cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Shautut Tarbiyah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Shautut Tarbiyah adalah satu dari banyak jurnal yang ada di IAIN Kendari yang membahas Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
Perilaku Siswa Pengguna Handphone di SMP Negeri Satu Atap Waangu Angu Kabupaten Buton Jalil Jalil
Shautut Tarbiyah Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.309 KB) | DOI: 10.31332/str.v23i2.634

Abstract

Perilaku siswa SMP Negeri Satu Atap Waangu Angu Kabupaten   Buton yang dilatarbelakangi dengan adanya modernisasi mengakibatkan banyak para siswa yang menggunakan Hand Phone (HP) untuk mempermudah komunikasi, informasi dan interaksi. Namun dalam penggunaan HP terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan pendidikan siswa serta waktu yang tepat sehingga terjadilah pergeseran nilai dan karakter siswa yang mengakibatkan perubahan perilaku siswa pengguna HP yang tidak jujur, disiplin, dan tanggung jawab. Walaupun peraturan mengenai larangan membawa dan menggunakan HP di sekolah sudah disosialisasiakan namun tidak jarang ditemui masih ada siswa yang melanggar peraturan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,  masih adanya siswa yang membawa dan menggunakan handphone di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas, akibatnya  dapat mengganggu proses belajar  mengajar dan tidak mencapai ketuntasan dalam mengikuti pelajaran. Mengatasi kondisi demikian telah dilakukan berbagai macam upaya yang dilakukan baik oleh pihak sekolah dan pemerintah daerah melalui penerapan peraturan baik secara tertulis maupun secara lisan termasuk sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan siswa serta pendekatan kepada orang tua siswa.Kata Kunci : Perilaku, Siswa, Pengguna, Handphone
Kebijakan Pendidikan di Sulawesi Tenggara (Memadu Mutu, Afirmasi, dan Partisipasi) Edy Karno
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.755 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.952

Abstract

Abstrak            Politik dan pendidikan dapat menyatu dalam sebuah ruang kebijakan pendidikan. Orientasi ideal politik untuk kemaslahatan manusia dapat terjawab melalui perlakuan baik pada pendidikan. Hal ini dibuktikan oleh provinsi Sulawesi Tenggara melalui kebijakan afirmasi dalam bentuk pemberian beasiswa bagi masyarakat berprestasi. Kebijakan ini diwujudkan dalam program Cerdas Sultraku sejak 2011 dibawah komando Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam. Kebijakan ini telah menjembatani ribuan pemuda potensial Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan pendidikan, pada jenjang menengah maupun pendidikan tinggi. Tulisan ini hanya meropong implementasi kebijakan ini pada jenjang pendidikan tinggi, yang mencakup empat aspek yakni: kebijakan afirmatif pendidikan di Sulawesi Tenggara; peraturan kendali mutu bagi penerima beasiswa masyarakat berprestasi; kompetensi target bagi penerima beasiswa masyarakat berprestasi; dan keterpakaian lulusan program beasiswa masyarakat berprestasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, peneliti melakukan pembacaan dokumen dan melakukan wawancara dengan berbagai sumber relevan, untuk mendalami kebijakan pemberian beasiswa masyarakat berprestasi di Sulawesi Tenggara. Melalui proses reduksi, display, dan verifikasi, penelitian menghasilkan temuan-temuan antara lain: pertama, kebijakan afirmatif pendidikan di Sulawesi Tenggara didasarkan pada sebuah peraturan gubernur Sulawesi Tenggara; kedua, peraturan kendali prestasi ditetapkan dalam sebuah keputusan rektor; ketiga, kompetensi target meliputi aspek akademik, penguasaan bahasa asing, akhlak mulia, dan penguasaan IT; keempat, keterpakaian lulusan penerima beasiswa masyarakat berprestasi masih rendah, terutama pada instansi-instransi pemerintah, baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Kata Kunci: Kebijakan Pendidikan, Mutu, AfirmasiAbstract            Politics and education can unite in an educational policy space. The ideal political orientation for human benefit can be answered through good treatment of education. This is evidenced by the province of Southeast Sulawesi through affirmation policy in the form of scholarships for outstanding community. This policy is realized in the "Cerdas Sultraku" program since 2011 under the command of Southeast Sulawesi Governor, Nur Alam. This policy has bridged thousands of potential youths of Southeast Sulawesi to get education, at both middle and higher education levels. This paper only discusses the implementation of this policy at higher education level, which includes four aspects namely: affirmative education policy in Southeast Sulawesi; quality control regulations for awardees of excellent community scholarships; target competencies for awardees of excellent community scholarships; and the application of graduates of excellent scholarship program. Using a qualitative approach and descriptive method, the researcher conducted document readings and conducted interviews with various relevant sources, to explore the scholarship policy of outstanding community in Southeast Sulawesi. Through the process of reduction, display, and verification, the research produced findings such as: first, the affirmative education policy in Southeast Sulawesi was based on a governance regulation of Southeast Sulawesi; second, the rules of achievement control are defined in a rector's decision; third, target competencies include academic aspects, foreign language proficiency, noble character, and mastery of IT; fourth, the graduation of graduate recipients of underachievers is still low, especially in government agencies, both provincial and district / city levels. Keywords: Education Policy, Quality, Affirmation
Kebijakan Pendidikan di Sulawesi Tenggara (Memadu Mutu, Afirmasi, dan Partisipasi) Karno, Edy
Shautut Tarbiyah Vol 38, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.818 KB)

Abstract

Abstrak            Politik dan pendidikan dapat menyatu dalam sebuah ruang kebijakan pendidikan. Orientasi ideal politik untuk kemaslahatan manusia dapat terjawab melalui perlakuan baik pada pendidikan. Hal ini dibuktikan oleh provinsi Sulawesi Tenggara melalui kebijakan afirmasi dalam bentuk pemberian beasiswa bagi masyarakat berprestasi. Kebijakan ini diwujudkan dalam program Cerdas Sultraku sejak 2011 dibawah komando Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam. Kebijakan ini telah menjembatani ribuan pemuda potensial Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan pendidikan, pada jenjang menengah maupun pendidikan tinggi. Tulisan ini hanya meropong implementasi kebijakan ini pada jenjang pendidikan tinggi, yang mencakup empat aspek yakni: kebijakan afirmatif pendidikan di Sulawesi Tenggara; peraturan kendali mutu bagi penerima beasiswa masyarakat berprestasi; kompetensi target bagi penerima beasiswa masyarakat berprestasi; dan keterpakaian lulusan program beasiswa masyarakat berprestasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, peneliti melakukan pembacaan dokumen dan melakukan wawancara dengan berbagai sumber relevan, untuk mendalami kebijakan pemberian beasiswa masyarakat berprestasi di Sulawesi Tenggara. Melalui proses reduksi, display, dan verifikasi, penelitian menghasilkan temuan-temuan antara lain: pertama, kebijakan afirmatif pendidikan di Sulawesi Tenggara didasarkan pada sebuah peraturan gubernur Sulawesi Tenggara; kedua, peraturan kendali prestasi ditetapkan dalam sebuah keputusan rektor; ketiga, kompetensi target meliputi aspek akademik, penguasaan bahasa asing, akhlak mulia, dan penguasaan IT; keempat, keterpakaian lulusan penerima beasiswa masyarakat berprestasi masih rendah, terutama pada instansi-instransi pemerintah, baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Kata Kunci: Kebijakan Pendidikan, Mutu, AfirmasiAbstract            Politics and education can unite in an educational policy space. The ideal political orientation for human benefit can be answered through good treatment of education. This is evidenced by the province of Southeast Sulawesi through affirmation policy in the form of scholarships for outstanding community. This policy is realized in the "Cerdas Sultraku" program since 2011 under the command of Southeast Sulawesi Governor, Nur Alam. This policy has bridged thousands of potential youths of Southeast Sulawesi to get education, at both middle and higher education levels. This paper only discusses the implementation of this policy at higher education level, which includes four aspects namely: affirmative education policy in Southeast Sulawesi; quality control regulations for awardees of excellent community scholarships; target competencies for awardees of excellent community scholarships; and the application of graduates of excellent scholarship program. Using a qualitative approach and descriptive method, the researcher conducted document readings and conducted interviews with various relevant sources, to explore the scholarship policy of outstanding community in Southeast Sulawesi. Through the process of reduction, display, and verification, the research produced findings such as: first, the affirmative education policy in Southeast Sulawesi was based on a governance regulation of Southeast Sulawesi; second, the rules of achievement control are defined in a rectors decision; third, target competencies include academic aspects, foreign language proficiency, noble character, and mastery of IT; fourth, the graduation of graduate recipients of underachievers is still low, especially in government agencies, both provincial and district / city levels. Keywords: Education Policy, Quality, Affirmation
Menumbuhkan Motivasi Belajar dalam Rangka Perbaikan Hasil Belajar Peserta Didik Aspian Aspian
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.737 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.935

Abstract

Abstrak            Pembelajaran sebagai salah satu aspek khusus pendidikan dilakukan untuk melakukan perubahan peserta didik pada ranah kognitif, apektif, dan psikomotorik. Perubahan yang diperoleh peserta didik itu dikenal dengan hasil belajar, yang mencakup perubahan kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, perubahan yang nampak akibat proses belajar dapat dilihat dalam bentuk nilai-nilai pada ujian yang diselenggarakan guru secara reguler, dan bersifat jangka pendek. Secara kualitatif, perubahan yang ditimbulkan oleh proses belajar akan nampak pada cara berpikir dan perilaku peserta didik. Aspek ini berdimensi jangka panjang. Perubahan kuantitatif maupun kualitatif ini sangat penting bagi peserta didik sebagai tolok ukur tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Idealitas pembelajaran yang bertujuan merubah manusia harus ditopang oleh variabel-variabel sekolah lainnya. Guru menjadi ujung tombak dalam proses mengubah peserta didik dari satu kondisi ke kondisi lainnya yang lebih baik. Karenanya kompetensi pada aspek pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional tidak boleh hanya dalam wacana. Gerak langkah seorang guru harus menggambarkan kemapanan kompetensinya. Dengan modal itulah guru dapat merancang pembelajaran yang menyenangkan peserta didik, melakukan pengelolaan kelas yang menjamin tercapainya tujuan pembelajaran, memilih pendekatan yang tepat, memahami masalah yang dihadapi peserta didik, menggunakan teknologi pembelajaran terkini, dan mendesain sekolah yang kondusif bersama pimpinan dan komponen sekolah lainnya. Praktik guru yang demikian akan menumbuhkan motivasi belajar pada siswa, tidak hanya pada aspek ekstrinsik, lebih penting lagi adalah dorongan yang berasal dari kesadaran terdalam peserta didik. Bahwa belajar bukanlah semata-mata tuntutan lahiriah atau duniawi, tetapi merupakan kewajiban moral yang bersifat ruhani.Kata Kunci: Motivasi, Hasil Belajar, Kompetensi GuruAbstract            Learning as one of the special aspects of education is done to make changes to learners in the realm of cognitive, apektif, and psikomotorik. The changes that learners gain are known as learning outcomes, which include both quantitative and qualitative changes. Quantitatively, the visible changes due to the learning process can be seen in the form of values on the regular teacher-run, regular, and short-term examinations. Qualitatively, the changes generated by the learning process will appear in the way of thinking and behavior of learners. This aspect is of long-term dimension. This quantitative and qualitative change is very important for learners as a benchmark for achieving educational goals. The ideality of learning aimed at changing human beings must be sustained by other school variables. Teachers become the spearhead in the process of converting learners from one condition to another. Therefore competence in pedagogic, social, personality, and professional aspects should not be solely in discourse. The movement of a teacher's steps should describe the competence of the competitor. With that capital the teacher can design the learning that pleases the learners, manage the classroom to ensure the achievement of learning objectives, choose the right approach, understand the problems faced by learners, use the latest learning technology, and design a conducive school with the leader and other school components. The practice of such teachers will foster students' learning motivation, not only on the extrinsic aspect, more importantly the encouragement that comes from the deepest awareness of learners. That learning is not merely external or worldly demands, but it is a spiritual obligation.Keywords: Motivation, Learning Outcome, Teacher Competence
Kebijakan Pendidikan di Sulawesi Tenggara (Memadu Mutu, Afirmasi, dan Partisipasi) Karno, Edy
Shautut Tarbiyah Vol 38, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.818 KB)

Abstract

Abstrak            Politik dan pendidikan dapat menyatu dalam sebuah ruang kebijakan pendidikan. Orientasi ideal politik untuk kemaslahatan manusia dapat terjawab melalui perlakuan baik pada pendidikan. Hal ini dibuktikan oleh provinsi Sulawesi Tenggara melalui kebijakan afirmasi dalam bentuk pemberian beasiswa bagi masyarakat berprestasi. Kebijakan ini diwujudkan dalam program Cerdas Sultraku sejak 2011 dibawah komando Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam. Kebijakan ini telah menjembatani ribuan pemuda potensial Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan pendidikan, pada jenjang menengah maupun pendidikan tinggi. Tulisan ini hanya meropong implementasi kebijakan ini pada jenjang pendidikan tinggi, yang mencakup empat aspek yakni: kebijakan afirmatif pendidikan di Sulawesi Tenggara; peraturan kendali mutu bagi penerima beasiswa masyarakat berprestasi; kompetensi target bagi penerima beasiswa masyarakat berprestasi; dan keterpakaian lulusan program beasiswa masyarakat berprestasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, peneliti melakukan pembacaan dokumen dan melakukan wawancara dengan berbagai sumber relevan, untuk mendalami kebijakan pemberian beasiswa masyarakat berprestasi di Sulawesi Tenggara. Melalui proses reduksi, display, dan verifikasi, penelitian menghasilkan temuan-temuan antara lain: pertama, kebijakan afirmatif pendidikan di Sulawesi Tenggara didasarkan pada sebuah peraturan gubernur Sulawesi Tenggara; kedua, peraturan kendali prestasi ditetapkan dalam sebuah keputusan rektor; ketiga, kompetensi target meliputi aspek akademik, penguasaan bahasa asing, akhlak mulia, dan penguasaan IT; keempat, keterpakaian lulusan penerima beasiswa masyarakat berprestasi masih rendah, terutama pada instansi-instransi pemerintah, baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Kata Kunci: Kebijakan Pendidikan, Mutu, AfirmasiAbstract            Politics and education can unite in an educational policy space. The ideal political orientation for human benefit can be answered through good treatment of education. This is evidenced by the province of Southeast Sulawesi through affirmation policy in the form of scholarships for outstanding community. This policy is realized in the "Cerdas Sultraku" program since 2011 under the command of Southeast Sulawesi Governor, Nur Alam. This policy has bridged thousands of potential youths of Southeast Sulawesi to get education, at both middle and higher education levels. This paper only discusses the implementation of this policy at higher education level, which includes four aspects namely: affirmative education policy in Southeast Sulawesi; quality control regulations for awardees of excellent community scholarships; target competencies for awardees of excellent community scholarships; and the application of graduates of excellent scholarship program. Using a qualitative approach and descriptive method, the researcher conducted document readings and conducted interviews with various relevant sources, to explore the scholarship policy of outstanding community in Southeast Sulawesi. Through the process of reduction, display, and verification, the research produced findings such as: first, the affirmative education policy in Southeast Sulawesi was based on a governance regulation of Southeast Sulawesi; second, the rules of achievement control are defined in a rectors decision; third, target competencies include academic aspects, foreign language proficiency, noble character, and mastery of IT; fourth, the graduation of graduate recipients of underachievers is still low, especially in government agencies, both provincial and district / city levels. Keywords: Education Policy, Quality, Affirmation
Masyarakat Majemuk dan Dinamika Pendidikan Keagamaan (Kajian di Desa Putemata, Kolaka Timur) Ihwan Fauzi
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.065 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.938

Abstract

Abstrak            Indonesia sebagai negara bangsa ditakdirkan menjadi negara yang penuh kemajemukan. Hal ini menjadi komitmen para pendiri bangsa ketika berikrar menjadikan Indonesia sebagai simpul dari berbagai keragaman. Kesadaran ini sejatinya dalam menjalar ke seluruh tingkat masyarakat. Meskipun demikian, kemajemukan nasional ini mengalami ujian demi ujian untuk semakin menguatkan nasionalisme ke-Indonesia-an. Pada lingkup yang lebih kecil, masyarakat kita di pedesaan secara alamiah menunjukkan kesiapan hidup dalam keragaman. Mereka dapat hidup berdampingan dengan sesama mereka walaupun dengan latar belakang berbeda-beda. Kesahajaan dan kepolosan masyarakat kita di pedesaan sesungguhnya mengirim pesan bahwa kita dapat hidup rukun dan damai ketika kembali kepada semangat dasar persamaan dalam kemanusiaan. Tulisan ini melakukan pembacaan di Desa Putemata yang cukup majemuk dari segi komposisi penduduk, yang terdiri dari etnik Bali, Bugis, dan Tolaki. Realitasnya bahwa Desa Putemata dapat bergerak dengan baik dalam pembangunan meskipun memikul beban kemajemukan. Kajian berkisar pada tiga hal, yakni: kehidupan antar etnik di Putemata, Kehidupan keagamaan masyarakat Putemata, dan Pembinaan agama Islam masyarakat Putemata. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut: pertama, kehidupan antar etnik di Desa Putemata berjalan di atas prinsip-prinsip agama, tradisi, dan budaya masing-masing etnik yang mengajarkan kerukunan dan kedamaian; Kedua, kehidupan beragama maupun ekspresi keagamaan masyarakat Putemata berjalan tanpa hambatan berarti, karena berjalan di atas prinsip toleransi; Ketiga, pembinaan agama Islam di masyarakat Desa Putemata dilakukan oleh para tokoh agama dan mahasiswa yang melakukan pengabdian masyarakat.Kata Kunci: Masyarakat Majemuk, Pendidikan IslamAbstract            Indonesia as a nation state is destined to become a country full of pluralism. This became the commitment of the founders of the nation when it pledged to make Indonesia a knot of diversity. This awareness is true in spreading to all levels of society. Nevertheless, this national pluralism tested by examination to further strengthen Indonesian nationalism. In the smaller sphere, our rural communities naturally show the readiness to live in diversity. They can live side by side with their neighbors though with different backgrounds. The humbleness and innocence of our society in the countryside actually send the message that we can live in harmony and peace when returning to the basic spirit of equality in humanity. This paper reads in Putemata Village which is quite diverse in terms of population composition, which consists of ethnic Balinese, Bugis, and Tolaki. The reality is that Desa Putemata can move well in development despite the burden of pluralism. The study revolves around three things: inter-ethnic life in Putemata, the religious life of the Putemata community, and the promotion of the Islamic religion of Putemata. Using a qualitative approach, this study yielded the following findings: first, inter-ethnic life in Desa Putemata runs on the principles of religion, tradition, and culture of each ethnic group that teaches harmony and peace; Second, the religious life and religious expression of the Putemata society goes without any significant hindrance, as it goes above the principle of tolerance; Third, Islamic religion development in Putemata Village is done by religious leaders and students who do community service.Keywords: Plural Society, Islamic Education
Kepala Sekolah dan Kualitas Sikap pada Tugas Nur, Jabal
Shautut Tarbiyah Vol 39, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.818 KB)

Abstract

Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah.  Dalam pengembangan lembaga pendidikan  dibutuhkan seorang pemimpin sebagai pemegang tanggung jawab utama,  pemimpin pendidikan adalah orang yang penuh  dengan kegiatan (aktif), hampir seluruh kegiataannya adalah mengambil keputusan yang semuanya dilakukan dalam rangkaian pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tuntutan profesionalitas kerja menjadi  salah satu  barometer keberhasilan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, selain itu  dibutuhkan pula penguasaan ilmu  pengetahuan  dan  kemampuan manajemen. Pengetahuan mengenai suatu obyek tidak sama dengan sikap  terhadap objek itu. Pengetahuan saja belum menjadi penggerak, seperti halnya pada sikap, pengetahuan mengenai subyek baru menjadi attitude terhadap subyek tersebut apabila pengetahuan itu disertai dengan kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap suatu obyek. Untuk itu kepala sekolah harus mampu mengarahkan dan mengkoordinir segala kegiatan yang ada sehingga memudahkan melaksanakan tugas-tugas yang ada dalam pendidikan yang salah satunya adalah menyusun program-program yang ada di sekolah karena kepala sekolah berperan penuh terhadap seluruh kegiatan/aktifitas yang dilakukan di dalam sekolah. ada tiga jenis ketrampilan pokok yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, pendidikan yaitu ketrampilan teknis (technical skill), ketrampilan berkomunikasi (human relations skill) dan ketrampilan konseptual (conceptual skill).Kata kunci: Sikap , Profesional, dan Tugas The principal is an education leader who has a very large role in developing the quality of education in schools. In the development of educational institutions, it takes a leader as the main holder of responsibility, education leaders are people who are full of activities (active), almost all of their activities are to make decisions that are all carried out in a series of goals that have been previously set. The demands of work professionalism are one of the barometers of success in carrying out their leadership duties, in addition to that, mastery of knowledge and management capabilities is also needed. Knowledge of an object is not the same as attitude towards that object. Knowledge alone has not become a driver, as in attitude, knowledge about new subjects becomes attitude towards the subject if that knowledge is accompanied by readiness to act in accordance with the knowledge of an object. For this reason, the principal must be able to direct and coordinate all existing activities so that it is easier to carry out the tasks in education, one of which is to arrange programs in the school because the principal has a full role in all activities / activities carried out in the school. . there are three types of basic skills that must be owned by the principal as a leader, education namely technical skills, communication skills (human relations skills) and conceptual skills.Keywords: Attitudes, Professionals, and Tasks
Sistem Informasi berbasis Web dalam Penyelenggaran Lembaga Pendidikan Saidah Laugi
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.462 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.939

Abstract

Abstrak            Penggunaan website dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi tuntutan setiap satuan pendidikan. Tidak hanya dalam rangka merespons kebijakan nasional tentang ICT, tetapi secara substantif berkaitan dengan kebutuhan lalu lintas informasi, baik intenal maupun eksternal lembaga. Praktik ini mesti dapat diturunkan dalam bisnis utama sekolah, yakni proses pembelajaran. Guru masa kini dituntut untuk dapat memanfaatkan website sekolah untuk kepentingan pembelajaran. Juga melakukan inovasi-inovasi pembelajaran berbasis web.Kata Kunci: Pendidikan, Teknologi Informasi, Komunikasi, Website Abstract            The use of the website in the implementation of education to the demands of each educational unit. Not only in response to the national policy on ICT, but substantively related to information traffic needs, both intenal and external agencies. This practice should be derived in the primary business of the school, the learning process. Today's teachers are required to be able to use the school's website for learning purposes. Also do web-based learning innovations. Keywords:     Education, Information Technology, Communication, Website
Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Kendari Erdiyanti, Erdiyanti; Syawal, Sumardin
Shautut Tarbiyah Vol 39, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.818 KB)

Abstract

AbstractThis study aims to determine the effect of emotional intelligence and organizational commitment on teacher performance at SMA Negeri 1 Kendari with the following problem: 1) what is the description of the teacher’s emotional intelligence, the teacher’s organizational commitment, and the teacher’s performance in SMA Negeri 1 Kendari. 2) are there positive and significant influence of emotional intelligence on teacher performance. 3) is there a postive and significant influence on the teacher’s organizational commitment to the performance of teachers in SMA Negeri 1 Kendari. 4) are the positive and significant influences of emotional intelligence and organiztional commitmen on teacher performance SMA Negeri 1 Kendari.This type of research is quantitative research. Data collection techniques used are questionaires and documentation. This study uses a questionnaire technique which is flown from each variable isntrument grid. The analysis technique used is using descriptive statistics and inferential statistical analysis.Based on the result of the study revealed that there is a positive and significant influence on emotional intelligence and organizational commitment to teacher performance in SMA Negeri 1 Kendari. Research results can be proven. Based on the calculation Fcount is greater than Ftable or 38.144>3.32, the Ho is rejected by H1 and received with a significance of 0.000<0.05. and the magnitude of contribution of variables X1 and X2 to variable Y is obtained by the coefficient of determination equal to 0.711 or 71%. Then means that the variables of emotional intelligence and organizational commitment of teachers contribute to improving teacher performance by 71 % and the remaining 29 % is determined by other variables outside the variables studiedKeyword: Emotional Intelligence, Organizational Commitment, and teachers performance AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Kendari dengan sasaran permasalahan (1) Bagaimana gambaran Kecerdasan Emosional Guru, Komitmen Organisasi Guru, dan Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Kendari, (2) Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Guru, (3) Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Komitmen Organisasi Guru Terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Kendari, (4) Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Kendari.Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan sampel 34 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket serta dokumentasi. Penelitian ini menggunakan tehnik angket yang dikembangkan dari kisi-kisi instrument variabel masing-masing. Adapun tekhnik analisis yang digunakan adalah menggunakan statistic deskriptif dan analisis statistic inferensial.Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan  Kecerdasan Emosional dan Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Kendari. Dapat dibuktikandari hasil penelitian, berdasarkan perhitungan  diperoleh  fhitung lebih besar dari ftabel  atau 38.144>3.32, maka Ho ditolak H1 diterima dengan signifikansi 0.000<0.05. Dan besarnya sumbangan konstribusi Variabel X1 dan X2 terhadap Variabel Y diperoleh koefisien determinasi sebesar 0.711 atau 71%. Artinya variabel kecerdasan emosional dan komitmen organisasi guru memberikan konstribusi terhadap peningkatan kinerja guru sebesar 71% dan sisanya 29% ditentukan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti. Kata kunci: Kecerdasan Emosional, Komitmen Organisasi, Kinerja Guru
Kepala Sekolah dan Kualitas Sikap pada Tugas Nur, Jabal
Shautut Tarbiyah Vol 39, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.818 KB)

Abstract

Abstrak            Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah.  Dalam pengembangan lembaga pendidikan  dibutuhkan seorang pemimpin sebagai pemegang tanggung jawab utama,  pemimpin pendidikan adalah orang yang penuh  dengan kegiatan (aktif), hampir seluruh kegiataannya adalah mengambil keputusan yang semuanya dilakukan dalam rangkaian pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tuntutan profesionalitas kerja menjadi  salah satu  barometer keberhasilan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, selain itu  dibutuhkan pula penguasaan ilmu  pengetahuan  dan  kemampuan manajemen. Pengetahuan mengenai suatu obyek tidak sama dengan sikap  terhadap objek itu. Pengetahuan saja belum menjadi penggerak, seperti halnya pada sikap, pengetahuan mengenai subyek baru menjadi attitude terhadap subyek tersebut apabila pengetahuan itu disertai dengan kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap suatu obyek. Untuk itu kepala sekolah harus mampu mengarahkan dan mengkoordinir segala kegiatan yang ada sehingga memudahkan melaksanakan tugas-tugas yang ada dalam pendidikan yang salah satunya adalah menyusun program-program yang ada di sekolah karena kepala sekolah berperan penuh terhadap seluruh kegiatan/aktifitas yang dilakukan di dalam sekolah. ada tiga jenis ketrampilan pokok yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, pendidikan yaitu ketrampilan teknis (technical skill), ketrampilan berkomunikasi (human relations skill) dan ketrampilan konseptual (conceptual skill).Kata kunci: Sikap , Profesional, dan TugasAbstract            The principal is an education leader who has a very large role in developing the quality of education in schools. In the development of educational institutions, it takes a leader as the main holder of responsibility, education leaders are people who are full of activities (active), almost all of their activities are to make decisions that are all carried out in a series of goals that have been previously set. The demands of work professionalism are one of the barometers of success in carrying out their leadership duties, in addition to that, mastery of knowledge and management capabilities is also needed. Knowledge of an object is not the same as attitude towards that object. Knowledge alone has not become a driver, as in attitude, knowledge about new subjects becomes attitude towards the subject if that knowledge is accompanied by readiness to act in accordance with the knowledge of an object. For this reason, the principal must be able to direct and coordinate all existing activities so that it is easier to carry out the tasks in education, one of which is to arrange programs in the school because the principal has a full role in all activities / activities carried out in the school. . there are three types of basic skills that must be owned by the principal as a leader, education namely technical skills, communication skills (human relations skills) and conceptual skills.Keywords: Attitudes, Professionals, and Tasks

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 31 No. 1 (2025): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tra Vol 30, No 2 (2024): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol. 30 No. 2 (2024): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tra Vol 29, No 2 (2023): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 29, No 1 (2023): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 28, No 2 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 28, No 1 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran Vol 27, No 2 (2021): Pendekatan Transdisipliner dalam Pendidikan Islam di Era 4.0 Vol 27, No 1 (2021): Pendidikan Islam di Era 4.0 Vol 26, No 2 (2020): Education in Islamic Societies Vol 26, No 1 (2020): Education in Islamic Societies Vol 25, No 2 (2019): Kependidikan Vol 25, No 1 (2019): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 39, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 38, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 24, No 2 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 24, No 2 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 23, No 2 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 23, No 1 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 22, No 2 (2016): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 22, No 1 (2016): Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 21, No 2 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 21, No 1 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 20, No 2 (2014): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 20, No 1 (2014): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 19, No 2 (2013): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 19, No 1 (2013): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 18, No 2 (2012): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 18, No 1 (2012): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 17, No 2 (2011): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 17, No 1 (2011): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 16, No 2 (2010): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 16, No 1 (2010): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 15, No 2 (2009): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan Vol 15, No 1 (2009): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan More Issue