cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI
ISSN : 25280201     EISSN : 25283278     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI is a scientific media dissemination of research results in agriculture to support agricultural development. This journal is a national journal containing agricultural research results, routinely published by the Faculty of Agriculture - University of Muhammadiyah Jakarta since 2016
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2024)" : 6 Documents clear
Patogenisitas Cendawan Colletotrichum musae dan Colletotrichum gloeosporioides Penyebab Penyakit Antraknosa dan Ketahanan Buah Beberapa Kultivar Pisang Dwi Nanda Aulia Situmorang; Hendrival Hendrival; Usnawiyah Usnawiyah; Latifah Latifah; Novita Pramahsari Putri; Muhammad Muaz Munauwar; Baidhawi Baidhawi
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.36-43

Abstract

Penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit pascapanen pada buah pisang saat penyimpanan yang menyebabkan buah akan membusuk dan rusak sebelum matang. Penyakit antraknosa pada buah pisang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum musae dan C. gloeosporioides. Penelitian bertujuan untuk mengetahui patogenisitas isolat C. musae dan C. gloeosporioides serta ketahanan buah beberapa kultivar pisang. Penelitian dilaksanakan pada  November 2021 sampai Januari 2022  di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Faktor pertama  yaitu kultivar buah pisang dan faktor kedua yaitu  isolat cendawan.. Parameter yang diamati adalah warna koloni cendawan, periode inkubasi, dan keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni C. musae berwarna putih dan C. gloeosporioides berwarna putih keabuan, periode inkubasi paling singkat terjadi pada buah pisang yang diinokulasi C. musae. Berdasarkan nilai keparahan penyakit respons buah pisang dibedakan menjadi sangat rentan ( Tanduk), rentan ( Barangan, Mas, Awak, dan Raja) dan agak tahan (Kepok). Inokulasi isolat C. musae dan C. gloeosporioides pada buah pisang Tanduk dapat meningkatkan keparahan penyakit dan periode  inkubasi yang singkat dibandingkan pada buah pisang Kepok. Isolat C. musae memiliki tingkat patogenisitas lebih tinggi dibandingkan C. gloeosporioides.ABSTRACTAnthracnose disease is one of the post-harvest diseases in bananas during storage that causes the fruit to rot and be damaged before it ripens. Anthracnose disease in bananas is caused by the fungi Colletotrichum musae and C. gloeosporioides. The study aims to determine the pathogenicity of C. musae and C. gloeosporioides isolates and the resistance of several banana cultivars. The study was conducted from November 2021 to January 2022 at the Plant Pests and Diseases Laboratory, Faculty of Agriculture, Malikussaleh University. The experiment was arranged using a Completely Randomized Design with a factorial pattern. The first factor is the banana cultivar and the second factor is the fungal isolate. The parameters observed were the colony color, the incubation period, and the severity of the disease. The results showed that the C. musae colony was white and C. gloeosporioides was grayish white, the shortest incubation period occurred in bananas inoculated with C. musae. Based on the severity of the disease, the response of banana fruit is divided into very susceptible (Tanduk), susceptible (Barangan, Mas, Awak, and Raja) and somewhat resistant (Kepok). Inoculation of C. musae and C. gloeosporioides isolates on Tanduk banana fruit can increase the severity of the disease and the short incubation period compared to Kepok banana fruit. C. musae isolates have a higher pathogenicity level than C. gloeosporioides.
Pengaruh Biochar Sekam Padi dan Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai pada Entisol Maria Getrudis Yati; Widowati Widowati; Wahyu Fikrinda
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.1-7

Abstract

Entisol berstruktur tanah lempung dengan bahan organik rendah. Pemberian bahan organik penting dilakukan dengan pemberian biochar dan pupuk organic cair. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh pemberian biochar sekam padi dan POC terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di entisol. Penelitian dilaksanakan di Malang pada Maret - Juli 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dua faktor dan tiga ulangan. Faktor 1 adalah dosis biochar sekam padi (B) terdiri atas 3 taraf yaitu: B0= 0 t/ha (kontrol), B1= 10 t ha-1 (80 g tan-1), B2= 15 t  ha-1 (120g tan-1) dan faktor 2 adalah POC NASA terdiri atas P0= 0 cc L-1 (kontrol), P1= 20 cc L-1, P2 = 40 cc L-1. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah brangkasan, jumlah bintil akar, jumlah polong pertanaman, bobot biji pertanaman, bobot 100 biji dan hasil panen. Data dianalisis anova jika nyata dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan (1) Terdapat interaksi nyata dosis biochar dan dosis POC pada parameter bobot basah brangkasan tanaman. (2) Hasil kedelai terbaik terdapat pada dosis 10 ton ha-1, dilihat dari parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah bintil akar dan jumlah polong pertanaman sedangkan pemberian pupuk organik cair belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.ABSTRACTEntisol has a clay soil structure with low organic matter. It is important to provide organic material by providing biochar and liquid organic fertilizer. The research aims to study the effect of providing rice husk biochar and POC on the growth and yield of soybean plants in entisol. The research was conducted in Malang in March - July 2020. The research used a factorial randomized block design of two factors and three replications. Factor 1 is the dosage of rice husk biochar (B) consisting of 3 levels, namely: B0= control, B1= 10 t ha-1 (80 g ton-1), B2= 15 t ha-1 (120g tan-1) and factor 2 is NASA POC concentration consisting of P0= 0 cc L-1 (control), P1= 20 cc L-1, P2 = 40 cc L-1. Observations included plant height, number of leaves, fresh weight of stover, number of root nodules, number of pods planted, weight of seeds planted, weight of 100 seeds and harvest yield. The data was analyzed by ANOVA if it was real, followed by the Least Significant Difference test at the 5% level. The research results show (1) There is a real interaction between biochar dose and POC dose on the wet weight parameters of plant stover. (2) The best soybean yield was found at a dose of 10 tons ha-1, seen from the observation parameters of plant height, number of root nodules and number of pods planted, while the application of liquid organic fertilizer was not able to increase the growth and yield of soybean plants.
Status Gula dan Hara pada Daun Serta Status Gula pada Buah Manggis Selama Fase Perkembangan Buah Dhika Prita Hapsari; Roedhy Poerwanto; Didy Sopandie; Edi Santosa; Deden Derajat Matra
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.44-52

Abstract

Produksi manggis dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi yang cukup signifikan akibat terjadinya ketidakseimbangan fotosintat pada tanaman manggis. Pada saat on year buah manggis yang dihasilkan banyak namun berukuran kecil, sebaliknya pada saat off year buah manggis yang dihasilkan sedikit namun berukuran lebih besar. Selain itu, terjadi gugur buah yang cukup tinggi ketika on year akibat tanaman tidak mampu menopang buah yang sangat banyak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai status nutrisi pada tanaman manggis sehingga dapat menjelaskan fluktuasi hara dan gula pada tanaman manggis selama satu periode panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman manggis memiliki rasio jumlah daun dan buah yang tinggi yaitu 142:1. Perubahan kandungan hara daun akibat perkembangan buah manggis paling utama ditemukan pada unsur K, Ca, B, Cu, Zn yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan buah. Diduga terjadi hambatan translokasi gula pada fase awal perkembangan buah yang ditunjukkan oleh tingginya kandungan gula pada daun seiring dengan rendahya kandungan gula pada buah manggis. Kandungan glukosa dan fruktosa paling tinggi terdapat pada buah manggis yang memasuki fase pematangan buah.ABSTRACTMangosteen production fluctuates year by year because of imbalance nutrient in plant. Plant produces a lot of fruit with smaller size during “on season”, while few of fruit with bigger size during “off season”. On the other hand, the high fruit drop occurred when “on season” because mangosteen tree is not able to hold too many fruits. This experiment was conducted to obtain the information of nutrient status on mangosteen tree and explain the fluctuation of nutrient and sugar in one harvset period. The result show that mangosteen had a very high ratio between leaves and fruit, i.e 142:1. The changes of nutrient content during fruit development were found in potassium (K) and calcium (Ca), B (boron), Cu (copper), Zn (zinc) which have a critical role in fruit set process. Limitation of sugar translocation in the beginning of fruit development stage was occurred. It shows by the high content of sugar in leaves along with the low content of sugar in mangosteen fruit. The highest glucose and fructose content in mangosteen fruit was found on the beginning of maturation stage.
Hubungan Laju Alih Fungsi Lahan Pertanian dengan Laju Produksi Padi di Jakarta Barat Fathia Inasya Ayuningtyas; Komariah Komariah; Dwi Priyo Ariyanto; Jauhari Syamsiyah
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.8-17

Abstract

Kota Administrasi Jakarta Barat masih berkontribusi terhadap produktivitas padi, namun produksinya terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan laju alih fungsi lahan pertanian terhadap produksi padi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan cross sectional, melalui teknik purposive sampling pada 3 titik utama di Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang sangat kuat antara laju alih fungsi lahan terhadap laju produksi padi (P value < 0,05) dengan kontribusi 97,2%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa laju alih fungsi lahan dalam kurun waktu 17 tahun ternyata cukup tinggi yaitu antara 5,8 hingga 42,7 ha/tahun dengan penurunan rerata produksi padi 1.271,02 ton. ABSTRACTWest Jakarta Administrative City still contributes to rice productivity, but its production continues to decline due to the conversion of paddy fields. This study aims to determine the relationship between the rate of conversion of agricultural land to rice production and the factors that influence it. This study used an exploratory descriptive method with a cross sectional approach, through purposive sampling technique at 3 main points in Kalideres District, West Jakarta. The results showed that there was a very strong relationship between the rate of land conversion and the rate of rice production (P value <0.05) with a contribution of 97.2%. The study concluded that the rate of land conversion within 17 years was quite high, ranging from 5.8 to 42.7 ha/year with an average decrease in rice production of 1,271.02 tonnes.
Teknologi Kultur in vitro untuk Meningkatkan Produksi Metabolit Sekunder pada Berbagai Tanaman Obat Muhamad Kadapi; Cipto Sunarso; Meisyela Salsabila Erizon; Nazhara Dhiya Maharani; Maulidatinnisa Saukina Hakim; Isra Hamidah Az Zahra
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.18-29

Abstract

Salah satu manfaat dari tanaman adalah terdapatnya kandungan kimia yang berupa hasil metabolit sekunder, tanaman ini disebut sebagai tanaman obat. Pemanfaatan tanaman obat dipandang memiliki beberapa keuntungan bagi kesehatan manusia karena memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan obat-obatan yang berasal dari bahan sintetik.  Akhir-akhir ini, teknologi dalam bidang pertanian dapat membantu produksi tanaman agar kuantitas, kualitas dan kontinuitas dari tanaman obat ini untuk memenuhi kebutuhan manusia. Teknologi itu adalah in vitro atau lebih dikenal dengan teknik kultur jaringan. Penggunaan teknik ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya adalah dapat memproduksi bahan tanam dengan kualitas yang seragam dan tidak banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Artikel ini akan mereview senyawa metabolit sekunder dan manfaatnya bagi kesehatan, perbanyakan tanaman obat secara in vitro dan faktor utama yang memengaruhi produksi metabolit sekunder secara in vitro dengan metode studi literatur melalui mesin browsing Google scholar dan perpustakaan atau kumpulan artikel-artikel pada Pubmed menggunakan keywords in vitro, kultur jaringan dan tanaman obat. Pada beberapa penelitian yang sudah berjalan melaporkan bahwa teknik in vitro sangat potensial untuk menghasilkan metabolit sekunder yang bermanfaat untuk dunia kesehatan, walaupun terdapat beberapa faktor penentu keberhasilan teknik ini yaitu seperti jenis media dan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) yang digunakan.ABSTRACTOne of the plants benefits is containing of the chemical compounds that produce from secondary metabolites of plants, then known as medicinal plants. The lower side effects for human health of medicinal plants as sources of medicine is one of advantageous compared to the drugs derived from synthetic materials. Recently, agricultural technology may robust the production of these medicinal plants to meet human needs for quantity, quality, and continuity. This technology is known as in vitro or tissue culture technique that has several advantages such the uniform quality of plants which is less influenced by the environment during production. This article will review secondary metabolite compounds and their benefits for health, the propagation of medicinal plants in vitro and the main factors that influence the production of secondary metabolites in vitro using literature study methods. through literature study methods using Google scholar search engine and a collection of articles on PubMed using keywords such as in vitro, tissue culture, and medicinal plants.Current studies  reported that in vitro techniques have great potential to produce secondary metabolites that are beneficial for health. Although, there are several factors that determine the success of this technique, such as the type of media and PGR (Plant Growth Regulator).
Pengaruh Pemberian POC Pisang Kepok terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Bawang Merah Nuris Ajieb Aulady; Sularno Sularno; Rosdiana Rosdiana; Dirgahani Putri; Yukarie Ayu Wulandari
Jurnal AGROSAINS dan TEKNOLOGI Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.9.1.30-35

Abstract

Bawang merah merupakan salah satu rempah-rempah yang penting bagi masyarakat di Indonesia. Upaya peningkatan produksi bawang merah secara berkelanjutan dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk organik. Pupuk organik cair (POC) dari limbah kulit pisang merupakan salah satu solusi mengingat banyaknya limbah kulit pisang di daerah penelitian yaitu Gunung Sindur, Bogor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian POC kulit pisang kepok terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah dengan cara mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penelitian dilaksanakan di kebun Pondok Pesantren Modern Al Ghozali yang dimulai pada Akhir Desember 2020 sampai dengan awal bulan Maret 2021. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan lima perlakuan yaitu 100% NPK (2,50 g), 30 ml POC kulit pisang kepok + 50% NPK (1,25 g), 40 ml POC kulit pisang kepok + 50% NPK (1,25 g), 50 ml POC kulit pisang kepok + 50% NPK (1,25 g), 60 ml POC kulit pisang kepok + 50% NPK (1,25 g). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan berbagai dosis POC kulit pisang kepok dengan penambahan NPK 50% dapat menyamai pemberian NPK 100% pada pertumbuhan dan produksi bawang merah. Perlakuan NPK 100% memperoleh hasil tertinggi pada komponen hasil namun tidak berbeda nyata dengan semua perlakuan yang lain.ABSTRACTShallots are one of the important spices for people in Indonesia. Efforts to increase shallot production in a sustainable way can be done by using organic fertilizer. Liquid organic fertilizer (LOF) from banana peel waste is one of alternative solutions considering the large amount of banana peel waste in the research area, Gunung Sindur, Bogor. The aim of this research is to study the effect of LOF application from kepok banana peels on the growth and production of shallot by reducing the use of inorganic fertilizers. The research was carried out in the gardens of the Al Ghozali Modern Islamic Boarding School from the end of December 2020 until the beginning of March 2021. The research design used was a Randomized Complete Block Design (RCBD) with five treatments, namely 100% NPK fertilizer (2.50 g) as a control, 30 ml kepok banana peel LOF  + 50%  NPK (1.25 g), 40 ml kepok banana peel LOF + 50% NPK (1.25 g), 50 ml kepok banana peel LOF + 50% NPK (1.25 g), 60 ml kepok banana peel LOF + 50% NPK (1.25 g). The results showed that all doses of kepok banana peel LOF with the addition of 50% NPK could be equivalent to 100% NPK treatment on the growth and production of shallots. The 100% NPK treatment obtained the highest results in the yield component but was not significantly different from all other treatments.

Page 1 of 1 | Total Record : 6