cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 286 Documents
SPORT CENTER DI PEKANBARU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIGH TECH CHARLES JENCKS Raisya Muthiah; Yohannes Firzal; Pedia Aldy
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.001

Abstract

Pekanbaru merupakan salah satu pusat ekonomi terbesar di Sumatra, sehingga meningkatnya kegiatan penduduk di segala bidang, salah satunya olahraga. Berdasarkan data RPJMD Pekanbaru tahun 2012-2017, infrastruktur olahraga di Pekanbaru masih kurang  dimana hanya tersedia 0,82 gedung olahraga setiap 10.000 penduduk. Dengan sangat terbatasnya fasilitas untuk menunjang kegiatan olahraga di kota Pekanbaru, maka dibutuhkan sarana olahraga yang mampu menampung berbagai kegiatan olahraga. Sport center dapat mewadahi berbagai kegiatan olahraga dalam satu fungsi bangunan sehingga merupakan solusi yang tepat dalam pengembangan infrastruktur olahraga di Pekanbaru. Arsitektur High Tech dipilih karena melambangkan keterbukaan terhadap desainnya, sehingga memberikan daya tarik terhadap lingkungan sekitar yang dibutuhkan Sport Center dalam memunculkan semangat berolahraga. Sport Center ini diharapkan bisa menjadi sarana olahraga yang diminati masyarakat dalam memfasilitasi berbagai kegiatan olahraga yang terintegrasi dan juga dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi baru bagi masyarakat. Pekanbaru is one of the largest economic centers in Sumatra, so there is an increase in population activities in all fields, one of which is sports. Based on data from the 2012-2017 Pekanbaru RPJMD, sports infrastructure in Pekanbaru is still lacking where there are only 0.82 sports buildings per 10,000 population. With very limited facilities to support sports activities in the city of Pekanbaru, we need sports facilities that can accommodate a variety of sports activities. Sport Centers can accommodate a variety of sports activities in one building function so that it is the right solution in developing sports infrastructure in Pekanbaru. The Architecture High Tech was chosen because it symbolizes openness to its design, thus providing an appeal to the surrounding environment needed by the Sports Center in eliciting the spirit of exercise. The Sport Center is expected to be a sporting facility that is of public interest in facilitating various integrated sports activities and can also be used as a new recreational area for the community.
REDEFINISI RUANG PUBLIK DI MASA PANDEMI COVID-19 Studi Kasus Di Kota Yogyakarta Winarna Winarna; Paulus Bawole; Bening Hadilinatih
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.008

Abstract

Selama masa pandemi Covid-19, pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan social distancing dalam aktivitas sosialnya atau menjaga jarak selama aktivitas sosialnya. Anjuran pemerintah kepada seluruh masyarakat menyebabkan aktivitas mereka di ruang publik berkurang. Situasi ini membuat pergeseran makna dan fungsi ruang publik, sehingga kemudian masyarakat semakin membatasi geraknya di ruang publik. Penyesuaian desain ruang publik di masa pandemi Covid-19 telah bergeser. Pergeseran tersebut meliputi bagaimana memanfaatkan ruang publik agar tidak mengganggu pengguna dan lingkungan ruang publik itu sendiri. Makna dan fungsi ruang publik diharapkan mampu menjawab permasalahan masa depan dalam konteks lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada masa pandemi Covid-19 dan pascapandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kecenderungan perubahan karakteristik, makna, dan fungsi ruang publik selama masa Pandemi Covid 19 serta melakukan redefinisi definisi (redefinition) ruang publik. Selama dan setelah Pandemi Covid-19 definisi ruang publik perlu dirumuskan kembali; melalui penelitian ini definesi ruang public yang baru akan didiskusikan dengan detail. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dipadukan dengan metode kuantitatif yang menggunakan kuesioner untuk pengumpulan datanya. Secara umum, hasil penelitian ini mendefinisikan definisi baru ruang publik sebagai ruang interaksi antara individu atau komunitas yang mendukung peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. During the pandemic Covid-19, the government advised people to practice social distancing in their social activities or to maintain a distance during their social activities. The government's recommendation to all community causes reducing their activities in public spaces. This situation makes shifting the meaning and function of public space, so that then people increasingly limit their movement in the public space. The adjustment to the design of public spaces during the Covid-19 pandemic has shifted. The shifts include how to utilize public space in order to prevent disturbances to users and the environment of the public space itself. The meaning and function of public space are expected to be able to answer future problems in the context of the social, economic, and cultural environment that is in accordance with the conditions of society during the Covid-19 pandemic and post-pandemic. This study aims to examine the tendency of changes in the characteristics, meaning, and function of public spaces during the Covid 19 Pandemic and to redefined the definition (redefinition) of public spaces. During and after the Covid-19 Pandemic the definition of public space needs to be reformulated; that Public Space is an infrastructure of interaction between individuals and communities for various purposes and activities that support the improvement of public health and welfare. From the results of the research that has been done, several conclusions can be drawn which are the results of the discussion described in this scientific article.
STUDY OF SOUND BEHAVIOR FROM AUDIAL EXPERIENCE IN TAMAN SARI YOGYAKARTA Patricia Pahlevi Noviandri; Christian Nindyaputra Octarino
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.001

Abstract

Taman Sari merupakan tempat peristirahatan Raja sekaligus tempat pertahanan yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I bertakhta. Kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan heritage ini telah menjadi salah satu situs penting di Yogyakarta dalam hal menunjang pariwisata. Atmosfer dan suasana heritage yang ada di area Taman Sari menjadi daya tarik tersendiri yang dapat mendatangkan minat dari para wisatawan. Taman Sari memiliki identitas suara (soundmark) yang berimplikasi pada pengalaman pendengaran wisatawan, sekaligus mendukung suasana heritage yang ada. Saat ini, identitas suara yang ada di Taman Sari dinilai sudah lemah sehingga mengurangi suasana yang dirasakan oleh pengunjung. Penelitian ini membahas tentang identifikasi perilaku bunyi pada situs Taman Sari yang bertujuan untuk mengetahui letak sumber bunyi yang dapat mempengaruhi suasana pariwisata dalam aspek audial. Metode yang digunakan adalah simulasi gerakan suara dengan menggunakan perangkat lunak Ecotect. Dimensi dan material pelingkup ruang disesuaikan dengan kondisi di lokasi dengan pemetaan jenis material dan lokasi dari identitas suara yang ada. Hasil simulasi perangkat lunak akan dianalisis dalam kaitannya dengan teori persebaran suara. Berdasarkan analisis, diketahui bahwa elemen lunak dan elemen keras mempengaruhi karakter perilaku suara di Taman Sari. Perilaku suara yang ditemukan di lokasi adalah pantulan suara yang sebagian menghasilkan gaung dan suara langsung yang dapat didengar oleh wisatawan di berbagai segmen. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menunjang pengalaman wisatawan di situs cagar budaya melalui peningkatan kualitas aspek audial kawasan. Taman Sari is the resting place of the King as well as a place of defense that was built during the reign of Sri Sultan Hamengkubuwono I in the Sultanate of Yogyakarta. The area, which consists of several heritage buildings, has become one of the important sites in Yogyakarta in terms of supporting city tourism. The heritage atmosphere in the Taman Sari area is a special attraction that can attract tourists' interest. Taman Sari has a soundmark that has implications for the hearing experience of tourists, as well as supports the heritage atmosphere. Currently, the soundmark in Taman Sari is considered weak, thereby reducing the atmosphere felt by visitors. This study discusses the identification of sound behavior on the Taman Sari site, which aims to determine the location of the sound source that can affect the tourism atmosphere in the audial aspect. The methodology was based on the simulation of sound movement using Ecotect software. The dimensions and materials of the space enclosure are adjusted to the conditions at the location by mapping the type of material and the location of the existing voice identity. The simulation results will be analyzed in relation to the theory of sound distribution. Based on the analysis, it is known that softscape and hardscape elements affect the character of voice behavior in Taman Sari. The sound behavior found at the location is the sound reflection which partially produces echoes and direct sounds that can be heard by tourists in various segments. The results of this study are expected to enhance the tourist experience at cultural heritage sites through improving the quality of the area's audial aspects.
KAJIAN PENERAPAN ARSITEKTUR KONTEKSTUAL PADA PERANCANGAN DESA WISATA SAMIN DI BOJONEGORO Badrut Anggara Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.003

Abstract

Arsitektur kontekstual adalah sebuah metode perangancan yang mengkaitkan dan menyelaraskan bangunan baru dengan karakteristik lingkungan sekitar. Penerapan arsitektur konstektual pada perancangan desa wisata samin di Bojonegoro, Jawa Timur. Sebagai warisan budaya tak benda, pemerintah menetapkan desa samin Bojonegoro sebagai desa wisata. Desa ini memiliki banyak potensi sebagai desa wisata jika dilihat berbagai macam factor seperti sejarah, sumber daya manusia, letak wilayah geografis. Pada penerapannya desa ini tidak berkembang dengan baik sebagai desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan arsitektur konstektual dapat diterapkan pada perancangan desa wisata Samin Bojonegoro.  Penelitian ini menggunakan pendekatan eksploratif dan menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan penerapan arsitektur konstektual dapat diterapkan dan dapat mengurangi perubahan lingkungan sebagai dampak dari pengembangan kawasan desa wisata samin Bojonegoro.    Contextual architecture is a design method that links and aligns new buildings with the characteristics of the surrounding environment. The application of contextual architecture in design of the Samin tourism village in Bojonegoro, East Java. As an intangible cultural heritage, the government has designated Samin Bojonegoro village as a tourist village. This village has a lot of potential as a tourist village when viewed from various factors such as history, human resources, geographical location. In practice, this village is not well developed as a tourist village. This study aims to determine the application of contextual architecture can be applied to the design of the tourist village of Samin Bojonegoro. This research uses an exploratory approach and uses qualitative methods. The results of this study indicate that the application of contextual architecture can be applied and can reduce environmental changes as a result of the development of the tourism village area of Samin Bojonegoro.  
RITME DAN KESATUAN PADA FASADE BANGUNAN UTAMA BERSEJARAH (KAWASAN BENTENG KOTA LAMA SEMARANG) Deni Wahyu Setiawan; Agung Budi Sardjono; Raden Siti Rukayah; Bangun Indrakusumo Radityo Harsritanto
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.004

Abstract

Kawasan Benteng Kota Lama Semarang merupakan peninggalan sejarah kolonial yang bangunannya terbentuk melalui beberapa periode masa. Pembangunan yang tidak bersamaan tersebut ternyata tidak membuat tampilan fasade bangunan yang berada dalam Kawasan Benteng Kota Lama berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa ada ritme dan kesatuan fasade yang membuat kawasan bersejarah ini. Metode yang digunakan adalah kajian literatur, dan analisa fasade bangunan utama di Kawasan ini secara deskriptif. Temuan signifikan pada fasade semua bangunan dominan adalah adanya ritme beberapa elemen fasade yang mirip sehingga tercipta kesatuan vista.  Inner fortress area of Kota lama Semarang is one of western colony heritage in Indonesia. The process of Kota Lama’s Urban Development did not happened in a period of time. Even though the developments various, the key buildings in this heritage area still form the similar façade theme. This research purpose is to describe the rhythm and unity of Kota Lama’s key building façade. The result shown that most of façade element on the key buildings keep similar rhythm which bring visual unity of this area   
A COMPARATIVE STUDY OF CONTAMINATED RIPARIAN ZONE FOR ECO LANDSCAPE DEVELOPMENT STRATEGY Amanda Rosetia
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.005

Abstract

The transition between terrestrial and aquatic ecosystems has been known as Riparian Zone. The riparian zone is where generally water flows rarely stagnant, which river is an intermediate plateu. Conversely, rivers, stream or lakes water flows can be stagnant in common situation. Svejcar in his article stated that as transition, riparian zone tends to have characteristics of both upland and aquatics ecosystems. Water contamination brings the effect on reforming the environment degradation whether they are directly or indirectly discharged into water bodies without adequate treatment. Various notable water rehabilitation projects in leading countries led to their substantial economic returns for many aspects by the government-led initiatives. Nature-inclusive solution has been heavily concerned for the mega projects. In which ecological landscape design can provide the ecosystem services to balance the engineering driven restoration projects. To include, the best practice management requires extended understanding of the pattern in order to allow optimum evaluation of the process relationship. This research is conducted by an explanatory method where writer observe the relevant writings and theory to evaluate riparian areas with support on both primary and secondary data. A comparison table has been conducted to determine the most optimum approach has done by three different cities in two big countries. They are Siak River, Riau, Indonesia between Citarum River in Bandung and Yangtze River in China. This comparison will explain the elements observe among the three rivers and follow by the explanatory theory that has been conducted, a best practice management for landscape design to be evaluate.
JOCITY (IJO CITY) : SEBUAH INOVASI PEMBUATAN HUTAN VERTIKAL DENGAN MEMANFAATKAN LAHAN BANGUNAN DI DAERAH PERKOTAAN YANG TERINSPIRASI DARI Q.S. SABA’ : 15 Imamul Arifin; Annisa Lidya Ardiani; Alifia Nur Alima
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.007

Abstract

Penelitian ini didasari oleh seriusnya kasus pencemaran udara di Indonesia, terutama jika melihat efeknya terhadap kesehatan. WHO mencatat setiap tahun ada 7 juta kematian (2 juta di Asia Tenggara) berhubungan dengan polusi udara luar ruangan dan dalam ruangan Polusi udara merupakan dampak dari kegiatan manusia atau proses alam yang mengubah tatanan udara sehingga kualitas udara mengalami penurunan hingga ke tingkat tertentu yang berujung pada tidak berfungsinya udara sebagaimana mestinya. Di sinilah letak urgensi ajaran islam untuk kesejahteraan lingkungan hidup. Dapat dikatakan bahwa agama tidak hanya berkutat pada masalah-masalah spiritual saja, tetapi juga masalah lingkungan hidup. Pada dasarnya, peran nilai-nilai agama dapat menumbuhkan kesadaran manusia untuk peduli terhadap lingkungan serta dapat menjadikannya lebih cakap dalam mengatasi dan membaca tanda-tanda zaman diikuti dengan kemampuan menciptakan seperangkat nilai hukum dan sejumlah peraturan untuk melestarikannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi penanaman hutan vertikal sebagai solusi penanggulangan polusi udara yang krusial di wilayah perkotaan Indonesia yang terinspirasi dari Q.S. Saba’: 15. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni studi literatur dengan metode analisis kualtatif deskriptif. This research is based on the seriousness of air pollution cases in Indonesia, especially if we look at the effects on health. WHO notes that every year there are 7 million deaths (2 million in Southeast Asia) related to the guarantee of outdoor and indoor air. Air pollution is the impact of human activities or natural processes that change the air system so that air quality has decreased to a certain level which leads to the malfunctioning of the air as it should. Herein lies the urgency of Islamic teachings for environmental welfare. It can be said that religion is not only concerned with spiritual issues, but also environmental issues. Basically, the role of religious values can foster human awareness to care for the environment and can make them more competent in overcoming and reading the signs of the times followed by the ability to create a set of legal values and a number of regulations to preserve them. This research is aimed to analyze the function of vertical forest planting as a solution to tackle crucial air pollution in Indonesian urban areas that inspired from Q.S. Saba ': 15. The method used in this research is literature study with descriptive qualitative analysis method.  
TIPOLOGI ARSITEKTUR KOLONIAL DI INDONESIA Nadhil Tamimi; Indung Sitti Fatimah; Akhmad Arifin Hadi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.006

Abstract

Salah satu periode yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia adalah periode kolonial. Terdapat berbagai macam bentuk peninggalan bersejarah berasal dari periode tersebut, salah satunya ialah langgam atau gaya arsitektur kolonial. Bangunan yang memiliki karakter arsitektur kolonial dapat dikategorikan sebagai bangunan yang penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kajian yang dilakukan membahas tipologi dan pelestarian arsitektur kolonial yang berada di Indonesia. Metode yang digunakan pada kajian ini adalah studi pustaka atau literatur dengan  tujuan untuk menjelaskan arsitektur kolonial di Indonesia dan dapat bermanfaat sebagai dasar kategorisasi bangunan kolonial. Dari kajian ini dapat disimpulkan arsitektur kolonial merupakan salah satu gaya arsitektur yang ada di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda dimana gaya, karakter, dan ciri arsitektur kolonial dipengaruhi oleh perpaduan antara budaya Belanda dan budaya Indonesia serta memiliki dua metode konservasi yaitu teknik konservasi bersifat fisik (preservasi, restorasi, dan rekonstruksi) dan non fisik. One period that has big influence on the development in Indonesia is the colonial period. There are various forms of historical relics from this period, one of which is the style of colonial architecture. Buildings that have colonial architectural character can be categorized as important buildings to be preserved because they have high historical value. The study was conducted to discuss typology and preservation of colonial architecture in Indonesia. Literature study is used in this study with the aim of explaining colonial architecture in Indonesia and can be useful as a basis for the categorization of colonial buildings. From this study it can be concluded that colonial architecture is one of the architectural styles that existed in Indonesia since the Dutch Colonial period where the style, character, and features of colonial architecture were influenced by a combination of Dutch and Indonesian culture, it also had two conservation methods, namely physical conservation techniques (preservation , restoration and reconstruction) and non-physical.
PUSAT REHABILITASI NARKOBA DI PEKANBARU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ISLAM Dede Irma Juwita; Wahyu Hidayat; Mira Dharma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.001

Abstract

Narkoba merupakan salah satu masalah yang besar hingga saat ini, baik di kota-kota besar hingga kedesa-desa sekalipun. Riau adalah salah satu kota yang yang terjerat kasus narkoba. Sepanjang tahun 2019, Riau menangani kasus narkoba sebanyak 1.817 kasus dengan 2.496 sebagai tersangka (Sitinjak, 2019). Pekanbaru pun tidak luput dari kasus narkoba mengingat beberapa kasus yang telah terjadi di Pekanbaru. Korban penyalahgunaan narkoba mengalami gangguan fisik dan psikis yang dapat melukai dirinya sendiri dan orang disekitar sehingga diperlukannya wadah dalam proses pemulihan mental sekaligus moral korban penyalahgunaan narkoba. Kurangnya fasilitas yang memadai juga menjadi alasan dalam perancangan pusat rehabilitasi narkoba di Pekanbaru. Salah satu penyebab terjeratnya manusia ke dalam lingkungan narkoba adalah kurangnya iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka diperlukannya wadah pemulihan yang mampu mendekatkan diri kepada sang pencipta, maka dari itu perancangan pusat rehabilitasi narkoba di Pekanbaru menggunakan pendekatan arsitektur Islam sebagai tema dan acuan dalam perancangan. Arsitektur Islam diterapkan pada perancangan berupa prinsip arsitektur Islam yang menghubungkan manusia, tuhan dan alam ciptaan-Nya. Pengaplikasian arsitektur Islam pada bangunan rehabilitasi narkoba terdapat pada perancangan massa bangunan, interior bangunan dan lansekap serta elemen-elemen warna dan material yang digunakan pada perancangan sesuai dengan kebutuhan proses rehabilitasi.   Drugs is one of the big problems to date, both in big cities and even in villages. Riau is one of the cities caught in drug cases. Throughout 2019, Riau handled 1,817 drug cases with 2,496 as suspects (Sitinjak, 2019). Pekanbaru was not spared from drug cases given several cases that have occurred in Pekanbaru. Victims of drug abuse experience physical and psychological disorders that can injure themselves and those around them so that they need a container in the process of mental recovery as well as the morale of victims of drug abuse. Lack of adequate facilities is also a reason in the design of drug rehabilitation centers in Pekanbaru. One of the causes of human being trapped into the drug environment is the lack of faith and devotion to God Almighty, so the need for a container of recovery that is able to get closer to the creator, therefore the design of drug rehabilitation centers in Pekanbaru using the approach of Islamic architecture as a theme and reference in design. Islamic architecture is applied to the design of Islamic architectural principles that connect humans, God and nature of His creation. The application of Islamic architecture in drug rehabilitation buildings is found in the design of building masses, building interiors and landscaping as well as the color and material elements used in the design in accordance with the needs of the rehabilitation process.  
INTERPRETASI PRINSIP BALE GEDE SAKA RORAS SUKAWANA PADA DESAIN BANGUNAN RUMAH TINGGAL TYPE 36 Kadek Agus Surya Darma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.010

Abstract

Bale gede saka roras di Desa Sukawana merupakan sebuah bangunan vernacular yang keberadaannya telah ada sebelum era majapahit memerintah di Bali. Secara fisik dan filosofi, elemen bangunan kental akan budaya dan tradisi budaya bali hingga di masa sekarang. Eksistensi dan kelestariannya yang telah teruji dalam periode waktu yang lama menjadi suatu hal yang manrik dan istimewa untuk diungkap. Responsif terhadap iklim setempat menjadi salah satu faktor dalam eksistensi bangunan ini, tampilan estetika yang sesuai budaya setempat dan penggunaan bahan sederhana yang mudah didapat menjadi hal-hal yang menyebabkan bangunan ini masih terus difungsikan hingga masa sekarang. Kota Denpasar merupakan kawasan perkotaan dengan heterogenitas penduduknya. Berdasarkan data umum dari developer, rumah tangga baru di Kota Denpasar umumnya membutuhkan rumah tinggal bertype kecil untuk anggota keluarganya. Rumah petak dari type 21 hingga 45 menjadi pilihan favorit dari sisi keterjangkauan biaya dan kecukupan kebutuhan ruangnya. Rumah type 36 merupakan salah satu type bangunan yang menjadi penelitian kali ini. Dewasa ini identitas perumahan bertype 36 di Kota Denpasar dibangun dengan langgam yang kurang mencirikan budaya setempat, sehingga perwajahan kawasan kota denpasar sebagai Kota Budaya menjadi terdistorsi. Berdasarkan beberapa prinsip fisik dan non fisik yang terdapat pada bangunan vernacular bale gede saka roras desa sukawana, maka diupayakan sebuah studi model menggunakan metode visualisasi digital dalam menemukan sebuah pendekatan terhadap desain bentuk fisik bangunan, desain penataan ruang dalam maupun filosofi pada bangunan rumah tinggal type 36 di Kota Denpasar yang mampu menguatkan identitas kawasan perkotaan di Kota Denpasar sebagai Kota Budaya untuk mendukung Pariwisata Budaya yang berkearifan lokal.