cover
Contact Name
Franky R.D Rengkung
Contact Email
frankyrengkung@unsrat.ac.id
Phone
+6281311100340
Journal Mail Official
jurnalpolitico@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jalan Kampus Bahu Malalayang Manado Kode Pos 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Politico: Jurnal Ilmu Politik
ISSN : 23025603     EISSN : 29639018     DOI : -
Core Subject : Social,
The POLITICO journal contains various articles related to developments and dynamics that occur in the world of politics. Writings or articles published in the POLITICO Journal can be the results of research or scientific opinions related to political science both in theory and practice.
Articles 511 Documents
UPAYA PEMERINTAH INDONESIA DALAM MENANGANI PERSOALAN DI WILAYAH PERBATASAN ANTARA PULAU MARORE DAN PHILIPINA SELATAN Makahingide, Randy
JURNAL POLITICO Vol 10, No 2 (2021): April 2021
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndonesia hingga kini masih memilikki banyak persoalan terkait dengan wilayah perbatasan. Salah satunya adalah persoalan perbatasan antara Indonesia dengan Filipina, yang terletak di antara Pulau Marore dengan Filipina Selatan. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi dan mendeskripsikan berbagai problematika yang ada di wilayah tersebut serta  bagaimana upaya yang dilakukan oleh kedua negara untuk mengatasinya. Temuan penelitian menggambarkan beberapa masalah yang sering terjadi di perbatasan antara kedua negara khususnya di antara pulau Marore dengan Filipina Selatan yaitu terkait dengan pelintas batas tanpa dokumen/imigran gelap, pencurian ikan (illegal fishing), dan penyeludupan barang-barang tanpa melalui beacukai. Dan untuk mengatasi hal tersebut  kedua negara telah membuat beberapa perjanjian serta kerjasama. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sendiri untuk mengatasi persoalah di wilayah perbatasan tersebut diantaranya: membuat berbagai kebijakan terkait pengelolaan wilayah perbatasan. Selain itu juga pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya lain seperti melakukan penguatan yuridiksi wilayah, memperkuat peran Badan Nasional Pengelola Perbatasan, memaksimalkan peran kementerian dan lembaga terkait, memperkuat peran TNI, serta memperkuat peran pemerintah daerah. Kata Kunci : Wilayah Perbatasan  ABSTRACTIndonesia until now still has many problems related to border areas. One of them is the border issue between Indonesia and the Philippines, which is located between Marore Island and the Southern Philippines. This research tries to identify and describe the various problems that exist in the region and how the efforts are being made by the two countries to overcome them. The research findings illustrate some of the problems that often occur at the border between the two countries, especially between the islands of Marore and the Southern Philippines, which are related to border crossers without documents / illegal immigrants, illegal fishing, and smuggling of goods without going through customs. And to overcome this, the two countries have made several agreements and cooperation. Efforts made by the Indonesian government itself to overcome problems in the border area include: making various policies related to the management of border areas. In addition, the Indonesian government has also made several other efforts, such as strengthening regional jurisdiction, strengthening the role of the National Border Management Agency, maximizing the role of related ministries and institutions, strengthening the role of the TNI, and strengthening the role of local governments. Keywords: Border Area
PENGARUH TRANSPORTASI BERBASIS ONLINE TERHADAP MOBILITAS MASYARAKAT DI KOTA MANADO Wiesje Wilar, Hestiani S. Wuisan, A.B. Pati,
JURNAL POLITICO Vol 9, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSemakin tingginya mobilitas masyarakat saat ini, memerlukan kehadiran sarana transportasi yang dapat mendukungnya. Kehadiran sarana transportasi berbasis online, yang salah satunya adalah GOJEK bagi para penggunanya dianggap solusi bagi tingginya mobilitas masyarakat saat ini. Bahkan sarana transportasi yang dulunya belum berbasis online, kini berlomba-lomba melakukan pelayanan menjadi berbasis online. Namun, faktanya kehadiran sarana transportasi berbasis online ini bukan tanpa masalah. Seringnya terjadi konflik dengan penyedia sarana transportasi konvensional menjadi salah satu bukti problematika dari kehadiran sarana transportasi online. Ironisnya, pemerintah sempat bingung untuk mengeluarkan kebijakan terkait keberadaan sarana transportasi online ini. Satu sisi kehadirannya terasa sangat dibutuhkan masyarakat, namun disisi lain seringnya menjadi penyebab terjadinya konflik. Sedangkan pengaturan yang komprehensif belum tersedia. Sejak dikeluarkan kebijakan tentang pengaturannya sarana transporatsi online tercatat telah beberapa kali dilakukan revisi. Kata Kunci: Kebijakan; Transportasi Online; GOJEK; Mobilitas  Masyarakat.                                                                      ABSTRACTThe increasing mobility of society today requires the presence of transportation facilities that can support it. The presence of online-based transportation means, one of which is GOJEK, for its users, is considered a solution for the high mobility of today's society. Even transportation facilities that were not based online before, are now competing to make services online. However, the fact is that the presence of online-based transportation means is not without problems. Frequent conflicts with providers of conventional transportation facilities are proof of the problematic presence of online transportation facilities. Ironically, the government was confused about issuing policies regarding the existence of this online transportation facility. On the one hand, its presence feels very much needed by the community, but on the other hand it is often the cause of conflict. Meanwhile, a comprehensive arrangement is not yet available. Since the issuance of the policy regarding the regulation of online transportation facilities, it has been noted that several times have been revised. Keywords: Policy; Online Transportation; GOJEK; Social Mobility.
STRATEGI PEMENANGAN DALAM PEMILIHAN UMUM CALON LEGISLATIF PARTAI GERINDRA DI DESA BUO KECAMATAN LOLODA KABUPATEN HALMAHERA BARAT TAHUN 2019 Pura, Ariel Kristianto
JURNAL POLITICO Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKemenangan calon legislatif Partai Gerindra pada pemilihan umum legislatif 2019 di daerah pemilihan (Dapil) 3 khususnya Desa Buo cukup menarik perhatian masyarakat pemilih. Karena pada pemilihan umum sebelumnya partai ini tidak memenangkan salah satu kursipun untuk wilayah pemilihan ini. Sehingga bagaimana strategi yang dimainkan oleh caleg maupun partai sangat menarik untuk di lihat. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui bagaimana strategipemenangan calon partai gerindra dalam pemilihan umum legislatif tahun 2019 di Desa Buo Kecamatan Loloda Kabupaten Halmahera Barat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan modalitas oleh para caleg untuk memenangkan kursi DPRD Kabupaten Halmahera Barat dalam pemilu legislative 2019 di Desa Buo, tampak dalam beberapa pola, yakni: Strategi politik yang berkonsep modern. adapun beberapa fase yang dilakukan, yaitu ; fase analisa situasi, fase formulasi, fase implementasi hingga fase pengawasan dan evaluasi dari sebuah strategi dilakukan oleh para caleg.Kata kunci : Strategi, Partai, Pemilihan Umum legislative. ABSTRACTThe victory of the Gerindra Party's legislative candidates in the 2019 legislative elections in the electoral district (Dapil) 3 especially in Buo Village was quite interesting to the attention of the voting community. Because in the previous general election this party did not win any seats for thiselectoral district. So how  the strategies played by candidates and parties are very interesting to see. Research Objectives To find out how the strategy of winning Gerindra party candidates in the 2019 legislative elections in Buo Village Loloda District, West Halmahera Regency. From the results of the study it can be concluded that the use of modality by the candidates to win the seat of the West Halmahera Regency DPRD in the 2019 legislative elections in Buo Village, appears inseveral patterns, namely: Political strategies with a modern concept. as for several phases carried out, namely; the situation analysis phase, the formulation phase, the implementation phase to the monitoring and evaluation phase of a strategy carried out by the candidates.Keywords: Strategy, Party, legislative general election
STRATEGI PEMENANGAN PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014 DI KABUPATEN HALMAHERA BARAT Rajaki, Fridolin
JURNAL POLITICO Vol 7, No 3 (2018): Juli 2018
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKStrategi politik untuk memenangkan hati  dan meraih simpatik  konstituen sebagai penentu dari suatu keputusan politik, dengan menggunakan berbagai pendekatan  termasuk didalamnya memperbaiki isu politik yang akan dijual kepada kelompok pemilih, memperhitungkan kekuatan sendiri, dan mengamati kemampuan partai pesaing yang menjadi rival politik sehingga supstansi dari pemilu legislatif reverensi kekuasaan rakyat dengan hegemoni kekuasaan yang dimilikinya didalam seluruh aspek baik sosial, ekonomi dan politik indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pemenangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada pemilu legislatif tahun 2014 di kabupaten Halmahera Barat, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi wawancara dengan informan, studi dokumen, analisis data ini diakukan selama penelitian ini berlangsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi yang dilakukan untuk meraup banyak suarah dari pemilih adalah melakukan komunikasi dengan pemilih dalam rangka memberikan pendidikan politik baik melalui kampanye maupun kegiatan lainnya seperti pengobatan gratis, memberikan bantuan-bantuan usntuk janda dan duda. Semua yang kami lakukan sebagai bukti kita kepada masyarakat dan juga sebagai upaya membentuk citra politik baik partai maupun bagi calon-calon itu sendiri. Strategi seperti ini dianggap menjadi salah satu strategi yang paling efektif dan dapat diterimah oleh masyarakat luas karena, dalam strategi ini pihak-pihak partai dengan parah pemilih dengan harapan dapat mempengaruhi dan menarik simpati dari pemilih. Kata Kunci: Strategi, Partai Politik, Pemilihan Umum Legislatif.  ABSTRACTPolitical strategies to win hearts and reach sympathetic constituents as determinants of political decisions, using various approaches including improving political issues to be sold to voters, taking into account their own strengths, and observing the ability of competing parties to become political rivals so that the substance of legislative elections reverence of people's power with the hegemony of power they have in all aspects of both social, economic and political Indonesia. This study aims to determine the strategy of winning the Indonesian Democratic Party of Struggle in the 2014 legislative elections in West Halmahera district, using qualitative research methods. Data collection in this study was carried out by the method of observation of interviews with informants, study documents, analysis of this data carried out during this research. The results showed that the strategy taken to reap a lot of anger from voters was to communicate with voters in order to provide political education both through campaigns and other activities such as free medical treatment, providing assistance to widows and widowers. Everything we do as our proof to the community and also as an effort to shape the political image of both the party and the candidates themselves. Such a strategy is considered to be one of the most effective and acceptable strategies for the wider community because, in this strategy party parties are severely voters in the hope of influencing and attracting sympathy from voters. Keywords: Strategy, Political Parties, Legislative Elections.
KINERJA PEGAWAI KECAMATAN TENGA KABUPATEN MINAHASA SELATAN DALAM PELAYANAN PEMBUATAN AKTE JUAL BELI Rompas, Priska
JURNAL POLITICO Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pelayanan merupakan tugas utama bagi aparatur negara sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Tugas ini secara jelas telah digariskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat, yang meliputi empat aspek pelayanan pokok aparatur terhadap masyarakat yang berbunyi: Melindungi Segenap bangsa dan seluruh tumpah dara Indonesia emamjukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti yang dikatakan Moenir (2001;9) “ Pelayanan umum dan hak dasar warga Negara dan hak asasi saling berkaitan tidak terpisahkan satu sama lain ”. Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan sebagai bagian dari organisasi dan Sistem pemerintahan daerah mempunyai peranan penting dalam menyelenggarakan kegiatan administrasi pemerintahan, kegiatan pembangunan serta pemberdayaan masyarakat, namun hal diatas kerap belum maksimal terlihat pelayanan khususnya akte jual beli banyak dikeluhkan masyarakat baik waktu, biaya serta pelayanannya yang masih dibawah standart pelayanan yang diamanatkan oleh undang-undang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kinerja Pegawai Kecamatan Dalam dalam Pelayanan Akte Jual Beli, dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan kinerja pegawai belum menunjukkan hasil yang memuaskan, dimana perlu adanya perbaikan dari segi disiplin dan kualitas dalam pelayanan terutama dalam pembuatan akte jual beli. Keywords : Kinerja, , Pelayanan, Akte Jual Beli PENDAHULUAN Latar Belakang Pemikiran Dalam melaksanakan tugas pemerintah dibidang pemerintahan dan pembangunan, pemerintah dituntut dapat menjalankan tugas sesuai dengan peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang berlaku agar efektif dan efesien sesuai dengan dasar hukum pelaksanaan tugasnya. Antara lain undang-undang dasar 1945, undang-undang 32 Tahun 2004, undang-undang 12 Tahun 2008, peraturan daerah, dan perundang-undangan serta peraturan lainnya guna memaksimalkan keberhasilan kinerja pemerintah, berbagai upaya dilakukan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan, pelaksanaan tugasnya, perbaikan pada perencanaan, pelaksanaan hingga pada pengawasan kegiatan. hal ini dilaksanakan di berbagai bidang pemerintahan seiring dengan keterlibatan masyarakat mengkritisi tugas­tugas pemerintahan di era reformasi ini. Pelayanan masyarakat dapat dikategorikan efektif apabila masyarakat mendapatkan kemudahan pelayanan dengan prosedur yang singkat, biaya murah, cepat, tepat dan memuaskan. Keberhasilan meningkatkan efektivitas pelayanan Umum ditentukan oleh faktor kemampuan pemerintah dalam meningkatkan disiplin kerja aparat pelayanan. Khususnya Pemerintah Kecamatan Tenga dituntut untuk mewujudkan disiplin kerja perangkat kecamatan dalam upaya peningkatan pelayanan publik. Masalah nyata proses pelayanan Umum, terutama pelayanan Akte Jual Beli, dirasakan masih berbelit dan tak terkendali secara efektif, sehingga wilayah aspirasi dan kepentingan umum masih kurang tersentuh. Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan dasar pokok –pokok Agraria Pasal 26 mengenai jual beli tanah dikatakan : (1) Jual-beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat, pemberian menurut adat dan perbuatan-perbuatan lain yang. dimaksudkan untuk memindahkan hak milik serta pengawasannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Setiap jual-beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk langsung atau tidak langsung memindahkan hak milik kepada orang asing, kepada seorang warga-negara yang disamping kewarganegaraan Indonesianya mempunyai kewarga-negaraan asing atau kepada suatu badan hukum kecuali yang ditetapkan oleh Pemerintah termaksud dalam pasal 21 ayat (2), adalah batal karena hukum dan tanahnya jatuh kepada Negara, dengan ketentuan, bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung serta semua pembayaran yang telah diterima oleh pemilik tidak dapat dituntut kembali. Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan sebagai bagian dari organisasi dan Sistem pemerintahan daerah mempunyai peranan penting dalam menyelenggarakan kegiatan administrasi pemerintahan, kegiatan pembangunan serta pemberdayaan masyarakat, namun hal diatas kerap belum maksimal terlihat pelayanan khususnya akte jual beli banyak dikeluhkan masyarakat baik waktu, biaya serta pelayanannya yang masih dibawah standart pelayanan yang diamanatkan oleh undang-undang, peran camat disini sangat menentukan kualitas pelayanan yang ada di kecamatan. Penulis sebagai bagian dari masyarakat Kecamatan Tenga merasa tertarik untuk meneliti sejauh mana peran camat dalam meningkatkan kinerja aparatur pemerintah dilingkungan pemerintahan Kecamatan Tenga tepatnya dikantor camat Tenga (Studi tentang Pelayanan Pembuatan Akte Jual Beli). B.   PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis mengemukakan perumusan masalah adalah “ Bagaimana Peran Camat Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Dalam Pelayanan Akte Jual Beli” C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1.    Tujuan Penelitian -   Untuk mengetahui Peran Camat Dalam Meningkatkan kinerja pegawai dalam Pelayanan Akte Jual Beli -   Untuk mengetahui Kendala-kendala camat dalam meningkatkan pelayanan akte jual beli 2.    Manfaat Penelitian 2.1    Manfaat Teoritis Memberikan informasi ilmiah dalam pengembangan disiplin ilmu pemerintahan, khususnya dibidang pengawasan pemerintahan dan pembangunan. 2.2 Manfaat praktis Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pihak - pihak yang berkepentingan meningkatkan profesionalitas kerja dan pelaksanaan pengawasan penyelenggaraan administrasi pemerintahan dan penyelenggaraan administrasi pembangunan.   TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kinerja Pengertian kinerja menurut A. Dale Timple (1992:231) dipersamakan dalam Bahasa Inggris yaitu “performance”. Kata performance sendiri bila dilihat dalam Kamus Bahasa Inggris diartikan sebagai daya guna, prestasi atau hasil ( Echols dan Shadily, 1986:97 ). Sehubungan dengan pernyataan hal diatas, Aman Sudarto (1999:2) menjelaskan bahwa kinerja adalah sebagai hasil atau unjuk kerja dari suatu orang yang dilakukan oleh individu, yang dapat ditujukan secara konkrit dan dapat diukur. Pengertian kinerja atau prestasi kerja diberi batasan oleh Maier (dalam As’ad, 1991:47) sebagai kesuksesan seseorang didalam melaksanakan suatu pekerjaan. Lebih tegas lagi Lawler and Poter menyatakan bahwa kinerj adalah “succesfull role achievment” yang diperoleh seseorang dari perbuatan-perbuatannya (As’ad, 1991:46-47). Dari batasan tersebut As’ad menyimpulkan bahwa kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan. Sedangkan Suprihatno (dalam srimulyo, 1999:33) mengatakan bahwa kinerja atau prestasi kerja seseorang karyawan selama periode tertentu dibandingkan dengan kemungkinan, misalnya standar, target/sasaran atau kinerja yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.   B. Konsep Camat Camat menurut Bayu Suryaningrat (1981:2) adalah seorang yang mengepalai dan membina suatu wilayah yang biasanya terdiri dari beberapa desa atau kelurahan. Camat juga seorang eksekutif yaitu seorang pelaksana tugas pemerintah. Seperti salah satu tugas dan fungsinya sebagai kepala wilayah kecamatan yaitu mengendalikan pembangunan. Dalam pasal 15 menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Kecamatan menyebutkan bahwa : Camat menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi :Menggkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakatMengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum;Mengkoordinasikan penerapan dan penegakan Peraturan Perundang-Undangan;Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan Pemeritahan di tingkat Kecamatan;Membina penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan/atau Kelurahan; danMelaksanakan pelayanan Masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan Pemerintahan Desa atau Kelurahan.Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Camat melaksanakan kewenangan Pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, yang meliputi aspek:Perizinan;Rekomendasi;Koordinasi;Pembinaan;Pengawasan;Fasilitasi;Penetapan;Penyelenggaraan; danKewenangan lain yang dilimpahkan.Pelaksanaan kewenangan Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup penyelenggaraan urusan Pemerintahan pada lingkup Kecamatan sesuai Peraturan Perudang-undangan.Pelimpahan sebagian wewenang Bupati/Walikota kepada Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan kriteria eksternalitas dan efesiensi.Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Bupati/Walikota berpedoman pada Peraturan Pemerintah ini.   C. Konsep Pegawai Negeri Sipil Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, disebutkan bahwa pegawai negeri adalah: “Pegawai Negeri adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku” Selanjutnya menurut H. Nainggolan (1987:271), pegawai negeri sipil itu terdiri dari : 1. Pegawai Negeri Sipil pusat 2. Pegawai Negeri Sipil daerah 3. Pegawai Negeri Sipil lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintahan Setiap calon pegawai yang diangkat menjadi pegawai diwajibkan mengikrarkan sumpah pegawai, dan jugasetiap pegawai sebelum memangku jabatan harus mengikrarkan sumpah atau janji jabatan. Kepada pegawai dipercayakan tugas negara yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dalam pelaksanaan tugas tersebut diperlukan keikhlasan, kejujuran dan tanggung jawab. Sebagai salah satu usaha untuk menjamin pelaksanaan tugas kedinasan dengan sebaik-baiknya, maka setiap calon pegawai wajib mengangkat sumpah pegawai dihadapan atasan yang berwenang menurut agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan memiliki pegawai yang dapat mengerti tentang bagaimana kinerja yang harus dilaksanakan sesuai dengan kewenangan yang diembannya, maka pelayanan yang baik dapat dicapai sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada dalam memberikan pelayanan kepada publik. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan metode deskriptif analistik dan dilaksanakan dengan cara metode survey. Menurut Nawawi dan Martini deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan objek pada saat dilakukan, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagimana adanya. Untuk memberikan bobot pada terkumpul haruslah diolah dan ditafsirkan. Jadi metode deskriptif bertugas untuk melakukan representasi objektif mengenai gejala-gejala yang terdapat didalam masalah penelitian, representasi itu dilakukan dengan mendeskripsikan gejala-gejala fakta sebagaimana adanya (Nawawi 1990 : 63, 1994:73)   B. Fokus Penelitian Pada penelitian ini penulis berusaha menjawab permasalahan yang dibahas pada bab sebelumnya, maka penulis memfokuskan penelitian ini pada kinerja pegawai kantor kecamatan Tenga dalam pelayanan akte jual beli dengan indikator-indikatornya Berdasarkan prinsip pelayanan publik berdasarkan Dalam Keputusan Menteri PAN Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum penyelenggaraan Pelayanan Publik sebagai berikut : a) Kesederhanaan Pelayanan b)            Kejelasan dan Kepastian Pelayanan c)            Keterbukaan dalam Pelayanan d)            Efisiensi dalam Pelayanan e)            Ekonomis dalam Pelayanan f)             Keadilan yang Merata dalam Pelayanan Ketepatan Waktu dalam Pelayanan   C. Informan Penelitian Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat ditentukan informan dalam penelitian ini adalah Camat, Aparatur Pemerintah di Kecamatan Tenga, dan beberapa masyarakat di Kecamtan Tenga yang dianggap mengetahui dengan jelas pengawasan yang dilakukan camat dalam rangka meningkatkan profesionalitas kerja aparatur terutama pembuatan Akte Jual Beli.   D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data akan dilakukan menggunakan metode yang umumnya digunakan pada pendekatan kualitatif, yaitu observasi , wawancara mendalam (in depth interview) dan studi dokumen (Sugiono, 2007:147). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang mendalam sehingga dapat mengetahui efektivitas sistem pengawasan camat dalam meningkatkan pelayanan publik.   E. Teknik Analisa Data Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang temuan-temuan yang berdasarkan permasalahan yang diteliti. Analisis data menurut Patton (dalam Moleong, 2003 : 103) adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan urutan dasar. Dalam penelitian kualitatif, analisis dilakukan sepanjang penelitian berlangsung. Sejak pengumpulan data dimulai, analisis data dilangsungkan secara terus menerus hingga pembuatan laporan penelitian Untuk mendapatkan hasil yang optimal dan objektif sesuai dengan tujuan penelitian, maka setiap analisa dilakukan untuk melukiskan, merangkum, mengamati, menggambarkan bahkan meringkas hasil pengamatan yang telah dilakukan dilapangan. PEMBAHASAN A.   Peran Camat dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Salah satu kegiatan pelayanan pemerintah yang memiliki intensitas pelayanan kepada masyarakat yang cukup tinggi adalah pelayanan bidang pemerintahan,sosial ekonomi di Kantor Kecamatan. Intensitas pelayanan ini adalah berkaitan dengan kedudukan dan fungsi pengelolaan pemerintah Kecamatan sebagai fungsi dasar terdepan dalam memberikan pelayanan masyarakat pada bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Sangat banyak dokumen resmi yang diperlukan untuk legalitas, semuanya harus diperoleh melalui Kantor Camat. Dalam memberikan pelayanan pengurusan dokumen-dokumen seringkali dihadapkan pada mekanisme dan prosedur pelayanan yang kurang sinkron antara tersedianya data yang dimiliki Kantor Desa dan Kecamatan yang dimiliki oleh masyarakat yang akan dilayani, sehingga menyebabkan berbelit-belitnya kondisi pelayanan dan warga yang dilayani merasakan adanya diskriminasi pada waktu pelayanan, bahkan biaya pelayanan seperti adanya biaya administrasi yang bersifat tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Proses pelayanan administrasi dokumen pada dasarnya telah mengalami perkembangan yang cukup berarti, bahkan mekanisme pelayanan yang dimulai pada level organisasi pemerintahan terendah sampai pada terbitnya suatu dokumen telah berusaha menampilkan, efesiensi dan efektifitas kerja dengan memberdayakan semua elemen-elemen yang terlibat dalam pelayanan pada masyarakat.   B. Kinerja Pegawai Dalam Pelayanan Akte Jual Beli a)     Kesederhanaan Pelayanan Kesederhanaan pelayanan di Tingkat Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan dapat dikatakan berjalan baik yakni pengurusan Akte Jual Beli. Hal ini di sampaikan oleh Sekretaris Camat Kantor Kecamatan Tenga bahwa : “alur permohonan dimulai dari tingkat Desa, si pemohon diminta untuk memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, khusus untuk pembuatan Akte Jual Beli, harus ada KTP penjual/pembeli, Pajak lunas PBB, Kwitansi Pembelian (bukti pembayaran), SK Tanah, sertifikat tanah, Surat Pernyataan, SK Tidak bermasalah, Surat riwayat tanah, surat pernytataan persetujuan, meterai 6000 3 lembar, setelah diproses melalui kelurahan dilanjutkan ke tingkat kecamatan untuk menerbitkan Akte Jual Beli. Untuk legalisir surat, cukup membawa fotocopinya saja misalnya KTP atau Akte” b)     Kejelasan dan Kepastian Pelayanan Prosedur tersebut diatas telah di sosialisasikan dan diketahui oleh seluruh masyarakat Kecamatan Tenga. Menurut Bapak. HL Salah satu penduduk Kecamatan Tenga mengatakan : ” Prosedur pelayanan yang ada di Kecamatan Tenga memang telah diketahui seluruh lapisan masyarakat yang ada. Masyarakat setempatpun dalam hal pengurusan AJB, terlebih dahulu harus ke kantor desa untuk mengambil melengkapi berkas selanjutnya diserahkan ke Kantor Kecamatan sedangkan untuk mengurus legalisir surat pemohon langsung datang ke kantor kecamatan dengan membawa fotocopy yang akan dilegalisir seperti KTP, Kartu Keluarga dan lain-lain dari sini dapat dilihat peran camat dalam mengarahkan pegawainya sudah cukup baik”. Dengan adanya persyaratan yang sedemikian rupa pihak pelayananpun akan senang menjalankan tugasnya jika masyarakat tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prosedur yang berlaku, camat selaku pimpinan di kecamatan sangat berpengaruh dalam mengarahkan pegawai-pegawainya dalam melakukan pekerjaannya. c)     Keamanan dalam Pelayanan Masyarakat pada dasarnya ingin memperoleh pelayanan yang maksimal, dimana dalam hal ini setiap masyarakat ingin memperoleh haknya dengan mendapat pengakuan dari daerah tempat tinggalnya. Pengurusan Akte Jual Beli dan Legalisir merupakan hal yang sangat penting, oleh karena itu dari pihak masyarakat mengharapkan pihak pemerintah setempat lebih memperhatikan kepastian dalam hal pengurusan Akte Jual Beli dan Legalisir Surat bagi masyarakat. FG mengungkapkan bahwa : “saya mengharapakan pelayanan yang diberikan sesuai dengan aturan formal yang diterapkan. Pemberian pelayanan yang telah menunjuk kepada aturan formal serta dianggap memenuhi sendi-sendi pelayanan sangat diharapakn masyarakat sehingga aparat pelayanan bisa konsisten dalam menerapkan aturan hukum pelayanan tanpa ada kendala apapun” Penulis melanjutkan wawancara terhadap seorang informan Bapak KT beliau mengatakan : sejauh ini dalam segi keamana dalam pelayanan di kecamatan, apalagi mengenai legalisir surat dan AJB dapat diterima didarah kemana kami pergi. d)     Keterbukaan dalam Pelayanan Keterbukaan dalam pelayanan sangat berpengaruh, dimana setiap pelayanan yang akan diberikan pihak Kantor kecamatan wajib di informasikan dan di sosialisasikan agar masyarakat setempat dapat mengetahui prosedur dan tata cara dalam proses pelayanan. Oleh karena itu, peran birokrasi dalam hal ini sangatlah penting. Salah satu Staf kantor Kecamatan, Bapak AA mengatakan bahwa: ”pelayanan publik harus dilaksanakan secara transparan dan akuntabel oleh setiap unit pelayanan instansi pemerintah karena kualitas kinerja birokrasi pelayanan publik memiliki implikasi yang luas dalam mencapai kesejahteraan masyarakat...” e)     Efisiensi dalam Pelayanan Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang diberikan. Mencegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan, dalam hal proses pelayanan masyarakat adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi Pemerintah lain yang terkait. Tetapi pada kenyataannya yang terjadi di lapangan aparat/pegawai kecamatan selaku pihak pelayanan tidak menajalankan tugasnya dengan baik. Dimana sering terjadi kesalahan yang fatal dan dapat merugikan masyarakat setempat. Hal ini di ungkapkan oleh Santi salah satu warga Kecamatan Tenga : "saya kecewa dengan layanan kantor pemerintah yang tak jelas. Pemerintah Kecamatan berjanji tanggal sekian Akte Jual Beli sudah jadi. Namun pada waktu yang dijanjikan AJB belum jadi. Mengulur waktunya bisa lama, setelah dilacak katanya berkasnya hilang. Sudah demikian, mereka menunjukkan raut penyesalan," f)      Ekonomis dalam Pelayanan Biaya dalam penyelenggaraan pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan : Nilai barang dan atau jasa pelayanan masyarakat dan menuntut biaya  yang terlalu tinggi di luar kewajaran; Kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar; dan Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun ada beberapa pihak tertentu yang menggunakan “kesempatan dalam kesempitan” untuk mendapatkan keuntungan lebih dari yang telah ditentukan. Menurut SS  salah satu masyarakat di Kecamatan Tenga : “aparat pemerintah yang ada sering melakukan hal-hal diluar prosedur, dimana untuk mendapat uang lebih sering mengatakan kalau ingin cepat selesai harus ada biaya administrasinya. Padahal semestinya dalam hal pengurusan surat legalisir yang berkaitan dengan Kecamatan semuanya gratis tapi kenyataannya tidak demikian. Aparat yang bertugaspun seringkali tidak menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sehingga proses pelayanan berjalan lambat. PENUTUP a. KESIMPULAN Dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan peneliti, maka secara keseluruhan peran camat dalam meningkatkan kinerja pegawai terutama dalam pelayanan akte jual beli dapat dikatakan baik. Pelayanan yang diberikan oleh aparat Kantor Kecamatan Tenga pada umumnya berdasarkan pada : 1)     Kesederhanaan Pelayanan 2)     Kejelasan dan Kepastian Pelayanan 3)     Keamanan dalam Pelayanan 4)     Keterbukaan Dalam Pelayanan 5)     Efisiensi dalam Pelayanan 6)     Ekonomis dalam pelayanan 7)     Keadilan yang Merata dalam Pelayanan 8)     Ketepatan waktu dalam pelayanan Sesuai dengan prosedur diatas yang telah ditetapkan masyarakat menginginkan agar adanya perbaikan kualitas dalam pelaksanaan pelayanan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari hasil wawancara yang rata-rata memberikan masukan agar proses pelayanan lebih mengutamakan kualitas dan kuantitas bagi kepuasan masyarakat.   b. SARAN Dalam kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran yang dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan di masa yang akan datang dalam usaha pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan khususnya aparat Kecamatan Tenga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut: Selain itu, camat sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kantor Kecamatan Tenga lebih tegas dalam memberikan sanksi kepada oknum aparat yang melanggar paraturan tanpa melupakan memberikan penghargaan kepada pegawai yang berprestasi. Dan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan, Camat harus senantiasa meminta laporan-laporan yang jelas mengenai tugas yang di bebankan kepada aparat Kantor Kecamatan Tenga agar timbul rasa tanggungjawab pegawai atas tugas-tugas yang telah diberikan. DAFTAR PUSTAKA As'ad, Moh. (2003), Psikologi Industri, Seri Ilmu Sumber Daya Manusia, Liberty, Jakarta. Gibson dkk, 1989, Organisasi (terjemahan), Wahid Djobran, Erlangga, Jakarta Gibson, Ivancevich, Donelly, 1989, Organisasi, Prilaku, Struktur, Proses, (organization), Jakarta: Erlangga cetakan 5 Halsey D. George, 2003, Bagaimana Memimpin dan Mengawasi Pegawai Anda, Rineke Cipta, Jakarta Handayaningrat Soewarno, 1982, Pengantar Studi Administrasi dan Manajemen, Gunung Agung, Jakarta Nawawi H. Hadari, 1990, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Nawani Hadari, Martini H. Mimi, 1994. Penelitian Terapan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Ndraha T. 2003. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru) Rineke Cipta, Jakarta Reksohadjiprojo, 1996, Dasar-dasar Manajemen, Yogyakarta. Saparin S. 1986, Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa, Ghalia Indonesia, Jakarta Siagian P.Sondang, 2002, Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Rineke Cipta, Jakarta Srimulyo Koko, 1999, Analisis pengaruh faktor-faktor terhadap Kinerja, Perpustakaan di Kota madya Surabaya Stoner James & Freemen, 1992, Manajemen, Penerbit Erlangga, Jakarta. Sudarto Aman, 1992, Memimpin dan Mengawasi Pegawai, Rineke Cipta, Jakarta Sujamto, 1996, Aspek-aspek pengawasan di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta ………., 1989, Norma dan Etika Pengawasan. Sinar Grafika, Jakarta Sukarna, 1979, Sistim Politik, Penerbit Alumni Bandung Sunyoto Usman, 1989, Pengumuman dan Pemberdayaan Masyarakat Tatang M. Amirin, 1992, Pokok-pokok Teori Sistem, Rajawali Press, Jakarta The Liang Gie, 1981, Efisiensi Kerja bagi Pembangunan Negara, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press Winardi, 1989, Pengantar Tentang Sistem dan Analisi Sistem, Mandar Maju, Bandung. Gatra, Segmen ekonomi dan bisnis edisi maret 2005 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah   ii
HUBUNGAN DAGANG INDONESIA – JEPANG PASCA KESEPAKATAN INDONESIAN JAPAN ECONOMIC PARTNERSHIP AGREEMENT (IJEPA) TAHUN 2007 Trilke E. Tulung, Christopel J.P De Blouwe, Michael Mamentu,
JURNAL POLITICO Vol 9, No 2 (2020): April 2020
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKerjasama bilateral Indonesia Japan Economic Partnership Agreement 2008-2017 (IJEPA) merupakan bentuk kerja sama bilateral antara Indonesia dan Jepang yang mengusung konsep Economic Partnership Agreement (EPA), Free Trade Area-New Age atau yang disebut WTO plus karena kebijakan dan isu yang dibahas melebihi WTO. IJEPA tidak hanya membahas liberalisasi perdagangan tetapi juga migrasi pekerja, upaya peningkatkan daya saing dan sebagainya, yang tidak diatur dalam Free Trade Aggrement (FTA) pada umumnya. Keberadaan IJEPA, hingga kini membawa keuntungan bagi Jepang dikarenakan pola hubungan yang komplementer. Kepentingan Jepang terhadap Indonesia dibawah kerangka kerjasama bilateral IJEPA adalah (1) Memanfaatkan sumber daya Indonesia berupa minyak bumi dan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi Jepang (2) Menggunakan pekerja Indonesia yang bergerak dibidang nurse dan careworker untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan lansia di Jepang yang diperkirakan akan terus meningkat (3) Meningkatkan investasi di Indonesia dengan pertimbangan pekerja murah sehingga berimplikasi pada biaya produksi yang semakin kecil (4) Mengambil keuntungan melalui skema pembebasan bea masuk yang ditujukan untuk pengembangan driver sector (USDFS) sebagai kompensasi Manufacture Industries Development Center (MIDEC). Dengan itu, Jepang mampu mempertahankan esksistensinya di tengah persaingan ekonomi global yang semakin dinamis, ditambah munculnya pesaing baru yang berpotensi seperti Tiongkok. Sedangkan dari sisi Indonesia, kesulitan dalam memenuhi standarisasi yang ditetapkan oleh Jepang, membuat ekspor Indonesia ke Jepang, tidak dapat terpenuhi secara maksimal. Kata Kunci : Hubungan Dagang; Indonesia; Jepang; IJEPA; Kesepakatan    ABSTRACTThe bilateral cooperation between Indonesia and Japan Economic Partnership Agreement 2008-2017 (IJEPA) is a form of bilateral cooperation between Indonesia and Japan which carries the concept of the Economic Partnership Agreement (EPA), Free Trade Area-New Age or what is called the WTO plus because the policies and issues discussed exceed WTO. IJEPA not only discusses trade liberalization but also labor migration, efforts to increase competitiveness and so on, which are not regulated in the Free Trade Aggrement (FTA) in general. The existence of IJEPA, until now, has brought benefits to Japan due to its complementary relationship pattern. Japan's interest in Indonesia under the IJEPA bilateral cooperation framework is (1) Utilizing Indonesia's resources in the form of petroleum and coal to meet Japan's energy needs (2) Using Indonesian workers who are engaged in nurse and careworker to solve the growth problems of elderly people in Japan which are estimated to be continues to increase (3) Increasing investment in Indonesia with the consideration of cheap workers so that it has implications for lower production costs (4) Taking advantage of an exemption from import duty schemes aimed at developing the driver sector (USDFS) as compensation for the Manufacture Industries Development Center (MIDEC). With that, Japan was able to maintain its existence amid increasingly dynamic global economic competition, plus the emergence of potential new competitors such as China. Meanwhile, from the Indonesian side, the difficulty in meeting the standardization set by Japan made Indonesia's exports to Japan not being fulfilled to its full potential. Keywords: Trade Relations; Indonesia; Japan; IJEPA; Agreement
STRATEGI PEMENANGAN ANGGOTA LEGISLATIF TERPILIH PADA PEMILIHAN LEGISLATIF TAHUN 2019 Repi, Marvil
JURNAL POLITICO Vol 8, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDalam konteks pertarungan politik untuk memperebutkan sebuah jabatan, maka strategi yang matang memegang peranan yang sangat penting. Tanpa adanya perencanaan strategi, tidak mungkin kemenangan akan diraih. Strategi politik adalah hal yang mutlak dan harus dimiliki setiap peserta kompetisi politik dalam upaya untuk memenangkan pemilu. Penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, akan mengkaji strategi yang dimainkan oleh anggota legislative terpilih yang diusung partai golkar yakni Robby Sangkoy, sehingga bisa terpilih menjadi anggota legislatif. Strategi politik tersebut akan dikaji dengan menggunakan pendekatan yang dikemukakan oleh Peter Shroder (2004), tentang perencanaan strategi.  Hasil penelitian menggambarkan terdapat beberapa strategi pemenangan yang dilakukan oleh Roby Sangkoy, diantaranya adalah (1) Strategi organisasi, yaitu mempersiapkan segala kebutuhan tim pemenang inti untuk menyusun atau membentuk tim pemenang di setiap desa guna menunjang segala kegiatan yang ada. (2) Strategi program, yaitu strategi yang dilakukan dengan memberikan program-program yang lebih menunjang buat masyarakat. (3) Strategi sumber daya. Kata Kunci : Strategi Pemenangan  ABSTRACTIn the context of political battles for a position, a mature strategy plays a very important role. Without strategic planning, victory will be impossible. Political strategy is an absolute must and must be owned by every participant in political competition in an effort to win the election. This research, using a qualitative descriptive method, will examine the strategies played by the elected legislative member of the Golkar party, namely Robby Sangkoy, so that they can be elected as a legislative member. This political strategy will be studied using the approach proposed by Peter Shroder (2004) regarding strategic planning. The results showed that there were several winning strategies carried out by Roby Sangkoy, including (1) organizational strategy, namely preparing all the needs of the core winning team to compile or form a winning team in each village to support all existing activities. (2) Program strategy, namely a strategy carried out by providing more supportive programs for the community. (3) Resource strategy. Keywords: Winning Strategy
PERSPEKTIF DISINTEGRASI BAGI MAHASISWA PAPUA DI GORONTALO Mika Mokoginta, Rusli Moko &
JURNAL POLITICO Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK                Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana perspektif mahasiswa Papua terhadap tuntutan referendum yang mengarah pada proses disintegrasi bangsa di Papua. Hasil penelitian menunjukan bahwa umumnya mahasiswa Papua di Gorontalo tidak sependapat dengan tuntutan tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya diskriminasi yang mereka terima selama mereka di Gorontalo, disisi lain masyarakat Gorontalo sangat terbuka dan menerima keberadaan dengan penuh toleransi antara sesama. Adapun hal-hal yang menjadi pertimbangan mereka tidak setuju dengan tuntutan referendum adalah 1) pada aspek pendidikan, mereka telah diperlakukan khusus oleh negara melalui jalur masuk perguruan tinggi dan biaya pendidikan yang mereka terima, selain itu domisili juga menjadi pertimbangan dominan bagi mahsiswa Papua di Gorontalo dalam dunia pendidikan. 2) Pemerataan dan kekhususan kebijakan pembanguan di Papua membuat mahasiswa Papua di Gorontalo merasa kehadiran negara telah membawah efek perubahan bagi masyarakat Papua. 3) kecintaan dan rasa memiliki terhadap negara sebagai faktor penentu mahasiswa tidak menyepakati tuntutan referendum yang mengarah pada disintegrasi bangsa.  Kata Kunci : Perspektif, Disintegrasi, Mahasiswa Papua, Gorontalo  ABSTRACTThis paper aims to see how Papuan students' perspectives on the demand for a referendum lead to the process of disintegration of the nation in Papua. The results showed that generally Papuan students in Gorontalo disagreed with these demands. This is because there is no discrimination that they have received while they are in Gorontalo, on the other hand Gorontalo people are very open and accepting their existence with full tolerance among others. The things that are considered by them not agreeing with the referendum demands are 1) in the aspect of education, they have been specially treated by the state through the entrance to higher education and the cost of education they have received, besides that domicile is also a dominant consideration for Papuan students in Gorontalo in the world of education. 2) Equality and the specificity of development policies in Papua make Papuan students in Gorontalo feel that the presence of the state has led to the effects of change for the people of Papua. 3) love and ownership of the state as a determining factor for students not agreeing to the demand for a referendum that leads to the disintegration of the nation. Keywords: Perspective, Disintegration, Papuan Students, Gorontalo
STRATEGI POLITIK PASANGAN BUPATI ROY RORING DAN WAKIL BUPATI ROBBY DONDOKAMBEY PADA PILKADA KABUPATEN MINAHASA 2018 Sondakh, Hugo Flavio
JURNAL POLITICO Vol 7, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPemilihan umum merupakan suatu cara atau sarana untuk menentukan orang-orang yang akan mewakili rakyat dalam menjalankan roda pemerintahan. Kabupaten Minahasa merupakan salah satu daerah di Sulawesi Utara yang telah melaksanakan Pemilukada pada tahun 2018 dengan kemenangan pasangan Roy Roring dan Robby Dondokambey. Bagaimana strategi yang digunakan oleh pasangan Roy Roring – Robby Dondokambey, sehingga dapat memperoleh suara mayoritas dalam Pemilukada di Kabupaten Minahasa tahun 2018 sangat menarik untuk dielaborasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mendeskripsikan berbagai strategi yang digunakan oleh pasangan Bupati Roy Roring dan Wakil Bupati Robby Dondokambey pada pilkada kabupaten Minahasa 2018. Dari hasil penelitian strategi yang digunakan pasangan ini adalah yang pertama melakukan survey lapangan, melihat kondisi lapangan yang terjadi, mencari tahu kelemahan dan kekuatan lawan serta peluang yang bisa dimanfaatkan. Kedua mengembangkan isu-isu yang ada dan mengangkat isu-isu kelemahan lawan. Ketiga pendekatan kepada masyarakat dengan terjun langsung, bertatap muka dengan masyarakat, sehingga benar-benar memahami yang menjadi keinginan masyarakat. Keempat menjaga komunikasi yang baik dengan masyarakat, membangun kerjasama yang baik antar tim dan menjaga kekompakan tim. Namun dalam semua strategi yang dilakukan tidak lepas dari pemilihan strategi dan penyusunan serta pelaksanaan yang tepan dan baik sehingga dapat mencapai tujuan bersama. Kata Kunci : Strategi Politik; Pemilukada; Kabupaten Minahasa.  ABSTRACTGeneral election is a way or means to determine people who will represent the people in running the government. Minahasa Regency is one of the regions in North Sulawesi that has held a Regional Head Election in 2018 with the victory of Roy Roring and Robby Dondokambey. What is the strategy used by the Roy Roring pair - Robby Dondokambey, so that being able to obtain a majority vote in the Election in Minahasa Regency in 2018 is very interesting to elaborate. The method used in this study is a qualitative method by describing the various strategies used by the regent Roy Roring and Deputy Regent Robby Dondokambey in the Minahasa district election in 2018. From the results of the research the strategy used by this couple was the first to conduct a field survey, looking at the field conditions happens, find out the weaknesses and strengths of the opponent and opportunities that can be utilized. The second develops existing issues and raises the issues of the opponent's weaknesses. The three approaches to the community by going directly, face to face with the community, so that they truly understand what the community wants. Fourth, maintain good communication with the community, build good cooperation between teams and maintain team cohesiveness. But in all strategies carried out can not be separated from the selection of strategies and the preparation and implementation of the right and good so they can achieve common goals. Keywords: Political Strategy; Pemilukada; Minahasa Regency
PENGARUH KOMPETENSI APARATUR SIPIL NEGARA TERHADAP EFEKTIVITAS PENGELOLAAN ASET DAERAH (Studi di Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kota Tomohon ) Stefanus Sampe, Janet T. Latuharhary, Michael S. Mantiri,
JURNAL POLITICO Vol 10, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Aset Daerah merupakan Barang Milik Daerah (BMD) yang memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja pemerintah daerah utamanya dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Untuk itu pemerintah telah menertibkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/daerah disebutkan bahwa pengelolaan Barang Milik Negara/daerah harus dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Adapun tugas dan fungsi bidang pengelolaan aset daerah melakukan perencanaan, penyusunan program, penetapan kebijakan penatausahaan barang milik daerah, melaksanakan evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah. Namun mengkaji kualitas aparatur pemerintahnya, masih terdapat permasalahan yang kemudian menghambat efektivitas pengelolaan aset daerah antara lain ketidaktertiban dalam pengelolaan data barang daerah atau aset itu sendiri. Hal ini menyebabkan Pemerintah Daerah kesulitan untuk mengetahui secara pasti aset yang dikuasai atau dikelolanya dan di sisi lain pemerintah daerah mengalami kesulitan untuk mengembangkan pemanfaatan aset dimasa mendatang. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengelolaan aset secara teratur dan identifikasi aset dalam hal pengadaan, penggunaan, penilaian, dan pemanfaatan sehingga efektivitas pengelolaan aset dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi Aparatur Sipil Negara terhadap efektivitas pengelolaan aset daerah. Sehingga landasan teori yang digunakan adalah Teori Spencer dan Wibowo (dalam Sudaryo 2018 : 325) untuk variabel Kompetensi dan Teori Tangkilisan (dalam Steers Richard 2013 : 140-141) untuk variabel Efektivitas. Metode penelitian ini menggunakkan pendekatan kuantitatif dengan populasi sebanyak 50 orang. Persamaan regresi antara Kompetensi (X) dan Efektivitas (Y) dirumuskan sebagai Y=a+bX yang dianalisis menggunakkan program SPSS versi 22.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan regresi kedua variabel adalah Y=21,280 + 0,399X, dan hasil analisis data serta pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh dari kompetensi terhadap efektivitas dengan besar pengaruh sebesar 53,7% dan tingkat pengaruh sebesar 0,733. Kompetensi Aparatur Sipil Negara dinilai cukup penting dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan aset daerah secara signifikan. Kata Kunci  : Pengaruh, Kompetensi, Efektivitas   ABSTRACTRegional Assets are Regional Property (BMD) which has an important role in improving the performance of local governments, especially in providing services to the community. For this reason, the government has curbed Government Regulation (PP) No. 27 of 2014 concerning Management of State / Regional Government Property states that management of State / Regional Government Property must be carried out based on functional principles, legal certainty, transparency, efficiency, accountability, and value certainty. The tasks and functions in the area of regional asset management carry out planning, program preparation, setting policies on the administration of regional assets, carrying out evaluations and reporting on the management of regional assets. However, examining the quality of the government apparatus, there are still problems that then hamper the effectiveness of the management of regional assets, including disorder in managing data on regional goods or the assets themselves. This makes it difficult for the Regional Government to know for certain the assets that are controlled or managed and on the other hand the local government is having difficulty developing the utilization of assets in the future. Therefore, it is necessary to have regular asset management and asset identification in terms of procurement, use, valuation, and utilization so that the effectiveness of asset management can be accounted for. This study aims to determine the effect of the competence of the State Civil Apparatus on the effectiveness of the management of regional assets. So the theoretical basis used is the Theory of Spencer and Wibowo (in Sudaryo 2018: 325) for the Competency variable and Tangkilisan Theory (in Steers Richard 2013: 140-141) for the Effectiveness variable. This research method uses a quantitative approach with a population of 50 people. The regression equation between Competency (X) and Effectiveness (Y) is formulated as Y = a + bX analyzed using the SPSS version 22.0 program. The results showed that the regression equation for the two variables was Y = 21,280 + 0,399X, and the results of data analysis and hypothesis testing showed the effect of competence on effectiveness with a large effect of 53.7% and the level of influence of 0.733. The competence of the State Civil Apparatus is considered quite important and very influential to significantly increase the effectiveness of regional asset management. Keywords: Influence, Competence, Effectiveness

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026 Vol. 13 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Januari 2023 Vol. 11 No. 4 (2022): Oktober 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Juli 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): April 2022 Vol 11, No 1 (2022): Januari 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 10, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 10, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 10, No 2 (2021): April 2021 Vol 10, No 1 (2021): Januari 2021 Vol 10, No 4 (2021): Repository Vol 10, No 2 (2020): Juni 2020 Vol 9, No 4 (2020): Oktober 2020 Vol 9, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 9, No 2 (2020): April 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 9, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 8, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 8, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 8, No 3 (2019): November 2019 Vol 8, No 2 (2019): Juni 2019 Vol 8, No 2 (2019): April 2019 Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 7, No 3 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 7, No 2 (2018): Juni 2018 Vol 7, No 2 (2018): April 2018 Vol 7, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 6, No 2 (2017): Juni 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 1 (2016): Februari 2016 Vol 4, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 2 (2014): April 2014 Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014 Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 More Issue