cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Eduhumaniora is a peer-reviewed scientific journal that publishes different kinds of scientific articles based on the research-article and ideas-article. All topics that we received only articles relating to elementary education fields. For research category, articles can be written using quantitative and qualitative approaches, and can be made in a variety of research designs, such as action research, experiments, and case studies. This journal was published since 2009 twice a year every January and July, and published by the collaboration between Elementary Teacher Education Program, Kampus UPI di Cibiru and Himpunan Dosen PGSD Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 324 Documents
Pendekatan Tematik Dalam Pembelajaran IPS Kartini, Tien
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 2, No 2: Juli 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v2i2.2767

Abstract

AbstrakModel pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan topik tertentu sebagai tema atau topik sentral, setelah tema ditetapkan maka selanjutnya tema itu dijadikan dasar untuk menentukan dasar sub-sub tema dari bidang studi lain yang terkait. Pendekatan pembelajaran tematik dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran tematik pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsipprinsip secara holistik dan otentik. Pada pendekatan pembelajaran termatik, program pembelajaran IPS disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran termatik dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.Kata Kunci: Pendekatan Tematik, Pembelajaran IPS
Penilaian Otentik Sebagai Sarana Utama Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah Abidin, Yunus
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 3, No 2: Juli 2011
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v3i2.2810

Abstract

ABSTRAK Upaya untuk meningkatkan kinerja pendidikan dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan. Salah satu upaya ini adalah dengan mengembangkan satu program pendidikan yang dikenal dengan istilah pendidikan budaya dan karakter bangsa.Pendidikan karakter bertujuan agar siswa mampu menjadi orang yang berkarakter mulia. Usaha pengembangan karakter ini harus dilakukan secara bekesinambungan dalam proses pembelajaran. Secara praktisnya, pembentukan dan pengembangna karakter ini bersifat integratif dengan aktivitas belajar yang dilakukan siswa. Oleh sebab itu, untuk mampu mengukur perkembangan karakter siswa diperlukan sebuah alat yang secara otomatis mampu mengukur aktivitas dan sekaligus menunjukkan karakter siswa. Alat itu adalah penilaian otentik.Penilaian otentik merupakan sebuah bentuk penilaian yang mengukur kinerja nyata yang dimiliki siswa. Kinerja yang dimaksud adalah aktivitas dan hasil aktivitas yang diperoleh siswa selama proses pembelajaran. Berdasarkan pemahaman ini penilaian otentik pada prinsipnya mengukur aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung.Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Penilaian Otentik, Penilaian Karakter
Boneka Jari Sebagai Pembelajaran Kelas Rendah Sekolah Dasar Winda, -
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 6, No 1: Januari 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v6i1.2857

Abstract

Media dalam pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting terutama bagi peserta didik dalam hal ini adalah siswa kelas 3 SD, yang mana minat dan motivasi belajar peserta didik dapat ditumbuhkan dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik. Selain menumbuhkan minat dan motivasi pada peserta didik, media pembelajaran juga dapat membantu meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, merangsang perhatian dan mengaktifkan siswa serta dapat memperjelas penyampaian materi. Adapun manfaat dari penggunaan suatu media pembelajaran akan dapat dirasakan secara optimal apabila guru mampu memilih dan menggunakan media tersebut sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Media boneka jari dapat menjadi salah satu alternatif media yang efektif untuk digunakan dalam mengembangkan metode dan meteri pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan fungsi yang ingin dicapai. Dalam hal ini boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bahkan sekarang termasuk tiruan dari bentuk binatang. Macam -macam boneka untuk media pembelajaran yakni (1). Boneka jari, (2). Boneka tangan, (3). Boneka tongkat, (4). boneka tali, (5). Boneka bayang-bayang. Adapun manfaat boneka jari sebagai media pembelajaran adalah menimbulkan daya tarik siswa, membangkitkan minat bagi siswa untuk belajar, dapat mengembangkan imajinasi siswa, menambah keaktifan siswa dan menambah suasana gembira pada siswa dalam kegiatan pembelajaran.Kata Kunci: manfaat boneka jari, media pembelajaran, kelas rendah
Pengembangan Model Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang Mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Halimah, Lely; Rostika, Deti; Sudirjo, Encep
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 1: Januari 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i1.2724

Abstract

This research is performed due to the presence of gap between the policy in the improvement of curriculum and the existing field‐condition in elementary school. On one side School‐Based Curriculum (KTSP) is expected to be applied in schools autonomously, on the other hand, neither the principals nor the teachers, especially of elementary schools, have had comprehensive understanding on the concept of School‐Based Curriculum, its construction process, as well as the implementation. The problem of this research, therefore, is ”How is a model for the construction of School‐Based Curriculum that refers to National Education Standard developed to result in School‐Based Curriculum (KTSP) document”?With reference to the above mentioned background, this research is purposed to offer facilities to schools, especially elementary schools, in the process of constructing School‐Based Curriculum that refers to the guideline of KTSP construction by Badan Standar Nasional Pendidikan (National Standard Agency for Education), so that they can have KTSP document. In other words, this research will result in a product of the process of School‐Based Curriculum (KTSP) model development for KTSP document.   In order to achieve the objectives, this research is conducted using Research and Development approach.   In the implementation, this research and development forms a cycle, which begins with a preliminary study to find an early product required. This early product is then developed in a certain condition, with a test, the result of which is revised and retested until the final product, which is considered satisfactory, is obtained. The validity of this final product is then examined. This research is conducted in elementary schools in Cileunyi District of Bandung Regency, of which the principal and the teachers become the subject of this research.  Referring to the Research and Development measures, as mentioned above, the process of constructing School‐Based Curriculum (KTSP) contains two stages. The first stage is the work discussion of the team that consists of Headmaster as the chairman, teachers, and school committee, and involves related parties from the Subdistrict Office of National Education Department and experts (in this case: the research team), which produces book 1 containing general guideline of School‐Based Curriculum (KTSP) development. The second stage is the work discussion of the research team, Headmaster, and teachers, which produces book 2 consisting of six copies of books for each grade, from the first to the sixth.   Suggestions put forward in this research is that the socialization of School‐Based Curriculum (KTSP) should be carried out in whole and applicable so as to give clear description of the process and product of School‐Based Curriculum (KTSP) construction to those school, since they –elementary schools in particular‐ have not been able to create School‐Based Curriculum (KTSP) autonomously.
REVITALISASI KEMAMPUAN REFLEKSI MAHASISWA CALON GURU MELALUI PENULISAN JURNAL PERKULIAHAN PPKN Abdillah, Fauzi
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 9, No 1: Januari 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v9i1.6148

Abstract

Abstract: Reflective Skills of pre-service teacher education students, which when examined in a three-component lens of Civics, namely Civic Knowledge, Skills Civic, and Civic dispositions which would have a very close relationship, there is demonstrated by evidence that encouraging, even to the level of the students and even teachers in the field. Thus, efforts to increase the reflective abilities of students does not meet these expectations, need to be implemented and measured scientifically. With the aim of seeing the process, the response and the effect of the use of journal writing lectures on Civic and Pancasila Education (PPKn), this research will be done by using a mix methods with exploratory research approach. From the research it can be concluded that there is a development of reflective abilities of students. The response of the students showed enthusiasm and motivated them to develop their understanding and skills as a prospective teacher. The study recommends to utilize Class Journal as well as media and learning strategies of innovation in lectures.Keyword: Reflective, Civic Education, Pre-service Teacher Education Students Abstrak: Kemampuan reflektif mahasiswa calon guru, yang bila diteropong dalam lensa tiga komponen PKn, yakni Civic Knowledge, Civic Skills, dan Civic Dispositions yang tentu memiliki keterkaitan sangat erat ini, belum memperlihatkan bukti yang menggembirakan, bahkan untuk level mahasiswa bahkan guru di lapangan. Maka, usaha peningkatan kemampuan reflektif mahasiswa yang belum sesuai harapan tersebut perlu untuk dilaksanakan dan diukur secara ilmiah. Dengan tujuan melihat proses, respon dan pengaruh pemanfaatan penulisan jurnal perkuliahan pada mata kuliah PPKn, penelitian ini akan ditempuh dengan menggunakan pendekatan penelitian campuran tipe exploratory. Dari hasil penelitian maka bisa disimpulkan bahwa terjadi perkembangan kemampuan reflektif mahasiswa. Respon dari mahasiswa memperlihatkan antusiasme dan termotivasinya mereka dalam mengembangkan pemahaman dan keterampilan mereka sebagai seorang calon guru. Penelitian ini merekomendasikan untuk memanfaatkan Jurnal Perkuliahan sebagai media dan strategi pembelajaran sekaligus inovasi dalam perkuliahan.Kata Kunci: Reflektif, PPKn, Mahasiswa Calon Guru
Teater Antara Kreative, Dinamika Kelompok, Kematangan Psikologis, Dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar Abidin, Yunus
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 2, No 1: Januari 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v2i1.2758

Abstract

ABSTRAKTeater dapat dipandang dalam berbagai dimensi. Dimensi pertama adalah bahwa teater merupakan wujud kreativitas para pelakunya. Dalam pembentukan proses kreatif tersebut teater mencerminkan dinamika kelompok para pelakunya. Lebih jauh teater dapat pula dikatakan sebagai wadah pengembangan kematangan psikologis. Sejalan dengan hal di atas, teater merupakan materi pembelajaran di sekolah karena dinggap memilki banyak muatan posotif di dalamnya. Teater dalam pembelajaran membuat sebuah kontribusi yang penting terhadap perkembangan anak. Teater menyangkut bahasa, persepsi, perkembangan konsep, pengetahuan estetik dan pada akhirnya keseluruhan barisan pengalaman itu sendiri. Teater lebih jauh merupakan seni bahasa dan kemampuan berkomunikasi yang dapat digabungkan dalam beberapa cara yang menyenangkan dan untuk tujuan yang bervariasi dimulai dari mempertinggi perkembangan bahasa dan kosa kata sampai kepada kemampuan pemahaman menggunakannya dan membaca kritis.Kata Kunci : Teater, Kreativitas. Dinamika Kelompok, Psikologis, dan Pembelajaran
Pendidikan Pertama Pada Anak Herawati, Nenden Ineu
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 3, No 1: Januari 2011
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v3i1.2801

Abstract

AbstrakPendidikan selalu berkaitan dengan pembelajaran, sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dengan demikian, dalam pendidikan ada pembelajaran, tempat anak mendapatkan pendidikan dan pembelajaran, tentu anak memperoleh pengetahuan seperti belajar membaca, menulis dan berhitung. Oleh karena itu, belajar dapat didefinisikan adanya perubahan perilaku oleh kernanya kita sering mendengar di masyarakat bahwa pendidikan awal atau pertama anak adalah di sekolah taman kanak-kanak atau di sekolah dasar. Tokoh pendidikan terdahulu yakni Ki Hadjar Dewantara, mengatakan pendidikan yang pertama dan utama pada anak adalah di lingkungan keluarga. Pernyataan tersebut benar, sebab di lingkungan keluarga bagi anak merupakan peletak pembentukan perilaku.Kata Kunci :Pendidikan, Anak
Peran Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematika Dalam Pembelajaran Matematika Yuniarti, Yeni
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 5, No 1: Januari 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v5i1.2838

Abstract

Salah satu kompetensi professional yang harus dimiliki guru adalah mampu menggunakan pengetahuan konseptual, prosedural, dan keterkaitan keduanya dalam pemecahan masalah matematika, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memiliki kompetensi tersebut kemampuan representasi matematik merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki, karena representasi matematik sangat diperlukan dalam pemahaman konsep maupun penyelesaian masalah matematika. Selain itu juga representasi matematik dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematik. Untuk mengembangkan kemampuan representasi ini agar berkembang, diperlukan upaya guru dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghadirkan representasinya sendiri secara beragam.Kata Kunci: Kemampuan Representasi Matematik, Komunikasi Matematis, Pemahaman Konsep, Pemecahan Masalah.
Comprehensive Guidance: A Model For Guidance and Counseling At Senior High Schools Nurihsan, Juntika
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 1: Januari 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i1.2715

Abstract

This work is a summary of a study conducted to propose a model to enhance quality and management system for guidance and counseling services at public Senior High Schools (hereafter Indonesian SMANs). The model resulted is called A Model for Comprehensive Guidance developed conceptually and empirically based on field study at SMAN 1 Padang, SMAN 1 Tangerang, SMAN 1 Manado, SMAN 1 Bali, and SMAN 1 Kupang. The finding upon completion of the study is in the form of a comprehensive model for guidance comprising components of comprehension and philosophical grounds, the vision and mission of the guidance, students’ needs, content of the guidance and, the supporting system.
PENGARUH TEKNIK SCRAMBLE TERHADAP KEMAMPUAN MENENTUKAN IDE POKOK DAN MEMPARAFRASE DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN Saroh, Eneng Ros Siti; Damaianti, Vismaia S.
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 8, No 2: Juli 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v8i2.5137

Abstract

Abstract: This study was aimed to explain main idea skills’ and parahrase sklills’ who were taught reading by using scramble technique and those who taught the direct instruction. The Implementation reasons of study is for reading comprehension fourth grade students in determining the main idea and paraphrase is still low. The subject of this study were student of grade 4 SDN 2 Pengadilan the regency of Tasikmalaya totaling 50 students, consist of 25 students from the experimental class, and 25 students from the control class. The research method was used is quasi experiment with two treatment design. The instrumen werw used are main idea skills’ test and paraphrase skills’ test. The contibution of each instruction were analised by using software SPSS 16 and Microsoft Excel 2007. The result of this study were: (1) there was different in main idea skills’ who were taught reading by using scramble technique and those who taught the direct instruction, and (2) there was different in parafrase skills’ who were taught reading by using scramble technique and those who taught the direct instruction.Keywords: scramble technique, main idea skills’, paraphrase skills’.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan kemampuan menentukan ide pokok dan kemampuan memparafrase antara kelas yang belajar menggunakan teknik scramble dengan kelas yang mengalami pembelajaran terlangsung. Alasan dilaksanakannya penelitian karena kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD dalam menentukan ide pokok dan memparafrase masih rendah. Subjek pada penelitian ini siswa SDN 2 Pengadilan Kota Tasikmalaya berjumlah 50 orang yang terdiri dari 25 orang kelas eksperimen dan 25 orang kelas kontrol. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain prates-pascates. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan menentukan ide pokok dan tes kemampuan memparafrase Kontribuasi dari masing-masing pembelajaran ini dianalisis melalui pengujian statistik menggunakan Software SPSS 16 dan Microsoft Excel 2007. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) terdapat perbedaan kemampuan menentukan ide pokok antara siswa yang belajar menggunakan teknik scramble dengan siswa yang mengalami pembelajaran terlangsung, dan (2) terdapat perbedaan kemampuan memparafrase antara siswa yang belajar menggunakan teknik scramble dengan siswa yang mengalami pembelajaran terlangsung. Kata Kunci: teknik scramble, kemampuan menentukan ide pokok, kemampuan memparafrase.