cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Arsitektur DASENG
ISSN : 23018577     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur DASENG adalah media informasi pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni khususnya Artikel Ilmiah bidang Arsitektur berupa Hasil Penelitian, Hasil Perancangan, Studi Kepustakaan maupun Tulisan Ilmiah.
Arjuna Subject : -
Articles 882 Documents
REDESAIN TERMINAL PENUMPANG TANGKOKO DI KOTA BITUNG. Arsitektur Eco Futuristic Randang, Fahri E.; Supardjo, Surijadi; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20699

Abstract

Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. Ada berbagai macam tipe terminal yaitu A, B, dan C. Masing-masing mempunyai fungsi yang sama yaitu pelayanan transportasi, namun berbeda cakupan untuk tujuan. Masing-masing kategori terminal tersebut mempunyai standar tersendiri tentang tata cara perencanaan, perancangan dan pengelolaan terminal yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: 31 Tahun 1995 Tentang Terminal Transportasi Jalan, yang harus dijadikan pedoman dasar dalam perencanaan, perancangan, dan pengelolaan terminal, khususnya di Indonesia.Terminal Tangkoko adalah satu-satunya terminal tipe A yang ada di kota Bitung. Terminal ini memiliki banyak kekurangan yang tidak sesuai standar yang telah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan RI, baik dari segi perancangan maupun pengelolaannya, sehingga harus segera diperbaiki agar dapat melayani/memfasilitasi aktivitas moda transportasi di kota Bitung dengan baik dan lancar.Proses Redesain Terminal Penumpang Tangkoko di kota Bitung ini menggunakan acuan standar dari SPM (Standar Pelayanan Minimum) Terminal Angkutan Umum Tahun 2012, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : 31 Tahun 1995 Tentang terminal Transportasi Jalan dan menggunakan tema arsitektur Eco-Futuristic. Sumber data referensi dan tema ini diharapkan dapat memperbaiki segala kekurangan yang ada pada Terminal Tangkoko ini, sehingga akan didapat sebuah perancangan terminal baru yang dapat memfasilitasi/melayani semua golongan masyarakat dalam melakukan aktifitas moda transportasi dengan baik dan lancar.Kata Kunci :Kota Bitung, Terminal Penumpang, Tangkoko, Eco-Futuristic, Redesain
MENARA SKYWALK DI MANADO - Extreme Space in Architecture Tangketasik, Yanrico A.; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v1i2.585

Abstract

MENARA SKYWALK di MANADO (Extreme Space in Architecture) Yanrico Apyusta Tangketasik[1] Deddy Erdiono[2]   ABSTRAK Berkurangnya perhatian serta ketidakpedulian pemerintah danmasyarakat terhadap sektor kepariwisataan khususnya objek-objek wisata yang ada menjadi salah satu faktor sulitnya kota Manado memperoleh predikat sebagai Kota Pariwisata Dunia yang dicanangkan pada tahun 2010 lalu. Dapat dilihat dengan tidaka danya objek wisata buatan yang baru dan lebih inovatif yang dihadirkan untuk mendukung sektor kepariwisataan kota Manado. Adapun sektor kepariwisataan juga mempunyai peranan yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi serta perkembangan pembangunan kota Manado dimana sektor inidapat menjadi andalan untuk menarik para investor dalam pengembangan sektor bisnis di kota Manado. Melihat keterkaitan antara beberapa sektor tersebut, diperlukan suatu objek yang dapat mencakup semua kebutuhan dari berbagai sektor tersebut. Kehadiran objek multi fungsi berupa Menara Skywalk yang memiliki program fungsi mixed-use (Pusat Perbelanjaan dan Rekreasi, Apartemen, dan Kantor sewa)serta wisata ekstrimnya yaitu Skywalk diharapkan mampu mengakomodir berbagai aktifitas dalam satu wadah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta memajukan sektor kepariwistaan kota Manado. Selain itu, kehadiran Menara sebagai objek Monumental juga dapat menjadi icon baru bagi kota Manado. Kata kunci: Sektor Kepariwisataan, Kota Manado, Menara Skywalk, Mixed-use [1] Mahasiswa PS 1 Arsitektur UNSRAT [2] Staf Dosen Pengajar Arsitektur UNSRAT
SISTEM PENCAHAYAAN ALAMI DAN BUATAN DI RUANG KELAS SEKOLAH DASAR DI KAWASAN PERKOTAAN. Wibowo, Rekso
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.16770

Abstract

Sekolah sebagai tempat proses belajar dan mengajar, adalah tempat transfer ilmu dari pengajar kepada para murid. Sekolah Dasar sebagai tempat awal jenjang keilmuan kepada para siswa memegang peranan penting dalammenanamkan dasar keilmuan tersebut. Sehingga penting bagi kita untuk memastikan bahwa proses belajar dan mengajar di sekolah dasar berlangsung optimal. Dari banyak sistem yang ada dalam menunjang proses belajar danmengajar ini, salah satu yang cukup penting adalah sistem pencahayaan yang ada dalam bangunan sekolah terutama pada ruang-ruang kelas. Karena sistem pencahayaan sangat berpengaruh pada optimalnya proses belajar mengajarjuga pada kesehatan jangka panjang para siswa.Sistem pencahayaan ini diterapkan berdasarkan asumsi-asumsi perencanaan saat gedung sekolah tersebut dibangun. Perubahan kondisi internal dan eksternal merubah kondisi kondisi yang diasumsikan oleh perencana terdahulu. Hal ini terutama terjadi di kawasan perkotaan dimana kondisi lingkungan eksternal yang berkembang pesat dan berubah signifikan tanpa bisa di kontrol dan kondisi internal yang juga berubah karena kebutuhan yang meningkat pesat. Sehingga perlu adanya perbaikan-perbaikan pada design yang sudah ada, agar perubahan-perubahan yang terjadi tidak berpengaruh secara signifikan pada kondisi sekolah terutama pada ruang kelas.Kata-kunci : Sekolah, Pencahayaan, Ruang Kelas, Lingkungan
DESAIN PUSAT SENI DAN BUDAYA DI JAYAPURA “ARSITEKTUR ORIGAMI” Masarrang, Fennyrian; Siregar, Frits O. P.; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.6652

Abstract

Hasil karya seni bagian dari budaya Papua yang ada di kota Jayapura secara lebih khusus merupakan warisan kebudayaan yang sepatutnya dijaga untuk keberlangsungannya kedepan. Provinsi Papua  dan Papua Barat memiliki keanekaragaman seni dan budaya,Papua terdiri dari kurang lebih 250 sub suku bangsa, dengan memiliki keragaman seni budaya mutlak harus kita lestarikan sehingga tidak cepat punah akibat masuknya nilai-nilai baru di atas tanah Papua. Kebudayaan sangat penting karena sebagai alat untuk mempertahankan dan memperlihatkan karakter dan jati diri suatu bangsa termasuk kita di Papua. Untuk itu kita semua bertanggung  jawab untuk bagaimana mempertahankan, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Papua yang baik ke depan. Dari berbagai latar belakang permasalahan yang ada maka perlu dihadirkan sebuah sarana yang dapat menjadi wadah arsitektural sebagai Pusat Seni dan Budaya yang perlu untuk dilestarikan, dan juga sebagai sarana informasi untuk masyarakat umum. Kata Kunci: Pusat, Seni Himpunan Bagian dari Budaya.
BOLAANG MONGONDOW CULTURAL CENTER. Arsitektur Neo Vernakular Bahansubu, Reza P.; Waani, Judy O.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23679

Abstract

Kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari manusia ataupun masyarakat, dimana ada kebudayaan disitu pula ada masyarakat. Di Kotamobagu kebudayaan belum dikenal oleh masyarakat luas. Kondisi saat ini masyarakat Kotamobagu khususnya generasi muda sudah perlahan melupakan kebudayaan mereka karena terbatasnya informasi akan budaya setempat dan juga faktor tidak adanya ketersediaan wadah para generasi muda untuk berekspresi,. Karena itulah dibutukan kehadiran sebuah pusat kebudayaan atau Cultural Center. Sebuah pusat kebudaaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat yang mendekatkan budaya Bolaang Mongondow dengan orang Bolaang Mongondow sendiri, tetapi juga bertindak sebagai wadah pelestarian budaya yang dapat berkomunikasi langsung dengan masyarakat mengenai sejarah dan budayanya. Tema yang digunakan dalam perancangan Pusat kebudayaan iniadalah Neo Vernakular. Neo Vernakular adalah tema yang biasa digunakan dalam perancangan yang menerapkan unsur budaya dan lingkungan tetapi juga juga bisa menghasilkan karya baru yang orisinil dari perancang. Penerapan tema ini diharapkan mampu menginterpretasikan Budaya di Bolaang Mongondoow lewat objek Cultural Center yang dirancang. Kata Kunci :, Kebudayaan, , Cultural Center , Neo Vernakular..
WALE PRODUKSI DAN PUBLIKASI FILM DI MANADO. Analogi Dramaturgi dalam Arsitektur Adam, Henri C.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21254

Abstract

Film adalah fenomena sosial, psikologi, dan estetika yang kompleks yang merupakan dokumen yang terdiri dari cerita dan gambar yang diiringi kata-kata dan musik. Sehingga film merupakan produksi yang multi dimensional dan kompleks. Kehadiran film di tengah kehidupan manusia dewasa ini semakin penting dan setara dengan media lain, baik diproduksi secara individual ataupun komunitas. Dalam menunjang potensi ini, dibutuhkan ruang produksi yang mampu meningkatkan kreatifitas para penggiat film. Wale Produksi dan Publikasi Film dirancang untuk mewadahi kegiatan-kegiatan industri perfilman serta  memiliki fungsi yang mampu menunjang perkembangan kreatifitas sineas local, baik secara pendidikkan maupun hiburan, dengan fungsi publikasi yang menjadi ruang pertunjukkan sebuah karya visual sineas yang diharapkan hasil produksi industry perfilman lokal mampu disejajarkan dengan film-film mancanegara. Perancangan ini mengambil tema Analogi Dramaturgi dalam Arsitektur, untuk mendukung objek rancangan ini. Melalui penalaran secara induktif, ditelusuri plot/alur sebuah teater serta teks maupun aksi pementasan dalam menciptakan ide bentuk dan ruang kedalam rancangan. Selayaknya pementasan sebuah naskah drama, objek perancangan ini hadir dengan plot-plot ruang kedalam bentuk yang mementaskan geometri-geometri dalam mengisi kekosongan sehingga menghadirkan sebuah komposisi baru rancangan arsitektur.Kata Kunci : Wale, Rumah Produksi, Film, Analogi, Dramaturgi.
BIARA FRATER TAREKAT CMM DI TOMOHON (SAKRALISME DALAM ARSITEKTUR) Wowor, Marcovani R.; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i2.2525

Abstract

ABSTRAK Biara adalah salah satu sarana tempat berkegiatan para biarawan/ biarawati yang dalam hal ini adalah Biara CMM untuk tempat berkegiatan para Frater CMM. Biara umumnya memiliki fungsi yang majemuk yaitu tempat tinggal, tempat ibadah, tempat studi dan tentu saja dilengkapi dengan fasilitas lainnya seperti sarana  rekreasi dan olahraga, berkebun bahkan tempat pekuburan. Dilihat dari banyaknya fungsi suatu biara, maka sudah seharusnya biara dibuat senyaman dan aman mungkin sebagai suatu tempat tinggal, tenang dan sakral sebagai tempat ibadah dan berdoa, nyaman untuk tempat studi, luas dan alami untuk menunjang fungsi pendukung lainnya seperti rekreasi dan olahraga berkebun maupun pekuburan. Tetapi dari kesemua fungsi yang ada biara sangat identik dengan kesakralan, karena biara bukanlah tempat tinggal biasa melainkan tempat tinggal yang dikhususkan untuk mereka yang menyatakan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan lewat karya-karya mereka didunia. Untuk itulah dalam merancang biara diperlukan unsur Sakralisme didalam setiap bangunan yang ada maupun pada ruang luar, sehingga ketika memasuki biara orang akan dapat langsung merasakan perbedaan antara bangunan biara dan bangunan lainnya.   Kata kunci: Biara, Sakralisme
AMPHIBICAL CITY HOTEL DI MANADO. Aquascape Architecture Dalinda, Rayleighjan W.; Erdiono, Deddy; Makarau, Vicky H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17264

Abstract

Amphibical City Hotel merupakan bangunan yang menyediakan jasa pelayanan akomodasi penginapan yang lengkap dengan sarana rekreasi. jenis hotel ini biasanya banyak menarik para  wisatawan, pebisnis dan pegawai swasta maupun negeri yang datang bertugas diluar kota.Kota Manado adalah Ibukota dari Provinsi Sulawesi yang merupakan kota kedua terbesar di pulau Sulawesi, berdasarkan Dinas Pariwisata, kota Manado memiliki 84 obyek pariwisata dimana 78 obyek diantaranya merupakan obyek pariwisata buatan. Manado lebih dikenal dengan keindahan taman bawah lautnya pariwisata mendapat perhatian khusus dan menjadi salah satu misi dari pemerintahan Kota Manado. Pengembangan sektor pariwisata diyakini mampu memberi efek bagi kesejahteraan daerah dan mewujudkan manado sebagai Kota Ekowisata sebagai tujuan turis di ujung utara sulawesi.Tema yang di terapkan dalam proses perancangan diambil dari keterkaitan antara objek amphibical hotel dengan lokasi yaitu “Aquascape Architecture” tema ini mengangkat dan menampilkan sebuah hasil gubahan masa yang memiliki posisi sebagian masa bangunan berada didarat dan sebagian masa bangunan berada di air layaknya hewan amfibi. Penerapan tema ini diharapkan mampu menjadi sebuah akomodasi penginapan yang unik di Kota Manado, dapat menarik minat wisatawana dengan panorama pemandangan dari kamar bawah laut serta menjadi icon bangunan pariwisata di Kota Manado serta dapat meningkatkan perekonomian daerah di bidang pariwisata.Kata kunci : Amphibical, City Hotel, Aquascape Architecture
TAMAN WISATA DANAU LOTA DI MORONGE OPTIMALISASI KAWASAN TEPIAN DANAU Maliatja, Aghita G.; Waani, Judy O.; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.8881

Abstract

Kawasan perairan merupakan kawasan yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan kehidupan.Air merupakan kebutuhan utama, karena air adalah salah satu faktor penggerak berbagai jenis pekerjaan/ kegiatan.Dari berbagai aspek ini, kawasan perairan memiliki karakter tersendiri yang menarik sehingga, tidak heran kawasan ini sangat diminati.Dari sinilah mula-mula munculnya konsep waterfront, baik di pantai, sungai, danau dan terpisah dengan daratan atau berada di tengah-tengah daratan.Masing-masing memiliki keunikan yang khas.Lama-kelamaan kawasan itu berkembang, hingga menjadi sentra aktivitas yang ramai. Optimalisasi kawasan tepian danau Lota ini, merupakan wujud perhatian terhadap potensi-potensi yang belum di kembangkan. Selain itu, mengingat daerah Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah yang sebagian besarnya adalah perairan baik itu laut, sungai, danau dan merupakan bagian perbatasan NKRI yang jika proses pengembangannya menggunakan konsep waterfront, bukan tidak mungkin tahun-tahun mendatang akan berhasil seperti yang sudah diterapkan pada Singapura, Sydney, dan Paris yang telah berhasil menggunakan konsep waterfront. Pengaruh paling utama terhadap perencanaan taman wisata danau Lota yang berkonsepkan optimalisasi kawasan tepian danau sebagai area waterfront merupakan sebuah konsep yang diharapkan kedepannya mampu merubah kualitas ekosistem serta lingkungan danau. Konsep ini memaksimalkan sebisa mungkin setiap bagian-bagian taman mampu mendapatkan view danau, dari berbagai sudut pandang tanpa ada bagian-bagian yang menghalangi view danaunya. Sehingga konsepnya bisa di capai, dan tentunya terus merawat dan menjaga pelestariannya termasuk dalam perencanaan taman wisata danau ini. Dengan demikian tidak hanya ada ruang terbuka saja sebagai fasilitas rekreasi yang disediakan namun, dengan adanya fasilitas ini kondisi danau bisa menjadi lebih baik lagi. Taman wisata danau Lota, merupakan satu langkah nyata untuk berbagai permasalahan yang timbul dan diharapkan mampu mengatasinya. Sehingga kehadiran taman wisata danau Lota tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan akan fasilitas rekreasi saja tapi banyak dampak positifnya untuk danau, lingkungan sekitar serta masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitarnya. Kata kunci : Optimalisasi, Potensi, Waterfront
PEDESTRIAN MALL DI TOMOHON “Arsitektur Kontekstual” Surbakti, Ayu S. B.; Sondakh, Julianus A. R.; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.14785

Abstract

Kota Tomohon merupakan sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara dan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Minahasa. Kota ini tumbuh dan berkembang pada jalur sirkulasi utama antara Kota Manado dengan kota-kota lainnya di Kabupaten Minahasa, sehingga situasi ini menjadikan posisi Kota Tomohon sangat strategis dan penting dalam kedudukan perekonomian wilayah yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Berdasarkan hal tersebut, maka diangkatlah sebuah judul untuk Tugas Akhir Perancangan Arsitektur, yaitu “Pedestrian Mall Di Tomohon Dengan Tema Arsitektur Kontekstual”. Pedestrian Mall ini terletak di pusat Kota Tomohon dimana GMIM berencana akan merancang suatu kawasan Superblock GMIM yang akan memberikan beberapa pelayanan diantaranya pelayanan dalam bidang perekonomian, pendidikan dan kesehatan yang akan menjadi aset GMIM yang bersifat gerejawi dan kontekstual dengan lingkungan disekitarnya. Sebagai pusat orientasi utama dari kawasan Superblok GMIM ini yaitu sebuah gedung peribadatan Gereja Sion (Gereja Tua), yang merupakan bangunan bersejarah yang ada di kota Tomohon. Konsep utama dalam perancangan ini yaitu kontekstual dengan bangunan Gereja Sion serta bangunan yang ada dilingkungan sekitarnya. Kata Kunci      : Kota Tomohon, Pedestrian Mall, Superblock GMIM, Arsitektur Kontekstual

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 3, Agustus 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 1, Februari 2025 Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024 Vol. 13 No. 3 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 3, Agustus 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023 Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022 Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021 Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020 Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019 Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018 Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017 Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016 Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015 Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014 Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013. Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012 More Issue