cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 286 Documents
EVALUASI PENATAAN LANSKAP RUANG PUBLIK ALUN-ALUN KOTA KARAWANG BERDASARKAN PRINSIP DAN STANDAR PENATAAN LANSKAP Fauzi, Reza; Mangunsong, Nur Intan; Fitri, Rini; Danniswari, Dibyanti; Hamonangan Lumbantoruan, Samuel Febrian
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.002

Abstract

Kawasan perkotaan saat ini sangat memerlukan ruang terbuka publik yang nyaman dan indah untuk digunakan oleh masyarakatnya, selain berfungsi sebagai sarana atau fasilitas berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakatnya, ruang terbuka publik juga dapat meningkatkan nilai keindahan bagi suatu kawasan perkotaan. Seiring dengan meningkatnya jumlah Masyarakat juga dengan semakin berkembanganya Pembangunan, kebutuhan akan suatu ruang terbuka publik yang aman nyaman dan memiliki fungsi yang baik menjadi penting bagi memenuhi kebutuhan Masyarakat untuk berinteraksi dan berkumpul di ruang terbuka. Alun-alun kota Karawang sudah seharusnya dapat mengakomodir berbagai kegiatan Masyarakat di sekitarnya seperti rekreasi, olahraga hingga kegiatan kebudayaan lokal yang mungkin saja dilakukan di area alun-alun. Penataan lanskap yang ada saat ini di alun-alun Karawang belum optimal kurangnya area hijau membuat alun-alun Karawang tidak dapat digunakan sepanjang hari, dengan cuaca atau iklim yang panas melakukan kegiatan pada siang hari di alun-alun Karawang menjadi tidak nyaman. Kurang tepatnya pemilihan jenis perkerasan juga menjadi salah satu faktor penyebab lebih panasnya suasana di alun-alun kota Karawang, penggunaan material seperti keramik yang justru membuat area lebih panas adalah salah satu permasalahan penataan ruang luar yang diterapkan di alun-alun kota Karawang. Metode yang digunakan meliputi tahapan observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, serjta kajian literatur terkait prinsip desain lanskap. Data hasil identifikasi akan dianalisis secara fungsi dan ruang untuk mendapatkan permasalahan serta potensi pengembangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi dan fasilitas eksisting yang ada untuk dilakukan analisis dan mendapatkan gagasan penataan ruang luar yang lebih tepat dan sesuai dengan kondisi iklimnya. Hasil dari penelitian ini akan menciptakan konsep atau gagasan penataan lanskap alun-alun kota Karawang yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kegiatan dan lingkungan kota Karawang, sehingga fungsi alun-alun dapat lebih optimal baik dari segi ekologis maupun segi estetika.
A MORPHOLOGICAL REVIEW OF FAÇADE PRECEDENTS EMPLOYING BIOMIMETIC DESIGN PRINCIPLES Yazid, Sultan
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.003

Abstract

The façade functions to separate the interior and exterior spaces of a building. This separation supports the building in providing protection from weather conditions, especially sunlight, for its occupants, and plays a role in reducing the building’s energy demand. At the same time, environmental issues pose distinct challenges for façade design, as environmental degradation increases the likelihood of rising global temperatures, which in turn leads to high energy use. Therefore, façade technology is required to be efficient and durable. One strategy to achieve this goal is the biomimetic approach. The research method uses a qualitative approach through the collection of secondary data in the form of façade precedents employing biomimetic principles. The sampling technique used is judgmental sampling, in which precedents are selected based on the architects’ narratives and the morphological characteristics that represent biomimetic principles. Two precedents from tropical and subtropical regions, Nicolas San Juan (Mexico) and The Alpha (Australia), were selected as case studies. The research stages include a literature review on façades and biomimicry, the development of a biomimetic assessment matrix, and the analysis of both precedents using the matrix to identify the application of biomimetic principles in façade design. This study is a foundational research that can be further developed by increasing the number of precedents and expanding the scope of biomimetic aspects, considering that this study is limited to morphological aspects and relies on secondary data. From this process, the research shows that both precedents successfully apply biomimetic principles consistently in their façade structures and patterns, thereby providing references for the development of biomimetic façade design in future studies.
UJI PERILAKU SAMBUNGAN CROSS BAMBU REPRESENTATIF TERHADAP GAYA TEKAN VERTIKAL PADA BANGUNAN BERTINGKAT Pane, Mayditia Tasyah; Prihatmaji, Yulianto Purwono; Hendarto, Praya Nadia
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.007

Abstract

Meningkatnya permintaan kayu menyebabkan menurunnya kualitas material yang tersedia karena banyaknya penggunaan kayu muda. Kondisi ini mendorong pencarian material alternatif yang lebih berkelanjutan dan mudah diperoleh, salah satunya adalah bambu. Namun, penggunaan bambu alami memiliki keterbatasan kekuatan dan konsistensi dimensi, sehingga muncul inovasi berupa bambu olahan seperti Strand Woven Bamboo (SWB). SWB memiliki sifat mekanis menyerupai kayu keras, tetapi proses pengujiannya memerlukan fasilitas khusus. Untuk itu, penelitian ini menggunakan kayu balsa sebagai material representatif karena memiliki densitas dan perilaku serat yang mendekati SWB dalam konteks uji tekan kecil berskala model. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku sambungan cross pada material representatif bambu terhadap gaya tekan vertikal. Pengujian dilakukan melalui tiga tahap menggunakan model strip dan solid-takik dengan alat tekan manual dan dongkrak untuk menganalisis deformasi sambungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sambungan solid-takik mengalami deformasi signifikan saat menerima beban vertikal, di mana pemisahan pelat dan kayu terjadi secara bertahap hingga mencapai batas kekuatan sambungan. Temuan ini menjadi dasar bagi pengembangan desain sambungan bambu olahan yang lebih optimal untuk meningkatkan daya dukung dan mengurangi deformasi struktur bangunan bertingkat.
PLANT PHOTOTROPISM AS THE BASIS FOR DESIGNING INCLUSIVE LIGHTING IN SPACES FOR THE DEAF Akbar, Muhammad Rizqy; Zahrah, Aghnia
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.008

Abstract

This article explores a biomimetic architectural approach that applies the concept of plant phototropism as a conceptual foundation for designing inclusive lighting environments for individuals who are deaf or hard of hearing. Recognizing that deaf users rely on visual perception as their primary medium of communication, this study draws an analogy between the way plants move toward light and the way deaf individuals orient themselves within illuminated spaces. Supported by the multisensory theory in architecture (Spence, 2020), which asserts that spatial perception arises from the integration of multiple senses, this research employs qualitative and conceptual experimentation based on plant growth direction to develop lighting design principles that are even, adaptive, and responsive to visual communication needs. These principles are translated into architectural strategies such as the orientation of spaces toward natural light, the balanced distribution of artificial illumination, and the use of material reflectance, positioning phototropism as a biomimetic foundation for DeafSpace development that enhances both functionality and sensory experience.
DESAIN SPEKULATIF: PENDEKATAN TEORETIS DALAM ARSITEKTUR Tasima, Deki; Rana, Zadha Faedhillah; Hapsari, Danti Arinta
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.009

Abstract

Tantangan sosial, lingkungan, dan kemajuan teknologi yang pesat menantang peran arsitektur untuk bergerak melampaui praktik desain yang terbatas pada pemenuhan kebutuhan praktis. Desain spekulatif hadir sebagai pendekatan konseptual yang kritis dan reflektif, untuk mendorong eksplorasi terhadap kemungkinan masa depan yang belum terwujud. Penelitian ini bertujuan mengkaji desain spekulatif dalam konteks arsitektur, dengan fokus pada prinsip dasar, fungsi kritis-reflektif, serta perbedaannya dengan pendekatan desain konvensional. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan research through design, yang menitikberatkan pada eksplorasi objek desain sebagai sumber pengetahuan. Data diperoleh dari sumber sekunder seperti artikel ilmiah, jurnal, studi preseden, dan literatur relevan, yang dianalisis melalui interpretasi kritis dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain spekulatif memperluas peran arsitektur sebagai praktik intelektual yang mendorong refleksi dan imajinasi terhadap masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Keberhasilan dalam pendekatan ini tidak diukur dari implementasi praktis, melainkan dari kemampuannya memicu refleksi, dialog sosial, serta kesadaran terhadap dimensi etis, kultural, dan intelektual dalam praktik arsitektur. Di Indonesia, integrasi pendekatan ini dalam pendidikan arsitektur berpotensi mendorong pola pikir kritis dan kreatif, memperkuat kepekaan terhadap isu lokal dan keberlanjutan, serta membentuk generasi arsitek yang adaptif dan visioner.
KEARIFAN LOKAL DALAM PENGGUNAAN MATERIAL BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN PENGINAPAN DI JL. MONKEY FOREST UBUD BALI Wachidatullailiya, Meitha; Solekhah, Regita Indarti; ‘Aini, Mabdiyah Qurroti; Az Zahwa, Elsa Sahira; Sinaga, Erika Fetriborn; Aisyah, Aisyah; Mahroini, Zahidah
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.010

Abstract

Peningkatan pembangunan fasilitas pariwisata di Bali menimbulkan urgensi dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal masyarakat Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wujud penerapan kearifan lokal dalam penggunaan material bangunan ramah lingkungan pada penginapan di kawasan Jl. Monkey Forest, Ubud. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif eksploratif, yang berupaya memahami fenomena sosial-budaya secara mendalam. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pengrajin, arsitek, dan masyarakat setempat, serta dokumentasi visual terhadap objek bangunan. Analisis data dilakukan secara induktif dengan teknik reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk menemukan makna kontekstual dari praktik penggunaan material lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penginapan di Bali menerapkan nilai-nilai kearifan lokal melalui pemanfaatan material alami seperti kayu jati, bambu, batu alam, batu bata merah, rotan, dan genteng tanah liat. Material tersebut tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan tetapi juga memperkuat identitas arsitektur tradisional Bali. Meskipun demikian, penggunaan material alami menghadapi tantangan berupa kebutuhan perawatan intensif, ketahanan terhadap cuaca tropis, dan biaya konstruksi yang relatif tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara kearifan lokal dan inovasi teknologi material modern menjadi kunci untuk mewujudkan arsitektur penginapan berkelanjutan yang selaras dengan budaya dan lingkungan Bali.