cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Geographic Information System Applications for BeachTourism Area Determination in Bitung City J. Ch. Kumaat; Markus T. Lasut; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14968

Abstract

This research was conducted with the aim to determine the suitability of beach tourism area in Bitung city by using Geographic Information System application. This information is necessary to support the provision of geospatial information the beach, so the tourist management in research into more optimum location. Suitability Analysis Zone (spatial) analysis of the suitability of the area is done by using Geographic Information System (GIS), a computer-based geospatial information system involving Arc GIS software 10.1. Based on analysis of the suitability of the area spatially, shows that, for beach tourism area in the area of research, can be divided into 4 (four) classes, namely: (1) land suitability classes by category S1 (Very appropriate) with an area of 376.76 ha (5.87%); (2) land suitability classes with category S2 (Subject) with an area of 262.97 ha (4:10%) (3) land suitability classes with category S3 (In accordance marginal) with an area of 640.48 ha (9.99%) and (4) land suitability classes categories N (Not available) with an area of 5133.79 ha (80.04%) Keywords: Suitability, Area, Zone, Beach   Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan kesesuaian kawasan wisata pantai di Kota Bitung dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis. Informasi ini sangat diperlukan untuk mendukung penyediaan informasi geospasial pantai, sehingga pengelolaan wisata di lokasi penelitian menjadi lebih optimum.  Analisis Kesesuaian Kawasan (Spasial) Analisis kesesuaian kawasan dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), yaitu sistem informasi geospasial berbasis komputer dengan melibatkan perangkat lunak Arc GIS 10.1. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian kawasan secara spasial, diperoleh bahwa untuk kawasan wisata pantai pada daerah penelitian, dapat dibagi menjadi 4 (empat) kelas, yaitu: (1) kelas kesesuaian lahan dengan kategori S1 (Sangat Sesuai) dengan areal seluas 376.76 ha (5.87%); (2) kelas kesesuaian lahan dengan kategori S2 (Sesuai) dengan areal seluas 262.97 ha (4.10 %) (3) kelas kesesuaian lahan dengan kategori S3 (Sesuai Marginal) dengan areal seluas 640.48 ha (9.99%) dan (4) kelas kesesuaian lahan dengan kategori N (Tidak Sesuai) dengan areal seluas 5133.79 ha (80.04%)
Structure Of Mangrove Community In Palaes Village Coastal West Likupang District, North Minahasa Tulenan, Maryand M.; Wantasen, Adnan S.; Rembet, Unstain N. W. J.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): EDISI JANUARI-JUNI 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.18902

Abstract

Indonesia is a tropical archipelago shaped (13,664 Island) with an estimated coastline along (95,181 km) get hold of a good area for the growth of mangrove plants. ). The area thrives in mangrove estuaries or estuaries which is the ultimate goal of the organic particles or sediment mud washed from upstream akibar the presence of erosion. The fertility of the region is also determined by the presence of the nutrient mentransportasi of ups and downs. According to the Directorate General of Rehabilitas Social Forestry land and extensive Mangrove Forests in Indonesia in 1999 was estimated at 8.60 million hectares will be but around 5.30 million hectares in a State of disrepair. While FAO data (2007) extensive Mangrove Forests in Indonesia in 2005 only reaches 3,062,300 haor 19% of the vast Mangrove Forests in the world and the largest in the world surpassing Australia (10%) and Brazil (7%). Mangrove forest condition in the village of Palaes still good enough, this is because the villagers very Palaes keep the existence of mangrove forests. Additionally the utilization of mangrove forests for household needs Palaes's village community is relatively small and yet still giving effect to the environment of mangrove ecosystems. This funded research activities in the area of the coastal village of Palaes Sub-districtLikupang Barat Regency North Minahasa in North Sulawesi province, in may 2016. Use the quadrant method followed by the analysis of the community structure. Quadrant method undertaken by the way pull line transek daro land into the ocean then put the quadrant line 10. After quadrant is laid do data retrieval of vegetation after it conducted an analysis of the data by using the structure of the community. Based on the types of mangroves found in the village of Palaes Sub-district Likupang Barat Regency North Minahasa mangrove species found 6 different family and Rizhopora apiculata is a species of the most influential in the mangrove community in the area of such. And found the value of diversity index 1.73. The identification of the types of mangroves found in the village of Palaes Sub-district Likupang Barat Regency North Minahasa found as many as 501 individuals from 6 species in 4 families namely Rizophoraceae, Lytraceae, Meliaceae and Avicenniaceae as for species found namely Rizhopora mucronata, Sonneratia caseolaris, Rizhopora apiculata and Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum,and Avicennia officinalis.­­Keys: Mangrove, environment, vegetation, komonitas. AbstrakIndonesia merupakan daerah tropis berbentuk kepulauan (13.664 pulau) dengan garis pantai yang diperkirakan sepanjang (95.181 km) meenjadi kawasan yang baik bagi pertumbuhan tanaman mangrove. ). Mangrove tumbuh subur di daerah muara sungai atau estuari yang merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibar adanya erosi. Kesuburan daerah ini juga ditentukan oleh adanya pasang surut yang mentransportasi nutrient.Berdasarkan data Direktorat Jendral Rehabilitas Lahan dan Perhutanan Sosial luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8.60 juta hektar akan tetapi sekitar 5.30 juta hektar dalam keadaan rusak. Sedangkan data FAO (2007) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3,062,300 ha atau 19% dari luas hutan Mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) dan Brazil (7%).Kondisi hutan mangrove di Desa Palaes masih cukup baik, hal ini dikarenakan masyarakat Desa Palaes sangat menjaga keberadaan hutan mangrove. Selain itu pemanfaatan hutan mangrove untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat Desa Palaes relatif masih kecil dan belum menimbulkan dampak terhadap lingkungan ekosistem mangrove.Kegiatan Penelitian ini di laksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara, pada bulan Mei 2016. Menggunakan metode kuadran yang dilanjutkan dengan analisis struktur komunitas.Metode kuadran dilakukan dengan cara menarik line transek daro darat ke laut kemudian meletakkan sebanyak 10 line kuadran tersebut. Setelah kuadran diletakkan dilakukan pengambilan data vegetasi setelah itu dilakukan analisis data dengan menggunakan struktur komunitas.Berdasarkan jenis mangrove  yang ditemukan di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara ditemukan  6 spesies mangrove dari famili yang berbeda dan Rizhopora apiculata  merupakan spesies yang paling berperan dalam komunitas mangrove di daerah tersebut. Dan didapati nilai indeks keanekaragaman 1,73.Identifikasi jenis mangrove yang ditemukan di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara ditemukan sebanyak 501 individu dari 6 spesies yang termasuk dalam 4 famili yaitu Rizophoraceae, Lytraceae, Meliaceae dan Avicenniaceae Adapun spesies yang ditemukan yaitu  Rizhopora mucronata, Rizhopora apiculata, Sonneratia caseolaris dan Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza,dan Avicennia officinalisKeys : Mangrove,Lingkungan, Vegetasi, komonitas.  
Antibacterial Potential of Soft Coral Lobophytum sp. From Pangalisang Waters of Bunaken Island to Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aure Abraham L. Kowal; Esther D. Angkouw; Nickson J. Kawung; Kurniati Khemer; Henky Manoppo; Deiske A. Sumilat
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20638

Abstract

Soft corals ar known to have a variety of bioactivity capabilities, one of them is antibacterial. Antibacterial is a compound that can interfere with the growth of bacteria or even kill the bacteria. The soft coral samples, Lobophytum sp., obtained from  Pangalisang, Bunaken Island, wer extracted by evaporative process, then fractionated into three fractions by aqueous partitioning technique with aqueous solvents, ethyl acetate, methanol and n-hexane. Antibacterial testing, with bacterial samples of Pseudomonas aeruginaso and Staphylococcus aureus were analyzed by agar diffusion / Kirby Bauer method. The results of the experiment showed that every fraction had antibacterial activity, where the largest activity was produce at concentration of 50 disc paper sampes with  7 mm (water fraction), 8 mm ( metanol fraction), 7,2 mm (n-hexane fraction) in Pseudomonas aeruginosa and 7 mm (water fraction), 8,7 mm ( metanol fraction) in Staphylcoccus aureus. It can be concluded that the  inhibition zone from soft corals, Lobophytum sp., is classified as a weak activity, so it does not potential to be developed into an antibacterial drug.Keywords: Antibacterial, Lobophytum sp., Pseudomonas aeruginosa, Staphylcoccus aureus.ABSTRAKKarang lunak diketahui mempunyai berbagai bioaktivitas salah satunya antibakteri. Antibakteri merupakan senyawa yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan dapat mematikan bakteri. Sampel karang lunak Lobophytum sp. yang diperoleh dari perairan Pangalisang Pulau Bunaken diambil ekstrak kentalnya melalui proses evaporasi, selanjutnya difraksinasi menjadi tiga fraksi dengan teknik partisi cair dengan pelarut aquades, etil asetat, metanol dan n-heksan. Pengujian antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa  dan Staphylococcus aureus dianalisis dengan metode difusi agar (disc diffusion Kirby and Bauer). Hasil penelitian menunjukan ketiga fraksi memiliki aktivitas antibakteri, dimana aktivitas terbesar dihasilkan pada konsentrasi sampel dalam kertas cakram 50 μl dengan zona hambat 7mm (fraksi air), 8 mm (fraksi metanol), 7,2 mm (fraksi n-heksan) pada Pseudomonas aeruginosa dan 7 mm (fraksi air), 8,7 mm (fraksi metanol) pada Staphylococcuss aureus. Dapat disimpulkan bahwa zona hambat yang dihasilkan karang lunak Lobophytum sp. tergolong lemah sehingga tidak berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antibakteri.Kata kunci: Antibakteri, Lobophytum sp., Pseudomonas aeruginosa, Staphylcoccus aureus.
Biometric Analysis of Otolith (Sagitta) for the Stock Separation of Skipjack Tuna Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758) Landed at Tumumpa Coastal Fisheries Port Manado, North Sulawesi Djusty Mogea; Lawrence J. L. Lumingas; Gybert Mamuaya
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.24124

Abstract

Skipjack tuna, Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758) is one of the most important species for Indonesian marine capture fisheries and is the third major species of capture fisheries in the world. This study aims to analyze the biometry of otolith (sagitta) of skipjack tuna caught with ‘soma pajeko’ (mini purse-seine) around FADs in the Sulawesi Sea. A total of 96 individuals of skipjack tuna measuring total length  (TL) ranged between 232 and 625 mm and the average of TL was 419.64 mm (SD = 112.78 mm) were successfully taken otolith without defects. The length of otolith (OL) of the skipjack tuna ranged between 2.693 and 5.269 mm with an average of OL was 3.435 mm (SD = 0.602 mm). For both the size and shape indices of the otolith, there were no significant difference between the left and right otoliths for otolith length (OL), otolith perimeter (OP), Form-Factor (FF) and Roundness (Rnd), but asymmetric influences were very significance for otolith width (OW), otolith area (OA), Circularity (Cir), Rectangularity (Rec), Ellipticity (Ell) and Aspect Ratio (AR). There were no significant difference in the mean size and shape indices of the otolith between females and males. The relationship between TL - OL follows the power function: OL = 1.027993 * TL0.198863 (R2 = 13.18%). The low value of R2 seems to be due to the mixing of more than one stock of skipjack tuna in the sample. Separation of observation data in the relationship between TL - OL into two different stocks can increase the value of b or R2. It is possible for skipjack tuna in the Sulawesi Sea to consist of two different stocks. The separation of the two stocks can mainly be determined by the size of the otolith, the size of the otolith of stock 1 is relatively large compared to stock 2. The relationship of ln (TL) - ln (OL) stock 1 and stock 2 were ln (OL) = -2,282 + 0,610 * ln (TL) (n = 53; r = 0.91) and ln (OL) = -2,363 + 0.566 * ln (TL) (n = 43; r = 0.64). It is possible that stock 1 is the stock of the Indian Ocean and stock 2 is the stock of the Western Pacific Ocean. To test this hypothesis, genetic studies are needed.Keywords: otolith biometry, stock separation, Katsuwonus pelamis, Sulawesi SeaABSTRAKIkan cakalang, Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758) merupakan  salah satu spesies yang sangat penting untuk perikanan tangkap laut Indonesia dan merupakan spesies utama urutan ke-3 perikanan tangkap dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biometri otolit (sagitta) ikan cakalang yang tertangkap dengan ‘soma pajeko’ (mini purse-seine) di sekitar rumpon di Laut Sulawesi. Sejumlah 96 individu ikan cakalang berukuran panjang total (TL) 232 - 625 mm dan rata-rata TL 419,64 mm (SD = 112,78 mm) berhasil diambil otolitnya tanpa cacat.  Otolit (kiri) ikan cakalang tersebut berukuran panjang (OL) 2,693 - 5,269 mm dengan rata-rata OL 3,435 mm (SD = 0,602 mm). Baik untuk ukuran maupun indeks bentuk otolit, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara otolit kiri dan kanan untuk panjang otolit (OL), keliling otolit (OP), Form-Factor (FF)  dan Roundness (Rnd), tetapi pengaruh asimetris untuk lebar otolit (OW), luas otolit (OA), Circularity (Cir), Rectangularity (Rec), Ellipticity (Ell) dan Aspect Ratio (AR)  sangat nyata. Tidak terdapat perbedaan yang nyata rata-rata ukuran maupun indeks bentuk otolit antara betina dan jantan. Hubungan TL - OL mengikuti fungsi perpangkatan: OL = 1,027993*TL0,198863 (R2 = 13,18%). Rendahnya nilai R2 ini nampaknya disebabkan karena bercampurnya lebih dari satu stok ikan cakalang dalam sampel. Pemisahan data amatan dalam hubungan TL – OL menjadi dua stok yang berbeda dapat menaikkan nilai b maupun R2. Ikan cakalang yang terdapat di Laut Sulawesi ada kemungkinan terdiri dari dua stok yang berbeda. Pemisahan kedua stok tersebut terutama dapat ditentukan lewat ukuran otolitnya, stok 1 berukuran otolit relatif besar dibandingkan dengan stok 2.  Hubungan ln(TL) – ln(OL) stok 1 dan stok 2 berturut-turut adalah  ln(OL) = -2,282 + 0,610*ln(TL) (n = 53; r = 0,91) dan ln(OL) = -2,363 + 0,566*ln(TL) (n = 43; r = 0,64).  Ada kemungkinan stok 1 merupakan stok Samudra Hindia dan stok 2 merupakan stok Samudra Pasifik Barat. Untuk menguji hipotesis ini diperlukan kajian secara genetik.Kata kunci: biometri otolit, pemisahan stok, Katsuwonus pelamis, Laut Sulawesi
Morphometric Structure of Seagrass Halophila ovalis in Tongkeina, Bunaken Subdistrict, Manado City and Mokupa, Tombariri Subdistrict, Minahasa District Coastal Waters Delya Amale; Khristin I. F. Kondoy; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14018

Abstract

Seagrass is vascular plant with rhizome roots system, trunk system and leafs that can be differenciated. Genesal characteristic of this family, amoy others, the leaf tend to have two branches, (and absent of) ligula as been found an Potamogetonaceae family, linier form af leaf, round, oval, sessile, enlarge branch with paraleel vfinger like ciramferule connected wirb crossed lower duct or perpendicular. This study was conducted in two locations namely Tongkeina, Bunaken Subdistrict, Manado City and Mokupa, Tombariri Subdistrict, Minahasa District coastal waters. Until recently there is no study yet been done regarding the comparison on morphological size of H. ovalis based on different sample location (near mangroves, seagrass beds and coral reefs) and comparing the result of morphological measurement among the locations studied. Data collection was done by using exploratory survey method where samples are directly collected, washed with seawater and put it on plastic bag. The sampling site was determined by using GPS before collecting the sample of H. ovalis that consist of 20 individuals from each station. The samples that been washed and labeled were then put in the plastic bag with alcohol to avoid the damage on seagrass sample. The results show that H. ovalis from Mokupa village is smaller than from Tongkaina. This is possibly caused the pressure of villager in Mokupa usually having their main activity to catch fish along the coastal areas which is treatening also the life of seagrass.  The discarded of both organic and non organic garbages remained from house holds and local tradiitional market also can hinder the growth of H. ovalis. Keyword : Morphometric, Halophila ovalis, Tongkaina, Mokupa   Abstrak Lamun adalah tumbuhan vascular sejati, memiliki akar dengan sistem perakaran rhizoma, struktur batang dan daun yang dibedakan dengan jelas. Halophila ovalis termasuk dalam family Hydrocharitaceae. Ciri-ciri umum dari famili ini antara lain daun cenderung bercabang dua, daunnya tidak memiliki ligula seperti yang dimiliki oleh famili Potamogetonaceae, bentuk daun linier (lurus), membulat, oval, sessile atau bercabang membesar dengan jari-jari paralel yang dihubungkan dengan saluran silang menurun atau perpendikuler. Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu di Perairan Pantai Tongkaina Kecamatan Bunaken Kota Manado dan Pantai Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Penelitian ini dilakukan karena belum ada data mengenai perbandingan morfometrik lamun Halophila ovalis di dua lokasi ini. Tujuan penelitian yaitu membandingkan ukuran morfologi Halophila ovalis berdasarkan stasiun pengambilan sampel (daerah dekat mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang) dan membandingkan ukuran morfologi Halophila ovalis berdasarkan lokasi pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah, sampel langsung dikumpulkan, dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam kantung plastik sampel. Saat pengambilan sampel dilakukan, posisi diplot dengan menggunakan GPS dan dilanjutkan dengan pengambilan sampel lamun Halophila ovalis sebanyak 20 individu setiap stasiun, kemudian sampel lamun di cuci dan di masukan dalam plastik yang sudah di berikan lebel, dan diisi alkohol agar sampel lamun tidak rusak. Pada hasil yang di peroleh terlihat bahwa Spesies Halophila ovalis di desa Mokupa lebih kecil dibandingkan Halophila ovalis di Tongkaina. Hal ini disebabkan aktivitas masyarakat desa Mokupa dilakukan dipinggir pantai dan juga aktivitas pembuangan sampah organik. Kata Kunci : Morfrometrik, Halophila ovalis, Tongkaina, Mokupa 1Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
STUDY OF LONG WEIGHT RELATION OF SCYLLA SERRATA IN MANGROVE FOREST AROUND THE WET LABORATORY FPIK EEAST LIKUPANG DISTRICT NORTH MINAHASA Tumbel, Stivensian M.; Manu, Gaspar D.; Kambey, Alex D.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): EDISI JANUARI-JUNI 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.17855

Abstract

Mud crab (Scylla serrata) is a ten-legged crustacean animal from Brachura infraordo, known to have a very short tail (in Greek: brachy = short, ura = tail). Mangrove crab is one of the aquatic biota that has significant economic value and its life is strongly influenced by the existence of mangrove forest. The purpose of this study is to identify and analyze the relationship of weight and growth patterns of mangrove crab (Scylla serrata). Sampling is obtained by catching activities using fishing gear that is bubu (chang). Based on the results of research conducted in the area of Mangrove Forest around Wet Laboratory Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Likupang Timur in August - September 2017. Mangrove crab (Scylla serrata) in the can through research obtained as many as 32 individuals.Keywords: Mangrove Crab (Scylla serrata), Long Weight Relation, Growth Pattern, East Likupang ABSTRAKKepiting bakau (Scylla serrata) adalah binatang anggota crustasea berkaki sepuluh dari infraordo Brachura, yang dikenal mempunyai ekor yang sangat pendek (dalam bahasa Yunani : brachy = pendek, ura = ekor). Kepiting bakau adalah salah satu biota perairan yang bernilai ekonomis penting dan kehidupannya sangat dipengaruhi oleh keberadaan hutan mangrove. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan panjang berat berserta pola pertumbuhan dari kepiting bakau (Scylla serrata). Pengambilan sampel diperoleh dengan melakukan kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap yaitu bubu (chang). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Daerah Hutan Mangrove sekitar Laboratorium Basah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Likupang Timur pada bulan Agustus ? September 2017. Kepiting bakau (Scylla serrata) yang di dapat selama melalukan penelitian diperoleh sebanyak 32 individu. Kata Kunci : Kepiting Bakau (Scylla serrata), Hubungan Panjang Berat, Pola  Pertumbuhan, Likupang Timur.
Morfometric study of Seagrass Thalassia hemprichii, in Pasir Panjang Beach, Paputungan Village, West Likupang, Minahasa Utara Trifany Zachawerus; Khristin I. F. Kondoy; Jety K. Rangan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22731

Abstract

This study was aimed at knowing seagrass species in the study site and comparing the morphometry of seagrass Thalassia hemprichii with sampling station. Sample collection employed haphazard survey, and samples and substrate were taken using a big knife, washed in seawater, an in seawater, and put into a seawater-containing bucket. Sampling points were determined by GPS, and 30 individuals of T. hemprichii were taken. Results showed that T. hemprichii in Pasir Panjang coastal waters has bigger size in mangrove and seagrass areas than that in the coral reefs. It could result from that mangrove and seagrass areas grew in muddy substrate that contained higher nutrients and calmer water condition than those in coral reefs with coral debris substrate.Keywords : Morfometrics, Thalassia hemprichii, Pasir Panjang BeachABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis lamun apa saja yang ada di lokasi penelitian ini dan membandingkan ukuran morfometrik lamun Thalassia hemprichii berdasarkan stasiun pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan mengunakan metode survei jelajah, sampel diambil dengan parang bersamaan dengan substrat, dicuci dengan air laut dan dimasukan kedalam ember yang berisi air laut. Saat pengambilan sampel dilakukan, posisi diplot dengan mengunakan GPS dan dilanjutkan dengan pengambilan sample lamun Thalassia hemprichii sebanyak 30 individu setiap stasiun, Pada hasil yang diperoleh terlihat bahwa spesies Thalassia hemprichii di Perairan Pantai Pasir Panjang yang lebih besar di daerah mangrove dan daerah lamun dan yang lebih kecil adalah daerah terumbu karang.  Hal ini disebabkan, karena daerah mangrove dan lamun tersebut tumbuh pada subsrat lumpur yang memiliki kandungan nutrien lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terumbu karang dengan subsrat pecahan karang, dan keadaan perairan pada subsrat lumpur lebih tenang sehingga banyak mengendapkan sedimen.Kata Kunci : Morfometrik. Thalassia hemprichii. Pantai Pasir Panjang
Community Structure of Macro Algae in Mokupa Village, Tombariri Sub-district, Minahasa District, North Sulawesi Province Rini M Wowor; Rene Charles Kepel; Laurence J. L Lumingas
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 3 No. 1 (2015): EDISI JANUARI-JUNI 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.3.1.2015.13216

Abstract

Sumich (1992) divided the structure of algae into  3 main parts namely: blade,the leaf like structure which is thin and wide, stipe, trunk like form that elastic to withstand sea waves, and holdfast, known as root-like form function to anchor the plant on the substrate. The study was conducted Mokupa beach waters sub-district Tombariri, Minahasa district. Mokupa coastal waters known to have typical ecosystem found in the tropics such as mangrove forest, coral reef and seagrass beds as well as macro algae community. The area is flat-bed coast with sandy substrate, sandy-silt substrate and rocky-sand substrate. Species of macro-algae found in this area consist of 7 species namely Halimeda macroloba, H. opuntia, Padina minor, Sargassum polycystum, Gracilaria edulis, G. firma, and Udotea orientalis. In general species density for all transect deployed  in the study site Halimeda macroloba has the highest index value, while for species diversity index transect II showing the highest value.   Keywords: Alga, community, diversity, dominance A B S T R A K Sumich (1992) membagi struktur alga menjadi 3 bagian utama yaitu blade yang merupakan struktur yang menyerupai daun yang pipih biasanya lebar, stipe yaitu struktur yang menyerupai batang yang lentur digunakan sebagai penahan hempasan ombak, dan holdfast yaitu bagian dengan bentuk seperti akar yang berfungsi untuk meletakkan tubuh pada substrat. Penelitian ini dilaksanakan di perairan pesisir Desa Mokupa, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa. Daerah pesisir Desa Mokupa merupakan daerah yang lokasinya terdapat ekosistem yang khas di daerah tropis yaitu mangrove, terumbu karang, dan padang lamun, demikian pula terdapat komunitas alga makro. Profil dari pantai tersebut adalah pantai yang landai dengan substrat pasir, pasir berlumpur dan pasir berbatu. Jenis alga makro yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 7 spesies, yaitu Halimeda macroloba, H. opuntia, Padina minor, Sargassum polycystum, Gracilaria edulis, G. firma, dan Udotea orientalis. Secara keseluruhan kepadatan spesies untuk semua transek yang tertinggi adalah Halimeda macroloba, sedangkan keanekaragaman jenis alga makro tertinggi terdapat di transek II.   Kata Kunci : keanekaragaman, alga, komunitas 1Mahasiswa Program Studi MSP FPIK-UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Coral Fishes At Artificial Reef In Bunaken National Park Arakan, South Minahasa Regency Wuwumbene, Riezky H. S.; Rondonuwu, Ari B.; Watung, Victor N. R.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15909

Abstract

Artificial reefs already placed in the coast of the village of Arakan, South Minahasa regency since June 2015. Artificial reef, that would be the location of research are concrete and iron, mostly be the medium of coral transplantation. The pupose of the research are (1). To know the species coral reef fish (2). To know the number of each species and the density of the coral reef fish (3). To know the structure of coral reef fish communities. Data retrieval be done use with Visual Census Method in the 51 squaremeter area (lenght = 8,5 m, width = 6 m). This research find 15 families with 29 coral reef fish species and 1341  individual. The diversity index of artificial reefs with moderate diversity index and relative abudance is found in species Dascyllus trimaculatus 34,731 %,  Plotosus lineatus 21,593 %, and Dascyllus reticulatus 21,174 %.Keywords: Artificial reef, Community Structure, Arakan. ABSTRAKTerumbu buatan sudah diletakan pada perairan desa Arakan Kabupaten Minahasa Selatan pada bulan Juni 2015. Terumbu buatan yang menjadi lokasi penelitian berjenis beton dan besi, model yang terbuat dari besi lebih banyak diarahkan sebagai media transplantasi karang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kekayaan spesies ikan karang (2) Mengetahui kelimpahan individu dan kepadatan relatif ikan karang (3) Mengetahui struktur komunitas ikan karang. Pegambilan data dilakukan menggunakan metode Sensus Visual dengan luas pengamatan pada terumbu buatan  seluas 51 m2 (panjang = 8,5 meter dan lebar = 6 meter). Penelitian ini menemukan 15 famili dengan 29 spesies ikan karang dan kelimpahan individu total 1341 individu. Indeks keanekaragaman di daerah terumbu buatan dengan nilai indeks keanegaraman yang sedang dengan indeks dominasi rendah dan kelimpahan relatif terdapat pada spesies Dascyllus trimaculatus dengan nilai 34,731 %, Plotosus lineatus dengan nilai 21,593 %, dan Dascyllus reticulatus dengan nilai 21,174 %.Kata Kunci : Terumbu Buatan, Struktur Komunitas, Arakan.
Uniqueness Of Larval Releasing Of Littoraria Scabra L. (Gastropoda: Littorinidae), In Tombariri Mangrove, North Sulawesi,Indonesia Jans D Lalita
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20574

Abstract

This research was found the novelty of reproduction strategy uniqueness of  L. scabra that very rare in nature, reverse male function fertilized eggs are sucked for brooding in the mantle of male up to hatching as veligers, and thus, the males are capable of releasing the larvae in the full and new moon at spring tide during the research. The second finding in the reproduction strategy uniqueness of  L. scabra that mating individuals, both males, and females, released their larvae during the research period. Key Words: Littoraria scabra;  uniqueness, releasing; veliger; male and female ABSTRAKPenelitian yang amat langka di alam ini menemukan kebaharuan keunikan strategi reproduksi Littoraria. scabra, di waktu kopulasi jantan berperan seks terbalik menyedot sebagian  telur yang dibuahi dan dierami telur-telur yang dibuahi dalam tubuhnya sampai menetas menjadi larva-larva serta melepaskan larva-larva tersebut di bulan penuh dan  baru yang mengikuti siklus pasang selama penelitian. Temuan amat langka kedua keunikan strategi reproduksi L. scabra, yang amat langka di alam dengan pasangan jantan-betina lagi kawin melepaskan larva-larva baik jantan maupun betina pada siklus bi-lunar bersamaan dengan siklus pasang selama penelitian. Kata Kunci : Littoraria scabra; keunikan,pelepasan; veliger; jantan dan betina

Filter by Year

2012 2025