cover
Contact Name
abdul basit
Contact Email
basit.umt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalnyimak@gmail.com
Editorial Address
Jl.Mayjen Sutoyo No.2 Kota Tangerang, Provinsi Banten, 15111 Indonesia.
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Nyimak: Journal of Communication
ISSN : 25803803     EISSN : 25803832     DOI : http://dx.doi.org/10.31000/nyimak
Nyimak: Communication Journal to encourage research in communication studies. The focus of this journal are: Public Relations, Advertising, Broadcast, Political Communication, Cross-cultural Communication, Business Communication, and Organizational Communication
Articles 164 Documents
Strategic Da'wah Communication of Dewan Masjid Indonesia in Strengthening Religious Moderation at the Community Level Suharto Suharto; Hasriani Hasriani; Ardillah Abu; Halimah Abdul Manaf
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15341

Abstract

Religious moderation in Indonesia faces a paradox, on the one hand, it is intensively promoted through state policies and public discourse; on the other hand, practices of intolerance and ideological polarization continue to emerge at the community level. The dominance of normative, top-down approaches in the literature tends to position moderation as a regulatory agenda, while religious social spaces such as mosques where everyday meanings and religious authority are actively produced remain relatively underexplored. Consequently, a theoretical gap persists in understanding how religious moderation is constructed organically through communitarian communication practices. This study examines the communication strategies of the Gerakan Subuh Berkah (GSB), initiated by the Dewan Masjid Indonesia of Palu City, as a mosque-based intervention model for strengthening religious moderation. Employing a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings indicate that GSB has developed a dialogical and inclusive da‘wah ecosystem that integrates congregational worship, persuasive religious education, and participatory social activities. This strategy reinforces social capital (bonding, bridging, and linking), contributing to enhanced social cohesion and the mitigation of radicalization risks. The study underscores that religious moderation is not only effectively advanced through policy instruments but also through sustainable and participatory community-based religious communication.Keywords: Dakwah communication, religious moderation, Gerakan Subuh Berkah, social  capital, community resilience ABSTRAKModerasi beragama di Indonesia menghadapi paradox, di satu sisi dipromosikan secara intensif melalui kebijakan negara dan wacana publik, namun di sisi lain praktik intoleransi dan polarisasi ideologis tetap muncul pada level komunitas. Dominasi pendekatan normatif-top down dalam literatur cenderung memposisikan moderasi sebagai agenda regulatif, sementara ruang-ruang sosial keagamaan seperti masjid yang justru menjadi arena produksi makna dan otoritas keagamaan sehari-hari relatif kurang dikaji secara mendalam. Akibatnya, terdapat kesenjangan teoretis dalam memahami bagaimana moderasi beragama dibangun secara organik melalui praktik komunikasi komunitarian. Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi Gerakan Subuh Berkah (GSB) yang digagas oleh Dewan Masjid Indonesia Kota Palu sebagai model intervensi berbasis masjid dalam penguatan moderasi beragama. Dengan desain studi kasus kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GSB membangun ekosistem dakwah dialogis dan inklusif yang mengintegrasikan ibadah berjemaah, edukasi persuasif, dan aktivitas sosial partisipatif. Strategi ini memperkuat modal sosial (bonding, bridging, linking) yang berdampak pada peningkatan kohesi sosial dan mitigasi risiko radikalisasi. Studi ini menegaskan bahwa moderasi beragama tidak hanya efektif melalui instrumen kebijakan, tetapi juga melalui komunikasi dakwah berbasis komunitas yang berkelanjutan dan partisipatif.Kata Kunci: Komunikasi dakwah, moderasi beragama, Gerakan Subuh Berkah, modal sosial, ketahanan masyarakat
Media Landscape Subculture in the Society 5.0: Case Study on Indonesia Urban Toys Scene Rani Chandra Oktaviani; Donna Asteria; Niken Febrina Ernungtyas
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15443

Abstract

This research examines the development of digital media, which has significantly changed the media landscape in subcultural groups. This study identifies a gap in research rarely discussed by communication experts, who typically focus more on maps and logic of mainstream media or popular culture, with less attention to subcultural groups. This serves as the background to the research problem, which focuses on observing the subcultural media map. Existence of subcultures, although underground, but they are developing massively in using various media. The subcultural scene that is currently a conversation phenomenon in the online world and chosen as multiple-case study is the Indonesian Urban Toys scene. The objectives of this study are: 1) Mapping media landscape among the Urban Toys subculture. 2) To determine the interaction patterns of subcultural members in the use of various media. 3) To examine the implications of the media landscape. This research using the Digital Difussion Subcultural Theory and methodology used is qualitative. The results has showen: 1) Lanscape media subcultural has 4 layers. 2) Interaction patterns are changing, blending with parent culture, pop culture, and mass culture. 3) The implications of using a variety of digital media can add value to subcultural development or even erode authentic subcultural values, when the artists concept must meet with commercial negotiations.Keywords: Digital, subculture, media, urban toys, scene ABSTRAKPenelitian ini mengkaji perkembangan media digital cukup merubah lanskap media yang digunakan oleh kalangan subkultural. Penelitian ini melihat celah kajian yang sedikit dibahas oleh pakar komunikasi, dimana biasanya mereka lebih banyak melihat pada peta dan logika media meanstream atau budaya popular, sedikit atensi pada kelompok subkultural. Hal ini menjadi latarbelakang permasalahan penelitian yang berfokus mengamati peta media subkultural. Hal ini juga ditandai adanya subkultural meskipun bersifat bawah tanah namun mereka berkembang massif dalam menggunakan media digital. Skena subkultural yang saat ini menjadi fenomena percakapan didunia daring dan dipilih menjadi objek kajian analisis multi kasus adalah skena Urban Toys Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk memetakan lanskap media di kalangan subkultural Urban Toys. 2) Untuk mengetahui pola interaksi anggota subkultural pada penggunaan ragam media. 3) Untuk mengkaji Implikasi lanskap media subculture Urban Toys. Penelitian ini membawa Teori Digital Difussion Subkultural. Methodology penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukan: 1) Lanskap media subkultural memiliki 4 lapisan, yang setiap lapisanya menggambarkan nilai dan rasa subkultural yang berbeda. 2) Pola interaksi dikalangan subkultural Urban Toys mengalami perubahan, dapat bebaur dengan parent culture, pop culture dan mass culture. 3) Implikasi penggunaan ragam media digital dapat memberi nilai tambah perkembangan subkultural atau bahkan melunturkan nilai otentik subcultural yakni pada gagasan artis harus bertemu dengan dengan negosiasi komersil.Kata Kunci: Digital, subkultural, media, urban toys, skena
Menelaah Lebih Dekat "Post Factual/Post Truth Politics, Studi Kasus Brexit" (Analsis Resensi Media) Eko Wahyono; Rizka Amalia; Ikma Citra Ranteallo
Nyimak: Journal of Communication Vol. 1 No. 1 (2017): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v1i1.272

Abstract

Penelitian ini menelaah lebih jauh video yang berjudul "what is the truth about post-factual politics?" mengenai kasus di Amerika terkait Trump dan di Inggris terkait Brexit. Fenomena post truth/post factual juga terjadi di Indonesia sebagaimana terlihat pada pertarungan politik yang dialami Ahok pada Pilkada DKI yang lalu. Melalui pendekatan pemikiran Michel Foucault mengenai post truth dengan logika asertif, media massa dikonstruksikan bagi pihak yang berkepentingan dan mengabaikan realitas yang sesungguhnya. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa media baru atau new media ternyata mampu menebar berbagai wacana mulai dari memengaruhi pemikiran, perilaku masyarakat hingga ideologi yang dianut oleh suatu masyarakat. Kata kunci: Post factual, post truth, new media   This research further examines the video entitled "what is the truth about post-factual politics?" about the case in the United States related to Trump and in the UK related to Brexit. The phenomenon of Post truth/post factual also occurs in Indonesia as seen in the political struggle experienced by Ahok in the governor election (DKI Jakarta). Through Michel Foucault's approach to post truth with assertive logic, the mass media is constructed for the interested parties and ignores the real reality. The conclusion of this study indicates that new media was able to spread various discourses ranging from influencing the way of thoughts, behavior of society to the ideology adopted by a society. Keywords: Post factual, post truth, new media
Tabloidisasi Pertikaian Selebriti dalam Tayangan Infotainment "Pagi-Pagi Pasti Happy" Ardiska Mega Perwita; Filosa Gita Sukmono
Nyimak: Journal of Communication Vol. 3 No. 1 (2019): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v3i1.1113

Abstract

Pertikaian selebriti dalam dunia infotainment memang tidak ada habisnya. Pemberitaan selebriti yang bertengkar pun diberitakan sedemikian rupa seakan seluruh masyarakat harus mengetahui pertengkaran tersebut, tak terkecuali pada tayangan infotainment "Pagi-Pagi Pasti Happy" yang di tayangkan di stasiun televisi TransTV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan penonton terhadap tabloidisasi pertikaian selebriti pada tayangan infotainment "Pagi-Pagi Pasti Happy". Menggunakan teori encoding dan decoding milik Stuart Hall, peneltian ini merupakan penelitian kualitatif dengan reception analysis method. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam bersama pengikut akun Instagram @Lambe_Turah. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak sepenuhnya informan berada pada posisi dominant hegemonic, dan terdapat sebagian yang berada pada posisi oppositional. Adanya perbedaan pandangan, status, pekerjaan, budaya, asumsi-asumsi khalayak sebelum membaca teks, dan intensitas mengakses infotainment ikut mempengaruhi cara informan membaca tabloidisasi pertikaian selebriti. Artinya, informan adalah penonton yang aktif, karena mereka tak hanya menikmati tayangan ini secara gamblang, tetapi juga mampu membaca makna dari teks yang disajikan pada acara atau tayangan tersebut. Kata Kunci: Tabloidisasi pertikaian selebriti, infotainment, penerimaan penonton, enkoding dan dekoding   Celebrity disputes in the world of infotainment are endless. The preaching of the quarreling celebrities was reported in such a way as if entire community had to know the dispute, including infotainment program "Pagi-Pagi Pasti Happy" which was broadcast on TransTV. This study aims to determine the audience's acceptance of "tabloidisasi" of celebrity disputes on the infotainment show program "Pagi-Pagi Pasti Happy". Using Stuart Hall's theory of encoding and decoding, this research is qualitative research with reception analysis method. Technique of collecting data uses interviews with followers of the Instagram account @Lambe_Turah. The results of this study indicate that not entirely the informant is in a dominant hegemonic position, and there are some who are in oppositional positions. The different views, status, occupation, culture, audience assumptions before reading the text, and intensity of accessing infotainment also influence the way informants read the "tabloidisasi" of celebrity disputes. So, informants are active viewers, because they not only enjoy this show clearly, but also are able to read the meaning of the text presented at the event or show. Keywords: "tabloidisasi" of celebrity disputes, infotainment, audience's acceptance, encoding and decoding
Motivasi Menghafal Al-Qur'an pada Anak melalui Komunikasi Interpersonal Annisa Nurul Mardhiyah; Ayub Ilfandy Imran
Nyimak: Journal of Communication Vol. 3 No. 2 (2019): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v3i2.1204

Abstract

Orang tua mempunyai peran yang penting bagi keberhasilan pendidikan anak, termasuk dalam meningkatkan motivasi anak untuk menghafal Al-Qur'an. Selain itu, proses tahfizh Al-Qur'an harus selaras antara tujuan pendidikan di sekolah dan aktivitas anak di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pola komunikasi interpersonal orang tua dan anak dalam meningkatkan motivasi menghafal Al-Qur'an pada anak. Penelitian ini dilakukan pada orang tua dan siswa STP MI Khoiru Ummah yang memiliki prestasi di bidang tahfizh. Dengan paradigma konstruktivisme, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan anak yang memiliki capaian tahfizh tinggi berasal dari keluarga yang menerapkan pola komunikasi konsensual. Pola komunikasi konsensual adalah pola komunikasi yang memiliki tingkat interaksi dan konformitas tinggi antaranggota keluarga. Dengan diterapkannya pola komunikasi ini, orang tua dapat meningkatkan motivasi menghafal Al-Qur'an pada anak dan anak dapat mencapai target hafalan yang diinginkan. Kata Kunci: Komunikasi interpersonal, keluarga, tahfizh Al-Qur'an   ABSTRACT Parents have an important role in the success of children's education, including in increasing the motivation of children to memorize the Qur’an. In addition, the process of tahfizh Al-Qur'an must be in harmony between the goals of education in schools and the activities of children at home. This study aims to determine and analyze the patterns of interpersonal communication of parents and children in increasing motivation to memorize the Qur'an in children. This research was carried out on parents and students of STP MI Khoiru Ummah who had achievements in the field of tahfizh. With the constructivism paradigm, this study uses qualitative-descriptive approach. The results of the study show that children who have high achievement outcomes come from families that apply the consensual communication pattern. The pattern of consensual communication is a communication pattern that has a high level of interaction and conformity between family members. With the implementation of this pattern, parents can increase motivation in children to memorize the Qur'an and children can achieve the desired memorization target. Keywords: Interpersonal communication, family, tahfizh Al-Qur'an
"PERINGATAN DARURAT" AS A CANCEL CULTURE MOVEMENT THROUGH SOCIAL MEDIA IN INDONESIA Jefri Audi Wempi; Chrisdina Chrisdina; Rully Rully
Nyimak: Journal of Communication Vol. 9 No. 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.13075

Abstract

At that time, the Indonesian government was organizing regional elections, part of the ongoing general election process following the presidential and legislative elections. In a short period, a public movement emerged to reject and cancel the Draft Law (RUU) proposed by the Indonesian Parliament, following the Constitutional Court's ruling on presidential nomination thresholds and political party participation in elections. The "Cancel Culture" movement, known as the "Emergency Alert," quickly gained momentum and was carried out by various groups across Indonesia. It culminated in massive demonstrations involving diverse communities. This study's key question is how the "Emergency Alert" movement, through social media, managed to oppose the regional election bill so quickly and effectively, motivating people to participate in both online and physical protests. The research aims to understand the content and platforms used in social media to shape public participation, and how the characteristics of new media triggered rapid and widespread engagement. Using new media, social media, and cancel culture theories, this qualitative research with a constructivist framework found that new media characteristics—interactivity, friendliness, richness, autonomy, playfulness, privacy, and personalization—were crucial in mobilizing support for the "Emergency Alert" movement. Keywords: Digital Political Activism, Cancel Culture, Emergency Alert ABSTRAK Pemerintah Indonesia saat itu tengah menyelenggarakan pemilihan kepala daerah, bagian dari proses pemilihan umum yang sedang berlangsung setelah pemilihan presiden dan legislatif. Dalam waktu yang singkat, muncul gerakan masyarakat untuk menolak dan membatalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan oleh DPR RI, menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi ketentuan mengenai ambang batas pencalonan presiden dan partisipasi partai politik dalam pemilu. Gerakan "cancel culture" yang dikenal sebagai "Peringatan Darurat" dengan cepat mendapatkan momentum dan dilakukan oleh berbagai kelompok di seluruh Indonesia. Puncaknya adalah demonstrasi besar-besaran yang melibatkan berbagai komunitas. Pertanyaan utama dari penelitian ini adalah bagaimana gerakan "Peringatan Darurat" melalui media sosial berhasil menentang RUU PILKADA dengan begitu cepat dan efektif, memotivasi orang untuk berpartisipasi dalam protes fisik dan online. Penelitian ini berupaya memahami konten dan platform media sosial yang digunakan untuk membentuk partisipasi publik dalam gerakan ini, dan bagaimana karakteristik media baru memicu keterlibatan yang cepat dan meluas. Penelitian ini menggunakan teori media baru, media sosial, dan budaya pembatalan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka konstruktivis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karakteristik media baru—interaktivitas, keramahan, kekayaan media, otonomi, keceriaan, privasi, dan personalisasi—sangat penting dalam memobilisasi dukungan untuk gerakan “Peringatan Darurat”. Kata Kunci:  Aktivitas Politik Digital, Cancel Culture, Peringatan Darurat
Rebranding Sawahlunto: From Mining Town to Cultural Tourism under the Leadership of Ir. H. Amran Nur Yesi Puspita; Nurkhalila Fajrini; Nova Yohana; Ismail Sualman
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 2 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i2.14704

Abstract

Sawahlunto is a post-industrial city in West Sumatra formerly known as a colonial coal mining center. Under the leadership of Ir. H. Amran Nur (2003–2013), the city transformed its identity by repositioning itself as a culturally based mining tourism destination. This study employs a qualitative case study approach involving 10 participants (four institutional informants and six complementary non-government participants) using in-depth interviews, field observations, and document analysis to examine the drivers and implementation of the city’s rebranding process through the Muzellec and Lambkin rebranding framework. The findings indicate that declining mining activities, population outflow, and urban stagnation became key drivers of policy change. The local government responded through integrated communication strategies, including cultural festivals, city publications, visual identity development, and collaboration with media and community stakeholders, with the Silo structure serving as a central symbolic icon. Unlike many Indonesian post-mining cities that prioritize economic substitution or physical revitalization, Sawahlunto integrates tangible mining heritage with intangible cultural narratives supported by participation among the stakeholders examined. The findings suggest that post-industrial city rebranding can develop as a long-term communicative governance process in which recurring communication practices and collaborative stakeholder engagement contribute to the continuity of urban identity transformation over time. Keywords: Cultural mining tourism, city rebranding, government public relations, mining town, urban identity   ABSTRAK Sawahlunto adalah kota pasca-industri di Sumatera Barat yang dulunya dikenal sebagai pusat pertambangan batubara kolonial. Di bawah kepemimpinan Ir. H. Amran Nur (2003–2013), kota ini mentransformasikan identitasnya dengan memposisikan diri sebagai destinasi wisata pertambangan berbasis budaya. Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang melibatkan 10 partisipan (empat informan institusional dan enam partisipan non pemerintah pelengkap, observasi lapangan, dan analisis dokumen untuk meneliti pendorong dan implementasi proses rebranding kota melalui kerangka kerja rebranding Muzellec dan Lambkin. Temuan menunjukkan bahwa penurunan aktivitas pertambangan, arus keluar penduduk, dan stagnasi perkotaan menjadi pendorong utama perubahan kebijakan. Pemerintah daerah menanggapi hal ini melalui strategi komunikasi terpadu, termasuk festival budaya, publikasi kota, pengem-bangan identitas visual, dan kolaborasi dengan media dan pemangku kepentingan masyarakat, dengan struktur Silo sebagai ikon simbolik utama. Tidak seperti banyak kota pasca-pertambangan di Indonesia yang memprioritaskan substitusi ekonomi atau revitalisasi fisik, Sawahlunto meng-integrasikan warisan pertambangan yang berwujud dengan narasi budaya tak berwujud yang didukung oleh partisipasi para pemangku kepentingan yang diteliti. Temuan mengindikasikan bahwa penataan ulang citra kota pasca-industri dapat berkembang sebagai proses tata kelola komunikatif jangka panjang, ketika praktik komunikasi yang berulang dan keterlibatan kolaboratif para pemangku kepentingan berkontribusi pada keberlanjutan transformasi identitas perkotaan dari waktu ke waktu. Kata Kunci: Humas pemerintah, identitas perkotaan, kota tambang, rebranding kota, wisata tambang yang berbudaya
The Impact of the Iran-Israel Conflict on Government Policies in Developing Countries: A Critical Study of the Role of ASEAN and Indonesian M. Riski Saputra; Cici Sundari; Yudi Armansyah; Al Fauzi Rahmat
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 2 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i2.14937

Abstract

This study examines the impact of the Iran-Israel conflict on government communication narratives and crisis communication strategies in Southeast Asia, with a particular focus on Indonesia and ASEAN. The study is qualitative with an exploratory approach and uses secondary data obtained from online media, official government social media accounts, and relevant academic journals. Thematic coding and content categorization were performed using NVivo 12 Plus. These procedures include word frequency analysis, clustering of diplomatic themes and mapping of crisis communication narrative patterns.The results show that Indonesia has developed a unique crisis communication strategy in response to the Iran-Israel conflict, which is different from Indonesia’s response to previous geopolitical conflicts. The content analysis of government social media reveals three prevailing patterns: (1) humanitarian framing that emphasizes the suffering of Palestinian civilians; (2) sovereignty and non-intervention narratives as the foundation of diplomatic communication; and (3) multilateral platforms (ASEAN, the UN and the OIC) as amplification platforms for messages. Indonesia’s humanitarian diplomacy is acknowledged as a soft power strategy to cultivate a regional leadership image and facilitate balanced relationships with Western partners by means of principle-based rhetoric instead of bloc alignment. Conversely, ASEAN’s official statement is usually neutral and procedural because of the divergence of interests among its member states. Indonesia, in contrast, consistently positions itself as a proactive communication actor through humanitarian, multilateral, and bilateral channels, exhibiting a crisis communication pattern that is notably different from other ASEAN nations. Keywords: Iran-Israel conflict, government crisis communication, humanitarian diplomacy, soft power, ASEAN–Indonesia diplomacy.   ABSTRAK Penelitian ini mengkaji dampak konflik Iran–Israel terhadap narasi komunikasi pemerintah dan strategi komunikasi krisis di Asia Tenggara dengan penekanan khusus pada peran Indonesia dan ASEAN. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari media daring, akun media sosial resmi pemerintah, serta jurnal akademik yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan NVivo 12 Plus untuk melaksanakan proses pengodean tematik dan kategorisasi konten. Prosedur analisis mencakup analisis frekuensi kata, pengelompokan tema-tema diplomatik, serta pemetaan pola narasi komunikasi krisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mengembangkan strategi komunikasi krisis yang khas dalam merespons konflik Iran–Israel, yang berbeda dari pola respons Indonesia terhadap konflik geopolitik sebelumnya. Analisis terhadap konten media sosial pemerintah mengidentifikasi tiga pola utama: (1) pembingkaian humaniter yang mene-kankan penderitaan warga sipil Palestina; (2) narasi mengenai kedaulatan dan prinsip non-intervensi sebagai landasan komunikasi diplomatik; serta (3) pemanfaatan platform multilateral, seperti ASEAN, PBB, dan OKI, sebagai sarana untuk memperkuat dan memperluas pesan diplomatik. Diplomasi humaniter Indonesia dipandang sebagai strategi soft power yang bertujuan membangun citra kepemimpinan regional sekaligus mempertahankan hubungan yang seimbang dengan mitra-mitra Barat melalui penggunaan retorika berbasis prinsip, bukan melalui keberpihakan pada blok tertentu. Sebaliknya, komunikasi resmi ASEAN cenderung bersifat netral dan prosedural sebagai konsekuensi dari adanya perbedaan kepentingan di antara negara-negara anggotanya. Indonesia, berbeda dengan pola tersebut, secara konsisten memosisikan dirinya sebagai aktor komunikasi yang aktif melalui saluran humaniter, multilateral, dan bilateral. Hal ini menunjukkan adanya pola komunikasi krisis yang secara signifikan berbeda dari pola komunikasi negara-negara ASEAN lainnya. Kata Kunci: Konflik Iran-Israel, komunikasi krisis pemerintah, diplomasi kemanusiaan, kekuatan lunak (soft power), diplomasi ASEAN-Indonesia.
Active Reception Communication and Rational Choice in Religious Conversion: A Case Study of a Former Christian Leader Nasichah; Ade Rina Farida; Eko Purwanto; Ahmed Abdul Malik
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 2 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i2.15348

Abstract

Existing studies on religious conversion mainly frame it as an internal, individual, and psychologically driven process, overlooking the communicative and rational dynamics that shape belief transformation. This limitation is particularly evident in cases involving religious authorities, where conversion entails not only personal change but also social and symbolic disruption. This study aims to reconceptualize religious conversion as a communicative-rational process by examining the case of a former Christian religious leader who converted to Islam. Using a qualitative constructivist approach, this research employed a single-case study design with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to capture the subject’s lived experience. Data were collected through in-depth semi-structured interviews, complemented by contextual observation and document analysis. The analytical process involved initial coding, emergent theme development, and interpretative integration. The findings demonstrate that conversion is driven by an active reception of religious messages that evolves into systematic, argumentative evaluation. Communicative elements such as dialogical narratives, cross-textual references, and high-stakes framing serve as persuasive mechanisms that trigger cognitive dissonance and reflexive self-awareness. Contrary to conventional Rational Choice assumptions, decision-making is not guided by utilitarian calculation but by the pursuit of epistemic consistency and the validation of truth. Moreover, conversion operates as a transformative process that reconstructs both identity and symbolic authority within shifting social contexts. This study advances a theoretical repositioning of religious conversion as a multidimensional process that integrates communication, cognition, and rationality. By bridging active reception and rational choice perspectives, it offers a more robust analytical framework for understanding belief transformation in contemporary society. Keywords: Religious conversion, communicative rationality, interpretative phenomenological analysis (IPA), belief transformation, cognitive dissonance.   ABSTRAK Studi-studi yang ada mengenai konversi agama umumnya memandangnya sebagai proses yang bersifat internal, individual, dan didorong oleh faktor psikologis, sehingga mengabaikan dinamika komunikatif dan rasional yang membentuk transformasi keyakinan. Keterbatasan ini terutama terlihat dalam kasus yang melibatkan otoritas keagamaan, di mana konversi tidak hanya mencakup perubahan pribadi tetapi juga gangguan tatanan sosial dan simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengonseptualisasikan ulang konversi agama sebagai proses yang bersifat komunikatif-rasional dengan mengkaji kasus seorang mantan pemimpin agama Kristen yang berpindah memeluk Islam. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivis kualitatif, penelitian ini menerapkan desain studi kasus tunggal serta metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk menangkap pengalaman hidup subjek. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, yang dilengkapi dengan observasi kontekstual dan analisis dokumen. Proses analisis mencakup pengodean awal, pengembangan tema yang muncul (emergent themes), dan integrasi interpretatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konversi didorong oleh penerimaan aktif terhadap pesan-pesan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi evaluasi yang sistematis dan argumentatif. Elemen-elemen komunikatif—seperti narasi dialogis, referensi lintas-teks, dan pembingkaian isu yang krusial—berfungsi sebagai mekanisme persuasif yang memicu disonansi kognitif dan kesadaran diri yang refleksif. Berbeda dengan asumsi konvensional mengenai Pilihan Rasional (Rational Choice), pengambilan keputusan dalam hal ini tidak didasarkan pada kalkulasi utilitarian, melainkan pada upaya mencapai konsistensi epistemik dan validasi kebenaran. Selain itu, konversi berperan sebagai proses transformatif yang merekonstruksi identitas sekaligus otoritas simbolik di tengah konteks sosial yang terus berubah. Penelitian ini menawarkan reposisi teoretis mengenai konversi agama sebagai proses multidimensi yang mengintegrasikan komunikasi, kognisi, dan rasionalitas. Dengan menjembatani perspektif penerimaan aktif dan pilihan rasional, penelitian ini menyajikan kerangka analisis yang lebih kokoh untuk memahami transformasi keyakinan dalam masyarakat kontemporer. Kata Kunci: Konversi agama, rasionalitas komunikatif, interpretative phenomenological analysis (IPA), transformasi keyakinan, disonansi kognitif
Mapping the Transformation of Government Political Communication on Global Social Media: A Bibliometric and Thematic Analysis Muh. Awalil Resky Sutanto; Achmad Nurmandi; Herman Lawelai; Muhammad Ikbal; Hazel Jovita
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 2 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i2.15566

Abstract

The growing centrality of social media in government–citizen interaction has reshaped the scholarly landscape of government political communication, yet its geographical, conceptual, and thematic development remains fragmented across political contexts, platforms, and research traditions. This study maps the global development of research on government political communication through social media by examining geographical contributions, dominant concepts, influential publications, conceptual structures, and thematic evolution. Its novelty lies in integrating cross-country, conceptual, citation-based, and temporal evidence within a single framework to clarify the development of government political communication at the intersection of institutional communication. A systematic bibliometric review was conducted using 875 English-language journal articles indexed in Scopus for the 1999–2024 period, with the identification and filtering process reported with reference to PRISMA 2020. Bibliometric performance analysis and science-mapping techniques were used to examine geographical distribution, keyword patterns, citation influence, conceptual structure, and thematic evolution. The findings reveal a geographically concentrated research landscape dominated by Western contexts and a conceptual structure centered on social media and political communication, with personalization, populism, platform characteristics, and political participation emerging as prominent themes. The thematic trajectory further indicates a transition from public communication and representation toward increasingly complex concerns involving digital communication, disinformation, platform governance, algorithms, and digital democracy. The study contributes to communication scholarship by showing that government political communication is not an isolated domain; it is embedded within a communication ecosystem in which institutional, public, electoral, and political communication intersect. This integrated perspective provides a conceptual basis for more comparative and theoretically differentiated research, particularly across underrepresented Global South contexts. Keywords: Government political communication, social media, bibliometric analysis, thematic mapping.   ABSTRAK Meningkatnya sentralitas media sosial dalam interaksi pemerintah warga telah mengubah lanskap kajian komunikasi politik pemerintah, tetapi perkembangan geografis, konseptual, dan tematik bidang ini masih terfragmentasi dalam berbagai konteks politik, platform, dan tradisi penelitian. Penelitian ini memetakan perkembangan global kajian komunikasi politik pemerintah melalui media sosial dengan menganalisis kontribusi geografis, konsep dominan, publikasi berpengaruh, struktur konseptual, dan evolusi tematik. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi bukti lintas negara, konseptual, berbasis sitasi, dan temporal dalam satu kerangka analisis untuk memperjelas perkembangan komunikasi politik pemerintah pada persinggungan antara komunikasi institusional. Penelitian menggunakan systematic bibliometric review terhadap 875 artikel jurnal berbahasa Inggris yang terindeks Scopus pada periode 1999–2024, dengan proses identifikasi dan penyaringan dilaporkan mengacu pada PRISMA 2020. Analisis kinerja bibliometrik dan teknik science mapping digunakan untuk mengidentifikasi distribusi geografis, pola kata kunci, pengaruh sitasi, struktur konseptual, dan evolusi tematik. Temuan menunjukkan bahwa lanskap penelitian masih terkonsentrasi pada konteks negara-negara Barat, dengan struktur konseptual yang berpusat pada media sosial dan komunikasi politik serta tema menonjol berupa personalisasi, populisme, karakteristik platform, dan partisipasi politik. Evolusi tematik menunjukkan pergeseran dari komunikasi publik dan representasi menuju isu yang semakin kompleks, termasuk komunikasi digital, disinformasi, tata kelola platform, algoritma, dan demokrasi digital. ini berkontribusi pada studi komunikasi dengan menunjukkan bahwa komunikasi politik pemerintah bukan merupakan bidang yang sepenuhnya terpisah, melainkan semakin tertanam dalam ekosistem komunikasi berbasis platform tempat komunikasi institusional, publik, elektoral, dan komunikasi politik yang lebih luas saling beririsan. Perspektif integratif ini menyediakan dasar konseptual bagi penelitian komparatif yang lebih terdiferensiasi secara teoretis, terutama dalam konteks Global South yang masih kurang terwakili. Kata Kunci: Komunikasi politik pemerintah, media sosial, analisis bibliometrik, pemetaan tematik.