cover
Contact Name
Sony Christian Sudarsono
Contact Email
sintesis@usd.ac.id
Phone
+6285642606679
Journal Mail Official
sintesis@usd.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unversitas Sanata Dharma Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sintesis
ISSN : 1693749X     EISSN : 27229408     DOI : 10.24071/sin
SINTESIS adalah jurnal ilmiah bahasa, sastra, dan kebudayaan Indonesia yang diterbitkan oleh Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sintesis terbit pertama kali bulan Oktober 2003 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan Oktober. Sintesis is a scientific journal of Indonesian language, literature, and culture published by the Indonesian Letters Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University, Yogyakarta. Sintesis was first published in October 2003 with a frequency of publishing twice a year in March and October.
Articles 154 Documents
KEKERASAN VERBAL DALAM KOLOM KOMENTAR DI AKUN INSTAGRAM GARUDAREVOLUTION PADA BULAN SEPTEMBER 2019 Putri, Latifah Rahmadani; Sudarsono, Sony Christian; Wardani, Maria Magdalena Sinta
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3120

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan jenis-jenis kekerasan verbal yang terjadi dalam kolom komentar akun Instagram Garudarevolution pada bulan September 2019. Metode yang digunakan adalah metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu (PUP). Hasil penelitian ini berupa kekerasan verbal yang terjadi di akun Instagram Garudarevolution yang meliputi (i) kekerasan verbal tidak langsung memfitnah, (ii) kekerasan verbal tidak langsung menstigmatisasi, (iii) kekerasan tidak langsung penstereotipan, (iv) kekerasan langsung membentak, (v) kekerasan langsung mengejek, (vi) kekerasan verbal langsung memaki, (vii) kekerasan verbal langsung meremehkan, (viii) kekerasan verbal langsung menantang, (ix) kekerasan verbal langsung menyanggah, (x) kekerasan verbal represif menyuruh, (xi) kekerasan verbal represif mengancam, (xii) kekerasan verbal represif menakut-nakuti, (xiii) kekerasan verbal represif memprovokasi, (xiv) kekerasan verbal alienatif mengusir, (xv) kekerasan verbal alienatif mempermalukan, (xvi) kekerasan verbal alienatif mendiskreditkan.
STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ANAK BUNGSU KARYA SOESILO TOER Agustine Tryas Dani; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3212

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur kepribadian tokoh utama dalam novel Anak Bungsu karya Soesilo Toer dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini ditemukan persamaan dan perbedaan struktur kepribadian hasrat (id), hati nurani dan internalisasi (superego), dan apa yang dilakukan (ego) pada masing-masing tokoh.
PERUBAHAN PARADIGMA DALAM KAJIAN BAHASA Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3273

Abstract

Artikel ini membahas perubahan paradigma dalam kajian bahasa. Persoalan yang dibicarakan adalah (i) perubahan paradigma apa saja yang telah terjadi dalam kajian bahasa selama ini dan (ii) apa ciri dari setiap paradigma. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, digunakan teori paradigma dari Thomas Khun (1989) dan Harimurti Kridalaksana (1993). Kajian ini dilakukan melalui studi pustaka. Dari studi pustaka, diketahui bahwa sekurang-kurangnya telah terjadi empat ragam perubahan paradigma dalam kajian bahasa, yaitu paradigma filsafat, paradigma historis, paradigma formal, dan paradigma fungsional. Paradigma filsafat dalam kajian bahasa berkembang sejak abad ke-5 sebelum Masehi. Pada masa itu kajian bahasa masih merupakan bagian dari filsafat. Paradigma historis mendominasi pengkajian bahasa pada abad ke-19. Penelitian bahasa berparadigma historis dilakukan dengan membandingkan unsur-unsur dalam dua bahasa atau lebih yang dipandang sekerabat untuk menyusun kaidah perubahan-perubahan yang terjadi. Paradigma formal berkembang selama abad ke-20. Ciri penting dari paradigma formal adalah bahasa diteliti dari struktur internalnya dalam kurun waktu tertentu. Paradigma fungsional dalam kajian bahasa mulai berkembang pada menjelang abad ke-21. Paradigma fungsional berpandangan bahwa penggunaan bahasa itu tidak semata-mata berhubungan dengan faktor-faktor internal (di dalam) bahasa, tetapi juga berkaitan dengan faktor-faktor eksternal (di luar) bahasa.
DASAR PENAMAAN KUE JAJANAN PASAR DI PASAR LEMPUYANGAN Anindita Ayu Gita Coelestia; Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3123

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan dasar penamaan kue jajanan pasar di Pasar Lempuyangan Kota Yogyakarta. Data dikumpulkan menggunakan metode simak, yaitu metode yang digunakan dengan cara peneliti menyimak penggunaan bahasa (Mahsun, 2005: 242). Selanjutnya digunakan teknik catat dan teknik simak bebas libat cakap. Ketika menerapkan teknik simak bebas libat cakap, peneliti berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh informannya (Mahsun, 2005: 92). Selain itu, teknik wawancara juga digunakan. Data yang sudah diklasifikasikan dianalisis dengan metode padan translasional. Kemudian hasil analisis data disajikan dengan metode formal, yaitu penyajian kaidah penggunaan bahasa dengan hal-hal yang mudah dilihat, seperti tabel, diagram, bagan, gambar, dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga jenis dasar penamaan, yaitu (i) penamaan berdasarkan satu dasar, (ii) penamaan berdasarkan dua dasar, dan (iii) penamaan berdasarkan tiga dasar. Ketiga jenis tersebut dikategorikan berdasarkan referennya.This research describes the basis for the naming of the traditional snacks at Pasar Lempuyangan, Yogyakarta City. The data were collected using the listening method, which is the method used by the researcher listening to the use of language (Mahsun, 2005: 242). Furthermore, the note-taking technique and the engaging-free listening technique were used proficiently. When applying the proficient free listening technique, the researcher acts as an observer of the use of language by the informant (Mahsun, 2005: 92). Apart from that, interviewing techniques were also used. The classified data were analyzed using the translational equivalent method. Then the results of data analysis are presented with a formal method, namely presenting the rules for using language with things that are easy to see, such as tables, diagrams, charts, pictures, and graphics. The results showed that there were three basic types of naming, namely (i) naming based on one basis, (ii) naming based on two bases, and (iii) naming based on three bases. The three types are categorized based on their references.
PARADIGMA EKOLOGIS DALAM DONGENG MASYARAKAT INDIAN AMERIKA: KAJIAN EKOKRITIK Hirmawan Wijanarka
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3189

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari cerita rakyat Indian Amerika dengan perspektif ekokritisme. Metode penelitian pustaka menggunakan 11 cerita rakyat sebagai sumber data primer. Pilihan cerita rakyat ini didasarkan pada asal geografis mereka sehingga dapat mewakili berbagai wilayah suku asli Amerika. Semua cerita rakyat tersebut sudah dalam bentuk naratif dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sumber untuk cerita rakyat adalah Native American Folktales, diedit oleh Thomas A.Green (2009), dan Native American Fairytales, Folktales, and Fables (2017). Penelitian ini menetapkan dua tujuan, yaitu: (1) mengamati hubungan dan interaksi antara manusia dengan lingkungan alam yang disajikan dalam cerita rakyat, dan (2) mengungkap paradigma ekologis yang mendasari relasi dan interaksinya. Terlihat bahwa interaksi antara manusia dan lingkungan alamnya didasarkan pada saling pengertian, rasa hormat, dan kesetaraan. Suku asli Amerika percaya bahwa manusia datang ke dunia ini, dan bertahan hingga sekarang, hanya karena bantuan makhluk lain di alam. Manusia itu rapuh dan lemah dibandingkan makhluk lain. Paradigma ekologi yang mendasari keharmonisan hubungan antara manusia dan alam adalah sebagai berikut: (1) keberadaan lingkungan alam mendahului keberadaan manusia maka manusia harus bersyukur kepada pendahulunya; (2) semua makhluk di lingkungan alam memiliki jiwa, sama seperti manusia, sehingga mereka setara; (3) keberlanjutan manusia sangat bergantung pada keutuhan lingkungan alam. Artinya untuk menopang kehidupan manusia, manusia harus menjaga kesehatan alam.This research aims at studying American Indian folktales using the perspectives of ecocriticism. The library research method is applied, using 11 folktales as the sources for the primary data. The choice of these folktales is based on their geographical origins so that they could represent various areas of Native American tribes. All of the folktales are already in the form of narrative and have already been translated into English. Sources for the folktales are Native American Folktales, edited by Thomas A. Green (2009), and Native American Fairytales, Folktales, and Fables (2017). This research sets up two objectives, namely: (1) to observe the relation and interaction between human beings and their natural environment presented in the folktales, and (2) to reveal the ecological paradigms underlying their relation and interaction. It is observed in all of the folktales that the interactions between human beings and their natural environment are grounded on mutual understanding, respect, and equality. Native American tribes believe that humans beings came into this world, and survive up to now, only because of the help from other creatures in nature. Human beings are frail and weak compared to other beings. The ecological paradigms underlying the harmonious relationship between human beings and nature are as follows: (1) the existence of natural environment precedes the existence of human beings, and consequently, humans being should be thankful to their predecessors; (2) all creatures in the natural environment have souls, just like human beings, and thus they are equal; (3) the sustainability of human beings greatly depends on the wholesomeness of natural environment. This means that to sustain human beings’ life, human beings must preserve the health of nature. 
IDEOLOGI DAN APARATUS NEGARA DALAM TIGA CERPEN KARYA PUTU WIJAYA : PERSPEKTIF LOUIS ALTHUSSER Atria Graceiya; Yoseph Yapi Taum; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3119

Abstract

ABSTRAK Artikel ini membahas ideologi dan aparatus negara dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya. Penelitian ini menggunakan paradigma Abrams, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan diskurtif. Pendekatan objektif digunakan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik tiga cerpen Putu Wijaya. Pendekatan diskurtif digunakan untuk membongkar ideologi dengan perspektif ideologi Louis Althusser. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dengan mengandalkan jenis data kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa bentuk ideologi dan aparatus negara yang ditemukan beragam, yakni (1) tiap tokoh utama direpresentasikan hal-hal yang melekat pada permasalah tokoh utama; (2) ada interpelasi pada tokoh utama agar diakui sebagai subjek; (3) bentuk ideologi yang ditemukan yakni ideologi dominan, ideologi terkungkung, ideologi bebas, ideologi resistensi, dan ideologi tengah terdapat di dalamnya; (4) aparatus ideologi negara (ISA) mendominasi dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya.Kata Kunci: ideologi, aparatus negara, Putu Wijaya, Althusser ABSTRACT This article discusses ideology and the state apparatus in three short stories by Putu Wijaya. The study employs the Abrams paradigm, namely an objective and discursive approach. This study applies an objective approach to analyzing the intrinsic elements of three short stories by Putu Wijaya. A discursive approach is used to dismantle ideology with the ideological perspective of Louis Althusser. Qualitative data were collected using library research method. The results of this study show that ideology and state apparatus are represented in a variety of ways; first, each main character is represented by the problems he experiences; second, there is an interpellation on the main character to be recognized as subject; third, the ideological forms found are dominant ideology, confined ideology, free ideology, ideological resistance, and central ideology; last, the ideological state apparatuses are prominent in three of Putu Wijaya's short stories..Keywords: ideology, state apparatus, Putu Wijaya, Althusser
KESEPADANAN MAKNA DALAM TERJEMAHAN LIRIK LAGU “PURA-PURA LUPA” KE DALAM “PRETEND TO FORGET” Adventina Putranti
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3192

Abstract

ABSTRAK Menerjemahkan lirik lagu memerlukan metode khusus karena ada beberapa batasan yang harus diperhatikan oleh seorang penerjemah. Beberapa hal yang harus diperhatikan seorang penerjemah dalam proses penerjemahan lirik lagu adalah mempertahankan ritme dan jumlah suku kata maupun ketukan dalam setiap baris liriknya. Metode penerjemahan puisi yang lebih banyak menekankan faktor eksternal dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini, akan tetapi hal tersebut dapat menimbulkan permasalahan lain, di antaranya adalah kesepadanan makna. Dengan menggunakan salah satu lagu populer Indonesia yang berjudul “Pura-pura Lupa”, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Pretend to Forget”, tulisan ini bermaksud membahas dampak metode penerjemahan lirik lagu pada kesepadanan makna teks terjemahan lirik lagu. Metode genre translation diterapkan dalam penelitian ini. Kata Kunci: kesepadanan makna, penerjemahan lirik lagu, “Pura-Pura Lupa”, “Pretend to Forget” ABSTRACT Translating song lyrics requires a special method because there are several limitations that a translator must pay attention to. Some things that must be considered by a translator in the process of translating song lyrics are maintaining the rhythm and the number of syllables and beats in each line of the lyrics. The method of translating poetry which emphasizes more on external factors can be used to overcome this problem, however this can cause other problems, including meaning equivalence. By using one of popular Indonesian songs, entitled “Pura-pura Lupa”, which is translated into “Pretend to Forget”, this paper intends to discuss the impact of the method of translating song lyrics on the meaning of the translation of the song lyrics. Genre Tranlation is applied in doing the analysis. Keywords: meaning equivalence, translating song lyrics, “Pura-Pura Lupa”, “Pretend to Forget”
KEKERASAN DALAM NOVEL LOLONG ANJING DI BULAN KARYA ARAFAT NUR: PERSPEKTIF JOHAN GALTUNG Sunarto, Scolastika Elsa Resty; Taum, Yoseph Yapi; Adji, Susilawati Endah Peni
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3816

Abstract

ABSTRAKPenulis menggunakan paradigma Werren dan Wellek yang membagi penelitian sastra atas dua pendekatan, yaitu pendekatan intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik digunakan untuk menganalisis struktur cerita dalam Novel Lolong Anjing di Bulan karya Arafat Nur. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis data, deskriptif kualitatif, dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat, dan studi pustaka. Hasil analisis struktur intrinsik pembangun cerita yang terdiri atas alur, tokoh dan penokohan, serta latar dalam Novel Lolong Anjing di Bulan karya Arafat Nur adalah sebagai berikut. Alur dalam novel terbagi atas (1) peristiwa, (2) konflik, dan (3) klimaks. Tokoh dan penokohan terbagi atas (1) tokoh utama, (2) tokoh tambahan. Latar terbagi atas (1) latar tempat, (2) latar waktu, dan (3) latar sosial. Hasil dari penelitian bentuk-bentuk kekerasan sebagai berikut. Kekerasan yang terdapat dalam novel dibagi menjadi tiga, yaitu kekerasan langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan budaya. Kekerasan langsung dalam penelitian ini masih dibagi lagi menjadi tiga, yaitu (1) kekerasan langsung terhadap tokoh utama, (2) kekerasan langsung terhadap rakyat Aceh, dan (3) kekerasan langsung terhadap perempuan. Dalam kekerasan struktural, pemerintah menjadi penggerak terjadinya peristiwa kerusuhan di Aceh. Pemerintah melalui kebijakankebijakannya telah membuat alam di Aceh terkuras, rakyat Aceh yang berjuang untuk merebut kembali juga mendapatkan penindasan dari tentara suruhan pemerintah, dan kekerasan budaya dalam penelitian ini juga masih dibagi lagi menjadi tiga, yaitu (1) Gerakan Aceh Merdeka, (2) Ideologi Islam, dan (3) kekerasan terhadap perempuan. Kata Kunci: Kekerasan Langsung, Kekerasan Struktural, Kekerasan Budaya, Johan Galtung, Deskriptif Kualitatif ABSTRACTThe author uses Werren and Wellek's paradigm which divides literary research into two approaches, namely intrinsic and extrinsic approaches. An intrinsic approach is used to analyze the structure of the story in Arafat Nur's Lolong Dog di Bulan Novel. In this study, researchers used data analysis methods, qualitative descriptive, and data collection techniques using note-taking techniques, and literature study. The results of the analysis of the intrinsic structure of the story builder consisting of plot, characters and characterizations, as well as the setting in Arafat Nur's Lolong Dog di Bulan Novel are as follows. The plot in the novel is divided into (1) events, (2) conflict, and (3) climax. Characters and characterizations are divided into (1) main character, (2) additional character. The setting is divided into (1) place setting, (2) time setting, and (3) social setting. The results of the research on forms of violence are as follows. The violence contained in the novel is divided into three, namely direct violence, structural violence, and cultural violence. Direct violence in this study is further divided into three, namely (1) direct violence against the main character, (2) direct violence against the people of Aceh, and (3) direct violence against women. In structural violence, the government became the driving force behind the riots in Aceh. The government through its policies has depleted nature in Aceh, the Acehnese who are struggling to reclaim it have also received oppression from government troops, and cultural violence in this study is still further divided into three, namely (1) the Free Aceh Movement, (2) Ideology Islam, and (3) violence against women. Keywords: Direct Violence, Structural Violence, Cultural Violence, Johan Galtung, Qualitative Descriptive
DASAR PENAMAAN PENYAKIT FISIK DALAM BAHASA JAWA Agustinus Yoga Primantoro; Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3843

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan dasar penamaan penyakit fisik dalam bahasa Jawa. Objek penelitian ini adalah nama-nama penyakit dalam bahasa Jawa. Nama-nama penyakit fisik tersebut didapatkan dari Kamus Bahasa Jawa, Kamus Kedokteran Bahasa Jawa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V Daring, serta Bausastra Jawa-Indonesia Jilid I dan II. Metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak. Metode simak adalah pengumpulan data bahasa dengan mendengarkan atau membaca penggunaan bahasa (Kesuma, 2007:44). Selanjutnya, peneliti menggunakan teknik lanjutan, yakni teknik catat. Teknik catat adalah teknik menjaring data dengan hasil penyimakan data pada kartu data (Kesuma, 2007:44). Selanjutnya, data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto, 1993:13; Kesuma, 2007:47). Kemudian, hasil penelitian disajikan dengan teknik informal. Penyajian analisis secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:145; Kesuma, 2007:71). Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori semantik. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan lima dasar penamaan nama penyakit fisik dalam bahasa Jawa, antara lain (i) bagian tubuh yang sakit, (ii) penyebab sakit, (iii) rasa, (iv) konvensi, dan (v) tiruan bunyi.
GENDER SENSITIVE MESSAGES DELIVERED IN THE DISNEY MOVIE FROZEN Retno Muljani; Mega Wulandari; Deasy Ekawati
Sintesis Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v12i1.1738

Abstract

In the era of information technology, electronic media are broadcasted throughout the world by farreachingmultinational companies. In that way, various forms of entertainment have becomeinseparable from childrens daily lives. Due to their extensive presence, media may have considerableinfluence over childrens development and behaviour. Naturally, media are expected to provide notonly creative entertainments but also positive didactic messages for child viewers, including thoseunder five (5) years old. Early age education practitioners can make use of the movies to introducethe child viewers to certain values such as relevant gender sensitive messages. Frozen (2013) is amovie which depicts female independent characters that do not pursue romance as their only lifegoal; instead, they prefer to stay together and keep their mutual love as sisters after a long journeyfull of adventures.In this preliminary study, the visual and narrative elements of the movie are studiedin order to analyze the gender sensitive messages wrapped in entertaining styles. To some extent,themessages can also enhancefive different developmental domains of childrennamely social, physical,intellectual, creativity, and emotion development (in short, S.P.I.C.E.).Thus, watching the movie canbring benefits to child and adult viewers from the viewpoints of entertainment, education, and childdevelopment.

Page 11 of 16 | Total Record : 154