cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
CaLLs : Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 2460674X     EISSN : 25497707     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) published by Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman and published in June and December. CaLLs welcome articles and research reports utilizing an interdisciplinary approach to the study of culture. The object materials of the study may include aspects of language/linguistics, literature, arts (music and traditional arts).
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Special Issue "SESANTI 2025"" : 26 Documents clear
IKN between symbol and struggle: Governmental framing and public perception on IKN in East Kalimantan Arifin, Muhammad Bahri; Rahayu, Famala Eka Sanhadi; Gunawan, Sindy Alicia
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22643

Abstract

This study investigates the ideological and discursive tensions surrounding Indonesia’s new capital city (IKN) project in East Kalimantan. While the government frames IKN as a “smart forest city” symbolizing national progress and ecological harmony, local communities—particularly indigenous groups—report environmental degradation and cultural displacement. Using Ecological Discourse Analysis (EDA) and framing theory, the research compares official narratives from presidential speeches and planning documents with grassroots perspectives documented by NGOs. The findings reveal a discursive gap that raises concerns about greenwashing and symbolic power in state-led development. This study contributes to ecolinguistics by highlighting how language mediates environmental ideology and public perception in contested urban transformations.
Tracing the immigrant narrative in the novel Babel through mapping identity and belonging Prafitri, Wilma; Nasir, Muhammad Alim Akbar; Triyoga, Anwar Ibrahim
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22627

Abstract

This research examines the immigrant experience in R.F. Kuang’s Babel: An Arcane History of the Oxford Translators’Revolution (2022), emphasizing the interplay of language, power, and identity within the colonial context of 19th-century Oxford. This project employs a synthesis of postcolonial literary theory and literary cartography to delineate the emotional and spatial trajectories of immigrant characters, with a focus on Robin Swift, a Chinese orphan reared in England. The analysis demonstrates that translation serves as both an instrument of imperial control and a locus of resistance, situating immigrant scholars as both vital and marginalized within the empire. This research employs meticulous textual analysis to reveal patterns of assimilation, alienation, and rebellion, demonstrating how Kuang’s story critiques colonial processes and reasserts linguistic agency. This multidisciplinary approach provides a unique contribution to Babel study by depicting immigrant identity as a dynamic negotiation of cultural memory, displacement, and resistance.
Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) generatif dalam pengungkapan retorika separatisme: Kajian linguistik forensik pada narasi kebencian etnis Kusno, Ali
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.23047

Abstract

This research utilizes Generative Artificial Intelligence (AI) as an analytical tool for digital discourse. Its main objective is to identify the rhetorical strategies of separatism and ethnic hate speech against the Javanese people disseminated on social media, particularly on Instagram. Using a qualitative approach and Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) framework, this study examines how texts containing discriminatory sentiments, emotional sentence constructions, and exclusive symbols are produced and spread in the digital space. In-depth analysis reveals that user interaction patterns accelerate the dissemination of separatist ideas. From a forensic linguistics perspective, these findings underscore the damaging impact of digital rhetoric on social cohesion, with the potential to erode brotherhood and trigger the fragmentation of national identity. This paper argues that hate narratives are not merely linguistic constructions but also social actions that require a multidisciplinary response. The study concludes with specific recommendations, such as the development of counter-narratives based on linguistic evidence, improved digital literacy, and the formulation of public policies that are pro-national unity. This research provides a significant contribution to maintaining national stability amid information disruption.
Cerminan nilai budaya dalam sikap pengguna media sosial di Indonesia terhadap isu muatan LGBTQ+ pada film Lightyear sebagai dampak komunikasi lintas budaya Sambodo, Unggul Putro; Juanda, Mochammad Rizki
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22625

Abstract

Tulisan ini berupaya untuk menjabarkan mengenai cerminan nilai budaya dalam sikap pengguna media sosial terkait isu LGBTQ+ di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh polemik terkait pembatalan penayangan film Lightyear yang mengandung muatan LGBTQ+. LGBTQ+ merupakan suatu isu yang sedari lama telah dianggap buruk dan tabu di masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun telah terjadi suatu pergeseran sikap terhadap LGBTQ+ di Indonesia. Hal ini pun terlihat dalam tanggapan berbagai pengguna media sosial yang menerima dan menolak segala aktivitas LGBTQ+, termasuk dalam film Lightyear. Data dalam tulisan ini adalah beragam ekspresi bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan sikap para pengguna media sosial di Indonesia terhadap isu LGBTQ+ dalam film Lightyear. Sumber data dalam penelitian ini adalah beberapa media sosial yang aktif digunakan di Indonesia, seperti Facebook dan Twitter. Berdasarkan hasil temuan dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa saat ini telah terjadi pergeseran nilai budaya yang tercermin melalui sikap masyarakat terhadap isu LGBTQ+ dalam pembatalan film Lightyear. Penerimaan terhadap LGBTQ+ lebih banyak ditunjukkan oleh pengguna Twitter. Adapun, para pengguna Facebook cenderung menolak keras adanya segala aktivitas LGBTQ+. Alasan penerimaan dan penolakan ini pun sangat beragam, mulai dari kealamian LGBTQ+, psikologis, norma, agama, hingga pesatnya perkembangan negara.
Oposisi semiotik dan simbolik perspektif Julia Kristeva pada tradisi Sayyang Pattuqduq Khairunnisa, Khairunnisa
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22621

Abstract

 Tradisi Sayyang pattuqduq merupakan salah satu warisan budaya Mandar yang dilaksanakan sebagai bentuk perayaan khatam Al-Qur’an anak-anak, menggabungkan unsur agama, adat, dan ekspresi estetis. Penelitian ini bertujuan menganalisis oposisi semiotik dan simbolik dalam prosesi Sayyang pattuqduq menggunakan kerangka teori Julia Kristeva. Pendekatan kualitatif dengan metode etnografi budaya digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi langsung, dokumentasi visual, dan wawancara dengan tokoh adat serta pelaku tradisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur simbolik tampak melalui struktur prosesi, penggunaan busana adat, hiasan kuda yang merepresentasikan status sosial, serta aturan yang selaras dengan norma agama. Sementara itu, unsur semiotik hadir dalam gerak ritmis kuda, sorakan penonton, dan nyanyian yang mencerminkan luapan emosi kolektif masyarakat. Interaksi kedua unsur tersebut membentuk dialektika yang menjaga keseimbangan antara ekspresi kebebasan budaya dan pengukuhan identitas sosial-religius. Hasilnya menunjukkan bahwa Sayyang pattuqduq tidak hanya digunakan sebagai ritus perayaan, tetapi juga sebagai tempat untuk berbicara tentang makna. Nilai-nilai tradisional dikombinasikan dengan dinamika ekspresi kultural masyarakat Mandar.
Kolaborasi asimetris antara negara dan masyarakat adat dalam perlindungan warisan budaya takbenda di Kutai Barat Vivian, Yofi Irvan; Mubarok, Ahmad
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22672

Abstract

Program perlindungan Warisan Budaya Takbenda (HTN) di Indonesia terus mengungkap asimetri antara negara dan masyarakat adat. Studi ini mengkaji perlindungan HTN di Kutai Barat. Negara diwakili oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, sementara masyarakat Dayak Benuaq mendefinisikan masyarakat adat. Pendekatan etnografi kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi pada dasarnya bersifat asimetris. Negara cenderung mendominasi melalui mekanisme administratif yang kaku, dokumentasi, dan kebijakan birokrasi, sementara masyarakat adat berupaya melestarikan warisan mereka melalui praktik-praktik organik. Meskipun negara bergantung pada masyarakat adat untuk melindungi HTN, masyarakat ini seringkali menjadi sasaran eksploitasi budaya dengan dalih perlindungan HTN. Asimetri ini menimbulkan beberapa polemik, termasuk klaim keaslian, persaingan antardaerah, dan terbatasnya partisipasi masyarakat adat dalam perumusan kebijakan. Studi ini menyoroti bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk negosiasi dan dialog antara negara dan masyarakat adat. Dinyatakan bahwa penguatan lembaga-lembaga Pribumi, desentralisasi pengambilan keputusan, dan pengakuan otoritas budaya lokal merupakan langkah-langkah penting menuju terciptanya kerangka kerja yang lebih adil dan berkelanjutan untuk menjaga ICH. 
Representasi politik Dayak: Kajian ideologi dan kekuasaan dalam cerita rakyat Kalimantan Timur Nugroho, Bayu Aji; Yusriansyah, Eka
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22568

Abstract

This research examines the representation of power and ideology in Dayak folklore from East Kalimantan using the theoretical frameworks of Michel Foucault and Antonio Gramsci. Folklore is understood as a symbolic arena that records power relations in spiritual, customary, moral-ecological, and political forms. Data were collected from Dayak folktales circulating in East Kalimantan and analyzed qualitatively through a descriptive thematic approach. The findings reveal that spiritual power (as in the tale of Danau Aco), customary authority (Temputn Tolakng), and moral-ecological power (Anak Buaya) function to establish social rules and cultural legitimacy. Meanwhile, the tale of Sumbang Lawing emphasizes the importance of political legitimacy through counter-hegemony against tyrannical figures, Ikan Baung Putih generates moral-ecological regulations in the form of river taboos, and Sri Bangun illustrates colonial trauma shaping a defensive communal identity. This study concludes that Dayak folklore is not merely a moral narrative but also a political-cultural text that represents hegemony, resistance, and collective identity. It highlights folklore as both a medium of negotiating power and a cultural archive in the context of social change in East Kalimantan. 
Analisis semantis verba bermakna "Jatuh" dalam bahasa Banjar Hajjah, Fauziah; Fahmia, Nur; Junaidi, Ahmad
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22648

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen makna yang terdapat pada verba ‘jatuh’ dalam bahasa Banjar. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode simak dan teknik catat. Data yang dikumpulkan berupa verba bermakna ‘jatuh’ dalam bahasa Banjar yang diperoleh dari Kamus Bahasa Banjar-Indonesia. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis komponensial dan disajikan menggunakan metode formal berupa identifikasi komponen makna ke dalam matriks dan metode informal untuk menguraikan komponen makna ke dalam kata-kata secara deskriptif.  Dari hasil penelitian, ditemukan empat belas verba bermakna ‘jatuh’ dalam bahasa Banjar. Verba-verba tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan lokasi jatuhnya, yakni jatuh ke permukaan air dan jatuh ke permukaan yang keras. Verba ‘jatuh’ ke permukaan air, yaitu cabur, calubuk, dan camplung. Sementara itu, verba ‘jatuh’ ke permukaan yang keras, yaitu barusuk, dangsar, hantak, jungkang, kipay, lingsir, pulanting, rabah, runtuh, sarudup, dan sumbalit.
Perempuan dalam belenggu sistem kelas sosial pada novel Gadis Pantai dan cerpen “Sagra” Gunawiayu, Asih; Lingga, Wedar Pahala
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22644

Abstract

Kehidupan masyarakat kerap terepresentasi dalam karya sastra, tidak terkecuali tekanan yang dialami oleh perempuan dari berbagai latar belakang budaya dan zaman. Penelitian ini membahas dua tokoh perempuan berlatar belakang budaya Jawa dan Bali dari zaman yang berbeda pada novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, dan Cerpen “Sagra” karya Oka Rusmini. Melalui tokoh-tokoh dalam kedua karya sastra tersebut, terlihat adanya isu ketimpangan relasi kuasa dalam sistem kelas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan representasi keterbelengguan perempuan dalam dua budaya dan zaman yang berbeda. Untuk dapat mencapai tujuan penelitian tersebut, maka akan digunakan kerangka studi gender dan pendekatan sosiologi sastra. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kedua karya sastra tersebut perempuan ditampilkan sebagai komoditas, meskipun kedua tokoh tersebut memiliki keberdayaan diri, tetapi mereka tetap menjadi korban dalam sistem kelas sosial. Hal tersebut disebabkan oleh latar belakang kelas sosial mereka yang dianggap lebih rendah. Selain itu, ketimpangan relasi kuasa pun tercerminkan melalui konflik antartokoh.
Pinisi, warisan budaya tak benda: Antara simbol, identitas, dan tantangan komersialisasi di era pariwisata Haris, Basmawati
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22667

Abstract

Pinisi merupakan warisan budaya tak benda asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang telah diakui UNESCO sejak 2017. Lebih dari sekadar kapal layar tradisional, Pinisi adalah simbol kebanggaan, keterampilan maritim, serta identitas kultural masyarakat Bugis-Makassar. Artikel ini membahas Pinisi dalam tiga dimensi utama, yaitu simbol, identitas, dan tantangan komersialisasi di era pariwisata. Dari sisi simbol, Pinisi mengandung nilai spiritual, filosofis, dan sosial yang tercermin dalam ritual adat serta keterampilan teknis pembuatannya. Dari perspektif identitas, Pinisi berfungsi pada level lokal sebagai warisan kolektif, pada level nasional sebagai representasi Indonesia sebagai negara maritim, dan pada level global sebagai instrumen diplomasi budaya. Namun, transformasi Pinisi menjadi ikon wisata dan kapal modern menimbulkan tantangan serius, termasuk risiko hilangnya autentisitas, marginalisasi komunitas pembuat, serta dominasi pasar pariwisata. Artikel ini menegaskan bahwa keberlanjutan Pinisi membutuhkan strategi pelestarian partisipatif yang menyeimbangkan antara autentisitas budaya dan tuntutan ekonomi. Pendekatan berbasis komunitas, edukasi generasi muda, perlindungan hukum, serta kolaborasi multilevel menjadi kunci agar Pinisi tetap relevan dan bermakna di tengah arus globalisasi pariwisata. Kata kunci: Pinisi, warisan budaya, identitas, komersialisasi, pariwisata 

Page 2 of 3 | Total Record : 26