cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Arsitektur DASENG
ISSN : 23018577     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur DASENG adalah media informasi pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni khususnya Artikel Ilmiah bidang Arsitektur berupa Hasil Penelitian, Hasil Perancangan, Studi Kepustakaan maupun Tulisan Ilmiah.
Arjuna Subject : -
Articles 882 Documents
BIODOME DI MANADO (ARSITEKTUR BIOMIMETIKA) Schouten, Frendy P. Y.; Sangkertadi, Prof.; Siregar, Frits O. P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.8890

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati juga potensi alam yang melimpah, bahkan hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki flora dan fauna endemik yang tentunya hanya akan ditemukan ada di negara kita. Namun seiring dengan perkembangan waktu, masyarakat pada umumnya sudah tidak lagi mengenal tumbuh-tumbuhan ataupun hewan yang menjadi ciri khas daerahnya, yang disebabkan kurangnya media yang mampu memperkenalkan flora dan fauna khas terhadap masyarakat. Untuk itu perlu adanya wadah fasilitas konservasi berupa perlindungan dan pelestarian untuk objek tersebut yang bisa difungsikan sebagai sarana informasi edukasi dan  merujuk pada wisata alam, yang dapat menarik minat masyarakat. Biodome dapat menjadi salah satu wadah untuk menampung fungsi wisata konservatif tersebut. Maksud dari objek Biodome yang menciptakan dan mereplika ekosistem secara alami di dalam sebuah bangunan (kubah), objek ini bisa diibaratkan seperti museum alam, museum hidup, botanical garden atau mungkin kebun binatang. Perancangan objek ini menggunakan proses desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel, dimana terdapat dua fase yakni fase pengembangan wawasan komperhensif dan fase siklus image-present-test. Dengan pendekatan tema Arsitektur Biomimetika yang pada dasarnya menggunakan alam sebagai model dan acuan dalam  ide-ide perancangan, kiranya dapat memperkuat aspek alam pada objek rancangan yang mengacu pada fungsi konservasi, edukasi dan ekowisata ini. Kata kunci : Biodome, Biomimetika
NEIGHBORHOOD CULTURAL CENTER DI MANADO “SPACE AS LANGUAGE” Iwawo, Paul; Wuisang, Cynthia E. V.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.14838

Abstract

Kota Manado adalah sebuah kota yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Kota Manado kini berkembang menjadi sebuah kota maju dan semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan makin banyaknya investor menanam modalnya di wilayah kota Manado. Dengan demikian tentu saja memacu roda industri di daerah ini, yang ujungnya bermuara kepada pembukuan lapangan pekerjaan baik sektor formal maupun informal. Hal ini tentu saja mengundang banyak kaum urbanis yang berbondong-bondong tiap tahunnya untuk datang ke kota Manado. Jumlah penduduk yang meningkat tiap tahunnya ini tentu saja membutuhkan berbagai fasilitas publik. Sekarang ini di kota Manado telah tersedia beberapa fasilitas umum, antara lain adalah Rumah Sakit, stadion olahraga, pusat perbelanjaan, stasiun kereta api, terminal bus dan institusi pendidikan (TK-SD-SLTP-SLTA-Perguruan Tinggi). Namun belum adanya suatu fasilitas umum yang berkaitan dengan aspek sosio-kultural. Terdapat lima elemen kota yang harus diperhatikan dalam perancangan suatu kota, yaitu : path, edge, node, landmark. Neighborhood Cultural Center merupakan sebuah tempat yang dapat menampung aktivitas warga dalam aspek sosial, kultur-edukatif dan juga bahkan rekreatif. Sebuah community center didalamnya terdiri dari perpustakaan umum, museum, internet café, amphiteater, auditorium dan mungkin beerapa fasilitas public lainnya, yang terangkum dalam suatu kawasan yang dilengkapi oleh penataan ruang luar yang baik. Dengan mengambil tema Space As Language Linguistik pengkajian Arsitektur dalam bahasa komunikasi terdiri dari kata-kata yang memilik arti. Begitu pula dengan dengan karya-karya Arsitektural yang juga merupakan kumpulan dari elemen-elemen pembentuk yang memiliki/memancarkan suatu makna/ arti dapat menjadikan Neighborhood Cultural Center sebagai tempat yang mewadahi kegiatan bertemu, berkomunikasi dan bertukar pikiran, informasi dan pengetahuan serta saling menunjang dengan fungsi yang lain Menjadikan Neighborhood Cultural Center sebagai sarana yang menunjang dalam perkembangan Kota Manado dalam bidang sosial ekonomi dan ilmu pengetahuan. Keyword: Neighborhood Cultural Center, Masyarakat, Space As Language, Manado.
PUSAT PENANGKARAN DAN REHABILITASI SATWA ENDEMIK DI TAHURA H.V. WORANG GUNUNG TUMPA. Sustainable Landscape Architecture Ekleysia C. Koagouw; Raymond Ch. Tarore; Steven Lintong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24635

Abstract

Kualitas kehidupan bagi makhluk hidup diterapkan dalam pemeliharaan dan pelestarian alam. Dengan kekayaan alam yang melimpah, Sulawesi Utara merupakan daerah potensial yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati. Potensi ini dapat diarahkan sebagai penangkaran satwa yang hampir punah dengan menerapkan rehabilitasi bagi satwa yang sakit, sehingga dapat menciptakan perlindungan bagi satwa endemik Sulawesi. Diharapkan dengan pengadaan objek berbasis lingkungan ini, akan timbul rasa kepedulian kepada alam dan makhluk hidup lainnya.Taman Hutan Raya Gunung Tumpa memberi prospek yang baik untuk di jadikan lokasi perancangan. Ditahun 2014, kawasan ini ditetapkan menjadi kawasan hutan dengan fungsi Kawasan Pelestarian Alam (KPA) melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.1832/Menhut-II/2014. Di tahun yang sama kawasan ini dipertegas kembali keberadaannya sebagai KPA melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.734/Menhut-II/2014 tanggal 2 September 2014. Kawasan Taman Hutan Raya Gunung Tumpa H.V.Worang menjadi kawasan pelestarian alam sekaligus merupakan satu-satunya sumber daya hutan di Kota Manado. Dengan menerapkan tema Sustainable Landscape Architecture dalam perencanaan ruang dalam dan luar yang mengupayakan pembangunan berkelanjutan sehingga rancangan dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi,pendidikkan dan penelitian daerah. Oleh karena itu, penerapan tersebut berbuah pada terciptanya lingkungan binaan yang adaptif dengan alam dan segala perubahannya.            Kata kunci : Penangkaran, Rehabilitasi, Satwa,  Sustainable Landscape Architecture, Tahura, Gunung Tumpa.
WALE BABE DI MANADO (PARADOKS: THE BEGINNING OF THE END) Manabung, Theodosius M.; Tinangon, Alvin J.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i1.4881

Abstract

ABSTRAK Dalam tradisi Minahasa, Wale (rumah) adalah kosmos terkecil dimana kehidupan berawal dari situ. rumah merupakan ruang hidup, ruang belajar dan pembentuk integritas manusia-manusia Minahasa. Rumah menjadi bagian intergral antara manusia, alam dan sang pencipta. Barang bekas (Babe) adalah salah satu produk alternatif untuk pemenuhan kebutuhan manusia, disamping harganya yang terjangkau kualitasnya masih bisa bersaing. Permasalahanya adalah belum adanya wadah yang mampu memfasilitasi hal tersebut. Disamping pandangan masyarakat terhadap barang bekas yang masih lekat dengan stigma negatif. Keterampilan untuk mengolahnya menjadi produk ekonomi yang berkualitaspun masih minim. Wale Babe hadir sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Menjadi jembatan antara gaya hidup masyarakat Manado yang “bergengsi tinggi” dan pemberian nilai pada barang bekas. Pendekatan Paradoks; The Beginning of the End sabagai upaya penyadartahuan masyarakat untuk Mawale, serta penyadartahuan bahwa manusia dan barang dapat sewaktu-waktu rusak, menjadi bekas dan kehilangan nilai  namun selalu ada alasan untuk kembali memperbaiki semua itu. Proses Perancangan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah Pengembangan Wawasan Komprehensif yang menekankan pada kedalaman kompilasi, analisis dan sintesis tentang Wale Babe, Paradoks dan Tapak Perencanaan,  Sedangkan tahap kedua adalah Transformasi Desain dengan tiga siklus konteks penekanan yaitu Tema, Fungsi dan Lokasi. Masing-masing siklus memiliki metode dan strategi khusus namun tetap berkesinambungan. Penerapan tema Paradoks; The Beginning of the End menjadi harapan terciptanya wadah baru berupa bangunan komersil yang juga berfungsi sebagai ruang sosial yang dinamis dan edukatif. Pembentukan persepsi lewat permainan bentuk, kemisteriusan ruang dalam dan ruang luar menjadi kombinasi yang ideal untuk membahasakannya dalam konsep arsitektural. Begitu pula dengan kontraversi pemilihan lokasi, lahan yang di nilai eksklusif dan mahal dianggap tidak cocok untuk objek yang menawarkan barang bekas, menjadi tantangan konsep arsitektural bekerja, serta menjadi pembuktian bahwa arsitektur dapat menjadi jembatan antara persepsi dan pengkotak-kotakan ekonomi dan status sosial.  Bangunan komersil yang menawarkan barang bekas serta konsep rumah sebagai lokasi bisnis bukan merupakan hal baru, namun konsep “ruang hidup yang menghidupkan” adalah sebuah “ke-baru-an” konsep yang ditawarkan, Wale (rumah) menjadi ruang interaksi sosial, ruang edukasi, ruang spiritual, ruang perenungan dan ruang kreatif. Kata kunci: Wale, Barang Bekas, Paradoks, Mawale
OFFICE TOWER IN MANADO. Diagrid Structure Rumpalaba, Marleve O. O.; Erdiono, Deddy; Rate, Johannes Van
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19035

Abstract

Kota Manado adalah kota yang sangat berkembang pesat dalam berbagai bidang, salah satunya perekonomian. Dapat kita lihat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir di kota Manado telah hadir berbagai pusat perbelanjaan, dan perusahaan perusahaan luar mulai banyak masuk untuk memenuhi pasar kota Manado. maka dari itu haruslah kebutuhan sarana dan prasarana kota Manado di imbangi dengan fasilitas fasilitas yang menunjang dalam memenuhi kebutuhan pasar yang ada. Dalam bidang perusahaan jasa dan perdagangan Manado. membutuhkan sarana dan prasarana untuk menunjang proses terjadinya jual beli dan juga proses dimana terjadinya sebuah inovasi pemasaran. Dalam hal ini kebutuhan ruang yang dapat menunjang  terjadinya aktivitas dari perusahaan yang ada. Seperti penggunaan tempat yang sementara, karena kecenderungan perusahaan yang berpindah pindah sesuai dengan kebutuhan pasar. Kota Manado memiliki keterbatasan lahan dalam lingkup ruang kota yang telah padat sehingga untuk memenuhi semuanya itu pembangunan dalam skala vertikal yaitu bangunan tinggi dan juga tower sangatlah menjadi solusi untuk pembangunan sarana dan fasilitas yang memerlukan tempat di dalam CBD kota. Yaitu rental office yang dapat menyediakan sebuah sarana yang menunjang dan dapat memberikan solusi dari kebutuhan ruang yang ada dan penggunaan yang tidak menetap. Maka dari itu pembangunan office tower menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan mengangkat tema struktur diagrid di harapkan bangunan ini bisa menjadi  salah satu bangunan yang menjadi icon kota Manado karena eksplorasi bentuk yang unik dan juga dapat memenuhi kebutuhan ruang yang dibutuhkan oleh office tower, bagi para pengguna yang akan menempati bangunan ini dan masyarakat kota Manado.Kata Kunci: Office, Tower, Struktur Diagrid
HOTEL RESORT DI TEPI DANAU TONDANO, MINAHASA “ CULTURAL IDENTITY “ Sampouw, Ocklen G.; Tungka, Aristotulus E.; Kumurur, Veronica A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.10023

Abstract

Hotel Resort adalah sebuah wadah arsitektural dalam bentuk hunian penginapan yang dibangun untuk memfasilitasi para wisatawan mancanaegara atau wisatawan lokal yang datang berkunjung ke sebuah daerah atau objek wisata untuk menikmati fasilitas-fasilitas atau tempat-tempat wisata yang ada. Keberadaan wadah ini sudah cukup banyak tetapi masih sedikit yang menyediakan hunian Hotel Resort dengan kualitas dan pelayanan  terbaik. Selain itu tingkat kunjungan wisatawan asing maupun lokal terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang membuka peluang untuk dihadirkannya sebuah hunian Hotel Resort dengan fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang terbaik, dan sebagai jembatan dalam merancang objek arsitektural ini “Cultural Identity” dianggap cocok menjadi tema perancangan dengan pertimbangan identitas kebudaya yang saat ini mulai terlupakan, sehingga dengan rancangan Hotel Resort ini diharapkan dapat mengangkat nila-nilai budaya yang ada terlebih budaya Minahasa. Selain itu Cultural Identity  memiliki karakteristik sendiri yang dapat diterjemhkan dalam bahasa dan rancangan Arsitektur. Kata Kunci : Hotel Resort, Hunian, Cultural Indentity, Arsitektur
KAWASAN GEDUNG GEREJA GMIM SENTRUM DI RATAHAN. Manifestasi Christian Symbolism dalam Arsitektur Antou, Carlos W.; Kapugu, Herry; Franklin, Papia J. C.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19303

Abstract

Salah satu kebutuhan dasar setiap individu adalah kebutuhan spiritual. Kebutuhan spiritual menjadi suatu kebutuhan yang tingkat pemenuhannya merupakan sesuatu yang individu lainnya tidak dapat ukur dengan suatu skala besaran. Karena kebutuhan ini hanya bisa dirasakan, diperlukan, dicari, dan dapat diukur oleh individu itu sendiri. Minahasa Tenggara merupakan sebuah daerah kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara yang masih tergolong muda, karena belum lama dimekarkan. Sehingga sarana prasarana di Minahasa Tenggara belum semuanya bisa tersedia. Perkembangan masyarakat didaerah ini yang sudah berkembang dengan pesat, juga turut mempengaruhi perkembangan jumlah penganut agama Kristen didaerah ini. Ratahan sebagai ibukota Kabupaten Minahasa Tenggara menjadi pusat pemerintahan dan juga pusat pelayanan GMIM di Minahasa Tenggara. Sehingga secara tidak langsung juga berdampak pada tingkat kebutuhan suatu wadah peribadatan pusat khususnya untuk masyarakat dengan denominasi GMIM, kebutuhan akan sebuah wadah peribadatan pusat ini sangatlah penting, karena pada nantinya daerah kabupaten yang beribukota di Ratahan ini pastinya akan terus berkembang secara khusus dalam jumlah penganut agama Kristen.            Perancangan Kawasan Gedung Gereja GMIM Sentrum diRatahan ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk pemenuhan akan fasilitas peribadatan. Dalam penulisan ini, kajian diawali dengan mempelajari tentang Kawasan Gedung Gereja tersebut, standart-standart perancangan bangunan Gereja, kajian tema Manifestasi “Christian Symbolism” dalam Arsitektur. Dilakukan juga kajian tentang Kabupaten Minahasa Tenggara Kata kunci: Kawasan, Gedung Gereja GMIM, Christian Symbolism
PERANCANGAN APARTMEN DI AMBON. Arsitektur Kontemporer Brian J. Pattiasina; Roosje J. Poluan; Fela Warouw
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25552

Abstract

Kota ambon pada beberapa tahun ini sedang gencar-gencarnya mengembangkan potensi-potensi yang ada disetiap sektor. Pengembangan di bagian sektor bisnis dan pariwisata bertujuan menarik investor lokal maupun mancanegara untuk menanam modal, hal ini mengakibatkan kota ambon diserbu oleh para pendatang yang jumlahnya terus meningkat disetiap tahun. Jumlah penduduk kota ambon pada tahun 2017 adalah sebanyak 376.152 jiwa dan terkonsentrasi di kecamatan sirimau dengan penduduk sebesar 1.857,64 jiwa/ . Sebagai pusat dari pelabuhan, pariwisata, dan pendidikan, jika dibandingkan dengan jumlah jiwa yang ada luas lahan yang tersisa tidaklah cukup untuk menampung. Maka dari itu perlunya hunian vertical dikota ambon seperti apartemen. Oleh karena itu, dengan pembangunan apertemen ini diharapkan agar dapat menyediakan tempat tinggal yang nyaman, praktis, dan efisien bagi masyarakat. Dengan menggunakan tema arsitektur kontemporer pada bangunan apartemen ini akan bertahan melewati perkembangan zaman karena gaya arsitektur kontemporer menampilkan bentuk yang unik dan komplek. Kata Kunci :   Apartment, Arsitektur Kontemporer, Ambon 
MANADO TOYOTA AUTOMOBILE CLUB HOUSE (BLOB ARCHITECTURE) Sumampouw, Brayn; Waani, Judy O.; MT, Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i2.5955

Abstract

Kemunculan berbagai komunitas mobil merupakan suatu fenomena yang sedang marak di kota-kota besar di Indonesia. Fenomena ini berkembang seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan akibat perkembangan ekonomi yang ada. Kota Manado yang juga salah satu kota besar di Indonesia turut mengalami fenomena ini. Namun sayangnya tanpa penyediaan fasilitas yang memadai di bidang otomotif, komunitas ini sering dianggap sebagai masalah bagi masyarakat awam. Sedangkan jika melihat dari sisi positifnya, komunitas ini memiliki potensi dalam bidang otomotif baik olahraga dan modifikasi yang perlu dikembangkan. Komunitas ini membutuhkan gedung perkumpulan untuk keperluan rekreasi, olahraga dan event untuk mewadahi komunitas ini. Toyota sebagai salah satu produsen mobil di kota Manado peduli terhadap fenomena ini turut bekerja sama dengan komunitas dalam mendukung operasional gedung perkumpulan ini. Gedung perkumpulan ini dihadirkan dengan menggunakan tema perancangan Blob Architecture karena dianggap mampu untuk merepresentasikan fungsi dan identitas gedung perkumpulan ini. Perancangan ini menggunakan proses desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel. Proses desain dilakukan dalam beberapa siklus image-present­­-test untuk merespon terhadap data-data yang berpengaruh terhadap desain bangunan. Proses pengumpulan data-data tersebut meliputi observasi lapangan, wawancara dengan komunitas mobil, studi literatur mengenai Blobitecture dan studi komparasi terhadap gedung perkumpulan  lainnya. Beberapa proses analisa terhadap data-data yang ada dilakukan guna menghadirkan objek rancangan yang dapat menunjang kegiatan komunitas mobil. Perancangan Manado Toyota Automobile Club House dengan penerapan Blobitecture ini dapat menjawab kebutuhan komunitas mobil melalui berbagai  fasilitas yang disediakan. Bentuk blob akan diterapkan pada ruang dalam,  gubahan massa, dan selubung bangunan. Penerapan tema memberikan bangunan yang terkesan lega yang juga merupakan ciri khas gedung perkumpulan. Penerapan tema juga dilakukan pada ruang luar bangunan untuk mendapatkan konsep sirkulasi mobil layaknya lintasan balap. Sehingga secara keseluruhan hasil perancangan dapat menggambarkan bentuk perwujudan ketertarikan komunitas terhadap mobil yang menjadi pengikat dan landasan berdirinya komunitas.   Kata kunci : club house, mobil, blob architecture
REDESAIN PERPUSTAKAAN DAERAH DI MANADO “PENELUSURAN MAKNA EDUKATIF DAN REKREATIF DALAM ARSITEKTUR” Sampouw, Iqnasya E. P.; Sondakh, Julianus A. R.; Supardjo, Surjadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i1.10747

Abstract

ABSTRAK Perpustakaan merupakan sarana pendidikan nonformal dan informal, artinya perpustakaan merupakan tempat belajar diluar bangku sekolah maupun juga tempat belajar dalam lingkungan pendidikan sekolah. Dimana perpustakaan sebagai sumber informasi yang menyimpan karya manusia, karya cetak seperti buku, majalah, dan sejenisnya serta karya rekaman seperti kaset, piringan hitam, dan sejenisnya. Perpustakaan juga menjadi sumber informasi yang menjadi acuan dalam mencari literatur. Dalam menarik minat pengunjung perpustakaan memerlukan sebuah desain ruang-ruang yang bisa menarik minta baca pengunjung perpustakaan karena tatanan fisik merupakan salah satu dasar dalam memenuhi kebutuhan dasar beraktivitas, mempengaruhi penampilan, perasaan, dan kepribadian setiap orang / pengunjung, dan dalam perancangan “Redesain Perpustakaan Daerah” ini penulis menggunakan penerapan tema “Edukatif dan Rekreatif dalam Arsitektur”. Edukasi merupakan fungsi utama dalam sebuah perpustakaan. Edukatif dalam sebuah perpustakaan dapat diwujudkan melalui penyediaan berbagai macam sarana dan fasilitas belajar serta sumber informasi yang lengkap, baik secara manual berupa buku maupun digital berupa audio visual. Dan dimana Rekreatif adalah suatu kegiatan yang bersifat rekreasi, yang biasanya dilakukan saat seseorang memiliki waktu luang ketika terbebas dari pekerjaan atau tugas. Kata kunci : Perpustakaan, Edukatif, Rekreatif.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 3, Agustus 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 1, Februari 2025 Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024 Vol. 13 No. 3 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 3, Agustus 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023 Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022 Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021 Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020 Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019 Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018 Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017 Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016 Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015 Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014 Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013. Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012 More Issue