cover
Contact Name
abdul basit
Contact Email
basit.umt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalnyimak@gmail.com
Editorial Address
Jl.Mayjen Sutoyo No.2 Kota Tangerang, Provinsi Banten, 15111 Indonesia.
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Nyimak: Journal of Communication
ISSN : 25803803     EISSN : 25803832     DOI : http://dx.doi.org/10.31000/nyimak
Nyimak: Communication Journal to encourage research in communication studies. The focus of this journal are: Public Relations, Advertising, Broadcast, Political Communication, Cross-cultural Communication, Business Communication, and Organizational Communication
Articles 141 Documents
The Ideological Upheaval of Stakeholders in Online News about AI as CEO Farady, Rustono Marta; Panggabean, Hana; Sunaringsih, Monica Sri; Qorib, Fathul; Bangun, Nurlina
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.12806

Abstract

In today's digital age, a more critical approach is needed to understand the social and ethical implications of Artificial Intelegence (AI) on future corporate governance, including human oversight in the application of AI itself. The aim of this study is to analyze how three international media outlets, DQ India, The Independent and Business Insider, portray the adoption of AI-based Chief Executive Officer or abbriviated as CEO's in the context of corporate governance. Using Entman's framing analysis, it identifies the themes, narratives and ideologies in the news about AI in corporate governance and examines how differences in media ideology influence the view of this technology. Stakeholder and shareholder theory is used to identify how the media connects AI to traditional theories in the world of corporate identity. The findings reveal the existence of the media's political economy as the main axis, showing that DQ India views AI as a solution to improve operational efficiency and reduce reliance on human managers. In contrast, The Independent takes a more cautious view, considering the potential risks and ethical implications of AI adoption. Business Insider, on the other hand, focused on the financial benefits that companies can realize by using AI in business management.Keyword: Corporate Identity; Digital Leadership; Framing Analysis; Political Economy of Media; Stakeholder Theory.ABSTRAKDi era serba digital saat ini perlu ada pendekatan yang lebih kritis dalam memahami dampak sosial dan etika Kecerdasan Artifisial (AI) dalam kepemimpinan masa depan, termasuk pengawasan manusia dalam penerapan AI itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tiga media internasional, DQ India, The Independent, dan Business Insider, membingkai adopsi Chief Executive Officer (CEO) berbasis AI dalam konteks kepemimpinan perusahaan. Penelitian ini menggunakan Analisis Framing Entman, diarahkan untuk mengidentifikasi tema, narasi, dan ideologi yang terkandung dalam berita tentang AI dalam kepemimpinan, serta bagaimana perbedaan ideologi media mempengaruhi perspektif terhadap teknologi ini. Teori pemangku kepentingan dan pemegang saham digunakan untuk melihat bagaimana media menghubungkan AI dengan teori tradisional terkait identitas korporasi. Hasilnya menunjukkan adanya pusara ekonomi politik media sebagai poros utama yang menunjukkan bahwa DQ India memandang AI sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi ketergantungan pada manajer manusia. Sebaliknya, The Independent menyajikan pandangan yang lebih hati-hati dengan mempertimbangkan potensi risiko dan penerapan etis dari adopsi AI. Sementara itu, Business Insider fokus pada manfaat finansial yang dapat diperoleh perusahaan dengan mengadopsi AI dalam kepemimpinan.Kata Kunci: Analisis Pembingkaian; Ekonomi Politik Media; Identitas Korporasi; Kepemimpinan Digital; Teori Pemangku Kepentingan
A Bibliometric Analysis of Cross-Cultural Communication on Digital Platforms: Mapping Collaboration, Citations, and Research Themes Safitri, Arroyya Nur; Anwar, Rully Khairul; Winoto, Yunus; Damayani, Ninis Agustini; Kusnandar, Kusnandar
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.12968

Abstract

This study aims to map the research landscape of cross-cultural communication on digital platforms, identify knowledge gaps, and analyze existing trends. Specifically, this research examines the evolution of research, inter-country collaboration, and its impact. Quantitative bibliometric methods were applied to data from the Scopus database (2011–2024), analyzing key indicators such as the number of publications, citations, h-index, keyword trends, and author collaboration networks (co-authorship networks). The results show the dominance of the United States in the number of publications (157) and citations (69), reflecting a strong research ecosystem and global influence. Collaboration network analysis shows that while some countries, such as China, have strong intra-country collaboration (indicated by high Single Country Publications (SCP)), other countries, such as Spain, show more significant international collaboration (Multiple Country Publications/MCP). Developing countries, although their contribution is smaller quantitatively, exhibit unique collaboration patterns that focus on regional and local issues, enriching the global perspective in this research. This study identifies a lack of in-depth studies on specific digital platforms beyond Western-based platforms, as well as the need for further research on the impact of non-Western cultures in online interactions.Keywords: Cross-Cultural Communication, Digital Platforms, Collaboration, Citation, Bibliometrics. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memetakan lanskap penelitian komunikasi lintas budaya di platform digital, mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan, dan menganalisis tren yang ada. Secara khusus, penelitian ini mengkaji evolusi penelitian, kolaborasi antarnegara, dan dampaknya. Metode bibliometrik kuantitatif diterapkan pada data dari database Scopus (2011–2024), dengan menganalisis indikator kunci seperti jumlah publikasi, sitasi, h-index, tren kata kunci, dan jaringan kolaborasi penulis (co-authorship networks). Hasil penelitian menunjukkan dominasi Amerika Serikat dalam jumlah publikasi (157) dan sitasi (69), yang mencerminkan ekosistem penelitian yang kuat dan pengaruh global. Analisis jaringan kolaborasi menunjukkan bahwa sementara beberapa negara, seperti Tiongkok, memiliki kolaborasi intra-country yang kuat (ditunjukkan oleh Single Country Publications (SCP) yang tinggi), negara lain, seperti Spanyol, menunjukkan kolaborasi internasional yang lebih signifikan (Multiple Country Publications/MCP). Negara-negara berkembang, meskipun kontribusinya lebih kecil secara kuantitatif, menunjukkan pola kolaborasi unik yang berfokus pada isu-isu regional dan lokal, memperkaya perspektif global dalam penelitian ini. Penelitian ini mengidentifikasi kurangnya studi mendalam tentang platform digital spesifik di luar platform yang berbasis di Barat, serta perlunya penelitian lebih lanjut tentang dampak budaya non-Barat dalam interaksi online.Kata Kunci: Komunikasi Lintas Budaya, Platform Digital, Kolaborasi, Sitasi, Bibliometrik.
To What Extent Do Online News Platforms Frame Environmental Issues? A Content News Analysis In Indonesia's Dompu Maize Development Program Wicaksono, Baskoro; Rahmat, Al Fauzi; Rahmanto, Fajar; Rafi, M.; Dávid, Lóránt Dénes
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 1 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i1.12797

Abstract

This article examines how online news frames environmental issues in the corn development program in Dompu, West Nusa Tenggara, Indonesia. Furthermore, this article uses qualitative-exploratory research to analyze the news content with the analytical knife of Robert M. Entmen's framing model. Then, the data analysis tool uses NVivo 12 Plus to code the data and distribute terms and words that correlate with the framing of online news. The findings showed that certain aspects of the maize development program were more prominent, in general, the national online media emphasized elements of “make moral judgment” and “treatment recommendation”. In contrast, the local online media emphasized “define problem” and “diagnose cause”. Both online media explicitly instructed how environmental issues in Dompu Regency are important for environmental journalists. Thus, this implies differences in framing between national and local online media, and illustrates that environmental journalists have an important role in framing environmental issues.Keyword: Media framing, Online news, Environment issues, Corn program, Dompu. ABSTRAKArtikel ini meneliti bagaimana berita online membingkai isu lingkungan dalam program pengembangan jagung di Dompu, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Lebih lanjut, artikel ini menggunakan penelitian kualitatif-eksploratif untuk menganalisis konten berita dengan pisau analisis model framing Robert M. Entmen. Kemudian, alat analisis data menggunakan NVivo 12 Plus untuk mengkodekan data dan mendistribusikan istilah dan kata-kata yang berkorelasi dengan pembingkaian berita online. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek tertentu dari program pengembangan jagung lebih menonjol, secara umum, media daring nasional menekankan unsur “make moral judgment” dan juga “treatment recommendation”. Sebaliknya, media daring lokal menekankan pada unsur “define problem” dan “diagnose cause”. Kedua media daring tersebut secara eksplisit menginstruksikan bagaimana isu lingkungan di Kabupaten Dompu menjadi penting bagi jurnalis lingkungan. Dengan demikian, penelitian ini menyiratkan adanya perbedaan pembingkaian antara media daring nasional dan lokal, dan menggambarkan bahwa jurnalis lingkungan memiliki peran penting dalam membingkai isu-isu lingkunganKata Kunci: Pembingkaian media, Berita online, Isu lingkungan, Program jagung, Dompu.
Consolidating Democracy: Political Communication and Public Trust in Early Leadership Post-Election in Indonesia Syukri, Syukri; Baharuddin, Tawakkal; Hassan, Mohd Sufiean
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.14092

Abstract

This study aims to understand the influence of political communication on public trust in the early post-election leadership period in Indonesia, which is often referred to as the honeymoon period. It also aims to address a gap in existing studies by emphasizing the strategic importance of political communication in this critical stage of governmental transition. This study uses a quantitative approach, and the primary data source is represented by the dataset of the Populix survey on?social media users X and TikTok, as well as additional data collected independently, such as scientific articles, news, and website information. The supplemental material was coded?via NVivo 12 Plus by adopting the method of systematic coding. These findings indicate that transparent, open, and interactive political communication is very important in building public trust in new leaders after the elections in Indonesia. Factors such as transparency, openness of information, and effective use of social media and digital platforms are key to strengthening legitimacy and public support while maintaining political stability in democratic consolidation. Furthermore, the public satisfaction levels in the different sectors in?the first 100 days of leadership also indicate a positive relationship between responsive political communication and support and the new government’s legitimacy. Keywords: Political communication, public trust, early leadership, post-election, honeymoon period  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh komunikasi politik terhadap kepercayaan publik pada masa awal kepemimpinan pascapemilu di Indonesia, yang sering disebut sebagai honeymoon period. Studi ini juga dimaksudkan untuk mengisi kekosongan literatur yang selama ini kurang menyoroti peran strategis komunikasi politik dalam fase krusial transisi pemerintahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data utama berupa hasil survei Populix yang mencerminkan persepsi pengguna media sosial X dan TikTok, serta data tambahan yang dikumpulkan secara mandiri berupa artikel ilmiah, berita, dan informasi relevan dari situs web. Data tambahan tersebut dianalisis menggunakan NVivo 12 Plus melalui proses coding secara sistematis. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi politik yang transparan, terbuka, dan interaktif sangat penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap pemimpin baru pasca pemilu di Indonesia. Faktor seperti transparansi, keterbukaan informasi, serta penggunaan media sosial dan platform digital secara efektif menjadi kunci memperkuat legitimasi dan dukungan publik, sekaligus menjaga stabilitas politik dalam proses konsolidasi demokrasi. Selain itu, tingkat kepuasan publik terhadap berbagai sektor pada 100 hari pertama masa kepemimpinan juga mencerminkan korelasi positif antara komunikasi politik yang responsif dengan meningkatnya dukungan dan legitimasi terhadap pemerintahan baru. Kata Kunci: Komunikasi politik, kepercayaan pPublik, kepemimpinan awal, pascapemilu, honeymoon period 
Bridging Policy and Public: Stakeholder Engagement Strategy in Indonesia's Ministry of Finance Zulfiningrum, Rahmawati; Indrayani, Heni; Aditia, Nico; Harriadi, Ibrahim; Sumartias, Suwandi; Jaya, Joana
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.14563

Abstract

In the era of information transparency and rising public expectations, governmental institution face challenges not only in disseminating information but also in cultivating lasting stakeholder relationships. The Ministry of Finance of the Republic of Indonesia, as the principal administrator of fiscal policy, must manage fiscal communication in a way that balances efficiency with inclusivity. This study examines the Ministry's communication strategy for engaging both internal and external stakeholders. Employing Stakeholder Engagement theory, a qualitative methodology, and a case study approach, data were gathered via in-depth interviews with six heads of Sub-Division from the Bureau of Communication and Information Services, Ministry of Finance. Research indicates that stakeholder engagement techniques concentrate on four approaches: dialogue, information distribution, message transmission, and broadcasting. Internal elements, including motivation, authority, and organizational dynamics, affect communication efficacy. Stakeholder mapping, communication strategy, and risk management are essential in the external setting. These practices demonstrate how internal organizational capacity and external stakeholder dynamics jointly influence engagement outcomes, including legitimacy, participation, and collaborative value creation. The primary contribution of this study is the development of a conceptual model that explains the mechanisms linking internal organizational factors to external stakeholder engagement. This model offers a comprehensive understanding of how state institutions can transform communication into participatory and accountable governance. It emphasizes the significance of transformative communication in promoting participatory, inclusive, transparent, and responsive governance that aligns with public needs. Keywords: External communication, internal communication, public participation, stakeholder engagement, strategic communication ABSTRAKDi era transparansi informasi dan meningkatnya ekspektasi publik, lembaga pemerintah menghadapi tantangan tidak hanya dalam menyebarkan informasi tetapi juga dalam membangun hubungan pemangku kepentingan yang berkelanjutan. Kementerian Keuangan Republik Indonesia, sebagai administrator utama kebijakan fiskal, harus mengelola komunikasi fiskal dengan menyeimbangkan efisiensi dan inklusivitas. Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi Kementerian dalam melibatkan pemangku kepentingan internal dan eksternal. Dengan menggunakan teori Stakeholder Engagement, metodologi kualitatif, dan pendekatan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan enam kepala Sub Bagian dari Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik keterlibatan pemangku kepentingan berpusat pada empat pendekatan: dialog, distribusi informasi, penyampaian pesan, dan penyiaran. Faktor internal termasuk motivasi, otoritas, dan dinamika organisasi yang mempengaruhi efektivitas komunikasi, sedangkan proses eksternal seperti pemetaan pemangku kepentingan, perancangan strategi, dan manajemen risiko menjadi landasan operasional. Praktik-praktik ini menunjukkan bagaimana kapasitas organisasi internal dan dinamika pemangku kepentingan eksternal secara bersama-sama membentuk hasil keterlibatan, seperti legitimasi, partisipasi, dan penciptaan nilai kolaboratif. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan model konseptual yang menjelaskan mekanisme yang menghubungkan faktor internal organisasi dengan keterlibatan pemangku kepentingan eksternal. Model ini menawarkan pemahaman komprehensif tentang bagaimana lembaga negara dapat mengubah komunikasi menjadi tata kelola yang partisipatif dan akuntabel. Penelitian ini menekankan pentingnya komunikasi transformatif dalam mendorong tata kelola yang partisipatif, inklusif, transparan, dan responsif sesuai dengan kebutuhan publik.Kata Kunci: Komunikasi eksternal, komunikasi internal, komunikasi strategis, partisipasi publik, stakeholder engagement
Online Media Framing of Mining Permit Policies of Religious Mass Organizations (Ormas): A Study on Detik.com and Kompas.com Maududi, Mukhlish Muhammad; Ramadlan, Said; Digdoyo, Eko
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.14261

Abstract

Government policy granting mining management permits to religious mass organizations (ormas) has sparked a range of public responses and has become a sensitive issue that is widely covered by the media. This study aimed to analyze how online media framing shapes public discourse regarding policy, particularly through coverage by Detik.com and Kompas.com. The research employs a qualitative approach using Entman’s framing analysis model, which includes four elements: defining problems, diagnosing causes, making moral judgments, and suggesting remedies. Data were collected from 58 news articles published between May and July of 2024 (26 from Detik.com and 32 from Kompas.com). The analysis technique involved content categorization and narrative interpretation of each framing element. The results show that Detik.com tends to frame the issue in a neutral and procedural manner, predominantly featuring elite quotations, without exploring conflicts or making moral judgments. By contrast, Kompas.com presents a more reflective and deliberative framing, highlighting internal disagreements within the ormas and drawing attention to the moral, environmental, and social aspects of mining policy. This difference in framing reflects each media outlet’s editorial orientation and position within the media power structure. These findings underscore that online media is not homogeneous and that news framing can shape diverse public perceptions and discourses about state policies. This study contributes to the scholarly examination of digital media framing in Indonesia, in the context of differing perspectives and societal narratives regarding state policies and natural resources. Keywords: Entman, framing, mining, Muhammadiyah  ABSTRAKKebijakan pemerintah yang memberikan izin pengelolaan tambang kepada organisasi masyarakat (ormas) keagamaan menimbulkan beragam respons publik dan menjadi isu sensitif yang diliput luas oleh media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana framing media online membentuk wacana publik atas kebijakan tersebut, khususnya melalui pemberitaan Detik.com dan Kompas.com. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis framing model Entman yang mencakup empat elemen: define problems, diagnose causes, make moral judgment, dan suggest remedies. Data diambil dari 58 berita yang terbit pada Mei–Juli 2024 (26 dari Detik.com dan 32 dari Kompas.com). Teknik analisis dilakukan dengan kategorisasi isi dan interpretasi naratif per elemen framing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com cenderung membingkai isu secara netral dan prosedural, dengan dominasi kutipan elite tanpa eksplorasi konflik atau penilaian moral. Sebaliknya, Kompas.com menunjukkan framing yang lebih reflektif dan deliberatif, dengan mengangkat perbedaan pendapat internal ormas, serta menyoroti aspek moral, lingkungan, dan sosial dari kebijakan tambang. Perbedaan framing ini mencerminkan orientasi redaksional masing-masing media serta posisi mereka dalam struktur kekuasaan media. Temuan ini menegaskan bahwa media online tidak bersifat homogen, dan framing berita dapat membentuk persepsi serta wacana publik yang beragam atas kebijakan negara. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian framing media digital di Indonesia dalam konteks perbedaan pandangan dalam narasi dan perspektif masyarakat tentang Kebijakan Negara dan sumber daya ala.Kata Kunci: Entman, framing, tambang, Muhammadiyah 
The Role of Dayah Ulama in Political Communication during the 2024 Aceh Elections Arahman, Zulfikar; Alamsyah, Muhibuddin
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.13948

Abstract

Dayah ulama in Aceh play a central role in shaping social and political order through their strong moral legitimacy. In the 2024 Aceh regional election, their involvement reflects a shift from moral figures to strategic political actors. This study illustrates how dayah ulama’s political communication influences public participation and shapes local political dynamics. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and thematic analysis. Findings show that dayah ulama utilize traditional preaching and modern strategies, such as social media, to expand political influence. [Added: Reference to integrative vs. polarizing impacts]. Their involvement goes beyond candidate support, constructing political narratives emphasizing pious leadership, sharia protection, and Islamic values in governance. While their communication reinforces shared cultural-religious identity, it can also sharpen social and political divisions depending on context. This contributes to broader discussions on faith-based political communication, showing parallels with global patterns where religious authority functions both as integrative and polarizing force in multicultural societies. Keywords: Political communication, dayah ulama, Aceh election, political participation, moral legitimacy ABSTRAKDayah ulama di Aceh memainkan peran sentral dalam membentuk tatanan sosial dan politik melalui legitimasi moral mereka. Dalam Pilkada Aceh 2024, keterlibatan mereka menyoroti pergeseran dari tokoh moral menjadi aktor politik strategis. Penelitian ini menggambarkan bagaimana komunikasi politik dayah ulama mempengaruhi partisipasi publik dan membentuk dinamika politik lokal. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa dayah ulama menggunakan metode khotbah tradisional dan strategi komunikasi modern seperti media sosial untuk memperluas pengaruh politik. [Added: Penekanan pada dampak integratif vs. eksklusif]. Keterlibatan mereka melampaui dukungan kandidat, membangun narasi politik tentang kepemimpinan saleh, perlindungan syariah, dan integrasi nilai Islam dalam pemerintahan lokal. Komunikasi mereka dapat memperkuat identitas budaya-agama bersama namun juga berpotensi mempertajam perpecahan sosial dan politik tergantung konteks. Kontribusi penelitian menghubungkan kasus Aceh dengan studi komunikasi politik global, menunjukkan fungsi ganda agama sebagai kekuatan pemersatu sekaligus sumber polarisasi.Kata Kunci: Komunikasi politik, dayah ulama, pilkada Aceh, partisipasi politik, legitimasi moral
Communication and Collaboration Model of Indonesian Delegation in Myanmar Earthquake Humanitarian Assistance Hidayat, Muhamad; Mirza, Fajar Iqbal; Riyanto, Budi; Riyadi, Kezia Nariswari
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.14063

Abstract

This research analyzes the communication and collaboration model of the Indonesian delegation during the humanitarian assistance mission following the 2025 Myanmar earthquake. While natural disasters in Southeast Asia are frequent and require coordinated international responses, the effectiveness of such missions is heavily dependent on communication and collaboration dynamics, especially within politically sensitive environments. This study addresses a specific scholarly gap by empirically examining how a multi-agency delegation's operational model functions in a context of domestic conflict and political instability. The analysis is guided by a synthesized theoretical framework that integrates crisis communication, disaster diplomacy, and collaborative governance theory. Using a qualitative case study approach, data was collected through in-depth interviews with delegation members, document analysis, and participant observation. The findings reveal that the delegation's model, initiated through formal coordination with the Myanmar government and the ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre), was characterized by an active, adaptive, and highly structured information exchange. The mission's success was enabled by a robust institutional design that included the formation of an agile advance team, and by facilitative leadership that guided the mission's humanitarian and diplomatic objectives. The study contributes to the academic literature by providing a novel application of the Ansell & Gash collaborative governance model to a humanitarian, cross-border context and by offering an empirical example of how disaster diplomacy is operationalized. Practical implications for developing training and guidelines for future international disaster responses are also discussed.Keywords: Communication, collaboration, humanitarian aid, Indonesian delegation, Myanmar earthquake ABSTRAKPenelitian ini menganalisis model komunikasi dan kolaborasi delegasi Indonesia selama misi bantuan kemanusiaan pascagempa bumi Myanmar 2025. Meskipun bencana alam di Asia Tenggara sering terjadi dan membutuhkan respons internasional yang terkoordinasi, efektivitas misi tersebut sangat bergantung pada dinamika komunikasi dan kolaborasi, terutama dalam lingkungan yang sensitif secara politik. Studi ini membahas kesenjangan ilmiah yang spesifik dengan mengkaji secara empiris bagaimana model operasional delegasi multi-lembaga berfungsi dalam konteks konflik domestik dan ketidakstabilan politik. Analisis ini dipandu oleh kerangka teori terpadu yang mengintegrasikan komunikasi krisis, diplomasi bencana, dan teori tata kelola kolaboratif. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan anggota delegasi, analisis dokumen, dan observasi partisipan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa model delegasi, yang diinisiasi melalui koordinasi formal dengan pemerintah Myanmar dan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan (AHA Centre), dicirikan oleh pertukaran informasi yang aktif, adaptif, dan sangat terstruktur. Keberhasilan misi ini dimungkinkan oleh desain kelembagaan yang kokoh, yang mencakup pembentukan tim tanggap tanggap, dan kepemimpinan fasilitatif yang memandu tujuan kemanusiaan dan diplomatik misi. Studi ini berkontribusi pada literatur akademis dengan menyediakan aplikasi baru model tata kelola kolaboratif Ansell & Gash dalam konteks kemanusiaan lintas batas, serta dengan menawarkan contoh empiris tentang bagaimana diplomasi bencana dioperasionalkan. Implikasi praktis untuk pengembangan pelatihan dan pedoman bagi respons bencana internasional di masa mendatang juga dibahas.Kata Kunci: Komunikasi, kolaborasi, bantuan kemanusiaan, delegasi Indonesia, gempa bumi Myanmar
Enhancing Generation Z's Political Efficacy Through Social Media Political Influencers Venus, Anter; Intyaswati, Drina; Ayuningtyas, Fitria; Lestari, Puji
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.13761

Abstract

Previous research has shown that political influencers affect internal political efficacy. The widespread exposure of Generation Z to political influencers on social media raises the question of whether this exposure enhances political knowledge, comprehension, and skills. The study examines the linear impact of political influencers on internal political efficacy by categorizing exposure as low, medium, or high. A survey was distributed through social media platforms. The study population consisted of Generation Z social media users, selected through purposive sampling (N = 488). Eligibility criteria included being between the ages of 17 and 26, holding Indonesian citizenship, and following at least one political influencer on social media. Data were analyzed using linear regression with SPSS version 25. The findings indicate that the influence of political influencers varies according to the level of their following. Influencers significantly affected internal political efficacy only among participants who followed them moderately. This effect was seen only among individuals with low or average political interest. For those with a high interest in politics, the influence of political influencers was minimal, likely because these individuals seek information from other sources. These results contribute to understanding the non-linear relationship between political influencer exposure and internal political efficacy.Keywords: Generation Z, internal political efficacy, political influencers, political interest ABSTRAKStudi terdahulu telah menunjukkan adanya pengaruh dari political influencer terhadap internal political efficacy. Dengan begitu banyak terpaan political influencer yang dapat diterima Generasi Z melalui media sosial, memunculkan pertanyan apakah semua terpaan tersebut berfungsi optimal  dapat menambah pengetahuan, pemahaman, dan skill  di bidang politik dari Gen Z. Studi ini  bertujuan untuk mengevaluasi dampak linier dari political influencer terhadap internal political efficacy, dengan membaginya pada tiga kelompok tingkatan following (rendah, sedang, tinggi). Penelitian menggunakan metode survei yang dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner melalui jejaring media sosial.  Populasi merupakan  Generasi Z pengguna media sosial, dan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling (N=488). Kriteria sampel adalah mereka dengan usia 17-26 tahun (Gen Z), warga negara Indonesia, dan mem follow minimum satu political influencer di media sosial. Analisis data menggunakan analisis regresi linier dengan  aplikasi SPSS 25. Hasil menunjukkan bahwa pengaruh influencer politik memiliki perbedaan pada tingkat following yang berbeda. Hanya pada kelompok following moderat, influencer memberikan dampak pada internal political efficacy Gen Z. Selain itu, pengaruh influencer hanya berlaku jika individu memiliki ketertarikan politik yang rendah atau rata-rata. Ketika individu memiliki ketertarikan politik yang tinggi maka pengaruh influencer cenderung berkurang, hal ini dimungkinkan karena mereka dengan ketertarikan politik yang tinggi cenderung akan mencari informasi dari sumber alternatif lainnya. Temuan ini memberikan sumbangan konseptual terkait adanya hubungan non linier dari pengaruh political influencer terhadap internal political efficacy. Kata Kunci: Generasi Z, efikasi politik internal, influencer politik, minat politik
The Contestation of the Narratives of "Change" versus "Sustainability" on the Instagram Accounts of Two 2024 Presidential Candidates Suryawati, Indah; Ikhwan, Muhammad; Siregar, Rachmi Kurnia
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.14429

Abstract

The implementation of the 2024 Presidential Election cannot be separated from the dynamics of the use of social media as a medium for political communication, and Instagram is one of the social media used to convey political messages to the public. In this study, these political messages are manifested in the form of political narratives that compete with each other on social media. This research aims to (1) analyze the framing of the political narratives of Anies Baswedan and Prabowo Subianto uploaded on their Instagram accounts; and (2) how the ideas behind these political narratives are articulated. A qualitative approach was used in this study and Entman's framing analysis model was used as the method. The research findings reveal a fundamental conflict within the political narratives of Anies Baswedan and Prabowo Subianto. This contestation of political narratives is geared toward strengthening electability and capturing public attention. Prabowo's concept of sustainability demonstrates his desire to continue pro-people programs deemed successful during Jokowi's administration (Jokowinomics), such as various assistance programs for the underprivileged. Unlike Prabowo Subianto, Anies Baswedan emphasized ideas for change, such as eradicating poverty in Indonesia. The final results of the 2024 presidential election demonstrated that the political narrative regarding the need for sustainability successfully led Prabowo to victory.Keywords: 2024 Presidential Election, Instagram, framing, political narrative, Anies Baswedan, Prabowo Subianto ABSTRAKPelaksanaan Pilpres 2024 tidak dapat terlepas dari dinamika penggunaan media sosial sebagai media komunikasi politik, dan Instagram menjadi salah media sosial yang dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan politik kepada khalayak. Dalam penelitian ini, pesan-pesan politik tersebut mewujud dalam bentuk narasi politik yang kemudian saling berkontestasi satu sama lain di media sosial. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis pembingkaian narasi politik Anies Baswedan dan Prabowo Subianto yang diunggah di akun Instagram keduanya; (2) bagaimana artikulasi ide-ide yang ada di balik narasi politik tersebut. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif serta model analisis framing Entman sebagai metode. Hasil penelitian menunjukkan adanya pertentangan fundamental dalam bingkai narasi politik Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Kontestasi tersebut mengarah pada upaya memperkuat elektabilitas serta merebut perhatian publik. Ide keberlanjutan yang diusung Prabowo menunjukkan keinginan Prabowo melanjutkan program-program pro rakyat yang dinilai berhasil pada era pemerintahan Jokowi (Jokowinomics), misalnya berbagai program bantuan untuk masyarakat pra sejahtera. Berbeda dari Prabowo, Anies Baswedan lebih menonjolkan ide-ide perubahan, misalnya memberantas kemiskinan di Indonesia. Hasil akhir Pilpres 2024 kemudian menunjukkan bahwa narasi politik mengenai perlunya keberlanjutan berhasil mengantarkan Prabowo menuju kemenangan.Kata Kunci: Pilpres 2024, Instagram, framing, narasi politik, Anies Baswedan, Prabowo Subianto