with uncoordinated intestinal peristalsis or lymphoid hyperplasia, which may be due to gastrointestinal infection. Clinical findings include intermittent abdominal pain, vomiting, and red currant jelly stools. The diagnosis of intussusception is confirmed by using contrast enema, ultrasound, and CT-Scan. Improving condition must be done before performing a surgery. In conclusion, intussusception has a good prognosis with early diagnosis and treatment. Surgery is an option if the intussusception is followed with complication or if the enema reduction fails.Keywords: intussusception; invagination
Role of 3D CT in Diagnosis of Skull Base Fractures Michelle W. Mandang; Eko Prasetyo; Stephanus J. Ch. Tangel
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37806

Abstract

Abstract: Traumatic brain injury (TBI) including skull base fracture is one of the most common medical encounters and the leading cause of disability and death. The gold standard examination for skull base fracture is computerized tomography (CT scan). Since skull base has irregular anatomy and thin bony plates, CT 3 dimension (3D CT) is needed to detect this fracture rapidly and accurately compared to conventional CT scan.  This study aimed to evaluate the use of 3D CT in the diagnosis of skull base fractures. This was a literature review study using databases of ClinicalKey, Google Scholar, and PubMed. The keywords were three-dimensional computed tomography (CT 3D) and skull base fractures. The results obtained 15 articles related to this topic. The 3D CT could detect skull base fractures more rapidly and accurately than other examinations such as X-ray, 2D CT, solid (SVR) and transparent (TVR) volume-rendering technique, and maximum intensity projection (MIP). In conclusion, 3D CT plays an important role in the diagnosis of skull base fractures.Keywords: 3D CT; skull base fractures; traumatic brain injury Abstrak: Cedera kepala akibat trauma merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian. Patah tulang dasar kepala sering terjadi pada cedera kepala akibat trauma. Pemeriksaan baku emas untuk patah tulang dasar kepala menggunakan modalitas Computerized Tomography (CT scan). Dasar kepala memiliki anatomi yang tidak beraturan dan ketebalan tulang yang tipis, sehingga penggunaan CT 3 dimensi (CT 3D) dibutuhkan untuk mendeteksi patah tulang secara cepat dan akurat dibandingkan CT scan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas bahan pustaka dengan topik penggunaan CT 3D pada diagnosis patah tulang dasar kepala. Jenis penelitian ialah  suatu literature review. Hasil penelitian mendapatkan 15 jurnal yang berhubungan dengan topik ini. CT 3D dapat mendeteksi fraktur dasar kepala dengan lebih cepat dan akurat dibandingkan pemeriksaan lainnya, seperti X-ray, 2D CT, solid (SVR) and transparent (TVR) volume-rendering technique, dan maximum intensity projection (MIP). Simpulan penelitian ini ialah CT 3D berperan penting pada diagnosis patah tulang dasar kepala.Kata kunci: CT 3D; patah tulang dasar kepala; cedera kepala akibat trauma
Description of Sharp Violent Wound Pattern among Death Cases at Bhayangkara Hospital Level III Manado in the Period July 2019 – June 2021 Joana M. Posumah; Johannis F. Mallo; Djemi Tomuka
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37812

Abstract

Abstract: Sharp violence is an action resulting in injuries to the body surface caused by sharp objects that are commonly found around us, such as knive, razor, and even axe. Sharp violence that causes the victim to lose his/her life becomes a criminal act or a crime against life (murder). According to Biro Pengendalian Operasi, Mabes Polri in 2018 concerning the number of murders in Indonesia, North Sulawesi was in the sixth place. This study aimed to describe the pattern of sharp violent injuries among cases of death victims at the Bhayangkara Hospital Level III Manado during the period July 2019 - June 2021. This was a retrospective and descriptive study using Visum et Repertum data. The results obtained 22 cases of death victims due to sharp violence. Most cases occurred in the period of July 2019 - June 2020 as many as 19 cases (86.4%). The most frequent age group was 21-30 years with eight cases (36.4%), followed by age group 17-20 years (36.4%), and age goups 31-40 years and >50 years (each of 18.2%). Male dominated female cases (18 cases/81.8% and 1 case/18.2%). Type of wound  was 100% as stab wound. The location of the most injuries was on the left chest which was 13 victims (59%). In conclusion, cases of violent death were mostly male, aged around 21-30 years old, with a stab wound on the left chest.Keywords: wound pattern; sharp violence Abstrak: Kekerasan tajam merupakan tindakan yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh disebabkan oleh benda tajam yang umum ditemukan, seperti pisau, silet, bahkan kapak. Kekerasan tajam yang menyebabkan korban kehilangan nyawa menjadi suatu tindak pidana kriminal atau kejahatan terhadap nyawa (pembunuhan). Laporan Biro Pengendalian Operasi, Mabes Polri pada tahun 2018 menyatakan bahwa Sulawesi Utara berada di urutan keenam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola luka kekerasan tajam pada kasus kematian di RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Juli 2019-Juni 2021. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data Visum et Repertum. Hasil penelitian mendapatkan 22 kasus kematian korban kekerasan tajam. Kasus kematian terbanyak terjadi pada periode Juli 2019-Juni 2020 yaitu 19 kasus (86,4%). Kelompok usia terbanyak yaitu 21-30 tahun sebanyak delapan kasus (36,4%), diikuti kelompok usia 17-20 tahun (36,4%), serta 31-40 tahun dan >50 tahun (masing-masing 18,2%). Jenis kelamin didominasi oleh laki-laki (18 kasus/81,8% dan 1 kasus/18,2%). Jenis luka merupakan 100% luka tusuk. Lokasi perlukaan terbanyak di dada sebelah kiri yaitu 13 orang (59%). Simpulan penelitian ini ialah kasus kematian kekerasan tajam sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, berusia 21-30 tahun, dengan jenis luka tusak pada dada kiri.Kata kunci: pola luka; kekerasan tajam 

Page 91 of 108 | Total Record : 1074