cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora
ISSN : 24604208     EISSN : 25497685     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 179 Documents
Peran Akun Instagram Yayasan Sobat Mengajar Indonesia Dalam Menarik Minat Relawan Nieke Monika Kulsum; Charmaninta Putrista Dewi; Agus salim
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1825

Abstract

In this unprecedented situation, social media become one of communication tool that could help people to connected to other people easier. The activities of the Sobat Mengajar Indonesia Foundation (YSMI) used social media (Instagram) to attract young people to teach in their foundation, motivated by the lack of equal distribution of education in Indonesia, especially in remote areas in Indonesia. This foundation was built in 2018, in this case, YSMI  participate in the community, especially the Sobang area, Lebak Banten. This research aims to describe the activity in Instagram conduct by YSMI. The research methodology use qualitative research tools such as semi-structures interview, observations non participatory and secondary data from literature study. YSMI has succeeding attract many voluntary from their Instagram activities.  Dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, media sosial telah menjadi salah satu alat komunikasi yang dapat membantu orang untuk lebih mudah terhubung dengan orang lain. Kegiatan Yayasan Sobat Mengajar Indonesia (YSMI) menggunakan media sosial (Instagram) untuk menarik anak muda untuk mengajar di yayasannya, dilatarbelakangi dengan belum meratanya pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil. Yayasan yang berdiri pada tahun 2018, dalam hal ini, YSMI ikut berpartisipasi di masyarakat khususnya di daerah Sobang, Lebak Banten. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas pemanfaatan media sosial Instagram yang dilakukan oleh YSMI. Metodologi penelitian menggunakan alat penelitian kualitatif berupa wawancara semi terstruktur, observasi non partisipatif dan data sekunder dari studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa kegiatan YSMI berhasil menarik banyak relawan dari aktivitas Instagram mereka.
Dinamika Politik Proses Keputusan Impor Beras Tahun 2018 dan Tahun 2021 Asran Jalal
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1857

Abstract

The rice import decision process in 2018 and 2021, creates different view on government elites and government elites with non-government elites. The government elites are Presiden Jokowi, the Coordinating Minister for the Economy, the Trade Minister, the Agriculture Minister, the Director Bulog, and DPR. Non-government elites are political parties, observers, civil society. The focus this article is first, to discuss the differences in the views of the Minister of Trade against the Director of Bulog and the Minister of Agriculture regarding the rice impor decision process in 2018 and 2021. Second, to discuss President Jokowi’s decision to continue rice imports in 2018 and his decision to cancel rice imports in 2021. The argument of this paper is that the different views of government elites on the rice impor process in 2018 and 2021 are base on political-pragmatic interests versus ideolocal-stategic interests and interest of institution-organization. President Jokowi’s decision to cancel the to import rice in 2021, because the rejection of the plan did not only come from the DPR as government elites, the refusal also came from the political party elite as non-government elite.Proses keputusan impor beras pada tahun 2018 dan tahun 2021, menimbulkan perbedaan pandangan pada elite-elite pemerintah dan elite-elite pemerintah dengan elite-elite non-pemerintah. Elite-elite pemerintah dimaksud yaitu Presiden Jokowi, Menko Ekonomi, Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Direktur Bulog, dan DPR. Elite-elite non-pemerintah yaitu partai politik, pemerhati, dan masyarakat sipil. Fokus artikel ini adalah: pertama, mendiskusikan perbedaan pandangan Menteri Perdagangan berhadapan Direktur Bulog dan Menteri Pertanian tentang proses keputusan impor beras tahun 2018 dan tahun 2021. Kedua, mendikusikan keputusan Presiden Jokowi melanjutkan impor beras tahun 2018 dan keputusannya membatalkan impor beras tahun 2021. Argumen tulisan ini adalah perbedaan pandangan elite-elite pemerintah dalam proses impor beras tahun 2018 dan 2021 dilandasi kepentingan politis-pragmatis versus kepentingan ideologis-strategis dan kepentingan organisasi-institusi. Keputusan Presiden Jokowi membatalkan rencana impor beras tahun 2021, karena penolakan rencana tersebut bukan hanya berasal dari DPR sebagai elite-elite pemerintah, penolakan juga datang dari elite partai politik sebagai elite non-pemerintah.
Representasi Kesenjangan Kelas Sosial dalam Film СЕРЕБРЯНЫЕ КОНЬКИ (SEREBRYANYE KONKI) ‘Sepatu Luncur Perak” Cindy Aulia; Mochamad Aviandy
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1756

Abstract

The aim of this research is to find out the representation of the social class inequality in the movie Cеребряные Kоньки (Serebryanye Konki/Silver Skate). The method used in this research is the qualitative descriptive method. In order to describe the social classs inequality in the movie Cеребряные Kоньки/Silver Skate, the representation theory of Stuart Hall is used. The representation of the social class inequality in this movie is analyzed in six scenes through the use of the social stratification concept. Based on this research, it can be known that there is a social class inequality that is seen from the indicators of power, privilege, and prestige, which the upper-class group only owns. Those indicators influenced the rise of violence, discrimination, and difference in lifestyle of the lower class. The social class inequality that is represented through the movie Cеребряные Koньки/Silver Skate describes the social issues resulting from the social position of a person in social life. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi kesenjangan kelas sosial yang terdapat dalam film Серебряные Коньки (Serebryanye Konki/Sepatu Luncur Perak). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Untuk menggambarkan kesenjangan kelas sosial yang terdapat dalam film Серебряные Коньки/Sepatu Luncur Perak, teori yang digunakan adalah teori representasi milik Stuart Hall. Gambaran kesenjangan kelas sosial yang terdapat dalam film tersebut dianalisis melalui enam adegan melalui penggunaan konsep stratifikasi sosial. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa terdapat kesenjangan kelas sosial yang dilihat dari indikator power (kekuasaan), privilege (hak istimewa), dan prestige (nilai kehormatan) yang hanya dimiliki oleh kelompok kelas atas. Indikator tersebut berdampak pada timbulnya kekerasan, diskriminasi, dan perbedaan gaya hidup pada masyarakat kelas bawah. Kesenjangan kelas sosial yang direpresentasikan melalui film Серебряные Коньки/Sepatu Luncur Perak menggambarkan adanya permasalahan sosial yang disebabkan oleh perbedaan posisi sosial seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.
Demokrasi dan Masalah-Masalah Pembangunan Politik: Tinjauan Teoritis Terhadap Praktik Demokrasi di Era Reformasi Zainul Djumadin
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1858

Abstract

The end of President Suharto's rule in 1998 marked the beginning of a new era in Indonesia's political history. After being controlled by the authoritarian regime of Suharto, a new phase known as reform began to emerge with democracy as its main idea. This era is also known as the initial phase of open democracy with expanded decentralization. However, in the current reform era, problems of democracy have re-emerged. This can be seen in almost every political event, both on a national and regional scale. This means that even though the faucet of democracy has been opened, in substance the democratic process has not been fully realized. In this study, descriptive research methods were used as an effort to describe and interpret democracy and problems of political development in the reform era, including situations and conditions with existing relationships, opinions that developed, consequences or effects that occurred and so on. From the results of the analysis, a simple conclusion can be drawn that the democratic political system in Indonesia has developed over time. However, what needs to be considered in the future is to realize a substantive democracy, where democracy does not provide space for every ruler to abuse power, both in the process of seizing power and in order to maintain power. This is also in line with political and democratic education for the people, so that there will be a much better acceleration of the democratization process.Berakhirnya pemerintahan Presiden Suharto pada tahun 1998 menandai dimulainya era baru dalam sejarah politik di Indonesia. Setelah dikuasai oleh rezim otoriter Suharto, fase baru yang dikenal dengan reformasi mulai tampil dengan demokrasi sebagai gagasan utamanya. Era ini dikenal juga sebagai fase awal dimulainya demokrasi yang terbuka dengan desentralisasi yang semakin diperluas. Namun di era reformasi sekarang ini, permasalahan-permasalahan demokrasi kembali muncul. Hal ini bisa dilihat di hampir setiap perhelatan politik, baik skala nasional maupun daerah.  Artinya, meskipun keran demokrasi telah dibuka, namun secara substansi proses demokrasi belum dapat diwujudkan secara maksimal. Pada penelitian ini, metode penelitian deskriptif digunakan sebagai upaya untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan tentang demokrasi dan masalah-masalah pembangunan politik di era reformasi, mencakup situasi dan kondisi dengan hubungan yang ada, pendapat-pendapat yang berkembang, akibat atau efek yang terjadi dan sebagainya. Dari hasil analisa, dapat diambil suatu kesimpulan sederhana bahwa sistem politik demokrasi di Indonesia telah berkembang dari waktu ke waktu. Namun hal yang perlu diperhatikan ke depan adalah mewujudkan demokrasi yang substansi, di mana demokrasi tidak memberikan ruang bagi setiap penguasa untuk menyalahgunakan kekuasaan, baik dalam proses merebut kekuasaan maupun dalam rangka mempertahankan kekuasaan. Hal tersebut juga berbanding searah dengan pendidikan politik dan demokrasi terhadap rakyat, sehingga akan terjadi percepatan proses demokratisasi yang jauh lebih baik.
Eksistensi dan Keberlanjutan Budaya Baduy Luar Berbasis Permainan Tradisional Budi Supriyanto; Jajang Gunawijaya; Nurbaeti Nurbaeti
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1837

Abstract

Traditional games activities are fun activities carried out by children, adolescents and adults, which are important for the development of abilities, character, morals and emotions in their efforts to form a strong personality needed during the period of growth to adulthood. This traditional game is also part of the cultural representation of the Baduy tribe, Banten. The aspect of sustainability is the main problem that must be faced because it is dealing directly with globalization, which can result in reduced existence in the future, which one day can make this culture only found in game museums or only in books because it is no longer played or separated from culture and the Baduy people. The author assumes that the original culture that exists in the Baduy tribe can maintain the existence of traditional folk games, so that they continue to grow and be played from generation to generation. This research method uses a qualitative approach, by carrying out the data collection and analysis stages of traditional folk game objects to see their existence, then through in-depth interviews to analyze their sustainability. The results of the study show that the existence and number of common traditional games in the Baduy have decreased and have even been played very little from year to year. This is different from the special traditional games of the Baduy which are still running because the tradition has been passed down from parent to child as an educational skill for daily activities that continues to be taught. The three pillars refer to the CSA (Community Sustainable Assessment), namely (1) Ecological aspects; (2) Social aspects; and (3) Spiritual sspect; shows a positive value for the Baduy tribe, even though the communication indicators in the social aspect are starting to see the entry of globalization information through the internet causing a degradation or declining in negative new habits, so that the existence and sustainability of the cultural side must begin to be a concern.Aktivitas permainan tradisional adalah kegiatan menyenangkan yang dilakukan oleh anak-anak, remaja maupun dewasa, yang penting bagi perkembangan kemampuan, karakter, moral dan emosional dalam usahanya membentuk kepribadian kuat yang dibutuhkan pada masa pertumbuhan sampai dengan dewasa. Permainan tradisional ini juga bagian dari representasi budaya pada suku Baduy, Banten. Aspek keberlanjutan adalah masalah utama yang harus dihadapi karena berhadapan langsung dengan globalisasi, yang bisa mengakibatkan berkurangnya eksistensi di masa mendatang, yang suatu saat bisa membuat budaya tersebut hanya bisa ditemui di museum permainan atau hanya di buku-buku karena sudah tidak dimainkan atau lepas dari budaya dan masyarakat Baduy. Penulis berasumsi bahwa budaya asli yang ada pada suku Baduy dapat menjaga eksistensi permainan rakyat tradisional, sehingga tetap tumbuh dan dimainkan dari generasi ke generasi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan melakukan tahap pendataan dan analisis objek permainan rakyat tradisional untuk melihat eksistensi yang ada, selanjutnya melalui wawancara mendalam untuk menganalisis keberlanjutannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi dan jumlah permainan tradisional umum di Baduy mengalami penurunan dan bahkan sudah sangat kurang dimainkan dari tahun ke tahun. Ini berbeda dengan permainan tradisional khusus Baduy yang tetap berjalan karena tradisi turun-temurun dari orangtua ke anak sebagai pendidikan keterampilan untuk aktivitas sehari-hari yang terus diajarkan. Tiga pilar berkelanjutan mengacu pada CSA (Community Sustainable Assessment), yaitu: (1) Aspek ekologis; (2) Aspek sosial; dan (3) Aspek spiritual; menunjukkan nilai yang positif pada suku Baduy, walaupun pada indikator komunikasi di aspek sosial mulai terlihat masuknya informasi globalisasi melalui internet menyebabkan adanya degradasi/penurunan terhadap kebiasaan baru yang negatif, sehingga eksistensi dan berkelanjutan dari sisi budaya harus mulai menjadi perhatian.
Studi Cara Pandang Perempuan Dalam Film Charlie’s Angels Andika Kartika Sari
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1854

Abstract

Film is a medium for delivering messages through moving images. However, often in film narratives, there is a point of view of the dominance of male characters as subjects and active characters while women as passive characters or objects. Thus, women are often seen as a group that is vulnerable to violence, both sexual and symbolic violence. This article aimed to find a woman's point of view in Charlie's Angels, where women are seen as the dominant subject and not a vulnerable group. This research employed a descriptive-qualitative research method with primary and secondary data sources. The primary data was the Charlie's Angels film, while the secondary data was supporting documents such as books and articles. Data collection techniques employed documentation techniques. The data analysis technique applied Roland Barthes Semiotics to find denotations, connotations, and myths in film scenes to explore their meaning. In addition, this study used Tseelon's theory which states that in the film, there is a woman's point of view that rejects the notion that women are considered sexual objects formed from the point of view of men. The results of this study indicated that the Charlie's Angels film transparently applied a female perspective, made women's roles more dominant than men's, and negated the concept of women as sexual objects from the male point of viewFilm merupakan media penyampai pesan melalui gambar bergerak. Namun, sering kali dalam narasi film, terdapat sudut pandang dominasi tokoh laki-laki sebagai subjek dan tokoh aktif, sementara perempuan sebagai tokoh pasif atau objek. Sehingga, perempuan seringkali dipandang sebagai kelompok yang rentan dengan kekerasan, baik kekerasan seksual maupun simbolik. Artikel ini bertujuan menemukan sudut pandang perempuan dalam film Charlie’s Angels yang mana perempuan dipandang sebagai subjek yang dominan dan bukanlah kelompok yang rentan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan ialah film Charlie’s Angels, sedangkan data sekunder berupa dokumen pendukung, seperti buku penunjang dan artikel. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan Semiotika Roland Barthes untuk menemukan denotasi, konotasi, mitos dalam adegan-adegan film dalam teks, sehingga dapat digali maknanya. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori Tseelon yang menyatakan jika dalam film terdapat sudut pandang perempuan yang menolak adanya kepercayaan jika perempuan dianggap sebagai objek seksual yang dibentuk berdasar sudut pandang laki–laki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film Charlie’s Angels secara transparan menggunakan perspektif perempuan dan membuat peran perempuan menjadi lebih dominan daripada laki-laki, serta meniadakan konsep perempuan sebagai objek seksual dari sudut pandang laki-laki.
Hubungan Patron-Klien Dalam Rekrutmen Calon Anggota Legislatif Partai Gerindra Kota Tidore Kepulauan Tahun 2014 Mochdar Soleman; Kamaruddin Salim
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v7i2.1973

Abstract

The existence of political parties in Indonesia has an important role in the democratic system. Political parties have several functions and one of them is political recruitment, namely a selection of candidates for legislative members to produce a quality leader. This study discusses the recruitment strategy by the Gerindra Party in conducting the regeneration of members of the Gerindra Party in Tidore Islands City. This study uses James Scott's Patron-Client Theory and Michael Rush and Philip Althoff's Political Recruitment Theory. The data in this study were obtained through interviews with party leaders and literature studies. This study describes that the Gerindra Party Branch Board of Tidore Islands City conducts political recruitment with a patron-client pattern. Where, patrons are associated with former activists, retirees and businessmen who have an organized mass, influence and economic capital. And clients, namely community groups who have social and cultural closeness will follow the political choices of their patrons. This study shows that the strategy model for recruiting legislative candidate figures from activists, retirees and entrepreneurs is still a popular strategy, but ignores the process of strengthening the resources of the party cadres themselves. This, of course, led to a crisis of regeneration within the party's internal.Keberadaan partai politik di Indonesia memunyai peran penting dalam sistem demokrasi. Partai politik mempunyai beberapa fungsi dan salah satunya ialah rekrutmen politik, yaitu seleksi calon anggota legislatif untuk mencetak seorang pemimpin berkualitas. Penelitian ini membahas tentang strategi rekrutmen oleh Partai Gerindra dalam melakukan kaderisasi anggota Partai Gerindra di Kota Tidore Kepulauan. Penelitian ini menggunakan Teori Patron-Klien James Scott dan Teori Rekrutmen Politik Michael Rush dan Philip Althoff. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara ketua partai dan studi kepustakaan. Penelitian ini menguraikan bahwa Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kota Tidore Kepulauan melakukan rekrutmen politik dengan pola patron-klien. Di mana, patron diasosiasikan dengan mantan aktivis, pensiunan dan pengusaha yang mempunyai massa teroganisir, pengaruh serta modal ekonomi. Dan klien yakni kelompok masyarakat yang mempuyai kedekatan secara sosial dan kultural akan mengikuti pilihan politik patronnya. Dalam penelitian ini menunjukkan model strategi rekrutmen figur calon anggota legislatif dari kalangan aktivis, pensiunan dan pengusaha masih menjadi strategi yang popular, namun mengabaikan proses penguatan sumber daya dari kader partai sendiri. Hal ini, tentunya menimbulkan krisis kaderisasi dalam internal partai.
Pengaruh Profitabilitas, Efisiensi & Covid-19 Terhadap Kredit Bermasalah Pada Ukuran Perusahaan Pada Tahun 2018-2021 Sebagai Variabel Moderating Dadan Nurhidayat; Erlangga Tri Adhiguna; Sri Dewi Nur Pasha; Pardomuan Sihombing
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v8i1.1752

Abstract

The purpose of this research is to examine the relationship between profitability ratios (ROA), efficiency ratios (BOPO), the Covid-19 pandemic & firm size, and banking non-performing loans (NPL). The study population consisted of Indonesia Stock Exchange (IDX)-listed banking issuers from 2018 to 2021. The method of sampling was purposive, with the researcher establishing the criteria for selecting a sample of 17 banking companies, and the methodology was panel data regression with the Random Effect Model (REM). The study found that the profitability ratio (ROA) and Covid-19 partially have no significant effect on NPL, but in the other hand, the efficiency ratio (BOPO) and the firm size negatively impacting NPL. Furthermore, the  size of a company can moderates the outcome of profitability (ROA) on NPL, then, it strengthens the influence between the two variables. The effect of efficiency ratio (BOPO) on NPL cannot be moderated by firm size while the impact Covid-19 pandemic on NPL can be moderated by firm size in the term of strengthening influence between variables. Conclusion: It is critical for commercial banks in Indonesia to maintain a healthy financial ratio in order to control non-performing loans.Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara rasio profitabilitas (ROA), rasio efisiensi (BOPO), pandemi COVID-19 & ukuran perusahaan, dan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan sebagai variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2021. Metode pengambilan sampel adalah purposive, dimana peneliti menetapkan kriteria untuk memilih sampel sebanyak 17 perusahaan perbankan, dan metodologi yang digunakan adalah regresi data panel dengan Random Effect Model (REM). Studi ini menemukan bahwa rasio profitabilitas (ROA) dan Covid-19 secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap NPL, namun pada sisi yang lain, hasil rasio efisiensi (BOPO) dan ukuran perusahaan berpengaruh secara negatif terhadap NPL. Selanjutnya, ukuran perusahaan dapat memoderasi pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap NPL, kemudian ukuran perusahaan memperkuat pengaruh antara kedua variabel tersebut. Pengaruh rasio efisiensi (BOPO) terhadap NPL tidak dapat dimoderasi oleh ukuran perusahaan sedangkan dampak pandemi Covid-19 terhadap NPL dapat dimoderasi oleh ukuran perusahaan dalam hal penguatan pengaruh antar variabel. Kesimpulan: Sangat penting bagi bank umum di Indonesia untuk menjaga rasio keuangan yang sehat untuk mengendalikan kredit bermasalah.
Implikasi Pendidikan Keagamaan Terhadap Moderasi Beragama di SMTK Marturia Sentani Kabupaten Jayapura Tahun 2022 Hendrik Belwawin; Fransina O Abineno
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v8i1.1909

Abstract

Religious moderation is not only limited to the scope of cognition, but the essence of it requires a moderate attitude in form of action. This study tries to find out the implications of religious education on religious moderation in SMTK Maturia Sentani. The method used in this study was descriptive qaulitaive. The samples of this study were taken from 18 students of twelth grade and 14 teachers. Techniques in collecting data were applied by questionnaires and in-depth interviews. To analyze the data, firstly the percentage of each indicator of religious moderation is carried out such as national commitmen, tolerance, the way of peace, cultural accommodation, and the implications of Christian religious education. Then the percentage results are compared with the interview results as a form of confirmation. The results of this study reveal that students have a high national commitment, prioritize the attitude of peaceful way such as deliberation, dialogue, and do local wisdom as cultrural acomodation for bridging the peaceful like “bakar batu”. However, this study also found or detected the indicator of early radicalism in students. The form of radicalism is not accepting the existence of other groups or religions in their environment and feeling uncomfortable living side by side with other religions. Related to curriculum to support religious moderation, the subject of religious moderation can be included into active curriculum to suppress the emergence of exclusive views.Moderasi beragama tidak hanya sebatas pada ranah kognisi saja, tetapi hekekat dari moderasi beragama membutuhkan sikap yang moderat yaitu berupa tindakan. Penelitian ini berusaha melihat implikasi pendidikan keagamaan terhadap moderasi beragama pada siswa SMTK Maturia Sentani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah 18 siswa yang diambil dari siswa kelas XII dan 14 guru tetap. Teknik dalam mengumpulkan data adalah melalui kuisioner dan wawancara mendalam. Untuk menganalisa data pertama dilakukan persentase pada masing-masing indikator moderasi beragama seperti komitmen kebangsaan, toleransi, jalan damai, akomodasi budaya, dan implikasi pendidikan agama Kristen. Kemudian hasil persentase tersebut disandingkan dengan hasil wawancara sebagai bentuk konfirmasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi, mengutamakan sikap jalan damai seperti musyawarah, dialog dan yang bersifat kearifan lokal sebagai akomodasi budaya seperti “bakar batu”. Namun penelitian ini juga menemukan atau mendeteksi bibit radikalisme pada siswa. Bentuk sikap radikalisme pada beberapa siswa adalah tidak menerima keberadaan kelompok/agama lain di lingkungan mereka dan merasa tidak nyaman hidup berdampingan dengan agama lain. Implikasi pendidikan keagamaan  menyarankan mata pelajaran moderasi agama termuat dalam kurikulum untuk menekan munculnya pandangan ekslusif.
Strategi Peningkatan Budaya Literasi Melalui Program Gendis Sewu di Perpustakaan Rakyat Pangesangan Kota Surabaya Ananda Yorkie Pahlawan; Sri Wibawani
Populis : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/pjsh.v8i1.2079

Abstract

The results of the 2018 Program for International Student Assessment (PISA) study stated that Indonesia was ranked 72nd out of 78 countries. This rating shows that the Indonesian people are in a state of literacy emergency. The city of Surabaya, which is known as a city of literacy, is currently taking corrective action as a step to improve literacy skills through the Gendis Sewu program (The Movement to Give Birth to 1000 Writers and 1000 Storytellers). The purpose of this study was to determine the strategic management process carried out by the Pagesangan People's Library, Jambangan District, Surabaya City in increasing literacy culture through the Gendis Sewu program. The research method used is a qualitative descriptive research approach. Data obtained through observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the overall strategy is running well. This is evidenced by the Gendis Sewu program being manifested in various program innovations and supported by adequate human resource capabilities. There are obstacles, namely the initial introduction phase and the involvement of the role of parents to introduce stories. These obstacles are overcome by corrective steps by focusing on corrective action efforts and problem solving in response to the obstacles that occur. However, the budget determination carried out in the Gendis Sewu program does not adhere to the principles of public sector budgeting or in other words the budget used is a non-budgetary budget.Hasil studi Program for Internationall Student Assessment (PISA) pada 2018 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-72 daril 78 lnegara. Peringkat ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia berada pada kondisi darurat literasi.  Kota Surabaya yang dikenal sebagai kota literasi saat ini melakukan tindakan korektif sebagai langkah meningkatkan kemampuan literasi melalui programl Gendis Sewul (Gerakanl Melahirkan 1000l Penulis danl 1000 lPendongeng). Tujuan dari penelitian inil adalah untuk mengetahui proses manajemen strategi yang dilakukan oleh Perpustakaan Rakyat Pagesangan, Kecamatan Jambangan Kota Surabaya dalam meningkatkan budaya literasi melalui program Gendis Sewu. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan strategi yang dilakukan berjalan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan program Gendis Sewu yang diwujudkan dalam berbagai inovasi program dan ditunjang dengan kemampuan SDM yang memadai. Terdapat hambatan yakni fase pengenalan awal dan keterlibatan peran orangtua untuk mengenalkan dongeng. Hambatan tersebut diatasi dengan langkah korektif dengan berfokus pada upaya tindakan perbaikan dan pemecahan masalah sebagai respon dari hambatan yang terjadi. Namun, penetapan anggaran yang dilakukan pada program Gendis Sewu tidak menjalankan prinsip anggaran sektor publik atau dengan kata lain anggaran yang digunakan adalah anggaran non budgeter.