cover
Contact Name
abdul basit
Contact Email
basit.umt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalnyimak@gmail.com
Editorial Address
Jl.Mayjen Sutoyo No.2 Kota Tangerang, Provinsi Banten, 15111 Indonesia.
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Nyimak: Journal of Communication
ISSN : 25803803     EISSN : 25803832     DOI : http://dx.doi.org/10.31000/nyimak
Nyimak: Communication Journal to encourage research in communication studies. The focus of this journal are: Public Relations, Advertising, Broadcast, Political Communication, Cross-cultural Communication, Business Communication, and Organizational Communication
Articles 141 Documents
Media Influence on Political Development: Framing Analysis of Aceh's Poverty Reduction Programs Ali, Chaidir; Purnomo, Eko Priyo; Husein, Rachmawati
Nyimak: Journal of Communication Vol 8, No 1 (2024): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v8i1.9267

Abstract

This article explores the role of mass media in shaping public perceptions of poverty alleviation programs in Aceh. Framing analysis based on Robert N. Entman’s theory, this research aims to understand how the mass media chooses focus, point of view and emphasis to present information about the issue of poverty and programs to overcome it. This article describes the complexity of Aceh’s history, especially the armed conflict which had a significant impact on political and economic life. The research is motivated by the need to understand how mass media plays a key role in shaping public opinion regarding poverty alleviation efforts in Aceh. The research method uses a qualitative approach with framing analysis as the main analytical tool. This research uses Ncapture and NVivo to collect and analyze data in the form of news and journal articles related to poverty alleviation programs in Aceh. The sample used was news related to the poverty alleviation program in Aceh published by the mass media detik.com, then analyzed using framing techniques to identify the framing patterns used by the mass media in reporting the poverty alleviation program in Aceh. The results of this analysis show that Aceh still faces serious challenges in overcoming poverty, and the mass media plays an important role in shaping public perceptions of this issue. This article contributes to an understanding of the political dynamics and construction of news related to poverty in Aceh and provides a basis for improving communication strategies in poverty alleviation efforts.Keywords: Media role, development politic, framing, poverty reduction program, AcehABSTRAKArtikel ini mengeksplorasi peran media massa dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap program pengentasan kemiskinan di Aceh. Analisis framing berdasarkan teori Robert N. Entman, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana media massa memilih fokus, sudut pandang, dan penekanan untuk menyajikan informasi tentang isu kemiskinan dan program-program penanggulangannya. Artikel ini menggambarkan kompleksitas sejarah Aceh, terutama konflik bersenjata yang berdampak signifikan pada kehidupan politik dan ekonomi. Penelitian dilatarbelakangi kebutuhan untuk memahami bagaimana media massa memainkan peran kunci dalam membentuk opini publik terhadap upaya pengentasan kemiskinan di Aceh. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis framing sebagai alat analisis utama. Penelitian ini memanfaatkan Ncapture dan NVivo untuk mengumpulkan dan menganalisis data berupa berita dan artikel jurnal terkait program pengentasan kemiskinan di Aceh. Sampel yang digunakan adalah berita-berita terkait program penanggulangan kemiskinan di Aceh yang dipublikasikan oleh media massa detik.com, kemudian dianalisis menggunakan teknik framing untuk mengidentifikasi pola framing yang digunakan media massa dalam melaporkan program penanggulangan kemiskinan di Aceh. Hasil analisis menunjukkan bahwa Aceh masih menghadapi tantangan serius dalam mengatasi kemiskinan, dan media massa memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik terhadap isu tersebut. Artikel ini memberikan kontribusi dalam pemahaman tentang dinamika politik dan konstruksi berita terkait kemiskinan di Aceh serta memberikan landasan bagi perbaikan strategi komunikasi dalam upaya pengentasan kemiskinan.Kata Kunci: Peran media, politik pembangunan, framing, program penanggulangan kemiskinan, Aceh
Disaster Communication in Sleman Regency: Evaluating the SIMANTAB Application's Implementation and Impact Nurjanah, Adhianty; Prawoto, Nano; Apriliani, Riski; Nabilazka, Chalila Raihan
Nyimak: Journal of Communication Vol 8, No 2 (2024): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v8i2.10701

Abstract

Indonesia, located in the Pacific Ring of Fire, is highly vulnerable to natural disasters, particularly volcanic eruptions. The Yogyakarta Province, including Sleman Regency, regularly faces threats from Mount Merapi eruptions. This research aims to analyze the integration of disaster communication in Sleman Regency through a cultural approach and the utilization of the SIMANTAB (Sleman Disaster Resilience Information System) application. Using a qualitative case study method, data were collected through in-depth interviews with the Regional Disaster Management Agency (BPBD), local communities, and residents. The findings reveal that BPBD Sleman successfully integrates technology and local cultural values in crafting effective disaster communication messages. The SIMANTAB application is used as the primary tool in disaster mitigation and management, particularly for Mount Merapi eruptions, while still respecting local wisdom and involving community leaders. This digital innovation aligns with E-Government principles while preserving cultural values in message delivery. Strong leadership commitment, collaboration with media actors, and ongoing training and support for the community enhance preparedness for emergency situations. This study underscores the importance of integrating cultural and technological approaches to strengthen sustainable disaster communication strategies that are responsive to community needs.Keywords: Disaster Communication, SIMANTAB Application, Merapi Mount AbstrakIndonesia, terletak di wilayah cincin api Pasifik, memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam, terutama erupsi gunung berapi. Provinsi Yogyakarta, termasuk Kabupaten Sleman, secara rutin menghadapi ancaman erupsi Gunung Merapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi komunikasi bencana di Kabupaten Sleman melalui pendekatan budaya dan penggunaan aplikasi SIMANTAB (Sistem Informasi Sleman Tangguh Bencana). Menggunakan metode kualitatif dan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), komunitas lokal, dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPBD Sleman berhasil menggabungkan teknologi dan budaya dalam menyusun pesan komunikasi bencana yang efektif. Aplikasi SIMANTAB digunakan sebagai alat utama dalam mitigasi dan penanggulangan bencana, khususnya terkait erupsi Gunung Merapi, dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal dan peran tokoh masyarakat. Inovasi digitalisasi ini sejalan dengan prinsip E-Government, namun tetap mempertahankan nilai budaya dalam penyampaian pesan. Komitmen pemimpin daerah, kolaborasi dengan media, serta pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat memperkuat kesiapan menghadapi situasi darurat. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi budaya dan teknologi dalam memperkuat strategi komunikasi bencana yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Kata Kunci: Komunikasi Bencana, Aplikasi SIMANTAB, Gunung Merapi
Unmasking the Network: The Power Dynamics Behind the Social Movement Against Election Postponement Dewi, Evie Ariadne Shinta; Diyaulmuhana, Diyaulmuhana; Pratamawaty, Benazir Bona
Nyimak: Journal of Communication Vol 8, No 2 (2024): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v8i2.10945

Abstract

This study analyzes and visualizes the network dynamics of the "Tolak Penundaan Pemilu" movement on Twitter, focusing on network structure, types of relationships, and overall connectivity. Using Graph Theory to define the network and Resource Mobilization Theory (RMT) to understand the role of resources, particularly human resources, in mobilizing social movements, the study applies quantitative Social Network Analysis (SNA) to a dataset comprising 2,210 nodes and 1,406 edges. Data was collected through text mining using Netlytic and analyzed with Gephi and Ucinet. The results indicate that the network has a two-mode relationship type with a radial personal network communication pattern, and the relationship direction is directed and asymmetrical. The network structure consists of 35 components, 3 isolated nodes, 47 cutpoints, and no cliques, indicating a fragmented and hierarchical network nature. These findings provide insights into the distribution of information and support within the "Tolak Penundaan Pemilu" movement. This research contributes to the study of social network dynamics in political movements on Twitter by highlighting the interaction between network structure and resource mobilization, offering new perspectives on digital social movement organizational patterns, and enriching the understanding of how social networks influence and facilitate collective action in contemporary political contexts.Keywords: Social Movement, Graph Teory, Reject Election Postponement, SNA, Resource Mobilization TheoryAbstrakPenelitian ini menganalisis dan memvisualisasikan dinamika jaringan gerakan "Tolak Penundaan Pemilu" di Twitter, dengan fokus pada struktur jaringan, jenis hubungan, dan konektivitas keseluruhan. Menggunakan Teori Graf untuk mendefinisikan jaringan serta Teori Mobilisasi Sumber Daya (RMT) untuk memahami peran sumber daya, khususnya sumber daya manusia, dalam memobilisasi gerakan sosial, penelitian ini menerapkan analisis jejaring sosial (SNA) kuantitatif pada dataset yang terdiri dari 2.210 node dan 1.406 edge. Data dikumpulkan melalui text mining menggunakan Netlytic dan dianalisis dengan Gephi serta Ucinet. Hasil menunjukkan bahwa jaringan ini memiliki jenis hubungan dua mode dengan pola komunikasi jaringan personal radial, serta arah hubungan yang terarah dan asimetris. Struktur jaringan terdiri dari 35 komponen, 3 isolated node, 47 cutpoints, tanpa adanya clique, yang menggambarkan sifat jaringan terfragmentasi dan hierarkis. Temuan ini memberikan wawasan tentang distribusi informasi dan dukungan dalam gerakan "Tolak Penundaan Pemilu". Penelitian ini berkontribusi pada kajian dinamika jejaring sosial dalam gerakan politik di Twitter dengan menyoroti interaksi antara struktur jaringan dan mobilisasi sumber daya, memberikan perspektif baru tentang pola organisasi gerakan sosial digital, serta memperkaya pemahaman tentang pengaruh jejaring sosial dalam memfasilitasi aksi kolektif di konteks politik kontemporer.Kata Kunci: Gerakan Sosial, Graph Theory , Tolak Penundaan Pemilu, SNA, Resource Mobilization Theory
Twitter and Online Trust: Ganjar Pranowo and Anies Baswedan Towards the 2024 Presidential Election Yahya, Muhammad; Syukri, Syukri; Syarif, Ahmad; Arni, Arni; Manggaga, Indah Pratiwi; Baharuddin, Tawakkal
Nyimak: Journal of Communication Vol 8, No 1 (2024): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v8i1.8730

Abstract

Leading up to the Presidential Election, Anies Baswedan and Ganjar Pranowo have influenced voters’ political attitudes on Twitter and demonstrated strengthening public trust in both, showing trust’s critical role in the democratization process. This research explores the relationship between Twitter use and online trust in the two candidates in the context of preparations for the 2024 presidential election in Indonesia. This research uses a quantitative approach with sentiment analysis on data from Twitter, which focuses on searching for the keywords #aniesbaswedan (17,998 Tweets) and #ganjarpranowo (17,918 Tweets) to understand the opinions, attitudes, and emotions contained in the text. These findings show that there is potential to transform public trust online. If the candidate uses Twitter effectively and succeeds in building online trust, this can provide an advantage for the candidate in their efforts to achieve victory in the 2024 Presidential Election. Ganjar Pranowo is more dominant in influencing the level of public trust in Twitter to be relatively positive, although Ganjar Pranowo also received quite a negative response. Meanwhile, Anies Baswedan needs to be more dominant to influence public trust on Twitter. The dominant factors affecting the level of trust in candidates are the coalition of political parties, Israel’s rejection, and leadership. This study also found the tendency of other factors to transform trust online, including quality content, consistency, transparency, responsiveness, ethics, sharing of references, and honesty. Social media has the potential to foster political confidence online. However, this depends on how the candidate maximizes the potential of social media.Keywords: Online trust, social media, presidential election, online discussionABSTRAKMenuju Pemilihan Presiden, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo telah memengaruhi sikap politik pemilih di Twitter dan menunjukkan penguatan kepercayaan publik pada keduanya, memperlihatkan peran penting kepercayaan dalam proses demokratisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan Twitter dan kepercayaan online terhadap kedua kandidat tersebut dalam konteks persiapan menuju Pilpres 2024 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis sentimen pada data dari Twitter, yang difokuskan pada pencarian kata kunci #aniesbaswedan (17998 Tweets) dan #ganjarpranowo (17918 Tweets), untuk memahami pendapat, sikap, dan emosi yang terkandung dalam teks. Temuan ini menunjukkan adanya potensi dalam mentransformasikan kepercayaan publik secara daring. Jika kandidat menggunakan Twitter secara efektif dan berhasil membangun kepercayaan online, maka hal tersebut dapat memberikan keuntungan bagi kandidat dalam upaya mencapai kemenangan di Pilpres 2024. Ganjar Pranowo lebih dominan memengaruhi tingkat kepercayaan publik di Twitter menjadi relatif positif, meskipun Ganjar Pranowo juga mendapatkan respon cukup negatif. Sementara itu, Anies Baswedan dianggap tidak cukup dominan memengaruhi kepercayaan publik di Twitter. Faktor dominan yang memengaruhi tingkat kepercayaan pada kandidat adalah koalisi partai politik, penolakan Israel, dan kepemimpinan. Studi ini juga menemukan kecenderungan dari faktor lainnya untuk mentransformasikan kepercayaan secara daring di antaranya adalah konten berkualitas, konsistensi, transparansi, responsif, etika, berbagi referensi, dan kejujuran. Media sosial memiliki potensi untuk menumbuhkan kepercayaan politik secara daring. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana kandidat memaksimalkan potensi media sosial tersebut.Kata Kunci: Kepercayaan daring, media sosial, pemilihan presiden, diskusi daring
Communication Dynamics and Elite Perceptions: Assessing Government Policy Effectiveness in Sumberglagah Leprosy Village, Indonesia Hidayat, Endik; Susilo, Daniel; Ansyah, Rahmat Hussein Andri; Dizon, Carl C.G.
Nyimak: Journal of Communication Vol 8, No 2 (2024): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v8i2.12182

Abstract

Stigma and discrimination continue to persist in the leprosy village of Sumberglagah, despite government efforts to provide social assistance and community empowerment programs. This article aims to uncover the dynamics of communication and the perceptions of village elites and community members regarding the effectiveness of various government policies targeting Sumberglagah. Utilizing elite theory and a three-dimensional framework—cognitive, affective, and conative—the study employs a mixed-methods approach. Qualitative data were gathered through interviews with five elite village informants, while quantitative data were collected from a survey of 100 respondents in Tanjungkenongo village. Findings indicate that, from the elite perspective, government programs are perceived as relatively ineffective in addressing the needs of the leprosy community, primarily due to a culture of reliance on external assistance from both government and non-government sources. In contrast, quantitative analysis reveals that the community generally expresses satisfaction with government programs, with an average satisfaction score exceeding 4. However, there is notable skepticism regarding the long-term impact of these programs, as reflected in the low community engagement with government-initiated empowerment programs. This study highlights the divergence in perceptions between elites and the community concerning government interventions, emphasizing the need for more effective and culturally attuned strategies to address the unique challenges faced by leprosy-affected communities.Keywords: Policy; Elite; Village Community; LeprosyAbstrakStigma dan diskriminasi masih terjadi di desa leprosy Sumberglagah, meskipun pemerintah telah berupaya memberikan program bantuan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap dinamika komunikasi dan persepsi elit desa serta masyarakat terkait efektivitas berbagai kebijakan pemerintah di Sumberglagah. Dengan menggunakan teori elit dan kerangka tiga dimensi—kognitif, afektif, dan konatif—penelitian ini mengadopsi pendekatan metode campuran. Data kualitatif diperoleh dari wawancara dengan lima informan elit desa, sementara data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 100 responden di desa Tanjungkenongo. Temuan menunjukkan bahwa dari perspektif elit, program pemerintah cenderung dianggap kurang efektif dalam memenuhi kebutuhan komunitas leprosy, disebabkan oleh budaya ketergantungan pada bantuan dari pihak pemerintah dan non-pemerintah. Sebaliknya, analisis kuantitatif mengungkapkan bahwa masyarakat umumnya merasa puas dengan program pemerintah, dengan rata-rata skor kepuasan melebihi 4. Namun, terdapat skeptisisme mengenai dampak jangka panjang dari program tersebut, tercermin dari rendahnya partisipasi masyarakat dalam program pemberdayaan yang diinisiasi pemerintah. Penelitian ini menyoroti perbedaan persepsi antara elit dan masyarakat tentang intervensi pemerintah, menekankan perlunya strategi yang lebih efektif dan sesuai dengan konteks budaya untuk menghadapi tantangan unik yang dihadapi komunitas yang terkena dampak lepra.Kata Kunci: Kebijakan; Elit; Masyarakat Desa; Kusta
Social Communication for Rural Development: Lesson Learning from Creative Village Anwar, Rully Khairul; Rizal, Edwin; Hafiar, Hanny; Sirait, Rinda Aunillah
Nyimak: Journal of Communication Vol 8, No 1 (2024): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v8i1.9579

Abstract

This investigation examines the development of rural communities, with a specific emphasis on participation, collaboration, and empowerment. A Creative Village (Creavill) serves as a prime example of effective, sustainable development through the implementation of economic and educational programs. The importance of community engagement in achieving comprehensive development cannot be overemphasized enough. This investigation endeavors to examine the social communication patterns amongst agriculturists and their influence on the assurance of sufficient food provisions and the enhancement of rural areas. The knowledge acquired provides important insights into strategies for enhancing resilience, especially in overcoming the challenges posed by disparities between urban and rural areas. This study focuses on the community development projects spearheaded by Creative Village, using qualitative research methodologies and case study analysis. The community’s empowerment is realized via the collaborative efforts of several sectors, including business and education. The case study of Garut Regency is an example of the success of a creative community that has effectively increased its income using new techniques. The sustained impact of empowerment requires continued commitment and cooperative participation from government agencies, communities, and outside organizations. The achievements of Creavill emphasize the importance of implementing sustainable practices. This directly supports the acceleration of comprehensive development and offers concrete solutions to economic and environmental issues faced by rural communities. This success is achieved through collaborative efforts across various complementary sectors.Keywords: Social communication, rural development, community, farmers, food securityABSTRAKPenelitian ini mengkaji proses pengembangan komunitas pedesaan, dengan fokus khusus pada konsep-konsep partisipasi, kolaborasi, dan pemberdayaan. Creavill berfungsi sebagai contoh utama pengembangan yang efektif dan berkelanjutan melalui pelaksanaan program ekonomi dan pendidikan. Pentingnya keterlibatan komunitas dalam mencapai pengembangan yang komprehensif tidak dapat ditekankan cukup. Penelitian ini berusaha memahami pola komunikasi sosial di antara petani dan bagaimana pola-pola ini mempengaruhi keamanan pangan dan kemajuan daerah pedesaan. Pengetahuan yang diperoleh memberikan wawasan penting ke dalam strategi untuk meningkatkan ketahanan, terutama dalam mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh disparitas antara area urban dan rural. Melalui penerapan metode penelitian kualitatif dan analisis studi kasus, investigasi berfokus pada inisiatif pengembangan komunitas yang dipimpin Creative Village. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberdayaan komunitas dicapai melalui upaya bersama dari berbagai sektor, seperti bisnis dan pendidikan. Studi kasus Kabupaten Garut merupakan contoh keberhasilan komunitas kreatif yang secara efektif meningkatkan pendapatannya menggunakan teknik-teknik baru. Dampak pemberdayaan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen dan partisipasi kerjasama yang terus menerus dari lembaga pemerintah, komunitas, dan organisasi luar. Keberhasilan Creavill menekankan pentingnya penerapan praktik berkelanjutan. Ini secara langsung mendukung percepatan pengembangan komprehensif dan menawarkan solusi konkret terhadap masalah ekonomi dan lingkungan yang dihadapi oleh komunitas pedesaan. Keberhasilan ini dicapai melalui upaya kolaboratif lintas berbagai sektor yang saling melengkapi.Kata Kunci: Komunikasi sosial, pembangunan pedesaan, masyarakat, petani, ketahanan pangan
The Role of Communication in Structuring Religionists and the Military for Blue Economy Development Chamidah, Nurul; Rosyidi, Moch. Imron; Putra, Andri Azis; Suwarno, Panji
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.12598

Abstract

The development of Indonesia’s Blue Economic Zone relies on effective communication structures to facilitate coordination among key stakeholders. However, the interaction between religious leaders and the military in this process presents structural challenges that impact collaboration efforts. Using Giddens’ Structuration Theory as a framework, this study examines how communication dynamics shape the roles of these two groups in the Blue Economy’s development.This qualitative case study was conducted across six Indonesian provinces, involving informants from the TNI, religious leadership, and local communities. Findings indicate that collaboration remains weak, as discussions rarely prioritize joint efforts—accounting for less than 50% of total deliberations. Moreover, differing interpretations of economic development create contrasting discourses: the military emphasizes security and strategic control, while religious leaders focus on ethical stewardship and community welfare. This structural disconnect hinders cohesive policy-making and implementation.To bridge this gap, the study suggests the establishment of an ad hoc communication task force to foster structured dialogue and legitimacy between these actors. These findings contribute to the understanding of communication in multi-stakeholder governance and highlight the need for adaptive institutional structures in Blue Economy initiativesKeywords: Structuration, Religionist and Military, Development Communication ABSTRAKPengembangan Zona Ekonomi Biru di Indonesia bergantung pada struktur komunikasi yang efektif untuk memfasilitasi koordinasi di antara para pemangku kepentingan utama. Namun, interaksi antara pemuka agama dan militer dalam proses ini menghadirkan tantangan struktural yang berdampak pada upaya kolaborasi. Dengan menggunakan Teori Strukturasi Giddens sebagai kerangka analisis, penelitian ini mengkaji bagaimana dinamika komunikasi membentuk peran kedua kelompok tersebut dalam pengembangan Ekonomi Biru. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif yang dilakukan di enam provinsi di Indonesia, dengan informan yang terdiri dari anggota TNI, pemuka agama, dan komunitas lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi masih lemah, di mana diskusi terkait pengembangan Ekonomi Biru jarang menempatkan kerja sama sebagai prioritas utama—tercatat bahwa kolaborasi hanya dibahas dalam kurang dari 50% dari total diskusi yang dilakukan. Selain itu, terdapat perbedaan interpretasi mengenai konsep pembangunan ekonomi, di mana militer lebih menitikberatkan pada aspek keamanan dan kontrol strategis, sedangkan pemuka agama lebih berfokus pada pengelolaan etis serta kesejahteraan masyarakat. Ketidaksinambungan struktural ini menghambat perumusan kebijakan yang kohesif serta implementasi program secara efektif. Untuk menjembatani kesenjangan ini, penelitian ini merekomendasikan pembentukan gugus tugas komunikasi ad hoc guna mendorong dialog yang lebih terstruktur serta membangun legitimasi antara kedua aktor tersebut. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pemahaman komunikasi dalam tata kelola multi-pemangku kepentingan serta menekankan perlunya struktur kelembagaan yang adaptif dalam inisiatif Ekonomi Biru.Kata Kunci:  Ekonomi Lokal, Komunikasi Kewirausahaan, Mitos, Pariwisata Berkelanjutan, Wisata Religi.
Religious Tourism Development through Policy Formulation: Synergy of Myth, Tradition, and Entrepreneurial Communication Subekti, Priyo; Rejeki, Diah Sri; Wada, Ibrahim; Hafiar, Hanny
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.12597

Abstract

Religious tourism is pilgrimages and visits to holy places for religious ceremonies.  Considered a major pilgrimage site, the Tomb of Sheikh Quro in Karawang is visited often for spiritual reasons.  Apart from its intrinsic value, religious travel boosts the local economy and helps small businesses and traders especially.  It generates fresh business prospects, therefore helping nearby towns. The synergy between myths and entrepreneurial communication in maintaining religious tourism is investigated in this paper.  It gathers data by participant observation, in-depth interviews, and surveys using a descriptive approach including quantitative and qualitative data.  Results expose that stories about Sheikh Quro's miracles draw pilgrims and support economic development, especially in small trade, lodging, and transportation. The study emphasizes how religious beliefs and cultural narratives can define entrepreneurial communication.  By involving the local community in the upkeep of Sheikh Quro's Tomb, spiritual relics are kept intact and economic gains are raised.  By means of focused campaigns and outstanding services, strategic communication enables local businesses to maximize pilgrim arrivals, so increasing visitor happiness and tourist sustainability.Keywords: Cultural narrative, Entrepreneurial communication, Local economy, Sustainable tourism, Tourism communication.ABSTRAKWisata religi adalah ziarah dan kunjungan ke tempat-tempat suci untuk upacara keagamaan. Dianggap sebagai situs ziarah utama, Makam Syekh Quro di Karawang sering dikunjungi karena alasan spiritual. Terlepas dari nilai intrinsiknya, perjalanan religius meningkatkan ekonomi lokal dan membantu usaha kecil dan pedagang khususnya. Hal ini menghasilkan prospek bisnis yang segar, sehingga membantu kota-kota di sekitarnya. Sinergi antara mitos dan komunikasi kewirausahaan dalam mempertahankan wisata religi diselidiki dalam makalah ini. Penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan survei dengan menggunakan pendekatan deskriptif termasuk data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita tentang mukjizat Syekh Quro menarik para peziarah dan mendukung pembangunan ekonomi, terutama dalam perdagangan kecil, penginapan, dan transportasi. Penelitian ini menekankan bagaimana kepercayaan agama dan narasi budaya dapat mendefinisikan komunikasi kewirausahaan. Dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pemeliharaan Makam Syekh Quro, peninggalan spiritual tetap terjaga dan keuntungan ekonomi meningkat. Melalui kampanye yang terfokus dan layanan yang luar biasa, komunikasi strategis memungkinkan bisnis lokal untuk memaksimalkan kedatangan peziarah, sehingga meningkatkan kebahagiaan pengunjung dan keberlanjutan wisata.Kata Kunci:  Ekonomi lokal, Komunikasi kewirausahaan, Mitos, Pariwisata berkelanjutan, Wisata religi
Self-Disclosure in Toxic Relationship in Victims of Affairs Under the Suspicion of Rifka Annisa Foundation Utomo, Ardian Setio; Harjo, Feysa Evina Sugih; Widhihatmini, Widhihatmini
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.12265

Abstract

Infidelity can occur due to a lack of quality interpersonal communication between partners. This study aims to analyze communication patterns in toxic relationships and how communication is used as a strategy in dealing with infidelity in victims of infidelity who are under the auspices of the Rifka Annisa Foundation. The theory used in this study is the theory of relationship stages, where relationships occur gradually, moving from initial contact to deeper intimacy and sometimes even shifting to damage. This study uses a qualitative approach. Data collection was carried out through documentation, observation, and in-depth interviews with six people. In this study, data analysis was carried out interactively. The results of the study found that self-disclosure plays an important role in the stages of toxic relationships. However, if there is a decrease in self-disclosure, it can lead to potential conflict and injustice. Self-disclosure is related to the victim's perception of injustice in understanding the complexity of interpersonal conflict because interpersonal communication built between partners tends to be manipulative, and responses to infidelity vary, including proactive efforts to improve relationships, focus on self-well-being, seek help from a counselor and break off relations with a partner.Keyword: Interpersonal Communication, Relationship Stages, Self-Disclosure, Toxic RelationshipABSTRAKPerselingkuhan dapat terjadi akibat kurangnya kualitas komunikasi interpersonal antara pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi dalam hubungan toksik dan bagaimana komunikasi digunakan sebagai strategi dalam menghadapi perselingkuhan pada korban perselingkuhan yang berada di bawah naungan Yayasan Rifka Annisa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tahapan hubungan, dimana hubungan terjadi secara bertahap, bergerak dari kontak awal menuju keintiman yang lebih dalam dan terkadang bahkan bergeser ke arah kerusakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam terhadap enam orang. Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara interaktif. Hasil penelitian menemukan bahwa pengungkapan diri memegang peranan penting dalam tahapan hubungan toksik. Namun, apabila terjadi penurunan pengungkapan diri, maka dapat menimbulkan potensi konflik dan ketidakadilan. Pengungkapan diri terkait dengan persepsi korban tentang ketidakadilan dalam memahami kompleksitas konflik interpersonal karena komunikasi interpersonal yang dibangun antara pasangan cenderung manipulatif, dan respons terhadap perselingkuhan bervariasi, termasuk upaya proaktif untuk meningkatkan hubungan, fokus pada kesejahteraan diri, mencari bantuan dari konselor dan memutuskan hubungan dengan pasangan.Kata Kunci: Komunikasi Antarpribadi, Tahapan Hubungan, Pengungkapan Diri, Hubungan Beracun
“PERINGATAN DARURAT” AS A CANCEL CULTURE MOVEMENT THROUGH SOCIAL MEDIA IN INDONESIA Wempi, Jefri Audi; Chrisdina, Chrisdina; Rully, Rully
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.13075

Abstract

At that time, the Indonesian government was organizing regional elections, part of the ongoing general election process following the presidential and legislative elections. In a short period, a public movement emerged to reject and cancel the Draft Law (RUU) proposed by the Indonesian Parliament, following the Constitutional Court's ruling on presidential nomination thresholds and political party participation in elections. The "Cancel Culture" movement, known as the "Emergency Alert," quickly gained momentum and was carried out by various groups across Indonesia. It culminated in massive demonstrations involving diverse communities. This study’s key question is how the "Emergency Alert" movement, through social media, managed to oppose the regional election bill so quickly and effectively, motivating people to participate in both online and physical protests. The research aims to understand the content and platforms used in social media to shape public participation, and how the characteristics of new media triggered rapid and widespread engagement. Using new media, social media, and cancel culture theories, this qualitative research with a constructivist framework found that new media characteristics—interactivity, friendliness, richness, autonomy, playfulness, privacy, and personalization—were crucial in mobilizing support for the "Emergency Alert" movement.Keywords: Digital Political Activism, Cancel Culture, Emergency AlertABSTRAKPemerintah Indonesia saat itu tengah menyelenggarakan pemilihan kepala daerah, bagian dari proses pemilihan umum yang sedang berlangsung setelah pemilihan presiden dan legislatif. Dalam waktu yang singkat, muncul gerakan masyarakat untuk menolak dan membatalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan oleh DPR RI, menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi ketentuan mengenai ambang batas pencalonan presiden dan partisipasi partai politik dalam pemilu. Gerakan "cancel culture" yang dikenal sebagai "Peringatan Darurat" dengan cepat mendapatkan momentum dan dilakukan oleh berbagai kelompok di seluruh Indonesia. Puncaknya adalah demonstrasi besar-besaran yang melibatkan berbagai komunitas. Pertanyaan utama dari penelitian ini adalah bagaimana gerakan "Peringatan Darurat" melalui media sosial berhasil menentang RUU PILKADA dengan begitu cepat dan efektif, memotivasi orang untuk berpartisipasi dalam protes fisik dan online. Penelitian ini berupaya memahami konten dan platform media sosial yang digunakan untuk membentuk partisipasi publik dalam gerakan ini, dan bagaimana karakteristik media baru memicu keterlibatan yang cepat dan meluas. Penelitian ini menggunakan teori media baru, media sosial, dan budaya pembatalan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka konstruktivis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa karakteristik media baru—interaktivitas, keramahan, kekayaan media, otonomi, keceriaan, privasi, dan personalisasi—sangat penting dalam memobilisasi dukungan untuk gerakan “Peringatan Darurat”.Kata Kunci:  Aktivitas Politik Digital, Cancel Culture, Peringatan Darurat