cover
Contact Name
abdul basit
Contact Email
basit.umt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalnyimak@gmail.com
Editorial Address
Jl.Mayjen Sutoyo No.2 Kota Tangerang, Provinsi Banten, 15111 Indonesia.
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Nyimak: Journal of Communication
ISSN : 25803803     EISSN : 25803832     DOI : http://dx.doi.org/10.31000/nyimak
Nyimak: Communication Journal to encourage research in communication studies. The focus of this journal are: Public Relations, Advertising, Broadcast, Political Communication, Cross-cultural Communication, Business Communication, and Organizational Communication
Articles 141 Documents
Orasi Politik Joko Widodo dan Prabowo Soebianto dalam Pilpres 2019 Surti Wardani
Nyimak: Journal of Communication Vol 3, No 2 (2019): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.597 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v3i2.1544

Abstract

Orasi politik (pidato) merupakan momen bagi seorang kandidat untuk bisa memperlihatkan kualitasnya baik sebagai pribadi (ramah, hangat, optimis, dan lain sebagainya), pemikir (lewat berbagai ide serta inovasi yang ditawarkan), maupun sebagai manager (kecakapan mengelola pemerintahan jika kelak terpilih sebagai presiden). Asumsi yang dibangun dalam penelitian ini adalah tidak maksimalnya pemanfaatan orasi politik (pidato) sebagai saluran komunikasi politik antara sang kandidat dengan konstituennya. Seharusnya, orasi politik bisa menjadi momentum antara kandidat dan pendukungnya untuk menyelesaikan ragam persoalan bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis orasi politik kedua calon presiden pada Pemilihan Presiden 2019. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan lewat studi literatur. Teknik analisis isi yang digunakan dilakukan terhadap berbagai dokumen, yang meliputi dokumentasi debat kandidat, berita pada portal media online serta orasi politik kedua kandidat pada Pemilihan Presiden 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) orasi politik yang disampaikan oleh Prabowo dan Jokowi cenderung menggeneralisir permasalahan hingga menimbulkan kontroversi; (2) strategi yang digunakan kedua kandidat politik ialah legitimasi dan delegitimasi; (3) kedua kandidat bisa memperlihatkan wajah “positif” dan “negatif” yang menjadi unsur penyeimbang sehingga konflik sosial tak mudah meletup di tengah masyarakat.Kata Kunci: Orasi politik, legitimasi, delegitimasi, Pilpres 2019 ABSTRACTPolitical oration (speech) is a good moment for candidate to be able to show his quality both as a person (friendly, warm, optimistic, etc.), thinker (through various ideas and innovations offered), and as a manager (ability to manage government if one is elected as president). The assumption built in this research is that the use of political speeches (speeches) is not optimal as a channel of political communication between the candidate and his constituents. Supposedly, political speeches can be a momentum between candidates and supporters to solve various national problems. This research aims to analyze the political speeches of the two presidential candidates in the 2019 Presidential Election. This research use desciptive qualitative approach. Data collection was carried out through literature studies. The content analysis technique used was performed on various documents, which included documentation of candidate debate, news on online media portal and political speeches of both candidates in the 2019 Presidential Election. The results showed that (1) political speeches delivered by Prabowo and Jokowi tended to generalize the problem and causing controversy; (2) the strategies used by the two political candidates are legitimacy and delegitimation; (3) both candidates can show a “positive” and “negative” face which is a balancing element so as to reduce social conflict.Keywords: political oration, legitimation, delegitimation, Presidential Election
Multimodal Analysis of Photos in @Sandiuno Instagram Account Before and After the 2019 Presidential Election Kiemas Dita Anugrah Susetya; Iis Kurnia Nurhayati
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 2 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2492.068 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v4i2.2341

Abstract

Social media helps to perform communication in different ways, on of them as a political instrument to shape public’s opinion and also a media for parties  to interact. This research uses multimodal/social semiotics by Kress and Van Leeuwen for visual mode. The top three pictures before and after 2019 election with most likess on instagram account @sandiuno are used as research data. This research used metafunctions from visual mode which consist of representational, interpersonal, and textual. Caption holds an important role in a post, therefore it is analysed using identification analysis. Researcher also did communication style analysis from Tubbs & Moss to understand which style is used by Sandiaga Uno in social media. The result shows that Sandiaga Uno, through instagram account @sandiuno, has the same communication style before and after the 2019 election, which is the controlling style. He also has the democratic type of leadership.Keywords: Social Media, Communication Style, Multimodal, Visual Metafunction ABSTRAKMedia sosial sebagai salah satu wadah untuk melakukan komunikasi dengan cara yang berbeda, salah satunya sebagai instrumen politik, bisa untuk membentuk opini publik, maupun menjadi media interaksi dalam partai maupun antar politisi dan elemennya seperti instagram. Penelitian ini menggunakan analisis multimodal / semiotika sosial dari Kress dan Van Leeuwen untuk mode visual. Tiga foto sebelum dan sesudah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 dengan likes terbanyak pada akun instagram @sandiuno yang menjadi data penelitian ini. Alat bedah yang digunakan yaitu metafungsi mode visual yang terdiri dari representational, interpersonal, dan textual. Caption foto menjadi pendukung yang penting dalam suatu unggahan sehingga caption foto di analisis menggunakan analisis identifikasi. Setelah itu peneliti melakukan analisis gaya komunikasi Tubbs & Moss untuk memahami gaya komunikasi apa yang digunakan oleh Sandiaga Uno di media sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sandiaga Uno melalui akun instagram @sandiuno ditemukan bahwa ia memiliki gaya komunikasi yang sama ketika sebelum dan sesudah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 yaitu menggunakan gaya komunikasi The Controlling Style. Lalu, jika dilihat dari tipe kepemimpinan yang sesuai dengan dirinya adalah tipe kepemimpinan yang Demokratis.Kata Kunci: Media Sosial, Gaya Komunikasi, Multimodal, Metafungsi Visual
PEMBINGKAIAN PEMBERITAAN KASUS DUGAAN PENISTAAN PANCASILA HABIB RIZIEQ SHIHAB PADA HARIAN KOMPAS dan REPUBLIKA Megi Primagara; Lisna Agustin
Nyimak: Journal of Communication Vol 2, No 1 (2018): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.784 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v2i1.736

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa setiap media massa memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memberitakan sebuah isu atau peristiwa, termasuk pemberitaan kasus dugaan penistaan Pancasila oleh Habib Rizieq Shihab. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pembingkaian berita mengenai kasus dugaan penistaan Pancasila oleh Habib Rizieq Shihab pada Harian Kompas dan Harian Republika edisi 27 Oktober 2016 - 30 Januari 2017. Teknik analisis penelitian menggunakan model framing Robert N. Entman yang terdiri dari empat tahap: define problem (pendefinisian masalah), diagnose cause (memperkirakan masalah atau sumber masalah), make moral judgement (pembuatan keputusan moral), dan treatment recommendation (penyelesaian masalah). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembingkaian berita yang dilakukan Harian Kompas cenderung menonjolkan isi ceramah Habib Rizieq yang diduga menistakan Pancasila dan mencemarkan nama baik Soekarno. Berbeda dengan Harian Kompas, Harian Republika menempatkan Sukmawati sebagai tokoh atau pelaku peristiwa, sementara Habib Rizieq merupakan korban dari upaya kriminalisasi yang dilakukan terhadap ulama.Kata Kunci: Framing, berita, Habib Rizieq, Harian Kompas, Harian Republika This research is motivated by the idea that every mass media has different perspective in preaching an issue or event, including the news of alleged blasphemy of Pancasila by Habib Rizieq Shihab. This research aims to explain how the framing of news about cases of alleged blasphemy Pancasila by Habib Rizieq Shihab on Harian Kompas and Harian Republika (edition October 27, 2016 - January 30, 2017). The technique of research analysis using Robert N. Entman framing model that consisting of four stages: define problem (pendefinisian masalah), diagnose cause (memperkirakan masalah or sumber masalah), make moral judgement (pembuatan keputusan moral), dan treatment recommendation (penyelesaian masalah). The results of this study indicate the framing news conducted by Harian Kompas inclined to highlight the content of Habib Rizieq’s lecture that allegedly deflating Pancasila and defame Sukarno. Unlike Harian Kompas, Harian Republika placed Sukmawati as a character or perpetrator of the incident, while Habib Rizieq was a victim of ulama’s criminalization.Keywords: Framing, news, Habib Rizieq, Harian Kompas, Harian Republika  
Komunikasi Politik dan Kecenderungan Pilihan Partai Kaum Santri dan Abangan pada Pemilu 1955 Moh. Sonhaji; Faishal Hilmy Maulida
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 1 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.133 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v4i1.2220

Abstract

Pemilu 1955 menciptakan polarisasi di antara kaum santri dan abangan. Hal ini terjadi karena adanya mobilisasi massa yang dilakukan oleh partai politik dari kota-kota besar hingga pelosok desa. Dampaknya, rakyat terbelah dalam berbagai macam aliran politik terutama munculnya dua kubu besar antara kaum santri dan abangan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kecenderungan pilihan politik kelompok santri dan abangan pada Pemilu 1955 dan menganalisis pola komunikasi politik yang ditunjukkan partai-partai pada pemilu pertama di Indonesia ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan komunikasi politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi politik yang dilakukan PKI dan PNI mampu memengaruhi signifikansi perolehan suara mereka dari kaum abangan, sedangkan Masjumi dan NU mendapat sokongan suara besar dari kaum santri karena pola pendekatan kultural yang mereka lakukan. Kesimpulannya, komunikasi politik yang dilakukan partai-partai pada Pemilu 1955 terhadap rakyat sangat bergantung pada pola pendekatan kultural yang dilakukan.Kata kunci: Komunikasi, politik, santri, abangan, Pemilu 1955 ABSTRACTThe Indonesian Elections of 1955 has constructed a polarization between the santri and the abangan. This happened because of the mass mobilization carried out by political parties from big cities to remote villages. The impact, people are divided into various political currents, especially the emergence of two large camps between santri and abangan. The purpose of this study was to analyze the political preference trends of the santri and abangan groups in the 1955 Election and to analyze the patterns of political communication shown by parties in the first elections in Indonesia. This research uses historical research method with political communication approach. The results of this study indicate that the patterns of political communication carried out by the PKI and PNI were able to influence the significance of their abangan voters, while Masjumi and NU received a large voters from the santri due to the pattern of cultural approach they did. This is to illustrate the vote acquisition of the top four voters who won it in the 1955 Election. To concluded, the political communication carried out by the parties in the 1955 Election against the people was very dependent on the pattern of cultural approach they took. Keywords: Communication, tendency, santri, abangan, Indonesian Elections of 1955
Event Sebagai Salah Satu Bentuk Strategi Komunikasi Pemasaran Produk Fashion Nasional (Event Tahunan Jakcloth) Ade Rahma
Nyimak: Journal of Communication Vol 1, No 2 (2017): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.669 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v1i2.480

Abstract

Jakarta Clothing adalah sebuah event yang mengumpulkan berbagai distribution store dari seluruh Indonesia. Konsep utama Jakarta Clothing atau Jakcloth adalah berupa bazar produk clothing yang berasal dari seluruh Indonesia. Konsep bazar dipadu padankan dengan berbagai kegiatan yang disukai kawula muda pada umumnya. Jakcloth menampilkan pertunjukan musik dari berbagai band-band ternama baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Segmentasi Jakcloth dimulai dari pelajar SMP, SMA, mahasiswa dan umum. Keberadaan jasa perlu dikomunikasikan dengan pelanggan, karena tanpa adanya komunikasi yang bermuatan bisnis kemungkinan akan adanya penolakan terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Kotler (dalam Rangkuti, 2000: 18) mendefinisikan bahwa komunikasi pemasaran merupakan suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi serta distribusi sejumlah barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Mitra Promosindo dalam membuat strategi event Jakcloth Mipro menggunakan bagian penting strategi komunikasi pemasaran, word of mouth. Kotler & Keller (2007) menyatakan bahwa word of mouth communication (WOM) atau komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal. Event yang dipilih sebagai strategi komunikasi pemasaran produk fashion lokal berbasis clothing ini adalah menyesuaikan dengan karakteristik jiwa muda yang menjadi sasaran utama dari penjualan produk clothing distro. Mereka, anak-anak muda, adalah orang-orang yang energik, suka dengan musik dan menyukai tantangan, maka event ini dikemas sesuai dengan karakteristik jiwa muda.Kata Kunci: Strategi komunikasi pemasaran, event, word of mouth Jakarta Clothing is an event which is providing all kinds of distribution store from Indonesia. The concept of market are combined with many activities those are interested for young people. Jakcloth presents live music performances from many kinds of fabulous bands from Indonesia and also other countries. The segmentations of Jakcloth started from Junior High School, Senior high School students, college students, and others. Since without communication belongs to business, there will maybe such a rejection to the service or products offered.Marketing is one of important activity in the corporate world. Kotler in Rangkuti (2000:18) defines that marketing communications is a planning process and applying the concept, price, promotion and also distribution processof a number of products and services to create the exchanging that can satisty the purpose of individual and organization. The Result of this study explains that Mipro in making strategy for Jakcloth event involves communication strategy word of mouth. Kotler and Keller (2007 ) suggests that the Communication Word of Mouth ( WOM ) or word of mouth communication is a process of communication that the form of recommendations either individually or in groups to a product or service that aims to provide personal information .The event was chosen as a marketing communication strategy for national product based on clothing, this adjust with the young people character that is being the main target from distro clothing product sale. The young people, are energic people, love musics and challenges. So then this event is manage appropriate with the characteristic of young people.Keyword: Marketing communication strategy, event, word of mouth
Komodifikasi Konten, Khalayak, dan Pekerja pada Akun Instagram @salman_al_jugjawy Sigit Surahman; annisarizki annisarizki; Rully Rully
Nyimak: Journal of Communication Vol 3, No 1 (2019): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.477 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v3i1.1208

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses komodifikasi konten, khalayak, dan pekerja pada akun Instagram @salman_al_jugjawy. Menggunakan teori komodifikasi, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi eksploitasi dan komodifikasi konten, khalayak, dan pekerja secara tidak langsung terhadap para pengikut (followers) akun Instagram @salman_al_jugjawy. Eksploitasi dan komodifikasi terjadi secara halus karena hampir semua pengikut akun @salman_al_jugjawy adalah para penggemar yang dengan suka rela akan ikut membantu penyebaran informasi pada komunitas-komunitas virtual di Instagram.Kata Kunci: Ekonomi politik media, komodifikasi, Instagram This study aims to analyze the commodification of content, audiences, and workers on Instagram accounts @salman_al_jugjawy. Using the commodification theory, the approach used is a descriptive-qualitative approach. The results showed that there was an exploitation and commodification of content, audiences, and workers indirectly towards followers (followers) of Instagram accounts @salman_al_jugjawy. Exploitation and commodification occur smoothly because almost all followers of the @salman_al_jugjawy account are fans who will voluntarily help spread information to virtual communities on Instagram.Keywords: Media political economy, commodification, Instagram
Representation of Black Feminism in Hidden Figures Andre Ikhsano; Jakarudi Jakarudi
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 2 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2228.798 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v4i2.2358

Abstract

Hidden Figures is a film based on the true story of three African American women who help NASA in the space race. The three African American women are Katherine G. Johnson, Mary Jackson, and Dorothy Vaughan. With the setting of the 1960s era, these three women are fighting against a climate of segregation (separation based on race or skin color) in their work environment (NASA). This study aims to explore Patricia Hill Collins’ theory of black feminism and to integrate it with Stella Ting-Toomey’s theory of face-negotiation. This research is based on a critical paradigm and uses a qualitative approach. Using Sara Mills’s critical discourse analysis as a data analysis technique, this study found a representation of black feminism in the film Hidden Figures. The discrimination experienced by the characters is in the form of racism, sexism, and classism. However, the resistance carried out by the characters is through self definition, not in safe spaces as mentioned by Collins. The characters also do not avoid conflict, but use a negotiation approach with a compromising style to achieve a win-win solution.Keywords: Black feminism, face-negotiation, racism, sexism, classism ABSTRAKHidden Figures adalah film yang diangkat berdasarkan kisah nyata tiga perempuan Afro-Amerika yang membantu NASA dalam space race. Ketiga perempuan Afro-Amerika itu adalah Katherine G. Johnson, Mary Jackson, dan Dorothy Vaughan. Dengan setting waktu era 1960-an, ketiga perempuan ini berjuang melawan iklim segregasi (pemisahan berdasarkan pada ras atau warna kulit) di lingkungan kerja mereka (NASA). Penelitian ini bertujuan untuk mendalami teori black feminism Patricia Hill Collins dan hendak mengintegrasikannya dengan teori face-negotiation Stella Ting-Toomey. Penelitian ini didasarkan pada paradigma kritis dan menggunakan penekatan kualitatif. Menggunakan analisis wacana kritis Sara Mills sebagai teknik analisis data, penelitian ini menemukan representasi black feminism di dalam film Hidden Figures. Diskriminasi yang dialami para tokoh adalah berupa racism, sexism, dan classism. Akan tetapi, perlawanan yang dilakukan para tokoh adalah melalui self definition, tidak dilakukan dalam safe spaces sebagaimana disinggung oleh Collins. Para tokoh juga tidak menghindari konflik, namun menggunakan pendekatan negosiasi dengan gaya compromising style dalam mencapai win-win solution.Kata Kunci: Black feminism, face-negotiation, racism, sexism, classism
MANAJEMEN WISATA RELIGIUS KESULTANAN BANTEN (Bauran Komunikasi Pemasaran Dalam Meningkatkan Jumlah Wisatawan) annisarizki annisarizki; Media Sucahya
Nyimak: Journal of Communication Vol 2, No 2 (2018): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.491 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v2i2.928

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manajemen wisata religius Kesultanan Banten Lama dengan model manajemen bauran pemasaran dalam rangka memperkuat branding objek ziarah. Untuk mencapai tujuan tersebut, identifikasi masalah dalam studi ini ialah konsep manajemen wisata religius guna meningkatkan pengelolaan Kesultanan Banten Lama dan proses bauran komunikasi pemasaran yang berkaitan dengan penguatan citra. Penelitian ini merupakan riset kualitatif, yaitu menggambarkan sebuah perspektif atau informasi dari suatu masalah. Tipe penelitian ini adalah analisis kualitatif yang bersifat sistemis, subjektivis dan analitis. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen pariwisata Kesultanan Banten sudah menerapkan bauran komunikasi pemasaran, kecuali pemasaran langsung. Salah satu faktor yang menyebabkan bauran komunikasi pemasaran yang dilakukan belum berjalan maksimal ialah belum selesainya program revitalisasi Banten Lama (2018-2020) yang bertujuan menata ulang Kawasan Banten Lama agar sesuai dengan standar nasional.Kata Kunci: Bauran komunikasi pemasaran, pariwisata, wisata religius, Banten This study aims to analyze the management of the Old Banten Sultanate religious tourism with a marketing mix management model in order to strengthen the branding of the pilgrimage object. Identification of the problem in this study is the concept of religious tourism management which aims to improve the management of the Old Banten Sultanate and the marketing communication mix process to strengthen the image of the Banten Sultanate. This research is qualitative research. The characteristic of this research is systemic, subjectivist and analytic. The data collection technique of this study uses in-depth interviews, observations, and literature studies. The results of this study indicate that the tourism management of the Sultanate of Banten has implemented marketing communication mix, except direct marketing. One of the factors that caused the implementation of the marketing communication mix not optimal is the completion of the Banten Lama's revitalization program (2018-2020) which aims to rearrange the Old Banten Region to conform national standards.Keywords: Marketing communication mix, tourism, religious tourism, Banten
Perbandingan Konsep-konsep Triumvirate Sunda dengan Trias Politica dalam Perspektif Komunikasi Politik Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 1 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.795 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v4i1.2313

Abstract

Masyarakat Sunda sejak dahulu sudah akrab dengan konsep-konsep triumvirate dalam setiap unsur kehidupannya. Beberapa konsep triumvirate Sunda antara lain adalah Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, serta “Tiga Rahasia”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan konsep Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, dan “Tiga Rahasia” yang merupakan konsep-konsep triumvirate Sunda dengan konsep Trias Politica dalam kaitannya dengan komunikasi politik. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutika untuk mengungkap perbandingan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna yang diperoleh sebagai dasar untuk membandingkan konsep-konsep triumvirate Sunda dengan konsep Trias Politica adalah konsep Tri Tangtu Di Buana yang berhubungan dengan konsep Tri Buana dan konsep “Tiga Rahasia” yang merupakan tiga kelembagaan dalam Kerajaan Sunda yang mengandung aktivitas komunikasi politik, terwujud dalam pembagian/pemisahan kekuasaan dan pembagian wilayah kekuasaan yang berlaku dalam masyarakat Sunda kuno, khususnya dalam lingkup suprastruktur komunikasi, tepatnya di Kerajaan Sunda.Kata kunci: Komunikasi politik, kekuasaan, triumvirate, Sunda ABSTRACTEver since, the Sundanese people have been familiar with triumvirate concepts in every element of their life. Some Sundanese triumvirate concepts include Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, and “Tiga Rahasia”. This research intent to describe the comparative concepts of Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, and “Tiga Rahasia” which are Sundanese triumvirate concepts with the concept of Trias Politica in relation to political communication. This research uses hermeneutic method to reveal the comparison. The results show that the meaning obtained as a basis for comparing Sundanese triumvirate concepts with the concept of Trias Politica is the concept of Tri Tangtu Di Buana which is related to the concept of Tri Buana and the concept of “Tiga Rahasia” is the three institutions in the Sunda Kingdom which contains political communication activities, and manifested in the division / separation of power and division of territory prevailing in ancient Sundanese society, especially in the sphere of communication superstructure, precisely in the Sunda Kingdom.Keywords: Political communication, power, triumvirate, Sundanese
KOMUNIKASI POLITIK TERKAIT TUMPANG TINDIHNYA REGULASI DI INDONESIA Sopian Sopian
Nyimak: Journal of Communication Vol 2, No 1 (2018): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.866 KB) | DOI: 10.31000/nyimak.v2i1.551

Abstract

AbstrakUnit analisis penelitian ini yaitu teks berita dari sejumlah portal berita (selama 2017) yang menyajikan pesan-pesan politik terkait permasalahan tumpang tindihnya regulasi di Indonesia. Permasalahan ini penting diteliti mengingat regulasi menyangkut pelayanan dan kebijakan pemerintah terkait pembangunan. Metode yang digunakan analisis wacana Teun van Dijk pada struktur wacana tertentu. Tujuan penelitian untuk mengetahui: 1).Siapa saja komunikator politiknya? 2).Seperti apa pesan yang disampaikan? 3).Berapa banyak regulasi bermasalah? 4).Apa penyebab munculnya permasalahan regulasi? 5).Regulasi apa saja yang bermasalah? 6).Bagaimana dampak dari masalah regulasi? 7).Bagaimana pemerintah mengatasi masalah tersebut? 8).Apakah kira-kira tahun 2018 semua masalah regulasi bisa dituntaskan? 9).Bagaimana keterkaitan komunikasi politik ini dengan konteks pembangunan dan komunikasi pembangunan? 10).Apa saja makna dibalik wacana ini? Dari hasil penelitian disimpulkan: 1).Komunikator politik dari kategori politisi, terutama Presiden lebih mendominasi pemberitaan daripada profesional dan aktivis ; 2).Pesannya beragam tapi yang terpenting yaitu upaya mengatasi permasalahan regulasi; 3).Ada 42.000 regulasi potensial bermasalah di Indonesia; 4).Masalah regulasi muncul karena pembuatannya tidak memperhatikan efektivitas; 5).Permasalahan regulasi terjadi pada berbagai sektor/bidang; 6).Masalah regulasi menimbulkan beragam akibat negatif di lapangan; 7).Mengatasi masalah regulasi dilakukan dengan cara reformasi regulasi, penataan regulasi, perampingan regulasi, atau deregulasi; 8).Kemungkinan tidak semua masalah regulasi bisa tuntas tahun 2018 ini; 9).Komunikasi politik tentang masalah regulasi ini terkait dengan konteks pembangunan dan komunikasi pembangunan; 10).Terdapat makna dan citra yang ingin dibangun Presiden dibalik wacana ini. Kata Kunci: Analisis wacana, komunikasi politik, komunikator politik, pesan politik, regulasi, komunikasi pembangunanThis study wants to analyze various news texts that are published in certain news portals (online media) throughout 2017. Since the unit of analysis is limited, the research questions in this study are: (1) who is the political communicator; (2) what kind of message is delivered; (3) how many regulations are problematic; (4) what causes the emergence of regulatory issues; (5) what regulations are problematic; (6) how the impact of that regulatory issues; (7) how government overcame the problem; (8) whether all the regulatory issues can be solved by 2018; (9) how political communication interrelated with development and development communication; (10) what are the meanings that can be revealed behind this discourse. The method used in this study is the discourse analysis adopted from Teun van Dijk on certain discourse structures. The results of this study shows: (1) Political communicators that involved come from the category of politicians, especially the president, which more dominating the news than professionals and activists; (2) the message varies, but the most important is the effort to overcome the problem of regulation; (3) there are 42,000 regulations that potentially cause problems in Indonesia; (4) regulatory issues arise because their publications do not pay attention to effectiveness; (5) regulatory issues occur in various sectors; (6) regulatory issues bring about various negative consequences in the field; (7) overcoming regulatory problems is done by regulatory reform, regulatory regulation, downsizing of regulations, or deregulation; (8) not all regulatory issues can be resolved by 2018; (9) political communication in the context of regulatory issues related to the context of development and development communication; (10) there are meanings and images that the president wants to build behind this discourse.Keywords: discourse analysis, political communication, political communicator, development communication, regulation

Page 4 of 15 | Total Record : 141