cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
The Coral Fish in the Coastal Areas, Likupang Kampung Ambong Village, East Likupang District, North Minahasa Regency Ari B. Rondonuwu; Ruddy Dj. Moningkey; John L. Tombokan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.21885

Abstract

The aims of this study, 1). To find out the number of species and the abundance of coral fishes; 2). To find out the biomasssa of target fish in carnivorous and herbivorous groups. Data collection was carried out at 5 meters depth using the Underwater Visual Census (UVC) method. The area observation is 150 m2. Coralivorous fish are found with 8 species and are categorized as medium. 28 species of target fish were found from carnivorous fish (13 species), and herbivorous fish (15 species).  For total individual number that is 81 individuals and a density that is 3240 individuals/Ha. The highest number of individuals is found in herbivorous fish. The high value of the ecological index shows the stability of the community and the ability of the environment that allows species of fish to grow and develop in their habitat. The target fish is generally in the class size of 16-20 cm and 21-25 cm. In general, reef fish from the group of herbivores are most commonly found in this location.Keywords: Coral Fishes, Likupang Kampung Ambong ABSTRAK Tujuan penelitian, yaitu 1). Untuk mengetahui jumlah spesies dan kelimpahan individu ikan karang; 2). Untuk mengetahui biomasssa ikan target kelompok karnivora dan herbivora.  Pengambilan data dilakukan pada kedalaman 5 meter dengan metode Underwater Visual Census (UVC). Luas areal pengamatan adalah 150 m2.   Ikan koralivora yang ditemukan berjumlah 8 spesies dan dikategorikan sedang.  Ditemukan 28 jenis ikan target dari ikan karnivora (13 spesies), dan ikan herbivora (15 spesies).  Untuk kelimpahan individu total yaitu 81 individu dan densitas 3240 individu/Ha.  Jumlah individu tertinggi ditemukan pada ikan herbivora.  Tingginya nilai indeks ekologi menunjukkan kemantapan komunitas dan kemampuan lingkungan yang memungkinkan jenis-jenis ikan untuk bertahan dan berkembang pada habitatnya.  Ikan target umumnya pada kelas ukuran 16 - 20 cm dan 21 – 25 cm.  Pada umumnya ikan karang dari kelompok herbivora yang paling banyak ditemukan di lokasi ini. Kata Kunci: Ikan Karang, Likupang Kampung Ambong, Biomassa
Mangrove Community Characteristics and Local Fishermen’s Utilization in North Sulawesi Province: Case study on boat raft fishermen in Sauk village, Labuan Uki bay, Bolaang Mongondow regency Ridwan Lasabuda; Lawrence J. L. Lumingas; Rose O. S. E. Mantiri
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.19011

Abstract

This study aims to analyze the characteristics of mangrove vegetation in Sauk village, Labuan Uki bay, and to know the exploitation activities and the community’s perception on mangrove ecosystem. Mangrove vegetation characteristic data were collected using transect line method in 3 stations, while mangrove utilization and community’s perception data were obtained through field observation, questioners, and structured interviews. Respondent sampling used purposive sampling, and the respondents were representatively selected based on profession background as boat raft fishermen.Results showed that mangroves in Sauk village consisted of 8 species, Avicennia officinalis Aegiceras floridum, Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, and S. casiolari. The density level was 689 trees.ha-1 (categorized as rare according to the decree of Living Evironment Minister Numbered 201/2004) and the mean vegetation spread was 95.16 M widely available from 22.70 Ha.People used the mangrove for firewood, building materials, boat frame, fish drying place, net dye material (tree skin), dahannya dibuat wadah bunga buatan, and fishing ground. Some people of the village clear cut the mangroves for boat sailing route, despite violating Indonesian Law numbered 27/ 2007 jo Low numbered 1/2014 concerning coastal area and small islands management.Sixty percent of the respondents understood that mangroves can be cut for various benefits, 40% knew that mangrove area is source of income, 40% as source of firewood, 10% as place where fish lay their eggs, and 10% as coast protection from abrasion.Keyword : mangrove, boat raft fishermen, Sauk village, Labuan Uki bay.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk   menganalisis karaktersitik vegetasi mangrove yang ada di desa Sauk Teluk Labuan Uki dan  mengetahui aktivitas pemanfaatan serta  persepsi masyarakat tentang ekosistem mangrove. Data karakteristik vegetasi  mangrove diambil menggunakan metode transek line  di 3  stasiun. Sedangkan data pemanfaatan mangrove dan persepsi masyarakat dikumpulkan melalui teknik observasi lapangan, pengisian kuesioner dan wawancara terstruktur. Pengambilan sampel responden menggunakan metode purposive sampling. Responden dipilih secara representatif berdasarkan latar belakang profesi sebagai nelayan bagan perahuHasil penelitian menggambarkan bahwa mangrove yang ada di  desa Sauk terdiri dari 8  spesies : Avicennia officinalis (api-api), Aegiceras floridum (api-api), Rhizophora apiculata (lolaro), Rhizophora mucronata(lolaro), Rhizophora stylosa (lolaro), Bruguiera gymnorrhiza (ting), Sonneratia alba (lolaro)  dan Sonneratia casiolari (posi-posi). Tingkat kerapatan 689 pohon/ha (kategori jarang sesuai Kepmen Lingkungan Hidup No 201 Tahun 2004). Ketebalan vegetasi mangrove rata2 95,16 meter dari luas yang tersedia 22,70 Ha.Masyarakat memanfaatkan mangrove untuk : sumber kayu bakar, dibuat bahan bangunan, dibuat rangka kapal, tempat menjemur ikan, kulitnya sebagai pewarna jaring, dahannya dibuat wadah bunga buatan, tempat menangkap ikan dan biota air lainnya. Selain itu ada oknum masyarakat desa Sauk yang menebang mangrove untuk membuat lintasan perahu,  dimana kegiatan ini bertentangan dengan UU No.27 Tahun 2007 jo UU No.1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau2 Kecil. 60 % responden memahami bahwa mangrove adalah tumbuhan yang bebas ditebang untuk dimanfaatkan berbagai kepentingan. 40 % responden memahami kawasan mangrove adalah sumber pencaharian masyarakat lokal, 40 % responden memahami sebagai sumber untuk mencari kayu bakar, 10 % responden memahami sebagai tempat bertelur ikan, dan 10 % responden memahami sebagai penahan abrasi pantai.Keyword : mangrove, nelayan bagan perahu, desa Sauk, Teluk Labuan Uki
The Nursery Technique of Juvenile Sandfish, Holothuri scabra Pitjont Tomatala; Petrus Paulus Letsoin; Evangelin Martha Yulia Kadmaer
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28286

Abstract

Sea cucumbers are an Indonesian fisheries export commodity. Sea cucumber populations that are endangered in nature encourage sea cucumbers to be produced through hatchery and nursery. Through nursery, it is expected that sea cucumber juveniles are stronger and can increase survival rate when stocked in growth containers or restocked. This study aims to provide better sandfish nursery techniques and local area characteristics to support hatchery activities. This study was conducted in May - July 2018 at the Hatchery CV Pesona Manir Rat, Southeast Maluku Regency. Juvenile sandfish 30-36 days old, rearing in hapa measuring 100 x 100 x 70 cm with a density of 200 individuals/hapa. In one tank rearing is placed one hapa. During rearing, 100-150% of water is changed and given one-liter Navicular sp. every day. Aeration was installed 4 points on each hapa and water quality measurement was conducted every day. At the end of the study, body length measurements and mortality calculations were conducted. The result is that sea cucumber juvenile which is maintained has absolute growth ranging from 1.98 to 2.1 cm with an average absolute growth of 2.03 cm. The average mortality obtained was 53.83% with a range of 53% - 55%. Based on the discussion it was concluded that this technique can be applied in sandfish nursery. ABSTRAKTeripang merupakan komuditi eksport perikanan Indonesia. Populasi teripang yang terancam di alam mendorong teripang harus diproduksi melalui pembenihan dan pendederan. Melalui pendederan diharapakan anakan teripang lebih kuat dan dapat bertahan hidup lebih baik ketika ditebar pada wadah pembesaran atau direstoking. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi teknik pendederan teripang pasir yang lebih baik dan berkarakteristik daerah setempat guna menopang kegiatan pembenihan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juli 2018 di Hatchery CV Pesona Manir Rat, Kabupaten Maluku Tenggara. Juvenil teripang pasir berusia 30 – 36 hari, dipelihara pada hapa berukuran 100 x 100 x 70 cm dengan kepadatan 200 individu / hapa. Pada satu bak pemeliharaan ditempatkan satu buah hapa. Selama pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 100 – 150 % dan diberikan satu liter Navicular sp. setiap hari. Aerasi dipasang sebanyak 4 titik pada setiap hapa dan dilakukan pengukuran kualitas air setiap hari. Diakhir penelitian, dilakukan pengukuran panjang tubuh dan perhitungan mortalitas. Hasilnya juvenile teripang yang dipelihara mengalami pertumbuhan mutlak berkisar antara 1,98 – 2,1 cm dengan rata-rata pertumbuhan mutlak sebesar 2,03 cm. Mortalitas rata-rata yang diperoleh sebesar 53, 83 % dengan kisaran 53 % - 55 %. Berdasarkan pembahasan disimpulkan bahwa teknik ini dapat diterapkan dalam pendederan teripang pasir. 
Water Quality Status of Raja Ampat Island Natural Marine ReserveBased on the Seawater Physical Parameters Simon Patty; Marenda Pandu Rizqi; Rikardo Huwae; Ferdimon Kainama
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28292

Abstract

Observation of water quality in Raja Ampat Islands Natural Water Reserve (SAP Kepulauan Raja Ampat), was carried out in August-September 2019. This study aims to determine the water quality and the pollution’s status based on the water physical parameters. Measurement of all parameters was conducted in-situ using the EXO-2 device, while the water clarity was measured with a Secchi disk. The results of statistical analysis using the T-Test showed that the TDS content in the surface layer compared to the bottom was significantly different. Pollution index calculation results show that the waters of the Raja Ampat Islands are still in good condition (not polluted). Variations in temperature, salinity, brightness/clarity, turbidity, conductivity (DHL) and the dissolved solids values (TDS) are still adequate for the well-being of coral reefs and various marine biota inhabited the waters.Keywords: Water quality, physical characteristics, Raja Ampat ABSTRAKPengamatan kualitas air di SAP Kepulauan Raja Ampat, telah dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan dan menentukan status pencemaran berdasarkan parameter fisika air laut. Pengukuran semua parameter dilakukan secara in situ (langsung di lapangan) dengan menggunakan alat EXO-2, kecuali kecerahan air laut diukur dengan cakram sechi (sechi disk). Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa kandungan TDS di lapisan permukaan dengan dekat dasar adalah berbeda nyata. Hasil perhitungan indeks pencemaran menunjukkan perairan Kepulauan Raja Ampat masih dalam kondisi baik (tidak tercemar). Variasi nilai suhu, salinitas, kecerahan, kekeruhan, konduktivitas (DHL) dan jumlah zat padat terlarut (TDS) masih baik untuk kehidupan dan perkembangan terumbu karang serta berbagai biota laut yang hidup didalamnya.Kata kunci: Kualitas air, karakteristik fisika, Raja Ampat
Morphometrics, gonad index, intestine index and latern index of sea urchins, Tripneustes gratilla (Linnaeus, 1758) Tiwoho and Kampung Ambong Beach, North Sulawesi Dewi Feronika Manabung; Lawrence J. L. Lumingas; Meiske S. Salaki
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28600

Abstract

Two populations of Tripneustes gratilla (Linnaeus, 1758) from two different habitats, Tiwoho and Kampung Ambong, show variations in morphometric and physiological characteristics. The average test diameter of the Tiwoho population is larger than the Kampung Ambong population. Although the two regressions of the test diameter – total weight relationship between the Tiwoho population and the Kampung Ambong population are identical, the T. gratilla of Tiwoho population has an isometric growth pattern whereas the Kampung Ambong population shows a negative allometric growth pattern. The two regressions of the test diameter – test height show identical slopes and intercepts and reveal an isometric growth for the two populations. For both populations, the gonad index is not affected by variations in the test diameter, but the gonad index of the Kampung Ambong population is greater than the gonad index of the Tiwoho population. Similarly, there is no significant relationship between the two variables, intestinal index, and test diameter, for both populations, and no significant difference in the intestinal index – test diameter regressions between the two populations. The relationship between the latern index – test diameter shows the lantern index remains constant with changes in the diameter test for the Tiwoho population. As for the Kampung Ambong population, the lantern index decreases with increasing test diameter. The two regressions of lantern index – test diameter show differences in the slopes of the lines, and this means that in adult size, the lantern index of the Tiwoho population is larger than the Kampong Ambong population. The low of the lantern index and the high of gonad index in Kampong Ambong could indicate more availability of food for sea urchins at this location compared to Tiwoho. Differences in food availability in the environment are thought to determine differences in the energy allocation strategies of the two populations of sea urchins T. gratilla.Key words: Tripneustes gratilla, allometric analysis, gonad index, intestinal index, lantern index, Tiwoho, Kampung Ambong.ABSTRACTDua populasi Tripneustes gratilla (Linnaeus, 1758) dari dua habitat yang berbeda, Tiwoho dan Kampung Ambong, menunjukkan variasi dalam karakteristik morfometrik dan fisiologis. Diameter cangkang rata-rata populasi Tiwoho lebih besar dari populasi Kampung Ambong. Meskipun kedua regresi hubungan diameter cangkang – berat total antara populasi Tiwoho dan populasi Kampung Ambong adalah identik, T. gratilla populasi Tiwoho memiliki pola pertumbuhan isometrik sedangkan populasi Kampung Ambong menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif. Dua regresi diameter cangkang - tinggi cangkang menunjukkan kesamaan kemiringan dan intersep dan memperlihatkan pertumbuhan isometrik untuk dua populasi. Untuk kedua populasi, indeks gonad tidak dipengaruhi oleh variasi diameter cangkang, tetapi indeks gonad populasi Kampung Ambong lebih besar dari pada indeks gonad populasi Tiwoho. Demikian pula, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel, indeks usus dan diameter cangkang, untuk kedua populasi, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan regresi indeks usus - diameter cangkang antara kedua populasi. Dalam hubungan diameter cangkang - indeks latern menunjukkan bahwa indeks lentera tetap konstan dengan perubahan diameter cangkang untuk populasi Tiwoho. Sedangkan untuk populasi Kampung Ambong, indeks lentera berkurang dengan meningkatnya diameter cangkang. Dua regresi indeks lentera – diameter cangkang menunjukkan perbedaan dalam kemiringan garis, dan ini berarti bahwa pada ukuran dewasa, indeks lentera populasi Tiwoho lebih besar dari populasi Kampung Ambong. Indeks lentera yang rendah dan indeks gonad yang tinggi di Kampung Ambong dapat mengindikasikan lebih banyak ketersediaan makanan untuk bulu babi di lokasi ini dibandingkan dengan di Tiwoho. Perbedaan ketersediaan makanan di lingkungan diperkirakan menentukan perbedaan dalam strategi alokasi energi dari dua populasi bulu babi T. gratilla.Kata kunci: Tripneustes gratilla, analisis allometrik, indeks gonad, indeks usus, indeks lentera, Tiwoho, Kampung Ambong
Morphology Characteristic, Growth And Survival Rate Of The Early Larval Stages Of Mud Crab, Scylla serrata (Forsskal, 1775) For The Rearing Process Chrisoetanto P. Pattirane; Bethzy J. Pattiasina
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28597

Abstract

The availability of female adult mature will continuously support mud crab hatchery to produce the best quality of larvae. Bray et al., (1990b) proposed that zoea length can be used as an index of larval quality. Larval quality is dependent on the physiology condition related to the growth and survival rate of several larval development stages (Racotta et al., 2003). The mortality in all development stages was due to the high sensitivity of larvae for the environment changes. Two aquariums and sterilized water were used in all rearing process and larvae of Scylla serrata fed once a day. It was fed by rotifer (Branchionus plicatilis) and Artemia sp on the third and fifth days. The results showed that the eye was a distinguishing characteristic between zoea I and zoea II. Development of zoea I range about 0 (zero) to fourth days and zoea II about fifth to seventh days. Observation of growth for six days indicate an increasing significantly on the fourth to sixth days. The survival rate of Scylla serrata larvae without food holds three days out. Otherwise, larvae that were fed on everyday hold seven days out. ABSTRAKKetersediaan induk yang matang telur secara berkesinambungan akan sangat mendukung usaha pembenihan kepiting bakau dalam menghasilkan larva dengan kualitas yang baik. Bray et al., (1990b) bahwa panjang zoea dapat digunakan sebagai suatu indeks kualitas larva. Selain itu, kualitas larva juga bergantung kepada kondisi fisiologis larva dan berkaitan dengan rata-rata pertumbuhan dan sintasan selama beberapa tahapan larva (Racotta et al., 2003). Seluruh proses pemeliharaan digunakan air steril dengan menggunakan wadah berupa akuarium sebanyak dua buah. Larva kepiting bakau, S. serrata selama pemeliharaan diberi pakan satu kali sehari. Pakan yang diberikan berupa rotifer (Branchionus plicatilis) dan artemia pada hari kelima dan ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri morfologi pembeda antara tahap zoea I dan zoea II adalah mata. Perkembangan zoea I berkisar antara hari 0 sampai dengan hari 4 selanjutnya zoea II antara hari kelima sampai hari ketujuh. Pertumbuhan yang diamati selama masa pemeliharaan hari pertama sampai hari keenam, menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada hari keempat sampai hari keenam. Tingkat kelangsungan hidup larva S. serrata yang tidak diberi pakan dapat bertahan mencapai tiga hari. Sebaliknya untuk larva yang diberi pakan selama masa pemeliharaan mampu bertahan hingga mencapai tujuh hari.Kata kunci: Larva zoea, Scylla serrata, pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup
Community Structure of Gastropod in Seagrass Beds of Waleo Beach Waters, North Minahasa Regency Richardo O. Roring; Jety K. Rangan; Alex D. Kambey; Rene Ch. Kepel; Stephanus V. Mandagi; Calvyn F. A. Sondak
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28268

Abstract

This study aims to determine the type of Gastropod and the community structure including Species Density, Relative Density, Diversity (H’), and Dominance (C). Based on observation, there is 124 individuals included in 11 species (7 genera) from 7 families (3 orders) obtained. The highest density value is 5,87 Ind/m2 by Euplica borealis, and has 35,48% of relative density. For the diversity, an index is H’ = 1,62 obtained, which is classified as low. This shows that seagrass beds in Waleo beach waters, North Minahasa Regency, there are several species obtained with abundant numbers of individuals compared to the other species, so the diversity index obtained relatively low. As for the range of dominance index is C = 0,36 to 0,44. The lowest value is in the transect number 1 while the highest in the transect number 2. This value shows that seagrass beds in Waleo beach waters, North Minahasa Regency there are no specific species that dominate in the community. Waleo beach waters, North Minahasa Regency has a temperature of about 29,3 °C illustrating the condition of the water temperature is relatively good for Gastropods' life. The salinity is 30 ‰ obtained, which is relatively good for Gastropod growth. pH obtained about 7 which is still relatively good for gastropods life.Keywords: Gastropod, Community Structure, Waleo.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis Gastropoda serta mengetahui struktur komunitas termasuk: Kepadatan Spesies, Kepadatan Relatif, Keanekaragaman (H’), dan Dominansi (C). Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh 124 individu yang termasuk dalam 11 spesies (7 genera) dari 7 famili (3 ordo). Nilai kepadatan tertinggi sebesar 5,87 Ind/m2 oleh spesies Euplica borealis, dan memiliki kepadatan relatif sebesar 35,48 %. Untuk indeks keanekaragaman diperoleh sebesar H’ = 1,62 yang tergolong rendah. Hal ini menunjukan bahwa daerah padang lamun perairan pantai Waleo, Kabupaten Minahasa Utara terdapat beberapa spesies yang diperoleh dengan jumlah individu yang melimpah dibandingkan jenis lainnya, sehingga indeks keanekaragaman yang diperoleh tergolong relatif rendah. Adapun untuk kisaran indeks dominansi yang diperoleh yaitu sebesar C = 0,36 sampai dengan 0,44. Nilai terrendah terdapat pada transek 1 sedangkan nilai tertinggi terdapat pada transek 2. Nilai tersebut menunjukan bahwa di padang lamun perairan Pantai Waleo, Kabupaten Minahasa Utara tidak terdapat jenis atau spesies tertentu yang mendominasi dalam komunitas tersebut. Wilayah perairan pantai Waleo, Kabupaten Minahasa Utara memiliki suhu 29,3 °C, menggambarkan bahwa kondisi suhu perairan tergolong baik untuk kehidupan Gastropoda. Salintas yang diperoleh sebesar 30 0/00, yang masih dalam kisaran baik untuk pertumbuhan Gastropoda. Derajat keasaman (pH) yang diperoleh yaitu 7 yang masih tergolong baik untuk kehidupan Gastropoda.Kata Kunci : Gastropoda, Struktur Komunitas, Waleo.
Potential of Carbon Absorption Mangrove Forest at Sarawet Village Kuala Batu, East Likupang, North Minahasa Regency Fihri Bachmid; Joshian N.W. Schaduw; Calvyn F.A. Sondak; Unstain N. W. J. Rembet; Stephanus V. Mandagi; Deiske A. Sumilat; Alfret Luasunaung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.2.2020.28916

Abstract

Mangrove forest is one of a coastal natural resource with abundant potentials. The rapid coastal development has cost bad effects, such as mangrove forest conversion into dike or tourism. Mangrove forest has a prominent ecological function for coastal area. The purpose of this study was to analyst carbon absorption potency in both natural and restored mangrove forest in Sarawet Village, Kuala Batu, East Likupang. The sampling method in this study was a survey method that is observation and field sampling. The collected data was surface mangrove biomass and sediment, then analyst in Sam Ratulangi Laboratory, Manado. The biomass sampling data using transect line quadrat while and sediment sampling using sediment corer. This study found. That conclude that natural mangrove forest have a higher absorption and restored potential than restored mangrove forest.Keywords :  mangrove, biomass, carbon, sediment AbstrakPotensi sumber daya hutan Indonesia sangat melimpah, dan salah satunya ialah hutan mangrove. Pembangunan pada daerah pesisir yang begitu cepat telah memberi dampak buruk terhadap lingkungan, seperti konversi lahan hutan mangrove menjadi tambak dan kawasan parawisata. Hutan mangrove merupakan salah satu hutan yang memiliki fungsi ekologis sangat penting terutama bagi wilayah pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi penyerapan karbon pada hutan mangrove yang restorasi dan alami di Desa Sarawet Kuala Batu Likupang Timur. Metode pengambilan data yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini ialah metode survey yakni pengamatan dan pengambilan sampel langsung dilapangan. Data yang diambil ialah data biomassa mangrove bagian atas dan sedimen. Sampel yang diambil di analisis di Laboratorium Terpadu Universitas Sam Ratulangi Manado. Untuk pengambilan data biomassa dilakukan dengan menggunakan garis transek kuadrat dan pengambilan sampel sedimen menggunakan sediment corer. Dari hasil penelitian yang diperoleh, menunjukan bahwa hutan mangrove yang alami memiliki potensi penyerapan dan simpanan karbon yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutan mangrove yang direstorasi.   Kata kunci :  mangrove, biomassa, karbon, sedimen
Study Of Non Point Source Heavy Metal Cadmium Level In Mangrove Plant Sediment At Likupang: Addressed To The Conservation Of The Bunaken National Park James Jobert Hanoch Paulus; Desy M. H. Mantiri; Rene Ch. Kepel; Natalie D. C. Rumampuk; Fransiscus Rori; Engel V. Pandey; Chatrien A. L. Sinjal
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28267

Abstract

Recognize close to Bunaken National Park and largely influenced by the mouth of the Likupang River, having a compact rooting system makes trapped particles suspended in the water column into the sediment. This study aims to determine the spatial distribution of Cadmium metal levels in Mangrove sediments. Sediment samples were taken spatially at point 1 (N 01 ° 40,314 'E 125 ° 04,032') area close to the mainland, point 2 (N 01 ° 40,336 'E 125 ° 03,999') at the center of Mangrove root are present, and point 3 (N 01 ° 40,328 'E 125 ° 03,973') leading to the sea. Sediment samples were analyzed with AAS in the BARISTAND laboratory in Manado with Indonesian National Standards (SNI). The results obtained with the average value in ppm at each point are first point 1, level 0.04, second point, level 5.88, and the third point, level 3.88. The concentration at point second and the third are above the CCME Criteria. This study result at point 2 as the center of concentration of Mangrove roots obtained the highest value, followed at point 3 at a point near the sea and then the lowest at point 1 close to the coast. Keywords: Sediment; Mangrove root; Cadmium ABSTRAKBerada berdekatan dengan TN Bunaken serta besar dipengaruhi oleh muara sungai Likupang, memilki sistem perakaran yang kompak menjadikan terperangkapnya partikel tersuspensi di kolom air menjadi sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial kandungan logam Cadmium pada sedimen Mangrove. Sampel sediment diambil secara spatial yaitu titik 1 (N 01°40.314’ E 125°04.032’) yang dekat dengan daratan, titik 2 (N 01°40.336’ E 125°03.999’)pada bagian pusat adanya konsentrasi perakaran, dan titik 3 (N 01°40.328’ E 125°03.973’) berada pada kearah laut.  Sampel sedimen di analsis dengan AAS di laboratorium BARISTAND di Manado dengan standard SNI.  Hasil yang diperoleh dengan nilai rata rata dalam ppm ditiap titik adalah :  titik 1, nilai 0,04, titik 2, nilai 5,88, dan titik 3, nilai 3,88, pada titik 2, dan 3 sudah melebihi baku mutu yang direkomendasikan oleh CCME yaitu 0,7 ppm. Dari penelitian ini disimpukan pada titik 2 sebagai pusat konsentrasinya perakaran Mangrove diperoleh nilai paling tinggi, diikuti pada titik 3 pada titik arah dekat dengan laut kemudian terendah pada titik 1 yang dekat dengan arah pantai.Kata kunci: Sediment; Mangrove root; Cadmium
Screening and Characterization of Proteolytic Thermophiles Bacteria from Moinit Coastal Hot-Spring, North Sulawesi Elvy Like Ginting
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28628

Abstract

Thermophilic bacteria have been recognized as the ideal producers of thermostable enzymes and therefore they have a long time become an interesting target for research. Thermophilic proteolytic bacteria from Moinit coastal hot-spring North Sulawesi Indonesia have been isolated and some of them, have been identified and reported. In this research, we reported another eleven thermophilic proteolytic bacteria from Moinit coastal hot-spring, North Sulawesi, Indonesia which designated as 1a, 1b, 2a, 3a, 3b, 4a, 11a, 11b, 16a, 16b, and 16c. Those thermophilic proteolytic bacteria had different colony and cell morphology characteristics, and biochemical characteristics. Bacterial isolate 1a, 1b, 2a, 16a and 16c were Gram negative-bacilli, 3a, 3b and 11b were Gram positive-bacilli, 4a, 11a and 16b were Gram positive-coccus. These bacterial isolates could produce proteolytic activities at 55oC. This showed their ability to produce thermostable protease extracellularly which has the potential to explore biotechnological industries.Keywords: Moinit, protease, screening, thermophilic  ABSTRAKBakteri termofilik dikenal sebagai produsen enzim termostabil dan menjadi target yang menarik untuk diteliti. Bakteri proteolitik termofil dari sumber air panas pantai Moinit Sulawesi Utara telah berhasil diisolasi dan bahkan 5 isolat bakteri telah diidentifikasi dan dilaporkan. Dalam tulisan ini, diuraikan sebelas isolat bakteri proteolitik termofil lainnya dalam kemampuannya menghasilkan protease dan karakteristik bakteri tersebut. Kesebelas bakteri adalah 1a, 1b, 2a, 3a, 3b, 4a, 11a, 11b, 16b, 16b, 16b, dan 16c yang menunjukkan karakteristik morfologi koloni dan sel bakteri, serta karakteristik biokimia yang berbeda. Isolat 1a, 1b, 2a, 16a, 16c adalah Gram negatif-basil, isolat 3a, 3b, 11b adalah Gram positif-basil, dan isolat 4a, 11a,16b adalah Gram positif-kokus. Keseluruhan isolat bakteri ini memiliki kemampuan aktivitas proteolitik pada 55oC. Hal ini menunjukkan kemampuan bakteri tersebut dalam menghasilkan protease termostabil ekstraseluler yang berpotensi untuk dieksplorasi dalam pemanfaatannya dalam bidang industri bioteknologi.Kata kunci: Moinit, protease, penapisan, termofilik

Filter by Year

2012 2025