cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Eduhumaniora is a peer-reviewed scientific journal that publishes different kinds of scientific articles based on the research-article and ideas-article. All topics that we received only articles relating to elementary education fields. For research category, articles can be written using quantitative and qualitative approaches, and can be made in a variety of research designs, such as action research, experiments, and case studies. This journal was published since 2009 twice a year every January and July, and published by the collaboration between Elementary Teacher Education Program, Kampus UPI di Cibiru and Himpunan Dosen PGSD Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 324 Documents
PENDIDIKAN BERBASIS EKOPEDAGOGIK DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN EKOLOGIS DAN MENGEMBANGKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR Yunansah, Hana; Herlambang, Yusuf Tri
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 9, No 1: Januari 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v9i1.6153

Abstract

Abstract: Today, developments in science and technology have a significant impact on all aspects of the constellation of life, not to mention the complexity of the universe as a space for human life. Nature as a space of human life, has been considered as an object, so that the human being dominated and exploited radically. This condition is exacerbated by the lack of understanding human nature as multidimensional beings, one of which is to have a relationship in the nature of space and time, so it impact on human consciousness which have a continuing obligation to keep the harmony, the harmony of nature neglected. In connection with these conditions, the need for a strategic effort to build a new paradigm in order to raise awareness about the importance of nature through educational process based ekopedagogik in growing ecological awareness and character.Keyword: Ecopedagogy, ecological consciousness, character Abstrak: Dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan dampak signifikan pada seluruh aspek konstelasi kehidupan, tak terkecuali kompleksitas pada alam sebagai ruang bagi kehidupan manusia. Alam sebagai ruang kehidupan manusia, telah dianggap sebagai objek, sehingga didominasi dan dieksploitasi manusia secara radikal. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya pemahaman manusia akan hakikatnya sebagai makhluk multidimensional yang salah satunya ialah memiliki relasi dalam ruang dan waktu dengan alam, sehingga hal ini berimbas pada kesadaran manusia yang memiliki kewajiban untuk senantiasa menjaga keselarasan, keharmonisan alam yang terabaikan. Berkaitan dengan kondisi tersebut, perlu adanya sebuah upaya strategis untuk membangun paradigma baru guna menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam melalui proses pendidikan berbasis ekopedagogik dalam menumbuhkan kesadaran ekologis dan karakter. Kata Kunci: Ekopedagogik, Kesadaran ekologis, Karakter
Musik Dalam Pembelajaran Halimah, Lely
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 2, No 2: Juli 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v2i2.2763

Abstract

AbstrakMusik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera individu. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam di antaranya bahwa (1) musik adalah bunyi/kesan terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar, (2) musik adalah suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya, dan (3) musik adalah segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau oleh kelompok individu yang disajikan sebagai musik. Dari beberapa definisi tersebut, maka musik merupakan segala bunyi yang dihasilkan manusia secara sengaja yang disajikan sebagai music. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kecerdasan musik pada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya melalui (1) memperkenalkan musik di dalam kelas, (2) mendengarkan musik, (3) membuat instrumental musik di kelas. Untuk setiap tujuan, kelas diperkaya dengan musik dengan menggunakan beragam teknik secara bervariasi. Penggunaan musik di kelas akan membantu meningkatkan kegembiraan siswa dalam belajar dan sekaligus juga dapat meningkatkan efektivitas ketercapaian tujuan. Yang tidak kalah pentingnya belajar melalui musik dan atau belajar dengan musik, serta belajar tentang musik dapat memberikan banyak manfaat bagi perkebangan baik fisik maupun mental siswa. Melalui musik banyak yang dapat dipelajari oleh siswa di antaranya dikemukakan berikut ini.Kata Kunci: Musik, Pembelajaran
Penilaian Portopolio Dalam Lingkup Pembelajaran Berbasis Kompetensi Setiamiharja, Realin
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 3, No 2: Juli 2011
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v3i2.2806

Abstract

ABSTRAKPenilaian portofolio merupakan metode penilaian berkesinambungan dengan berbagai kumpulan informasi atau dokumentasi hasil pekerjaan seseorangyang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu dan disimpan pada suatu bendel secara sistematis dan terorganisir.Penilaian ini dianggap sebagian peneliti pendidikan adalah penilaian alternatif di dunia modern dan jauh lebih reliable dan valid daripada penilaian baku.Model portofolio assessment cocok digunakan untuk mata pelajaran yang bersifat menuntut outputpembelajaran siswa dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Aspek yang diukur dalam penilaian portofolio adalah tiga domain perkembangan psikologi anak yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru, (2) hasil pekerjaan peserta didik, dan (3) profil perkembangan peserta didik.Fungsi penilaian portofolio adalah sebagai alat untuk mengetahui kemajuan kompetensi yang telah dicapai peserta didik dan mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, memberikan umpan balik untuk kepentingan perbaikan dan penyempurnaan KBM.Kata Kunci: Penilaian, Portofolio, Pembelajaran, Kompetensi
Contextual Teaching And Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Kreativitas Berpendapat Siswa Pada Pembelajaran IPS Oktapiani, Rani; Rustini, Tin
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 5, No 2: Juli 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v5i2.2843

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kreativitas berpendapat siswa, sehingga pembelajaran menjadi pasif dan tidak adanya interaksi antara guru dengan siswa, pembelajaran hanya berpusat pada guru. PTK ini menggunakan metode yang dikembangkan oleh kemmis dan McTaggart. Penulis menerapkan pendekatan CTL sebagai pembaharuan dalam pembelajaran IPS di kelas IV. Hasil evaluasi kreativitas berpendapat siswa dengan menggunakan pendekatan CTL mengalami peningkatan setiap siklusnya, rata-rata hasil evaluasi kreativitas berpendapat siswa pada siklus I adalah 63, siklus II adalah 72, dan siklus III adalah 76. Rata-rata hasil evaluasi individu siklus I adalah 68, rata-rata hasil evaluasi kelompok siklus I adalah 74, ratarata nilai evaluasi individu siklus II adalah 72, rata-rata hasil evaluasi kelompok siklus II adalah 76, rata-rata hasil evaluasi individu siklus III adalah 83, dan rata-rata hasil evaluasi kelompok siklus III adalah 82. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan CTL pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan kreativitas berpendapat siswa dan hasil belajar siswa.Kata kunci: Contextual Teaching and Learrning (CTL), kreativitas berpendapat siswa
Pembelajaran IPA Secara Dwibahasa Melalui MetodeBercerita untuk Meningkatkan Multiple Intelligences Siswa SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Yanthi, Novi
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 1: Januari 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i1.2720

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya tren di bidang pendidikan dasar, yaitu proses pembelajaran di sekolah dasar yang mengajarkan materi subjek dalam bahasa Inggris sebagai media instruksi. Sekolah dasar di berbagai negara seperti Singapura, Cina, Malaysia, dan bahkan di Inggris (Dedezade: 2006) sekalipun telah mengaplikasikan bahasa Inggris sebagai media instruksi dalam mata pelajaran Matematika dan IPA secara dwibahasa. Tren pendidikan dasar ini juga sudah merambah ke Indonesia. Oleh karenanya, banyak sekolah dasar di Indonesia yang menetapkan kebijakan bahwa guru yang mengajar di satuan pendidikan tersebut harus memiliki keterampilan dasar bahasa Inggris agar mampu mengajarkan materi subjek menggunakan bahasa Inggris. Konsekuensi dari hal tersebut adalah guru sekolah dasar sebagai guru kelas tak hanya dituntut untuk dapat menguasai berbagai konsep materi subjek, namun harus pula terampil mengajarkannya dalam bahasa Inggris. Tujuan penelitian kali ini adalah untuk (1) mengetahui kendala yang dihadapi guru di kelas pada pembelajaran konsep IPA mengenai bagian tubuh hewan secara dwibahasa di kelas 2 SD melalui metode bercerita dan (2) mengetahui aspek multiple intelligences yang mana yang dapat ditingkatkan melalui pembelajaran IPA secara dwibahasa dengan metode bercerita. Peneliti memperhatikan proses pembelajaran IPA secara dwibahasa pada situasi natural melalui interaksi antara guru dengan siswa kelas 2 SD laboratorium UPI Kampus Cibiru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan guru dalam membelajarkan konsep IPA secara dwibahasa melalui metode bercerita masih harus ditingkatkan. Guru terpaku pada RPP yang telah disusun sehingga tidak dapat mengeksplorasi dan mengembangkan kegiatan bercerita dalam pembelajaran secara terpadu. Hal ini disebabkan keterampilan bahasa Inggris guru masih kurang, yaitu dalam hal perbendaharaan kosakata,   pemilihan kata yang sesuai dengan terminologi IPA, dan pelafalan kata sehingga menimbulkan kesalahan konsep IPA. Kendala‐kendala tersebut menyebabkan kurangnya kepercayaan diri guru saat melakukan tugas mengajar. (2) Pembelajaran IPA secara dwibahasa dengan metode bercerita dapat dijadikan alternatif upaya meningkatkan multiple intelligences siswa SD, yaitu kecerdasan naturalis, linguistik, visual‐spasial, dan interpersonal. Saran yang diajukan peneliti untuk meningkatkan kemampuan guru mengorganisasikan pembelajaran dwibahasa adalah dilaksanakannya program pelatihan atau seminar bagi kelompok guru SD. Pelatihan seperti ini dapat dilakukan melalui hubungan kemitraan antara kelompok guru dalam satuan pendidikan dengan LPTK penyelenggara program PGSD, salah satunya adalah UPI Kampus Cibiru
DESAIN DIDAKTIS KONSEP PECAHAN UNTUK KELAS III SEKOLAH DASAR Romdhani, Wina; Suryadi, Didi
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 8, No 2: Juli 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v8i2.5142

Abstract

Abstract: This research is motivated learning phenomenon obstacle concept of fractions in fourth grade student. Research using DDR design. The purpose of this study to explore the learning obstacle, designing didactic design, implement and analyze the process and results of the implementation design. Data was collected by documentation, interviews, tests and observation. The research findings reveal the five types of barriers to learning students on the concept of fractions. Didactic design that was developed consisting of 4 lesson design and implement learning in third grade elementary school. The implementation results show the tendency of students in a particular response. Most students can achieve learning objectives are set, which means this didactic design can accommodate students' learning trajectory.Keywords: Learning Obstacle, didactic design, concept of fractions, didactical Design ResearchAbstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena learning obstacle konsep pecahan pada siswa kelas IV SD. Penelitian menggunakan desain DDR. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi learning obstacle, merancang desain didaktis, mengimplementasikannya dan menganalisis proses dan hasil implementasi desain. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, wawancara, tes dan observasi. Temuan penelitian mengungkap lima tipe hambatan belajar siswa pada konsep pecahan. Desain didaktis yang dikembangkan terdiri dari 4 lesson design dan diimplementasikan pada pembelajaran di kelas III SD. Hasil implementasi menunjukkan terdapat kecenderungan siswa pada respon tertentu. Sebagian besar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan yang berarti desain didaktis ini dapat mengakomodasi learning trajectory siswa.Kata Kunci: Learning Obstacle, Desain didaktis, Konsep pecahan, Didactical Design Research
Peranan Lulusan Progsam S-1 Pendidikan Guru SD Dalam Peningkatan Mutu Guru Sekolah Dasar Sudirjo, Encep
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 3, No 1: Januari 2011
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v3i1.2797

Abstract

AbstrakMembicarakan masalah mutu pendidikan tidak lepas dengan membicarakan masalah mutu guru. Bahkan mutu guru menjadi wacana dan fokus perhatian. Hal ini dikarenakan dalam seluruh perangkat tenaga kependidikan, guru mempunyai peran yang sangat strategis. Walaupun rendahnya mutu pendidikan merupakan masalah yang komplek, namun demikian perlu dicarikan jalan keluar. Benang merah permasalahan yang ditemukan dapat dijadikan sebagai salah satu formula dalam menjawab permasalahan tersebut. Permasalahan pengelolaan kurikulum sarana prasarana dan biaya, pengelolaan SDM dan SPL, serta pemanfaatan berbagai potensi lainnya, akan bermuara kepada bagaimana kemampuan dalam mengelola dan memberdayakan potensi sekolah. Pendidikan bermutu tidak akan terwujud tanpa adanya guru berkualitas. Sejalan dengan kenyataan tersebut, upaya awal yang harus dilakukan untuk mewujudkan pendidikan bermutu adalah meningkatkan kualitas guru. Melalui peningkatan mutu guru, guru akan mampu mengembangkan mutu pembelajaran yang dilaksanakannya. Peningkatan mutu pembelajaran ini akan berdampak pada peningkatan mutu lulusan. Pada akhirnya kepemilikan karakter guru yang efektif akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Melalui guru yang berkualitas, pendidikan bermutu bukan sebuah keniscayaan.Kata Kunci: Mutu Guru, Guru Efektif, Lulusan Program S-1 Guru SD
Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Setiana, Nana
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 5, No 1: Januari 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v5i1.2834

Abstract

Proses pembelajaran IPS di sekolah dasar ternyata masih berlangsung kurang efektif.Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa masalah, antara lain (1) minimnya motivasi belajar siswa dalam pembelajaran, (2) indikasi penggunaan model penugasan/ resitasi sehingga siswa tidak mendapat bimbingan dalam proses pembelajaran, dan (3) tidak ada interaksi aktif antara komponen belajar. Sejalan dengan kondisi tersebut diperlukan penerapan model pembelajaran yang tepat yang salah satunya adalah model pembelajaran kontekstual. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan meningkatkan (1) proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran IPS tentang perkembangan teknologi transportasi pada siswa kelas IV sekolah dasar; dan (2) hasil belajar siswa kelas IV sekolah dasar pada konsep perkembangan teknologi transportasi dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas penelitian (PTK). Penelitian ini dilakukan di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Bandung dengan subjek penelitian sejumlah 16 orang siswa yang terdiri dari 9 siswi perempuan dan 7 siswa laki-laki. Untuk memperoleh data yang benar, digunakan instrumen penelitian berupa catatan lapangan, pedoman wawancara, pengetesan, dokumentasi dan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS tentang perkembangan teknologi transportasi karena langkah-langkah model ini mampu dilaksanakan guru dengan efektif sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kondusif dan siswa semakin aktif dan kreatif; dan (2) model pembelajaran kontekstual dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi perkembangan teknologi transportasi. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya pemahaman siswa dalam materi tersebut.Kata Kunci: Hasil Belajar,Model Pembelajaran Kontekstual, Pembelajaran IPS, Siswa SD
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Motivasi Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Wulandari, Wulan Sri
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 7, No 2: Juli 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v7i2.2710

Abstract

Penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share diperlukan untuk membantu siswa berkomunikasi secara matematis dalam menyatakan ide-ide matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan motivasi belajar matematika yang memperoleh pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV sehingga yang digunakan adalah sampel total. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes uraian kemampuan komunikasi matematis dan angket motivasi belajar matematika yang diberikan sebelum dan setelah perlakuan. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share diberikan kepada kelas eksperimen, dan kelas kontrol mendapat pembelajaran konvensional. Analisis data dilakukan dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peningkatan kemampuan komunikasi matematis yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share lebih tinggi daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. 2) peningkatan motivasi belajar matematika yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share lebih tinggi daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional
ANALISIS PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SD MELALUI PROJECT BASED LEARNING Arisanti, Wa Ode Lidya; Sopandi, Wahyu; Widodo, Ari
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 8, No 1: Januari 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v8i1.5125

Abstract

Abstract: Learning science is not just memorize the concepts, but learn how to process and mastery of the scientific attitude. Actually, learning is still centered on the teacher, so that students can develop the knowledge and skills of thinking. Knowledge and thinking skills students can experience a change in the proper way, one way that can be done by applying the model of project-based learning. This study aims to determine whether there is a difference mastery of concepts and creative thinking skills between classes that implement learning model project based learning and classroom rather than project-based learning on water recycling materials. The research design used in this study was Quasi Experimental Design devoted no pattern Nonequivalent Control Group Design This design consists of two groups: the experimental group and the control group. Furthermore, each class were given a pretest and posttest study with mastery test questions using the concept of multiple choice questions of 15 questions and test creative thinking skills with five essay questions on each test. Classroom learning experiment treated with a model project based learning and classroom learning with no control got projet models based learning. The results showed in general there are significant differences in mastery of concepts (p = 0.00) between the experimental class learning by applying the model of project-based learning in the learning process (the average N-gain = 0.477) in the medium category, with students learning by applying rather than project-based learning (the average N-gain = 0.290) in the low category. There is no difference in the ability to think creatively (p = 0.22) between the experimental class and control class, with an average N-gain the experimental class 0,075 while the control class is 0.060 which both are in the low category.Keywords: project based learning, mastery of concepts, creative Abstrak: Belajar IPA bukan hanya menghafal konsep-konsep, akan tetapi belajar bagaimana proses dan penguasaan sikap ilmiah. Kenyatanyaan pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga siswa tidak dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya. Pengetahuan dan keterampilan berpikir siswa dapat mengalami perubahan dengan cara yang tepat, salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menerapkan model project based learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif antar kelas yang menerapkan model pembelajaran project based learning dan kelas yang bukan project based learning pada materi daur air. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental Design yang dikhususkan ada pola Nonequivalent Control Group Design Rancangan ini terdiri dari dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selanjutnya masing-masing kelas penelitian diberi pretest dan posttest dengan soal tes penguasan konsep menggunakan soal pilihan ganda sebanyak 15 soal dan tes keterampilan berpikir kreatif dengan 5 soal essay pada setiap tes. Kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran dengan model project based learning dan kelas kontrol mendapat pembelajaran dengan bukan model projet based learning. Hasil penelitian menunjukan secara umum terdapat perbedaan penguasaan konsep yang signifikan (p= 0,00) antara kelas eksperimen yang belajar dengan menerapkan model project based learning pada proses pembelajarannya (rata-rata N-gain = 0,477) pada kategori sedang,  dengan siswa yang belajar dengan menerapkan bukan project based learning (rata-rata N-gain = 0,290) pada kategori rendah. Tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kreatif (p=0,22) antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan rata-rata N-gain pada kelas eksperimen 0,075 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 0,060 yang mana keduanya berada pada kategori rendah.Kata kunci: project based learning, penguasan konsep, kreatif