cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
Membumikan Tuhan: Telaah Konsepsi Sufistik Wahdat al-Wujud dalam Lokus Perilaku Sosial Kemanusiaan A Syatori
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7258

Abstract

Tasawwuf atau sufisme sebagai salah satu dari khazanah intelektual Islam menempatkan aspek batiniah manusia pada posisi sentral dalam berbagai tema pembahasannya. Pada saat tertentu, bahkan seringkali menghubungkan kesempurnaan batin manusia dengan wujud yang satu, yang transenden, yakni wujud Tuhan. Pada perkembangannya, tema di atas telah memunculkan berbagai konsep yang secara spesifik dan kompherensip membahas pola hubungan tersebut. Salah satunya yang paling berpengaruh adalah konsep wahdat al-wujud yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh seorang sufi besar Islam dari Murcia, Andalusia, Spanyol yang bernama Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad Ibn al-‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi yang hidup pada abad ke-5 H atau abad ke-11 M (Austin, 1994: 17). Ia memiliki gelar Muhyiddin (penghidup agama) dan al-Syaikh al-Akbar (guru terbesar). Selanjutnya ia lebih dikenal dengan nama Ibn al-‘Arabi.
PERGESERAN MAKNA PADA NILAI SOSIAL UANG PANAI’ DALAM PRESPEKTIF BUDAYA SIRI’ Mutakhirani Mustafa; Irma Syahriani
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7250

Abstract

ABSTRAK: Tradisi uang panai’ adalah salah satu  tradisi suku Makassar yang selalu menarik untuk dikaji. Tradisi ini adalah bagian dari budaya siri’ na pacce dari suku bugis Makassar yang tetap eksis di era modern. Meski dalam pelaksanaannya telah terjadi pergeseran nilai, dimana makna uang panai tidak sama dari makna pada awal munculnya tradisi ini tapi hal tersebut tidak menjadikan tradisi uang panai terkikis di masyarakat bugis tapi sebaliknya tradisi ini semakin berkembang. Pada awal munculnya uang panai’ diyakini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada perempuan bangsawan dari seorang laki-laki yang akan meminang perempuan berdarah biru. Dengan kata lain uang panai sebenarnya membeli darah perempuan bangsawan, sedang untuk perempuan yang tidak berketurunan bangsawan tidak mendapatkan uang panai’ dari laki-laki yang akan meminangnya pada saat itu. OLeh karena itu menarik jika pergeseran makna pada uang panai dilihat dari persepektif budaya siri na pacce. Metodologi Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka ( library research). Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat diteliti nilai-nilai pada tradisi uang panai’ yang juga banyak mengalami pergeseran makna. Kata Kunci: uang panai1, siri2, bangsawan3, perempuan4, laki-laki5.
KRITIK TERHADAP ADAPTASI BUDAYA SEBAGAI JALAN MASUKNYA ISLAM DI TANAH JAWA Humar Sidik
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6075

Abstract

ABSTRAK: Masuknya Islam ke Tanah Jawa melalui jalur budaya secara tidak langsung menanamkan doktrin bahwa Islam merupakan agama yang damai dan toleran akan budaya serta kepercayaan lain. Namun dibalik itu semua di beberapa wilayah terdapat ajaran Islam yang mengalami perpaduan budaya sehingga melunturkan nilai dan makna yang terkandung dalam ajaran Islam hingga berujung pada bid’ah dan khurafat. Maka dari itu penelitian ini ditulis dengan tujuan untuk mengkritik jalan masuknya Islam melalui adaptasi budaya di Tanah Jawa. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif analisis dengan pendekatan historis serta instrumen utama berupa studi literatur. Hasil penelitian dalam penulisan ini terdiri dari, pertama, transformasi budaya menjadi jalan masuk utama karena pembawa Islam pertama di Nusantara adalah kaum sufi, yang memiliki toleransi kuat dalam berbudaya. Kedua, wujud dari adaptasi Islam terhadap budaya dan kepercayaan lokal, baik dalam akulturasi, asimilasi ataupun sinkretisme. Ketiga, kritik terhadap jalan masuknya Islam di Jawa serta timbulnya gerakan Islam modern yang bertujuan untuk mengembalikan Islam sesuai ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kata Kunci: Budaya1, Islam2, Tanah Jawa3.
MAURICE MERLEAU-PONTY AND THE RESULTS OF HIS THOUGHTS Ali Mursyid Azisi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7153

Abstract

Maurice Merleau-Ponty is a philosopher of phenomenology who came from France. From some of his thoughts on several matters, in this case concerning the primacy of perception, the body as a subject, masochism, the unity of taste, and the ambiguity of the experience of taste, it is an interesting discussion to study, especially among academics. Not only that, from the results of his thinking, Merleau-Ponty is also called the "ignorant guide" by the Western world. From the results of his thinking, Merleau places the body as a subject that is absolutely owned by humans, while the environment and what the five senses perceive are called objects. From the opinions expressed, it is hoped that it will be useful for many circles. In collecting data in this article using qualitative methods with a review of relevant literature and accompanied by examples that can facilitate understanding. It is very important to explore more about Merleau-Ponty's thoughts, which in this case will be studied further in an article entitled Maurice Merleau-Ponty and the Results of His Thought. In this way, this article is hoped to be able to help academics discover the uniqueness of the thoughts and opinions of Maurice Merleau-Ponty.
AJARAN MARTABAT TUJUH DALAM SERAT WIRID HIDAYAT JATI (Perspektif Teori Emanasi) Bisri Bisri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6404

Abstract

Kajian tasawuf selalu menarik untuk didiskusikan, bahkan  di era pasca modern dimana kita merasakan tiba-tiba begitu ramai orang mencari dan menempuh jalan-jalan spiritual. Seolah mencari kesegaran kembali, makna dan  nilai kemanusiaan dari dahaga akibat amukan modernisme yang cenderung positivistik, dan gaya hidup yang pragmatis.  Islam sendiri datang ke Nusantara sudah dalam corak tasawuf, baik yang dibawa oleh para Walisongo maupun guru-guru sufi lain di Nusantara termasuk di Aceh. Di Jawa, ajaran ini terus berkembang bahkan dalam banyak kitab atau tulisan sastra Jawa, baik dalam kitab serat Wedatama, Serat Dewaruci maupun dalam Serat Wirid Hidayat jati. Ajaran Martabat tujuh dalam Wirid Hidayat jati, merupakan pengembangan dari Ibnu Arabi dan Muhammad Ibnu Fadlullah dalam kitab Al-Tuhfatu Mursalah ila Ruhin Nabi serta ajaran Tasawuf Aceh. Walaupun coraknya panteisme-monisme, teori tingkatan tujuh martabat dalam penciptaan masih serupa dengan teori emanasi. Untuk itu menarik ketika menggunakan perspektif emanasi untuk melihat ajaran ini. Metodelogi dalam penelitian ini menggunakan library research (pustaka). Dalam penelitian ada tiga hal yang dijadikan perspektif dalam analisis tentang ajaran ini, yaitu; Sumber dan ajaran (antara emanasi dan martabat tujuh) yang terpaut zaman yang cukup jauh, metodologi yang berbeda dimana emanasi lebih diskursif filosofis sementara ajaran martabat tujuh bercorak intuitif mistis, serta beberapa perbedaan dan titik temu dari keduanya.
Husuli dan Huduri dalam Konteks Filsafat Hikmah Muta'aliyyah Kholid Al Walid
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7117

Abstract

Tulisan ini menjelaskan bagaimana pandangan Mulla Sadra dalam menjelaskan ilmu husuli dan ilmu huduri. Ilmu Husuli dan Huduri yang sejak lama menjadi perdebatan panjang di antara para pemikir muslim menjadi perhatian serius Mulla Sadra. Pendefinisian pengetahuan merupakan basis awal yang berusaha dibangun oleh Mulla Sadra dalam mengkontruksi aliran filsafat Hikmah al-Muta’liyyah miliknya. Dengan pendekatan kualitatif dan melakukan kajian terhadap pemikiran dan karya-karya Mulla Sadra, dapat disimpulkan bahwa bagi Mulla Sadra perdebatan mengenai Husuli dan Huduri telah selesai dan tidak perlu diperlebar atau diperpanjang lagi. Husuli menempati posisis kedua yang menjadi ilmu pendukung, sedangkan huduri merupakan ilmu utama yang tertanam dalam diri manusia dan merupakan anugeran dari Tuhan.
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI MASYARAKAT DAYAK HINDU BUDHA BUMI SEGANDU UNTUK MEWUJUDKAN GOOD AND SMART CITIZEN Risladiba Risladiba
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang menjadi ciri khas dari masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu adalah suatu komunitas Dayak yang berada di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, sehingga disebut juga Dayak Losarang. Masyarakat Dayak Losarang tersebut memiliki tradisi yang menjadi ciri khas dari komunitasnya. Di dalam tradisi mereka, terkandung nilai-nilai yang diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi masyarakat Dayak Losarang antara lain:  Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa, yakni merupakan ajaran etika yang menjadi sumber segala kebaikan, Memuliakan Wanita (Istri) dan Anak, Kesabaran, Bener, Jujur, Nerima, Lakonana Barang Kang Lima (melaksanakan Perkara yang lima), Toleransi, Menjaga Keharmonisan dengan Sesama Makhluk.
RELASI PEREMPUAN-LAKI-LAKI PADA KOMUNITAS DAYAK HINDU-BUDHA BUMI SEGHANDU INDRAMAYU; Suatu Eksplorasi Antropologis Burhanudin Sanusi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7257

Abstract

Isu gender masih menarik dibincang karena meruntuhkan nilai-nilai lokal yang secara langsung mengukuhkan budaya patriarkal. Indonesia misalnya, adalah salah satu negara yang budayanya sedikit banyak berkarakter sangat patriarkal sekali. Tentu, hal ini bukan suatu klaim atau bentuk generalisasi. Ada komunitas tertentu di Indonesia justru mempunyai pemahaman dan keyakinan yang cukup mumpuni terhadap persoalan kesetaraan gender (gender equality). Kesadaran Komunitas tersebut telah menjadi bagian penting dalam pola relasi laki-laki-perempuan dalam bermasyarakat. Komunitas itu adalah Suku Dayak Hindu-Budha Bhumi Seghandu.Kata Kunci: Gender, Komunitas, Dayak, Indramayu
Kerokhanian Sapta Darma dan Permasalahan Hak-hak Sipil Penghayat di Indonesia Hanung Sito Rohmawati
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6156

Abstract

Kerokhanian Sapta Darma merupakan salah satu aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan Penetapan Presiden RI Nomor 1/PNPS Tahun 1965 Aliran kepercayaan berbeda dengan agama. Adanya pembedaan ini berimplikasi pada perbedaan kebijakan Negara untuk penganut agama dan penghayat kepercayaan sehingga menimbulkan permasalahan hak-hak sipil penghayat kepercayaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, penulis menggunakan metode wawancara dan observasi untuk pengumpulan data penelitian. Fokus penelitian ini yaitu penghayat Kerokhanian Sapta Darma di Sanggar Candi Sapta Rengga. Dari penelitian ini penulis menemukan bahwa terdapat beberapa permasalahan hak-hak sipil penghayat Kerokhanian Sapta Darma, terutama sebelum adanya UU No. 23/2006. Permasalah hak-hak sipil antara lain hak atas pencantuman identitas di kolom agama dalam KTP; hak atas pencatatan dan registrasi perkawinan antar penghayat di Kantor Catatan Sipil; hak atas pendidikan, dalam hal ini hak anak-anak penghayat untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan kepercayaannya; hak atas sumpah jabatan sesuai dengan kepercayaannya bagi PNS; hak atas lahan pemakaman dan penguburan sesuai dengan kepercayannya; hak untuk berkumpul dan membangun rumah ibadah.
Maqamat dalam Tasawuf dan Delapan Jalan Kebenaran dalam Spiritualitas Buddha (Studi Komparatif) Rif’at Husnul Ma’afi; Najib Abdussalam
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i2.7256

Abstract

Maqamat dalam tasawuf adalah jalan yang ditempuh oleh sufi untuk menaiki tangga spritual dari satu tingkatan ke tingkatan lain yang lebih tinggi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Agama Buddha memiliki ajaran menyerupai maqamat yang disebut dengan delapan jalan kebenaran ditempuh untuk menghilangkan penderitaan hidup guna memperoleh pencerahan dan nirwana. Bertolak dari pandangan ini, kajian ini akan memaparkan tentang maqamat dalam tasawuf dan delapan jalan kebenaran dalam spiritualitas Buddha dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Seterusnya untuk mengungkapkan persamaan dan perbedaan antara keduanya peneliti menggunakan metode perbandingan. Setelah melakukan kajian, peneliti menyimpulkan bahwa maqamat dalam tasawuf adalah kedudukan spiritual seorang hamba di hadapan Allah dalam ibadah dan usaha spiritualnya secara berjenjang untuk mencapai ma’rifat dan cinta-Nya. Tangga-tangga spiritual itu di antaranya ialah taubah، wara’, zuhud, faqr, sabar, tawakkal, dan ridlo. Sedangkan delapan jalan kebenaran dalam kehidupan spiritual Buddha adalah jalan yang ditempuh untuk menghilangkan penderitaan hidup yang mengantarkan seorang Buddha memperoleh pencerahan dan nirwana. Kedelapan jalan kebenaran itu adalah pandangan benar, niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencarian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Setelah melakukan studi komparasi antara keduanya, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat persamaan dalam hal tujuan yang hendak dicapai, sikap terhadap sifat tercela dan segela yang tercela, dan sebab yang menimbulkan segala yang tercela dan penderitaan. Adapun perbedaannya ada pada banyaknya jumlah jalan، urut-urutan، dan tahapan pengamalannya.Kata kunci: maqamat, tasawuf, 8 jalan kebenaran, spiritualitas Buddha.

Page 8 of 19 | Total Record : 188