cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal)
ISSN : 20865554     EISSN : 26140470     DOI : -
Core Subject : Social,
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) is published by the Faculty of Social and Political Science of the University of Pelita Harapan. The journal aims to facilitate the exchange and deployment of scientific ideas by academics and practitioners in the field of International Relations. The topics in Verity consist of International Political Economy, Security Studies, Poverty and Social Gap, International Development, Regional and International Cooperation, International Organized Crime, Human Rights, Nationalism and Conflict, Global Governance, Gender, Globalization, Diplomatic Relations, and Economic Development. Verity has been published since 2009 and it is a bi-annual publication with an issue in January-June and another in July–December.
Arjuna Subject : -
Articles 114 Documents
Dissecting the Humanitarian and Environmental Priority in Global Politics [Membedah Prioritas Kemanusiaan dan Lingkungan dalam Politik Global] Imanuel, Gloria Miracle Melody; Fani, Guillermo Valles; Supit, Christina Nataysha; Pandie, Nathaniel Henry; Kryzstov, Sean
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 15, No 30 (2023): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v15i30.8173

Abstract

Human rights and environmental issues have come to be one of the most sought-after topics of discussion and endless debates amongst world leaders and citizens of the Earth. Both topics encompass the concepts of freedom, life and survival for all humans who roam the Earth in an equal manner. As of late, the debate regarding human rights and environmental issues is being overshadowed by conflicts between nations, political and economic rivalry, and a progressive inclination away from a united international society. Although it is understandable as to why world governments would prefer to prioritize such topics of concern, human rights violations outside of such topics along with environmental issues like climate change must not be set aside only to be picked up again some other time of convenience. Therefore, we must investigate ways for us to properly understand the scale of severity and utter importance these topics must remain amidst other conflicts. This paper seeks to do just that, by providing material and explanations regarding the topics and reaching the conclusion. The methodology used to research and collect data includes various credible journals and websites as secondary sources while obtaining its primary sources via interviews with credible experts on the topics that will be discussed.
Strategi Ekonomi Biru (Blue Economy) Indonesia dalam Menangani Overfishing di Perairan Indonesia [Indonesia's Blue Economy Strategy in Handling Overfishing in Indonesian Waters] Azzumar, Muhammad Arsy; Annamira, Raisa Nur; Syafiq, Muhammad Farras; Sari, Deasy Silvia; Sulaeman, Dina Yulianti
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 16, No 31 (2024): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v16i31.8694

Abstract

As an archipelagic country, Indonesia is surrounded by water. Hence, Indonesia is blessed with abundant resources from the sea. However, this brings a series of threats to Indonesia. Amongst them is the issue of overfishing. The country then is committed to fighting the issue through the blue economy approach. The approach is believed to bring not only economic benefits, but also ecological sustainability and security. This research is trying to find how the approach is implemented. The research employs a qualitative approach and a descriptive method. Secondary data is gathered from literature studies and online research. The results show that Indonesia has created a blue economy road map that targets the year 2045 to tackle the overfishing problem. The road map is used to optimize the potential of the sea as well as to overcome environmental problems and this is done through the establishment of marine protected areas. The blue economy road map is concrete evidence of Indonesia’s governments to preserving the sea and keeping the future generation intact.Bahasa Indonesia Abstract: Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah laut yang cukup luas dan mengelilingi kepulauannya. Oleh karenanya, potensi laut yang dimiliki oleh Indonesia juga cukup besar. Namun, di balik besarnya potensi laut Indonesia terdapat ancaman yang dihadapi oleh Indonesia. Salah satunya adalah masalah penangkapan ikan yang berlebih (overfishing). Untuk menghadapi masalah tersebut, Indonesia memperkenalkan strategi yang menggunakan konsep ekonomi biru (blue economy) untuk mengatasi masalah overfishing yang dinilai dapat meningkatkan keuntungan tanpa mengorbankan keberlanjutan dan keamanan ekologis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, dengan metode deskriptif. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari studi kepustakaan dan penelusuran daring. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Indonesia telah membuat sebuah peta jalan (road map) ekonomi biru dengan target tahun 2045 untuk menghadapi masalah di kelautan terutama overfishing. Peta jalan tersebut untuk mengoptimalkan potensi kelautan yang ada di Indonesia dan mengatasi berbagai masalah dan juga menjaga lingkungan hidup laut lewat pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKL). Penggunaan ekonomi biru dalam peta jalan yang dibuat oleh Indonesia ini adalah bentuk nyata upaya pemerintah Indonesia untuk mengembangkan potensi sumber daya laut yang dimiliki oleh Indonesia yang didasari pada prinsip berkelanjutan agar dapat dimanfaatkan secara terus menerus tanpa mengorbankan keuntungan di masa depan.
Analisis Risiko Politik dan Keamanan PT Freeport Indonesia sebagai Dampak dari Kebijakan Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2024 [Analysis on the Political and Security Risks of PT Freeport Indonesia as the Impact of the Policy of the 2024 General Election Candidacy] Putri, Sisilia; Pandjaitan XIV, Qanszelir GB
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 15, No 30 (2023): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v15i30.8174

Abstract

The visions and missions of each presidential and vice-presidential candidate pair in the 2024 elections have the potential to create changes in regulations, policies, and governance of the mining industry in Indonesia. These changes pose political and security risks for foreign mining industries, one of which is PT Freeport Indonesia with McMoRan investments. This study aims to explore the impact of political change on the operational stability of PT Freeport Indonesia, identify the role of government policy in addressing economic inequality, and propose more inclusive and sustainable policy alternatives. To spell out the phenomenon, the researcher used qualitative research methods with comparative analysis techniques through documentation studies. The results show there are potential political and security risks to Freeport McMoRan's operational stability in the context of cohesiveness of government, strength of within-system opposition, rule of law, and corruption. The tightening of regulations under the leadership of Anies Baswedan and Muhaimin Iskandar are projected to disrupt or change the operational conditions of PT Freeport Indonesia. Meanwhile, the leadership of Prabowo Subianto and Gibran Rakabuming Raka are not considered to have a significant impact on Freeport-McMoran. Meanwhile, the emphasis on governance regulations under the leadership of Ganjar Pranowo and Mahfud MD will inflict uncertainty for the mining industry and investment in Papua. The upcoming leadership regulations promise positive changes for development and the environment in Indonesia, but too drastic policy changes could negatively impact the mining companies and the long-term investments.Bahasa Indonesia Abstract: Visi dan misi masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024 berpotensi melahirkan perubahan regulasi, kebijakan, dan tata kelola industri tambang di Indonesia. Perubahan tersebut menimbulkan risiko politik dan keamanan bagi industri pertambangan asing, salah satunya adalah PT Freeport Indonesia dengan investasi McMoRan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak perubahan politik terhadap kestabilan operasional PT Freeport Indonesia, mengidentifikasi peran kebijakan pemerintah dalam mengatasi ketimpangan ekonomi, serta mengusulkan alternatif kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Untuk menguraikan fenomena tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknis analisis komparatif melalui studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi risiko politik dan keamanan pada kestabilan operasional Freeport McMoRan dalam konteks cohesiveness of government, strength of within-system opposition, rule of law, dan corruption. Pengetatan regulasi pada kepemimpinan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar diproyeksikan akan mengganggu atau mengubah kondisi operasional PT Freeport Indonesia. Sementara itu, kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dinilai tidak menimbulkan dampak yang signifikan bagi Freeport - McMoran. Adapun, penekanan regulasi tata kelola pada kepemimpinan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD akan menimbulkan ketidakpastian bagi industri tambang dan investasi di Papua. Regulasi kepemimpinan mendatang menjanjikan perubahan positif bagi pembangunan dan lingkungan di Indonesia, tetapi perubahan kebijakan yang terlalu drastis dapat berdampak negatif bagi perusahaan tambang dan investasi jangka panjang.
Potensi Ancaman Penggunaan Moda Cryptocurrency Crowdfunding dalam Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (Terrorist Financing) Menurut Tipologi Freeman dan Davis [The Potential Threat of the Cryptocurrency and Crowdfunding Modes in Terrorist Financing Criminal Act According to Freeman and Davis Typology] Pratomo, Muhammad Faiq Adi
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 16, No 31 (2024): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v16i31.8695

Abstract

This paper examines the threat of the use of cryptocurrency and crowdfunding, and crowdfunding using cryptocurrency, as a newly emergent threat in terrorist financing. It uses the terrorist funding typologies created by Freeman, supplemented by Davis, to identify the threat presented using these modes of financing. It argues for two conclusions: first, that the use of cryptocurrency adds an added layer of security and reliability to funding sourced by traditional actors, such as state transfers and individual donations by rich donors. Second, the use of crowdfunding allows terrorist organizations, especially those in Southeast Asia, to tap a heretofore untapped market in potential funders, especially at the micro level. Taken together, crowdfunding and cryptocurrency present significant threats to the present Combating the Financing of Terrorism (CFT) regime.Bahasa Indonesia Abstract: Tulisan ini menjelaskan ancaman penggunaan mata uang kripto dan urun dana, serta urun dana dengan menggunakan mata uang kripto sebagai ancaman terbaru dalam dunia pendanaan terorisme. Hal ini menggunakan tipologi pendanaan terorisme yang dibuat oleh Freeman, yang dilengkapi oleh Davis, untuk mengidentifikasi ancaman yang dihadapi dengan menggunakan moda pendanaan tersebut. Tulisan ini memiliki dua kesimpulan argumen. Pertama, penggunaan mata uang kripto menambahkan lapisan keamanan dan keandalan untuk pendanaan yang bersumber dari aktor-aktor tradisional, seperti pendanaan dari negara dan donasi individual dari pendonor yang mapan, Kedua, penggunaan moda urun dana memampukan organisasi terorisme, khususnya yang berpusat di Asia Tenggara, untuk memasuki pasar yang sebelumnya sulit dimasuki oleh donator potensial, terutama di tingkat mikro. Jika digabungkan, urun dana dan mata uang kripto menyediakan ancaman yang signifikan terhadap rezim Combating the Financing of Terrorism (CFT) saat ini.
Papua under Joko Widodo's Administration: Implications for Australia-Indonesia Bilateral Relations [Papua di Bawah Pemerintahan Joko Widodo: Implikasi terhadap Hubungan Bilateral Australia-Indonesia Lantang, Floranesia
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 14 No. 28 (2022): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v14i28.6569

Abstract

The issue of Papua is a “pebble in the shoe” for Indonesia. Unresolved past human rights violations, discrimination, and poverty remains the spotlight of countries especially the South Pacific Island, not to mention Australia. Given the complexity of this region, Joko Widodo (Jokowi) has done some progress in this Eastern most Provinces. Development and security become the center of Jokowi’s approach, while at the same time slowly progressing on human rights issue. This research will have a particular focus on the policies of Jokowi from his first to second period regarding Papua. Furthermore, this research will discuss the implication of Jokowi’s policies to Papua for Australia-Indonesia bilateral relationship. This research uses descriptive research method with two concepts from international relations: national security and human security.  There are two main arguments derived from this topic: First, Jokowi’s approaches in Papua have shown Jakarta’s seriousness in developing Papua both from infrastructure and human resources sectors which aligned with national security and human security concept. Second, Australia must take an opportunity of Jokowi’s openness and approaches in Papua to at least addressing the reality and progress of this region for its public.Bahasa Indonesia Abstract: Isu Papua adalah "kerikil di dalam sepatu" bagi Indonesia. Kemiskinan, diskriminasi, dan bahkan pelanggaran HAM masa lalu selalu menjadi perhatian utama negara-negara baik di Pasifik Selatan, dan juga Australia. Melihat begitu kompleksnya isu Papua ini, Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan berbagai progres dengan penekanan pada aspek pembangunan dan keamanan sebagai pusat pendekatan ke Papua, sekaligus secara perlahan menyelesaikan isu HAM di Papua.  Penelitian ini berfokus pada kebijakan Jokowi dari periode pertama hingga kedua terkait Papua. Selanjutnya, penelitian ini membahas mengenai implikasi kebijakan Jokowi di Papua terhadap hubungan bilateral Australia-Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan dua konsep dari hubungan internasional yaitu keamanan nasional dan keamanan manusia. Dua argumentasi utama yang diangkat dari topik ini adalah: Pertama, pendekatan Jokowi di Papua telah menunjukkan keseriusan Jakarta dalam membangun Papua baik dari sektor infrastruktur maupun sumber daya manusia yang sejalan dengan konsep keamanan nasional dan keamanan manusia. Kedua, Australia perlu mengambil kesempatan dari keterbukaan dan pendekatan Jokowi di Papua untuk memaparkan realita dan progress kawasan ini kepada publik di Australia.
Dampak Perang Rusia Ukraina terhadap Peningkatan Inflasi Negara-negara Baltik [The Impact of Russia Ukraine War towards the Increase of Inflation in Baltic Countries] Pattinussa, Jhon Maxwell Yosua; Pratikno, Roy Vincentius; Nugroho, Rexford David
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 14 No. 28 (2022): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v14i28.6570

Abstract

After the COVID-19 economic crisis, the world economy is currently rocked by the Russia-Ukraine war crisis. Inflation and recession occurred in almost all countries. Scarcity of consumer goods occurred throughout Europe and resulted in a prolonged economic crisis over the past year. Some of the most affected countries are Estonia, Lithuania, and Latvia. As a result of these countries' dependence on resources and trade relations with Russia, as well as the European Union's economic policies in recent months, the Baltic countries have fallen into the countries with the highest inflation rates in Europe. Therefore, this journal article aims to understand how and what happened to these Baltic countries. By using a qualitative approach and focusing on providing descriptive-explanative explanations in this journal article, the writing team tries to provide in-depth identification and explanation of the contestation of interests that occurs, and how it impacts the economies of the Baltic countries. Bahasa Indonesia Abstract: Setelah krisis ekonomi COVID-19, saat ini perekonomian dunia diguncangkan dengan krisis perang Rusia-Ukraina. Inflasi dan resesi hampir terjadi di seluruh negara. Kelangkaan barang pakai barang konsumsi terjadi di seluruh wilayah Eropa dan mengakibatkan krisis ekonomi berkepanjangan selama setahun terakhir. Beberapa negara yang paling terkena dampaknya adalah negara Estonia, Lituania, dan Latvia. Akibat dari bergantungnya negara-negara tersebut pada sumber daya dan hubungan dagang dengan Rusia, serta kebijakan ekonomi Uni Eropa dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara Baltik terjerumus menjadi negara dengan tingkat inflasi tertinggi di Eropa. Maka dari itu tujuan dari artikel jurnal ini adalah untuk memahami bagaimana dan apa yang terjadi pada negara-negara Baltik ini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan berfokus untuk memberikan penjelasan secara deskriptif-eksplanatif pada jurnal arikel ini, tim tim penulis mencoba untuk memberikan identifikasi dan pemaparan secara mendalam mengenai kontestasi kepentingan yang terjadi, dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian negara-negara Baltik.
Wacana Relasi Kuasa Foucault dalam Bingkai Profesi Public Relations Perempuan di Indonesia [Foucault's Power Relations Narrative in the Framing of Women Public Relations Professions in Indonesia] Luhukay, Marsefio Sevyone
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 14 No. 28 (2022): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v14i28.6571

Abstract

There is a premise in public space that Public Relations (PR) profession exclusively ”˜belongs’ to women, yet at the same time, this premise acts as a constraint for women. The Glass Ceiling theory suggests that there is a power relations idea constructed in people’s minds in Indonesia and even around the world that supports the premise. Strategic positions such as Corporate Communications are dominated by men whereas women only have a bigger chance as subordinates. This indicates a patriarchal system and that men are the hegemon in Corporate Communications and women can only hold the PR professions. Moreover, women have a challenging time getting to top-level management. This leads to a question, asking what kind of knowledge the PR corporations live by that preserves the previous premise. From the literature study, the research finds that women are perceived to be more suitable for certain professions, such as pers, journalism, and media relations, and even serve as the ”˜face’ for their institutions, without bringing big concepts. Foucault’s idea on the obligation for women to be presentable seems to be relevant here. Women’s looks are the main consideration for companies’ hiring decisions. Men, on the other hand, are comfortably put in Corporate Communications positions. This must be deconstructed. Women must have strategies for bigger opportunities in their institutions, broaden their horizons, and improve their capabilities. This is aligned with the theory from Cutlip et. Al that it is imperative to continuously develop Skills, Knowledge, Abilities, and Qualities.Bahasa indonesia Abstract: Dalam ruang ruang publik, pertarungan wacana yang menyebutkan bahwa profesi Public Relations (PR) adalah profesi “milik” perempuan sekaligus profesi PR adalah profesi yang menjadi justru merupakan hambatan bagi praktisi PR perempuan menurut Glass Ceiling Theory, menunjukkan bahwa ada relasi kuasa yang terbangun dalam pemikiran dan pengetahuan yang sudah berlangsung bertahun-tahun dalam profesi PR di Indonesia, bahkan di dunia. Relasi kuasa yang terjadi di ruang publik bahwa posisi penting PR atau Corporate Communications adalah milik laki-laki masih menjadi pernyataan yang terus ada sampai saat ini, sedangkan perempuan dianggap sebagai subordinat semata. Artinya, dominasi, patriarki dan hegemoni laki-laki masih kental dalam profesi PR, maupun Corporate Commmunications, jika berbicara mengenai wacana kuasa sebagai pemimpin dalam organisasi. Sedangkan perempuan dipandang subordinat yang masih memiliki keterbatasan untuk menjadi PR setingkat manajemen papan atas. Namun, jika kembali melihat pernyataan bahwa pengetahuan apa yang dilestarikan oleh perusahaan di Indonesia sehingga praktisi PR dipersepsikan sebagai profesi khusus bagi perempuan? Dari studi literatur yang dilakukan, ditemukan bahwa PR masih dipandang sebagai profesi teknisi komunikasi (communication technician) yang lebih banyak dititikberatkan pada aktivitas media relations semata, di mana menjalin relasi atau hubungan baik dengan pers, wartawan, hingga menjalin relasi, menjadi “wajah” bagi organisasi dan bukan konsep “besar” seperti pemikiran strategis dan eksekusi program. Sehingga, wacana relasi kuasa Foucault terlihat di sini bahwa praktisi PR haruslah tampil cantik dan elegan masih mengemuka di masyarakat dan menjadi poin pertimbangan ketika akan mencari pekerjaan yang “terlihat” lebih menjanjikan bagi perempuan. Sementara posisi yang lebih strategis adalah wilayah laki-laki. Ketika menempati posisi manajemen papan atas, posisi PR dan Corporate Communications kebanyakan dipercayakan pada laki-laki. Oleh karena itu, praktisi PR perempuan perlu untuk lebih mengedepankan aktivitas yang strategis, memiliki pandangan yang cemerlang dan kemampuan yang setara dengan laki-laki dalam menjalankan profesinya sehari-hari. Termasuk yang dikatakan oleh Cutlip, et al, bahwa praktisi PR perlu terus mengasah Skill, Knowledge, Abilities, and Qualities.
Perbandingan Pembuatan dan Implementasi Kebijakan Indonesia dalam Menghadapi Status Darurat Narkotika dengan Filipina dan Portugal [The Making and Implementation of Indonesia's Policy in Facing the Narcotics Emergency Status in Comparison with the Philippines and Portugal] Pandjaitan XIV, Qanszelir GB; Novelina, Selly Stefany
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 14 No. 28 (2022): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v14i28.6572

Abstract

Indonesia is one of the countries that have to deal with narcotics problems. Even since the first period of President Joko Widodo's administration in 2014, Indonesia is often in the narcotics emergency status, where President Joko Widodo and other government officials have consistantly mentioning that status on numerous occassions. However, the making and the implementation of the narcotics-related policies in Indonesia have not reflecting any kind of seriousness in facing that aforementioned status. This is resulting in the number of any forms of narcotics-related crime that have not showed any signs of significant decline yet. In addition, people are often shocked with the kinds of people who became the actors of the narcotics-related crimes in Indonesia. Not only the civil society, but the government officials, celebrities, even the law enforcement officials are also the actors of the narcotics-related crime. This research is using the case study and comparative method by looking at the Philippines and Portugal who are also facing the similar status with Indonesia. The result of this research shows that Indonesia, either the government or the civil society, still have a lot of homeworks in dealing with the narcotics emergency status in comparison with the Philippines and Portugal who are facing the similar narcotics emergency status with Indonesia.Bahasa Indonesia Abstract: Indonesia adalah salah satu negara yang selalu harus berurusan dengan permasalahan narkotika. Bahkan, sejak memasuki periode pertama Presiden Joko Widodo pada 2014, Indonesia sering disebut berada dalam status darurat narkotika, di mana Presiden Joko Widodo dan para pemangku jabatan pemerintahan lainnya juga sering menyampaikan status tersebut di berbagai kesempatan. Namun, pembuatan dan implementasi kebijakan di Indonesia yang berkaitan dengan narkotika belum bisa mencerminkan adanya keseriusan dalam menghadapi status darurat narkotika tersebut. Hal ini berujung kepada angka kejahatan narkotika dalam berbagai bentuk belum menunjukkan adanya tanda-tanda mengalami penurunan yang berarti. Bahkan, variasi pelaku kejahatan narkotika di Indonesia cukup membuat banyak orang terheran-heran. Tidak hanya rakyat biasa, tetapi juga para pemangku jabatan, selebritas, bahkan aparat penegak hukum juga tidak luput sebagai pelaku kejahatan narkotika. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan komparatif dengan melihat Filipina dan Portugal yang kurang lebih berada dalam status darurat narkotika yang mirip dengan Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Indonesia, baik pemerintah dan masyarakat, masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menghadapi status darurat narkotika jika dilihat dari perbandingan dengan Filipina dan Portugal yang menghadapi status darurat narkotika yang serupa.
Peran Presidensi G20 Indonesia dalam Meningkatkan Literasi Digital [The Role of G20 Presidency in Improving Digital Literacy] Arlan, Adri; Kangmajaya, Avirell Felicia
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 15 No. 29 (2023): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v15i29.7403

Abstract

One of the focuses of the Indonesian Presidency G20 in 2022 is the digital economy. One of the priorities is digital literacy. Indonesia is known for being one of the lowest countries with a digital literacy rating in the world. Based on the Digital Literacy report, Indonesia's digital literacy index in 2021 was at the level of 3.49 with a maximum value of 5.00. This figure increased from 2020 to 3.46. An important aspect of improving digital skills and digital literacy is collaboration between stakeholders in digital transformation. Cooperation between G20 member countries can increase capability and capacity in digital skills. The Boston Consulting Group (BCG) predicted that potential gains in the digital economy will reach US$11 billion and will triple to US$33 billion by 2025. There must be significant lessons learned from Indonesia’s presidency to other G20 members to improve the quality of public policy on digital platforms.Bahasa Indonesia Abstract: Salah satu fokus Presidensi Indonesia dalam G20 tahun 2022 adalah ekonomi digital. Salah satu topik prioritas yang di dalamnya adalah literasi digital. Indonesia tercatat memiliki peringkat literasi digital yang rendah di dunia. Ada pun, berdasarkan laporan Status Literasi Digital 2021, indeks literasi digital Indonesia pada 2021 berada di level 3,49 dari nilai maksimum 5,00. Angka ini meningkat dari 2020 yang sebesar 3,46. Aspek penting dalam meningkatkan keterampilan digital dan literasi digital di Indonesia adalah melalui kerja sama antarpemangku kepentingan dalam mewujudkan transformasi digital. Kerja sama di antara negara-negara anggota G20 diharapkan mampu meningkatkan kapabilitas dan kapasitas dalam peningkatan keterampilan digital. Boston Consulting Group (BCG) bahkan meramalkan bahwa potensi keuntungan dalam ekonomi digital mencapai 11 miliar dolar AS dan akan mencapai hampir tiga kali lipatnya menjadi 33 miliar dolar AS pada 2025. Untuk itu perlu ada pembelajaran signifikan dari presidensi G20 Indonesia guna menciptakan kebijakan publik yang lebih berkualitas di platform digital dari negara-negara maju yang tergabung di dalamnya. 
Human Development and Mental Health: A Comparative Case Study of Indonesia and Singapore [Pembangunan Manusia dan Kesehatan Mental: Studi Komparatif Indonesia dan Singapura] Lung, Firman Daud Lenjau
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 15 No. 29 (2023): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v15i29.7404

Abstract

Mental health has been a subject of growing discussion for the past years. However, there is still an ongoing debate as to how it has been incorporated into the human development discussion, especially in the Southeast Asia region that mostly consisted of economically growing countries. This paper chooses Indonesia and Singapore to see the disparities and commonalities between the two countries in integrating mental health into their strategy and to what extent it has affected their human development. To answer the question, this paper utilises a combination of qualitative and quantitative data derived from the Human Development Index (HDI) from UNDP and other reports that constitutes the accessibility of mental health infrastructure to the general public. Despite the ongoing assumption that countries with higher HDI have better mental health coverage, the finding of this study illustrates how both in Indonesia and Singapore, access to mental health is heavily circumscribed. The growing awareness of people towards mental health problems is not being acquainted with proper response from stakeholders, namely the government; and sociocultural shift that eliminates stigmatisation surrounding the sufferers.Bahasa Indonesia Abstract: Kesehatan mental telah menjadi topik perbincangan yang hangat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih terdapat beragam perdebatan mengenai bagaimana kesehatan mental dapat diintegrasikan dalam diskusi pembangunan manusia, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang sebagian besar terdiri dari negara berkembang. Artikel ini memilih Indonesia dan Singapura untuk melihat perbedaan dan persamaan antara kedua negara dalam mengintegrasikan kesehatan mental terhadap strategi mereka dan sampai sejauh mana dapat memengaruhi pembangunan manusia mereka. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, artikel ini menggunakan kombinasi data kualitatif dan kuantitatif yang berasal dari Human Development Index (HDI) dari UNDP dan laporan lainnya yang menjelaskan daya akses infrastruktur kesehatan mental bagi khalayak umum. Meskipun terdapat asumsi yang mengatakan bahwa negara dengan HDI yang lebih tinggi memiliki cakupan kesehatan mental yang lebih baik, temuan dari artikel ini menggambarkan bagaimana di Indonesia dan Singapura akses terhadap kesehatan mental sangat dibatasi. Kesadaran orang yang semakin tinggi terhadap masalah kesehatan mental tidak dibarengi dengan tanggapan yang tepat dari pemangku kepentingan, khususnya pemerintah, dan pergeseran sosial-budaya yang menghapus beragam stigma di sekitar para penderita.

Page 9 of 12 | Total Record : 114