cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Chimica et Natura Acta
ISSN : 23550864     EISSN : 25412574     DOI : -
Chimica et Natura Acta diterbitkan oleh Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran tiga kali setiap tahun pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang dimuat mencakup Kimia Analisis dan Pemisahan, Kimia Material, Kimia Energi dan Lingkungan, Kimia Organik Bahan Alam dan Sintesis, Biomolekular Pangan dan Kesehatan serta topik-topik lain yang berhubungan dengan ilmu Kimia.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
KARAKTERSITIK FISIKO-KIMIA DAN SENSORIK JUS EKSTRAK BUAH SALAK (Salacca edulis Reinw) VARIETAS BONGKOK Leni Herliani Afrianti; Yusman Taufik; Hafni Gustianova
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.416 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n2.9155

Abstract

Salak merupakan salah satu tanaman buah tropis asli Indonesia. Salak varietas Bongkok berasal dari Kabupaten, Sumedang, Jawa Barat. Salak Bongkok mempunyai rasa yang asam, pahit dan sepet, oleh karena itu permintaan terhadap salak Bongkok ini rendah karena kurang diminati oleh konsumen. Buah salak Bongkok mengandung senyawa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid dan quinon. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui karakteristik fisiko-kimia dan sensorik jus dari ekstrak buah salak (Salacca edulis Reinw.) varietas Bongkok. Metode penelitian menggunakan dua tahapan perlakuan. Untuk tahapan perlakuan pertama, membuat serbuk (simplisia) dari buah salak, ekstraksi simplisia dengan etanol 70%, terakhir membuat jus buah dengan rasio antara ekstrak dan air, masing-masing (1:2); (1:3); (1:4); (1:5); (1:6), (1:7); (1:8); dan (1:9). Tahap perlakuan kedua adalah uji vitamin C, kadar alkohol, viskositas, dan uji sensorik dari jus buah salak. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan dan ulangan sebanyak tiga kali untuk setiap kombinasi perlakuan sehingga diperoleh dua puluh empat percobaan. Rancangan analisis dibuat analisis variasi, selanjutnya untuk uji beda nyata menggunakan metode Duncan. Jus ekstrak buah salak Bongkok yang terpilih adalah jus dengan rasio antara ekstrak etanol dari buah dan air (1:4), dengan kadar Vitamin C adalah 3,38 mg/100 g; kadar alkohol 0,87%; viskositas 0,0139 Cp; warna 3,57; aroma 4,0 dan rasa 4,22.
Abu Ilalang Sebagai Katalis Basa untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah dengan metode BeRA (Biodiesel Electrocatalytic Reactor) Aditya S.A. Wicaksana; Ratih Lestari; Nur Inayatullah; Yustika Yustika; Rudy S. Putra
Chimica et Natura Acta Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.134 KB) | DOI: 10.24198/cna.v5.n3.16073

Abstract

Pada penelitian ini pengabuan ilalang dilakukan pada suhu 900°C selama 8 jam dan digunakan sebagai katalis basa pada pembuatan biodiesel yang dilakukan dengan proses elektrokatalitik menggunakan elektrode grafit dengan tegangan DC 18,2 V. Proses elektrokatalitik campuran minyak jelantah, metanol dan katalis abu ilalang (2, 3 dan 5% berat katalis terhadap minyak) berlangsung pada suhu kamar dengan rasio molar minyak terhadap metanol sebesar 1:6 selama 60 menit dengan perbandingan volume pelarut THF terhadap metanol sebesar 1:1. Karakterisasi abu ilalang dilakukan dengan menggunakan XRF dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mineral alkalis tertinggi terdapat pada abu akar ilalang (Ca 3,99%) yang menghasilkan 55,65% rendemen biodiesel dengan tingkat efisiensi produksi 41,01% pada aplikasi 5% katalis dengan minyak kedelai sebagai bahan baku produksi. Untuk katalis yang sama pada minyak jelantah dihasilkan 44,47% rendemen biodiesel dengan tingkat efisiensi produksi 41,79%. Selain itu efisiensi produksi biodiesel dengan proses elektrokatalitik menggunakan katalis akar abu ilalang adalah lima kali lebih besar dibandingkan proses tanpa katalis. Melalui penggunanaan abu ilalang sebagai katalis untuk produksi biodiesel dari minyak jelantah diharapkan dapat mengurangi penyebab kebakaran lahan oleh tanaman ilalang sehingga meningkatkan kesuburan lahan pertanian dan mengurangi kuantitas limbah minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan serta tersedianya bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan.
PENGARUH PENGGUNAAN BENTONIT TERAKTIVASI ASAM SEBAGAI KATALIS TERHADAP PENINGKATAN KANDUNGAN SENYAWA ISOPULEGOL PADA MINYAK SEREH WANGI KABUPATEN GAYO LUES – ACEH Siti Mahmudha; Irwan Nugraha
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.8 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n3.10921

Abstract

Studi yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bentonit teraktivasi asam sebagai katalis terhadap peningkatan kandungan senyawa isopulegol pada minyak sereh wangi Kabupaten Gayo Lues Aceh telah dipelajari. Aktivasi bentonit dilakukan dengan menggunakan larutan H2SO4 0,6 M, HCl 0,5 M dan HNO3 0,1 M. Hasil aktivasi dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared (FT-IR) dan X-Ray Difraction (XRD). Reaksi minyak sereh wangi dengan bentonit alam dan bentonit teraktivasi asam dilakukan selama 30 menit pada suhu 30°C. Produk yang dihasilkan di analisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bentonit berperan sebagai katalis dalam peningkatan  kandungan senyawa isopulegol yang merupakan isolat dari senyawa sitronellal. Sitronellal adalah salah satu senyawa monoterpena yang dapat mengalami reaksi siklisasi dengan katalis homogen dan heterogen. Kandungan isopulegol mengalami peningkatan dari 12,66% menjadi 14,05% pada bentonit alam; 30,11% pada bentonit teraktivasi H2SO4 0, 6M; 32,70% pada bentonit teraktivasi HCl 0,5 M dan 14,34% pada bentonit teraktivasi HNO3 0,1 M.
SENYAWA STEROID DARI KULIT BATANG Dysoxylum alliaceum DAN AKTIVITASNYA TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA MCF-7 Ois Nurcahyanti; Euis Julaeha; Tri Mayanti
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.197 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n2.9184

Abstract

Dysoxylum merupakan salah satu genus yang memiliki metabolit sekunder dan aktivitas yang beragam, salah satu aktivitas yang menarik adalah mampu bertindak sebagai agen P-gp pada sel kanker payudara MCF-7. Kulit batang D.alliaceum dimaserasi berturut–turut dengan n-heksana, etil asetat dan metanol. Ekstrak n-heksan dipisahkan dan dimurnikan dengan berbagai teknik kromatografi dipandu dengan analisis kromatografi lapis tipis diperoleh dua senyawa stigmast-5-en-3β-ol (1), stigmasterol (2). Struktur kimia senyawa tersebut telah ditetapkan berdasarkan intrepretasi data-data spektroskopi dan dibandingkan dengan data spektra dari penelitian sebelumnya. Semua isolat senyawa dievaluasi aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker payudara MCF-7. Senyawa 1 dan 2 dirujuk dari literatur menunjukkan aktivitas kuat dengan IC50 8,65 μg/mL.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI 1,4,7-TRIAZASIKLONONANA-1,4,7-ASAM TRIASETAT (NOTA) SEBAGAI LIGAN DALAM SENYAWA KOMPLEKS SEDIAAN RADIOTERAPI Duyeh Setiawan; Iwan Hastiawan
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.668 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n1.9145

Abstract

Perkembangan penelitian mengenai penggunaan ligan makrosiklik dalam beberapa tahun terakhir cukup pesat. Hal ini didasarkan pada sifatnya yang relatif stabil membentuk senyawa kompleks dengan ion logam valensi dua atau tiga. Di bidang kesehatan, ligan tersebut digunakan untuk sediaan radioterapi dalam bentuk senyawa kompleks radioisotop. Salah satu ligan makrosiklik yang berpotensi adalah 1,4,7-triazasiklononana-1,4,7-asam triasetat (NOTA). Penelitian ini bertujuan memperoleh ligan makrosiklik NOTA untuk pembuatan senyawa kompleks radioisotop. Metode sintesis didasarkan pada reaksi antara 1,4,7-triazasiklononana asam triklorida dengan larutan asam bromo asetat dalam litium hidroksida-etanol pada suhu 40-50oC dan pH10-11 yang diaduk selama lima hari. Selanjutnya serbuk putih dikarakterisasi dengan spektrometer IR dan 1H-NMR serta kemurniannya dengan uji titik dekomposisi. Spektrum IR menunjukkan adanya vibrasi pada panjang gelombang 3434, 2905, 1602, 1437 dan 1160 cm-1. Spektrum 1H-NMR menunjukkan pergeseran kimia pada 3,22 dan 3,74 ppm. Hasil uji titik dekomposisi adalah 259oC. Setelah membandingkannya dengan literatur menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan diduga NOTA dengan rendemen 23,69%.
MENENTUKAN KESTABILAN NUKLIDA-NUKLIDA BERDASARKAN MASSA INTI PER NUKLEON Dede Suhendar
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.93 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n2.10672

Abstract

Kestabilan nuklida dapat ditentukan oleh rasio jumlah neutron terhadap jumlah protonnya (n/p) atau defek massa (Δm) yang dapat dikonversikan menjadi energi ikat inti (Eb). Dalam artikel ini, kami mempelajari kemungkinan menentukan kestabilan nuklida-nuklida berdasarkan massa inti per nukleon (m/A). Metode yang digunakan adalah pencocokan pola kelimpahan unsur-unsur di sistem tata surya dengan pola harga m/A nuklida tiap unsur dan hasilnya dibandingkan dengan pola energi ikat inti per nukleon (Eb/A)-nya. Terdapat kecenderungan nilai m/A yang berbanding terbalik terhadap nilai Eb/A, sehingga m/A dapat diperkirakan akan berbanding terbalik dengan peringkat kestabilan inti. Dengan membandingkan kelimpahan pasangan-pasangan unsur yang memiliki nomor atom yang berurutan dari 77 nuklida terpilih, diperoleh hasil bahwa 93,5% pasang nuklida-nuklida cocok dengan kebalikan urutan nilai-nilai m/A-nya dan 68,8% cocok dengan urutan nilai-nilai Eb/A-nya. m/A juga memiliki korelasi berbanding terbalik dengan Eb/A yang dapat dinyatakan sebagai Eb/A = -901,76(m/A) + 909,32 (R2 = 0,9986). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa harga m/A dapat dipertimbangkan untuk menentukan urutan tingkat kestabilan inti nuklida dan dapat dihubungkan dengan Eb/A jika nilai m/A dinyatakan dalam satuan energi.
FORMING OF DIASTEREOISOMER WITH L-ISOLEUCIN TO SEPARATE OFLOXACIN ENANTIOMER USING PREPARATIVE LIQUID CHROMATOGRAPHY Diana Hendrati; Husein H. Bahti; Uji Pratomo; Zenith Putri Dewianti
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.494 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n1.9169

Abstract

Ofloxacin is an antibiotic with a broad range of uses in human and veterinary medicine to prevent or treat bacterial infections which has an enantiomeric mixture structure of (-)-ofloxacin and (+)-ofloxacin. Enantiomers of drugs have different pharmacology and toxicology effects that need to be separated before it used to get the molecule target. Separation of enantiomers using chiral column is not quite economical separation, but the separation of enantiomers using a chiral column by converting the enantiomeric mixture into a diastereoisomeric form is the right solution. This study aims to separate mixture of ofloxacin enantiomers by forming diastereoisomeric with L-isoleusine and copper (II) into compound (-)-ofloxacin and (+)-ofloxacin and also to identify the optimum condition of separation using HPLC with preparative liquid chromatography column. Samples injected into the column and eluted by the mobile phase (consisting a mixture of water-methanol (88:12) and solution of L-isoleusine 4 mM and copper (II) sulfate 9 mM). Then the fractions were compared with the standard and the purity was tested by HPLC. This research resulted 47 fractions which four of early fractions have correspond with the standard of (-)-ofloxacin and 43 other factions do not. We obtained the resolution of this separtion about 0.98. The small resolution caused by complex formation is not perfect with the concentration of L-isoleucine and copper (II).
Isolasi dan Identifikasi Mikroalga Sebagai Sumber Antioksidan dari Perairan Tirtasari Sonsang, Agam, Sumatera Barat Iolantri Handra; Syafrizayanti Syafrizayanti; Zulkarnain Chaidir
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.16 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n1.20076

Abstract

Mikroalga memiliki potensi sebagai sumber antioksidan, yang dapat mencegah dan menghambat radikal bebas. Peneliti secara personal telah mengisolasi mikroalga dari perairan Tirtasari Sonsang, Sumatra Barat. Pada penelitian ini, isolat mikroalga diidentifikasi secara morfologi dan molekular. Mikroalga ditumbuhkan dalam tiga jenis medium dan diekstrak menggunakan pelarut metanol, etil asetat dan heksana. Potensi antioksidan ekstrak mikroalga tersebut diuji menggunakan metoda DPPH. Berdasarkan hasil identifikasi secara morfologi dan molekular, isolat mikroalga termasuk dalam jenis Chlorella sp.. Aktivitas antioksidan isolat mikroalga yang tumbuh dalam medium BBM, dan diesktrak menggunakan metanol pada konsentrasi 200 mg/L memiliki nilai persen inhibisi terhadap radikal DPPH sebesar 55,8%.
Pengolahan Limbah Industri Tekstil Berbasis Green Technology Menggunakan Metode Gabungan Elektrodegradasi dan Elektrodekolorisasi dalam Satu Sel Elektrolisis Zaina Rohayati; Mega M. Fajrin; Jumardin Rua; Yulan Yulan; Riyanto Riyanto
Chimica et Natura Acta Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.014 KB) | DOI: 10.24198/cna.v5.n2.14702

Abstract

Limbah tekstil mengandung berbagai bahan kimia berbahaya jika langsung dibuang ke lingkungan. Metode lain penanganan limbah memiliki kelemahan yaitu menghasilkan banyak lumpur, serta biaya operasional yang mahal. Metode penanganan limbah cair yang lebih menguntungkan adalah elektrolisis yang merupakan metode ramah lingkungan karena tidak memerlukan bahan kimia tambahan. Pada metode elektrolisis degradasi anode akan mudah terjadi sehingga mengurangi konsentrasi senyawa organik (elektrodegradasi) dan kepekatan warna limbah (elektrodekolorisasi). Penelitian ini terdiri beberapa tahap, yaitu analisis komposisi elektrode, elektolisis limbah tekstil pada variasi waktu serta analisis persentase degradasi dan penurunan nilai Kebutuhan Oksigen Kimia (COD) limbah tekstil secara spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrode stainless steel memiliki komposisi kadar besi (72,2%), krom (18,9%), nikel (7,6%) dan silika (1,4%). Setelah dielektrolisis pada variasi waktu dan analisis persentase degradasi secara spektrofotometri didapatkan waktu optimum selama 60 menit dengan degradasi sebesar 98,56%. Persentase penurunan nilai COD limbah tekstil yang dielektrolisis pada waktu optimum adalah sebesar 50,3834.
SYNTHESIS N-PHENYLAMINEDITHIOCARBAMATE AS CHELATING AGENT IN SOLVENT EXTRACTION Soja Siti Fatimah; Vera Musfiroh; Zackiyah Zackiyah; Husein H. Bahti; Iwan Hastiawan; Anna Permanasari
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.559 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n3.9160

Abstract

Dithiocarbamate derivatives is a versatile ligand that contain two atoms of sulfur as a strong electrondonor. It combines with metals. N-phenylaminedithiocarbamate has synthesized and applied in solvent exctration. Synthesis carried out with addition carbon disulphide to N-phenylamine and concentrated pottasium hydroxyde in metanol. The result was characterized by spectroscopy 1H-NMR, 13C-NMR, FTIR, Elemental Analysis, that showed molecular structure was significant. Applied N-Phenylaminedithiocarbamate in solvent extraction showed precent of result Cu(II), Co(II), Cr(III) and Ni (II) were 90.45% - 99.99% at pH 4-9.