cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 286 Documents
PENERAPAN PRINSIP DESAIN RICHARD MEIER PADA PEKANBARU DEVELOPMENTAL CHILDREN OF DISABILITY Amelia Resti; Yohannes Firzal
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.692 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i3.001

Abstract

ABSTRAKPekanbaru sebagai Ibu Kota dari Provinsi Riau belum adanya fasilitas yang mampu memberikan pelayan secara lengkap terhadap anak penyandang disabilitas berupa pendidikan non formal dan terapi. Hal ini juga tertera dalam UUD No 4 Th 2007 bahwa anak disabilitas belum optimal dalam pemperoleh pelayanan yang dibutuhkan kerena kemudahan aksesibilitas belum dapat dipenuhi. Tujuan dari perancangan Pekanbaru developmental children of disability ini mampu memberikan fasilitas dan layanan pendidikan nonformal serta terapi yang dibutuhkan oleh anak penyandang disabilitas baik secara fisik maupun mental, serta dengan penerapan prinsip desain Richard Meier  dapat memberikan pengaruh dan dampak pisikologi yang baik bagi anak disabilitas.  Jurnal ini membahas tentang karakter anak disabilitas, jenis edukasi dan terapi yang dibutuhkan anak disabilitas serta cara penanganan anak disabilitas, serta hubungan fungsi terhadap tema perancangan. Manfaat pada perancangan pekanbaru developmental children of disability bahwa adanya wadah yang mampu memberikan fasilitas dan mewadahi kebutuhan yang beragam oleh anak penyandang disabilitas, dengan menggunakan prinsip desain Richard Meier dapat mempermudah aktivitas anak disabilitas berada di bangunan. Metode penelitian yang digunakan berupa pengamatan, wawancara dan data literatur. Pekanbaru developmental children of disability ini muncul sebagai jawaban ketidak setaraan kesempatan yang terjadi pada anak penyandang disabilitas. Pada perancangan ini terdiri dari fasilitas pendidikan nonformal berupa edukasi, pelatihan dan penampilan, seta terapi yang dibutuhan anak disabilitas yang terdiri dari indoor dan outdoor yang berupa healing garden. Dengan menerapkan karakter desain Richard Meier serta penerapan standar khusus yang dibutuhkan oleh anak penyandang disabilitas yang mampu memberikan kenyamanan rancangan terhadap pengguna. Pada perancangan ini merapkan konsep friendly interacation yang didapatkan dari keterkaitan fungsi serta tema pada rancangan. ABSTRACTThe basics Pekanbaru as the capital of Riau Province has no facilities that can provide a complete service to children with disabilities in the form of non-formal education and therapy. This is also stated in the Constitution No. 4 of 2007 that children with disabilities have not been optimal in obtaining the services needed because the accessibility has not been fulfilled. The purpose of designing Pekanbaru developmental is able to provide non-formal education facilities and services and therapies needed by children with disabilities both physically and mentally, and with the application of Richard Meier design principles can provide a good psychological impact and impact on children with disabilities. This journal discusses the character of children with disabilities, the types of education and therapy children with disabilities and how to handle children with disabilities, and the relationship of functions to the design theme. The benefit of the design of the developmental children of disability week is that a container that is able to provide facilities and accommodate the diverse children with disabilities, using Richard Meier's design principles can facilitate the activities of children with disabilities in buildings. The research method used in the form of observations, interviews, and literature data. Pekanbaru developmental emerged as an answer to the inequality of opportunity that occurs in children with disabilities. this design consists of non-formal education facilities in the form of education, training, and appearance, and therapy needs of children with disabilities consisting of indoor and outdoor in the form of a healing garden.  Character design of Richard Meier and the application of special standards required by children with disabilities who are able to provide design comfort to the user. this design apply the concept of friendly interaction obtained from the interrelation of functions and themes in the design.
Kepuasan Individu Terhadap Preferensi Tempat Duduk di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada Fadhilah Siti Aniisah Haryono; Kartika Tristanto; Norma Melinda; Syam Rachma Marcillia
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.76 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i3.003

Abstract

Perpustakaan merupakan tempatp yang pada umumnya digunakkan untuk meminjam buku, aktivitas belajar dan mengerjakan tugas. Aktivitas belajar dan mengerjakan tugas membutuhkan kenyamanan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas karena pengguna bisa lebih fokus dan berkonsentrasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan individu terhadap prefensi tempat duduk di perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Studi penelitian ini menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden yang berjumlah 20 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan yang kemudian hasil data tersebut diolah menggunakan skala diferensial semantik 5 poin. Kemudian data tersebut disesuaikan dengan tempat duduk yang dipilih pengguna. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa  pengguna perpustakaan dalam melakukan kegiatan belajar mandiri, lebih puas menggunakan tipe kursi individu dibandingkan dengan kursi grup. Data menunjukkan bahwa tingkat privasi memiliki defisit yang cukup tinggi, sedangkan furnitur dianggap tidak begitu penting karena memiliki defisit yang rendah. Berdasarkan data pemilihan tempat duduk, hasil terbanyak adalah yang jauh dari jalur sirkulasi yang memungkinkan adanya gangguan terhadap privasi. Meski begitu pada kenyataanya, tempat duduk tersebut masih belum memenuhi harapan mereka.
EVALUASI SISTEM PENCAHAYAAN PADA PERPUSTAKAAN NASIONAL Kirana Dewinta Puni; Dyah Nurwidyaningrum; Cintya Triayu Apriliansyah
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.366 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i3.005

Abstract

ABSTRAK Kualitas pencahayaan adalahsalah satu faktor penting dalam kegiatan membaca. Gedung Perpustakaan membutuhkan tingkat pencahayaan sebesar 300 lux sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga para pemustaka dapat melakukan kegiatan membaca di Perpustakaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas pencahayaan pada sebuah gedung perpustakaan yang menerapkan konsep green building. Metode yang digunakan adalah metode komparasi dengan membandingkan hasil pengukuran dengan SNI. Pengukuran data dilakukan dalam kondisi pencahayaan kombinasi. Standar yang digunakan adalah SNI 03-2396-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung, SNI 03-6575-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung dan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No.38 tahun 2012 tentang Panduan Pengguna Bangunan Gedung Hijau Jakarta. Hasil yang diperoleh adalah kondisi pencahayaan kombinasi pada ruang baca sudah memenuhi SNI dan sudah menerapkan konsep green building pada sistem pencahayaan berdasarkan Panduan Pengguna Bangunan Gedung Hijau Jakarta. Hasil studi menunjukkan bahwa keseluruhan ruang baca memiliki persentase kesesuaian dengan SNI dalam kondisi kombinasi sebesar 80%. Faktor yang berpengaruh pada nilai tersebut adalah jarak bidang kerja dengan bukaan, penggunaan jenis lampu, pemilihan jenisarmaturdan perletakannya.  Kata kunci: Pencahayaan Perpustakaan; Area membaca; Perpustakaan Nasional Indonesia; Green Building; Pencahayaan Kombinasi.  ABSTRACT Lighting quality is one of the important factors in reading activities. The library building requires 300 lux illumination level by Standar Nasional Indonesia (SNI) so that the readers can do well-reading activities in a library. This research was conducted to determine the quality of lighting in a library building that implemented the concept of green building. The method used is a comparison method by comparing the measurement results to the SNI standard. Measurements are done in a combination of lighting conditions. The standards used are SNI 03-2396-2001 on Procedures for Designing Natural Lighting Systems in Buildings, SNI 03-6575-2001 on Procedures for Designing Artificial Lighting System in Buildings and Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 38/2012 about Jakarta Green Building User Guide. The results of this study are a combination of lighting conditions in the reading room already meet the SNI and lighting system has implemented a green building concept based on Jakarta Green Building User Guide. The results showed that the entire reading room had a percentage of conformance with SNI in a combination condition is 80%. The factors that affect the value are the distance of the reading area with the openings, the use of the type of lamp, the selection of types and the layout of the armature.  Keywords: Lighting for Librarie; Reading area; National Library of Indonesia; Green building; Combination lighting.
PENERAPAN ARSITEKTUR CINEGRAM BERNARD TSCHUMI PADA PERANCANGAN YOGYAKARTA FESTIVAL CENTER Tulus Setya Pranata; Widi Cahya Yudhanta
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.22 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i3.004

Abstract

Ditetapkannya Yogyakarta sebagai kota destinasi MICE berkesempatan untuk mempromosikan event / festival budaya maupun non budaya yang berada di Yogyakarta. Calender of Event yang diterbitkan oleh pemerintah setiap tahunnya merupakan gerakan pemerintah untuk merespon event yang berkembang di Yogyakarta. Tetapi jika ditinjau dari aktivitasnya kegiatan event masih tersebar diberbagai daerah dan beberapa event tidak mempunyai tempat dan fasilitas yang memadahi untuk mengembangkan event, padahal jika ditinjau dari aktifitas MICE yang rutin digelar maka diperlukan fasilitas untuk mengembangkan event secara terpusat dan komperhensif. Metode perancangan yang digunakan adalah metode pendekatan arsitektur Cinegram Bernard Tschumi. Beberapa data awal yang telah ditemukan pada survei awal, dikembangkan dalam survei lanjutan. Data-data tersebut kemudian diperdalam dan dikembangkan melalui serangkaian survei yang dilakukan berulang kali. Proses analisis merupakan bagian yang menyatu dengan proses observasi data. Dari proses ini kemudian dibangun konstruksi teori dari lapangan. Untuk memenuhi kebutuhan dalam proses pengembangan diperlukan beberapa ruang sebagai fasilitas pertunjukan dan beberapa ruang penunjang event. Selain itu, agar event menjadi berkembang maka diperlukan ruang yang dapat memancing ide – ide baru dari masyarakat  untuk mengembangkan event kedepannya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah merancang sebuah fasilitas pertunjukan seperti Festival Center untuk mengembangkan event di Yogyakarta dengan pendekatan arsitektur  Cinegram Bernard Tschumi.
KAJIAN PENGARUH SETTING RUANGAN TERHADAP KENYAMANAN DAN PRIVASI PENGUNJUNG KAFE LINGKAR COFFEE SEMARANG Hartantyo Leksono Harmoyo; Dian Putriati; Puspita Karisma Kurniasani; Badrut Anggara Putra
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.004

Abstract

Setting ruangan dan furnitur yang ada pada sebuah kafe bertujuan agar pengunjung kafe nyaman pada semua setting kursi yang tersedia. namun ada setting tertentu yang menjadi favorit maupun yang selalu dihindari. Pada penelitian ini akan di teliti mengenai pengaruh setting ruangan terhadap kenyamanan dan privasi pengunjung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Data yang dipakai adalah data observasi dan pengamatan lapangan dan studi literature. Kedua data dianalisis menggunakan Place Centered Mapping dengan teori mengenai kenyamanan dan dimensi personal space. Penelitian ini bertujuan bertujuan mencari setting mana yang paling disukai dan dihindari, serta mencari apa yang menyebabkan setting tersebut disukai dan dihindari oleh pengunjung kafe. Setting-setting tertentu. Hipotesis penulis adalah setting-setting yang paling sering digunakan oleh penghuni adalah setting yang paling memenuhi kenyamanan dan privasi pengunjung. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa setting yang memenuhi kenyamanan dan privasi pengunjung yaitu setting kursi yang memiliki personal space dan memiliki kursi sofa yang nyaman. Room settings and furniture in a kafe are intended so that kafe visitors are comfortable in all available seat settings. however, there are certain settings that are both favorites and that are always avoided. In this research, will examine the effect of room setting on the comfort and privacy of visitor. The research method used is a quantitative method. The data used are observational data and field observations and literature studies. Both data were analyzed using Place Centered Mapping with the theory of comfort attributes and personal space dimensions. This study aims to find out which settings are the most liked and avoided, and to find out what causes these settings to be liked and avoided by kafe visitors. Certain settings. The author's hypothesis is that the settings most often used by residents are those that best meet the attributes of comfort and privacy. In this research, the result show that the setting that meets the comfort and privacy of visitor is a chair setting that has personal space and has a comfortable sofa chair.
Analisis Konsep Green Roof Dan Permodelan Desain Sederhana Yuhana Rahayu
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.007

Abstract

Pembangunan secara terus-menerus di Indonesia menyebabkan Indonesia kekurangan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau di daerah perkotaan. Hal ini memicu para kontraktor atau pun perancang desain bangunan memikirkan berbagai cara untuk mengatasi hal tersebut. Konsep green roof hadir untuk mengatasi permasalahan tersebut. Green roof merupakan konstruksi bangunan dimana terdapat media tanam dan vegetasi pada atap. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis keefektifan pengaplikasian konstruksi green roof dan mengolah desain permodelan yang memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia yang merupakan kawasan yang dilalui garis khatulistiwa. Metode penulisan artikel ini adalah dengan menganalisis hasil pengaplikasian green roof di Indonesia maupun luar negeri, kemudian dilakukan wawancara dengan kontraktor bangunan. Hasil dari penelitian ini yakni green roof efektif dan memiliki banyak manfaat sehingga green roof dapat menjadi jawaban bagi permasalahan lingkungan baik itu di Indonesia maupun di luar Indonesia serta mampu mereduksi suhu termal di Indonesia yang merupakan negara yang dilalui garis khatulistiwa.  Continuous development in Indonesia causes Indonesia to lack land for green open spaces in urban areas. This triggers the contractors or building design designers to think of various ways to overcome this. The green roof concept is here to overcome these problems. Green roof is a building construction where there is a planting medium and vegetation on the roof. This article aims to analyze the effectiveness of the application of green roof construction and to develop a possible modeling design in Indonesia, which is an area traversed by the equator. The method of writing this article is by analyzing the results of the application of green roofs in Indonesia and abroad, then conducting interviews with building contractors. The results of this study are that green roofs are effective and have many benefits so that green roofs can be the answer to environmental problems both in Indonesia and outside Indonesia and are able to reduce thermal temperatures in Indonesia, which is a country passed by the equator.
ONTOLOGI ARSITEKTUR WUNA DENGAN TELAAH HERMENEUTIKA PRIJOTOMO La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri; Arman Faslih
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i3.003

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan anatomi arsitektur Wuna, (2) menemukan hakekat terdalam arsitektur Wuna.  Penelitian ini diselenggarakan di kabupaten Muna sebagai bekas wilayah administrasi kerajaan Wuna dan berlandaskan pada paradigma post-positivisme yakni metode hermeneutika Prijotomo pendekatan kualitatif dimana aspek – aspek yang dianalisis berupa anatomi arsitektur Wuna dan konsepsi penyebab adanya suatu arsitektur. Penelitian ini menemukan dua temuan yakni (1) uraian deskriptif anatomi arsitektur Wuna secara horizontal, dan vertikal, (2) mengungkap hakekat terdalam arsitektur Wuna dimana, iklim dan geografi Nusantara adalah jiwa yang meraga pada wujud (pernaungan) serta keteraturan kosmos adalah spirit dari arsitekturnya. The objetives of this research are (1) to describe the anatomy of Wuna architecture, (2) to find the deepest essence of Wuna architecture. This research was conducted in Muna district as a former administrative area of the Wuna kingdom and is based on the post-positivism paradigm, namely the Prijotomo hermeneutic method with a qualitative approach in which the aspects analyzed are the anatomy of Wuna architecture and the conception of the causes of an architecture. This research found two findings, namely (1) a descriptive description of Wuna's architectural anatomy horizontally, and vertically, (2) revealing the deepest essence of Wuna architecture where the climate and geography of the archipelago are the souls of the body (shelter) and the order of the cosmos is the spirit of its architecture.
PROJECT BASED LEARNING SEBAGAI METODE PEMBELAJARAN ARSITEKTUR PADA MATA KULIAH TEORI ARSITEKTUR JENGKI Oktavi Elok Hapsari; Rakhmawati Rakhmawati; Noverma Noverma; Yusrianti Yusrianti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v10i2.009

Abstract

Arsitektur adalah ilmu yang mempelajari kegiatan rancang bangun yang menggabungkan beberapa aspek seperti kegunaan, teknik dan seni, sehingga pengalaman terhadap bangunan merupakan salah satu hal yang penting untuk dieksplorasi. Selain menerima mata kuliah perancangan, mahasiswa juga mendapatkan mata kuliah teori dalam proses pembelajarannya sebagai ilmu pengetahuan bidang arsitektur dan penunjang dalam merancang.  Salah satunya adalah topik tentang arsitektur Jengki. Pada periode 1950 – 1960, dunia arsitektur di Indonesia dikejutkan dengan hadirnya arsitektur jengki. Bentuk tampilannya sangat berbeda bila dibandingkan dengan perkembangan arsitektur sebelumnya. Objek arsitektur yang dihasilkan merupakan bangunan yang sangat berbeda dari arsitektur kolonial maupun arsitektur Indis yang berkembang pada masa penjajahan tetapi bukan merupakan arsitektur tradisional. Terasa ada keunikan atau kelainan khususnya dalam menampilkan tampang (tampak depan) bangunan bila disandingkan dengan karya arsitektur yang lain, arsitektur jengki tampak berbeda, seakan-akan muncul keganjilan, memberontak dari sesuatu yang lazim (Susilo, 2009). Akan tetapi saat ini arsitektur jengki terancam punah, hal ini dikarenakan banyak orang yang memiliki rumah bergaya jengki yang melakukan renovasi terhadap rumahnya dan mengganti gaya arsitektur aslinya. Selain itu, hingga saat ini arsitektur jengki belum dikategorikan sebagai arsitektur heritage seperti arsitektur tradisional dan arsitektur kolonial, sehingga sangat mungkin pada akhirnya arsitektur jengki betul-betul menghilang. Perlu dilakukan pengenalan dan pembelajaran pada mahasiswa mengenai adanya arsitektur jengki sebagai salah satu bagian dari kekayaan arsitektur di Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Untuk mendukung pembelajaran mengenai arsitektur jengki maka diberikan penugasan dimana mahasiswa diminta menganalisis bangunan arsitektur jengki terkait dengan linimasa, karakteristik arsitektur dan spirit yang dimiliki oleh arsitektur jengki, kemudian melakukan redesain pada rumah masing-masing dengan mengaplikasikan ciri-ciri arsitektur jengki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan metode project based learning pada penugasan mata kuliah teori dapat membantu mahasiswa lebih memahami topik perkuliahan teoritis yang diajarkan. Dari penelitian diketahui bahwa metode Project Based Learning dapat dilakukan sebagai alat belajar bagi materi yang bersifat teoritis dan dapat meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam desain.    Architecture is the study of building design that combines several aspects such as usability, technique and art, so that building experience is important to explore. In addition to receiving design courses in the learning process to support in designing, students also gain theoretical subjects. One of the subject is about Jengki architecture. In 1950 - 1960,  world of  Indonesia architecture was surprised by the presence of jengki architecture. The form looks very different when compared to previous architectural developments. The architectural object is a very different building from colonial and Indische architecture that developed during the colonial period but is not a traditional architecture. There is a feeling of uniqueness or abnormality, especially in displaying the appearance (facade) of a building when juxtaposed with other architectural works, jengki architecture looks different, as if anomalies appear, rebelling from something common (Susilo, 2009). However, currently the jengki architecture is threatened with extinction, this is because many people who have jengki style houses are renovating their houses and changing their original architectural styles. In addition, jengki architecture has not been categorized as heritage architecture such as traditional architecture and colonial architecture, so it is very possible that jengki architecture will completely disappear. It is necessary to introduce and learn to students about the existence of jengki architecture as a part of the architectural wealth in Indonesia that is not owned by other countries. To support learning about jengki architecture, an assignment was given where students were asked to analyze the jengki architectural buildings related to the timeline, architectural characteristics, and spirit of jengki architecture, then redesign their respective houses by applying jengki architectural features. This study aims to determine how the application of the Project Based Learning method in the assignment of theoretical courses can help students better understand the theoretical lecture topics being taught. From the research it is known that the Project Based Learning method can be done as a learning tool for theoretical material and can increase student creativity in design.
Layout Jurnal Vitruvian Revisi Juli 2021 christy vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Template Naskah Vitruvian
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Layout Jurnal Vitruvian Versi Juli 2021
STUDY OF VERNACULAR HOUSE ENDURANCE IN SOUTH SULAWESI TO EARTHQUAKE AS A RESULT OF QUALITY CHANGE IN STRUCTURE MATERIAL Sudarman Sudarman; Muhammad Attar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.008

Abstract

Rumah Vernakular dengan material kayu merupakan rumah mayoritas masyarakat di Indonesia termasuk Sulawesi Selatan, dimana rumah-rumah ini telah terbukti dapat tahan terhadap gempa yang sering terjadi di Indonesia karena dibangun dengan materika kayu kelas I. Akan tetapi belakangan ini keterbatasan kayu kelas I seperti Kayu Ulin yang merupakan katerial struktur pada kebanyakan rumah vernacular di Sulawesi Selatan mendorong masyarakat untun mengganti kayu kelas I dengan kayu kelas II dan III sebagai material struktur yang digunakan seperti Kayu Kumea Batu. Hasil Penelitian dengan menggunakn metode simulasi menggunakan SAP 2000 dapat disimpulkan bahwa metode konstruksi yang ada sekarang dengan adanyanpenurunan kualitas material struktur tidak mampu menahan gaya lateral yang ditimbulkan oleh beban gempa terutama untuk gempa kategori kuat. Vernacular house with the wooden material is the majority house of Indonesia society expecially in South Sulawesi. These houses are proven could resistant to earthquake in Indonesia because is built with the wood of the best quality like “Ulin Wood”. However limitations of wood with the best quality like “Ulin Wood” that be used to structural material push the society to replace with the low quality (Wood Grade II and Wood Grade III) wood. The result of the research with the simulation method (SAP 2000) could be conclusion the construction method apllied now with decrease of quality structure material unable to resist of seismic force expecialy for strong earthquake it could seen that the displacement that occurs on the x-axis of the 2nd floor and the y-axis on the 1st and 2nd floors is greater than the permit of displacement that the building structure does not suitable performance standards according to the SNI-1726-2002 equation in the soft soil conditions.

Page 10 of 29 | Total Record : 286