cover
Contact Name
abdul basit
Contact Email
basit.umt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalnyimak@gmail.com
Editorial Address
Jl.Mayjen Sutoyo No.2 Kota Tangerang, Provinsi Banten, 15111 Indonesia.
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Nyimak: Journal of Communication
ISSN : 25803803     EISSN : 25803832     DOI : http://dx.doi.org/10.31000/nyimak
Nyimak: Communication Journal to encourage research in communication studies. The focus of this journal are: Public Relations, Advertising, Broadcast, Political Communication, Cross-cultural Communication, Business Communication, and Organizational Communication
Articles 152 Documents
Participatory Communication for Equity of Access in the Management of Ketapang Aquaculture Ecotourism Anam, Khairil; Abdurrahman, Ade Irfan; Pratama, Rizal Abdi; Amalia, Anisa
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.13509

Abstract

This research is prompted by the reality that despite significant growth in Indonesia's tourism sector, the utilization of natural resources, especially in coastal areas, is still not fully optimized and is susceptible to corporate control, which can displace local communities. This situation is further complicated by issues of unequal access and power dynamics that hinder fair ecotourism management. The study's primary goal is to identify stakeholders and analyze the function of participatory communication in managing the Ketapang Urban Aquaculture (KUA) ecotourism site to ensure equitable access. Adopting a constructivist paradigm and a qualitative methodology, data was collected through a combination of in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGDs), and direct field observations. The findings reveal that, while the KUA project has been successful in terms of physical development, significant gaps remain at the community level, including the absence of structured community development programs and a low level of environmental awareness. Participatory communication serves as a crucial tool for bridging the diverse interests of various parties and boosting community involvement, which has been shown to mitigate conflict and strengthen solidarity among stakeholders. Consequently, this research advocates for a more inclusive communication approach to enhance sustainable ecotourism management.Keywords: Participatory communication, local community, stakeholder analysis, ecotourism ABSTRAKRiset ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa meskipun sektor pariwisata Indonesia telah berkembang pesat, pemanfaatan sumber daya alam, khususnya di wilayah pesisir, masih belum optimal dan rentan terhadap dominasi korporasi yang dapat meminggirkan masyarakat lokal. Kondisi ini diperburuk oleh masalah ketidakadilan akses dan kekuasaan yang menghambat pengelolaan ekowisata yang adil. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pemangku kepentingan dan menganalisis peran komunikasi partisipatif dalam pengelolaan Ekowisata Ketapang Urban Aquaculture (KUA) untuk mewujudkan keadilan akses. Menggunakan paradigma konstruktivisme dan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, FGD, dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun proyek KUA berhasil mencapai pembangunan fisik, ada kesenjangan signifikan di tingkat komunitas, seperti kurangnya program pengembangan masyarakat dan rendahnya kesadaran lingkungan. Komunikasi partisipatif menjadi elemen utama untuk menjembatani kepentingan berbagai pihak dan meningkatkan partisipasi masyarakat, yang terbukti dapat mengurangi konflik dan memperkuat solidaritas antar pemangku kepentingan. Oleh karena itu, riset ini merekomendasikan strategi komunikasi yang lebih inklusif untuk perbaikan pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan.Kata Kunci: Komunikasi partisipatif, komunitas lokal, analisis stakeholder, ekowisata
Fulfillment of Local Content in The Era of Democratization And Digitalization In West Java Ahsani Taqwim Aminuddin; Tryan Nugraha
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.13413

Abstract

This study examines how networked broadcasters in West Java, Indonesia, implement a national policy mandating a minimum of 10% local content. Drawing on in-depth interviews with editorial, production, and managerial staff, combined with regulatory data, the study analyzes production and distribution practices through a political economy of communication perspective, focusing on structuration, commodification, and spatialization. The findings reveal that most "local content" is produced in Jakarta for cost efficiency and centralized control, while local bureaus contribute only a small portion of broadcast material. Media organizations adopt different structuring patterns: community-oriented autonomy (as in Radio Elshinta), a central-local hybrid format (as in MNCs), and top-down coordination (as in CNN West Java). These practices demonstrate how ownership concentration, resource inequality, and regulatory formalism shape local broadcasting, turning compliance into a symbolic, rather than a substantive, tool of democracy. Theoretically, this study extends political economy analysis by applying it to the dynamics of subnational broadcasting, demonstrating how structure and agency interact in peripheral media spaces.  Globally, these findings highlight how centralized media systems in developing democracies struggle to balance regulatory objectives with commercial imperatives—an issue relevant to debates on media pluralism, decentralization, and cultural representation beyond Indonesia. This research provides empirical and conceptual insights into how local media policies operate within broader political-economic structures.Keywords: Indonesian Broadcasting Commission, local content, network media ABSTRAKStudi ini mengkaji bagaimana lembaga penyiaran berjaringan di Jawa Barat, Indonesia, menerapkan kebijakan nasional yang mewajibkan minimal 10% konten lokal. Berdasarkan wawancara mendalam dengan staf redaksi, produksi, dan manajerial, yang dipadukan dengan data regulasi, penelitian ini menganalisis praktik produksi dan distribusi melalui perspektif ekonomi politik komunikasi, dengan fokus pada strukturasi, komodifikasi, dan spasialisasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar "konten lokal" ternyata diproduksi di Jakarta dengan alasan efisiensi biaya dan kendali terpusat, sementara biro lokal hanya menyumbang sedikit sekali materi siaran. Organisasi media mengadopsi pola strukturasi yang berbeda: otonomi berorientasi komunitas (seperti di Radio Elshinta), format hibrida pusat-lokal ( seperti di MNC), dan koordinasi atas-bawah (seperti di CNN Jawa Barat). Praktik-praktik ini menunjukkan bagaimana konsentrasi kepemilikan, ketimpangan sumber daya, dan formalisme regulasi membentuk penyiaran lokal, mengubah kepatuhan menjadi alat demokrasi yang simbolis, alih-alih substantif. Secara teoretis, studi ini memperluas analisis ekonomi politik dengan menerapkannya pada dinamika penyiaran subnasional, menunjukkan bagaimana struktur dan agensi berinteraksi dalam ruang media periferal.  Secara global, temuan ini menyoroti bagaimana sistem media terpusat di negara-negara demokrasi berkembang kesulitan menyeimbangkan tujuan regulasi dengan tuntutan komersial—sebuah isu yang relevan dengan perdebatan tentang pluralisme media, desentralisasi, dan representasi budaya di luar Indonesia. Penelitian ini memberikan wawasan empiris dan konseptual tentang bagaimana kebijakan media lokal beroperasi dalam struktur politik-ekonomi yang lebih luas.Kata Kunci: Komisi Penyiaran Indonesia, konten lokal, media jaringan
Dialogcal Framing: A Content Analysis of National Online Media Coverage on the “Indonesia Gelap” Issue in 2025 Agus Priyanto; Sarah Ayu Putri Novaria; Husnaeni Fauziah Amani
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.14651

Abstract

Online media play a strategic role in shaping public opinion in the digital era through mechanisms of information framing. This study aims to examine how Indonesian online media frame the controversial issue of “Indonesia Gelap”. Employing a descriptive qualitative approach, this research applies Robert Entman’s framing analysis model to systematically dissect media texts. The data were drawn from selected news articles chosen purposively from five leading mainstream online media outlets with the highest readership Detik.com, Kompas, CNN Indonesia, Liputan6, and Tempo. Data analysis was conducted systematically with the assistance of NVivo software to enhance the rigor and transparency of the coding process. The findings reveal that despite the crisis-laden connotation embedded in the phrase “Indonesia Gelap,” the dominant narrative constructed by the media is dialogical rather than confrontational. The media do not merely amplify negative aspects of the issue; instead, they highlight the government’s proactive responses in opening deliberative spaces for public discussion. This study addresses a research gap by demonstrating that, within the context of Indonesia’s digital democracy, online media can function as dialogical mediators rather than merely as agents of polarization. For scholars and readers, these findings offer a new analytical perspective in political communication studies, particularly in understanding how media frame governmental responses to issues that have the potential to shape dialogical discourse within the digital public sphere.Keywords: Media narrative, government communication, media framing, public policy, digital media practices ABSTRAKMedia online memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik di era digital melalui mekanisme pembingkaian informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana media online di Indonesia membingkai isu kontroversial "Indonesia Gelap". Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menerapkan analisis framing model Robert Entman yang membedah teks. Data bersumber dari beberapa artikel yang dipilih secara purposive dari lima media arus utama dengan pembaca terbanyak (Detik.com, Kompas, CNN Indonesia, Liputan6, dan Tempo). Pemilihan artikel kunci ini dianggap representatif karena berasal dari market leader media daring yang menjadi rujukan utama narasi nasional di Indonesia, sehingga mampu mencerminkan tren opini publik secara luas. Analisis data dilakukan secara sistematis dengan bantuan perangkat lunak NVivo untuk menjaga objektivitas pengodean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di balik diksi "Indonesia Gelap" yang bernuansa krisis, narasi dominan yang muncul justru bersifat dialogis. Media tidak hanya mengeksploitasi aspek negatif, tetapi juga menyoroti respons proaktif pemerintah dalam membuka ruang diskusi deliberatif dengan masyarakat. Temuan ini mengisi celah penelitian (research gap) dengan menunjukkan bahwa dalam konteks demokrasi digital di Indonesia, media dapat berfungsi sebagai mediator dialogis ketimbang sekadar agen polarisasi. Bagi pembaca, studi ini memberikan kontribusi penting mengenai bagaimana narasi krisis di negara berkembang dapat diredam melalui strategi komunikasi publik yang inklusif, menawarkan perspektif baru dalam studi komunikasi politik.Kata Kunci: Narasi media, komunikasi pemerintah, pembingkaian media, kebijakan publik, praktik media digital
Thick Description Analysis of Solo Keroncong Music as Indonesia’s Cultural Diplomacy Danis Sugiyanto; Denik Iswardani Witarti; Komarudin Subekti; Christophe Moure
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.14831

Abstract

This research examines keroncong music as a representation of Javanese culture. The aim of the research was to interpret the lyrics of keroncong in a cultural context using thick description, Clifford Geertz. Keroncong music is also seen from a cultural diplomacy perspective. Research data was obtained from interviews and direct observation and supported by relevant literature. This research explicitly analyzes canonical songs such as Bengawan Solo, Tirtonadi, Taman Jurug, and Kota Solo to understand how cultural symbols are produced and consumed. Research data were obtained through participant observation, in-depth interviews, and focus group discussions (FGD) with a community of practitioners. Lyric analysis is integrated with High-Context Communication (HCC) theory to demonstrate how the indirect communication patterns of Javanese society are represented in keroncong musicality. The research found Javanese cultural symbols in the lyrics of keroncong songs. It highlights the city of Solo as the center of cultural civilization on the island of Java. Solo is known as “the spirit of Java.” The keroncong lyrics, which tell stories about people's lives, are able to attract and inspire love for Indonesia. Indonesian cultural diplomacy is supported by a community of keroncong music lovers abroad who act as diplomatic agents. The beauty of keroncong's musicality and poetic lyrics becomes a cultural signpost that is considered a soft power in cultural diplomacy. The conclusion of this research confirms that the rich culture of the Indonesian nation can be developed as an important instrument of cultural diplomacy. The success of cultural diplomacy requires direct contact with communities of Indonesian arts and culture lovers, at home and abroad.Keywords: Cultural diplomacy, keroncong, keroncong, soft power, thick description ABSTRAKPenelitian ini mengkaji musik keroncong sebagai representasi budaya Jawa. Tujuan penelitian dilakukan untuk menerjemahkan lagu-lagu keroncong dalam konteks budaya dengan menggunakan thick description, Clifford Geertz. Musik keroncong juga dilihat dari perspektif diplomasi budaya. Penelitian ini secara eksplisit menganalisis lagu-lagu kanonik seperti Bengawan Solo, Tirtonadi, Taman Jurug, dan Kota Solo untuk memahami bagaimana simbol-simbol budaya diproduksi dan dikonsumsi. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan komunitas praktisi. Analisis lirik diintegrasikan dengan teori High-Context Communication (HCC) untuk menunjukkan bagaimana pola komunikasi tidak langsung masyarakat Jawa direpresentasikan dalam musikalitas keroncong. Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara, observasi langsung, dan didukung pustaka yang relevan. Penelitian menemukan simbol-simbol budaya Jawa dalam lirik lagu keroncong. Hasil analisis terhadap lagu-lagu keroncong dalam penelitian ini menonjolkan kota Solo sebagai pusat peradaban budaya di pulau Jawa, dikenal dengan istilah “the spirit of Java.” Lirik lagu keroncong yang bercerita tentang kehidupan masyarakat mampu menarik dan menimbulkan kecintaan terhadap Indonesia. Diplomasi budaya Indonesia didukung oleh adanya komunitas pecinta musik keroncong di luar negeri yang berperan sebagai agen diplomasi. Keindahan musikalitas keroncong dan lirik yang puitis menjadi soft power dalam diplomasi budaya. Kesimpulan penelitian ini menguatkan bahwa kekayaan budaya bangsa Indonesia dapat dikembangkan sebagai instrumen penting diplomasi budaya. Kesuksesan pelaksanaan diplomasi budaya memerlukan jalinan langsung dengan para komunitas pecinta seni dan budaya Indonesia, di dalam dan luar negeri.Kata Kunci: Diplomasi budaya, keroncong, soft power, thick description
Accommodation Strategies IN Cross-cultural Communication of Rohingya Ethnicity in Interacting with The Community of Pekanbaru City Ringgo Eldapi Yozani; Qori Gita Cahyani; Nova Yohana; Mutia Novela Sari; Tutut Ismi Wahidar; Riyanda Elsera Yozani
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15020

Abstract

Pekanbaru City has become one of the destinations for asylum seekers, including members of the Rohingya ethnic group who have experienced forced migration from Myanmar. This study aims to examine the strategies of convergence, divergence, and the phenomenon of over-accommodation in communication interactions between Rohingya refugees and the local community. The research employs a qualitative method using a symbolic interaction approach. The findings reveal that the communication accommodation practices of the Rohingya refugees are dynamic, reflecting both efforts to adapt to the host community and attempts to maintain their cultural identity. Convergence strategies are demonstrated through the use of the Indonesian language, open nonverbal communication, and cultural adjustments such as shared religious practices with the local population. In contrast, divergence strategies are reflected in the continued use of the Rohingya language among fellow refugees, the tendency to withdraw from conversations they do not fully understand, and the preservation of traditional dietary habits, clothing styles, and social roles. Furthermore, the phenomenon of over-accommodation appears in the form of reliance on refugees who are more proficient in Indonesian to act as communication intermediaries, which may limit opportunities for independent adaptation. These findings highlight that the communication accommodation process among Rohingya refugees in Pekanbaru is complex and shaped by the simultaneous need for social integration and cultural preservation.Keywords: Communication accommodation, Rohingya, refugees ABSTRAKPekanbaru merupakan salah satu wilayah tujuan bagi imigran pencari suaka, termasuk Etnis Rohingya yang mengalami migrasi paksa dari Myanmar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi konvergensi, divergensi, serta fenomena akomodasi berlebihan dalam interaksi komunikasi antara pengungsi Rohingya dan masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interaksi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akomodasi komunikasi Etnis Rohingya bersifat dinamis, yang mencerminkan upaya adaptasi sekaligus pelestarian identitas budaya mereka. Strategi konvergensi terlihat melalui penggunaan Bahasa Indonesia, komunikasi nonverbal yang terbuka, serta penyesuaian budaya seperti praktik keagamaan yang serupa dengan masyarakat setempat. Sementara itu, strategi divergensi tampak pada penggunaan Bahasa Rohingya di antara sesama pengungsi, kecenderungan menarik diri dari percakapan yang tidak dipahami, serta pelestarian kebiasaan makan, gaya berpakaian, dan peran sosial tradisional. Selain itu, fenomena akomodasi berlebihan muncul dalam bentuk ketergantungan pada pengungsi yang lebih fasih berbahasa Indonesia sebagai perantara komunikasi, yang berpotensi menghambat proses adaptasi mandiri. Temuan ini menunjukkan bahwa proses akomodasi komunikasi pengungsi Rohingya di Pekanbaru berlangsung secara kompleks dan dipengaruhi oleh kebutuhan adaptasi sekaligus upaya mempertahankan identitas budaya.Kata Kunci: Akomodasi komunikasi, Rohingya, pengungsi
Marketing Communications Mix in Sabang Tourism Promotion: Interaction of Political and Multicultural Communication Rangga Saptya Mohamad Permana; Sri Seti Indriani; Lilis Puspitasari; Tito Quiling, Jnr.
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15034

Abstract

Sabang City as a Special Economic Zone (SEZ) and part of the Province of Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh) has abundant tourism potential but faces challenges in optimal development and promotion. Sabang possesses significant tourism potential that requires effective communication strategies to attract both domestic and international visitors. This research examines the implementation of the marketing communication mix in promoting Sabang’s tourism and explores its political and multicultural dimensions. Using a descriptive–qualitative method, data were collected through interviews, observation, and document analysis. The findings show that Sabang’s tourism promotion utilizes various communication mix components, including advertising (outdoor media and digital platforms), events such as Sail Sabang, direct marketing through websites, word-of-mouth testimonials, and personal selling by local tourism agents. Beyond marketing functions, these practices also operate as political communication, projecting the government’s image of stability, openness, and development, while simultaneously facilitating multicultural interaction between Acehnese hosts and diverse visitors. The use of digital media further supports cultural hybridity by integrating local values with global tourism narratives. The research concludes that tourism promotion in Sabang represents not only strategic marketing but also a communicative process of image-building, intercultural understanding, and soft power representation. It is hoped that the resulting strategic recommendations can serve as a reference for local governments and tourism industry players in formulating more effective and impactful promotional policies.Keywords: Marketing communication mix, tourism promotion, political communication, multicultural communication, Sabang ABSTRAKKota Sabang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh) memiliki potensi pariwisata yang melimpah namun menghadapi tantangan dalam pengembangan dan promosi yang optimal.  Sabang memiliki potensi pariwisata yang besar yang memerlukan strategi komunikasi efektif untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Penelitian ini mengkaji penerapan bauran komunikasi pemasaran dalam promosi pariwisata Sabang serta menelusuri dimensi politik dan multikultural di dalamnya. Dengan metode deskriptif-kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi pariwisata Sabang memanfaatkan berbagai elemen bauran komunikasi, seperti periklanan (media luar ruang dan digital), kegiatan seperti Sail Sabang, pemasaran langsung melalui situs web, pemasaran dari mulut ke mulut, serta penjualan pribadi oleh agen wisata lokal. Lebih dari sekadar kegiatan pemasaran, praktik ini juga berfungsi sebagai komunikasi politik yang membangun citra pemerintah daerah sebagai wilayah yang stabil, terbuka, dan progresif, sekaligus menciptakan interaksi multikultural antara masyarakat Aceh dan wisatawan beragam budaya. Pemanfaatan media digital turut memperkuat hibriditas budaya melalui integrasi nilai lokal dan narasi pariwisata global. Penelitian ini menyimpulkan bahwa promosi pariwisata Sabang tidak hanya merupakan strategi pemasaran, tetapi juga proses komunikasi yang mencerminkan pembangunan citra, pemahaman antarbudaya, dan representasi soft power. Rekomendasi strategis yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata dalam merumuskan kebijakan promosi yang lebih efektif dan berdampak luas.Kata Kunci: Bauran komunikasi pemasaran, promosi pariwisata, komunikasi politik, komunikasi multikultural, Sabang
Marketing Public Relations for Hospital Brand Awareness through Indonesian Cultural Communication Renata Anisa; Hanny Hafiar; Retasari Dewi; Yustikasari Yustikasari; Nguyen Tan Khang
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15157

Abstract

Marketing public relations (MPR) combines marketing and PR to build connections with stakeholders, brand awareness, the company's reputation, and consumer loyalty. Indonesia's healthcare business is rapidly changing, increasing hospital competitiveness. Indonesian healthcare, it involves disseminating information and promoting cultural characteristics including collectivism, empathy, and community-oriented communication. Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) functions as an academic medical center that integrates education, research, community service, and public health services, all grounded in a patient-centered approach. However, public awareness of its public health services remains suboptimal. This study aimed to explore MPR strategies implemented by RSUI in building brand awareness. A qualitative case study was conducted using literature analysis, observation, and in-depth interviews with hospital marketing. RSUI uses push, pull, and pass MPR strategies. The push strategy offers discounted prices to University of Indonesia faculty. Through partnerships, promotions, educational programs, and special events, the pull strategy engages consumers, patients, and the community. The pass strategy includes community and health center-focused corporate social responsibility, health education, and sports. Conclusion: RSUI uses MPR to raise brand exposure on websites, Facebook, X, Instagram, and YouTube to reach diverse stakeholders. Local communication culture values interpersonal warmth, mutual trust, and community participation to promote hospital credibility and public awareness.Keywords: Public relations, marketing public relations, hospital, brand awareness, digital media ABSTRAKPemasaran Hubungan Masyarakat menggabungkan pemasaran dan hubungan masyarakat untuk membangun hubungan dengan pemangku kepentingan, kesadaran merek, reputasi perusahaan, dan loyalitas konsumen. Pemasaran hubungan masyarakat di bidang kesehatan di Indonesia melibatkan penyebaran informasi dan promosi karakteristik budaya, termasuk kolektivisme, empati, dan komunikasi yang berorientasi pada komunitas. Bisnis kesehatan di Indonesia mengalami perubahan yang cepat, meningkatkan persaingan antar rumah sakit. Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) memberikan  layanan pendidikan, penelitian, dan pelayanan publik. Masyarakat belum memahami fungsi rumah sakit universitas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam implementasi strategi marketing public relations di rumah sakit universitas untuk membangun eksposur merek. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan analisis literatur, observasi, dan wawancara dengan tim pemasaran rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSUI menggunakan strategi pemasaran humas push, pull, dan pass. Strategi push menawarkan potongan harga kepada komunitas. Melalui kemitraan, promosi, program pendidikan, dan special event, strategi pull melibatkan konsumen, pasien, dan masyarakat. Strategi pass mencakup tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada masyarakat dan pusat kesehatan, pendidikan kesehatan, dan olahraga. Kesimpulan: RS menggunakan pemasaran hubungan masyarakat untuk meningkatkan eksposur merek di situs web, Facebook, X, Instagram, dan YouTube, dengan menyesuaikan strategi untuk berbagai pemangku kepentingan. Budaya komunikasi lokal mengutamakan kehangatan antarindividu, kepercayaan mutual, dan partisipasi komunitas untuk meningkatkan kredibilitas rumah sakit dan kesadaran publik. Kata Kunci: Hubungan masyarakat, pemasaran hubungan masyarakat, rumah sakit, kesadaran merek, media digital
Implementing Communication Networks in Developing the Smart Tourism Village of Dieng Wonosobo Rialdo Rezeky Manogari Lumban Toruan; Yos Horta Meliala; Eni Kardi Wiyati
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15195

Abstract

Various tourist destinations in Indonesia are developing their potential as Smart Tourism Villages. One successful case is the Dieng Wonosobo area, achieved through strengthening communication networks and collaboration among tourism actors. This study aims to identify actor relationships and roles in developing the Dieng Wonosobo Smart Tourism Village and to explore the process of information and knowledge transfer within the tourism network. A descriptive qualitative approach was applied using Communication Network Theory and the Social Network Analysis (SNA) method by Wasserman and Faust. Data were collected through in-depth interviews and focus group discussions with the Wonosobo Tourism and Culture Office, tourism businesses, the Wonosobo Tour Guide Association, and community organizations. The findings show that the communication network built by the Tourism Office and tourism stakeholders is highly structured and collaborative, extending to the village level. The use of digital technology and improved accessibility are key factors in the Smart Tourism Village’s success. These findings highlight that an effective communication network structure strengthens the active roles of stakeholders in shaping an adaptive and sustainable tourism system.Keywords: Communication network, smart tourism village, collaborative tourism ABSTRAKBerbagai kawasan wisata di Indonesia berupaya mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai Smart Tourism Village (Desa Wisata Cerdas). Salah satu yang berhasil sebagai Smart Tourism Village di Indonesia yaitu kawasan Dieng Wonosobo, melalui penguatan jaringan komunikasi dan penggunaan saluran antar aktor penggerak pariwisata. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi hubungan aktor dan perannya dalam pengembangan Desa Wisata Cerdas di Dieng Wonosobo dan mengidentifikasi proses transfer informasi dan pengetahuan dalam jejaring aktor penggerak pariwisata di Dieng Wonosbo. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dengan teori Jaringan Komunikasi dengan metode analisis Social Networking Analysis persfektif Wasserman dan Faust, data diperoleh melalui wawancara mendalam, FGD, dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, pelaku usaha dan penggiat pariwisata (Himpunan Pramuwisata Wonosobo) serta komunitas pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo dengan aktor penggerak pariwisata sangat massif melalui kolaborasi dan penguatan peran aktor sampai ke tingkat desa. Secara struktur, komunikasi yang dilakukan sangat terpola sehingga mampu menghasilkan jaringan komunikasi. Smart Tourism Village di Dieng Wonosobo berhasil karena penggunaan teknologi dan aksesibilitas wisata dengan melibatkan para aktor pariwisata. Temuan ini menunjukkan bahwa struktur jaringan komunikasi memperkuat adanya peran pihak yang aktif dalam membentuk sistem.Kata Kunci: Jaringan komunikasi, desa wisata cerdas, pariwisata kolaboratif
Intercultural Health Communication in Islamic Medicine among Generation Z Rita Destiwati; Lucy Pujasari Supratman; Junardi Harahap; Wan Maryam Wan Ahmad Kamil
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15217

Abstract

Islamic medical content circulating on social media plays a significant role in shaping Generation Z’s understanding and acceptance of health practices. However, Research on spirituality-based medicine and digital health literacy in shaping Generation Z’s intercultural communication when accessing thibbun Nabawi therapists, religious leaders, or health influencers remains limited. This study aims to explore how spirituality and digital literacy influence Generation Z’s decisions to engage in Islamic medical practices in Indonesia and Malaysia. Employing a comparative qualitative approach, the study involved six Generation Z informants aged 17 to 24, consisting of three participants from Bandung, Indonesia, and three participants from Malaysia, each with prior experience using Islamic medical practices. The findings indicate that Indonesian Generation Z engages with Islamic medicine mainly through family traditions and religious communities, whereas Malaysian Generation Z is influenced by institutional legitimacy and health campaigns integrating religious values with contemporary lifestyles. These results show that Islamic medical literacy extends beyond health behavior to identity formation, spirituality, and meaning making. Therefore, intercultural responsiveness and contextual sensitivity with digital health communication strategies are crucial for improving the effectiveness.Keywords: Intercultural, health communication, generation Z, Islam medical ABSTRAKKonten pengobatan Islam yang beredar di media sosial memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman dan penerimaan Generasi Z terhadap praktik kesehatan. Namun, penelitian mengenai pengobatan berbasis spiritual dan literasi kesehatan digital dalam membentuk komunikasi antarbudaya Generasi Z ketika mengakses terapis thibbun Nabawi, tokoh agama, dan influencer kesehatan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana spiritualitas dan literasi digital memengaruhi keputusan Generasi Z dalam menggunakan praktik pengobatan Islam di Indonesia dan Malaysia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif komparatif, penelitian ini melibatkan enam informan Generasi Z berusia 17–24 tahun, yang terdiri atas tiga partisipan dari Bandung, Indonesia, dan tiga partisipan dari Malaysia, yang masing-masing memiliki pengalaman menggunakan pengobatan Islam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia lebih banyak terlibat dalam pengobatan Islam melalui tradisi keluarga dan komunitas keagamaan, sedangkan Generasi Z di Malaysia dipengaruhi oleh legitimasi institusional dan kampanye kesehatan yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan gaya hidup kontemporer. Hasil ini menunjukkan bahwa literasi pengobatan Islam tidak hanya berkaitan dengan perilaku kesehatan, tetapi juga mencakup pembentukan identitas, spiritualitas, dan pencarian makna. Oleh karena itu, responsivitas antarbudaya dan sensitivitas kontekstual dalam strategi komunikasi kesehatan digital menjadi krusial untuk meningkatkan efektivitas.Kata Kunci: Antarbudaya, komunikasi kesehatan, generasi Z, pengobatan Islam
Framing Power in Japan’s Digital Sphere: A Corpus-Based Functional Approach Ketut Gede Adi Putra Laksana; Rohali Rohali; I Kadek Purnawan; Ni Di Ya
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15221

Abstract

The emergence of the term “Japanese First” in public media discourse can be traced to the second quarter of 2025, based on documented reports and news coverage collected during the data compilation period. This study conducts a comparative analysis of political representations of the Japanese First issues by contrasting coverage in the English-language press and Indonesian-language press on online discourses. Drawing on a corpus-driven investigation of 45 news articles published in online discourses from July to September 2025, we disseminate how different news agencies represent, legitimise, and stigmatise the Japanese First issues.  This study utilises a mixed method consisting of quantitative analysis to provide statistical analysis for linguistic features and qualitative analysis to describe the usage of its features, such as keywords, collocations, and KWIC, which are related to our study. The research combines a corpus-based approach with discourse analysis (CADA) to investigate language use in relation to transitivity analysis. The findings of our analysis reveal differences in transitivity patterns between two corpora in the news articles published in different languages. English-language discourse tends to emphasis perceptual and ideological framing that associates parties with specific values, beliefs, and moral imagery while the Indonesian-language discourse predominantly portrays the performative actions of parties.Keywords: Language and ideology, Japanese First, transivitas halliday, online discourse ABSTRAKMunculnya istilah "Japanese First" dalam wacana media publik dapat ditelusuri hingga kuartal II-2025, berdasarkan laporan terdokumentasi dan liputan berita yang dikumpulkan selama periode kompilasi data. Studi ini melakukan analisis komparatif representasi politik dari isu-isu Jepang Pertama dengan membandingkan liputan di pers berbahasa Inggris dan pers berbahasa Indonesia pada wacana online. Berdasarkan investigasi yang digerakkan oleh korpus dari 45 artikel berita yang diterbitkan dalam wacana online dari Juli hingga September 2025, kami mengeksplorasi bagaimana berbagai kantor berita merepresentasikan, melegitimasi, dan menstigmatisasi masalah Japanese First.  Penelitian ini menggunakan metode campuran yang terdiri dari analisis kuantitatif untuk memberikan analisis statistik untuk fitur linguistik dan analisis kualitatif untuk menggambarkan penggunaan fitur-fiturnya, seperti kata kunci, kolokasi, dan KWIC, yang terkait dengan penelitian kami. Penelitian ini menggabungkan pendekatan berbasis korpus dengan analisis wacana (CADA) untuk menyelidiki penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan analisis transitivitas. Temuan analisis kami mengungkapkan perbedaan pola transitivitas antara dua korpus dalam artikel berita yang diterbitkan dalam bahasa yang berbeda. Wacana berbahasa Inggris cenderung menekankan pembingkaian perseptual dan ideologis yang mengasosiasikan partai dengan nilai, keyakinan, dan citra moral tertentu sementara wacana berbahasa Indonesia sebagian besar menggambarkan tindakan performatif para pihak.Kata Kunci: Bahasa dan kekuasaan, Japanese First, transivitas halliday, wacana daring