cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Shautut Tarbiyah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Shautut Tarbiyah adalah satu dari banyak jurnal yang ada di IAIN Kendari yang membahas Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
Dinamika Pembelajaran PAI di Era Digital (Studi di MTsN Wawotobi, Kabupaten Konawe) Sastriyani Sastriyani
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.748 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.925

Abstract

Abstrak            Pembelajaran pendidikan agama Islam di madrasah merupakan upaya penyampaian ajaran-ajaran agama Islam dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan ini, ajaran-ajaran agama Islam dapat sampai kepada peserta didik, tidak hanya sekedar doktrin tetapi juga diiringi dengan pembentukan sikap kritis. Aktor yang memegang peran sangat penting adalah guru. Kompetensi pada berbagai bidang menjadi tuntutan bagi guru PAI saat ini, seiring dengan kompleksitas dari peserta didik. Madrasah Tsanawiyah Negeri Wawotobi menjadi fokus dalam artikel ini karena menunjukkan kecenderungan sangat adaptif terhadap perkembangan terkini, terutama pada peserta didik. Akses yang sangat besar terhadap sumber-sumber digital melalui kepemilikan smartphone menjadi pemicu loncatan kritisisme peserta didik. Sehingga guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi pembelajaran, tetapi telah tersandingkan dengan sumber-sumber digital. Sehingga masalah yang dapat diajukan adalah "bagaimana iklim pembelajaran PAI di tengah suasana serba digital? bagaimana kesiapan guru PAI dalam menanggapi animo digital siswa? bagaimana dukungan kebijakan sekolah dalam konteks pembelajaran era digital?. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif denga metode deskriptif, di mana peneliti menjadi instrumen utama dalam melakukan pengamatan terlibat, wawancara mendalam, dan mengkaji dokumen. Data dianalisis melalui proses reduksi, display, dan verifikasi. Selanjutnya dilakukan member check, trianggulasi, perpanjangan pengamatan dan meningkatkan ketekunan. Hasil penelitian menunjukkan iklim belajar Pendidikan Agama Islam tidak menentu dan tidak kondusif, rendahnya kesiapan guru PAI dalam menghadapi percepatan perkembangan siswa, dan kebijakan sekolah belum terumuskan dengan baik dalam kontek pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam, Era Digital, Profesi GuruAbstract            The learning of Islamic education in madrasah is an effort to convey the teachings of Islam in the learning process. Through this activity, the teachings of Islam can reach the learners, not just doctrine but also accompanied by the formation of a critical attitude. The actor who plays a very important role is the teacher. Competence in various fields becomes a demand for current PAI teachers, along with the complexities of learners. Wawotobi State Madrasah Tsanawiyah is the focus of this article because it shows a very adaptive tendency towards recent developments, especially in learners. The enormous access to digital resources through ownership of smartphones is a trigger for the leap of criticism of learners. So the teacher is no longer the only source of learning information, but has been matched with digital sources. So the problem that can be asked is "how is the learning climate of PAI in the middle of all digital atmosphere? How is the readiness of PAI teacher in response to student digital animo? How is the support of school policy in context of learning of digital era ?. This research uses qualitative approach with descriptive method, become the main instrument in conducting observations, in-depth interviews, and reviewing documents The data are analyzed through the process of reduction, display and verification, followed by member check, trianggulation, extension of observation and increasing persistence. The results show that the learning climate of Islamic Education is uncertain and not conducive, low readiness of PAI teacher in facing acceleration of student development, and school policy not yet well formulated in context of learning of Islamic Religious Education Keywords: Islamic Education, Digital Era, Teacher Profession
Menggerakkan Potensi Kebinekaan Nasional untuk Perbaikan Kualitas Pemilihan Umum Ridwan Ridwan
Shautut Tarbiyah Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.505 KB) | DOI: 10.31332/str.v23i2.705

Abstract

Abstrak            Tatanan kehidupan demokratis mensyaratkan sirkulasi kekuasan dan kepemimpinan secara berkala, yang secara umum disepakati dalam istilah pemilihan umum. Hal ini merupakan salah satu jalan yang harus ditempuh untuk kehidupan bangsa yang lebih baik. Bangsa Indonesia yang telah mengalami transisi demokrasi yang cukup panjang, tentu tidak dapat berbalik arah ataupun prustasi, sehingga kembali kepada otoritarinisme. Perbaikan kualitas pemilu harus terus menerus digiatkan pada seluruh level, dengan cara menggairahkan modal-modal sosial yang dimiliki. Wilayah yang sangat luas, penduduk yang banyak, harus dapat didorong untuk menjadi pilar perbaikan kualitas pemilihan umum.  Kata kunci: Kebinekaan, Pemilihan Umum, Demokrasi Abstract            The order of democratic life requires the circulation of power and leadership on a regular basis, which is generally agreed upon in terms of elections. This is one way to go for a better nation life. Indonesian people who have undergone a long democratic transition, certainly can not reverse direction or prustasi, so back to otoritarinisme. Improving the quality of elections should be continuously intensified at all levels, by stimulating the social capital they possess. A vast territory, a large population, should be encouraged to be a pillar of improving the quality of elections. Keywords: Diversity, General Election, Democracy
Perilaku Sukarela di Pesantren: Karakter Langka di tengah Pusaran Pragmatisme SDM Lembaga Pendidikan Badarwan Badarwan
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.607 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.921

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara memiliki berbagai kearifan yang tetap relevan dalam menjawab persoalan pada lembaga pendidikan. Tumbuhnya berbagai lembaga pendidikan, yang mengusung tema-tema kemajuan, membuat pesantren mendapat stigma sebagai pendidikan masyarakat pinggiran atau disebut juga fenomena desa. Tetapi secara perlahan pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan terkini, dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain. Bahkan muncul fenomena "arus balik" masyarakat modern yang berlomba menitipkan anak mereka ke pesantren ataupun sekolah sehari penuh. Sisi lain pesantren yang unik dan menarik adalah sikap sukarelawan yang banyak ditunjukkan oleh pengelola pondok maupun lulusan pondok. Hal ini dapat dilihat paling tidak pada dua pesantren di Sulawesi Tenggara, yakni PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin dan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7 yang mengusung tema modernitas yang dipersepsikan  kalangan terntu sebagai pesantren "mahal", tetap menunjukkan jati diri sebagai pesantren yang memiliki tanggungjawab memajukan umat Islam dan mencari ridha Allah. Sikap sederhana ditunjukkan oleh pimpinan pondok dan jajaran guru, dan terutama dalam kajian ini adalah semangat menyerahkan diri untuk mengabdi kepada pesantren, dengan imbalan yang tidak menentu. Hal ini juga diamalkan oleh Pesantren Darul Mukhlisin. Dalam kondisi penuh sahaja, segenap pengasuh pesantren berupaya memberikan kinerja terbaik dalam melayani santri. Sikap dari dua pesantren ini terbangun di atas nilai dasar yang kuat, yaitu nilai teo-sosiologis. Nilai-nilai itu terus direproduksi dari generasi ke generasi, sehingga berdampak sikap empati pada pekerjaan, kinerja terbaik, terlibat penuh, dan menerima keterbukaan.   Kata Kunci: Perilaku Sukarela, Pengelolaan PesantrenPesantren as the oldest educational institution in the archipelago has various wisdom that remains relevant in answering the problems at educational institutions. The growth of various educational institutions, which carries the themes of progress, make pesantren get stigma as suburban society education or also called village phenomenon. But slowly pesantren can adapt to the latest developments, and able to compete with other educational institutions. Even emerging phenomenon of "backflow" modern society who race to entrust their child to boarding school or school all day. The other side of the unique and interesting pesantren is the volunteer attitude shown by the cottage managers and the cottage graduates. This can be seen in at least two pesantren in Southeast Sulawesi, namely PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin and Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7, which carries the theme of modernity perceived by terntu as an "expensive" pesantren, still shows identity as a boarding school which has the responsibility of advancing Muslims and seeking Allah's approval. Simple attitude is shown by the leadership of the hut and the ranks of teachers, and especially in this study is the spirit of surrender to serve pesantren, with uncertain rewards. It is also practiced by Darul Mukhlisin Pesantren. In full condition, all pesantren caregivers strive to provide the best performance in serving students. Attitudes of these two pesantrens awakened on a strong foundation value, namely the theo-sociological value. Those values are continuously reproduced from generation to generation, impacting empathy on work, best performance, full engagement, and openness.Keywords: Voluntary behavior, Pesantren Management
Efektifitas Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada Madrasah Aliyah Al Azhar Amondo Akib Akib
Shautut Tarbiyah Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.542 KB) | DOI: 10.31332/str.v23i2.632

Abstract

Salah satu model manajemen yang memberikan kewenangan yang luas kepada sekolah untuk pengelolaan sekolah sesuai dengan potensi, harapan dan kebutuhan sekolah adalah Manajemen Berbasis Sekolah. (MBS) Tujuannya MBS adalah untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan secara profesional, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dan stakeholders. Tujuan penelitian ini untuk melakukan analisis terhadap Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah pada MA Al-Azhar Amondo. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah pada MA Al-Azhar Amondo adalah : 1) Bidang kurikulum meliputi analisis materi pelajaran, program tahunan, program semesteran, satuan pembelajaran, dan rencana program pembelajaran.2) Bidang kesiswaan meliputi perencanaan penerima siswa baru, kegiatan masa orentasi siswa, penetapan siswa pada kelas tertentu, kehadiran dan disiplin siswa di sekolah, dan program bimbingan konseling bagi siswa yang memiliki kelainan.3) Bidang Kepegawaian meliputi: perencanaan pengembangan guru, pelaksanaan penataran, MGMP, pendidikan lanjutan dan supervisi.4) Bidang keuangan meliputi penyususnan RAPBS, pendekatan dengan pengusaha, pembuatan proposal.5) Bidang sarana dan prasarana meliputi pengelolaan gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta alat-alat dan media pengajaran, dan 6) Bidang hubungan masyarakat meliputi: melakukan pendekatan dengan orangtua siswa untuk mensosialisasi program sekolah, melakukan pendekatan kepada pemerintah dan pihak swasta untuk memberikan kontribusi terhadap sekolah.Kata Kunci: Efektivitas, Implementasi,  Manajemen Bebasis Sekolah,  MA Al-Azhar Amondo
Perjumpaan Demokrasi, Multikulturalisme dan Inklusifisme Pendidikan di PM Gontor 7 Putera, Konawe Selatan Syahrul Syahrul
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.047 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.926

Abstract

Abstrak            Pendidikan adalah invenstasi jangka panjang sebuah bangsa. Sebelum masa keterpurukan akibat perang dunia, pertama hingga kedua, pendidikan menjadi tonggak kemasyhuran bangsa-bangsa besar. Sejak kejayaan Mesir kuno, peradaban Islam di Irak dan Spanyol, hingga revolusi juli, adalah bentangan kekuatan pendidikan. Gemerlap politik global terkadang mengalihkan perhatian negara kepada persoalan politik, hingga menampilkan parade kekuatan dominatif suatu bangsa atas bangsa lain. Produk-produk dari usaha pendidikan menjadi alat penebar arogansi antar bangsa. Namun, setelah perang dunia kedua, Jepang misalnya, melakukan reposisi nasional dari kecenderungan ekspansif ke pembangunan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan. Hasilnya, Jepang melejit sangat cepat hingga saat ini. Artikel ini berupaya menjelaskan bahwa melalui pendidikan, persoalan-persoalan sosial dapat diurai. Gagasan pendidikan pada dasarnya untuk kepentingan kemanusiaan menyeluruh, sehingga tidak hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu. Demikian juga sekat-sekat geografis, demografis dan politis, melebur ketika berada dalam lembaga pendidikan. Bangsa Indonesia yang pernah dijajah beberapa abad, ketika menghirup udara kemerdekaan, tidak menampilkan dendam kepada negara bekas penjajah. Pendidikanlah yang mengajarkan para pendiri bangsa bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Bahkan Indonesia harus aktif dalam pergaulan antar bangsa, memelopori perdamaian dunia. Para pendiri bangsa kebanyakan berlatar pendidikan khas Indonesia, seperti pesantren. Salah satunya adalah PM Gontor, yang dalam berbagai gerak pendidikannya, menunjukkan kemampuan mempertemukan demokrasi, multikulturalisme, inklusifisme.Kata Kunci:   Demokrasi, Multikulturalisme, Inklusifisme, PesantrenAbstract            Education is a long-term investment of a nation. Before the downturn caused by the world war, first to second, education became the cornerstone of the great nations. Since the glory of ancient Egypt, Islamic civilization in Iraq and Spain, until the July revolution, is a stretch of educational power. The glitter of global politics sometimes diverts the country's attention to political issues, to the parade of a nation's dominating power over other nations. The products of the educational endeavor become a means of spreading the arrogance between nations. However, after the second world war, Japan for example, made a national reposition of the expansionary tendency to the development of Human Resources through education. As a result, Japan skyrocketed very quickly to this day. This article seeks to explain that through education, social issues can be broken down. The idea of education is basically for the sake of humanity is comprehensive, so it is not only accessible to certain groups. Likewise geographic barriers, demographics and politics, merge when in an educational institution. The Indonesian nation that had been colonized for centuries, when it breathed freedom of air, did not show a grudge against the former colonial country. It is education that teaches the founders of the nation that freedom is the right of all nations, as opposed to the principles of humanity. Even Indonesia must be active in the inter-nation association, pioneering world peace. The founders of the nation are mostly educational backgrounds typical of Indonesia, such as boarding schools. One of them is PM Gontor, who in various educational movements, demonstrates the ability to bring together democracy, multiculturalism, inclusiveness.Keywords: Democracy, Multiculturalism, Insclusivess, Pesantren
KREATIVITAS TARI PADA ANAK USIA DINI Laode Anhusadar
Shautut Tarbiyah Vol 22, No 1 (2016): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v22i1.735

Abstract

Menari adalah aktivitas menggerakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan, merespon musik, dan mencurahkan perasaan. Tujuan pembelajaran seni tari adalah untuk mendemonstrasikan suatu ketrampilan motorik (misalnya berlari, melompat, meloncat dan lain-lain), melatih keseimbangan saat bergerak, menempatkan diri dalam peran dan situasi tertentu serta memahami dan mengikuti instruksi.Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan seni, memiliki keragaman jenis, namun tidak semua kegiatan menari sesuai untuk anak usia dini. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan. Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak usia dini sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami
AN ANALYSIS ADDRESS TERMS OF TOLAKI LANGUAGE Haslan Haslan
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.466 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.922

Abstract

Abstract            The research focused on address term of Tolaki language which is conducted among the people who include in family. Which, the main objectives of the research namely (1) to find out the data about the address terms of Tolaki language (2) to describe the use of every address terms of Tolakinese society in their daily social interaction. This research uses qualitative descriptive analysis by applying some techniques of collecting data namely ( 1) Observation and participation (2) Noting. After the data being collected, the writer analyzes them through the following steps: (1) Transcribing the data, (2) Making classification of gathered data relating to address terms, (3) Making description for last generalization objectively based on the script of data will be gotten in the field of the research. The result of this research shows that there are  thirty kinds of address terms of Tolaki language gathered in this research namely pue, mbue, ina, ama, naina, ma’ama, awo, awo langgai, awo ndina, ma’ama awo, naina awo, ama awo, ina awo, ka’aka awo, hai awo, pue awo, wali baisa, Ela, hine, bea, asa, sege, bio, wuto, tina, tie, mburi, ana, ka’aka and hai. Key Words: Tolaki, Address Term, Language
FENOMENA ORANG TUA DALAM MEMILIH LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM (Studi Pada MIS Pesantren Ummushabri Kendari) Erdiyanti Erdiyanti
Shautut Tarbiyah Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.076 KB) | DOI: 10.31332/str.v23i2.633

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan motif orangtua siswa di Kota Kendari dalam memilih lembaga pendidikan bagi putra-putri mereka, apa motif para orangtua siswa memilih lembaga MIS Pesri Kendari dan bagaimana persepsi orangtua terhadap Pesantren Ummushabri Kendari sebagai lembaga penyelenggara pendidikan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan tradisi  fenomenologi. Penelitian ini diadakan pada pesantren Ummusshabri Kendari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para orangtua siswa di Madrasah Ibtidayah Swasta Pesri Kendari ketika memilih MIS Pesri Kendari sebagai tempat untuk menuntut ilmu bagi putra-putri mereka memiliki motif yang terdiri dari yakni; motif Idiologis, motif edukasi, motif strukturalis, motif ekonomi serta motif fragmatis. Penelitian ini juga menemukan dua bentuk persepsi orangtua siswa terhadap lembaga pendidikan MIS Pesri  Kendari yakni persepsi positif dan persepsi negatif. Persepsi positif terbentuk ketika para orangtua siswa melihat hal-hal yang sangat baik terhadap kebijakan yang dilakukan pihak manajemen Pesri terutama dalam proses penyelenggaran pendidikan. Sedangkan persepsi negative adalah persepsi yang lahir dari para orangtua siswa ketika mereka melihat belum maksimalnya dalam pengelolaan lembaga pendidikan  yang dilakukan oleh pihak manajemen pesantren Ummusshabri Kendari, termasuk pengelolaan sarana dan prasarana pendidikannya. Namun para orangtua siswa mengakui bahwa persepsi negatif tersebut tidak mempengaruhi untuk tetap memilih MIS Pesri Kendari sebagai tempat bagi putra-putri mereka menuntut ilmu. Kata Kunci : Fenomena Orang Tua, Lembaga Pendidikan Islam
Peningkatan Keaktifan Belajar IPS Sejarah Melalui Model Pembelajaran Index Card Match (ICM) pada Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 4 Pasarwajo Tahun Ajaran 2014/2015 La Hamu La Hamu
Shautut Tarbiyah Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.182 KB) | DOI: 10.31332/str.v23i2.738

Abstract

Siswa sangat diharapkan turut terlibat aktif dalam pembelajaran. Aktivitas siswa kelas VIII C SMP Negeri 4 Pasarwajo dalam kegiatan pembelajaran belum maksimal. Rendahnya tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran guru lebih menguasai kelas dan sedikit siswa memiliki kesempatan mengembangkan argumennya. Akibatnya siswa tidak mengetahui materi cenderung diam dan tidak bertanya. Selain itu, siswa kurang konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran sejarah dan memiliki sifat lupa, sehingga perlu adanya peninjauan ulang terhadap materi yang dijelaskan guru. Melalui penelitian tindakan kelas Siswa kelas VIII C SMP Negeri 4 Pasarwajo tahun ajaran 2014/2015 diajak untuk bangkit dan semangat belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan strategi pembelajaran aktif index card match dalam pembelajaran IPS Sejarah dapat meningkatkan keaktifan siswa, dan hasil belajar dalam proses pembelajaran. Tahapan pra siklus diperoleh keaktifan siswa dengan sebesar 52,85%. Setelah siklus I keaktifan siswa dengan menjadi 57,14%. Pada siklus II keaktifan siswa mencapai indikator, yakni 85,71%.Kata kunci :   Keaktifan Siswa, Strategi Pembelajaran Aktif Index Card Match
Menjaga Tradisi Islam Orang Tolaki melalui Pengenalan Al Qur'an pada Masyarakat di Kelurahan Bungguosu, Konawe Sabdah Sabdah; Sastramayani Sastramayani
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.738 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.923

Abstract

Abstrak            Mengidentifikasi orang Tolaki sebagai orang Islam memiliki dasar yang sangat kuat. Tidak hanya karena mayoritas dari etnik ini memeluk Islam, tetapi dari segi kesejarahan, pertemuan Orang Tolaki dengan Islam melampaui masa pertemuan dengan agama-agama lain yang diakui hari secara nasional. Deviasi sejarah memang tidak dapat dihindarkan, bahwa akhirnya orang Tolaki akhirnya melakukan konversi agama akibat zending pada zaman kolonial Belanda, maupun saat ini dengan berbagai motif. Akan tetapi stigma bahwa orang Tolaki adalah pemeluk Islam tetaplah kuat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini melakukan kajian pada beberapa tinjauan: 1) pergulatan orang Tolaki dalam mendekati Al Qur'an; 2) Tradisi Islam yang hidup dalam Masyarakat Tolaki; 3) menjaga tradisi Islam melalui pembelajaran Al Qur'an. Kelurahan Bungguosu menjadi sorotan dalam artikel ini disebabkan geliat yang sangat kuat dalam menggerakkan kegiatan pembelajaran Al Qur'an yang menyatu dengan tradisi lokal. Temuan penelitian ini menunjukkan: 1) pergulatan orang Tolaki dalam mendekati Al Qur'an membentang masa yang cukup panjang, sejak awal perjumpaan dengan Islam, kemudian dinamika berubah ketika jaman kemerdekaan, orde lama, orde baru; dan era reformasi hingga kini. 2) Tradisi Islam yang hidup pada masyarakat Tolaki cukup kaya, merupakan hasil perjumpaan ajaran Islam dengan tradisi lokal yang baik. 3) Pembelajaran Al Qur'an menjadi pilihan strategis dalam menjaga tradisi Islam orang Tolaki.Kata Kunci: Tolaki, Tradisi Islam, Kearifan LokalAbstract            Identifying Tolaki people as Muslims has a very strong basis. Not only because the majority of these ethnic groups embrace Islam, but in terms of historicity, the meeting of Orang Tolaki with Islam goes beyond the period of meeting with other recognized religions nationally. Historical deviation is inevitable, that finally the Tolaki finally convert religion due to zending in the Dutch colonial era, and now with various motives. But the stigma that Tolaki people are Muslims is still strong. Using a qualitative approach, this study conducts studies on several reviews: 1) the Tolaki people's struggle in approaching the Qur'an; 2) Islamic traditions that live in Tolaki Society; 3) safeguarding the Islamic tradition through learning the Qur'an. Kelurahan Bungguosu into the spotlight in this article due to very strong geliat in moving the learning activities of the Qur'an that blends with local traditions. The findings of this study show: 1) the Tolaki people's struggle in approaching the Qur'an stretches a fairly long period, from the beginning of encounter with Islam, then dynamics changed as the era of independence, the old order, the new order; and the reform era up to now. 2) The Islamic tradition that lives on Tolaki people is quite rich, is the result of encounter of Islamic teachings with good local traditions. 3) The study of the Qur'an becomes a strategic choice in safeguarding the Tolaki Islamic tradition. Keywords: Tolaki, Islamic Tradition, Local Wisdom

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 31 No. 1 (2025): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tra Vol. 30 No. 2 (2024): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tra Vol 30, No 2 (2024): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 29, No 2 (2023): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 29, No 1 (2023): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 28, No 2 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 28, No 1 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 27, No 2 (2021): Pendekatan Transdisipliner dalam Pendidikan Islam di Era 4.0 Vol 27, No 1 (2021): Pendidikan Islam di Era 4.0 Vol 26, No 2 (2020): Education in Islamic Societies Vol 26, No 1 (2020): Education in Islamic Societies Vol 25, No 2 (2019): Kependidikan Vol 25, No 1 (2019): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 39, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 38, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 24, No 2 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 24, No 2 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 23, No 1 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 22, No 2 (2016): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2016): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 21, No 2 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 21, No 1 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 20, No 2 (2014): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 20, No 1 (2014): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 19, No 2 (2013): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 19, No 1 (2013): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 18, No 2 (2012): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 18, No 1 (2012): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 17, No 2 (2011): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 17, No 1 (2011): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 16, No 2 (2010): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 16, No 1 (2010): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 15, No 2 (2009): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 15, No 1 (2009): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan More Issue