cover
Contact Name
Dr. Radhiah Zakaria
Contact Email
radhiah@unmuha.ac.id
Phone
+6265131054
Journal Mail Official
jurnal.jukema@unmuha.ac.id
Editorial Address
Pusat Kajian dan Penelitian Kesehatan Masyarakat (PKPKM) Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Lantai II, Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) Jl. Muhammadiyah No.93, Bathoh, Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh. Telp. (0651) 31054, Fax. (0651) 31053. Email: jurnal.jukema@unmuha.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)
ISSN : 20881592     EISSN : 25496425     DOI : https://doi.org/10.37598/jukema
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh atau disingkat dengan JUKEMA merupakan kumpulan jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian atau yang setara dengan hasil penelitian di bidang ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan. Artikel ilmiah yang membahas topik-topik Kesehatan Ibu dan Anak, epidemiologi, gizi kesehatan masyarakat, Penyakit Tidak Menular (PTM) dan lain-lain sangat diharapkan dan disambut baik.
Articles 305 Documents
Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Jaminan Kesehatan Aceh di Unit Rawat Inap RSUD Aceh Barat Daya Nelli Harisah; Asnawi Abdullah
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i1.554

Abstract

Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) merupakan program berobat gratis yang dibiayai oleh pemerintah daerah untuk memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien JKA yang berdasarkan tingkat kesesuaian nilai harapan dan nilai kenyataan terhadap dimensi kenyataan (tangible), kehandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy) yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Barat Daya (ABDYA). Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah semua pasien rawat inap di RSUD ABDYA tahun 2010 yang menggunakan fasilitas JKA. Sampel diambil sebanyak 51 orang dari total populasi 813 orang dengan menggunakan teknik accidental sampling. Hasil: Dari hasil penelitian diperoleh bahwa nilai rata-rata kepuasan pasien JKA terhadap pelayanan RSUD ABDYA di unit rawat inapnya adalah dengan tingkat kesesuaian 71.8% atau puas. Kesimpulan: Hal ini membuktikan bahwa secara keseluruhan berdasarkan variabel-variabel yang diteliti, rata-rata pasien rawat inap RSUD ABDYA ini puas terhadap pelayanan yang diterimanya.
HUBUNGAN LEVEL KANKER DENGAN DEPRESI PADA PASIEN KANKER DI RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH Muhammad Shalahuddin; Aulina Adamy; Irwan Saputra
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v6i1.804

Abstract

Latar Belakang: Depresi merupakan kondisi emosional yang ditandai dengan kesedihan, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, dan tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan. Berdasarkan hasil Riskesdas (2018) prevalensi depresi di Provinsi Aceh pada tahun 2018 sebanyak 4.8% dari total populasi. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan cross sectional study yang dilakukan pada bulan Agustus 2019 di Instalasi Kemoterapi RSUDZA Banda Aceh. Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani kemoterapi kanker sebanyak 70 orang. Hasil: Hasil penelitian didapatkan ada hubungan level kanker stadium 2 dengan depresi dengan nilai (p value=0.001), ada hubungan level kanker stadium 3 dengan depresi dengan nilai (p value=0.001), dan ada hubungan level kanker stadium 4 dengan depresi dengan nilai (p value=0.001). Kesimpulan: Pasien kanker pada stadium 2, 3, dan 4 memiliki hubungan yang signifikan terhadap depresi yang dirasakan. Bagi instalasi kemoterapi dan tenaga kesehatan khususnya di RSUDZA Banda Aceh diharapkan dapat meningkat kualitas pelayanan dan perawatan terhadap pasien kemoterapi kanker dengan tidak melupakan aspek psikologisnya.
PERILAKU IBU TENTANG MASA PERGANTIAN GIGI DENGAN PERSISTENSI PADA MURID MIN COT GUE KECAMATAN DARUL IMARAH KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2018 Elfi Zahara
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v5i2.738

Abstract

Latar Belakang: Dalam pertumbuhan gigi anak diperlukan perhatian  dan pengetahuan  ibu  khususnya  yang  lebih  mengenai  periode  dan transisi atau waktu bercampurnya gigi susu dan gigi tetap. Persistensi gigi sulung adalah suatu keadaan dimana gigi sulung belum tanggal walaupun waktunya sudah tiba. Keadaan ini sering dijumpai pada anak usia 6-12 tahun. Metode: Jenis dan desain penelitian ini bersifat analitik. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua murid beserta ibu di sekolah MIN Cot Gue yang berjumlah 93 orang dengan jumlah sampel yang digunakan 48 responden. Tempat penelitian dilakukan di Min Cot Gue Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar tahun 2018. Analisis data yang digunakan yaitu Chi-Square dengan tingkat signitifnya α= 0.05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu tentang masa pergantian gigi dengan persistensi pada anak p=0.02. Saran: Diharapkan kepada ibu agar dapat meningkatkan pengetahuan tentang persistensi gigi dengan memperbanyak informasi tentang kesehatan gigi  dan mulut  anak  terutama mencegah terjadinya persistensi gigi pada anak.
Faktor Kelengkapan Imunisasi Dasar pada Bayi di Puskesmas Sawang Kabupaten Aceh Utara Marlina Marlina; Said Usman; Marzuki Marzuki
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i1.625

Abstract

Latar Belakang: Indikator untuk mengukur keberhasilan program imunisasi adalah cakupan imunisasi dasar lengkap. Di Aceh tahun 2015 hanya mencapai 74% dan dianggap serius menurut WHO karena belum mencapai imunisasi dasar lengkap 90%. Imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Aceh Utara tahun 2015 hanya mencapai 71,2% dan di Puskesmas Sawang di Aceh Utara mencapai 17,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Sawang. Metode: Penelitian ini bersifat analitik deskriptif dengan desain Cross-sectional. Populasi adalah ibu yang mempunyai bayi 0-12 bulan berjumlah 790 orang, sampel sebanyak 88 orang dari 39 desa diambil dengan teknik Proposional Sampling. Uji statistik yang digunakan yaitu Chi-square test, analisis multivariat dengan Logistic Regresi. Hasil: Analsisi bivariat menunjukkan kelengkapan imunisasi tidak ada hubungannya dengan sumber informasi (p-value 0,16), peran tenaga kesehatan (p-value 0,12), tetapi ada hubungan dengan dukungan keluarga (p-value 0,03). Namun analisa multivariat menemukan hanya 3 variabel yang berhubungan secara bermakna: pengetahuan ibu (OR = 5,5; p-value 0,00), peran tokoh masyarakat (OR = 5,6; p-value 0,04) dan partisipasi ibu (OR = 5; p-value 0,01). Kesimpulan: Variabel yang paling dominan adalah peran tokoh masyarakat dibandingkan dengan variabel-variabel lain. Saran: Perlu  kerjasama pemerintah  dengan lintas sektor terkait, peran aktif tokoh masyarakat, peningkatan pengetahuan ibu melalui penyuluhan dari petugas kesehatan.
Editorial: Regulasi, Aplikasi Pemberian Air Susu Ibu Ekskluksif, dan Status Gizi Balita di Aceh Basri Aramico
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i2.513

Abstract

Jumlah balita di Indonesia pada tahun 2013 sangat besar, sekitar 10% dari seluruh penduduk Indonesia merupakan penduduk dengan usia di bawah 5 tahun. Dengan jumlah yang besar, maka nasib bangsa Indonesia di masa datang juga terletak pada generasi yang sekarang ini. Sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian serius. Dalam perkembangan anak, terdapat masa kritis di mana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi anak dapat berkembang dengan maksimal. Sehingga hal ini perlu mendapat perhatian dan stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya dan mampu bersaing di era global [1].Perkembangan dan pertumbuhan balita ditentukan oleh status gizi pada awal kehidupan, bahkan sejak didalam kandungan yang dikenal sebagai 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu masa 270 hari di dalam kandungan dan masa 730 hari setelah kelahiran (2 tahun). Upaya untuk meningkatkan status gizi balita, satu di antaranya adalah dengan memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja tanpa makanan tambahan lain kepada bayi sejak usia 0-6 bulan [2].Berbagai upaya efektif untuk mendorong pemberian pemberian ASI Eksklusif terus dilakukan, termasuk dukungan Peraturan Daerah dalam berbagai regulasi (Qanun). Di level nasional, peraturan kesehatan baru telah melarang dengan tegas berbagai upaya promosi pengganti ASI di fasilitas kesehatan dan peraturan pemerintah tentang hak ibu untuk menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama dan terus menyusui selama dua tahun atau lebih. Upaya tersebut perlu didukung oleh seluruh pemerintah kabupaten/kota.Pada tatanan nasional pemerintah sudah mengatur ketentuan melalui Undang- Undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) untuk mendukung pemberian ASI Eksklusif di Indonesia, tetapi pada tingkat pemerintahan daerah/kabupaten  peraturan dan perundang-undangan perlu penjabaran lebih detail sesuai dengan situasi dan kondisi kabupaten/kota. Hasil telaah setidaknya ada 17 peraturan perundang-undangan yang terkait dengan ASI Eksklusif baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa peraturan tersebut3 di antaranya adalah UU No. 7/1996 tentang Pangan; UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen; UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 36/2009 tentang Kesehatan; UU No. 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan; PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; PP No.  33/2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif; Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 329/Menkes/Per/XII/1976 tentang Produksi dan Peredaran Makanan; Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 48/Men.PP/XII/2008; No. PER.27/MEN/XII/2008; dan No. 1177/Menkes/PB/XII/2008 tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja; Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota; dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI Secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia.Selain itu menurut UU No. 36/2009 tentang Kesehatan, pada pasal 128 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI Eksklusif sejak  dilahirkan selama 6 (enam) bulan. Bayi setelah 30 menit dari kelahirannya sampai 6 (enam) bulan bayi hanya diberikan air susu ibu saja tanpa makanan atau minuman lain. Setelah usia 6 bulan, anak tetap menerima pemberian ASI dengan makanan tambahan sampai anak berusia 2 tahun4. PP No. 33/2012 tentang pemberian ASI Eksklusif merupakan produk hukum dengan kekuatan hukum yang jelas, tegas dan tertulis. Dalam ketentuan peralihan disebutkan bahwa pada saat PP ini mulai berlaku, pengurus tempat kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum, wajib menyesuaikan dengan ketentuan PP ini paling lama 1 (satu) tahun.Hal ini sesuai dengan prinsip dalam agama yang tidak ingin memberatkan.  Kekuatan besar juga terdapat pada amanat PP no 33 tahun 2012 sesuai dengan perintah dalam Al-Qur’an (Q.S. [2]: 233), (Q.S. Lukman [31]: 14), (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 15). Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan tentang ASI Eksklusif dalam Al-Qur’an, namun perintah kepada ibu untuk menyusukan bayinya sampai 2 tahun merupakan landasan moril, kekuatan spiritual dan nyata untuk dapat meningkatkan peran dakwah dalam Islam dalam membantu peningkatan pemberian ASI eksklusif5. Provinsi Aceh juga telah mengatur praktik pemberian ASI dalam Peraturan Daerah (Qanun), yaitu Qanun Aceh No. 04 Tahun 20106 tentang Kesehatan (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2011 No.01).Namun pada kenyataannya praktik pemberian ASI Eksklusif sering mengalami kegagalan karena berbagai alasan. Pertama, karena terlalu cepat memberikan makanan tambahan dan kedua karena tingginya keinginan ibu untuk memberikan susu formula. Selain itu, rendahnya pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif dan rendahnya dukungan untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) juga berkontribusi terhadap rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif. Parktek pemberian ASI Eksklusif tersebut dianggap gagal karena masih di bawah target kementerian kesehatan yaitu 80%7. Di provinsi Aceh cakupan ASI Eksklusif masih sangat rendah. Pada tahun 2015, cakupan ASI Eksklusif di Aceh baru mencapai 48.1% [8].Rendahnya praktek pemberian ASI Eksklusif tersebut ditenggarai mempengaruhi peningkatan status gizi bayi dan balita. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, berat badan menurut umur (BB/U) secara nasional, prevalensi berat-kurang pada tahun 2013 adalah 19.6%, terdiri dari 5.7% gizi buruk dan 13.9% gizi kurang. Dari 34 provinsi di Indonesia terdapat 18 provinsi dengan angka prevalensi gizi buruk dan kurang di atas angka nasional yaitu berkisar antara 21.2% sampai 33.1% dan salah satunya adalah provinsi Aceh yang menduduki urutan ke 7 di antara 18 Provinsi di Indonesia dengan prevalensi gizi  kurang sebesar 25 [8].Data profil kesehatan provinsi Aceh tahun 2013 dari 214.760 balita yang ditimbang berat badannya sebanyak 65.3% balita dengan gizi baik. Sedangkan Banda Aceh menunjukkan dari 14.436 balita, balita dengan gizi baik atau berat badan naik (5.8%), balita dengan gizi kurang atau bawah garis merah (BGM) atau yang mengalami gizi buruk (0.02%) [7].Pada tahun 2016 Gubernur Aceh, Zaini Abdullah telah menetapkan Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh No. 49 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif pada tanggal 11 Agustus 2016. Dalam Pergub yang diundangkan tanggal 12 Agustus 2016 itu mewajibkan pemerintah Aceh dan kabupaten-kota di Aceh untuk memberikan cuti hamil dan cuti melahirkan untuk PNS dan PPPK atau tenaga honorer/kontrak, baik perempuan juga suami. Selanjutnya dalam pergub tersebut mengatur bahwa bagi pegawai perempuan yang hamil mendapat 20 hari cuti hamil sebelum waktu melahirkan, dan 6 bulan untuk cuti melahirkan guna pemberian ASI Ekslusif. Cuti juga diperoleh suami untuk mendampingi istri yaitu selama 7 hari sebelum melahirkan, dan 7 hari sesudah melahirkan [9].Penguatan regulasi untuk mendukung praktik pemberian ASI Eksklusif terus ditetapkan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dengan harapan cakupan pemberian ASI Ekslusif terus meningkat. Hal tersebut tentunya dalam upaya meningkatkan status gizi bayi dan balita agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, serta menjadi investasi dan generasi bangsa yang cerdas dan produkstif.
Analisis Faktor Risiko Penyebab Stroke pada Usia Produktif di Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin Sartika Maulida Putri; Hajjul Kamil; Teuku Tahlil
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i2.521

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan masalah kesehatan masyarakat utama saat ini dan semakin menjadi masalah serius yang dihadapi hampir di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan serangan stroke yang mendadak dapat mengakibatkan kematian, kecacatan fisik dan mental. Ditambah lagi saat ini stroke cenderung merambah usia produktif. Metode: Rancangan penelitian ini menggunakan studi epidemiologi analitik observasiona dengan desain case-control 1:1 untuk mencari faktor risiko stroke pada usia produktif. Jumlah sampel untuk faktor risiko stroke adalah 116 responden terdiri dari 58 kasus dan 58 kontrol. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 variabel yang berhubungan secara bermakna: Pola Makan (OR = 6.33; 95% CI: 2.82-14.19; p = 0.0001), Merokok (OR = 3.11; 95% CI: 1.45-6.63; p = 0.003), Olahraga (OR = 4.69; 95%  CI: 2.12-10.35;  p = 0.0001), Jenis  kelamin (OR = 2.93;  95% CI: 1.37-6.28;  p = 0.006), dan Diabetes Mellitus (OR = 4.56; 95% CI: 2.09-9.96;  p = 0.0001). Hasil analisis multivariat diperoleh variabel yang paling berhubungan adalah Pola Makan (OR = 18.17; 95% CI: 4.81-68.55; p = 0.0001), Merokok (OR = 7.65; 95% CI: 2.23-26.22; p = 0.001), Olahraga (OR = 7.79; 95% CI: 2.41–25.21; p = 0.001), dan Diabetes Mellitus (OR = 13.30; 95% CI: 3.60-49.16; p = 0.0001). Saran: Diharapkan dengan menjaga pola makan yang sehat, rutin melakukan olahraga, tidak merokok, dan menjaga kadar gula darah dapat membantu mencegah terjadinya stroke pada usia produktif.
PERBEDAAN STATUS GIZI PADA BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN MP-ASI DINI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA JANTHO KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2017 Phossy Vionica Ramadhana; Asnawi Abdullah; Basri Aramico
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v5i1.702

Abstract

Latar Belakang: Gizi masyarakat mempengaruhi kecerdasan dan kesejahteraan, akan tetapi banyak bayi yang mengalami rawan gizi karena pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) yang terlalu dini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan status gizi pada bayi yang diberi ASI eksklusif dan MP-ASI dini di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar tahun 2017. Metode: Penelitian ini dilakukan dngan metode deskriptif analitik dengan desain case control. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah semua bayi usia 7-12 bulan berstatus gizi baik dan kurang di wilayah kerja Puskesmas Jantho. Pengambilan sampel menggunakan rumus studi kasus kontrol sehingga diperoleh sebanyak 58 bayi dengan status gizi baik dan 58 bayi dengan status gizi kurang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi bayi kurang yang diberikan MP-ASI sebesar 75.9% lebih besar dibandingkan dengan status gizi bayi baik sebesar 41.4%. Sedangkan pada status gizi bayi kurang yang diberikan ASI eksklusif hanya sebesar 24.1% namun pada bayi dengan status gizi bayi baik diperoleh 58.6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa, ada perbedaan status gizi bayi yang diberi ASI eksklusif dan MP-ASI dini, ada hubungan antara status gizi dengan pemberian ASI eksklusif ibu, pemberian MP-ASI dini, tingkat pendidikan, pendapatan orang tua, paritas, jarak kelahiran, pelayanan kesehatan, sanitasi lingkungan, personal hygiene, perawatan payudara, produksi ASI, lingkungan sosial dan Inisiasi Menyusu Dini. Ketika dilakukan analisis lebih lanjut berdasarkan analisis multivariat paritas merupakan faktor yang paling dominan terhadap status gizi bayi. Kesimpulan: Peneliti dapat memberikan kesimpulan bahwa bayi yang mengalami gizi kurang lebih banyak pada bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dimana faktor yang paling dominan disebabkan oleh paritas.
Perbedaan Tingkat Kepuasan Pasien di Puskesmas Banda Aceh setelah Berlakunya Kebijakan 144 Sitti Sarah; Asnawi Abdullah; Aulina Adamy
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i1.619

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan kesehatan pada kebijakan 144 (diagnosis penyakit) era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas. Implementasi kebijakan 144 berimplikasi pada peningkatan jumlah kunjungan pasien ke puskesmas yang akan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Kota Banda Aceh setelah dan sebelum berlakunya kebijakan 144 (diagnosis penyakit). Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang menerima pelayanan kesehatan pada saat penelitian. Sampel diambil dengan tehnik purposive sampling sebanyak 121 orang di Puskesmas Baiturrahman dan 25 orang di Puskesmas Lampaseh. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon matched-pairs signed-rank test dan uji Wilcoxon rank-sum test. Hasil: Terdapat perbedaan tingkat kepuasan pasien sebelum berlakunya kebijakan 144 dengan setelah berlakunya kebijakan 144 di Puskesmas Baiturrahman dan Lampaseh pada dimensi kehandalan (p-value 0,0001), dan secara keseluruhan (p-value 0,0009). Selanjutnya terdapat perbedaan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Baiturrahman dengan Puskesmas Lampaseh setelah berlakunya kebijakan 144 pada setiap dimensi: penampilan fisik (p-value 0,0001), kehandalan (p-value 0,0001), ketanggapan (p-value 0,012), jaminan (p-value 0,002), dan empati (p-value 0,0001). Saran: Puskesmas diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pasien secara keseluruhan terutama meliputi kenyamanan ruang pemeriksaan, pemberian informasi kepada pasien, kelengkapan alat-alat kesehatan dan obat-obatan serta memberikan pelayanan yang cepat dan tidak berbelit-belit.
ANALISA KEBUTUHAN TENAGA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP PRIA DAN WANITA RUMAH SAKIT UMUM MEURAXA KOTA BANDA ACEH TAHUN 2008 Yenni Oktaviza
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v1i1.225

Abstract

Yenni Oktaviza1, Amal Chalik Sjaaf2Peminatan AKK, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, 23245Kajian Adm. Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Msyarakat, Universitas Indonesia, Kampus Baru Depok, Indonesia. AbstractPublic Hospital of Meuraxa Banda Aceh is one of the types B hospital of Aceh Province (RSUM). The estimation of nurses need for this hospital in year 2008 was done by using Workload Indicator Staffing Needs (WISN). This research was conducted both in male and female in-patients wards of hospital in September 2008. This is a descriptive research by using both qualitative and quantitative approach. The population was the whole activities of nurses working in both in male and female in-patients of male and female of the hospital. Sample was the nurse activities in wards of in-patients of male and female of the hospital by observing using work sampling forms and time record forms of the nurse main activities done by time observer (data collector). Qualitative approach was done by using in-depth interview to get information from the Heads of both male and female in patients’ wards. Compared to the available nurses in male ward was 12/7 = 1.71 (171%) or over 71%. The surplus ratio did not mean that many nurses did not work but by using WISN need rate they can improve productivity and quality service as well.Keywords : nurses needed, WISN, ward, service quality
Hubungan Realisasi Anggaran Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dengan Cakupan Indikator Kesehatan Ibu di Aceh Periode 2013-2015 Haslinda Saleh; Nizam Ismail; Aulina Adamy
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v4i2.645

Abstract

Latar Belakang: Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) merupakan dana bantuan yang bersifat promotif dan prefentif yang ditujukan untuk puskesmas, tujuannya untuk membantu pemerintah daerah melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Salah satu tujuan dari dialokasikannya dana BOK adalah untuk meningkatkan cakupan keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan. Persentasi rata-rata anggaran dana BOK di Aceh tahun 2015 adalah 48,8%. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara realisasi anggaran BOK dengan cakupan indikator kesehatan ibu di Aceh. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Data penelitian adalah data sekunder tahun 2013–2015. Populasi dalam penelitian ini adalah 23 kabupaten/kota di provinsi Aceh. Teknik pengambilan sampel menggunakan simpel  ramdom  sampling  sehingga terpilih 5 kabupaten/kota dengan total 55 puskesmas. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan regresi linier sederhana. Hasil: Ada   hubungan  antara realisasi dana BOK dengan  cakupan K1(P-value = 0,001), cakupan K4 (P-value = 0,001) dan cakupan Fe (P-value = 0,001) di tahun 2013. Terdapat perbedaan rata-rata cakupan K1 (P-value = 0,021),  cakupan K4 (P-value = 0,016) dan cakupan pelayanan nifas (P-value = 0,001) tahun 2013-2015. Kesimpulan: Ada hubungan realisasi anggaran BOK dengan cakupan K1, cakupan K4, dan cakupan Fe di Provinsi Aceh tahun 2013. Disarankan bagi pengelola anggaran BOK Dinas Kesehatan Aceh dapat menyusun perencanaan pembiayaan kesehatan yang lebih optimal di masa mendatang.

Page 6 of 31 | Total Record : 305