cover
Contact Name
Rusdiyanyo
Contact Email
roesdysh@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jiep@iain-manado.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Journal of Islamic Education Policy
ISSN : 25280295     EISSN : 25280309     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Journal of Islamic Education Policy menerbitkan hasil penelitian yang memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman dan praktek pendidikan Islam melalui tulisan dan laporan akademik dalam perspektif dan skop global. Tujuan utumanya adalah membuka akses bagi dunia internasional, dengan tidak melupakan tuntutan lokal, pada hasil penelitian, yang meliputi peneliti, praktisi, dan mahasiswa dalam bidang kebijakan pendidikan Islam. Karena itu, JIEP menyambut dengan baik tulisan-tulisan yang mendorong perdebatan akademik dari kalangan akademisi yunior dan senior dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Arab, dan Inggeris
Arjuna Subject : -
Articles 124 Documents
Telaah Kompetensi Guru di Era Digital dalam Memenuhi Tuntutan Pendidikan Abad Ke-21 Siti Khodijah
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5674.117 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.860

Abstract

Abstaract., The 21st century is echoed as a century of knowledge-based society. Teachers as future human resource cadres are required to be total in carrying out their professional duties. Entering the era of digital technology revolution where experiencing various forms of change and shifting point of view, teacher competencies need to be questioned, first, are the core competencies of teachers outlined in competencies based on education levels and based on these subjects already representing the direction of education in the 21st century ?, second, how teacher readiness to welcome learning in this digital era? This literature review shows that teacher competence can be said to have represented the direction of education in the 21st century but still needs encouragement and stabilization of direction, while teacher readiness can be said to need further research for data accuracy.               Keyword: teacher, teacher competence, digital era, education, 21st century Abstrak., Abad ke-21 digaungkan sebagai abad masyarakat berbasis pengetahuan. Guru sebagai sosok pengkader sumber daya manusia masa depan dituntut untuk total dalam menajalankan tugas keprofesiannya. Memasuki era revolusi teknologi digital yang mana mengalami berbagai bentuk perubahan maupun pergeseran sudut pandang maka kompetensi guru perlu dipertanyakan, pertama, apakah kompetensi inti guru yang dijabarkan dalam kompetensi berdasarkan jenjang pendidikan dan berdasarkan mata pelajaran tersebut sudah mewakili arah pendidikan Abad ke-21?,kedua, bagaimana kesiapan guru dalam menyambut pembelajaran di era digital ini?. kajian literatur ini menunjukkan bahwa kompetensi guru dapat dikatakan sudah mewakili arah pendidikan Abad ke-21 namun tetap saja perlu dorongan dan pemantapan arah, sedangkan kesiapan guru dapat dikatakan perlu penelitian lebih lanjut untuk akurasi data. Kata kuci:guru, kompetensi guru, era digital, pendidikan, Abad ke-21
Manajemen Kurikulum dalam Perspektif Beauchamp: Acuan Pengembangan Jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan Fifin Priandono
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4353.194 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i2.866

Abstract

ABSRACT., Management is part of a science and art which contains activities in planning, organizing, implementing, and controlling in completing all matters by utilizing all available resources through other people in order to achieve the goals previously set. The curriculum is something that has been planned in the context of children's learning. In the view and traditional thinking of the curriculum, the curriculum is formulated as a number of subjects that must be passed by students in the framework and purpose of obtaining a diploma. can be explained that the management of educational curriculum is a systematic effort by someone through the activities of planning, organizing, implementing and evaluating the curriculum aims to enable students to achieve learning objectives effectively and efficiently. The aim of national education is the goal to be achieved nationally, which is based on the philosophy of a country. The nature of this goal is ideal, comprehensive, intact and becomes the parent of the objectives that are under it.Keyword: Management, Curriculum, Education ABSTRAK., Manajemen adalah bagian dari sains dan seni yang berisi kegiatan dalam perencanaan, pengorganisasian, penerapan, dan pengendalian dalam menyelesaikan semua hal dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia melalui orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kurikulum adalah sesuatu yang telah direncanakan dalam konteks pembelajaran anak-anak. Dalam pandangan dan pemikiran tradisional tentang kurikulum, kurikulum dirumuskan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus dilewati oleh siswa dalam kerangka dan tujuan memperoleh diploma. dapat dijelaskan bahwa manajemen kurikulum pendidikan merupakan upaya sistematis oleh seseorang melalui kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum yang bertujuan untuk memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan yang ingin dicapai secara nasional, yang didasarkan pada filosofi suatu negara. Sifat dari tujuan ini adalah ideal, komprehensif, utuh dan menjadi induk dari tujuan yang ada di bawahnya.Kata kunci: Manajemen, Kurikulum, Pendidikan
Program Taḥfīẓ Al-Qur’ān dan Komersialisasi Pendidikan Mutma'inah Mutma'inah
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.921 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i1.856

Abstract

Abstract., As the trend of the memorizing The Holly Qur’an develops in Indonesian Muslim communities, now taḥfīẓ al-qur’ān has entered and become a flagship program in formal schools, especially private Islamic schools. The majority of them are the schools with fairly expensive fees. They use taḥfīẓ al-qur’ān program to attract market interest. So there is an indication that the schools are commercializing education if they use taḥfīẓ al-Qur’ān program only to get many students. In other hand quality education requires high costs. So that not always high cost schools can be categorized as commercialization only if the financing is used to facilitate the fluency of teaching-learning process, developing infrastructure and procurement of media that support the implementation of quality education. In the context of schools with taḥfīẓ al-qur’ān program, there are several benchmarks to determine wheter commercialization has occured or not. First, measured from quality of reciting Qur’an of students, the fluency, tajwīd and makhrāj al-ḥurūf. Second, measured from quality of  memorizing Qur’an of students. Third, measured from memorized quantity that has been targeted. In order taḥfīẓ al-qur’ān to become quality program and not to commercialize, the steps that must be taken are to introduce Al-Qur’an, teach love to the Qur’an, teach adab in memorizing  Qur’an and teach the values contained in the Qur’an. While what should be avoided is prioritizing memorization quantity by ignoring the quality of reciting Qur’an, tajwīd and makhrāj al-ḥurūf and prioritizing adding memorization by ignoring repetition. Both will cause taḥfīẓ al-qur’ān program to be contra-produtive and lack from Islamic education values and only burden the students.Keywords: taḥfīẓ program, taḥfīẓ al-qur’ān and Education commercializationAbstrak., Seiring berkembangnya tren menghafal Al-Qur’an di masyarakat Muslim Indonesia, kini program taḥfīẓ al-Qur’ān telah masuk dan menjadi program unggulan di sekolah-sekolah formal khususnya sekolah-sekolah Islam swasta. Sekolah-sekolah tersebut mayoritas adalah sekolah dengan biaya pendidikan yang cukup mahal. Mereka menggunakan program taḥfīẓ al-Qur’ān untuk menarik minat pasar. Sehingga ada indikasi sekolah-sekolah tersebut melakukan komersialisai pendidikan jika manfaatkan program taḥfīẓ al-Qur’ān hanya untuk mendapatkan banyak murid. Di sisi lain pendidikan berkualitas membutuhkan biaya yang tinggi. Sehingga tidak selalu sekolah dengan biaya yang tinggi bisa  dikategorikan sebagai komersialisasi hanya jika pembiayaan tersebut digunakan untuk menfasilitasi kelancaran proses belajar-mengajar, pembangunan infrastuktur dan pengadaan media yang menunjang terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Dalam konteks sekolah dengan program taḥfīẓ Al-Qur’ān maka beberapa tolok ukur untuk mengetahui terjadi tidaknya komersialisasi. Pertama, dinilai dari kualitas bacaan Al-Qur’an para peserta didik, kelancaran, tajwid dan makhrojul hurufnya. Kedua, dinilai dari kualitas hafalan Al-Qur’an peserta didik. Ketiga, dinilai dari kuantitas hafalan yang ditargetkan. Agar program taḥfīẓ Al-Qur’ān berkualitas dan tidak terjadi komersialisai, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: mengenalkan Al-Qur’an, mengajarkan cinta Al-Qur’an, mengajarkan adab menghafal Al-Qur’an dan mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sedangkan yang harus dihindari adalah lebih mengutamakan kuantitas hafalan dengan mengabaikan kualitas bacaan, tajwid dan makhorijul huruf dan mengutamakan menambah dengan mengabaikan mengulang hafalan. Karena hal-hal tersebut justru menyebabkan taḥfīẓ Al-Qur’ān menjadi kontra produktif, kering dari nilai-nilai pendidikan Islami serta hanya akan membebani anak didik.Kata kunci: program taḥfīẓ, taḥfīẓ al-qur’ān dan komersialisai pendidikan
Analisis Kritis Kebijakan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Dan Standar Isi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Abdul Muis Pawero
Journal of Islamic Education Policy Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5954.519 KB) | DOI: 10.30984/j.v2i2.700

Abstract

Abstract. In the Sisdiknas Law no. 20. Year 2003 in chapter 1 article 3 has been declared that the national education function to develop the ability and form the character and civilization of a dignified nation in order to educate the nation's life, aims for the development of potential learners to be a human being who believes and cautious to God Almighty, be noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent, and become a democratic and responsible citizen.The purpose of the national education is inversely proportional to the results of a survey that shows that Indonesia country is still perched in the ranks of the most corrupt countries in the world, corruption in various institutions, increasingly loose discipline of increasing violent criminal acts, anarchism, thuggery, alcoholism and drugs struck among the pelajra and students. This paper will discuss the contents of the curriculum and the Competence Standards of Graduation (SKL) of Islamic education to see whether the contents or curriculum materials now meet the expectations or not. So it is necessary to conduct a critical analysis / analysis of the causes of the weak point of Islamic religious education, especially on the content of curriculum materials of Islamic educationKeyword; Policy Analysis, Graduate Competency Standards, Curriculum Content Standards.Abstrak. Dalam Undang-Undang Sisdiknas no. 20. Tahun 2003 pada bab 1 pasal 3 telah dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Tujuan pendidikan nasional tersebut berbanding terbalik dengan Hasil survei yang menunjukkan bahwa negeri kita masih bertengger dalam jajaran negara yang paling korup di dunia, KKN melanda di berbagai institusi, disiplin makin longgar semakin meningkatnya tindak kriminal kekerasan, anarkisme, premanisme, konsumsi minuman keras dan narkoba sudah melanda di kalangan pelajra dan mahasiswa.Makalah ini akan mendiskusikan isi kurikulum serta Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) pendidikan agama Islam guna meneropong apakah isi atau materi kurikulum saat ini sudah memenuhi harapan atau belum. Maka perlu kiranya melakukan telaah/analisis secara kritis mengenai penyebab titik lemah dari pendidikan agama Islam terutama pada isi materi kurikulum pendidikan agama Islam.Kata Kunci: Analisis Kebijakan, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi Kurikulum.
Konsep Pendidikan Akhlak dalam Tafsir Al-Ibriz Bisri Mustofa Serta Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Indonesia Firman Sidiq; Rahman Mantu
Journal of Islamic Education Policy Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6330.968 KB) | DOI: 10.30984/j.v3i2.867

Abstract

Abstract: Moral education is the initial foundation for forming and creating a better and quality life. In addition, it can also develop human attitudes to become more perfect, so that they have a positive impact on life and are always open to good and closed from all forms of evil. Furthermore, with the values of moral education will certainly have a positive impact on various aspects and elements of life, moral education can be interpreted as a process of internalizing moral values into oneself. In order to be firmly planted in the mindset, speech, actions, and interactions with God, humans and nature. In addition, moral values can also form trancendental-spiritual vision, sociological vision and ecological vision. Thus, these values can be inherent in themselves so as to form a culture of behavior and character. Departing from the background of the thoughts described above, this article is directed at reviewing and constructing Bisri Mustofa's thinking with a focus on studies on the values of moral education contained in Bisri Mustofa's Tafsir al-Ibriz. The factors behind the author chose Bisri Mustofa's interpretation because he was an Indonesian native, so the interpretations made by him would certainly be very interactive with the social realities that exist on Indonesian soil, which would greatly help writers in their efforts to benefit the education world in Indonesia especially Islamic education, and will be able to answer various problems that exist in the world of education today. Abstrak: Pendidikan akhlak merupakan landasan awal untuk membentuk dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkualitas. Selain itu, dapat juga menumbuh kembangkan sikap manusia agar menjadi lebih sempurna, sehingga berdampak positif bagi kehidupan dan selalu terbuka bagi kebaikan dan tertutup dari segala bentuk keburukan. Lebih lanjut, dengan adanya nilai-nilai pendidikan akhlak tentunya akan berdampak positif juga pada berbagai aspek dan unsur kehidupan, pendidikan akhlak dapat diartikan sebagai proses internalisasi nilai-nilai akhlak ke dalam diri. Agar tertanam kuat dalam pola pikir, ucapan, perbuatan, serta interaksinya kepada Tuhan, manusia dan alam. Selain itu, nilai-nilai akhlak dapat pula membentuk visi trancendental-spiritual, visi sosiologis dan visi ekologis. Sehingga, nilai-nilai tersebut dapat melekat dalam diri sehingga membentuk budaya perilaku dan karakter. Berangkat dari latar pemikiran yang telah penulis uraikan di atas, maka artikel ini diarahkan untuk mengkaji dan mengkonstruk pemikiran Bisri Mustofa dengan fokus kajian pada nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam Tafsir al-Ibriz karya Bisri Mustofa. Adapun faktor yang melatar belakangi penulis memilih tafsir Bisri Mustofa karena ia merupakan orang asli Indonesia, sehingga tafsir yang dibuat olehnya tentu akan sangat interaktif dengan realitas sosial yang ada di bumi Indonesia, yang hal tersebut akan dapat sangat membantu penulis dalam upaya memberikan manfaat terhadap dunia pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan Islam, serta akan dapat mampu menjawab berbagai problem yang ada dalam dunia pendidikan dewasa ini.
Paradigma Kritis-Konstruktif:Ijtihad Pengembangan Paradigma Pendidikan Islam Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama Arhanuddin Salim
Journal of Islamic Education Policy Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4938.396 KB) | DOI: 10.30984/j.v2i2.695

Abstract

This study offers a constructive-critical paradigm as an effort to develop Islamic education in Muhammadiyah and Nahdatul Ulama. Development of Islamic education paradigm of Muhammadiyah and Nahdatul Ulama whose goal ultimately directs the learners into pious human beings to God. Freedom here is limited by the line of demarcation of the law and the teachings of the Shari'ah that are determined by God in line with the philosophy that underlies human nature. Learners are added by Muslims is a smart, meticulous, and able to think by using the mind well and responsible. This critical-constructive paradigm is used as a reference in developing Islamic education in Muhammadiyah and Nahdatul Ulama in the future.Keywords: Critical-Constructive Paradigm, Islamic Education, Muhammadiyah and Nahdatul Ulama AbstrakStudi ini menawarkan paradigma kritis-konstruktif sebagai upaya pengembangan pendidikan Islam yang ada di Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Pengembangan paradigma pendidikan Islam Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama yang tujuan akhirnya mengarahkan agar peserta didik menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan. Kebebasan di sini di batasi oleh garis demarkasi hukum dan ajaran syariat yang ditentukan oleh Tuhan yang sejalan dengan filsafat yang mendasari fitrah manusia. Peserta didik didambahkan oleh umat Islam adalah yang cerdas, cermat, dan mampu berfikir dengan menggunakan akalnya dengan baik dan bertanggung jawab. Paradigma kritis-konstruktif inilah yang dijadikan acuan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang ada di Muhammadiyah dan Nahdatul Ulam ke depan.Kata Kunci: Paradigma Kritis-Konstruktif, Pendidikan Islam, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama
Strategi Internasionalisasi Perguruan Tinggi: Studi Multikasus pada Universitas Islam Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang Abdul Muis Pawero
Journal of Islamic Education Policy VOL 2, NO 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9416.665 KB) | DOI: 10.30984/j.v2i1.684

Abstract

Internationalization of private colleges at UN/SMA and UMM with the discussion ocusing on (1) internationalization strategies, (2) factors supporting internationali­ zation, and (3) challenges of internationalization at UN/SMA and UMM. This study used a qualitative approach with multiplecase study design. Data were collected using deep interviews, observations and documentation. The results show that inter­ nationalization strategies at both universities consist of two dimensions, namely inter­ nal strategies and external strategies. Internal strategies at both universities are insti­ tutionnal responses in the form of internal college-comprehensive policies that are significant from an organizational prespective. External strategies in the two unive­ rsities are actions of internationalization in a well refined plan. These actions come after both universities formulate the vision, mission and/or their strategic plans of internationalization.
URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK : TINJAUAN ATAS NILAI DAN METODE PERSPEKTIF ISLAM DI ERA DISRUPSI Amiruddin Amiruddin
Journal of Islamic Education Policy Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiep.v6i1.1474

Abstract

Abstrak : Urgensi Pendidikan Akhlak Tinjauan Atas Nilai dan Metode Perspektif Islam di Era Disrupsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pentingnya pendidikan akhlak di era disrupsi saat ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), sumber utama berupa buku dan laporan hasil penelitian, yang dianalisi dengan analisis isi (content analysis) diproses dalam tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Akhlak pada era disrupsi begitu penting guna mencegah masifnya sisi negatif perkembangan teknologi informasi yang mengarah pada terjadinya penyebaran berita hoax, perundungan maya, penipuan, ujaran kebencian, prostitusi online, eksploitasi seksual, pornografi, perdagangan anak dan lain-lain. Sehingga bentuk penerapan Nilai dan Metode Pendidikan Akhlak di era disrupsi dalam perspektif Islam antara lain; pertama, generasi muda perlu dikenalkan pemahaman secara menyeluruh tentang konsep akhlak. Kedua adalah keteladanan, generasi muda mengalami krisis keteladanan, yaitu bisa dari orang tua atau guru tempat seseorang menimbah ilmu, Ketiga, menghindar diri dalam kesenangan dan kemewahan (hedonisme dan konsumerisme). Keempat, memperkuat hubungan antara pendidik dengan peserta didik. Kelima, menerapkan beragam metode dalam mempelajari Pendidikan akhlak. Keenam, mampu mengontrol lingkungan, bukan hanya lingkungan nyata, namun juga lingkungan maya.
Manusia Dalam Perspektif Al-Quran (Suatu Tinjauan Pendidikan Islam) Baharuddin Baharuddin
Journal of Islamic Education Policy Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiep.v5i1.1345

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa manusia dalam kaitannya dengan pendidikan. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memliki potensi untuk dapat berkembang ke arah yang positif sekaligus memiliki potensi untuk berkembang ke arah yang negatif. Demikian pula keberadaan manusia di dunia yang dilengkapi dengan dua unsur, yaitu unsur jasad dan ruh, realitas yang mendasari dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudian dikenal sebagai manusia bukanlah perubahan jasadnya melainkan keruhaniannya. Hal itu dapat dicapai jika potensi yang ada dalam dirinya diarahkan kepada yang positif melalui pendidikan. Abstract : Humans In Al-Quran Perspective (An Overview of Islamic Education). This study aims to analyze humans about education. Humans are creatures of God who can develop positively and have the potential to create an adverse order. Likewise, human existence in a world equipped with two elements, namely the aspects of the body and spirit, the underlying reality, and the principle that unites what became known as a human being was not a change in his body but his spirituality. This can be achieved if the potential in him is directed to the positive through education. Kata Kunci : Manusia,  Perspektif al-Qur’an, Pendidikan Islam 
Relevansi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Pengarusutamaan Gender Rizka Hidayatul Umami
Journal of Islamic Education Policy Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiep.v4i1.1271

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas relevansi pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis pengarusutamaan gender. Sesuai dengan Instruksi Presiden nomor 9 tahun 2000, sudah semestinya setiap lembaga pemerintah menerapkan pengarusutamaan gender sebagai landasan membuat kebijakan dalam pembangunan. Hal tersebut juga berlaku di lembaga pendidikan, di mana pengarusutamaan gender sudah harus diintegrasikan atau setidaknya berkorelasi dengan kurikulum pembelajaran. Salah satu mata pelajaran wajib yang perlu mengintegrasikan konsep kesetaraan gender dalam pembelajarannya adalah pendidikan agama islam, karena dalam banyak kasus menyebutkan pemahaman agama yang tidak sensitif gender seringkali membawa dampak sosial yang merugikan perempuan, menghadirkan stereotipe, diskriminasi, marginalisasi dan melanggengkan budaya patriarki di masyarakat. Jenis penelitian ini berbasis kepustakaan atau library research dengan metode deskriptif-analitis.  Adapun hasilnya menunjukkan bahwa pengarusutamaan gender sangat urgen dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran pendidikan agama Islam karena terbukti membawa dampak signifikan dalam perubahan cara pandang pendidik dan peserta didik.Abstract: This article focuses on the relevance of learning Islamic religious education based on gender mainstreaming. In accordance with Presidential Instruction number 9 of 2000, every government agency should have implemented gender mainstreaming as a basis for making policies in development. This also applies in educational institutions, where gender mainstreaming must be integrated or at least correlated with the learning curriculum. One of the compulsory subjects that need to integrate the concept of gender equality in learning is Islamic religious education, because in many cases it is stated that the understanding of religion that is not gender sensitive often brings social impacts that are detrimental to women, presenting stereotypes, discrimination, marginalization and perpetuates a patriarchal culture in society. Sources of data were obtained from books and journal articles related to the research focus. The results show that gender mainstreaming is very urgent to be included in the Islamic religious education curriculum because it has been proven to have a significant impact in changing the perspectives. Kata Kunci: pengarusutamaan gender, kesetaraan gender, pembelajaran PAI                           

Page 5 of 13 | Total Record : 124