cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 216 Documents
Pengambilan Enzim Peroksidase dari Daun Tomat dengan Menggunakan Teknik Pertukaran Ion Tri Utami; Ahmad Ni'matullah Al-Baarri; Anang Mohamad Legowo
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.026 KB) | DOI: 10.17728/jatp.220

Abstract

Enzim peroksidase telah banyak digunakan untuk berbagai bidang baik industri, kesehatan, dan pangan. Peroksidase dapat diambil dari berbagai sumber, salah satunya adalah daun tomat. Hingga saat ini, daun tomat tidak banyak dimanfaatkan dan hanya menjadi limbah pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan proses purifikasi enzim peroksidase dari daun tomat dengan menggunakan teknik pertukaran ion. Larutan daun tomat dalam ammonium sulphate buffer dilewatkan ke dalam kolom yang berisi resin. Fraksi hasil elusi dikumpulkan dengan cara melewatkan NaCl dalam phosphate buffer (PB) ke dalam kolom. Fraksi ini kemudian diukur absorbannya pada spektrometer dengan panjang gelombang 280 nm. Jumlah fraksi yang berhasil didapat dari proses elusi ini adalah 90 fraksi. Berdasarkan pengamatan absorban, maka didapat bahwa fraksi dengan urutan ke-52 merupakan fraksi yang mempunyai nilai absorbansi yang terbesar, yaitu sebesar 0,220 dan mempunyai kandungan protein sebesar 0,144%. Penelitian ini telah berhasil untuk melakukan pengambilan enzim peroksidase. Penelitian ini sangat berguna untuk bahan informasi lanjutan untuk menganalisis enzim peroksidase dari daun tomat dan mempurifikasinya sehingga dapat membuka peluang penggunaan peroksidase dari sumber nabati yang relatif lebih murah harganya.Peroxidase enzyme has been widely used in several fields such as industries, medical, and food. One of the resources of peroxidase is tomato leaf, which was the waste in the agricultural field. This research was done to obtain peroxidase using ion exchange method. Tomato leaf solution in ammonium sulphate buffer was eluted through column containing resin. The NaCl was used to remove the attached enzyme to resin. Total obtained fraction from elution with NaCl was 90 fractions and all fractions were directly detected its absorbance at 280 nm. The result showed that fraction number 52 showed highest peak with the value of 0.220. Based on protein determination, fraction number 52 showed the protein content of 0.144%. This result may provide the information to further process of enzyme purification and take the advantage of waste product of tomato leaf to obtain peroxidase with a very cheap in price.
Perubahan Konsentrasi Biomassa, Kadar Asam Sianida (HCN), pH dan Tampilan Sensori dari Koro Pedang Selama Proses Fermentasi 4 Hari Felia Wahono; Setya Budi Muhammad Abduh; Nurwantoro Nurwantoro
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.254 KB) | DOI: 10.17728/jatp.194

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan biomassa, kadar asam sianida, pH, tekstur objektif dan tampilan sensori koro pedang yang difermentasi dengan jumlah inokulum yang berbeda selama 4 hari. Koro pedang kering, direndam dalam air selama 2 hari kemudian dikukus selama 30 menit sebelum ditambahkan inokulum berupa ragi tempe yang telah diketahui kepadatan selnya, sebanyak 1%, 2% dan 3% (b/b). Koro kemudian dibungkus dengan plastik yang telah dilubangi sekitar 10% dari luas areanya. Koro lalu diinkubasi selama 4 hari pada suhu 27 °C. Setiap 24 jam, mutu koro pedang diamati. Biomassa ditentukan secara TPC (Total Plate Count), kadar asam sianida ditentukan secara spektrofotometri, dan tampilan sensori dilakukan secara sensori. Selama fermentasi hingga 4 hari, koro pedang dengan inokulum 1%, biomassanya semakin banyak, asam sianidanya semakin rendah, pH-nya semakin rendah, tampilannya semakin kompak dan berwarna putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi inokulum 1% menghasilkan pola fermentasi yang konsisten dan mudah dipahami sesuai teori dengan mutu pada hari ke-4 yang masih dapat diterima. Penurunan kadar asam sianida yang terjadi mengindikasikannya sebagai efek dari dihasilkannya produk metabolit primer. This study was purposed observe the changes in some paramaters i.e. biomass, concentration of cyanide acid (HCN), pH, and sensory characteristic of Canavalia ensiformis during fermentation for four days. An amount of sun-dried Canavalia ensiformis were soaked in water for 2 days and then steamed for 30 minutes prior to addition of inoculum in 1%, 2% and 3% (w/w). Samples then were wrapped in 10%-hollowed transparetnt plastic bags and incubated for 4 days at 27°C. Every 24 hours, the quality of the fermented Canavalia ensiformis were observed. Biomass concentration was determined by mean of TPC (Total Plate Count), cyanide acid was determined by mean of spectrophotometry, whereas the visual appearance was determined by sensory assessment. During fermentation, Canavalia ensiformis with 1% inoculum resulted in a lowering concentration of cyanide, lowering concentration of biomass, lowering in pH, and more compact and white visual appearance. The results indicated that 1% inoculum yielded a consistent pattern in fermentation and easily understood in accordance with some theories. It also resulted in an acceptable final product. The lowering concentration in cyanid indicated that it was influenced by the production of primary metabolites.
Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Kandungan Antioksidan, Serat Pangan dan Komposisi Gizi Tepung Labu Kuning Wayan Trisnawati; Ketut Suter; Ketut Suastika; Nengah Kencana Putra
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.468 KB)

Abstract

Labu kuning termasuk dalam jenis sayuran, yang umumnya tumbuh di daerah tropis dan sub tropis. Labu kuning merupakan sumber bahan pangan lokal, yang selama ini diolah dengan cara direbus dan dikukus. Warna kuning pada labu kuning menunjukkan adanya senyawa β-karoten. Peningkatan nilai tambah labu kuning dapat dilakukan dengan mengolah menjadi tepung. Metode pengeringan sangat mempengaruhi kualitas tepung labu kuning yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan metode pengeringan oven dan OM terhadap kapasitas antioksidan, serat pangan, dan komposisi gizi tepung labu kuning. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji t-test terhadap variabel proksimat, kapasitas antioksidan, IC 50, serat pangan, dan β-karoten. Hasil analisis terbaik adalah menggunakan pengeringan metode OM, dengan kandungan kapasitas antioksidan sebesar 184.40 ppm, IC 50 2.39 mg/mL, β-karoten 67.83 mg/g, IDF 10.21%, SDF 5.00%, TDF 15.22%, kadar air 7.64%, kadar abu 5.31%, kadar protein 5.19%, kadar lemak 1.03% dan kadar karbohidrat 80.81%.
Peran Nutrasetikal Galohgor dalam Mempertahankan Berat Badan dan Menurunkan Glukosa Darah pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin Firdaus Firdaus; Rimbawan Rimbawan; Sri Anna Marliyati; Katrin Roosita
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.414 KB) | DOI: 10.17728/jatp.29

Abstract

Galohgor merupakan salah satu obat herbal tradisional yang lazim di daerah Bogor, Jawa Barat. Neutrasetikal ini tersusun atas 56 jenis bahan yang komposisinya terdiri dari 38 macam tanaman obat, 5 jenis rempah-rempah, 7 jenis kacang-kacangan dan 6 jenis temu-temuan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek nutrasetikal Galohgor dalam menurunkan kadar glukosa darah dan menjaga kestabilan berat badan  tikus diabetes yang diinduksi Streptozotocin (STZ). Penelitian ini menggunakan desain blok acak, 12 ekor tikus Sprague dawley jantan berumur 6 minggu diinjeksi dengan STZ secara intraperitoneal degan dosis 40 mg/kg berat badan dan diberikan sukrosa 30% secara ad libitum selama 4 minggu (masa induksi diabetes) kemudian dialokasikan secara acak kedalam 3 kelompok kemudian diberi intervensi selama 14 hari dengan perlakuan antara lain ekstrak nutrasetikal Galohgor 0,037 g/kg berat badan (Gal+STZ), metformn 62,5 mg/kg berat badan (Met+STZ), dan kelompok kontrol + STZ (K+STZ). Sebanyak 4 ekor tikus normal (N) tanpa perlakuan pemberian sukrosa dimasukkan kedalam kelompok kontrol normal. Hasil menunjukkan ekstrak nutrasetikal Galohgor (Gal+STZ) mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p<0,05) dan dapat membantu menjaga berat badan pada tikus diabetes yang diinduksi STZ. Kata kunci: Galohgor, streptozotocin, glukosa darah, berat badan, diabetesAbstract              Galohgor is one of the traditional herbal medicinel in Bogor, West Java. The Neutraceutical was prepared from 56 kinds of material consist of 38 medicinal plants, 5 herbs and spices, 7 nuts and 6  rhizomes in composition. The aims of this study was to investigate the effect of Nutraceutical Galohgor in maintenance of body weight and reducing blood glucose on diabetic rats induced by streptozotocin (STZ). The type of this study is randomized block design, a number of 12 male Sprague dawley rats on 6 weeks of age were induced with STZ intraperitoneally with dosage of 40 mg/kg body weight and giving with 30% sucrose ad libitum during 4 weeks (diabetic induction fase) and allocated randomly to three groups and treated for 14 days with i.e . nutraceutical Galohgor extract 0,037 g/kg body weight (Gal+STZ), Metformin 62,5 mg/kg body weight (Met+STZ) and control + STZ (K+STZ) group. Four normal rats were allocated as a normal control (N). Glucose level and body weight was measured every 3 days. The result showed that nutraceutical Galohgor extract (Gal+STZ) helped to maintenance body weight and reduced glucose level in diabetic rats significantly (P<0,05)  in diabetic rats induced with STZ. Key words : Galohgor, streptozotocin, blood glucose, body weight, diabetes
Es Krim Free Lactose Berbahan Dasar Sari Hanjeli sebagai Alternatif Pengganti Es Krim Susu bagi Penderita Lactose Intolerance Nur Afifah Dwi Purwati; Dian Handayani; Amalia Ruhana
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.423 KB)

Abstract

Hanjeli merupakan salah satu jenis serealia yang memiliki kandungan protein dan kalsium lebih tinggi dibandingkan dengan serealia lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber protein dan kalsium dalam pembuatan Es Krim Free Lactose yang dapat dikonsumsi oleh penderitalactose intolerance. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan protein dan kalsium, serta mutu organoleptik es krim free lactose berbahan dasar sari hanjeli. Metode penelitian adalah penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 5 perlakuan berdasarkan perbandingan antara hanjeli dan air, yaitu P1 (200%), P2 (100%), P3 (75%), P4 (60%), dan P5 (50%). Analisis statistik dari kandungan protein dan kalsium menggunakan One Way Anova dilanjutkan uji Tukey, sedangkan mutu organoleptik menggunakan one way anova dilanjutkan uji Duncan’s. Kandungan protein pada Es Krim Free lactose berkisar antara 2,72 ± 0,17 – 6,16 ± 0,05 gram per 100 gram sampel. Kandungan kalsium pada Es Krim Free Lactose berkisar antara 1190,62 ± 41,26 – 1485,62 ± 88,21 mg/L. Berdasarkan hasil uji organoleptik terhadap aroma, tekstur, dan rasa dari kelima perlakuan Es Krim Free Lactose, diketahui bahwa perlakuan yang paling disukai adalah P4 (60% hanjeli) dengan kandungan protein sebesar 2.91 ± 0.41 gram per 100 gram dan kalsium sebesar 1205,31 ± 37.65 mg/L. Kesimpulan dari penelitian ini: Es Krim Free lactose berbahan dasar sari hanjeli dapat memenuhi 83 – 103% kebutuhan protein dan 200 – 219% kebutuhan kalsium untuk snack. Sehingga dapat digunakan sebagai alternatif snack bagi penderita lactose intolerance.
Pengaruh Penambahan Karagenan pada Karakteristik Fisikokimia dan Sensoris Fruit Leather Nanas (Ananas Comosus L. Merr.) dan Wortel (Daucus Carota) Nurila Ciptaning Sidi; Esti Widowati; Asri Nursiwi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.577 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia (kadar air, kadar abu, kuat tarik, aktivitas air (aw), kadar serat pangan) dan karakteristik sensoris (warna, rasa, aroma, tekstur, overall) pada fruit leather nanas dan wortel dengan penambahan karagenan. Nanas berpotensi sioleah menjadi fruit leather, mempunyai aroma yang khas namun warnanya kuning pucat. Sehingga perlu ditambahkan wortel untuk memperbaiki warna produk. Permasalahan plastisitas sering muncul dalam fruit leather. Oleh karena itu perlu ditambahkan karagenan untuk memperbaiki tekstur dan memperkaya kandungan gizi fruit leather. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi karagenan yang ditambahkan (0,3%, 0,6% dan 0,9%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar abu dan kadar serat pangan dengan semakin tinggi konsentrasi karagenan yang ditambahkan pada fruit leather nanas dan wortel. Penambahan konsentrasi karagenan menyebabkan penurunan terhadap kadar air. Penambahan konsentrasi karagenan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap aktivitas air. Penambahan karagenan pada fruit leather nanas dan wortel memberikan pengaruh yang nyata terhadap tekstur dan overall namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap warna, rasa dan aroma. Rekomendasi kosentrasi terbaik adalah 0,6% untuk fisikokimia dan sensoris.
RESISTENSI PELELEHAN, OVER-RUN, DAN TINGKAT KESUKAAN ES KRIM VANILLA YANG TERBUAT DARI BAHAN UTAMA KOMBINASI KRIM SUSU DAN SANTAN KELAPA Masykuri Masykuri; Yoyok Budi Pramono; D Ardilia
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 3 (2012): Agustus 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.903 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi krim susu dengan krim santan kelapa terhadap resistensi pelelehan, “over-run”, dan tingkat kesukaan oada es krim vanilla. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan  Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Pembuatan dan pengujian es krim dilakukan di Laboratorium Pangan dan Gizi serta Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Materi penelitian yang digunakan adalah skim, krim susu, santan kelapa, gula pasir, kuning telur, CMC, “essence” vanili, dan aquades. Rancangan percobaan yang digunakan dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan yaitu kombinasi krim santan kelapa sebanyak 0% (T0), 25% (T1), 50% (T2), 75% (T3), 100% (T4) dari volume krim susu yang digunakan untuk pembuatan es krim vanilla dan empat ulangan. Data hasil pengamatan daya leleh dan “over-run” es krim dianalisis dengan analisa ragam dan bila terdapat perbedaan yang signifikan maka diuji lebih lanjut dengan Uji Wilayah Ganda Duncan. Nilai kesukaan es krim dianalisis dengan analisa ragam dan bila terdapat perbedaan yang signifikan maka diuji lebih lanjut dengan Uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi krim santan kelapa dengan krim susu dalam pembuatan es krim berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap resistensi pelelehan dan tingkat kesukaan es krim vanilla. Rerata resistensi pelelehan es krim pada perlakuan T0, T1, T2, T3, dan T4  yaitu 920, 874, 792, 765, dan 711 detik. Resistensi pelelehan es krim semakin turun disebabkan titik cair pada lemak krim santan kelapa lebih rendah daripada krim susu. Rerata “over-run” es krim pada perlakuan T0, T1, T2, T3, dan T4 yaitu 36,6%; 37,05%; 37,72%; 38,1%; 38,45%. Pengkombinasian krim susu dengan krim santan kelapa tidak menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik (P>0,05) terhadap nilai “over-run” es krim. Rerata skor tingkat kesukaan es krim pada perlakuan T0, T1, T2, T3, dan T4  yaitu 2,88; 3,44; 3,92; 3,32; 2,04 dari kisaran skor hedonik (amat sangat tidak disukai s/d amat sangat disukai). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh kombinasi krim susu dengan krim santan kelapa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap resistensi pelelehan dan tingkat kesukaan es krim vanilla. Kesimpulan final adalah kombinasi optimal terdapat pada T2.
Kajian Karakteristik Karboksimetil Selulosa (CMC) dari Pelepah Kelapa Sawit Sebagai Upaya Diversifikasi Bahan Tambahan Pangan yang Halal Mokhamad Khoiron Ferdiansyah; Djagal Wiseso Marseno; Yudi Pranoto
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.449 KB) | DOI: 10.17728/jatp.198

Abstract

Penggunaaan bahan tambahan pangan (BTP) menjadi salah satu kebutuhan dalam industri pengolahan pangan. Bahan penstabil pangan, seperti gelatin merupakan bagian dari BTP yang rawan bersumber dari bahan haram. Oleh karena itu diperlukan alternatif bahan penstabil lain yang bisa dimanfaatkan dalam pengolahan pangan yang bersumber dari bahan halal. Karboksimetil selulosa (CMC) merupakan bahan tambahan pangan dengan kode E 466 yang mempunyai peranan sebagai penstabil pangan. CMC dapat disintesis dari pelepah kelapa sawit yang mengandung selulosa dengan kadar 89%. Sebelum diaplikasikan dalam pengolahan pangan, perlu dilakukan kajian karakteristik CMC dari sumber pelepah kelapa sawit. Hasil karakterisasi CMC pelepah kelapa sawit telah memenuhi standar untuk diaplikasikan dalam pangan. Hasil karakterisasi tersebut antara lain nilai DS 0,75; kadar air 7,65%; dan nilai pH 6,72. Sedangkan hasil karakterisasi yang lain seperti nilai kemurnian 91,12% dan viskositas 11,65 cps belum memenuhi standar FAO. Data lain menunjukkan CMC pelepah kelapa sawit mempunyai nilai WHC 6,76 (g/g); OHC 1,69 (g/g) dan tingkat kecerahan 70,46.The use of food additives be one of the necessities in the food processing industry. Food stabilizers such as gelatin was part of the food additives that were prone sourced from illicit material. Therefore it was necessary an alternative other stabilizers can be used in food processing derived from halal ingredients. Carboxymethyl cellulose (CMC) was a food additive with the code E466 which has a role as a stabilizing food. CMC can be synthesized from palm midrib that contain cellulose content of 89%. Before applied in food processing, necessary to study the characteristics of the CMC from palm midrib. The results of characterization palm midrib CMC has met the standards to be applied in food. The characterization results include a DS value of 0.75; water content of 7.65%; and a pH value of 6.72. While the results of the other characterizations such as the value of purity of 91.12% and a viscosity of 11.65 cps not meet FAO standards. Other data show the CMC palm midrib WHC has a value of 6.76 (g / g); OHC 1.69 (g / g) and 70.46 lightness degree.
Perubahan Kelembaban dan Kadar Air Teh Selama Penyimpanan pada Suhu dan Kemasan yang Berbeda Aninda Ayu Arizka; Joko Daryatmo
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.912 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.6

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengemasan dan suhu penyimpanan terhadap kualitas teh hitam dan teh hijau. Kemasan yang digunakan untuk mengemas kedua teh ini adalah plastik bening, karung plastik, dan paper sack. Masing-masing teh dengan kemasan tersebut disimpan selama 10 minggu pada suhu 30oC dan 10oC. Variabel primer yang akan dianalisis adalah kelembaban dan kadar air teh pada beberapa jenis kemasan dan pada suhu penyimpanan yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa selama penyimpanan, kadar air teh dalam kemasan bertambah karena pengaruh kelembaban udara dan suhu ruangan penyimpanan. Penyimpanan teh pada suhu 10oC dinilai lebih mampu mempertahankan kualitas teh hijau dan berpotensi mempertahankan kualitas teh hitam dibandingkan penyimpanan pada suhu 30oC. Dibandingkan dengan plastik bening dan karung plastik, kemasan paper sack merupakan kemasan yang berpotensi paling baik dalam mempertahankan kualitas teh hitam dan teh hijau. Semakin rendah permeabilitas suatu kemasan, maka semakin tinggi kemampuan kemasan mencegah peningkatan kadar air.
Evaluasi Komposisi Zat Gizi dan Senyawa Antioksidan Kedelai Hitam dan Kedelai Kuning Nurrahman Nurrahman
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.27 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i3.133

Abstract

Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang penting bagi masyarakat Indonesia, yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan zat gizi protein. Kedelai dikonsumsi masyarakat sebagai lauk dan camilan. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan zat gizi kedelai hitam dengan kedelai kuning. Kedelai dari ketiga varietas sebelum dianalisa terlebih dahulu dihancurkan untuk dibuat tepung kedelai. Tepung kedelai yang diperoleh diayak dengan saringan ukuran 60 mesh. Analisa yang dilakukan meliputi analisa proksimat, asam amino, asam lemak, antosianin dan isoflavon (daidzein dan genistein). Ketiga varietas kedelai memiliki kandungan kimia yang menjadi parameter penelitian kecuali antosianin. Antosianin hanya ada di kedelai hitam, sedangkan kedelai kuning tidak terdeteksi. Ketiga varietas sama-sama mengandung 14 asam amino.