cover
Contact Name
Dr. Radhiah Zakaria
Contact Email
radhiah@unmuha.ac.id
Phone
+6265131054
Journal Mail Official
jurnal.jukema@unmuha.ac.id
Editorial Address
Pusat Kajian dan Penelitian Kesehatan Masyarakat (PKPKM) Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Lantai II, Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) Jl. Muhammadiyah No.93, Bathoh, Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh. Telp. (0651) 31054, Fax. (0651) 31053. Email: jurnal.jukema@unmuha.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)
ISSN : 20881592     EISSN : 25496425     DOI : https://doi.org/10.37598/jukema
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh atau disingkat dengan JUKEMA merupakan kumpulan jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian atau yang setara dengan hasil penelitian di bidang ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan. Artikel ilmiah yang membahas topik-topik Kesehatan Ibu dan Anak, epidemiologi, gizi kesehatan masyarakat, Penyakit Tidak Menular (PTM) dan lain-lain sangat diharapkan dan disambut baik.
Articles 305 Documents
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi pada Atlet Tarung Derajat Aceh Nazalia, Nazalia; Aramico, Basri; Amin, Fauzi Ali
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Status gizi yang buruk dapat mempengaruhi derajat kesehatan dan kebugaran atlet. Status gizi atlet diukur dengan menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang berhubungan dengan status gizi pada atlet Tarung Derajat Aceh. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dan menggunakan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan penyebaran angket. Sampel adalah seluruh populasi - seluruh atlet tarung derajat Aceh telah memasuki masa Training Center (TC) sejumlah 51 orang. Uji statistik yang digunakan yaitu uji chi-square dan dianalisa secara univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa atlet tarung derajat yang status gizi kurus 13.7%, status gizi normal 74.5%, dan status gizi gemuk 11.8%. Berdasarkan analisa univariat terdapat atlet dengan pola makan salah 47.1%, melakukan aktivitas fisik yang berat 33.3%, aktivitas ringan 23.5%, pengetahuan gizi kurang 43.1%, intensitas latihan kurang 29.4% dan intensitas latihan berat 25.5%. Berdasarkan hasil bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan pola makan (p-value 0.040), aktivitas fisik (p-value 0.031), pengetahuan gizi (p-value 0.016) dan intensitas latihan (p-value 0.043) dengan status gizi atlet. Saran: Diharapkan kepada para pengurus dan pelatih tarung derajat Aceh agar lebih memperhatikan pola makan atlet sesuai dengan kebutuhannya, jumlah kalori yang dikonsumsi dan jadwal yang teratur dapat membantu proses pemenuhan gizi menjadi lebih baik, serta mengadakan penyuluhan gizi yang melibatkan atlet dan para pelatih guna meningkatkan pengetahuan tentang gizi
Determinan Penggunaan Partograf oleh Bidan pada Pertolongan Persalinan di Puskesmas Terpencil Kabupaten Pidie Marzaleni, Marzaleni; Hidayat, Melania; Rani, Hafnidar A.
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v4i1.684

Abstract

Latar Belakang: Partograf merupakan alat bantu dalam pemantauan kemajuan persalinan, namun tingkat penggunaan partograf di Kabupaten Pidie masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan penggunaan partograf oleh bidan pada pertolongan persalinan di puskesmas terpencil di Kabupaten Pidie pada tahun 2016. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Populasi adalah bidan penolong persalinan dengan total sample, sejumlah 55 orang. Uji chi-square digunakan untuk bivariat dan logistic regresi untuk multivariat. Hasil: Penggunaan partograf oleh bidan dipengaruhi oleh pengetahuan (P-value = 0,005), persepsi tentang manfaat partograf (P-value = 0,016), form partograf (P-value = 0,005), dan pelatihan (P-value = 0,001). Lama bekerja tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan penggunaan partograf oleh bidan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa determinan yang mempengaruhi penggunaan partograf oleh bidan adalah adanya ketersediaan form partograf (OR 65,1). Kesimpulan: Ketersediaan formulir partograf sangat mempengaruhi penggunaan partograf oleh bidan pada pertolongan persalinan di Puskesmas terpencil Kabupaten Pidie diikuti beberapa faktor yang lainnya. Disarankan kepada Dinas Kesehatan memastikan pengetahuan dan persepsi terhadap manfaat partograf dievaluasi sejak dari pendidikan, dan menjamin ketersediaan formulir di setiap ruangbersalin.Kata Kunci: Partograf, Bidan, Puskesmas Terpencil.
Hubungan Pemberian Asi Eksklusif, Pengetahuan, Pendapatan dan Pola Asuh dengan Tumbuh Kembang Anak Balita di Desa Ilie, Banda Aceh Aramico, Basri; Amin, Fauzi Ali; Novita, Riska
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i1.553

Abstract

Latar Belakang: Sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu  mendapat perhatian serius. Berdasarkan data puskesmas Ulee Kareng (2013) diketahui 15.8% balita gizi kurang, 29.3% balita stunted, 7.2% balita kurus, 0.5% balita kurus sekali dan 8.8% gemuk. Hal ini perlu mendapat  perhatian agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya dan mampu bersaing di era global Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita di Desa Ilie Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh berjumlah 226 orang. Sampel penelitian secara proporsional random sampling sebanyak 70 orang. Data analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square (α = 0.05). Data primer melalui observasi langsung dengan pengamatan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui pertumbuhan  dan perkembangan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan persentase anak balita dengan tumbuh kembang yang tidak sesuai pada  balita yang tidak ada diberikan ASI eksklusif sebanyak 45.2%, pengetahuan orang tua kurang sebanyak 60.6%, pendapatan keluarga rendah 71.4% dan pola asuh salah 58.1%. Dari hasil uji statistik dapat disimpulkan ada hubungan antara  pemberian ASI eksklusif (P value 0.006), pengetahuan  (P value 0.002), pendapatan keluarga (P value 0.001) dan pola asuh (P value 0.012) dengan tumbuh kembang anak balita. Saran: Puskesmas Ulee Kareng agar memberikan penyuluhan tentang pentingnya memberikan ASI eksklusif dan melakukan stimulasi perkembangan motorik kasar anak balita. 
ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA BALITA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS BANDA RAYA KOTA BANDA ACEH TAHUN 2019 Jannah, Miftahul; Abdullah, Asnawi; Hidayat, Melania; Asrar, Qatratul
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v6i1.797

Abstract

Latar Belakang: Pneumonia merupakan pembunuh utama balita di seluruh dunia. Berdasarkan Laporan Dinas Kesehatan Banda Aceh tahun 2018, jumlah balita penderita Pneumonia meningkat setiap tahunnya. Kasus Pneumonia balita yang paling banyak terdapat di UPTD Puskesmas Banda Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia pada Balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Banda Raya Kota Banda Aceh tahun 2019. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Case Control Study atau Retrospective Study. Penelitian ini menggunakan total populasi dengan jumlah sampel adalah 142 anak balita berusia 12–59 bulan. Data dianalisis secara Univariat dan Bivariat. Analisis Bivariat menggunakan Uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% (p value0.05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia adalah luas ventilasi rumah (OR=15.81; CI 95%=4.70-53.12; p value=0.0001); sedangkan umur balita (OR=1.15; CI 95%=0.54-2.43; p value=0.705); jenis kelamin (OR=1.11; CI 95%=0.57-2.16; p value=0.737); pengetahuan ibu (OR=0.38; CI 95%=0.12-1.24; p value=0.112); dan kepadatan hunian (OR=1.80; CI 95%=0.78-4.13; p value=0.163), tidak terbukti secara signifikan sebagai faktor risiko pneumonia balita di UPTD Puskesmas Banda Raya Kota Banda Aceh. Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia balita adalah luas ventilasi rumah. Oleh karena itu diperlukannya sanitasi lingkungan yang sehat sebagai upaya preventif terhadap kejadian Pneumonia, serta memperbaiki pola perilaku hidup bersih dan sehat.
Pelayanan Kesehatan: Berkualitas dan atau Ditinggalkan? Ede Surya Darmawan
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v4i2.676

Abstract

Penyediaan pelayanan kesehatan haruslah pelayanan yang bermutu bahkan bermutu paling tinggi. Hal ini karena pelayanan kesehatan tujuan utamanya adalah melayanani manusia dan pelayanan keseahtan merupakan pertama yang diterima manusia ketika seorang manusia dilahirkan dan juga dapat menjadi akhir dari pelayanan yang diterima saat manusia (rohnya) meninggalkan dunia fana. Oleh karena itu, membicarakan pelayanan kesehatan tidak lengkap tanpa membahas mutu atau kualitas pelayanan yang diselenggarakan. Hal ini seiring dengan peran kualitas pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu pra-syarat yang harus dipenuhi dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang secara minimal dinilai dari tingkat keamanan terhadap pasien (patient safety).Akhir-akhir ini kualitas pelayanan kesehatan selalu menjadi sorotan utamanya setelah dilaksanakannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai salah satu penerapan dari kebijakan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Pada sisi lain, hadirnya era keterbukaan yang dipicu dan dipacu dengan berkembangnya media sosial yang didukung teknologi informasi berbasis telepon genggam pintar (smart phone) semakin menegaskan sorotan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan dengan berbagai aspek dan dinamika yang menyertainya. Padahal, sudah sejatinya sorotan dan perhatian masyarakat terhadap kualitas pelayanan adalah sebuah keharusan untuk terus menjaga  dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dari sudut pandang proses pelayanan, kualitas pelayanan kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan kualitas pelayanan dan produk atau komoditi lainnya, yaitu ditentukan oleh kemampuannya dalam memenuhi harapan pelanggan dan pemenuhan standar teknis (standar yang ditentukan oleh kalangan profesional penyedia layanan atau pembuat produk/komoditi itu). Belakangan, konsep mutu semakin mengkristal dan berfokus pada pemenuhan harapan pelanggan sebagai tujuan utama dan akhir dari pelayanan atau penggunaan produk. Jadi, kualitas pelayanan kesehatan semakin dituntut untuk memenuhi harapan pasien, dan hal ini berarti pelayanan yang berfokus kepada pasien adalah sebuah keniscayaan yang harus diselenggarakan oleh penyedia layanan kesehatan. Bila tidak, dengan kemudahan arus informasi yang timbal balik maka persoalan kualitas pelayanan kesehatan buruk bisa dengan mudah disebarkan oleh masyarakat sebagai pengguna baik antar anggota maupun secara meluas melalui media sosial yang seolah tanpa dinding pembatas. Kalau dulu ada istilah berita baik/buruk disebarkan dari “mulut ke mulut” maka sekarang beredar lebih luas dari “satu gadget ke gadget dan ke group-group di berbagai media sosial” Konsep dan Definisi Mutu/Kualitas Pelayanan dan Implikasi terhadap Penyediaan Pelayanan Mutu/atau kualitas pada dasarnya merupakan pemenuhan terhadap harapan pengguna atau pelanggan (customer, client or consumen). Definisi ini merujuk pada kenyataan bahwa layanan dari sebuah jasa (services) ataupun barang (commodity) diproduksi tentu diperuntukkan bagi pengguna/pelanggan yang dituju. Atas dasar inilah maka mutu haruslah merupakan barang/pelayanan yang dibutuhkan dan diharapkan oleh pelanggan dalam segenap aspek yang terkait di dalamnya. Siapakah pelanggan? Pelanggan terdiri atas pelanggan yang menjadi tujuan utama (the ultimate consument) yaitu para pengguna yang akan mengkonsumsi atau menikmati pelayanan/barang yang disajikan/diproduksi. Untuk mengkonsumsinya tentu saja para konsumen itu harus rela mengeluarkan uang, waktu, tenaga dan bahkan harus mencapai lokasi tertentu yang bisa saja jauh dari tempat tinggal atau tempat kerjanya. Atas dasar inilah maka mutu pelayanan harus memperhatikan tidak hanya kebutuhan namun keinginan/harapan pelanggan. Atas dasar pemikiran inilah salah satu dimensi definisi mutu adalah pemenuhan keinginan/harapan pelanggan. Pelanggan kedua adalah mereka yang berperan melakukan proses pelayanan atau proses produksi untuk menyajikan pelayanan atau produk dimaksud. Pelanggan ini disebut sebagai pelanggan internal yang merupakan bagian dari organisasi pelayanan/produser yang bekerja dengan metode, teknologi, bahan baku, dan sistem bekerja yang telah ditetapkan oleh organisasi pelayanan/produser dimaksud. Pelanggan internal juga merupakan orang-orang yang ahli di bidangnya dan untuk mendapatkan keahlian itu mereka rela menempuh pendidikan dan pelatihan hingga mendapatkan pengesahan/sertifikasi atas keahliannya. Agar pekerjaan mereka menghasilkan pelayanan dan produk yang berkualitas, mereka pun menetapkan persyaratan dan standar proses, serta standar hasil/output dari setiap pelayanan/produk yang diproduksi. Atas dasar ini maka mutu pelayanan/produk memiliki dimensi definisi sebagai pemenuhan standar teknis yang ditentukan oleh para profesional di bidang yang dimaksud. Implikasi dari kedua dimensi definisi mutu di atas melahirkan pengertian bahwa mutu adalah pemenuhan (fulfillment) dari harapan pelanggan dan standar teknis yang ditentukan oleh profesional. Dalam praktiknya maka ukuran mutu pada barang/komoditas ditentukan oleh kesesuaian antara spesifikasi barang/komoditas yang  tertulis/dijanjikan dengan kondisi dan kegunaan barang saat dipergunakan. Adapun untuk pelayanan maka ukuran mutu jauh lebih rumit karena tidak hanya melibatkan kualitas barang/komoditas namun hubungan antar manusia (interaksi antara pelanggan dan petugas pemberi pelayanan), dan kondisi tempat penyediaan pelayanan yang diharapkan aman serta memberikan kenyamanan kepada para pelanggan. Mutu Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang selalu berhubungan dengan kehidupan manusia sejak dilahirkan hingga diwafatkan. Dimensi nilai kehidupan dan rentang waktu kehidupan ini haruslah dipahami dan direspon dengan baik oleh penyedia pelayanan kesehatan. Kesalahan dalam menyelengarakan pelayanan baik dalam aspek pemenuhan harapan pelanggan, pemenuhan aspek teknis profesional kesehatan, dan juga kenyamanan akan menjadi bahan keluhan dan menurunkan kepuasan pelanggan. Atas dasar ini pelayanan kesehatan haruslah memenuhi kriteria/standar tertentu yang oleh Institute of Medicine (IOM) sebagai sebuah lembaga ilmu pengetahuan tingkat dunia yang berbasis di Amerika Serikat menerbitkan buku yang berjudul Crossing the Quality Chasm: A New Health System for the 21st Century. Crossing the Quality Chasm merupakan upaya sistematis bagaimana memperbaiki dan melakukan inovasi terhadap sistem pelayanan kesehatan yang melibatkan seluruh pihak terkait yaitu pembuat kebijakan, pemerintah, profesional kesehatan, penyedia pelayanan kesehatan, dan konsumen serta pihak lain yang berkepentingan seperti perguruan tinggi dan masyarakat madani. Agar sistem pelayanan kesehatan dapat mencapai tujuan yaitu meningkatkan derajat kesehatan, mengurangi beban penyakit, dan meningkatkan produktifitas masyarakat, maka seluruh pihak terkati harus menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas yang bercirikan:Safe (pelayanan yang aman): menghindari kecelakaan bagi pasien dari berbagai pelayanan yang ditujunkan bagi mereka;Effective (pelayanan yang sesuai dengan tujuan): menyediakan pelayanan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai serta menghindarkan pelayanan yang tidak memberikan manfaat bagi pasien;Patient-centered (pelayanan yang berfokus pada pasien): menyediakan pelayanan yang menghargai/menghormati dan tanggap terhadap nilai, kebutuhan, dan selera pasien termasuk meyakinkan bahwa pasien memahami seluruh keputusan menyangkut pelayanan klinis yang akan diterimanya;Timely (tepat waktu): mengurangi waktu tunggu dan kadang-kadang hal-hal yang membahayakan bagi kedua pihak yaitu penerima dan pemberi pelayanan;Efficient (pelayanan yang hemat biaya): menghilangkan hal-hal yang tidak berguna/sampah baik dari penggunaan alat-alat kesehatan, obat-obatan, bahan habis pakai, pemikiran dan tenaga; danEquitable (pelayanan yang adil/sama): menyediakan pelayanan yang sama kualitasnya (untuk penyakit dan kebutuhan yang sama) dan tidak berbeda karena perbedaan karakteristik personal seperti status sosial ekonomi, jenis kelamin, keyakinan, etnis dan asal daerah.Berkaca pada rekomendasi dari IOM di atas, maka pelayanan kesehatan yang disediakan haruslah pelayanan yang benar-benar berkualitas. Oleh karena itu cara-cara penyediaan pelayan kesehatan yang seadanya sudah waktunyaditinggalkan dan tidak lagi disediakan. Jika tidak, maka pelayanan kesehatan itulah yang akan ditinggallkan oleh para pelanggan, baik itu para pelanggan internal dan tentu saja para pelanggan eksternal.  
Mukjizat Pembagian Waktu Shalat Fauzi Ali Amin
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i2.668

Abstract

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada waktu malam dan supaya kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur pada-Nya”. QS Al Qashas:73.Maksud ayat ini Allah menjadikan peredaran waktu setiap hari seiring pergantian siang dan malam. Allah menjadikan malam gelap dan dingin yang menyebabkan tubuh lemah dan melahirkan ketenangan perangkat indriawi (Al-Lusi 2011). Allah menciptakan jam biologis untuk mengatur jadwal aktivitas seluruh organ tubuh. Hypothalamus merupakan organ yang mengatur jadwal pengeluaran dan penarikan hormon melatonin dan kortisol. Organ ini meransang kelenjar peneal tubuh  memproduksi hormon melatonin saat mentari terbenam.Pada saat itu tubuh merasa ngantuk, butuh istirahat, santai, dan tenang serta memproduksi sel baru dan sel darah putih guna meningkatkan kekebalan tubuh. Pada sepertiga akhir malam tubuh perlu bergerak karena melatonin menurun dan kortisol meningkat yang menyebabkan terjadi kekentalan darah, aliran listrik otak, detak jantung, kadar gula dan asam urat meningkat. Allah SWT mensunatkan manusia salat tahjud dan ibadah lainnya yang dapat mengaktifkan fisik dan menormalkan semua keadaan di atas.Produksi hormon kortisol dimulai sepertiga akhir malam memuncak di waktu zuha 21 mg/1dl darah diiringi dengan penebalan lapisan ozon, menurun waktu zuhur meningkat waktu asar menjadi 16 mg menurun saat mentari terbenam. Allah mewajibkan manusia Shalat Zuhur serta istirahat sejenak siang hari diikuti Salat Asar, Magrib dan Isya. Hampir sepanjang malam, kecuali sepertiga akhir, seluruhnya dipergunakan untuk istirahat, sementara waktu siang dipergunakan untuk beraktivitas dan bekerja, kecuali sedikit waktu bakda zuhur. Perputaran waktu ini sesuai dengan jam biologis yang merupakan perubahan aktivitas metabolisme setiap makhluk hidup dengan seluruh organnya. Perubahan aktivitas ini mulai  dari keadaan yang paling rendah hingga ke yang paling tinggi kembali ke keadaan yang paling rendah. Perputaran ini tidak pernah berubah dari waktu ke waktu dari dulu hingga sekarang.Kronobiologis ilmu yang mempelajari dan menganalisis fenomena perubahan organisme hidup dan penyesuaiannya dengan peredaran matahari dan bulan. Perputaran siklus ini disebut ritme atau jam biologis (Elzaky 2011). Jam biologis manusia bekerja sesuai dengan ketentuan Ilahi yang tak pernah berubah sepanjang masa mengikuti sunnatullah yang memperedarkan siang dan malam yang menciptakan kehidupan sehat, keselamatan, kesempurnaan, dan kepatuhannya. Mari kita mengamalkan petunjuk Ilahi salah satunya adalah QS Al Qashas:73
Perbedaan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Aceh terhadap Pelayanan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Pemerintah Aceh Hafnidar Hafnidar; Fahmi Ichwansyah
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i1.548

Abstract

Latar Belakang: Isu mengenai buruknya pelayanan di rumah sakit masih sering terdengar, terlebih lagi sikap petugas yang terkesan membeda-bedakan pasien, apalagi pasien yang menggunakan program berobat gratis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepuasan pasien peserta JAMKESMAS dengan pasien peserta Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di ruang rawat inap Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) tahun 2010. Metode: Penelitian lapangan telah dilakukan pada 20 Mei - 10 Juni 2011. Penelitian bersifat analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian terdiri dari 899 pasien rawat inap peserta JAMKESMAS  dengan sampel 40 orang dan populasi 1618 peserta JKA dengan sampel 40 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan metode wawancara. Hasil: Dari hasil penelitian diperoleh nilai mean/rata-rata kepuasan pasien JKA lebih tinggi daripada pasien JAMKESMAS terhadap dimensi kualitas mutu tanggapan (15,23 berbanding 15,5), jaminan (18,15 berbanding 15,68), bukti langsung (17,95 berbanding 15,75), sedangkan untuk dimensi kualitas mutu kehandalan antara pasien JAMKESMAS dan pasien JKA memiliki nilai rata-rata yang hampir sama (15,28 berbanding 15,68) dan empati (11,73 berbanding 11,15). Saran: Diharapkan kepada petugas RSIA agar menindaklanjuti aspek-aspek yang dianggap belum memuaskan terutama terhadap aspek tanggapan, jaminan, dan bukti langsung.
KAJIAN FAKTOR PENYEBAB DAN INTERVENSI GIZI SPESIFIK UNTUK PENCEGAHAN STUNTING DI KABUPATEN LAMPUNG UTARA Heryanto Heryanto; Evi Martha
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v5i2.737

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidak cukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Penyebab langsung stunting adalah kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit infeksi. Upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik ini umumnya diberikan oleh sektor kesehatan untuk mengatasi penyebab langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab stunting dan intervensi gizi spesifik untuk pencegahan stunting di Kabupaten Lampung Utara tahun 2017. Metode: Yang digunakan pada kajian ini adalah review dan analisis statitistik deskripitif data sekunder yang sudah dianalisa secara univariat yaitu data profil kesehatan dan laporan program kesehatan Kabupaten Lampung Utara tahun 2018. Kemudian direview dengan beberapa literatur hasil penelitian di Indonesia. Hasil: Identifikasi diketahui bahwa faktor-faktor penyebab stunting adalah 26.8% ibu hamil mengalami anemia zat besi, 17.3% ibu hamil mengalami KEK, 1.2% bayi mengalami BBLR, 38.07% balita menderita diare dan 35.09% balita mendirita ISPA, 49.2% bayi tidak ASI eksklusif, 53.4% balita mengkonsumsi makanan kurang beragam, 24% RT belum terakses air bersih dan jamban sehat, 44.6% RT belum ber-PHBS. Kesimpulan: Hasil identifikasi intervensi gizi spesifik untuk pencegahan stunting yang dilakukan antara lain: pemberian tablet Fe bagi ibu hamil, PMT bagi ibu hamil KEK, Pemeriksaan kehamilan sesuai standar, pemberian vitamin A bagi balita, pemberian imunisasi lengkap bagi bayi, pemantauan dan promosi pertumbuhan serta sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).
Pengaruh PHBS dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kecacingan pada Balita di Desa Kuala Langsa Kecamatan Langsa Barat Yusriati Yusriati
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i1.626

Abstract

Latar belakang: Penyakit kecacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Kondisi sanitasi lingkungan yang belum memadai, kebersihan pribadi, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi rendah dan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan faktor-faktor yang mempengaruh kejadian kecacingan. Sementara itu penyakit kecacingan di Kabupaten Langsa Barat masih tinggi yaitu 56,6%. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian cross-sectional. Data diambil dengan menyebarkan kuesioner pada 46 orang ibu yang mempunyai balita di Desa Kuala Langsa  dengan teknik proportional sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan Uji Chi-square dan Uji Regresi Logistik berganda pada α = 5%. Hasil: Hasil analisis menunjukkan variabel cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun (p-value 0,018), dan saluran pembuangan air limbah (p-value 0,009) berpengaruh signifikan terhadap kejadian kecacing pada balita. Variabel yang tidak berpengaruh terhadap infeksi kecacingan adalah: penggunaan air bersih, penggunaan jamban, ketersediaan air bersih, sarana pembuangan sampah, dan ketersediaan jamban. Variabel yang paling dominan mempengaruhi infeksi kecacingan pada balita adalah cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun. Kesimpulan: Diharapkan kepada ibu untuk lebih membiasakan cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun sebelum memberi makan anaknya, setelah buang air besar (BAB), dan buang air kecil (BAK). Selain itu diharapkan untuk selalu memantau anaknya dalam bermain terutama yang berinteraksi dengan tanah serta pihak ibu harus memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar.
Kepuasan Pasien Rawat Inap Wanita terhadap Pelayanan Jaminan Kesehatan Aceh di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh Ayu Rozanna; Amri Kiflan
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i1.546

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini ditujukan  untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa bagi peserta Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) kota Banda Aceh. Metode: Penelitian lapangan dilaksanakan pada Juli-Agustus 2011 dengan melibatkan semua peserta JKA yang dirawat di ruang rawat inap penyakit dalam wanita RSUD Meuraxa. Populasi penelitian berjumlah 393 orang. Sampel sebanyak 43 responden diperoleh berdasarkan perhitungan dengan rumus Lameshow dan dipilih dengan purposive random sampling. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Hasil: Penelitian ini mengindikasikan sebanyak 53.5% responden menyatakan kurang puas terhadap pelayanan JKA. Saran: Kepada pengelola RSUD Meuraxa untuk meningkatkan kualitas layanan terutama yang berkaitan dengan visitasi dokter. Kunjungan atau visit dokter telah memberikan dampak positif bagi kesehatan pasien dan merupakan salah satu solusi agar kesehatan pasien selalu dalam pengawasan petugas. 

Page 7 of 31 | Total Record : 305