cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
EDUHUMANIORA: Jurnal Pendidikan Dasar
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Eduhumaniora is a peer-reviewed scientific journal that publishes different kinds of scientific articles based on the research-article and ideas-article. All topics that we received only articles relating to elementary education fields. For research category, articles can be written using quantitative and qualitative approaches, and can be made in a variety of research designs, such as action research, experiments, and case studies. This journal was published since 2009 twice a year every January and July, and published by the collaboration between Elementary Teacher Education Program, Kampus UPI di Cibiru and Himpunan Dosen PGSD Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 324 Documents
Pendidikan Inklusif Herawati, Nenden Ineu
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 2, No 1: Januari 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v2i1.2755

Abstract

ABSTRAKUraian singkat tentang pendidikan inklusif adalah pendidikan yang ramah untuk semua anak, dengan sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Sejarah pendidikan inklusif di dunia pada mulanya diprakarsai dan diawali dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia), Amerika tahun 1960-an, Inggris dalam Ed.Act. 1991, selanjutnya deklarasi Bangkok tahun 1994 mencetuskan perlunya pendidikan inklusif, di Indonesia tahun 2004 lalu tahun 2005 di8adakan simposium Internasional di Bukit Tinggi. Tujuan Pendidikan inklusif di antaranya memenuhi amanat UUD 1945 pasal 31 sedangkan yang melandasi pendidikan inklusif adalah filosofis, yuridis, dan empirik. KataKunci : Konsep, Sejarah, Tujuan, Landasan Pendidikan Inklusi
Pengaruh Mendongeng Terhadap Kemampuan Adaptif Anak Keterbelakangan Mental Soetikno, Naomi; Verauli, Roslina; Agustina, -
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 9, No 2: Juli 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v9i2.7033

Abstract

Abstract:. Adaptive ability is necessary to help individuals interact in their environment, only in children with mental retardation of adaptive ability is growing far below his age. One of the adaptive abilities is the ability of language which is the ability of language in social sense. Speaking can evolve through a variety of methods and approaches and one of them is storytelling. Very little research into fairy tales, so that researchers want to know the role of it. This study aims to determine the effect of storytelling on the adaptive ability of the development of language mentally mentally retarded. This research is useful for the development of developmental, clinical, and educational psychology science as well as for parents who have children with mental retardation as well as for teachers and professionals who help provide treatment in children mentally retarded. This research is experimental with Repeated Measures Design technique. Statistical analysis technique used is Friedman repeated measurement method. The subjects of this study were 3 children aged 9-12 years with the level of intelligence MR Ringan. Measurement of adaptive ability in research subjects is by adaptive behavior scale from AAMD which is repeated three times after the storytelling session is carried out. The results showed that giving the handling with fairy tale regularly as many as nine times in a row for three weeks have a significant effect on the ability of adaptive child development language with mental retardation.Keywords: Storytelling, adaptive ability, mentally retarded child Abstrak: Kemampuan adaptif sangat diperlukan untuk membantu individu berinteraksi di lingkungannya, hanya saja pada anak dengan keterbelakangan mental kemampuan adaptif ini berkembang jauh di bawah usianya. Salah satu kemampuan adaptif adalah kemampuan berbahasa yang merupakan kemampuan berbahasa dalam artian sosial. Berbahasa dapat berkembang melalui beragam metode dan pendekatan dan salah satunya adalah mendongeng. Masih sangat sedikit penelitian yang mendalami dongeng sehingga peneliti ingin mengetahui peran darinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mendongeng terhadap kemampuan adaptif yakni pada perkembangan berbahasa anak keterbelakangan mental. Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan psikologi perkembangan, klinis, dan pendidikan serta bagi para orang tua yang memiliki anak dengan keterbelakangan mental juga bagi para guru dan professional yang membantu memberikan penanganan pada anak keterbelakangan mental. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan teknik Repeated Measures Design. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah metode Friedman repeated measurement. Subyek penelitian ini adalah 3 orang anak usia 9-12 tahun dengan taraf kecerdasan MR Ringan. Pengukuran kemampuan adaptif pada subyek penelitian adalah dengan skala perilaku adaptif dari AAMD yang dilakukan berulang sebanyak tiga kali setelah sesi mendongeng dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan penanganan dengan dongeng secara rutin sebanyak sembilan kali berturut-turut selama tiga minggu berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan adaptif yaitu perkembangan bahasa anak dengan keterbelakangan mental.Kata kunci: Mendongeng, kemampuan adaptif, anak keterbelakangan mental.
Pendidikan Kearifan Etnik dalam Mengembangkan Karakter Herlambang, Yusuf Tri
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 7, No 1: Januari 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v7i1.2789

Abstract

Globalisasi selalu diikuti dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini telah memberi dampak signifikan dalam berbagai aspek konstelasi kehidupan, tak terkecuali dalam membangun paradigma masyarakat yang menjadikan kondisi ini sebagai sebuah sistem nilai kehidupan. Keadaan ini berpotensi untuk melahirkan marginalisasi budaya yang pada akhirnya akan mereduksi nilai budaya otentik dan hilangnya identitas bangsa. Selain dari itu keadaan ini telah membawa dampak buruk pada rendahnya karakter bangsa Indonesia, yang tidak mampu menjadikan nilai budaya sebagai perisai dalam menjalani kehidupan di tengah perubahan dan dinamika budaya yang berkembang. Pendidikan sebagai sektor esensial dalam kehidupan manusia yang merupakan syarat mutlak dalam membangun sebuah peradaban tinggi, hendaknya mampu menjalankan perannya dalam pengembangan mutu manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan pendekatan budaya atau dalam latar kehidupan sosial budaya yang dinamis dan berpijak pada kearifan nilai budaya bangsa Indonesia, sehingga pendidikan dapat menjalankan fungsinya untuk mempertahankan dan menjaga sistem nilai budaya yang bertujuan untuk mengembangkan karakter insan-insan pendidikan Indonesia. Pendidikan berbasis kearifan Etnik merupakan pendidikan yang berorientasi pada upaya untuk menjaga kelestarian budaya dari reduksi akibat globalisasi serta menumbuhkan sikap positif dan konstruktif demi terciptanya integrasi sosial yang harmonis dalam kehidupan masyarakat. Selain dari itu, tujuan utama pendidikan kearifan Etnik adalah untuk membekali insaninsan pendidikan yang memiliki kemampuan adaptif, dan futuristik yang mengedepankan aspek intelektual, aspek moral dan sosial kultural, serta sebagai upaya dalam mewujudkan harapan masa depan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan memiliki identitas kepribadian
Pembelajaran Seni Budaya Dan Keterampilan Menumbuhkan Kecerdasan Moral Secara Kompetitif Widaningsih, Ening
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 4, No 2: Juli 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v4i2.2826

Abstract

Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) sebagai salah satu bidang studi dalam pembelajaran dengan melihat latar belakang akan dapat menumbuhkan kecerdasan moral secara kompetitif, latar belakang tersebut sebagai berikut, yaitu bahwa muatan seni budaya dan keterampilan sebagaimana yang diamanatkan dalam peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.Pendidikan seni budaya dan Keterampilan diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik. Yang terletak pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi /berkreasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.Kata Kunci: Pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, Kecerdasan Moral, Siswa SD
Penggunaan Model Problem Based Learning untukMeningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah dan Sikap Peduli Lingkungan Peserta Didik Handayani, Dwi; Sopandi, Wahyu
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 7, No 2: Juli 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v7i2.2702

Abstract

Era globalisasi menuntut sumber daya manusia yang memiliki kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan ini dikembangkan melalui pendidikan IPA. Hasil observasi menemukan peserta didik kurang memperoleh kemampuan memecahkan masalah dan pembentukan sikap peduli lingkungan. Salah satu model pembelajaran yang berawal dari masalah adalah Problem Based Learning. Dalam Problem Based Learning peserta didik menyelesaikan masalah nyata tentang lingkungan dan berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Peserta didik yang menjadi pemecah masalah diharapkan memiliki sikap peduli lingkungan. Penelitian ini bermaksud mengkaji pengaruh penggunaan Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan sikap peduli lingkungan. Subjek yang diteliti merupakan peserta didik kelas IV Sekolah Dasar. Metode penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan kelompok kontrol (pra tes dan pos tes). Kelompok eksperimen mendapatkan PBL sedangkan kelompok kontrol mendapatkan bukan PBL. Kemampuan memecahkan masalah diukur dengan soal uraian. Sikap peduli lingkungan dihimpun dengan angket sikap eksplisit dan sikap implisit. Teknik analisis data menggunakan SPSS for window versi 21. Kemampuan memecahkan masalah menggunakan Independen Test, sedangkan sikap peduli lingkungan menggunakan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan memecahkan masalah peserta didik yang memperoleh PBL (𝒙̅ = 0,440) lebih tinggi dari peserta didik yang memperoleh pembelajaran bukan PBL (𝒙̅ = 0,281), t (56) = 2,213 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙= 1,671. Sikap peduli lingkungan peserta didik yang memperoleh PBL lebih tinggi dari peserta didik yang memperoleh pembelajaran bukan PBL. Dengan demikian Model Problem Based Learning berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan memecahkan masalah dan sikap peduli lingkungan peserta didik Sekolah Dasar.
DESAIN DIDAKTIS SOAL CERITA OPERASI HITUNG CAMPURAN UNTUK KELAS III SEKOLAH DASAR Nurhamid, Sahid Agus; Suryadi, Didi
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 8, No 1: Januari 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v8i1.5117

Abstract

Abstract: This research based on the student’s learning obstacle of mixed operation of word problem. The purpose of the research is to explore student’s learning obstacle in order to plan didactic design of mathematics learning, especially in word problem matter that can be implemented in third grade students elementary school. The approach used in this research is the qualitative approach through the method of Didactical Design Research (DDR). Technique of collecting data uses documentation, interview, test and observation. The data was analyzed qualitatively for knowing student’s learning obstacle. The focus of the analysis is based on the theory of didactic situation, and the result of this analysis are used for the development of a didactic design hypothetic. The researcher makes pedagogic didactic anticipation based on identified learning obstacle. The didactic design was implemented in SDN 154 Purwodadi Tanjung Jabung Barat. The result of research showed that student’s ontogenical obstacle, didactical obstacle and epistimological obstacle in learning mixed operation of word problem. Based on the above findings, an expected alternative didactical design was composed to minimaze the obstacle that has been identified. From the research it can be concluded that by using this didactic design is one of the alternatives in learning the mixed operation of word problem in elementary school of class III found that learning obstacle can be reduced.Keyword: Didactic design, word problem, mixed operation, learning obstacle. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya hambatan belajar (learning obstacle) siswa tentang soal cerita operasi hitung campuran. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi learning obstacle untuk merancang desain didaktis pembelajaran matematika soal cerita operasi hitung campuran yang dapat diterapkan di kelas III Sekolah Dasar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui metode DDR (Didactical Design Research). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi, wawancara, tes dan obervasi. Data dianalisis secara kualitatif untuk menemukan learning obstacle.  Fokus analisis berdasarkan teori situasi didaktis, dan hasil analisis ini digunakan untuk pengembangan desain didaktis hipotetik. Peneliti menyusun antisipasi didaktis pedagogis berdasarkan learning obstacle yang telah teridentifikasi. Desain didaktis yang telah dirancang tersebut diujicobakan di SDN 154 Purwodadi Tanjung Jabung Barat. Hasil penelitian menunjukkan siswa mengalami ontogenical obstacle, didactical obstacle dan epistimological obstacle pada pembelajaran soal cerita operasi hitung campuran. Berdasarkan temuan diatas, disusunlah suatu desain didaktis alternatif yang diharapkan mampu mengatasi learning obstacle yang telah teridentifikasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan desain didaktis ini merupakan salah satu alternatif dalam pembelajaran soal cerita operasi hitung campuran di SD kelas III, sehingga learning obstacle siswa dapat dikurangi.Kata Kunci: Desain didaktis, soal cerita, operasi hitung campuran, learning obstacle
Pendekatan Konstruktivisme Dan Dampaknnya Bagi Hasil Belajar Matematika Siswa SD Mulyati, Tita
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 1, No 2: Juli 2009
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v1i2.2738

Abstract

Abstrak  Belajar menuntut peran serta semua pihak. Pengetahuan bukan sesuatu yang diserap secara pasif oleh siswa, melainkan sesuatu yang ditemukan, dibangun, dan dikembangkan secara aktif oleh siswa dengan mengalami dan mengerjakanya dalam proses masuk ke dunia nyata secara terus‐menerus, karena siswa di kelas tidak dalam keadaan kosong, tetapi memiliki pengetahuan dari pengalaman yang telah diperoleh sebelumnya. Pembelajaran terjadi    ketika siswa memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam pembelajaran matematika pun, untuk mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu (konsepsi awal) sebagai pengetahuan prasyarat dari siswa akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut. Guru bertugas sebagai fasilitator yang menciptakan kondisi dan sistuasi agar proses belajar dapat berlangsung efektif. Oleh karena itu, guru perlu mengupayakan inovasi dalam proses pembelajaran sehingga siswa terlibat penuh secara aktif dalam belajar dan dapat membangun pengetahuannya sendiri sehingga pengetahuan yang didapat lebih bermakna dan selalu diingat, mengingat pentingnya matematika sebagai ilmu dan bagi kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah dengan menerapkan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika di SD. Pembelajaran berdasarkan pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap, yaitu : (1) tahap persepsi, (2) tahap eksplorasi, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Beberapa penelitian yang relevan menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme terbukti efektif meningkatkan hasil belajar matematika siswa SDKata Kunci: Pembelajaran matematika, pendekatan konstruktivisme, hasil belajar matematika
Media Komik Pada Pelajaran IPA Untuk Meningkatkan Multiple Intelligences Siswa SD Yuliariatiningsih, Margaretha Sri
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 2, No 2: Juli 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v2i2.2769

Abstract

AbstractThis study was grounded on the students’ hobby in reading comics. The result of the literature study showed that comic used as media in learning Physics was very effective as learning media and attractive to be read. One of the supporting factors of this success in improving the students’ multiple intelligences was the integration of art and craft activities in the science learning process. Moreover, the theory of multiple intelligences accomodated students with various way of learning thinking. The developed training model in this study consisted of five stages that were orientation, presentation, structured excersice, guided excersice and individual excersice. In each Science class, the learning process was always started with the elicitation of students’ prior knowledge. Then each student got one comic to be read. After the reading session, the teacher asked them about the contents of the comics either classically or individually. In the next step the students were invited to observe the demonstration done by the teacher only if the instruments or materials were not safe for them, (e.g hot water). Nevertheless, if they were safe enough for the students, they were allowed to do the experiment by themselves. Students’ worksheets (LKS) were done by the students in group to develop their interpersonal and verbal-linguistic intelligences. Based on observation during experiments and drawing activities, the students’ visual-spatial intelligences were developed. Every learning process was always ended with knowledge test individually which would be discussed later. The study concluded that: 1) the training model improved PGSD students’ skills in developing comic as teaching media, 2) comics are proven to improve the elementary school students’ motivation in learning science, 3) comic enhanced elementary school students’ understanding in science knowledge which was indicated by the achievement of the students’ test score (85 point grade). Comic also developed elementary school students’ multiple intelligences in the aspects of verbal-linguistic, logical-mathematic, visual-spatial, naturalist, and interpersonal. It is recommended that comic should be developed as teaching media especially in elementary school. Comis can be used as one alternative of learning medias that can motivate students to learn something as well as improving their reading hobby. Key Word: comic, motivation, learning science, achievement
Interaksi Antara Faktor Tkam Dan Pembelajaran Terhadap Kemampuan Penalaran Deduktif Matematis Mahasiswa Calon Guru SD Beserta Kinerjanya Suarma, Dina Mayadiana; Kusumah, Yaya S
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 4, No 1: Januari 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v4i1.2813

Abstract

Abstrak Penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan disain kontrol pre dan post tes pada mata kuliah Bilangan terhadap 67 mahasiswa calon guru SD di suatu universitas di Bandung Tahun Akademik 2010/2011. Kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan berupa pembelajaran dengan pendekatan induktif. Instrumen yang digunakan terdiri dari: Tes Kemampuan Awal Matematis (KAM), Tes Kemampuan Penalaran Deduktif Matematis (KPDM), pedoman observasi, kamera photo, dan wawancara. Analisis data menggunakan ANOVA dua Jalur. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Tidak terdapat interaksi antara faktor TKAM dan pembelajaran terhadap KPDM dan (2) Kemampuan Induksi Matematis tergolong rendah.Kata kunci: Pembelajaran dengan Pendekatan Induktif, Penalaran Deduktif Matematis, Kemampuan Induksi Matematis, dan Mahasiswa calon guru SD.
Kolam Bening Sebagai Media Pembelajaran Sebab Akibat Benda Terapung Dan Tenggelam Setiawati, Neni
EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 6, No 1: Januari 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/eh.v6i1.2860

Abstract

Kolam Bening merupakan media pembelajaran yang dipergunakan untuk membantu anak usia dini memahami sebab-sebab benda tenggelam dan terapung di air. Benda tenggelam dan terapung merupakan kejadian yang bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua benda dapat tenggelam, dan tidak semua benda dapat terapung. Benda dalam keadaan bagaimana dikatakan tenggelam dan benda dalam keadaan bagaimana yang disebut terapung. Meskipun itu merupakan kejadian biasa, tetapi anak usia dini perlu memahami penyebab dari kejadian ini. Untuk itu, penulis memaparkan media pembelajaran yang diberi nama Kolam Bening.Kata kunci: kolam bening, terapung, tenggelam.

Page 4 of 33 | Total Record : 324