cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Chimica et Natura Acta
ISSN : 23550864     EISSN : 25412574     DOI : -
Chimica et Natura Acta diterbitkan oleh Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran tiga kali setiap tahun pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang dimuat mencakup Kimia Analisis dan Pemisahan, Kimia Material, Kimia Energi dan Lingkungan, Kimia Organik Bahan Alam dan Sintesis, Biomolekular Pangan dan Kesehatan serta topik-topik lain yang berhubungan dengan ilmu Kimia.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
FITOREMEDIASI LOGAM KADMIUM PADA ASAP ROKOK MENGGUNAKAN TANAMAN LIDAH MERTUA JENIS Sansevieria hyacinthoides DAN Sansevieria trifasciata Jaswiah, Jaswiah; Syarifuddin, Syamsidar H.; Novianti, Iin
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.613 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n2.10677

Abstract

Asap rokok mengandung logam kadmium (Cd) yang bila teremisikan ke udara dapat menyebabkan polusi udara. Tanaman lidah mertua jenis Sansevieria hyacinthoides dan Sansevieria trifasciata memiliki stomata tempat masuknya kadmium logam yang kemudian terikat oleh ligan dalam bentuk fitokelatin sehingga dapat digunakan sebagai tanaman fitoremediasi logam Cd. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa konsentrasi maksimum logam Cd yang terserap oleh tanaman lidah mertua tersebut di atas dari asap rokok jenis non filter dengan variasi waktu kontak dan apakah tanaman tersebut  termasuk tanaman hiperakumulator atau tidak terhadap logam Cd. Variasi waktu kontak asap rokok terhadap tanaman adalah 0, 3, 6 dan 9 hari. Penyerapan lidah mertua tanaman S. hyacinthoides masing-masing 0,826; 1,314; 1.264 dan 0,876 mg/kg, sedangkan tipe S. trifasciata masing-masing 0,842; 0,502; 1,386 dan 1,646 mg/kg. Jadi dapat disimpulkan bahwa tanaman lidah  mertua (S. hyacinthoides dan S. trifasciata) bukan termasuk tanaman  hiperakumolator terhadap logam Cd karena tanaman mampu mengabsorpsi  0,488 mg/kg dan 0,804 mg/kg untuk 0.005 kg sampel.
SOYASAPONIN SEBAGAI ADJUVAN UNTUK MENINGKATKAN IMUNOGENISITAS VAKSIN INFLUENZA BERBASIS EPITOP M2e Idar, Idar; Subroto, Toto; Soemitro, Soetijoso
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.422 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n1.9173

Abstract

Indonesia menempati urutan pertama di dunia dalam kasus infeksi flu burung. Vaksin flu burung yang beredar saat ini masih berbasis hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA) yang mudah mengalami mutasi. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan vaksin influenza universal yang berbasis epitop virus influenza yang lestari yaitu M2e. Namun diperlukan adjuvan untuk meningkatkan imunogenisitas M2e. Soyasaponin adalah salah satu jenis saponin yang berpotensi dikembangkan sebagai adjuvan. Dalam penelitian ini, digunakan epitop M2e yang telah dimodifikasi, M2e2-16-K-P25 dan soyasaponin I sebagai adjuvannya. Efektivitas vaksin diuji terhadap mencit galur BALB/c. Respon antibodi M2e yang dihasilkan pada serum mencit diukur dengan ELISA Berdasarkan penelitian ini, soyasaponin I terbukti dapat meningkatkan immunogenisitas epitop M2e2-16-K-P25 dengan cukup baik.
STUDI POTENSI EKSTRAK DAUN ADAM HAWA (Rhoeo discolor) SEBAGAI INDIKATOR TITRASI ASAM-BASA Ratnasari, Sinta; Suhendar, Dede; Amalia, Vina
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.875 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n1.10447

Abstract

Daun adam hawa memiliki pigmen warna ungu yang diduga berasal dari antosianin. Pigmen antosianin ini bersifat larut dalam air sehingga mampu bereaksi baik dengan asam maupun basa. Karakterisitik perubahan warna ini menjadi potensi ekstrak daun adam hawa sebagai indikator dalam menentukan titik akhir pada titrasi asam basa. Perbandingan pelarut etanol 70% : ekstrak daun adam hawa (2:1) mampu mengekstrak metabolit sekunder secara optimal dengan metode ekstrasi teknik maserasi selama 24 jam. Karakterisasi indikator ini meliputi uji perubahan warna dalam berbagai pH, titrasi asam basa konvensional dan autotitrator, perbandingannya dengan indikator fenolftalein (PP) dan metil jingga (MJ), identifikasi menggunakan spektrofotometer sinar tampak dan FTIR serta uji waktu simpan indikator. Hasil karakterisasi menunjukkan, indikator memiliki perubahan warna dari jingga kemerahan-hijau kecoklatan dengan trayek pH 4,75-6,75 pada daerah serapan λ maksimum 510,01-591,99 nm, memiliki persentase selisih dengan indikator PP sebesar 0,915% dan indikator MJ sebesar 0,925%, serta dapat digunakan sampai empat minggu.
PROKSIMAT PAKAN BUATAN DAN IKAN TEMBANG Sardinella sp. UNTUK PENGGEMUKAN KEPITING BAKAU Scylla serrata Manuputty, Gratia Dolores
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.935 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n3.9164

Abstract

Pertambahan berat diperoleh sebesar 43,35 gram untuk kepiting yang diberi pakan buatan dan 101,88 gram untuk kepiting yang diberi pakan ikan tembang. Nilai laju pertambahan berat kepiting yang diberi pakan buatan adalah 0,036 gram/minggu dan 0,078 gram/minggu untuk kepiting yang diberi pakan ikan tembang. Untuk hubungan lama waktu pemeliharaan dengan pertambahan berat rata-rata didapatkan persamaan penduga Y=10,09+0,299X (r=0,199434) untuk perlakuan dengan pakan buatan, dan Y=23,315+0,862X (r=0,304828) untuk perlakuan dengan pakan tembang. Kandungan protein di dalam pakan buatan adalah sebesar 18,867, lemak 2,372, karbohidrat 29,756, serat 2,662, dan kadar abu 1,4259. Kandungan protein di dalam pakan ikan tembang adalah sebesar 20,227, lemak 3,055, karbohidrat 2,025, serat 0,753, dan kadar abu 0,683. Tingkat kelangsungan hidup adalah sebesar 100%. Nilai insidens biaya untuk ikan tembang sebesar Rp. 69.773,- dan untuk pakan buatan sebesar Rp. 133.165,-.
Preparasi Elektrode Glassy Karbon-AuNP Dan Aplikasinya untuk Penentuan Cr(III) Secara Voltammetri dengan Pengaruh Cd(II), Cu(II), Zn(II), Dan Cr(VI) Hartati, Yeni Wahyuni; Wyantuti, Santhy; Fadhilah, Riana Adisti; Eddy, Diana Rakhmawaty
Chimica et Natura Acta Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.883 KB) | DOI: 10.24198/cna.v5.n2.14608

Abstract

Kromium di alam berada dalam bentuk Cr(III) yang bersifat essensial dan Cr(VI) yang bersifat racun. Untuk itu diperlukan suatu metode yang sensitif dan efektif untuk menganalisis Cr(III). Metode voltammetri merupakan metode yang menjanjikan, karena dapat menggunakan elektrode kerja yang bisa secara luas dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ion logam Cd(II), Zn(II), Cu(II) dan Cr(VI) serta mengetahui akurasi, limit deteksi, dan presisi dari penentuan Cr(III) secara voltammetri pulsa differensial menggunakan elektrode glassy karbon nanopartikel emas. Prosedur yang dilakukan adalah pembuatan larutan-larutan, pembuatan koloid nanopartikel emas, modifikasi elektrode glassy karbon, pengaruh ion logam Cd(II), Zn(II), Cu(II), dan Cr(VI) serta analisis Cr(III) dalam limbah tekstil secara voltammetri menggunakan elektroda glassy karbon nanopartikel emas. Dari penelitian ini didapatkan hasil modulasi amplitudo optimum 0,05 V, limit deteksi 4,6889 ppm, presisi pengukuran sebesar 98,19%, akurasi sebesar 96,17%. Adanya ion logam lain dapat mengganggu puncak arus Cr(III).
KARAKTERSITIK FISIKO-KIMIA DAN SENSORIK JUS EKSTRAK BUAH SALAK (Salacca edulis Reinw) VARIETAS BONGKOK Afrianti, Leni Herliani; Taufik, Yusman; Gustianova, Hafni
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.416 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n2.9155

Abstract

Salak merupakan salah satu tanaman buah tropis asli Indonesia. Salak varietas Bongkok berasal dari Kabupaten, Sumedang, Jawa Barat. Salak Bongkok mempunyai rasa yang asam, pahit dan sepet, oleh karena itu permintaan terhadap salak Bongkok ini rendah karena kurang diminati oleh konsumen. Buah salak Bongkok mengandung senyawa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid dan quinon. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui karakteristik fisiko-kimia dan sensorik jus dari ekstrak buah salak (Salacca edulis Reinw.) varietas Bongkok. Metode penelitian menggunakan dua tahapan perlakuan. Untuk tahapan perlakuan pertama, membuat serbuk (simplisia) dari buah salak, ekstraksi simplisia dengan etanol 70%, terakhir membuat jus buah dengan rasio antara ekstrak dan air, masing-masing (1:2); (1:3); (1:4); (1:5); (1:6), (1:7); (1:8); dan (1:9). Tahap perlakuan kedua adalah uji vitamin C, kadar alkohol, viskositas, dan uji sensorik dari jus buah salak. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan dan ulangan sebanyak tiga kali untuk setiap kombinasi perlakuan sehingga diperoleh dua puluh empat percobaan. Rancangan analisis dibuat analisis variasi, selanjutnya untuk uji beda nyata menggunakan metode Duncan. Jus ekstrak buah salak Bongkok yang terpilih adalah jus dengan rasio antara ekstrak etanol dari buah dan air (1:4), dengan kadar Vitamin C adalah 3,38 mg/100 g; kadar alkohol 0,87%; viskositas 0,0139 Cp; warna 3,57; aroma 4,0 dan rasa 4,22.
Pengaruh Aktivator Terhadap Kemampuan Bubuk Biji Alpukat (Persea americana Mill) dalam Menjerap Ion Timbal (II) Kartika, Ganis Fia; Itnawita, Itnawita; Hanifah, T. Abu; Anita, Sofia; Dewi, Nur Oktri Mulya; Absus, Suharsimi
Chimica et Natura Acta Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.917 KB) | DOI: 10.24198/cna.v5.n1.12814

Abstract

Penggunaan limbah buah sebagai adsorben berbiaya rendah untuk mengurangi pencemaran akibat logam telah menarik banyak perhatian. Pada penelitian ini akan dibuat adsorben dari bubuk biji alpukat (Persea Americana Mill) yang diaktivasi menggunakan dua jenis aktivator yaitu HCl dan H2SO4. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh aktivator terhadap bubuk biji alpukat dalam menjerap ion Pb(II). Variasi konsentrasi aktivator (2,5; 5; dan 7,5%) dilakukan untuk mendapatkan adsorben dengan kemampuan daya jerap terbaik.Hasil karakterisasi terhadap bubuk biji alpukat yang telah diaktivasi menunjukkan bahwa konsentrasi optimum HCl sebagai aktivator adalah 2,5%, sedangkan H2SO4 yaitu 7,5%. Bubuk biji alpukat yang telah diaktivasi kemudian diuji kemampuan daya jerapnya terhadap ion Pb(II). Kandungan logam Pb dalam larutan sebelum dan setelah proses adsorpsi dianalisis menggunakan metode Spektroskopi Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis aktivator tersebut dapat meningkatkan penyerapan timbal dalam larutan jika dibandingkan hasil adsorpsi bubuk biji alpukat tanpa aktivasi. Efisiensi penjerapan bubuk biji alpukat yang diaktivasi menggunakan HCl dan H2SO4 masing-masing sebesar 96,81 dan 83,56% terhadap larutan Pb dengan konsentrasi 10 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa aktivator HCl bersifat lebih baik dibandingkan H2SO4 dalam menjerap ion Pb(II) dalam larutan.
SINTESIS PREKURSOR SENYAWA BEAUVERICIN, ASAM (2R)-ASETILOKSIISOVALERAT Maharani, Rani; Taufiqqurahman, Taufiqqurahman; Puspitasari, Dina
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.742 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n3.9217

Abstract

Beauvericin merupakan heksadepsipeptida siklik yang diproduksi oleh berbagai jamur seperti Beauveria bassiana dan Fussarium spp. Penelitian mengenai sintesis senyawa beauvericin telah dilakukan melalui media mikrobiologi, namun sintesis dengan metode sintesis peptida masih belum banyak dilaporkan. Sedikitnya laporan mengenai sintesis senyawa beauvericin disebabkan sulitnya akses terhadap pengadaan material sintesis atau prekursor senyawa yang bersangkutan.Prekursor dari senyawa beauvericin adalah asam amino N-metilfenilalanin dan asam hidroksi isovalerat. Dalam kaitannya dengan sintesis total peptida dalam fase padat yang akan dilakukan, asam hidroksi isovalerat (Hiv) akan sulit ditambahkan ke dalam resin, sehingga senyawa ini harus ditambahkan kedalam resin dalam bentuk depsidipeptida, Fmoc-MePhe-Hiv.Sintesis depsidipeptida ini merupakan rangkaian 4 tahap reaksi, yakni, diazotisasi-perlindungan t-Bu-pelepasan asetiloksi-kopling.Dalam penelitian ini,tahap diazotisasi akan dilaporkan. Asam (2R)-asetiloksiisovalerat disintesis dari D-valin melalui reaksi pembentukan garam diazonium dengan penambahan NaNO2 dan asam asetat.Proses sintesis dikontrol dengan kromatografi lapis dan dimurnikan dengan metode kromatografi kolom terbuka. Produk sintesis dikarakterisasi dengan berbagai teknik spektroskopi meliputi spektrofotometer inframerah, spektroskopi massa (LC-MS),1H-NMR dan 13C-NMR. Senyawa asam (2R)-asetiloksiisovalerat diperoleh dengan rendemen 62,7%.
Abu Ilalang Sebagai Katalis Basa untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah dengan metode BeRA (Biodiesel Electrocatalytic Reactor) Wicaksana, Aditya S.A.; Lestari, Ratih; Inayatullah, Nur; Yustika, Yustika; Putra, Rudy S.
Chimica et Natura Acta Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.134 KB) | DOI: 10.24198/cna.v5.n3.16073

Abstract

Pada penelitian ini pengabuan ilalang dilakukan pada suhu 900°C selama 8 jam dan digunakan sebagai katalis basa pada pembuatan biodiesel yang dilakukan dengan proses elektrokatalitik menggunakan elektrode grafit dengan tegangan DC 18,2 V. Proses elektrokatalitik campuran minyak jelantah, metanol dan katalis abu ilalang (2, 3 dan 5% berat katalis terhadap minyak) berlangsung pada suhu kamar dengan rasio molar minyak terhadap metanol sebesar 1:6 selama 60 menit dengan perbandingan volume pelarut THF terhadap metanol sebesar 1:1. Karakterisasi abu ilalang dilakukan dengan menggunakan XRF dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mineral alkalis tertinggi terdapat pada abu akar ilalang (Ca 3,99%) yang menghasilkan 55,65% rendemen biodiesel dengan tingkat efisiensi produksi 41,01% pada aplikasi 5% katalis dengan minyak kedelai sebagai bahan baku produksi. Untuk katalis yang sama pada minyak jelantah dihasilkan 44,47% rendemen biodiesel dengan tingkat efisiensi produksi 41,79%. Selain itu efisiensi produksi biodiesel dengan proses elektrokatalitik menggunakan katalis akar abu ilalang adalah lima kali lebih besar dibandingkan proses tanpa katalis. Melalui penggunanaan abu ilalang sebagai katalis untuk produksi biodiesel dari minyak jelantah diharapkan dapat mengurangi penyebab kebakaran lahan oleh tanaman ilalang sehingga meningkatkan kesuburan lahan pertanian dan mengurangi kuantitas limbah minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan serta tersedianya bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan.
PENGARUH PENGGUNAAN BENTONIT TERAKTIVASI ASAM SEBAGAI KATALIS TERHADAP PENINGKATAN KANDUNGAN SENYAWA ISOPULEGOL PADA MINYAK SEREH WANGI KABUPATEN GAYO LUES – ACEH Mahmudha, Siti; Nugraha, Irwan
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.8 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n3.10921

Abstract

Studi yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bentonit teraktivasi asam sebagai katalis terhadap peningkatan kandungan senyawa isopulegol pada minyak sereh wangi Kabupaten Gayo Lues Aceh telah dipelajari. Aktivasi bentonit dilakukan dengan menggunakan larutan H2SO4 0,6 M, HCl 0,5 M dan HNO3 0,1 M. Hasil aktivasi dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared (FT-IR) dan X-Ray Difraction (XRD). Reaksi minyak sereh wangi dengan bentonit alam dan bentonit teraktivasi asam dilakukan selama 30 menit pada suhu 30°C. Produk yang dihasilkan di analisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bentonit berperan sebagai katalis dalam peningkatan  kandungan senyawa isopulegol yang merupakan isolat dari senyawa sitronellal. Sitronellal adalah salah satu senyawa monoterpena yang dapat mengalami reaksi siklisasi dengan katalis homogen dan heterogen. Kandungan isopulegol mengalami peningkatan dari 12,66% menjadi 14,05% pada bentonit alam; 30,11% pada bentonit teraktivasi H2SO4 0, 6M; 32,70% pada bentonit teraktivasi HCl 0,5 M dan 14,34% pada bentonit teraktivasi HNO3 0,1 M.

Page 2 of 38 | Total Record : 372