cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
STUDI BUKAAN MULUT LARVA KERAPU SUNU PLECTROPOMUS LEOPARDUS DAN KESESUAIAN UKURAN PAKAN ALAMI Miss Sudewi; Yasmina Nirmala Asih; Afifah Nasuka
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.682 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.13

Abstract

Data mengenai bukaan mulut larva kerapu sunu Plectropomus leopardus merupakan hal penting dalam memilih pakan alami yang sesuai selama pemeliharaan larva. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui ukuran bukaan mulut larva dari D-3 hingga D-30, dan mengevaluasi kesesuaian ukuran pakan alami untuk larva. Larva kerapu sunu dipelihara selama 30 hari dan diberi pakan trochophore sejak hari ke-dua (D-2), rotifer pada D-3, nauplii kopepoda mulai hari ke-4, dan nauplii Artemia sejak D-20. Sampling dilakukan terhadap minimal 30 individu untuk dilakukan pengambilan gambar dan pengukuran baik bukaan mulut larva maupun pakan alami.  Bukaan mulut larva meningkat secara lambat mulai dari D-3 (113,33±29,85 µm) ke D-7 (144,65±23,99 µm), tetapi meningkat secara signifikan ke 263,67±44,57 µm pada D-10, dan berturut-turut pada D-20 dan D-30 yaitu 470,94±123,86 µm dan 719,73±103,39 µm. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa trochophore sesuai untuk larva karena ukurannya lebih rendah dari bukaan mulut larva. Rotifer yang disaring memiliki panjang 121,94±17,21 µm dan lebar 93,65±13,32 µm. Penting untuk diperhatikan bahwa hanya 34,14% (14/41) dari populasi rotifer memiliki panjang dibawah bukaan mulut larva D-3. Rata-rata panjang dan lebar nauplii kopepoda yaitu 354,40 ± 44,83 µm dan 237,77 ± 33,42 µm mengindikasikan bahwa ukuran ini jauh lebih tinggi dari bukaan mulut larva D-4. Nauplii Artemia memiliki rata-rata panjang 541,23±88,56 µm dan lebar 408,62±68,25 µm, sebagai konsekuensinya, larva D-20 tidak dapat memangsa dari sisi samping, tetapi dapat memangsa nauplii Artemia dari arah depan. Kami menyarankan bahwa prinsip kesesuaian ukuran pakan alami sebaiknya diterapkan dalam pemeliharaan larva kerapu sunu P. leopardus untuk meningkatkan pemangsaan pakan alami oleh larva.
PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN KERAPU BATIK (EPINEPHELUS POLYPHEKADION) HASIL BUDIDAYA Ni Ketut Maha Setiawati; Regina Melianawati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.889 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.18

Abstract

Ikan kerapu batik merupakan jenis ikan laut yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga  budidaya terhadap ikan ini perlu dilakukan. Dua parameter yang penting dalam budidaya adalah pertumbuhan untuk mengetahui kondisi individu ikan dan tingkat kematangan gonad (TKG) yang menunjukkan perkembangan gonad ikan. Kedua hal tersebut merupakan indikator yang penting untuk evaluasi keberhasilan suatu budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, panjang dan berat ikan kerapu batik hasil budidaya serta perkembangan tingkat kematangan gonadnya selama pemeliharaan. Penelitian menggunakan 2 buah bak fiberglass volume 1.000 L, yang masing-masing bak diisi dengan 20 ekor ikan dengan ukuran panjang awal 8,96± 1,5 cm dan berat tubuh  13±2 g.  Pemeliharaan dilakukan selama 19 bulan dan selama itu ikan diberi pakan pellet. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan ikan yang diukur dari panjang dan berat tubuhnya, serta tingkat kematangan gonad dan diameter telurnya. Hasil menunjukkan bahwa pada akhir penelitian, panjang ikan mencapai 16,0-30,9 cm, terbanyak pada kisaran panjang 22,0-24,9 cm (37,7%), dan berat tubuhnya berkisar 60-484 g. Pertumbuhan berat ikan lebih cepat daripada pertumbuhan panjangnya. Gonad ikan mulai berkembang pada panjang 19,0-21,9 cm dengan TKG I (54,5%), II (27,5%) dan III (18,0%). Pada akhir penelitian, ikan dengan panjang 28,0-30,9 cm sudah mencapai TKG IV  (60%).  Kisaran diameter telur yang dominan pada TKG I, II, III dan IV, masing-masing adalah 10,0-35,9 µm (89,5%), 36,0-61,9 µm (73,2,%), 36,0-61,9 µm (56,1%) dan 30,0-61,9 µm (58,8%). Hasil ini menunjukkan bahwa ikan kerapu batik hasil budidaya yang dipelihara dalam bak pemeliharaan dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan tingkat kematangan gonad.
Komoditas Perikanan di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi Nanda Radhitia Prasetiawan
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.2 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.23

Abstract

Pulau Wangi-Wangi sebagai bagian dari Taman Nasional Wakatobi merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi di Kabupaten Wakatobi. Keanakeragaman hayati laut dan kultur bahari yang cukup kuat menjadikan sebagian mayarakat pada pulau ini berprofesi sebagai nelayan. Hasil perikanan pun menjadi sumber gizi utama dan komoditas bagi masyarakat. Jenis-jenis komoditas hasil perikanan telah diidentifikasi melalui survei pada pasar-pasar yang ada di pulau Wangi-Wangi. Hasil perikanan yang diperdangangkan didominasi oleh ikan pelagis dan ikan-ikan karang. Adapun ikan-ikan tersebut berasal dari famili Scombridae, Carangidae, Serranidae, Lutjanidae, Haemulidae, Scaridae, Labridae, Lethrinidae, Siganidae, Nemipteridae, Mullidae, Mugilidae, Dasyatidae, Acanturidae, Holocentridae, Balistidae, Atherinidae, Belonidae, Caesionodae, Ephippidae, Ostraciidae, Diodontidae, Coryphaenidae, Zanclidae, Muraenidae yang  merupakan hasil tangkapan nelayan tradisional. Beberapa komoditas perikanan lain yang diperdagangkan adalah cumi-cumi, sotong, gurita, Crustacea, Bulu babi (Diadematidae) serta kerang-kerangan dan gastropoda laut. Kima (Tridacnidae) juga dapat ditemukan di pasar di pulau Wangi-Wangi. Sebagian besar hasil perikanan diperdangkan dalam bentuk segar, adapun produk lainnya merupakan hasil pengasapan, pengasinan ataupun pengeringan yang ditujukan untuk konsumsi lokal. Pada pasar di pulau Wangi-Wangi nelayan menjual langsung hasil tangkapan ke konsumen ataupun ke pedagang ikan. Pengolahan hasil perikanan di Pulau Wangi-Wangi masih terbatas sehingga perlu adanya diversifikasi produk olahan untuk memberikan nilai tambah pada komoditas hasil perikanan yang ada.
Hubungan antar ukuran beberapa bagian tubuh rajungan (Portunus pelagicus) di perairan utara Lamongan, Jawa Timur Muhammad Arif Rahman; Feni Iranawati; Eko Sulkhani Yulianto; Sunardi Sunardi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 1 (2019): JFMR VOL 3 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.133 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.01.16

Abstract

Rajungan (portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas penting perikanan Indonesia. Pengetahuan tentang aspek biologi rajungan, termasuk hubungan antar ukuran bagian-bagian tubuhnya (morfometrik) dan sebaran lebar karapas serta beratnya, akan berguna sebagai salah satu informasi dalam pengelolaan rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lebar karapas- berat rajungan, hubungan lebar-panjang-tinggi karapas, serta sebaran lebar dan berat rajungan. Metode yang digunakan adalah survei dengan pengambilan sample secara acak pada 2 (dua) titik pendaratan ikan di perairan utara Lamongan, khusunya kecamatan Paciran pada bulan Juli sampai September 2018. Hasil penelitian menunjukkan sifat pertumbuhan isometrik untuk rajungan betina dan allometrik positif untuk rajungan jantan. Selain itu, didapatkan hubungan linear positif dengan nilai a = 0,06 dan b = 0,45 untuk lebar-panjang karapas serta nilai a = 0,06 dan b = 0,25 untuk lebar-tinggi karapas. Rajungan betina paling banyak ditangkap pada lebar karapas 12-13 cm dan berat 100 g, sedangkan rajungan jantan sering ditangkap dengan lebar karapas 11 cm dan berat 80-90 g.  Masih adanya rajungan dibawah ukuran lebar karapas 10 cm yang tertangkap (lebar karapas diatas 10 cm adalah aturan rajungan yang boleh ditangkap sesuai dengan PER MEN KP 56/2016), maka informasi tentang hubungan lebar-panjang-tinggi rajungan dapat dijadikan masukan untuk melakukan modifikasi alat tangkap, misalnya mendesain ukuran celah pelolosan pada bubu, agar rajungan dengan lebar karapas dibawah 10 cm dapat keluar dari alat tangkap.
IDENTIFICATION OF PHYTOPLANKTON TYPES IN TAMBAK BANDENG WITH HIGH QUALITY OF OMEGA-3 Endang Yuli Herawati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.021 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.17

Abstract

Microalgae as a source of nutrients, can be a good alternative to the use of high-level organisms. The abundant omega 3 content in plankton, especially phytoplankton, needs to be conducted research on the identification of the types of phytoplankton in milkfish with high omega-3 quality. The purpose of the study was to identify the types of plankton containing omega-3 and to determine the levels of omega-3 from plankton found in milkfish ponds. This research was conducted at the Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Brawijaya University, Malang. The highest abundance of phytoplankton is from the Bachillariophyta division and the lowest division euglenophyta. Five types of plankton were determined to be tested for omega-3 fatty acids using the gas chromatography (GCMS) method, namely: Chaetoceros sp, Tetraselmis sp, Nitzchia, Chlorella and Spirulina. GCMS test results from several types of omega-3 fatty acid plankton isolates in Chaetoceros calcitrans were the highest compared to the other 4 plankton types. Conclusion of the composition of plankton in traditional pond waters consists of 4 phytoplankton divisions namely Chlorophyta, Chrysophyta, Cyanophyta, and Euglenophyta. GCMS test results from several types of plankton isolates omega-3 fatty acids in Chaetoceros sp, the highest compared to Tetraselmis sp, Nitzchia, Chlorella and Spirulina. Suggestion of natural feed in the water of milkfish ponds should use Chaetoceros sp because the content of omega 3 is high. Keywords: phytoplankton, omega-3 
EXPLORATION OF SEA CUCUMBER INTESTINAL SYMBIONT MICROBE AS PROBIOTIC MICROBE CANDIDATE IN HEALTHCARE PRODUCTS Delianis Pringgenies; Putri Hutari Girsang; Ervia Yudiati; Gunawan Widi Santosa
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.393 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.4

Abstract

Natural ingredients from animals and plants generally have potential in pharmaceutical applications. However, there are still relatively little exploration made on the active ingredients from marine life. Sea cucumbers inhabit seabed and are filter feeders, consuming all microorganisms within their vicinity, which opens the prospect of medicinal applications of sea cucumber intestinal symbiont microbes. This study aims to obtain sea cucumber intestinal symbiont microbes with potential pharmaceutical application as probiotic microbe candidate. The study was carried out by collecting samples, microbe isolation, antimicrobial screening, identification of potential probiotic microbe candidate. Characteristics of the microbe were studied by biochemical screening, and molecular identification. The study found 21 microbial isolates from Holothuria atra and 30 microbial isolates from Holothuria leucospilota. Antimicrobial activity screening results against pathogens of Bacillus cereus dan Pseudomonas aeruginosa found 13 microbial isolates with positive activity. Four species were identified by molecular identification, namely Bacillus aquimaris, Bacillus maritimus, Bacillus toyonensis, and Virgibacillus chiguensis, whereas the other nine were identified by biochemical screening. Four microbe genus, namely Rothia sp., Listeria sp., Micrococcus sp., and Staphylococcus sp, were found to be the most viable candidate for probiotics. It was concluded that Bacillus sp., Rothia sp., Micrococcus sp., and Staphylococcus sp. Exhibited the most potential as probiotic microbes.
ANALISA VALUASI EKONOMI EKOWISATA MANGROVE DI PANTAI MAYANGAN SELAT MADURA Mimit Primyastanto
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.912 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.12

Abstract

Dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2006, Kota Probolinggo mencanangkan untuk membangun sektor ekowisata berbasis wisata bahari dan pantai dan pada tahun 2012 investor PT. Bee Jay Bakau Resort mmewujudkan proyek dari Pemerintah Kota Probolinggo. Daerah muara kali banger yang dulunya merupakan daerah kumuh dan penuh sampah kini disulap menjadi sebuah daerah yang bernilai ekonomi serta menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Dengan adanya ekowisata ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat berupa pendapatan asli daerah namun juga dampak sosial dan ekonomi terhadap masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi profil ekowisata konservasi hutan mangrove, Menganalisa Valuasi Ekonomi yang telah dilakukan pada ekowisata konservasi hutan mangrove dan menganalisis dampak positif sosial dan ekonomi yang didapat oleh masyarakat pesisir Selat Madura. Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik penentuan narasumber non-probability dengan metode purposive. Hasil penelitian ini diketahui bahwa ekowisata konservasi mangrove ini didirikan oleh Investor PT. Bee Jay Bakau Resortproject (BJBR) diatas lahan 8,9 Ha milik Pemerintah Kota Probolinggo, didapatkan modal investasi sebesar Rp.507.000.000 dengan modal tetap Rp.520.442.00 dan modal lancar Rp.147.000.000. Kemudian biaya total Rp.667.642.000. Penerimaan Rp.960.000.000.        Nilai  Valuasi Ekonomi dengan Model Total Economic Value sebagai berikut :TEV = DUV + IUV + OV + BV           = Rp. (960.000.000,- + 10.060.554.700,- + 2.792.305.334,- + 96.000.000,- )           = Rp. 13.908.860.034.000,-Dampak Sosial yang dirasakan masyarakat pesisir yakni berupa tingkat pengangguran yang berkurang, serta indeks kesehatan masyarakat yang meningkat. Dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat berupa peningkatan pendapatan, penduduk miskin berkurang.  Kata Kunci: Valuasi Ekonomi, Ekowisata
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG AMPAS TAHU TERHADAP KADAR SERAT PANGAN DAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK OTAK-OTAK IKAN PATIN Ahmad Alim Junnatul Haq; titik dwi Sulistiyati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 2 (2020): JFMR VOL 4. NO.2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.02.8

Abstract

Di Indonesia otak-otak ikan sudah banyak tersebar di berbagai daerah. Otak-otak ikan memiliki rasa yang enak dan harga yang cukup murah sehingga otak-otak ikan disukai oleh masyarakat Indonesia. Bahan baku utama otak-otak ikan adalah daging ikan segar. Tepung ampas tahu sendiri merupakan ampas tahu yang telah dikeringkan. Sedangkan ampas tahu merupakan limbah dari proses pembuatan tahu. Secara fisik bentuknya agak padat, berwarna putih, diperoleh ketika bubur kedelai diperas kemudian di saring. Saat ini pemanfaatan ampas tahu kurang maksimal, padahal ampas tahu memiliki banyak kelebihan seperti mengandung protein, mengandung serat, murah dan mudah didapat. Melihat kelebihan tersebut maka dapat dikembangkan suatu bentuk usaha baru yang memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan dasarnya. Dari permasalahan tersebut maka penelitian ini dilakukan penambahan tepung ampas tahu pada produk otak-otak ikan. Konsentrasi penambahan tepung ampas tahu yang diberikan yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15% dari berat daging ikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimen. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kadar serat pangan dan karakteristik Organoleptik otak-otak ikan. Analisa parameter organoleptik menggunakan Kruskal-Wallis. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode de Garmo. Hasil penelitian menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan 5% penambahan tepung ampas tahu) dengan kadar serat pangan sebesar 6,65%, serat pangan larut 2,69%, serat pangan tidak larut  sebesar  3,96%,  protein  sebesar  9,41%, kadar  air  sebesar  51,33%,  lemak 1,09%, abu 1,97% dan karbohidrat sebesar 36,20%, hedonik kenampakan sebesar  3,52, hedonik aroma  sebesar  3,34, hedonik rasa sebesar  3,54  dan  hedonik  tekstur  sebesar  3,52 dan kekenyalan sebesar 9,32.
KAJIAN KESEGARAN IKAN DI PASAR TRADISIONAL DAN MODERN KOTA MALANG Eddy Suprayitno
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 2 (2020): JFMR VOL 4. NO.2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.02.13

Abstract

Ikan mengandung protein dan juga memiliki kandungan gizi yang tinggi di antaranya mengandung mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh. Produk perikanan tersebut merupakan produk yang memiliki sifat sangat mudah rusak/busuk. Hal ini terjadi karena adanya aktivitas enzim, mikroorganisme atau oksidasi oksigen. Penanganan bertujuan untuk menghambat proses penguraian jaringan tubuh (pembusukan) sehingga ikan dapat disimpan selama mungkin dalam keadaan baik. Oleh karena itu tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan di pasar tradisional dan modern di Kota Malang secara kualittaif dan kuantitatif. Adapun sampel yang digunakan yaitu ikan selar, ikan kuniran, ikan bandeng, ikan mujair dan ikan kembung. Metode kualitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan berdasarkan penelitian organoleptik. Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui nilai pH ikan, hasil uji formalin dan nilai TMA untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan. Pengujian tingkat kesegaran ikan baik di pasar tradisional maupun modern secara organoleptik masih dalam keadaan yang segar dengan ciri-ciri daging bau khas ikan, insang merah, tidak banyak lender, sisik menempel kuat, bola mata menonjol dan daging kenyal. Untuk nilai rata-rata pH ikan pada pasar tradisional dan modern yaitu sebesar 6,12. Untuk uji formalin terdapat 3 pasar dari 10 pasar yang ada di Kota Malang yang ikannya positif mengandung formalin  yaitu pasar Blimbing, Mergan dan Giant Dinoyo. Serta untuk uji TMA rerata nilai yang didapatkan yaitu 5,32 yang menunjukkan ikan dalam kondisi kurang segar.
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN ALAMI CACING Tubifex sp. TERHADAP PANJANG DAN BERAT IKAN RAMIREZI (Mikrogeophagus ramirezi) Mr Budianto; Soko Nuswantoro; Heny Suprastyani; Arning Wilujeng Ekawati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 1 (2019): JFMR VOL 3 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.01.10

Abstract

Salah satu ikan hias yang memiliki prospek perkembangan yang cukup baik adalah ikan ramirezi (Mikrogeophagus ramirezi). Dalam pemeliharaan ikan ramirezi diperlukan perlakuan khusus dalam penanganan benihnya. Tujuan dari penelitian ini yakni dapat mengetahui pengaruh pemberian pakan alami cacing Tubifex sp. terhadap pertambahan panjang dan berat benih ikan Ramirezi. Penelitian ini terdapat 2 perlakuan yakni perlakuan A (pemberian pakan pellet pada pagi dan sore hari) dan perlakuan B (pemberian pakan cacing Tubifex sp pada pagi dan sore hari). Masing-masing perlakuan dilakukan dengan 3 kali ulangan. Pakan pellet dan cacing Tubifex sp yang diberikan masing-masing secara ad libitum selama 14 hari. Hasil pengamatan dan perhitungan menunjukkan bahwa persentase pertambahan benih ikan pada perlakuan B mengalami peningkatan yang signifikan daripada hanya diberi pakan pellet saja (Perlakuan A). Selama 14 hari, pemberian pakan alami cacing Tubifex sp. pada waktu pagi dan sore, benih ikan mengalami penambahan panjang sebesar 13,78 % dan berat sebesar 106,48 %. Hasil ini sangat jauh berbeda dengan benih ikan yang hanya diberi pakan pellet pada pagi dan sore hari, yakni hanya 12,31 % untuk beratnya dan panjangnya tetap. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian pakan alami cacing Tubifex sp. berpengaruh signifikan terhadap pertambahan panjang dan berat benih ikan Ramirezi.

Page 11 of 64 | Total Record : 640