cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Tafaqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman
ISSN : 23383186     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 238 Documents
Kontestasi Pemaknaan Kepemimpinan Publik di PILGUB DKI: Perspektif Relasi Kuasa Zauhair Al Fawwaz, Fajriz; Musthafa, Adib Khairil
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v12i2.3078

Abstract

This article explains about the hegemony of MUI related to the blasphemy case in the 2017 DKI Pilgub which is based on surah al-Maidah verse 51, there are various opinions that give birth to community polarization. Therefore, this article will answer the question of how the relevant meaning today of the word "Auliya" in surah al-Maidah verse 51. This article uses Michel Foucault's theory of power relations related to the knowledge produced by MUI. The result of this discussion is that there are opinions of interpreters who do not allow non-Muslim leaders as Muslim leaders, such as Ibn Kathir and Sayyid Qutb. Some others allow it, such as Ibn Taymiyah, Muhammad Abduh and Ashgar Ali Engineer and Sahiron Syamsuddin. The MUI's "Religious Opinion and Position" states that Basuki Tjahaya Purnama has blasphemed and cannot lead the Muslim community. Meanwhile, there is a counter from Kiai Muda Ansor Youth Movement and Sahiron Samsuddin's interpretation with ma'na cum maghzanya approach that views the interpretation of the word "Áuliya" verse 51 surah Al-Maidah from the side of the agreement that has been agreed upon then broken by one of them and is far different from MUI's "Opinion and Religious Attitude" especially that the interpretation of this verse is not about leadership, but the breaking of promises.
Peran Orang Tua dalam Implementasi Program LKKNU untuk Mencegah Pernikahan Dini di Sumenep AS, Rozinah
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v12i2.3578

Abstract

The Nahdlatul Ulama Family Benefits Institute (LKKNU) program has a role in prevention efforts through counseling and assistance to the community. However, the role of parents in implementing this program still needs to be explored in more depth. This research aims to analyze the role of parents in supporting the implementation of the LKKNU program to prevent early marriage in Sumenep. The problem formulation in this research is: What is the role of parents in participating and supporting the LKKNU program? What are the factors that influence the success of parents' role in preventing early marriage through the LKKNU program? The research method used is qualitative with a descriptive approach. Data was collected through in-depth interviews with parents involved in the LKKNU program, as well as observations of the activities held. The theories used are community participation theory and social change theory, which explains how parental involvement can influence social change in preventing early marriage. The research results show that the role of parents is very significant in the success of the LKKNU program. Their support in terms of active participation and providing information to their children has succeeded in reducing the rate of early marriage in Sumenep. This research also recommends the need to increase education to parents about the importance of the program.
Revealing the Transformation of Moroccan Islamic Family Law Syauqi, Adib; Hidayat, Rahmat; Efrinaldi, Efrinaldi
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.2905

Abstract

Mudawwanah al-Usra Morocco as a result of the transformation of family law that has relevance in today's times. for that, this research will reveal how the process of transforming family law in Morocco to produce a family law rule that is relevant to the times. This research uses a library research method and data collection techniques by reading literature that can be used as a source according to this research. The results showed that the bookkeeping of the 1957 Moroccan family law adopted the classical fiqh book so changes were made again afterwards. the Moroccan law book, namely Mudawwana al-usra, is the final form of many changes that have been made before. This one is the result of radical changes by the committee in charge. Historically, the old mudawwana book still fully refers to the fiqh books which are old culture. Thus, some rights were not fulfilled. This change has completed the shortcomings of the previous books.
Etika Sufistik Dalam Pemikiran Muhammad Nursamad Kamba Yuwono, Adhimas Alifian
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3436

Abstract

This research aims to explore reflectively the Sufistic ethical thinking of Muhammad Nursamad Kamba as part of the modern Sufism movement where the focus of the study is more emphasised on the social-humanitarian ethical dimension. This type of research is a document study conducted by collecting data from primary sources in the form of Kamba's books, and secondary sources in the form of journals, books, and related website articles. The results of this research are: Sufistic ethics in Kamba's thought begins with the application of the principle of independence in religion by accessing divine values directly without being hindered by religious authorities who give birth to formal laws. After that, Kamba makes the principle of ‘to be god is to do good’ a fundamental foundation in religion. Thus, the tendency towards the moral dimension will be very dominant in the life of a Muslim. That doing good is solely because Allah is the Most Good. There is no sense of selfishness, riya', pride, ujub, and so on. His life is only to nurture fellow creatures of Allah because he sees Allah in other creatures. This style of thinking includes two ethical concepts at once, namely individual ethics in the form of upholding obligations to God, and social ethics in the form of efforts to reflect divine values in the behaviour of kindness and love. Penelitian ini hendak mengeksplorasi secara reflektif pemikiran etika sufistik Muhammad Nursamad Kamba sebagai bagian dari gerakan tasawuf modern dimana fokus kajiannya lebih ditekankan pada dimensi etik sosial-kemanusiaan. Jenis penelitian ini adalah studi dokumen yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari sumber primer berupa buku karya Kamba, dan sumber sekunder berupa jurnal, buku, dan artikel website terkait. Hasil dari penelitian ini adalah: etika sufistik dalam pemikiran Kamba dimulai dengan penerapan prinsip kemandirian dalam beragama dengan mengakses nilai ketuhanan secara langsung tanpa terhalangi oleh otoritas keagamaan yang melahirkan hukum-hukum formal. Setelah itu, Kamba menjadikan prinsip “bertuhan adalah berbuat baik” sebagai landasan fundamental dalam beragama. Dengan demikian, kecenderungan pada dimensi akhlak akan sangat dominan dalam kehidupan seorang muslim. Bahwa berlaku baik adalah semata-mata karena Allah Yang Maha baik. Tidak ada rasa pamrih, riya’, sombong, ujub, dan sebagainya. Hidupnya hanyalah untuk mengayomi sesama makhluk Allah karena melihat Allah dalam diri makhluk yang lain. Corak pemikiran tersebut mencakup dua konsep etik sekaligus, yaitu etika individual berupa penegakan kewajiban kepada Tuhan, dan etika sosial berupa upaya merefleksikan nilai ketuhanan dalam perilaku kebaikan dan cinta.
Transformasi Konsep Negara dalam Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir: Analisis Teks Fiqih Klasik dan Relvansinya di Era Kontemporer Rasyadi, Ach. Faidi; Qomariyah, Nurul
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3601

Abstract

Artikel ini akan mengkaji transformasi konsep Negara dalam Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir dan Relevansinya di Era Kontemporer. Kiai afif sebagai ulama’ kontemporer yang memiliki kemampuan mendalam untuk mengkontekstualisasikan teks islam berupa ajaran fiqih klasik memiliki pemikiran dalam pengelolaan tata Negara dalam pandangan fiqih. Fokus utama penelitian ini diantaranya (1) konsep Negara dalam pemikiran KH. Afifuddin Muhajir; (2) transformasi Negara yang ditawarkan oleh Kiai Afif dengan mengkorelasikan teks fiqih klasik, (3) implikaasi dari pemikiran KH. Afifuddin Muhajir terhadap pembangunan Negara yang berlandasan nilai-nilai syariah dan menghormati keberagaman. Melalui penelitian studi pustaka dengan pendekatan kualitaif deskriptif, penelitian ini dapat mengungkap bahwa konsep Negara dalam pemikiran KH. Afifuddin Muhajir yakni menawarkan pendekatan inkluasif dengan menekankan nilai-nilai keadilan. Maslahat dan persatuan ummat. Agama dan Negara harus terjalin dialogisasi sehingga tercipta yurespudensi islam atau maqasid Syariah. Istilah Negara Pancasila dan Islam Nusantara menjadi alasan kuat hubungan agama dan Negara dalam membangung peradaban. Dalam bukunya yang berjudul Fiqih tata Negara, KH. Afifuddin Muhajir memberikan konsep fiqih sebagai landasan transformasi Negara dengan berdasar pada nilai-nilai syariah diantaranya maslahah – mursalah, At Tadarruj di at-tasyri’, Darul Mafasid ‘ala jalbil masalih, al-‘adl asasul hukm. Pemikiran Kiai Afif tidak hanya relevan untuk memperkuat landasan Negara Indonesia berbasis pada syariah dan nilai-nilai islam, tetapi juga dapat berkontribusi pada harmoni social dalam konteks masyarakat plural. Dengan demikian, pemikiran KH. Afifuddin Muhajir memiliki potensi besar dalam menjawab tantang kontemporer terkait dengan pendekatan persoalan agama dan Negara.
Surah Luqman Ayat 13-19 Sebagai Landasan Pedagogis Untuk Pendidikan Akhlak dalam Pendekatan Pembelajaran Agama Islam Gunadi, Fahrul; Noviani, Dwi; Arjaya, Rio
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Surah Luqman ayat 13-19 sebagai landasan pendidikan akhlak dalam pendekatan pembelajaran agama Islam. Surah Luqman memberikan pedoman moral yang meliputi tauhid, menghormati orang tua, kesabaran, rendah hati, serta pentingnya hubungan sosial yang baik, yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam. Melalui metode kualitatif dengan analisis tafsir dan studi literatur, penelitian ini mengkaji relevansi ajaran akhlak dalam ayat tersebut untuk pembentukan karakter siswa dalam konteks pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak yang berbasis pada Surah Luqman dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan pendidikan karakter di era modern. Disarankan agar nilai-nilai akhlak dalam Surah Luqman diintegrasikan lebih dalam dalam kurikulum pendidikan Islam dengan pendekatan yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kata Kunci: Pendidikan Akhlak, Surah Luqman, Pembelajaran Agama Islam, Karakter, Tafsir.
Perkawinan Anak Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perlindungan Anak di Indonesia dan Malaysia Winarko. S, Arbi; Akbarizan, Akbarizan; Abdul Munir, Akmal
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3655

Abstract

Pernikahan dini merupakan praktik yang sering terjadi saat ini, khususnya di Indonesia dan Malaysia. Ketimpangan keyakinan yang mengatur pernikahan dini terkait erat dengan batasan usia seseorang untuk dapat menikah menurut hukum Islam dan hukum perkawinan di masing-masing negara. Selain itu, perspektif hukum perlindungan anak juga diulas, sehingga menarik untuk dibahas. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dan pendekatan komparatif, dengan mengkaji peraturan perkawinan anak di Indonesia dan Malaysia melalui sudut pandang hukum Islam dan undang-undang perlindungan anak. Analisis deskriptif komparatif digunakan untuk melakukan penelitian ini. Menurut temuan penelitian tersebut, tidak ada batasan usia untuk pernikahan anak menurut hukum Islam, tetapi seseorang dianggap dewasa setelah mencapai pubertas. Di Indonesia, undang-undang pernikahan hanya berlaku untuk pria dan wanita yang berusia di atas 19 tahun. Di Malaysia, batasan usia untuk pria adalah 18 tahun, dan untuk wanita adalah 16 tahun. Bila ditelaah dari kacamata hukum perlindungan anak, kebijakan yang ditempuh Indonesia untuk mencegah dan menekan angka perkawinan anak adalah dengan menaikkan batas minimal sekaligus menggandeng regulasi lain yang terkait dengan perkawinan anak. Sementara itu, Malaysia melakukan hal serupa, yakni menetapkan usia minimal untuk menikah dan melakukan terobosan signifikan untuk mencegah dan menekan angka perkawinan anak.
Kontekstualisasi Rukun Islam Terhadap Pilar Moderasi Beragama Munir, Abdulloh; Anwar, Mohamad Johaeri Irhas
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3671

Abstract

Rukun Islam dapat dikontekstualkan ke dalam praktik moderasi beragama sebagai pilarnya. Tujuan penelitian adalah mengungkap makna rukun Islam sebagai pilar dan wujud moderasi beragama. Metodenya berupa deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data berupa reduksi data, data display dan verifikasi. Hasilnya menunjukkan bahwa syahadat dapat diindera sebab menunjukkan kewajiban hidup baik berelasi dengan sesama manusia agar berpikiran objektif, moderat dan mampu mempertimbangan segala konsekuensi dari apa yang diinderakan sesuai pengetahuan dan pengalaman seseorang. Salat bermakna adanya perselisihan atau perbedaan tidak menyebabkan perpecahan dalam beragama, melainkan menjadi rahmat di lingkungan hidup sosial-agamanya agar tercipta keseimbangan. Puasa sebagai pengendalian diri dalam bersosial di masyarakat untuk menciptakan rasa aman, persatuan dan persaudaraan umat beragama. Zakat menjadi konsep pengentasan kemiskinan untuk pemerataan kesejahteraan, membentuk persatuan dan persaudaraan. Haji mengindikasikan adanya kesejajaran atau egaliter di hadapan Allah SWT tanpa harus memandang jabatan dan strata sosial untuk mencapai tujuan hidup beragama dan bersosial masyarakat dicontohkan melalui sa’i dan tawaf. Kata Kunci : Moderasi Beragama, Pilar, Rukun Islam
Tembang Lir Ilir Sumber Belajar Pendidikan Agama Dan Budi Pekerti khotimah, Khusnul
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3699

Abstract

Penelitian ini membahas tentang lagu Lir Ilir, yang merupakan lagu ciptaan Sunan Kalijaga, lagu ini bukan hanya sekedar lagu daerah, tetapi memiliki makna filosofis dan religius yang dalam. Lagu ini memiliki nilai pendidikan yang tinggi, terutama dalam konteks pendidikan karakter, moral, dan spiritual. Sunan Kalijaga menggunakan simbol sederhana namun kaya makna untuk mengajarkan ajaran Islam dan etika moral kepada masyarakat melalui lagu Lir Ilir. Nilai atau pesan yang dapat diambil dari lagu Lir Ilir antara lain; kesadaran spiritual, rasa syukur, semangat untuk belajar, disiplin dalam ibadah dan pembelajaran, ketekunan dan kesabaran, kesadaran akan kefanaan dunia. Melalui metode penelitian deskriptif kualitatif, lagu ini akan dikaji, dengan tujuan untuk menggali sumber pendidikan agama dan moral dalam bait-bait lagu. Hasil penelitian ini adalah; Bahwa lagu ini dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan dalam membangun karakter, moral, dan kesadaran spiritual generasi muda melalui pendekatan budaya dan nilai-nilai lokal. Menyampaikan bahwa generasi muda saat ini juga harus mempelajari nilai-nilai tersebut, dan menjaga budaya yang terkandung dalam makna lagu Lir Ilir. Karena ini akan menghasilkan anak-anak muda yang berakhlak mulia, memiliki pendidikan agama yang baik, dan menjaga budaya kebangsaan dengan terus memanfaatkannya sebagai sumber pembelajaran, sehingga tidak hilang berabad-abad.
Kritik Teologis Al-Ghazali Terhadap Metafisika Filsuf Muslim: Analisis Atas Tiga Pokok Pemikiran Dalam Tahāfut Al-Falāsifah Ummah, Afdalul; Iqbal, Imam; Irfani, Muhammad Aska
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i1.3702

Abstract

The reception of Greek philosophy in the Islamic world through the translation of classical texts sparked debates between rationality and revelation in Islamic intellectual tradition. This study aims to analyze Al-Ghazali’s critique of three main points in the thought of classical Muslim philosophers as outlined in Tahāfut al-Falāsifah: the eternity of the world, the limitation of God's knowledge to universals, and the notion of resurrection involving only the soul. This research employs a qualitative method with a library research approach and content analysis of primary texts and relevant secondary literature. The findings reveal that Al-Ghazali’s critique represents a synthesis between Ash’arite theology and philosophical rationalism, firmly rejecting metaphysical concepts that he deemed incompatible with Islamic faith principles. The study concludes that Al-Ghazali’s critique should not be viewed as a rejection of philosophy per se, but rather as an effort to safeguard the integrity of Islamic doctrine through a systematic theological-philosophical approach. His critique significantly contributes to Islamic philosophical discourse and fosters an epistemological dialogue between reason and revelation.