cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Community of starfish in the coastal area of Mokupa Village, sub-district of Tombariri, Minahasa district, North Sulawesi Utara Syanet C.S Umboh; Unstain N. W. J. Rembet; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 1 (2016): EDISI JANUARI-JUNI 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.1.2016.13502

Abstract

This study was carried out in the coastal waters of Mokupa, Tombariri District,  Minahasa Regency, North Sulawesi Province. It was aimed to know the sea star community. The study was beneficial as information source of the sea star. Data collection employed a quadrat-transect method in new moon and full moon. There were 3 sampling points randomly selected. Each transect was placed  10 1x1 m quadrats along 100 m-transect seaward. The species found were Protoreaster nodosus, Linckia laevigata, Archaster typicus, Culcita novaeguineae, Pentaster obtusatus. Higher mean number was found in new moon than in full moon. The dominant species in Mokupa waters was Protoreaster nodosus. Keywords : Starfish, community, Mokupa Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di perairan pantai Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunitas bintang laut. Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi tentang bintang laut. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode transek-kuadran pada bulan baru dan bulan purnama. Setiap transek diletakan 10 buah kuadran dengan ukuran 1x1 meter sepanjang 100 m transek ke arah laut. Jenis bintang laut yang ditemukan yaitu Protoreaster nodosus, Linckia laevigata, Archaster typicus, Culcita novaeguineae, Pentaster obtusatus. Jumlah rata-rata individu bintang laut di bulan baru lebih banyak dari pada bintang laut dibulan purnama. Jenis bintang laut yang dominan diperairan pantai Desa Mokupa yaitu Protoreaster nodosus. 2,3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Study on Density and morphometrics of seagrass Enhalus acoroides from Different Substrates on Coastal Waters of Tongkeina, City of Manado Metris S. Wangkanusa; Khristin I. F. Kondoy; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15934

Abstract

This research was conducted in coastal waters of Tongkeina, Bunaken Sub-district, Manado City, North Sulawesi. The purpose of this research is to know the density and morphometric characters of seagrass, Enhalus acoroides on different substrates in Tongkeina waters. Data collection was conducted by using quadrant transect method. At the location of the study, three data retrieval points consist of muddy substrate, muddy sand substrate, and rubble were established. To collect data, 6 quadrant transects were lied down parallel to the coastline along the seagrass bed with a total distance of 50 m while the distance of 10 m between quadrant were applied. At each sampling point a 50 cm x 50 cm quadrant transect is placed systematically on 6 points in the each sub-station. Density observation was done by counting the number of seagrass stands on the transect at each observation point at each station. Pictures were taken with a waterproof camera and were classified accordingly based on the size of the squares. The highest numbers seagrass and morphometric characters of seagrass were found on the muddy substrate.  This is because the substrate relatively in quiet waters and the growth of the seagrass is more concentrated on the length and width of the leaf. While the peak of the leaf blade is often eroded by the wave energy and the openness of the study site to the tides in relatively shallow waters, it could be also caused by environmental factors such as the strong currents that obtained at these stations. This fact also contributing to cause the growth of seagrasses is centered on leaves and roots as a form to defend themselves on fine sediments. Density and morphometric of seagrass such as leaf length, leaf width, and root length on the substrate indicate significant value or show a relationship.Keyword : Density,  morphometrics, seagrassABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di perairan pantai Tongkaeina Kecamatan Bunaken Kota Manado Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Kerapatan dan  karakter morfometrik Lamun Enhalus acoroides pada substrat yang berbeda di perairan Tongkeina. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan mampu memberikan kontribusi bagi upaya pengelolaan Lamun Enhalus acoroides di Desa Tongkeina di masa yang akan datang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode transek kuadran. Pada lokasi penelitian, di tentukan tiga titik pengambilan data, yaitu substrat berlumpur, substrat pasir berlumpur, dan pecahan karang (rubble). Pada setiap kedalaman diletakkan 6 transek ulangan kuadran sejajar dengan garis pantai sepanjang areal lamun dengan jarak 50 m sedangkan jarak antara kuadran 10 m. Pada tiap stasiun untuk pengambilan sampel diletakan secara sistematis transek kuadran 1 x 1 sebanyak 6 titik pada tiap sub-stasiun. Untuk pengamatan kerapatan dilakukan dengan menghitung jumlah tegakan lamun dalam transek pada setiap titik pengamatan pada setiap stasiun. Kemudian mengambil gambar dengan kamera kedap air dan gambar diambil sesuai dengan ukuran kuadrat. Kerapatan dan morfometrik lamun tertinggi ditemukan pada substrat berlumpur, hal ini disebabkan karena pada substart belumpur perairannya relatif  tenang dan pertumbuhan lamun lebih terpusat pada panjang dan lebar daun. Sedangkan puncak dari helaian daun seringkali terkikis oleh energi gelombang dan keterbukaan terhadap pasang surut pada perairan yang relatif dangkal juga disebabkan oleh faktor lingkungan seperti arus yang kuat didapatkan pada stasiun ini menyebabkan pertumbuhan lamun terpusat pada  daun dan akar untuk mempertahankan diri pada sedimen halus. Kerapatan dan morfometrik lamun seperti panjang daun, lebar daun, dan panjang akar terhadap substrat menunjukkan nilai yang signifikan atau memperlihatkan adanya hubungan.Kata kunci:      Kerapatan, morfometrik, lamun.
The biodiversity of macroalgae in the coastal waters of Bahoi Village, West Likupang Sub-District, North Minahasa Regency Irwan Baino; Rene Charles Kepel; Gaspar Duhar Manu; Stephanus V. Mandagi
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22595

Abstract

This study was carried out in coastal waters of Bahoi Village, West Likupang Sub-District, North Minahasa Regency with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection used exploring survey. Results found 8 species of macroalgae, consisting of 3 divisions, 3 classes, 5 orders, 6 families, and 6 genera.Keyword: Macroalgae, Bahoi Village.  ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Survei Jelajah. Hasil penelitian menemukan 8 spesies, yang terdiri dari 3 divisi, 3 kelas, 5 ordo, 6 famili dan 6 genera.Kata Kunci: Makroalga, Desa Bahoi.
Profile of Mangrove Ecosystem in Bahoi Village North Minahasa Regency Audy M. H. Dien; Unstain N. W. J. Rembet; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 1 (2016): EDISI JANUARI-JUNI 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.1.2016.13227

Abstract

This study was carried out in mangrove forest of Bahoi, Likupang district, North Minahasa regency. It was aimed at knowing the ecological condition of the mangrove forest. Study stations were selected by determining representatives from each zonation and site condition. Results showed that mangrove species in Bahoi was dominated by Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, B. cylindrical, and Sonneratia alba, with the highest density in station 1 shown by Rhizophora apiculata, 0.65 ind/m2, then station 2 and 3 by  R. Mucronata, 0.93 and 0,63 ind/m2, respectively.  The highest total density was recorded in station 2, 1.85 ind/40 m2, then station 1, 1.78 ind/40 m2, and station 3, 1.35 ind/40 m2, respectively. As conclusion, the ecological condition of mangrove ecosystem in Bahoi was categorized as good, and aware to be beneficial for the local community in ecological function as abrasion prevention and living environment of the aquatic biota and in economic function from ecotourism aspect, so that it was right to be managed in the form of ecotourism management. Keywords : Mangrove,  Profile, Bahoi Village ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di kawasan mangrove desa Bahoi, Kecamatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara.  Tujuan penelitian, untuk mengetahui kondisi ekologis ekosistem mangrove. Penentuan lokasi stasiun pengamatan dilakukan dengan menentukan perwakilan dari setiap zonasi dan kondisi lokasi sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis mangrove di desa Bahoi didominasi oleh Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, B. cylindrical, dan Sonneratia alba, dengan kerapatan jenis tertinggi di stasiun 1 diperlihatkan oleh  Rhizophora apiculata (0,65 ind/m2), kemudian pada stasiun 2 dan 3 oleh  R. mucronata (0,93; 0,63 ind/m2).  Kerapatan total tertinggi ditemukan pada stasiun 2, 1.85 ind/40 m2, diikuti oleh stasiun 1 (1.78 ind/40 m2), dan stasiun 3 (1.35 ind/40 m2). Sebagai kesimpulan, kondisi ekologi ekosistem mangrove di Desa Bahoi dikategorikan baik, dan  disadari bermanfaat bagi masyarakat dalam fungsi ekologis sebagai pencegah abrasi dan  tempat hidup biota perairan, serta fungsi ekonomisnya dalam aspek ekowisata, sehingga tepat untuk dikelola dengan bentuk pengelolaan ekowisata.   1 Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara 2 Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat
Management Strategy Mangrove Ecosystem Base On Multy Criteria Decision Making Analysis (Case In Bunaken Island, Manado City, Indonesia) Joshian Nicolas William Schaduw
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28287

Abstract

This research purpose is to analyze the effectiveness of mangrove ecosystem management strategy in Bunaken Island of Bunaken National Park in Manado City, North Sulawesi Province. The research used the research methods of field surveys, sampling, and literature studies for several components that require periodic data. The data analysis used in this research is the Criteria Decision Making Analysis (MCDMA) with the Rapid Appraisal of Mangrove Ecosystem Sustainability (RAPMECS) tools modified from the Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH). The obtained data will analyze the effectiveness of the ecological, socio-economic, and institutional dimensions that directly affect the mangrove ecosystems. It is indicated that the mangrove ecosystem management sustainability dimension in Bunaken Island is poor, and the socio-economic and institutional dimensions are not good. The main point that makes the management sustainability dimension unfavorable is the island slope and total extent of the mangrove ecosystem area. As the buffer zone, the mangrove ecosystem is low effective, this island is vulnerable to sea currents and waves. The strategies to minimize the vulnerability of this island from sea currents and waves include the increase of the mangrove ecosystem area, community awareness and participation in managing the mangrove ecosystems, and the supporting infrastructure in the mangrove ecosystem management activities.Keywords: Strategy; Management; Mangrove; BunakenABSTRAKKajian ini bertujuan untuk menganalisa efektivitas strategi pengelolaan ekosistem mangrove Pulau Bunken, yang masuk dalam kawasan Taman Nasioanl Bunaken di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Kajian ini menggunakan metode penelitian antara lain  survei lapangan, sampling, dan studi literatur pada beberapa kompenen yang membutuhkan data berkala. Analisis data bersifat Multy Criteria Decision Making Analysis (MCDMA) dengan tools Rapid Apraisal of mangrove ecosystem sustainability (RAPMECS) yang dimodifikasi dari the Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH). Data yang didapatkan untuk menganalisa efektivitas dimensi ekologi, sosial-ekonomi, dan kelembagaan yang mempengaruhi ekosistem mangrove. Pada dimensi ekologi terindikasi keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Pulau Bunaken kurang baik, sedangkan pada dimensi sosial ekonomi dan kelembagaan kurang baik. Hal utama yang membuat keberlanjutan pengelolaan pada dimensi ekologi kurang baik adalah kemiringan lereng pulau dan luasan dari ekosistem mangrove. Akibat dari rendahnya efektifitas mangrove sebagai buffer zone membuat pulau ini rentan terhadap aksi laut yaitu arus dan gelombang. Strategi yang dapat dilakukan meminimalkan kerentanan pulau ini antara lain adalah penambahan luasan ekosistem mangrove, peningkatan kesadaran dan partisipatif  masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove, dan peningkatan infrastruktur pendukung dalam kegiatan pengelolaan ekosistem mangrove.Kata Kunci: Strategi; Pengelolaan;  Mangrove; Bunakensupporting infrastructure in the mangrove ecosystem management activities.
Seagrass Community of The Coastal In Southern Of Bangka Island, North Minahasa Regancy, North Sulawesi Province Febry S. I. Menajang; Georis J. F. Kaligis; Billy T. Wagey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15532

Abstract

Purpose of this research is to know the community of seagrass, and physical-chemical parameters in the South Bangka island, North Minahasa Regancy, North Sulawesi Province. Data retrieval by the random sampling of systematic method on three lines transect with 50 m long, and 30 quadrants. Data taken in each quadrant is number of species and number of individuals of each species. Results of the measurement of physical and chemical parameters of static waters associated with the feasibility of life for water organisms in it, generally in good condition. Ten species of seagrass have been found in the southern part of the island of Bangka. Four species are always found in any transek i.e Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Enhallus acaroides, and Halophylla ovalis. The highest found in seagrass cover transek 1 i.e. 67.00% while the lowest in transek 3 i.e. 46.30%.  Seagrass cover Enhallus acaroides in Bangka island very prominent compared to other species. Based on the current index value is important, Syringodium isoetifolium have a high importance value index only in the transek 3 which means this type of seagrass seagrass types affect other takes part in community level.  Ecological index results suggest that the ecosystem of seagrass in Bangka island in the southern part of the State is stable.Keywords: Seagrass, Bangka Island, importance value index (INP).   AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui komunitas lamun, dan parameter fisik-kimia di bagian Selatan Pulau Bangka; Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.  Pengambilan data dengan metode sampling acak sistimatis; pada tiga transek yang diletakkan tegak lurus garis, sepanjang 50 m.  Jumlah kuadran yang digunakan sebanyak 30.  Data yang diambil dalam setiap kuadran dihitung jumlah jenis dan jumlah individu setiap jenis. Hasil pengukuran parameter fisik statis dan kimia perairan dihubungkan dengan kelayakan hidup bagi organisme air yang ada di dalamnya, umumnya dalam kondisi baik.  Telah ditemukan sepuluh spesies lamun di Pulau Bangka bagian selatan.  Empat spesies selalu dijumpai di setiap transek yaitu Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Enhallus acoroides, dan Halophylla ovalis. Tutupan lamun tertinggi ditemukan di transek 1 yaitu 67,00 % sedangkan yang terendah di transek 3 yaitu 46,30 %.    Tutupan lamun Enhallus acaroides di Pulau Bangka sangat menonjol dibandingkan dengan jenis lainnya.  Berdasarkan nilai indeks nilai penting; jenis Syringodium isoetifolium memiliki indeks nilai penting yang tinggi hanya di transek 3 yang berarti jenis lamun ini turut mempengaruhi jenis lamun lainnya dalam tingkat komunitas. Hasil indeks ekologi  menunjukkan bahwa ekosistem lamun di Pulau Bangka bagian Selatan dalam keadaan stabil.Kata kunci: Lamun, Pulau Bangka, Indeks Nilai Penting (INP)
Growing Pattern of Blue Swimming Crab, Portunus pelagicus at Two Different Locations in Manado Bay Makahinda, Frank Rijkaard; Mantiri, Rose O.S.E; Toloh, Boyke H.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): EDISI JANUARI-JUNI 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.19545

Abstract

Portunus pelagicus (blue swimming crab) is one of the important economical marine commodities produced from Indonesian coastal waters that has increasing market demand among fishery commodities. The purpose of this research is to reveal the relationship of carapace width and weight, the growth pattern and the carapace width-weight ratio of P. pelagicus crabs at two different research sites in Manado Bay. The benefits of this study, can be a reference for further studies on blue swimming crabs, P. pelagicus, and information obtained in this study could become important information needed for the maximum sustainable utilization of blue swimming crab, P. pelagicus.This research was conducted at two locations, namely Kelurahan Bahu, Sub-district of Malalayang with coordinates of 1 ° 27'49.86 "North and 124 ° 49'35.79" East and second location in Tumumpa Dua, Sub-district of Tuminting with coordinates 1 ° 31'14.51"North - 124 ° 50'28.67"East. Samples of blue swimming crabs were collected by deploying traps which are placed at 5-7 meters with the distance between traps 10 meter. Traps were placed at 17.00 pm and lifted on the next day at 06.00 am. Measurement of the width of the carapace conducted by using the ruler with 0.1 cm accuracy and weight measurement using the scales with 0.1 gram accuracy.The correlation value obtained for the wide and weight relationship of blue swimming crabs in the Sub-district of Malalayang is 0.953 for males and 0.898 for females. In Kelurahan Tumumpa Dua, Sub-dis ittrict of Tuminting 0.829 for males and 0.920 for females respectively. Based on these values the increase in the width of the carapace will affect the weight gain of the crab. The growth pattern of P. pelagicus crab in Kelurahan Bahu, Sub-district of Malalayang and Tumumpa Dua Sub-district Tuminting showed negative allometric growth pattern with b <3 value which means faster carapace growth compared to the weight of crab. From the result of chi square test on wide body and weight relationship analysis, is found same for both locations with value x2 table = 7.815 <x2 count = 112.3134. This is presumably due to one of the external factors is the availability of food.Keywords: Rajungan, growth pattern, Manado Bay AbstrakPortunus pelagicus merupakan salah satu komoditi hasil laut ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan pantai Indonesia dengan permintaan pasar terhadap komoditas rajungan yang terus meningkat. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan lebar berat rajungan P. pelagicus, pola pertumbuhan rajungan P. pelagicus dan perbandingan lebar berat rajungan P. pelagicus di dua lokasi penelitian yang berbeda di Teluk Manado. Manfaat penelitian ini, dapat menjadi bahan acuan untuk studi lebih lanjut mengenai rajungan P. pelagicus serta infomasi yang didapat dalam penelitian ini bisa menjadi bahan kajian untuk pemanfaatan rajungan P. pelagicus secara maksimal serta berkelanjutan.Penelitian ini dilaksanakan pada dua lokasi yakni di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang dengan koordinat 1°27'49.86"LU - 124°49'35.79"BT dan lokasi kedua di Kelurahan Tumumpa Dua Kecamatan Tuminting dengan koordinat 1°31'14.51"LU - 124°50'28.67"BT. Pengambilan sampel dilakukan dengan alat tangkap bubu yang diletakan pada kedalam 5-7 meter dengan jarak antara bubu 10 meter. Bubu diletakan pada pukul 17.00 wita dan diangkat pada esok harinya pukul 06.00 wita. Pengukuran lebar karapas menggunakan mistar dengan ketelitian 0,1 cm dan pengukuran berat tubuh menggunakan timbangan 0,1 gr.Nilai korelasi yang didapat untuk hubungan lebar berat rajungan P. pelagicus di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang 0,953 untuk jantan dan 0,898 untuk betina. Di Kelurahan Tumumpa Dua Kecamatan Tuminting 0,829 untuk jantan dan 0,920 untuk betina. Berdasarkan nilai tersebut pertambahan lebar karapas akan berpengaruh pada kenaikan berat tubuh dari rajungan. Pola pertumbuhan rajungan P. pelagicus di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang dan di Kelurahan Tumumpa Dua Kecamatan Tuminting menunjukan pola pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif dengan nilai b < 3 yang berarti pertumbuhan karapas lebih cepat dibandingkan pertambahan berat rajungan. Dari hasil analisis chi square lebar berat tubuh, sama untuk kedua lokasi penelitian dengan nilai x2 tabel =  7,815 < x2 hitung = 112,3134. Hal ini diduga karena salah satu faktor eksternal yakni  ketersediaan makanan.Kata  kunci : Rajungan,  Pola pertumbuhan, Teluk Manado.
Morphometric Studies of Seagrass Halophila ovalis (R.Brown) Hooker in Kahona, Lembeh Sub-district of Bitung City and in the Tasik Ria, Tombariri Sub-district , Minahasa District Mizhael A.P. Wulur; Khrsitin I. F. Kondoy; Jety K. Rangan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.21440

Abstract

Seagrass is a marine plant that has roots with a rhizom system, the structure of the stem and leaves can be clearly distinguished. Halophila ovalis belongs to the Hydrocharitaceae family and common characteristics of this family include two branched leaves, oval leaf shape, small stalks and rhizomes that are easily broken and smooth, single-haired roots. This research was carried out in the coastal waters of Kahona Beach, South Lembeh Sub-district, Bitung City, and in Tasik Ria Beach, Tombariri Sub-district, Minahasa Regency. To date, there is no information regarding the comparison of morphometric of seagrass Halophila ovalis in both locations. The research objective was to compare the morphometric size of Halophila ovalis based on both research locations (Kahona Beach and Tasik Ria Beach). Data collection was conducted using survey method. As many as 30 plants in each study location were collected, washed with sea water and put into plastic samples which would then be measured using a digital caliper.In the results obtained, statistically, the Halophila ovalis species on Kahona Beach and Tasik Ria Beach are the same. There is no significant difference with regard to the size of the growth. This is due to the condition of the existing environmental parameters. Environmental parameter conditions in these two locations are still within the safe limits of seagrasses to grow optimally. From the measurement results, it can be seen that the size of seagrass growth in Tasik Ria Beach is smaller than that on Kahona Beach. This is due to the activities of people who come touring that accidentally damage seagrasses and damaged coral reef ecosystems are unable to withstand the strong currents and trash carried. Whereas in Kahona Beach, this is a marine protected area that is still rare for tourists to visit even though it has become an ecotourism area so that the conditions are still good and maintained, not only the seagrass ecosystem but also mangrove ecosystems and coral reefs.Keywords: Morfometrics, Halophila ovalis, Kahona Beach, Tasik Ria Beach ABSTRAK Lamun adalah tumbuhan air yang memiliki akar dengan sistem perakaran rhizoma, struktur batang dan daun yang dapat dibedakan dengan jelas. Halophila ovalis termasuk dalam famili Hydrocharitaceae. Ciri-ciri umum dari famili ini antara lain daun bercabang dua, bentuk daun oval, memiliki tangkai yang kecil dan rhizome yang mudah patah serta akar tunggal yang berambut halus. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pantai Kahona Kecamatan Lembeh Selatan Kota Bitung dan di perairan Pantai Tasik Ria Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Sampai saat ini, belum ada informasi mengenai perbandingan morfometrik lamun Halophila ovalis di kedua lokasi yang tersedia. Adapun yang menjadi tujuan penelitian yaitu membandingkan ukuran morfometrik Halophila ovalis berdasarkan lokasi penelititan (Pantai Kahona dan Pantai Tasik Ria). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah, sebanyak 30 pada setiap lokasi penelitian, dicuci dengan air laut dan dimasukan kedalam plastik sampel yang kemudian akan diukur dengan menggunakan caliper digital. Pada hasil yang diperoleh, secara statistik spesies Halophila ovalis di Pantai Kahona dan di Pantai Tasik Ria adalah sama. Tidak ada perbedaan yang nyata berkaitan dengan ukuran pertumbuhan tersebut. Hal ini disebabkan oleh kondisi parameter lingkungan yang ada. Kondisi parameter lingkungan pada kedua lokasi ini masih dalam batas yang aman bagi lamun untuk bertumbuh kembang secara optimal. Dari hasil pengukuran terlihat bahwa ukuran pertumbuhan lamun yang ada di Pantai Tasik Ria lebih kecil dari pada yang ada di Pantai Kahona. Hal ini disebabkan aktivitas masyarakat yang datang berwisata yang tidak sengaja merusak lamun serta ekosistem terumbu karang yang sudah rusak tidak mampu menahan kuatnya arus dan sampah yang terbawa. Sedangkan di Pantai Kahona ini merupakan daerah perlindungan laut yang masih jarang wisatawan walaupun sudah menjadi daerah ekowisata sehingga kondisi di Pantai Kahona masih baik dan terjaga, bukan hanya ekosistem lamunnya tapi juga ekosistem mangrove dan terumbu karang.Kata Kunci : Morfometrik, Halophila ovalis, Pantai Kahona, Pantai Tasik Ria
Marine Debris Composition on Tasik Ria Beach, Tombariri, Minahasa Regency Silvia A. Bangun; Joudy R.R. Sangari; Frans F. Tilaar; Silvester B. Pratasik; Meiske S. Salaki; Wilmy Pelle
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23411

Abstract

Indonesia is referred to as the second largest contributor of marine plastic waste in the world after China, with an estimated 0.48-1.29 million metric tons per year (Jambeck et al, 2015). The main problem today is the lack of information about pollution of marine debris on the coast, especially in North Sulawesi. This study aims to identify the type of marine debris on Tasik Ria Beach using the transect line observation method. Observation of marine debris was carried out 5 times with a total of 10 transects between February and April 2019. Data analysis was carried out using several software namely Microsoft Excel, Statgraphics, and JMP. The analysis technique used is EDA (Exploratory Data Analysis) with GDA (Graphical Data Analysis) as the main approach. Of the various types of debris obtained, plastic debris is the most commonly found, as many as 189 items, followed by glass 97 items, wood and derivatives of 11 items, rubber 5 items and clothes 2 items. Based on the results of the study, the type of macro debris is the most common category of debris at the study site. The total number of macro-debris collected in ten observation transects was 316 items with a total weight of 118.62 gr/m2, while meso-debris had only 6 items with a total weight of 7.18 gr/m2. The percentage of macro-debris composition found on Tasik Ria beach is plastic (58.15%), glass (29.85%), metal (6.52%), wood and derivatives (3.42%), rubber (1, 55%) and clothes (0.62%). These results can illustrate the potential for events where plastic is the dominant component of marine debris on the coast, specifically in the District of Tombariri, Minahasa Regency.Keywords: Marine debris, Macro-debris, Category, Composition, Tasik Ria ABSTRAKIndonesia disebut sebagai kontributor sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dengan estimasi 0,48-1,29 juta metrik ton per tahun (Jambeck et al, 2015). Masalah utama dewasa ini adalah kurangnya informasi mengenai pencemaran sampah laut di pantai, khususnya di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis sampah laut di Pantai Tasik Ria dengan menggunakan metode pengamatan garis transek. Pengamatan sampah laut dilakukan sebanyak 5 kali dengan total 10 transek antara bulan Februari hingga April 2019. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu Microsoft Excel, Statgraphics, dan JMP. Adapun tehnik analisis yang digunakan adalah EDA (Exploratory Data Analysis) dengan pendekatan utama yaitu, GDA (Graphical Data Analysis). Dari berbagai semua jenis sampah yang didapatkan, sampah plastik merupakan yang paling banyak ditemukan yaitu sebanyak 189 item, diikuti kaca 97 item, kayu dan turunannya 11 item, karet 5 item dan terakhir pakaian 2 item. Berdasarkan hasil penelitian, jenis sampah makro merupakan ukuran sampah yang paling banyak ditemukan di lokasi penelitian. Jumlah total makro-debris yang dikumpulkan di sepuluh transek pengamatan adalah sebanyak 316 item dengan bobot total 118,62 gr/m2, sedangkan meso-debris hanya terdapat 6 item dengan bobot total 7,18 gr/m2. Persentase komposisi makro-debris yang terdapat di pantai Tasik Ria adalah plastik (58,15%), kaca (29,85%), logam (6,52%), kayu dan turunannya (3,42%), karet (1,55%) dan pakaian (0,62%). Hasil ini dapat menggambarkan potensi kejadian dimana plastik menjadi komponen sampah laut dominan di pantai, secara khusus di Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa.Kata kunci: Sampah laut, Makro-debris, Jenis, Komposisi, Tasik-Ria
An Assessment of Mangrove Rehabilitation Programs in Bolaang Mongondow Selatan Regency, North Sulawesi Rignolda Djamaluddin
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27596

Abstract

While the results of many mangrove rehabilitation efforts have not been optimal due to various factors, the rate of mangrove forest deforestation remains high in Indonesia. This research was designed to test the principle “planting certain mangrove seedlings on suitable habitat would be survived”. The test was based on an assessment of six locations in Bolaang Mongondow Selatan Regency where mangrove rehabilitation programs were implemented. This assessment was conducted by using a spot check method to analyze any variables associated with plantation area feasibility, and the use of a participative approach to collect additional information. Results from this study confirmed that mangrove seedlings have to be planted on the right habitat and that the implemented rehabilitation programs have followed a try and error or speculative approach, and have not been supported by sufficient technical and theoretical competencies. Keywords: artificial plantation, natural regeneration, mangrove, rehabilitation        Deforestasi hutan mangrove di Indonesia berlangsung cepat, sementara itu banyak upaya rehabilitasi belum memberikan hasil yang optimal karena berbagai faktor. Penelitian ini menguji secara khusus prinsip “benih yang ditanam di tempat yang cocok akan tumbuh”, melalui penilaian enam lokasi program rehabilitasi mangrove di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Penilaian dilakukan menggunakan metode pengecekan lapangan (on spot check) untuk menganalisis variabel-variabel yang berkaitan dengan kelayakan lahan tanam, dan pengumpulan informasi melalui pendekatan partisipatif. Hasil penelitian menegaskan bahwa “jenis bibit yang ditanam harus sesuai dengan lahan tanam”. Upaya penanaman yang dilakukan masih menggunakan pendekatan coba-coba atau spekulatif, dan tidak didukung pemahaman teknis maupun teoritis yang memadai.Kata kunci: mangrove, penanaman artifisial, regenerasi alami, rehabilitasi

Filter by Year

2012 2025