cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Tafaqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman
ISSN : 23383186     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
Analisis Teori Keadilan John Rawls Dalam Penentuan Nafkah Madliyah Pada Perkara Cerai Talak di Pengadilan Agama Kabupaten Jombang Nurcholis, Moch.; Izzah, Ayra Channifah Fahrun
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v12i2.3212

Abstract

Pada perkara cerai talak dalam putusan Pengadilan Agama Kabupaten Jombang, nominal nafkah madliyah yang terkandung dalam setiap putusan berbeda-beda, sedangkan hakim yang ditunjuk untuk menangani perkara tersebut sama. Hal ini menunjukkan ketidak konsisten-an hakim dalam menentukan besaran nafkah madliyah. Dari sinilah timbul dua permasalah yang akan dikaji dalam penelitian ini; pertama, Bagaimana pertimbangan hakim dalam menentukan besaran nafkah madliyah pada perkara cerai talak dalam putusan yang ditetapkan oleh hakim Pengadilan Agama Jombang? Kedua, Bagaimana pertimbangan hakim dalam menentukan besaran nafkah madliyah pada perkara cerai talak perspektif teori keadilan John Rawls? Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan menggunakan pendekatan studi kasus dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang didapat kemudian dianalisis dengan pola deduktif-induktif. Dari penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa hakim Pengadilan Agama Jombang dalam menentukan besaran nafkah madliyah pada perkara cerai talak menggunakan pertimbangan 1. Kesepakatan bersama dalam mediasi; 2. Melihat penghasilan pekerjaan suami; 3. Jumlah nominal kebiasaan yang sudah berjalan ketika memberikan nafkah kepada istri; 4. Kesediaan suami. Kedua, hakim pengadilan agama jombang dalam menentukan besaran nafkah madliyah pada perkara cerai talak dengan ketiga prinsip-prinsip keadilan John Rawls diantaranya Equal Liberty Of Principle (prinsip kebebasan yang sama), Difference Principle (prinsip perbedaan), dan Equal Opportunity Principle (prinsip persamaan kesempatan) sudah selaras dan berkesinambungan dalam masing-masing prinsip.
Peran Orang Tua dalam Implementasi Program LKKNU untuk Mencegah Pernikahan Dini di Sumenep AS, Rozinah
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v12i2.3578

Abstract

The Nahdlatul Ulama Family Benefits Institute (LKKNU) program has a role in prevention efforts through counseling and assistance to the community. However, the role of parents in implementing this program still needs to be explored in more depth. This research aims to analyze the role of parents in supporting the implementation of the LKKNU program to prevent early marriage in Sumenep. The problem formulation in this research is: What is the role of parents in participating and supporting the LKKNU program? What are the factors that influence the success of parents' role in preventing early marriage through the LKKNU program? The research method used is qualitative with a descriptive approach. Data was collected through in-depth interviews with parents involved in the LKKNU program, as well as observations of the activities held. The theories used are community participation theory and social change theory, which explains how parental involvement can influence social change in preventing early marriage. The research results show that the role of parents is very significant in the success of the LKKNU program. Their support in terms of active participation and providing information to their children has succeeded in reducing the rate of early marriage in Sumenep. This research also recommends the need to increase education to parents about the importance of the program.
Qs. Asy Syura:38 Pada Praktik Sosial: Musyawarah Dalam Komunikasi Para Lintas Tokoh Antar Agama Shafa, Shafa; Said, Muhammad Nor
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.3746

Abstract

Abstract: This study examines the application of the principle of shura (consultation) in the Qur’an, particularly based on QS. Asy-Shura: 38, within the context of interfaith communication in Indonesia. Given the country’s religious diversity, social tensions often arise and pose threats to national harmony. This paper argues that shura, as a dialogical and inclusive decision-making method, can serve as a vital tool in fostering tolerance and social cohesion among religious communities. Using a qualitative library research approach, this study analyzes contemporary interpretations of the verse and connects them with real-life practices such as national interfaith summits and digital religious dialogue content. The findings indicate that shura aligns with democratic values and supports the social construction of peace through the processes of externalization, objectivation, and internalization, as theorized by Peter L. Berger. Therefore, this Qur’anic value offers a practical, inclusive, and adaptable framework for interreligious engagement in a pluralistic society.
Transformasi Tafsir Gender Qur’ani: Mewujudkan Keadilan Produksi Dan Konsumsi Halal Berbasis Inklusivitas Gender Amir, A. M. Nur Atma; Abubakar, Achmad; Irham, Muhammad
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.3756

Abstract

Industri halal global masih menghadapi kesenjangan partisipasi perempuan akibat minimnya kebijakan sensitif gender dan tafsir Al-Qur’an yang bias patriarkal. Penelitian ini mengkaji bagaimana transformasi tafsir gender Qur’ani dapat menjadi landasan normatif bagi keadilan produksi dan konsumsi halal yang inklusif. Metode yang digunakan adalah kualitatif-eksploratif dengan tafsir maudhu‘i, kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, serta telaah dokumen kebijakan sertifikasi halal. Analisis ayat QS. al-Nisa’ [4]:32, al-Aḥzāb [33]:35, dan al-Ḥujurāt [49]:13 menunjukkan bahwa tafsir kontekstual menegaskan kesetaraan hak dan peran ekonomi gender. Hasil penelitian memetakan ayat-ayat tersebut ke dalam tujuan syariah dan menghasilkan matriks indikator audit halal responsif gender yang meliputi akses modal, pelatihan sertifikasi, dan edukasi konsumen. Kesimpulannya, tafsir Qur’ani progresif menyediakan dasar strategis untuk mereformasi standar sertifikasi halal dan memperkenalkan label “Halal Inklusif Gender.”
Pemikiran Fazlur Rahman (Pragmatis-Instrumental) Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Dunia Pendidikan Islam Kontemporer Alfurqon, Muhamad Hadli; Siregar, Maragustam
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.3787

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis pemikiran Fazlur Rahman mengenai pendidikan Islam, khususnya dalam pendekatan pragmatis-instrumental, serta menganalisis relevansinya terhadap sistem pendidikan Islam kontemporer. Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah stagnasi dalam sistem pendidikan Islam tradisional yang ditandai dengan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia, pendekatan literalistik, serta minimnya pengembangan nalar kritis dalam proses belajar-mengajar. Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data dikumpulkan melalui telaah terhadap karya-karya utama Fazlur Rahman seperti Islam and Modernity, Major Themes of the Qur’an, serta berbagai artikel akademik dan kajian sekunder yang relevan. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis) terhadap teks dan pemikiran Rahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fazlur Rahman menawarkan paradigma pendidikan Islam yang integratif, dinamis, dan kontekstual. Ia menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu dunia, serta mengusulkan pendekatan hermeneutik historis melalui metode “double movement” untuk menafsirkan ajaran Islam secara relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan, menurut Rahman, harus menjadi alat transformasi sosial yang membentuk intelektualisme Islam yang kritis dan etis, bukan sekadar pewarisan teks klasik. Temuan ini menunjukkan bahwa pemikiran Fazlur Rahman dapat dijadikan dasar konseptual dan praktis untuk merancang sistem pendidikan Islam yang lebih adaptif dan transformatif di era modern.
Nilai-Nilai Sufistik Dalam Kitab Khaṣā’iṣ al-Muṣṭafā Karya Nasiruddin Mughalthai Al-Hamimy, Muhammad Faishol; Prayogi, Rizal Mifthakhul; Siswanto, Eko
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4056

Abstract

This study aims to reveal the Sufi values contained in the book Khaṣā’iṣ al-Muṣṭafā by Nāṣiruddīn Mughālṭāy, an 8th-century H. scholar of hadith. This book, which contains short narratives about the special characteristics of the Prophet Muhammad SAW, is analyzed using a qualitative approach through content analysis. The focus of the study is to explore how the manifestation of Sufi values in the stories and behavior of the Prophet makes him an ideal model (al-uswah al-hasanah) in Islamic spirituality. The findings show that the spiritual dimension of the Prophet Muhammad SAW in the book represents several profound Sufi values, including tawakkal, ma'rifah, mahabbah, zuhud, ikhlas, muraqabah, tawāḍu', iḥsān, and ṣabr. In conclusion, Khaā’iṣ al-Muafā not only affirms the prophetic status of Muhammad SAW but also positions him as a perfect figure (al-insān al-kāmil), serving as the main reference in the Sufi tradition. The implication of this research is the affirmation that the Prophet's spiritual example is integral and comprehensive, providing an ethical-religious foundation for those who walk the Sufi path.
Relevansi Pemikiran Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi Sebagai Solusi Terhadap Krisis Moral dan Intelektual Generasi Digital Sianly, Sekar; Nabila, Nadia; Sari, Herlini Puspika
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4094

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi sebagai landasan konseptual dalam menghadapi krisis moral dan intelektual generasi digital. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis melalui studi pustaka, penelitian ini mensintesiskan gagasan filosofis ketiganya yang menekankan integrasi antara rasionalitas, moralitas, dan spiritualitas dalam pendidikan. Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang bertujuan membentuk akhlak mulia dan kematangan spiritual. Ibnu Sina menitikberatkan pendidikan pada pengembangan potensi manusia melalui pendekatan rasional, moral, dan sesuai tahap perkembangan untuk mencapai al-insan al-kamil (manusia sempurna). Sementara itu, Al-Farabi melihat pendidikan sebagai instrumen pembentukan al-madinah al-fadhilah (masyarakat utama) yang berlandaskan keadilan, ilmu, dan etika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran ketiganya tetap relevan di abad ke-21 sebagai panduan dalam menyeimbangkan kemajuan intelektual dengan kesadaran etis dan tanggung jawab digital. Sintesis gagasan Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi memberikan kerangka filosofis sekaligus praktis bagi pembentukan generasi digital yang cerdas, berakhlak, dan berlandaskan nilai spiritual.
Implikasi Akhlak Kepada Allah SWT di Era digital: Solusi Krisis Moral dan Sekularisasi Ilmu Hidayati, Eni; Hidayat, Nur; Purnawati, Retno Try
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi akhlak kepada Allah SWT sebagai solusi terhadap krisis moral dan sekularisasi ilmu di era digital. Fenomena modernisasi dan kemajuan teknologi telah membawa dampak serius terhadap degradasi spiritual serta pemisahan antara ilmu pengetahuan dan nilai ketuhanan. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini menelaah pandangan dari berbagai sumber ilmiah mengenai pentingnya integrasi nilai akhlak dan tauhid dalam sistem pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa lemahnya penerapan akhlak kepada Allah SWT menyebabkan disorientasi moral, perilaku digital yang menyimpang, dan sekularisasi ilmu. Sebaliknya, penguatan nilai-nilai seperti takwa, ikhlas, syukur, dan muraqabah mampu menuntun manusia untuk menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Pendidikan Islam yang berlandaskan wahyu dan akal menjadi sarana utama dalam membentuk manusia berilmu yang beriman, sekaligus mencegah terjadinya pemisahan antara sains dan spiritualitas. Dengan demikian, penerapan akhlak kepada Allah SWT merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban Islam yang beradab di tengah tantangan era digital
Kontroversi dan Kritik Terhadap Hadis Riwayat Abu Hurairah Solikhudin, Muhammad; Khamim, Khamim
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v9i1.343

Abstract

Abstrak: Abu> Hurairah merupakan rija>l al-h}adis yang paling fenomenal. Dia merupakan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dengan jumlah 5374. Kendati kuantitas hadis yang diriwayatkan oleh Abu> Hurairah paling banyak namun kualitasnya dipertanyakan oleh sebagian orang. Bermula dari permasalahan tersebut dapat dipahami, bahwa yang menjadi salah satu persoalan mendasar dalam studi hadis, yaitu masalah rija>l al-h}adis. Sebab rija>l al-h}adis akan menentukan derajat hadis, sebagai hadis s}ah}i>h, h}asan atau d}ai>f. Sementara, rija>l al-h}adis tidak memiliki kompetensi yang sama saat menerima, menghafal dan mencatat hadis. Apalagi dalam beberapa keterangan dijelaskan bahwa kepandaian baca dan tulis para sahabat di masa Rasu>l Alla>h sangat terbatas. Hal yang banyak dilakukan oleh sahabat saat menerima hadis dari Rasu>l Alla>h saat itu hanyalah menghafal, memahami, memelihara serta menyampaikannya kepada orang lain. Untuk itu, dalam artikel ini akan dibahas tentang seorang rija>l al-h}adis, Abu> Hurairah yang tergolong sahabat Rasu>l Alla>h yang fenomenal, karena meriwayatkan hadis terbanyak dibandingkan dengan sahabat Rasu>l Alla>h yang lainnya. Padahal dari segi masa berkumpulnya dengan Rasu>l Alla>h, Abu> Hurairah tergolong sangat singkat bila dibandingkan dengan Sayyidah A<<<<<isyah yang terkenal sebagai umm al- mu’mini>n. Inilah yang menimbulkan kontroversi tentang hadis yang diriwayatkan oleh Abu> Hurairah. Agar pembaca memperoleh pemahaman yang komprehensif terkait Abu> Hurairah akan penulis tuangkan pikiran penulis ini dalam sebuah artikel yang berjudul kontroversi dan kritik terhadap hadis riwayat Abu> Hurairah. Kata Kunci: Kontroversi, Kritik, Hadis, dan Abu> Hurairah Abstract: Abu> Hurairah is the most phenomenal rija>l al-h}adis. He is the friend who narrated the most hadis with the number of 5374. Although the quantity of hadis narrated by Abu> Hurairah is the highest, the quality is questioned by some people. Starting from this problem it can be understood, that which is one of the fundamental problems in the study of hadis, namely the problem rija>l al-h}adis. Because rija>l al-h}adis will determine the degree of hadis, as a hadis s}ah}i>h, h}asan or d}ai>f. Meanwhile, rija>l al-h}adis does not have the same competence when receiving, memorizing and recording hadis. Moreover, in several statements it was explained that the reading and writing skills of the friends during the Rasu>l Alla>h era were very limited. what many friends did when receiving hadith from Rasu>l Alla>h at that time was only memorizing, understanding, maintaining and conveying it to others. For this reason, this article will discuss about a rija>l al-h}adis, Abu> Hurairah who is a phenomenal friend of Rasu>l Alla>h, because he narrated the most hadiths compared to other Rasu>l Alla>h friends. In fact, in terms of the period of his association with Rasu>l Alla>h, Abu> Hurairah was very short when compared to Sayyidah A<isyah who was known as umm al-mu'mini>n. This has caused controversy about the hadis narrated by Abu> Hurairah. In order for the reader to gain a comprehensive understanding of Abu> Hurairah, the writer will write his thoughts in an article entitled controversy and criticism of the hadis narrated by Abu> Hurairah. Keywords: Controversy, Criticism, Hadis, and Abu> Hurairah
PELAKSANAAN KMA RI NO. 298 TAHUN 2003 PASAL 2 TENTANG PENGAWASAN DAN PENCATATAN PERNIKAHAN PADA MUSIM PANDEMI COVID 19: Studi Kasus KUA kecamatan Jombang Fitri, Abd. Basit Misbachul
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v9i1.351

Abstract

Supervision and registration of marriage is something that is urgent for the sake of being recognized and legislated by the state because it is a very important event. The Indonesian nation has been hit by covid 19 since March 2020 until now it has not ended, this virus is a pandemic category so it is not certain when it will end, spreading throughout the world. The research used the interview method conducted by researchers to Jombang District KUA officers in December 2020 regarding the activities of the KUA Jombang sub-district in the covid 19 pandemic season. The results of this study were the Jombang District Religious Affairs Office still carrying out the task of registering marriage but by using a breakthrough in online registration. according to the specified address, in the supervision of the implementation of the marriage contract council accompanied by Imamuddin in their respective village areas virtually by using video calls and active marriage registration without any rejection of marriage registration. The KUA of Jombang sub-district has also decided to lock down, namely closing the office and imposing WFH (work from home), where work is done from home. This was done in order to anticipate and reduce the spread of the Covid 19 virus because its impact is very dangerous for the safety of life. As the data collected by the Covid 19 cluster in Jombang sub-district in March-June 2020, Jombang sub-district experienced a red zone in the spread of covid 19, so a breakthrough was needed in the form of policies that provided errors and safety for Jombang sub-district residents in terms of administrative services for recording and implementing marriage contracts. This is done based on maqashid sharia, namely hifd an-Nafs, which is to protect life / soul and also in the form of syad ad-dzariah to prevent mafsadah / damage. The existence of the KUA policy of Jombang sub-district without prejudice to the implementation of the Decree of the Minister of Religion number 298 of 2003 concerning supervision and supervision and registration of marriages.