cover
Contact Name
Sony Christian Sudarsono
Contact Email
sintesis@usd.ac.id
Phone
+6285642606679
Journal Mail Official
sintesis@usd.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unversitas Sanata Dharma Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sintesis
ISSN : 1693749X     EISSN : 27229408     DOI : 10.24071/sin
SINTESIS adalah jurnal ilmiah bahasa, sastra, dan kebudayaan Indonesia yang diterbitkan oleh Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sintesis terbit pertama kali bulan Oktober 2003 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan Oktober. Sintesis is a scientific journal of Indonesian language, literature, and culture published by the Indonesian Letters Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University, Yogyakarta. Sintesis was first published in October 2003 with a frequency of publishing twice a year in March and October.
Articles 153 Documents
NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA : ANALISIS HABITUS DAN MODAL DALAM ARENA PENDIDIKAN MENURUT PERSPEKTIF PIERRE BOURDIEU Harpindo Syah Putra Hilarion Ginting
Sintesis Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v13i1.1910

Abstract

The purposes of this research is describing the habits and capital in Sang Pemimpi novels. Thisresearch paradigm uses M. H. Abrams paradigm with discursive approach. Discursive approach usesPierre Bourdieu theory. Method and data collecting technique which are employed in this research islibrary research. Data analysis method in this research is used content analysis method. Contentanalysis method is used to discover and understand the habits and capital in Sang Pemimpi novel.Theresults of habits and capital analysis in Sang Pemimpi novel are: Ikal has 6 habitus, namely: hardworker, never give up, like to exercise, fight pessimism, save money, and religious. Arai has 6 habits,namely: hard worker, never give up, optimistic, always curious, save money, and generous. Jimbronhas 4 habits, namely: hard worker, obsession with horses, save money, and innocent. Analysis ofcapital includes economic, culture, social, and symbolic. Analysis of economic capital shows that Ikal,Arai, and Jimbron do not have economic capital. Analysis of culture capital shows that Ikal has moredominant cultural capital than Arai and Jimbron. Analysis of social capital shows that Ikal, Arai, andJimbron have social capital. Analysis of symbolic capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron do nothave symbolic capital.
PENGEMBANGAN DWIBAHASAWAN YANG SEIMBANG UNTUK MEMPERTAHANKAN BAHASA-BAHASA DAERAH DI INDONESIA I. Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v8i2.1020

Abstract

Dalam tulisan ini dibahas perihal pergeseran bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang dalam satu dasa warsa terakhir ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Pergeseran bahasa-bahasa daerah di Indonesia ini dikhawatirkan dapat mengancam kebertahanan kebhinekaan bahasa dan kekayaan budaya di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kuatnya dominasi penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah komunikasi. Selain itu, ada gejala bahasa daerah tidak diajarkan oleh orangtua kepada anaknya dan juga bahasa daerah tidak dipelajari oleh para siswa di sekolah.Solusi yang dapat ditawarkan adalah pengembangan dwibahasawan yang seimbang bagi anak bangsa Indonesia agar menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia secara setara.Dwibahasawan yang seimbang itu kemudian dapat dikembangkan menjadi multibahasawan yang seimbang, yaitu menguasai bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan satu bahasa asing atau lebih. Agar tetap bertahan hidup, bahasa daerah harus diwariskan dari generasi ke generasi melalui pendidikan dalam keluarga dan di sekolah. Selain itu, masyarakat berkewajiban memperkuat pewarisan bahasa daerah itu melalui penyediaan berbagai ranah komunikasi bagi penggunaan bahasa daerah. Pewarisan bahasa daerah itu akan semakin kuat jika didukung oleh pemerintah, lembaga kebahasaan, dan peneliti bahasa sesuai dengan porsi tugasnya masing-masing.Kata kunci: pergeseran bahasa, bahasa daerah, dwibahasawan, bhineka tunggal ika, masyarakatanekabahasa
KAJIAN HISTORIS KOMPARATIF CERITA BATANG GARING Puji Santosa; Djamari Djamari
Sintesis Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v9i2.913

Abstract

Penelitian ini mengkaji cerita Batang Garing, cerita rakyat dari Kalimantan Tengah, dengan pendekatan historis komparatif seperti yang dilakukan oleh mazhab Finlandia. Masalah penelitian adalah bagaimanakah tipe, motif, dan historis komparatif cerita Batang Garing? Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan tipe, motif, dan historis komparatif cerita Batang Garing dengan cerita lain yang setipe dan semotif, seperti cerita Kalpataru, Pohon Bodhi, Pohon Pengetahuan Baik dan Buruk, Pohon Kuldi, dan Gunungan cerita Pewayangan dari Jawa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Batang Garing termasuk tipe cerita mitologi religius keagamaan yang bersifat supranatural, yakni cerita yang dipercayai oleh pemeluk agama Hindu Kaharingan yang termaktub dalam kitab Panaturan. Terdapat delapan motif utama dalam cerita Batang Garing, yaitu motif penciptaan alam semesta, motif kepercayaan akan adanya satu Tuhan, motif pohon kehidupan, motif binatang yang luar biasa, motif penciptaan manusia, motif kematian binatang sebagai awal kehidupan, motif kematian tanaman sebagai awal kehidupan, dan motif bagian-bagian tanaman yang melambangkan keberadaan Tuhan. Secara historis komparatif Batang Garing memiliki keluasan dan kedalaman makna yang berbeda dari cerita yang setipe dan semotif lainnya di dunia, bahkan lebih tua daripada Tree of Life kebudayaan Mesir. Cerita Batang Garing menjadi cerita sakral yang melegenda dan dipercayai sebagai cerita asal-usul nenek moyang suku Dayak di Kalimantan.Kata Kunci: deskriptif, tipe, motif, historis komparatif.
MANTRA BAHASA DAYAK DESA: STUDI TENTANG GAYA BAHASA, TUJUAN, PROSES RITUAL DAN FUNGSI Sri Astuti
Sintesis Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v6i1.2712

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang mantra bahasa Dayak Desa. Mantra bahasa Dayak Desa ini ditelaah dengan pendekatan semantik dan folklor, suatu studi tentang gaya bahasa, tujuan, proses ritual dan fungsi. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut. Gaya bahasa yang terdapat dalam mantra bahasa Dayak Desa, yaitu gaya bahasa perulangan dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa tersebut merupakan salah cara untuk mengintensifikasikan efek yang diinginkan. Mantra bahasa Dayak Desa memiliki banyak tujuan. Hampir setiap bidang ada mantranya. Tahap dalam proses ritual yang dilakukan pada mantra bahasa Dayak Desa dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu ritual mendapatkan mantra, pelaksanaan, dan penutup. Mantra bahasa Dayak Desa memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi religius, pengobatan, dan magis. Hampir semua mantra bahasa Dayak Desa memiliki fungsi religius. Fungsi religius ini berkaitan dengan ucapan syukur kepada Tuhan serta bertujuan untuk merayu atau membujuk ilahi agar melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak pemantra.KATA KUNCI mantra, gaya bahasa, tujuan, proses ritual, fungsi
MANIPULASI BAHASA DALAM TEROR KABAR BOHONG (HOAX) Maria Magdalena Sinta Wardani
Sintesis Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v11i2.1736

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan perangkat manipulasi bahasa dalam teks kabar bohong.Data berupa kabar bohongdiperoleh dari laman https://www.turnbackhoax.id. Pengumpulan datadilakukan sejak bulan November 2016 hingga bulan Maret 2017. Kabar bohong dapat memuatberbagai isu, di antaranya adalah isu politis, rasial, agamawi, bencana alam, kriminal, dan kesehatan.Data menunjukkan bahwa manipulasi bahasa dapat berupa manipulasi rasional dan manipulasiemotif. Selain itu, ditemukan pula penggunaan pungtuasi dan huruf kapital dalam teks kabar bohongyang bertujuan untuk menonjolkan bagian tertentu dalam teks dan sekaligus juga memperkuat efekperlokusi dalam manipulasi bahasa.
PEMBELAJARAN SASTRA BERBASIS TEKS: PELUANG DAN TANTANGAN KURIKULUM 2013 Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v11i1.928

Abstract

Pembelajaran sastra dalam kurikulum 2013 merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran Bahasa, sebagaimana pembelajaran mata pelajaran lainnya dicanangkan sebagai pembelajaran berbasis teks. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi, tujuan, dan konteks. Melalui pembelajaran berbasis teks yang diterapkan dalam Kurikulum 2013, siswa dibiasakan membaca dan memahami teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa sendiri. Siswa dibiasakan pula menyusun teks yang sistematis, logis, dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan teks. Untuk itu, siswa dikenalkan dengan aturanaturan teks yang sesuai sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks (sesuai dengan konteks). Metode pembelajaran semua mata pelajaran menurut Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan pembelajaran saintifik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya penggunaan proses berfikir ilmiah (menalar) sesuai dengan tingkat perkembangan anak.3 Selain memiliki keunggulan, pendekatan ini memiliki keterbatasan, terutama jika diaplikasikan secara mekanistik dalam pembelajaran sastra. Makalah ini membahas peluang dan tantangan pembelajaran sastra berbasis teks, sebagaimana dimaksud oleh Kurikulum 2013.Kata kunci: kurikulum 2013, pendekatan saintifik, pendekatan humanistik.
TINDAK TUTUR DALAM LIRIK LAGU BERTOPIK PENDIDIKAN KARYA MARJINAL DALAM ALBUM TERMARJINALKAN TAHUN 2003 A.K. Ari Prayogi
Sintesis Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v12i2.1904

Abstract

Artikel ini membahas tindak tutur dalam lirik lagu bertopik pendidikan karya Marjinal dalam albumTermarjinalkan tahun 2003, yaitu Belajar Sama-sama dan Mahakebo. Dalam lagu BelajarSama-sama, Marjinal menyoroti pandangan masyarakat mengenai pendidikan. Dalam laguMahakebo, Marjinal menyoroti gelar pendidikan hanya sebagai fomalitas. Tujuan tuturannyaadalah memperluas pemahaman mengenai pendidikan bahwa tempat belajar adalah di segala tempatdan semua orang bisa mengajarkan ilmu dan pengalamannya sehingga bisa juga disebut guru.Terdapat 4 tindak tutur langsung literal, 1 tindak tutur tidak langsung literal, dan satu tindak tuturtidak langsung literal pada Belajar Sama-sama. Lagu Mahakebo berfokus pada gelar pendidikanyang hanya sebagai formalitas. Tujuan tuturannya adalah menyadarkan bahwa pendidikan bukanhanya formalitas dan formalitas seperti itu harus dipertanyakan. Terdapat lima tindak tutur langsungliteral, satu tindak tutur tidak langsung literal, dua tindak tutur langsung tidak literal, dan satutindak tutur tidak langsung literal pada Mahakebo.
TRAGEDI 1965 DALAM KARYA-KARYA UMAR KAYAM: PERSPEKTIF ANTONIO GRAMSCI Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v8i1.1015

Abstract

Umar Kayam adalah salah satu cendekiawan dan sastrawan besar Indonesia yang memiliki perhatian istimewa terhadap Tragedi 1965 dalam karya-karyanya. Sekalipun dengan sikap yang berbeda, sepanjang periode pemerintahan Orde Baru, Umar Kayam secara konsisten menghasilkan karya sastra yang mempersoalkan Tragedi 1965. Ditinjau dari segi relasi kekuasaan, sikap Umar Kayam bermula dengan perlawanan humanistik, kemudian perlawanan pasif (pasrah), dan pada akhirnya dia berubah mendukung sikap dan kebijakan pemerintah. Dari dengan perspektif Gramsci, dapat disebutkan bahwa Umar Kayam merupakan seorang cendekiawan dan sastrawan besar yang berkembang menjadi intelektual organik Orde Baru.Kata kunci : Hegemoni, Tragedi 1965, Kekuasaan, Orde Baru
WACANA PROSEDURAL PERIHAL PELAKSANAAN TUGAS PERAWAT Isodarus, Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v10i1.166

Abstract

Artikel ini memaparkan hasil penelitian tentang wacana prosedural perihal pelaksanaan tugasperawat kesehatan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kaidah pembentukanwacana prosedural. Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, ada empat tipe kalimatyang menjadi basis unsur pembangun wacana prosedural tentang pelaksanaan tugas perawat,yaitu kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat perintah, dan kalimat ekuatif. Sebuah wacana proseduraldapat dibangun hanya oleh salah satu tipe kalimat dan dapat pula disusun oleh perpaduan duatipe kalimat atau lebih, Kedua, penahapan atau urutan perbuatan dalam wacana proseduraldapat ditunjukkan melalui tiga cara, yaitu urutan kalimat, kata penghubung perturutan, dan katabilangan tingkat. Dari tiga cara tersebut, yang menjadi basis adalah urutan kalimat.
MENCARI PARAMETER PRILAKU KETERPILAHAN DALAM BAHASA INDONESIA F.X. Sawardi
Sintesis Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v6i2.2707

Abstract

Artikel ini mendiskusikan parameter untuk menentukan perilaku keterpilahan dalam konsep tipologi akusatif ergatif. Parameter yang diangkat dalam penelitian ini adalah nominalisasi argumen agen dengan prefiks peN- . Dengan parameter tersebut verba bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu verba intransitif yang argumen dapat dinominalkan dengan peN- (yaitu argumen yang mirip agen) dan argumen verba intransitif yang tidak dapat dinominalkan dengan afiks peN- (argumen yang mirip pasien). Dengan sudut pandang seperti itu, parameter keterpilahan dalam bahasa Indonesia dapat ditentukan, dan perilaku keterpilahan bahasa Indonesia dapat dijelaskan.KATA KUNCI tipologi, keterpilahan, akusatif, ergatif

Page 10 of 16 | Total Record : 153