cover
Contact Name
Dr. Radhiah Zakaria
Contact Email
radhiah@unmuha.ac.id
Phone
+6265131054
Journal Mail Official
jurnal.jukema@unmuha.ac.id
Editorial Address
Pusat Kajian dan Penelitian Kesehatan Masyarakat (PKPKM) Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Lantai II, Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) Jl. Muhammadiyah No.93, Bathoh, Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh. Telp. (0651) 31054, Fax. (0651) 31053. Email: jurnal.jukema@unmuha.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh)
ISSN : 20881592     EISSN : 25496425     DOI : https://doi.org/10.37598/jukema
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh atau disingkat dengan JUKEMA merupakan kumpulan jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian atau yang setara dengan hasil penelitian di bidang ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan. Artikel ilmiah yang membahas topik-topik Kesehatan Ibu dan Anak, epidemiologi, gizi kesehatan masyarakat, Penyakit Tidak Menular (PTM) dan lain-lain sangat diharapkan dan disambut baik.
Articles 305 Documents
Loyalitas Pasien terhadap Kualitas Pelayanan di Rumah Sakit Kabupaten Pidie Nuryani Nuryani; Nizam Ismail; Asnawi Abdullah
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i1.618

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini menilai lima dimensi kualitas pelayanan yang dikembangkan parasuraman, untuk menilai persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan di Rumah Sakit Kabupaten Pidie. Lima dimensi tersebut adalah tangibility, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Pelayanan kesehatan juga berefek kepada perubahan perilaku apakah tetap atau berpindah dari rumah sakit. Perubahan tersebut berupa menyarankan kepada yang lain dan bersedia kembali di masa akan datang. Tujuan penelitian adalah menilai hubungan persepsi kualitas pelayanan terhadap loyalitas kepada penyedia layanan. Metode: Penelitian dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner dari 196 pasien di 4 rumah sakit di Kabupaten Pidie. Kuesioner terdiri dari 22 item pertanyaan dari instrumen SERVQUAL, dan 5 item pertanyaan untuk Loyalitas. Jawaban pertanyaan menggunakan skala Likert. Data statistik dianalisa dengan menggunakan SEM modeling. Hasil: penelitian menunjukkan 85,2% responden berumur di atas 50 tahun, 80,6% pendidikan responden dibawah SLTA dan dengan pendapatan di bawah 2 juta rupiah sebanyak 66,9%. Persepsi pelayanan kesehatan sebesar 92,3 % dan loyalitas pasien sebesar 93,4%. Dengan menggunakan Uji SEM dengan SmartPLS didapatkan hubungan yang bermakna antara ekpektasi terhadap persepsi dan loyalitas dan hubungan persepsi terhadap loyalitas. Loyalitas dipengaruhi 70,3% dari faktor persepsi, sisanya 29,7% dipengaruhi faktor lainnya. Kesimpulan: SERVQUAL sangat berguna menilai kualitas pelayanan dan bisa mengidentifikasi bagian yang memerlukan perubahan. Pasien yang mempunyai persepsi yang baik terhadap kualitas pelayanan akan mempunyai loyalitas yang tinggi. Penelitian ini dapat diterapkan untuk menilai dan mengevaluasi faktor loyalitas pasien terhadap pelayanan di Rumah Sakit Kabupaten Pidie.
PENGARUH PELATIHAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN (CTPS) DENGAN METODE AUDIOVISUAL TERHADAP PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN CUCI TANGAN DI SD NEGERI 95 PALEMBANG Tita Fadiah; Sri Tirtayanti; Romiko Romiko
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v6i1.800

Abstract

Latar Belakang: Cuci tangan dengan sabun adalah tindakan membersihkan tangan dengan menggunakan sabun cair dan yang kemudian dibilas dengan air mengalir oleh manusia untuk menjadikan tangan yang bersih dan memutus rantai kuman. Ini dilakukan karena tangan sering menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik melalui kontak langsung atau kontak tidak langsung. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pelatihan cuci tangan dengan sabun menggunakan metode audiovisual pada pengetahuan dan kemampuan mencuci tangan di SD Negeri 95 Palembang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen menggunakan post-test dengan desain kelompok kontrol dengan menggunakan pendekatan pendekatan kuantitatif. Teknik sampel adalah total sampling pada siswa kelas 3 di Sekolah Dasar (SD) 95 Palembang yang berjumlah 84 orang. Hasil: Studi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pada kelompok kontrol 50.00 dan kelompok intervensi 80.00 untuk kemampuan mencuci tangan rata-rata kelompok kontrol 3 dan kelompok intervensi 6. Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi setelah diberi pelatihan cuci tangan dengan sabun. Kesimpulan: Pelatihan cuci tangan menggunakan metode audiovisual memiliki pengaruh terhadap pengetahuan dan kemampuan mencuci tangan dengan sabun pada siswa Sekolah Dasar.
Editorial - Kelebihan Berat Badan: Bukan Lagi Indikator Kemakmuran, namun Indikator Penyakit Asnawi Abdullah
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v1i1.233

Abstract

Kelebihan berat badan atau obesitas sudah menjadi suatu epidemic baru ditatanan global. Menggunakan definisi World Health Organization (WHO) tentang obesitas (bila seseorang sudah mempunyai Body Mass Index (BMI) atau indeks masa tubuh (IMT) lebih besar sama dengan 30 kg/m2)  , sekarang ini secara global ada sekitar 1,6 milyar orang dewasa sudah masuk dalam kategori kelebihan berat badan (overwight) dan 400 juta diantaranya terindikasi obese secara klinik (clinically obese)[1]. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat (the USA), prevalence obesitas sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan telah dianggap suatu ancaman terhadap tatanan system kesehatan nasional negara tersebut[2],[3]. Betapa tidak, di tahun 2007 – 2008 saja, sudah 35.5% penduduk Amerika yang menderita obesitas[4]. Anehnya, epidemic ini tidak hanya terjadi di Negara maju, namun juga sudah merambah ke Negara berkembang. Beberapa Negara berkembang di timur tengah misalnya seperti Arab Saudi Arabia, prevalence obesitas bahkan sudah mencapai 35.6% pada tahun sejak satu decade yang lalu[5]. Di Indonesia, belum ada data yang akurat, namun beberapa survey melaporkan bahwa sekitar 24% wanita Indonesia sudah menderita obesitas[6]. Angka ini diperkirakan akan terus meningkatnya seiring dengan perubahan gaya hidup dan perubahan pola konsumsi makanan dikalangan masyarakat Indonesia.Dulu, kelebihan berat badan sering diasosiasikan sebagai salah satu indicator kemakmuran seseorang. Namun penelitian belakangan ini, terutama di Negara maju, prevalensi obesitas tertinggi justru di kalangan masyarakat dengan social ekonomi rendah. Di Negara berkembang, memang prevalensi obesitas masih dilaporkan lebih tinggi dikalangan masyarakat berpenghasilan tinggi, namun ke depan diperkirakan akan berubah seiring peningkatan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat; peningkatan kesadaran akan pentingnya olah raga dan kebugaran dikalangan masyarakat terutama masyarakat dengan sosial ekonomi tinggi dan masyarakat yang mempunyai daya beli akan makanan-makanan sehat dan gizi seimbang. Makanan siap saji fast food sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat berpenghasilan tinggi, namun sebaliknya masyarakat dengan social ekonomi menengah dan rendah justru baru menikmatinya. Tidak heran pangsa pasar makanan fast food saat ini bergeser ke pinggiran kota dan kota-kota kecil. Tidak akan lama lagi, kegemukan juga akan bergeser ke masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah dan obesitas bukan lagi indicator kemakmuran namun justru indikator kehidupan masih “pas-pasan”.Selain bukan lagi indicator kemakmuran, hal yang menarik, belakangan ini, obesitas sudah dianggap sebagai suatu penyakit. Bila anda gemuk, maka anda sedang menderita penyakit. Hal ini didukung oleh berbagai hasil kajian dan publikasi ilmiah di berbagai jurnal internasional. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas merupakanfaktor resiko berbagai penyakit kronik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[7] menginventarisir sedikitnya ada 20 jenis penyakit berkaitan dengan obesitas, termasuk: insulin resistensi, dyslipidaemia, type-2 diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, osteoarthritis, meningkatnya uricacid dalam darah, kanker, gangguan kesuburan danjanin pada ibu yang menderita obesitas. Sebagai contoh, hasil studi meta-analysis terbaru, menyimpulkan bahwa orang yang mempunyai kelebihan berat badan (obesitas), mempunyai resiko tujuh kali lebih besar untuk menderita type-2 diabetes dari pada orang yang mempunyai berat badan normal (relative risk (RR) 7.19 (95% CI: 5.74 – 9.00)[8]. Overweight mempunyai resiko menderita ischemic stroke 22% kali lebih besar dari pada orang normal, sedangkan obesitas mencapai 64% lebih tinggi dengan RR secara berturut-turut 1.22 (95% CI: 1.05 – 1.41) dan 1.64 (95% CI: 1.36 – 1.99)[9]. Meta-analysis studi dari 33 cohort studi negara-negara Asia Pasifik[10] menyimpulkan bahwa setiap dua unit peningkatan BMI, akan meningkatkan resiko jantung koroner (coronary heart diseases) sebesar 11% (95% CI: 9% - 13%). Disamping itu, masalahnya tidak hanya dengan beberapa berat, namun juga lamanya seseorang obese; makin lamanya seseorang hidup dengan kelebihan berat badan baik overweight mupun obesitas, makin besar resiko untuk menderita berbagai penyakit di atas. Hasil penelitian terbaru disimpulkan bahwa setiap dua tahun seseorang hidup dengan kelebihan berat badan (obesitas), maka resiko menderita type 2 diabetes meningkat sebesar 13% [RR=1.13 (95% CI 1.09 – 1.17)] untuk laki-laki dan sekitar 12% untuk wanita dengan RR 1.12 (95% CI 1.08 – 1.16)[11]. Bahkan beberapa penelitian melaporkan obesitas mempunyai juga resiko kematian dini[12]- [13] - [14]-[15] -[16]. Ini semuanya mengindikasikan bahwa ternyata obesitas sama sekali bukan lagi indicator kemakmuran, namun justru indicator penyakit dan kematian dini.[1] World Health Organization. Fact Sheet: Obesity and Overweight. http://who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/index.html. Accessed 20 May 2010. [2] Task Force on Childhood Obesity. Solving the Problem of Childhood Obesity within a Generation: White House Task Force on Childhood Obesity Report to the President 2010. [3] Gregg EW, Guralnik JM. Is disability obesity’s price of longevity? JAMA : the journal of the American Medical Association. 2007; 298 (17) : 2066 – 2067. [4] Flegal KM, Carroll MD, Ogden CL, Curtin LR. Prevalence and trends in obesity among US adults. 1999-2008. Jan 20 2010;303 (3) : 235 – 241. [5] Low S, Chin MC, M. D – Y. Review on epidemic of obesity. Ann Acad Med Singapore. Jan 2009;38 (1):57-59. [6] Sassi F. Obesity and the Economics of Prevention : Fit not Fat. Vol 2010: OECD; 2010. [7] World Health Organization. Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of a WHO consultation. WHO Technical Report Series. Geneva;2000. [8] Abdullah A, Peeters A, de Courten M, Stoelwinder J. The Magnitude of association between overweight and obesity and the risk of diabetes: A meta-analysis of prospective cohort studies. Diabetes Research and Clinical Practice. 2010;89 (3) : 309-319. [9] Strazzullo P, D’Elia L, Cairella G, Garbagnati F, Cappuccio FP, Scalfi L. Excess body weight and incidence of stroke: meta-analysis of prospective studies with 2 million participants. Stroke. May 2010;41 (5):e418-426. [10] Ni Mhurchu C, Rodgers A, Pan WH, Gu DF, Woodward M. Body mass index and cardiovascular disease in the Asia-Pacific Region: an overview of 33 cohorts involving 310.000 participants. Int J Epidemiol. Aug 2004;33(4):751-758. [11] Abdullah A, Stoelwinder J, Shortreed S, et al. The duration of obesity and the risk of type 2 diabetes. Public Health Nutrition. Jun 29 2010: Available on JCO 29 Jun 2010; doi: 2010.1017/S1368980010001813.[12] Ringback Weitoft G, Eliasson M, Rosen M. Underweight, overweight and obesity as risk factors for mortality and hospitalization. Scand J Public Health. Mar 2008;36 (2):169-176. [13] McGee DL, Diverse Populations C. Body mass index and mortality: a meta-analysis based on personal-level data from twenty-six observational studies. Ann Epidemiol. Feb 2005;15 (2): 87 – 97.[14] Janssen I, Mark AE. Elevated body mass index and mortality risk in the elderly.Obes Rev. Jan 2007; 8 (1):41-59.[15] Hu FB. Obesity Epidemiology. New York: Oxford University Press; 2008.[16] Abdullah A, Wolfe R, Stoelwinder JU, et al. The number of years lived with obesity and the risk of all-cause and cause-specific mortality. Int J Epidemiol. Feb 27 2011, doi:10.1093/ije/dyr018.
Analisis Kerugian Ekonomi dan Karakteristik Penderita Kusta di Kabupaten Pidie Nona Yunita; Taufiq A. Rahim; Irwan Saputra
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v4i2.644

Abstract

Latar Belakang: Data kesehatan Kabupaten Pidie didapatkan bahwa adanya peningkatan kasus Lepra yang ditemukan dari tahun 2014 ke tahun 2015 baik jenis Kusta kering atau pausi basiler (PB) maupun kusta basah atau multi basiler (MB). Bahkan di beberapa kecamatan menunjukkan peningkatan kasus baru yang signifikan dari pada tahun sebelumnya. Hal ini memberi gambaran bahwa masalah belum teratasi sepenuhnya mengingat banyaknya kasus baru seperti di kecamatan: Sakti 11 kasus, Padang Tiji 9 kasus, Indrajaya 7 kasus, Pidie 11 kasus, Batee 7 kasus, dan Muara Tiga 10 kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kerugian ekonomi akibat kusta di Kabupaten Pidie. Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita kusta Kabupaten Pidie berjumlah 150 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling berjumlah 66 orang. Pengambilan data dilaksanakan tanggal 28 September s/d 28 Oktober 2016 dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil: Kerugian ekonomi akibat kusta di Kabupaten Pidie sebesar Rp1.955.886.500,- per Oktober 2016. Kerugian ekonomi rata-rata Rp29.634.643,- dalam setahun. Umur dewasa muda (22-40 tahun) berjumlah 35 orang (53%), pendidikan dasar sebanyak 52 orang (78,8%), bekerja sebanyak 49 orang (74,2%), pendapatan UMP (Upah Minimum Provinsi) sebanyak 50 orang (75,8%). Tidak ada hubungan Umur dengan Kerugian Ekonomi penderita kusta (OR: 0,6, P = 0,081). Ada hubungan Pendidikan (OR: 0,06, P = 0,001), Pekerjaan (OR: 0,12, P = 0,011), Pendapatan (OR: 0,02, P = 0,001) dengan Kerugian Ekonomi penderita kusta. Kesimpulan: Bagi dinas kesehatan agar dapat meningkatkan upaya pendidikan kesehatan kepada masyarakat khsususnya penderita kusta agar dapat mengikuti program pengobatan kusta sampai selesai guna mengurangi dampak kerugian ekonomi akibat kusta.
Analisis Penggunaan Jenis Mp-Asi dan Status Keluarga terhadap Status Gizi Anak Usia 7-24 Bulan di Kecamatan Jaya Baru Agus Hendra AL-Rahmad
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i2.515

Abstract

Latar Belakang: Anak usia di bawah dua tahun merupakan masa dengan pertumbuhan serta perkembangan secara pesat (periode emas) dan digolongkan dalam kelompok yang sangat rawan gizi. Makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan status gizi balita memunculkan masalah pada aspek hubungan sebab akibat. Bahwa pemberian MP-ASI yang kurang tepat berdampak terhadap status gizi kurang atau gizi buruk. Penelitian bertujuan untuk mengukur perbedaan penggunaan jenis MP-ASI pada keluarga PNS dengan bukan PNS terhadap status gizi anak usia 7-24 bulan di kecamatan Jaya Baru Banda Aceh. Metode: Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui rancangan crossectional. Variabel penelitian terdiri dari penggunaan MP-ASI, status gizi, dan status keluarga. Data dikumpulkan dengan wawancara dan observasi yang diambil pada 83 sampel terpilih secara acak. Analisa data menggunakan uji statistik Chi-Square pada CI: 95%. Hasil: Hasil penelitian menujukkan secara proporsional tidak terdapat perbedaan status gizi (p-value 0.518) antara keluarga PNS dengan keluarga bukan PNS (p-value 0.05). Selanjutnya penggunaan jenis MP-ASI secara proporsional menunjukkan perbedaannya dengan nilai p-value 0.005 di kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Saran: Kesimpulan bahwa status gizi balita antara keluarga PNS dengan keluarga bukan PNS tidak menunjukan perbedaan, tetapi menurut penggunaan MP-ASI baik proporsi maupun jenis antara keluarga PNS dengan bukan PNS secara proporsional mempunyai perbedaan signfikan.
Determinan Penyakit Hipertensi pada Lansia yang Berobat di Puskesmas Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Anwar Arbi
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i2.675

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan suatu peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang di atas normal. Hipertensi adalah penyakit yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini, penderita hipertensi pada usia 60 tahun ke atas di Puskesmas Padang Tiji tahun 2016 sebesar (69.6%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan penyakit hipertensi pada lansia yang berobat di Puskesmas Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Tahun 2017. Metode: ini bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian case control. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien lansia yang menderita hipertensi sebanyak 780, sampel dalam penelitian ini sebanyak 64 lansia. Kelompok kasus yaitu penderita hipertensi sebanyak 32 orang dan 32 orang dari kelompok kontrol yang bukan penderita hipertensi. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square untuk mengetahui besar risiko (OR) paparan terhadap kasus pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Hasil uji statistik diperoleh ada hubungan antara obesitas (p-value 0,024 dan OR = 3,2), aktifitas fisik (p-value 0,045 dan OR = 2,7), gaya hidup (p-value 0,044 dan OR= 2,8), pola makan (pvalue 0,005 OR = 4,3) dengan kejadian hipertensi pada lansia yang berobat di Puskesmas Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie. Kesimpulan: Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar dapat melakukan penyuluhan dan bimbingan cara pencegahan hipertensi melalui pola hidup sehat pada mayarakat secara rutin dan berkelanjutan.
Analisis Kadar Boraks dalam Bakso, Cenil dan Rengginang Nasi di Kota Banda Aceh Tahara Dilla Santi; Aditya Candra; Faisal Abdurrahman
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v2i1.552

Abstract

Latar Belakang: Keracunan boraks dapat terjadi melalui makanan seperti  bakso, cenil dan rengginang nasi. Boraks dilarang untuk digunakan di dalam makanan, tetapi ternyata masih ditemukan dalam beberapa produk makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan boraks pada bakso, cenil dan rengginang nasi di kota Banda Aceh tahun 2014. Metode: Penelitian ini didesain secara deskriptif laboratorik dengan pemeriksaan laboratorium secara kualitatif dengan metode nyala api. Populasi adalah bakso, cenil dan rengginang nasi yang dijual Banda Aceh. Sampel diambil secara purposive sampling dari setiap pedagang bakso, cenil dan rengginang nasi yang ada  Banda Aceh tahun 2014. Hasil: Hasil percobaan identifikasi senyawa boraks pada sampel bakso, cenil dan rengginang nasi dengan metode nyala api, diketahui bahwa sampel yang diuji tidak menghasilkan nyala hijau yang berarti tidak terdeteksi adanya kandungan boraks pada sampel. Tidak dapat dilakukan penelitian kuantitatif untuk mengetahui kadar boraks dari bakso, cenil dan rengginang nasi karena pada penelitian secara kualitatif menghasilkan nilai yang negatif (tidak mengandung boraks). Saran: Bagi petugas kesehatan dan BPOM diharapkan meningkatkan pengetahuan pedagang makanan tentang bahaya boraks dan perlu diadakan pemeriksaan  pada bakso, cenil dan rengginang nasi setiap tahun untuk mendapatkan makanan bebas boraks.
EVALUASI STANDAR PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA Ai Dewi Hendriani; Ella Nurlaela Hadi
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v6i1.798

Abstract

Latar Belakang: Promosi kesehatan di rumah sakit merupakan aspek penting dalam menilai komitmen akreditasi rumah sakit (KARS). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan promosi kesehatan di RSUD dr. Soekardjo berdasarkan peraturan dari Kementerian Kesehatan nomor 44 yang berfokus pada promosi kesehatan di rumah sakit. Metode: Ini adalah penelitian kualitatif menggunakan deskriptif observasional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pemerintah dr Soekardjo. Informasi dikumpulkan dengan wawancara mendalam dengan Ketua PKRS, Kepala Instalasi PKRS dan wakil direktur Data Rumah Sakit Layanan Kesehatan dan Promosi Kesehatan dari Rumah Sakit dr Soekardjo dan menggunakan data triangulasi untuk validasi. Hasil: RSUD dr Soekardjo memiliki staf khusus untuk implementasi Promosi Kesehatan di Rumah Sakit. Promosi kesehatan di Rumah Sakit memiliki unit dan staf sendiri, tetapi kekurangan jumlah staf dan kompetensi sesuai standar. Kesimpulan: Tenaga kesehatan di rumah sakit ini sudah menerapkan promosi kesehatan. Rekomendasi Dianjurkan RSUD dr. Soekardjo untuk melengkapi sumber daya manusia dan fasilitas infrastruktur untuk PKRS.
Motivasi Berhenti Merokok pada Pelanggan Warung Kopi di Banda Aceh Raudhatul Jannah; Asnawi Abdullah; Said Usman
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v3i1.630

Abstract

Latar Belakang: Sekitar 12,7% kematian di Indonesia disebabkan merokok. Namun ironinya jumlah perokok cenderung naik dan di Aceh prevalensi merokok mencapai 25,3%. Penelitian ini akan mengkaji tingkat motivasi berhenti merokok pada pelanggan warung kopi di Banda Aceh. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain Cross-sectional.  Populasi dalam penelitian adalah seluruh pengunjung warung kopi yang mengkonsumsi rokok secara aktif di kota Banda Aceh. Jumlah sampel sebanyak 175 orang dari 5 warung kopi teknik pengambilan sampel secara Quota Sampling. Hasil: Hasil  uji model SEM diketahui variabel yang berhubungan dengan motivasi berhenti merokok adalah variabel ekspektasi dengan nilai estimate loading factor 1,20. Variabel ekpektasi ini dipengaruhi oleh sosial dan prestasi. Variabel fisiologi dengan nilai estimate loading factor 0,32, variabel valensi dengan nilai estimate loading factor 0,04, dan  variabel maintenance tidak berhubungan dengan motivasi dimana nilai estimate loading factor 0,13. Kesimpulan: Variabel yang berhubungan dengan motivasi berhenti merokok hanya variabel ekspektasi, sedangkan variabel lain: maintenance, sosial dan valensi tidak berhubungan motivasi berhenti merokok. Saran: Disarankan kepada Provinsi Aceh agar dapat mengeluarkan regulasi Qanun Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap wilayah khususnya wilayah Banda Aceh dengan memperluas wilayah KTR di tempat-tempat umum khususnya warung kopi yang ada di Banda Aceh.
Determinan Health Literacy pada Ibu Menyusui di RSUD Dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh Namira Yusuf; Sri Rahayu Sanusi; Defriman Djafri
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v4i1.652

Abstract

Latar Belakang: Capaian pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif di Provinsi Aceh pada tahun 2013 adalah 49,6% yang menunjukkan belum mencapai angka yang diharapkan yaitu sebesar 80%. Hal ini berkaitan dengan health literacy yang rendah sehingga berpengaruh buruk pada perilaku kesehatan. Penelitian ini akan mengkaji determinan Health literacy pada ibu menyusui di Ruang Serunee 3 di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) di Banda Aceh. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu post partum di ruang Serune 3 RSUDZA. Jumlah sampel sebanyak 70 orang pengambilan sampel secara accidental sampling. Hasil: Hasil uji statistik tidak ada hubungan usia dengan health literacy (P-value = 0,425), ada pengaruh pendidikan (P-value = 0,029), pekerjaan (P-value = 0,034), pendapatan (P-value = 0,007), wilayah tempat tinggal (p-value= 0,000), peran keluarga (P-value = 0,024), peran petugas kesehatan (P-value = 0,019), informasi dari media (P-value = 0,001) terhadap health litercy pada ibu menyusui. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini pendidikan, wilayah tempat tinggal dan media merupakan faktor yang paling berpengaruh dengan health literacy pada ibu menyusui di Ruang Serunee 3 RSUDZA Banda Aceh.

Page 5 of 31 | Total Record : 305