cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 286 Documents
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR PERILAKU DAN TINGKAT KENYAMANAN PENGHUNI PADA HUNIAN VERTICAL DENGAN ANALISIS BEHAVIORAL MAPPING (Studi Kasus: Rusunawa Pinus Elok Tower C, Jakarta Timur) Annisa Aulia Suwandi; Ratna Dewi Nur'aini
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.009

Abstract

Permasalahan yang timbul dalam penyediaan hunian vertikal khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah bersifat kompleks yaitu pada aspek manusia hingga aspek-aspek lain, seperti ekonomi, politik, social dan budaya. Hunian vertikal dengan konsep arsitektur perilaku diharapkan dapat menghadirkan hunian yang mewadahi karakteristik pola perilaku, kebiasaan, tradisi, budaya, maupun system kemasyarakatan lainnya, baik secara individu maupun kelompok masyarakat. Pada Tulisan Ulinata (2019) membahas mengenai penerapan arsitektur perilaku pada rumah susun bagi nelayan menggunakan metode behavior mapping, yang berfokus pada perilaku khusus Nelayan. Penerapan konsep perilaku pada Hunian Vertikal dengan studi kasus Rumah Susun yang fokus pada penghuni secara umum jarang ditemukan. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini merupakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data berupa data primer dan data sekunder yang dianalis dengan metode berupa pengelompokkan pengguna dalam bangunan, behavioral mapping yang difokuskan pada unit hunian dan ruang komunal bangunan, serta setting ruang yang berhubungan dengan perilaku pengguna. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Penerapan arsitektur perilaku pada bangunan Hunian Vertikal dengan studi kasus Rumah Susun Sewa Pinus Elok dapat terlihat dari penataan setting ruang pada unit hunian dan ruang komunal yang dapat mewadahi aktifitas penghuni didalamnya.
STUDI KOMPARASI TAMAN HONDA TEBET DENGAN TAMAN HUTAN KOTA TEBET Rona Fika Jamila
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.006

Abstract

Taman merupakan salah satu ruang public untuk untuk berkumpul dan melakukan interaksi-interaksi social. Salah satu taman kota yang ramai dikunjungi oleh warga kota Jakarta dari segala usia adalah Taman Tebet. Terdapat dua taman Tebet, yaitu Taman Tebet Honda dan taman bibit Tebet. Kedua taman ini memiliki karakteristik yang berbeda, taman Honda Tebet memiliki ruang terbuka dengan perkerasan yang luas, sedangkan taman bibit Tebet ini lebih rimbun dan banyak terdapat pohon-pohon besar. Untuk itu peneliti ingin melakukan pembandingan antara kedua taman yang berbeda karakter tersebut, dilihat dari sudut pandang taman sebagai wadah interaksi social, dengan kata lain peneliti ingin membandingkan yang manakah yang memiliki tingkat kenyamanan lebih tinggi dalam fungsinya sebagai ruang interaksi social. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dan metode pengumpulan datanya menggunakan observasi dan kuosioner. Tujuan penelitian ini adalah untuk manakah diantara kedua Taman di Tebet yang berbeda karakter ini yang lebih dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya untuk berinteraksi social masyarakat perkotaan. Hasil dari penelitian ini adalah masyarakat berpendapat taman Honda Tebet itu ruang yang baik untuk berinteraksi social, karena dilihat dari kelima kriterianya yaitu vegetasi yang mendominasi, sarana prasarana yang memadai, kebersihan, keindahan visual dan kesejukan, semua kriteria ini memiliki penilaian yang sama atau rata yaitu baik. Pada Taman Bibit Tebet, masyarakat berpendapat taman Bibit Tebet itu ruang yang baik untuk berinteraksi social, jika dilihat dari ketiga kriterianya yaitu sarana prasarana yang memadai, kebersihan, keindahan visual. Sedangkan untuk kriteria vegetasi yang mendominasi dan kesejukan masyarakat menilai taman Bibit Tebet sangat baik untuk dijadikan ruang berinteraksi social. Park is one of the public spaces to gather and carry out social interactions. One of the city parks that is crowded with residents of Jakarta of all ages is Taman Tebet. There are two Tebet parks, namely Taman Tebet Honda and Tebet nursery. The two parks have different characteristics, the Honda Tebet park has open space with wide pavements, while the Tebet nursery park is lush and has lots of large trees. For this reason, the researcher wants to make a comparison between the two parks with different characters, seen from the perspective of the park as a place for social interaction, in other words, the researcher wants to compare which one has a higher level of comfort in its function as a social interaction space. The method used is descriptive quantitative and data collection methods using observation and questionnaires. The purpose of this study is for which of the two parks in Tebet have different characters that can provide more comfort for users to interact socially with urban communities. The results of this study are that the community believes that the Honda Tebet park is a good space for social interaction, because seen from the five criteria, namely dominant vegetation, adequate infrastructure, cleanliness, visual beauty and coolness, all of these criteria have the same or average assessment, namely good. At the Tebet Nursery Park, the community believes that Tebet Seed Park is a good space for social interaction, when viewed from the three criteria, namely adequate infrastructure, cleanliness, visual beauty. Meanwhile, for the criteria of vegetation that dominates and the coolness of the community, the Tebet Nursery Garden is very good for being a social interaction space.
TINJAUAN UNSUR GERAK VERTIKAL DAN HORIZONTAL PADA FURNITURE Edy Muladi; Lukman Arief
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.002

Abstract

Fenomena keterbatasan ruang merupakan salah satu permasalahan pada perumahan di wilayah perkotaan. Dengan terbatasnya ruang pada rumah, maka  dibutuhkan furniture fleksibel dan efisien yang dapat beradaptasi pada segala ruang. Furniture fleksibel selalu dilengkapi dengan unsur gerak, dalam bentuk geometri terbagi menjadi gerak vertikal dan horizontal. Penelitian ini mengkaji peluang yang ditemukan pada ragam unsur gerak vertikal dan horizontal sehingga dapat menemukan unsur gerak pada furniture yang dapat mengefisienkan ruang terbatas. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi pustaka, observasi dan dokumentasi mengenai ragam furniture dengan unsur gerak. Setelah itu dilakukan analisis dan mengkategori berbagai variasi gerak vertikal dan horizontal pada furniture didapatkan ragam yang lebih bernilai efisien dan sederhana; yaitu: Gerak Vertikal dan Horizontal dengan sistem Modular, Interlocking; Gerak Horizontal Dengan Sistem Sliding Tanpa Rel; Gerak Horizontal dengan sistem Sliding, Pivot; Gerak Vertikal dan Horizontal dengan sistem Folding. The phenomenon of space limitation is one of the problems in housing in urban areas. With limited space in the house, flexible and efficient furniture is needed that can adapt to any space. Flexible furniture is always equipped with motion elements, in the form of geometry divided into vertical and horizontal motion. This study examined the opportunities found in various elements of vertical and horizontal motion so as to find motion elements in furniture that can streamline limited space. The research methods used are library studies, observations and documentation on the variety of furniture with elements of motion. After that, analysis and categorizing various variations of vertical and horizontal motion on furniture obtained a variety that is more valuable efficient and simple; namely: Vertical and Horizontal Motion with Modular system, Interlocking; Horizontal Motion With Railless Sliding System; Horizontal Motion with Sliding, Pivot system; Vertical and Horizontal Motion with Folding system.
PREFERENSI GAYA ARSITEKTUR HUNIAN BERDASARKAN TIPE KEPRIBADIAN Rahil Muhammad Hasbi; Rizki Dawanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.007

Abstract

Guna dan citra merupakan 2 unsur dari arsitektur yang tidak bisa dipisahkan. Guna merupakan fungsi dan struktur, citra menggambarkan estetika dari suatu karya arsitektur. Citra tidak hanya sekedar tentang estetika tetapi memiliki makna yang lain yang disebabkan oleh pentingnya budaya bagi masyarakat Nusantara.  Selain dimensi guna, dimensi Citra juga perlu diperhatikan. Sebagai manusia yang berbudaya, maka dibutuhkan dimensi citra yang berkualitas karena tampilan arsitektur tidak hanya tampilan fungsi dan struktur saja. Manusia dapat memberikan makna dan jiwa pada bangunan/karya arsitektur dengan kegiatan dan kepribadian yang dimiliki oleh pemiliknya . Setelah diberikan ”jiwa” oleh penghuninya maka bangunan ini akan memiliki karakter yang dapat mencirikan penghuninya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana preferensi setiap individu terhadap desain huniannya berdasarkan tipe kepribadiannya.Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran kuantitatif dan kualitatif . Hasil dari penelitian ini adalah beberapa tipe kepribadian memiliki preferensi yang sama terhadap gaya arsitektur tetapi dengan tingkat preferensi yang berbeda, terdapat pola-pola preferensi terhadap desain hunian yang dipengaruhi oleh tipe kepribadian dan preferensi terhadap gaya arsitektur hunian berdasarkan tipe kepribadian dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut;  karakter desain, elemen arsitektur ,budaya, familiaritas, iklim dan lingkungan. Guna and Citra are inseparable in architectural design. Guna means function and structure of a building or built environment, citra means the art or the aesthetic of an architectural design. Citra is not just about art or aesthetics.  It has other meanings due to the importance of culture for the people of Nusantara. Citra also needs to be considered because as human beings with culture, we need to enhance the aesthetic quality of a building or built environment through the Citra. Citra can convey what kind of personality the user has. Humans can give meaning and a 'soul' to a building / built environment through the activities carried out in it and through the personality of its users. So that, each building can show the characters of the user. Therefore, this study aims to see how each individual's preference for residential architectural style based on their personality type.The method of this research is a mixture of quantitative and qualitative methods. The results of this research are; several personality types have the same preference for residential architectural style but with different levels of preference, there are patterns of residential architectural style preference based on each personality of the user, and  the preference for residential architectural style based on personality is influenced by the following factors; design characters, architectural elements, culture, familiarity, climate and environment.
ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN TERHADAP STRATEGI KETAHANAN PERKOTAAN (Studi Kasus: Perubahan Iklim di Kota Malang) riza yenni lestari; Eko Priyo Purnomo
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.008

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kota Malang Jawa Timur dengan tujuan untuk mengetahui menegenai Analisis Dampak Pembangunan Berkelanjutan terhadap Perubahan Iklim dalam Strategi Ketahanan Perkotaan di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualititatif yang bersifat deskriptif, yang dilakukan sebagai menggambarkan permasalahan yang sedang diteliti serta mengintergrasikan data ditempat penelitian secara objektif. Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari hasil studi pustaka, review terhadap dokumen-dokumen, menelaah dari riset terdahulu, sumber-sumber tulisan dari berbagai website dan media sosial pemerintah terkait, maupun berita serta dokumentasi yang dapat menunjang serta melengkapi bahan analisis penelitian. Kita tahu bahwa pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan generasi penerus, namun pembangunan berkelanjutan juga akan menjadi ancaman yang mengancam manusia. Banyak masyarakat yang datang ke Kota Malang untuk belajar bekerja dan berwisata, sehingga akan muncul beberapa masalah menenai lingkungan yang ada di kota tersebut. Kota Malang merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang masuk tiga besar dalam tingkat kemacetan yang tinggi setelah Jakarta dan Bandung. Melonjaknya transportasi mengakibatkan kemacetan dan menimbulkan polusi udara. Maka seberapa siapkah pemerintah Kota Malang dalam menghadapi situasi ini dalam upaya ketahanan kota. This research was conducted in Malang City of East Java with the aim to find out about the Analysis of the Impact of Sustainable Development on Climate Change in Urban Resilience Strategies in Malang City. This research is a descriptive qualitative research method, which is conducted as a description of the problem being studied and integrates data in the research objectively. The types of data used in this study are secondary data obtained from the results of literature studies, reviews of documents, reviews from previous research, sources of writing from various websites and related government social media, as well as news and documentation that can support and complete research analysis material. We know that environmentally sustainable development will be very beneficial for the community and future generations, but sustainable development will also be a threat that threatens humans. Many people come to the city of Malang to study work and travel, so that there will be some problems surrounding the environment in the city. Malang is one of the cities in East Java which is in the top three in a high level of traffic jam after Jakarta and Bandung. The surge in transportation has resulted in congestion and air pollution. So how ready is the Malang City government in dealing with this situation in the city resilience effort 
Vitruvian Declaration Form & CTA Form Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Template Naskah Vitruvian
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Declaration Form & CTA Form ini wajib di upload sebagai suplementary pada saat author melakukan submission artikel. Bagi author yang telah melakukan submission sebelum CTA ini dipublikasi, maka wajib melampirkan CTA sebagai suplementary pada saat author mengupload artikel revisi.
KONSEP ARSITEKTUR IKONIK PADA GEDUNG SEKRETARIAT ASEAN DI KEBAYORAN BARU Gilang Dewi Rahayu; Enny Supriyati Sardiyarso; Sri Handjajanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.002

Abstract

Bangunan Sekretariat ASEAN yang ada di Kebayoran Baru (Jakarta) adalah satu-satunya bangunan yang menjadi tempat utama pertemuan negara-negara anggota ASEAN dan berlangsungnya seluruh kegiatan yang menyangkut dengan organisasi ASEAN. Sudah seharusnya bangunan ASEAN Secretariat (ASEC) dapat menjadi salah satu bangunan yang ikonik dan memenuhi prinsip Arsitektur Ikonik serta dapat mencerminkan identitas organisasi ASEAN. Identitas ASEAN perlu direpresentasikan pada bangunan Sekretariat ASEAN yang merupakan satu-satunya bangunan utama milik ASEAN. Identitas itu sendiri merupakan salah satu dari beberapa prinsip Arsitektur Ikonik yang sangat penting. Sehingga, dapat dikatakan bahwa bangunan gedung belum dapat dikategorikan sebagai bangunan berarsitektur Ikonik jika belum memenuhi seluruh prinsip Arsitektur Ikonik. Tujuan penulisan ini dibuat untuk menganalisis bangunan Gedung Sekretariat ASEAN yang berada di Kebayoran Baru berdasarkan prinsip Arsitektur Ikonik. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan paradigma positivistik yang berdasarkan dengan fakta observasi di lapangan maupun studi literatur tentang teori terkait. Data primer didapatkan dari hasil observasi dan wawancara sedangkan data sekunder didapatkan dari studi literatur buku, jurnal serta situs resmi yang terkait. Hasil analisis akan menunjukkan keterkaitan dan hubungan antar variabel (dalam paper ini variabel yang dimaksud adalah prinsip Arsitektur Ikonik dan ciri-ciri visual bangunan Sekretariat ASEAN), sehingga pada bagian akhir penulisan dapat dijabarkan prinsip ikonik yang terdapat pada bangunan Sekretariat ASEAN. Kemudian, dapat disimpulkan bahwa bangunan Sekretariat ASEAN dapat dikategorikan sebagai bangunan yang berarsitektur Ikonik jika dilihat dari ciri-ciri visual bangunannya.  The ASEAN Secretariat building in Kebayoran Baru (Jakarta) is the only building that is the main meeting place of ASEAN member countries and all activities related to ASEAN organizations take place. ASEAN Building Secretariat (ASEC) should be able to become one of the iconic buildings and meet the principles of Iconic Architecture and can reflect the identity of ASEAN organizations. ASEAN's identity needs to be represented in the ASEAN Secretariat building which is the only main building belonging to ASEAN. Identity itself is one of the very important principles of Iconic Architecture. So, it can be said that buildings cannot be categorized as Iconic architecture if they do not meet all the principles of Iconic Architecture. The purpose of this paper is to analyze the ASEAN Secretariat Building in Kebayoran Baru based on the principles of Iconic Architecture. The research method was conducted with a qualitative approach with a positivistic paradigm based on observational facts in the field as well as literature studies on related theories. Primary data were obtained from observations and interviews while secondary data were obtained from literature studies of books, journals and related official websites. The results of the analysis will show the interrelationships and relationships between variables (in this paper the variables referred to are the principles of Iconic Architecture and the visual characteristics of the ASEAN Secretariat building), so that at the end of the writing, the iconic principles contained in the ASEAN Secretariat building can be explained. Then, it can be concluded that the ASEAN Secretariat building can be categorized as an iconic architecture building when viewed from the visual characteristics of the building.
EVALUASI KONSEP GREEN BUILDING DAN REKOMENDASI PENERAPAN TEKNOLOGI PADA BANGUNAN (Studi Kasus : The Curve Nx, Malaysia) Muhammad Naufal Raga Pratama; Sugini Sugini
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/Vitruvian.2021.v10i3.004

Abstract

Konsep green building merupakan bentuk kepedulian dan respon dari isu perubahan iklim dan permasalahan lingkungan global diseluruh belahan dunia. Beberapa negara telah memiliki sistem ratingnya masing-masing, yang berfungsi sebagai standar acuan dalam penilaian konsep green building pada bangunan. Adapun tujuan pada penelitian ini untuk menguji, mengevaluasi serta menilai bagaimana bangunan The Curve Nx Malaysia dalam mengimplementasikan beberapa aspek green building berdasarkan referensi alat pemeringkatan Green Mark dari Singapura, serta rekomendasi smart technology untuk meningkatkan kinerja bangunan. Penelitian ini menggunakan metode assesment atau penilaian terhadap bangunan dengan kriteria dan aspek tertentu pada rating tools green building Singapura yaitu Green Mark dengan kategori Existing Non-Residential Building. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setelah dilakukan pengujian, terdapat beberapa parameter yang masih belum memenuhi tolok ukur yang ada, seperti performa fasad dengan nilai ETTV yang sangat tinggi, penggunaan ventilasi alami yang minim, tidak adanya sensor karbon monoksida di area parkir, dan keterbatasan penggunaan ventilasi alami dan area hijau pada site dan bangunan. Sehingga rekomendasi teknologi yang diberikan diharapkan membantu dalam memenuhi parameter rating tools dan berperan dalam perbaikan lingkungan sekitar. The concept of green building is a form of concern and response from the issue of climate change and global environmental problems around the world. Some countries already have their own rating system, which serves as the reference standard in the assessment of the concept of green building in the building. The purpose of this study is to test, evaluate and assess how The Curve Nx Malaysia building in implementing several aspects of green building based on green mark rating tool reference from  Singapore,  as  well  as  smart  technology  recommendations  to  improve  building  performance. This  study  uses  the  method  of  assessment  or  assessment  of  buildings  with  certain  criteria  and aspects  in  the  rating  tools  green  building  Singapore  green  mark  with  category  Existing  Non- Residential Building. The results of this study found that after testing there were several parameters that still did not meet the existing benchmarks, such as facade performance with very high ETTV values, minimal use of natural ventilation, absence of carbon monoxide sensors in the parking area, and limited use of natural ventilation and green areas on sites and buildings. So that the technology recommendations given will help fill the parameters of the rating tools and play a role in improving the surrounding environment.
KAJIAN KAMPUS D MERCU BUANA SEBAGAI GENERATOR AKTIVITAS TERHADAP LINGKUNGAN SEKITARNYA Gentina Pratama Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.010

Abstract

Universitas Mercu Buana merupakan perguruan tinggi swasta yang sedang berkembang pesat. Dalam dua tahun terakhir ini Universitas Mercubuana membuka kampus keempat yaitu Kampus D1 Universitas Mercubuana yang beralamat di Jalan Raya Kranggan no. 6 Kelurahan Jatiranggon Kecamatan Jatisampurna Bekasi. Tak berapa lama kemudian berdiri pula kampus D2 yang terletak di jalan Rawa Dolar, tidak jauh dari kampus D1. Dimana ada sebuah pusat kegiatan maka disekitanya akan bertumbuh kegiatan-kegiatan lain yang mendukung pusat kegiatan tersebut. Demikian pula dengan keberadaan kampus D Mercubuana ini, setelah peneliti amati, setelah kampus ini berdiri, semakin lama semakin banyak terdapat kegiatan komersial seperti fotokopian yang biasanya merangkap toko alat tulis, warung makan, toko, minimarket dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut dikenal dengan istilah activity support. Hal ini menarik untuk dikaji, dan juga menimbulkan pertanyaan bagaimanakah peran kampus Mercu Buana sebagai generator aktivitas terhadap lingkungan di sekitarnya? penelitian ini akan menggunakan metodologi deskriptif kualitatif. Dimana teori yang dipakai untuk mengkaji ini adalah teori tentang Generator Aktivitas. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengkaji Kampus D1 dan D2 Mercu Buana, sebagai generator aktivitas terhadap lingkungan di sekitarnya. Dan hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah daerah setempat, untuk merencanakan fasilitas umum khususnya Perguruan Tinggi dan penataannya sebagai lingkungan binaan yang terpadu dimasa mendatang.
Perilaku Sosial Ketetanggaan dan Pengaruhnya Terhadap Penataan Ruang Luar Rumah Tinggal Erza Rahma Hajaty; Ika Rizki Laila Wati
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.009

Abstract

Perilaku sosial terjadi dalam situasi sosial, yaitu cara orang berpikir, merasa dan bertindak karena kehadiran orang lain dan juga sebagai sikap membutuhkan orang lain. Perilaku sosial individu akan ditampilkan apabila berinteraksi dengan orang lain, dan setiap individu akan mengembangkan pola respon tertentu. Maka perilaku sosial ketetanggaan dapat dipahami sebagai cara berpikir, merasa dan bertindak individu karena adanya kehadiran tetangga di sekitarnya, yang ditunjukan dengan adanya interaksi. Respon individu karena kehadiran tetangganya membutuhkan ruang agar dapat mewadahi berbagai pola responnya sehingga memungkinkan interaksi tersebut dapat terjadi.Rancangan perumahan formal cenderung menekankan bagaimana menciptakan rangkaian rumah-rumah yang tersusun teratur dengan bentuk yang homogen. Fenomena yang terjadi adalah meskipun rumah telah dibuat secara ideal secara fisik, penghuni perumahan formal tetap saja mengubah bentuk rumah baik pada ruang dalam maupun ruang luar rumah. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah perilaku sosial ketetanggaan menjadi salah satu hal yang menyebabkan dilakukannya penataan khususnya pada ruang luar rumah tinggalnya? Oleh karena itu perlunya dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana perilaku sosial ketetanggaan penghuni dan apakah mempengaruhi penataan ruang luar rumah tinggalnya.Penelitian ini menggunakan menggunakan metode kualitatif dengan lokasi penelitian di Perumahan Bukit Golf Kabupaten Bogor. Hasil observasi menunjukkan bahwa penataan pada ruang luar rumah tinggal berupa pelebaran ukuran teras, tidak menggunakan pagar rumah, membangun kanopi, serta penyediaan atau perletakkan tempat duduk baik pada teras maupun pada halaman rumah. Sedangkan perilaku sosial ketetanggaan penghuni bersama tetangganya yang dilakukan pada ruang luar rumah meliputi interaksi spontan maupun interaksi rutin. Hasil wawancara menunjukkan bahwa perasaan penghuni dan keinginan penghuni untuk selalu ingin berinteraksi dengan tetangganya merupakan salah satu faktor atau alasan psikis yang mempengaruhi penghuni dalam melakukan penataan pada ruang luar rumah tinggalnya. Maka secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku sosial ketetanggaan telah mempengaruhi penghuni dalam melakukan penataan pada ruang luar rumah tinggalnya. Social behavior occurs in social situations, namely, the way people think, feel, and act because of the presence of others and also as an attitude of needing others. Individual social behavior will be displayed when interacting with others, and each individual will develop certain response patterns. Then the neighbor's social behavior can be understood as a way of thinking, feeling, and acting individually because of the presence of neighbors around them, which is indicated by the interaction. Individual response patterns because the presence of neighbors needs space to be able to accommodate various response patterns so as to enable such interactions to occur.Formal housing designs tend to emphasize how to create a series of houses arranged in a homogeneous form. The phenomenon that occurs is that even though the house has been ideally made physically, formal housing residents still change the shape of the house both inside and outside the home. This raises the question of whether the social behavior of neighbors is one of the things that causes the arrangement in the space outside his home? Therefore it is necessary to conduct research to find out how the social behavior of the neighbors and whether it influences the arrangement of the outdoor space of their living house.This study uses a qualitative method with research locations in Bukit Golf Housing in Bogor Regency. The results of observations showed that the arrangement of outdoor living space in the form of widening the size of the terrace, not using the fence of the house, building a canopy, as well as the provision or placement of seats both on the terrace and on the home yard. Whereas the social behavior of the neighbors along with their neighbors carried out in the outdoor space of the living house includes spontaneous and routine interactions. The interview results show that the feelings of the occupants and the desire to always interact with their neighbors are one of the factors or psychological reasons that influence the occupants in arranging the space outside their homes. So overall the results of this study indicate that the social behavior of neighbors has influenced the occupants in arranging the outdoor space of their living house. 

Page 11 of 29 | Total Record : 286