cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 141 Documents
IMPLEMENTASI MA’NA CUM MAGHZA TERHADAP MAKNA GULUL DALAM AL-QUR’AN (Interpretasi QS. Ali Imran: 161) Asna, Hanifatul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 13 No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v13i2.4448

Abstract

AbstractThe Qur’an as the first source of reference for Muslims who are always relevant in every time and place, must have an informative meaning. It can undergo meaningful transformation in line with changing times. In the time of the Prophet, the word gulūl was understood by taking war booty before it was distributed. Wherwas current context war like during the time of the Prophet is no longer happening, it is necessary to re-interpret what the meaning of gulūl along with how to contextualize the use of the word in the Qur’an especially in the QS. Ali Imrān: 161. By using the Hermeneutic approach, this specifically borrows Abdullah Saeed’s Contextual theory in understanding the meaning of gulūl in the Qur’an especially QS. Ali Imrān; 161, then an interpretation can be produced between them; first, in the initial context gulūl was a form of betrayal, like taking the spoils of war. Secondly, in the current context gulūl can be understood with broad meanings of betrayal such as being unsafe and taking things secretly even though he has the right part of the thing. This can be described as corruption both material and time. The essence of Q.S Ali Imrān: 161, it can be interpreted a leader is not possible and should not do gulūl (acts of cheating). This verse shows the existence of protection values. AbstrakAl-Qur’an sebagai sumber rujukan pertama umat muslim yang selalu relevan dalam setiap waktu dan tempat, pastilah mempunyai makna informatif dan dapat mengalami transformasi pemaknaan seiring dengan perubahan zaman. Pada zaman Nabi, kata gulūl dipahami dengan mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan. Sedangkan pada konteks sekarang, perang seperti pada masa Nabi sudah tidak lagi terjadi. Oleh karenanya, perlu adanya interpretasi ulang apa makna gulūl serta bagaimana kontekstualisasi penggunaan kata tersebut dalam al-Qur’an khususnya pada QS. Ali Imrān: 161. Dengan menggunakan pendekatan Hermeneutika, khususnya meminjam teori Kontekstual Abdullah Saeed dalam memahami makna gulūl dalam al-Qur’an khususnya QS. Ali Imrān ayat 161, maka dapat dihasilkan interpretasi di antaranya; pertama, dalam konteks awal gulūl merupakan bentuk pengkhianatan, seperti mengambil harta rampasan perang. Kedua, dalam konteks saat ini gulūl dapat dipahami dengan makna khianat secara luas seperti tidak amanah dan mengambil sesuatu secara sembunyi-sembunyi meskipun dia mempunyai bagian hak dari benda tersebut. Hal ini dapat digambarkan seperti korupsi secara materi maupun waktu. Adapun intisari QS. Ali Imrān: 161, dapat diartikan seorang pemimpin tidak mungkin dan tidak seharusnya melakukakan gulūl (tindak kecurangan). Ayat ini menunjukkan adanya nilai-nilai perlindungan/protectional values.Kata Kunci: Gulūl, Hermeneutika, Kontekstual, QS. Ali Imrān: 161
Metode Tafsir al-Baghawi dalam kitab Ma'a>lim al-Tanzi>l Rohmanan, Mohammad; Arminsa, M. Lytto Syahrum
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.4480

Abstract

AbstractMa'a>lim al-Tanzi>lby Al-Baghawi is a commentary book that has a concise explanation. Ma'a>lim al-Tanzi>l belongs to the commentary bookwhich is in the middle of the discussion, neither too long nor too short. The contents of the discussion are simple and not long winded. This paper wants to discuss about methodology, strenghts and weakness of the Tafsir Al-Baghawi. The method used in this paper is descriptive-analytic with the aim of further discussing and anlysing the interpretation method of the Qur’an used by Al-Baghawi in the book of interpretation. In carrying out the classification analysis, this paper discusses the Ridwan Nasir classification model. The conclusion resulting from this article is: seen from the sources of interpretation of Al-Baghawi inclined to use the bi al-Iqtiran method. For breadth of explanation, it falls into the category of interpretation of tafsiliy/it}nabiy. Lather, method of presenting interpretation resulting from the target and order of the verses that are transferred using the interpretation method tahlili. In addition, from several methods used, based on further reading, Tafsir Al-Baghawi has advantages and disadvantages. There fore, this paper only focuson the methodology, weakness and strengths side of the Tafsir Al-Baghawi. AbstrakMa'a>lim al-Tanzi>l karya Al-Baghawi merupakan kitab tafsir yang memiliki penjelasan yang ringkas. Ma'a>lim al-Tanzi>l tergolong kitab tafsir yang berada di tengah-tengah dalam pembahasannya, tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek. Muatan pembahasannya terbilang sederhana dan tidak bertele-tele. Tulisan ini ingin membahas seputar metodologi, kelebihan dan kekurangan dari kitab Tafsir Al-Baghawi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini deskriptif-analitik dengan tujuan mengeksplorasi dan menganalisis lebih jauh metode penafsiran al-Qur’an yang digunakan Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya. Dalam melakukan klasifikasi analisis, tulisan ini mengacu pada model klasifikasi Ridwan Nasir. Kesimpulan yang dihasilkan dari artikel ini yaitu: dilihat dari sumber penafsiran, Al-Baghawi condong menggunakan metode tafsir bi al-Iqtiran. Untuk keluasan penjelasan masuk pada kategori tafsir tafsily/it}nabiy. Adapun metode penyajian tafsir yang dihasilkan dari sasaran dan tertib ayat yang ditafsirkan menggunakan metode tafsir tahlili. Selain itu, dari beberapa metode yang telah digunakan, berdasarkan pembacaan lebih lanjut, Tafsir Al-Baghawi memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, tulisan ini hanya berfokus pada sisi metodologi, kekurangan dan kelebihan dari Tafsir Al-Baghawi. Kata Kunci: Tafsir Al-Baghawi, Metodologi, Kelebihan dan Kekurangan. 
Itsmun Perspektif Tafsir Isyari Yamin, Nur
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v11i2.4520

Abstract

AbstrakItsmun adalah istilah yang digunakan dalam al-Qur’an yang dipakai sebagai istilah dosa, yang mempunyai makna perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Itsmun dengan kata lain adalah sebutan atas tindakan yang menghambat tercapainya (terwujudnya) kebaikan. Itsmun di dalam al-Qur’an digunakan untuk menyebutkan sebuah pelanggaran yang memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan masyarakat. Maka itsmun dikatakan dosa apabila perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang telah merugikan diri sendiri dan orang lain. Itsmun dalam pemaknaannya banyak disampaikan oleh kalangan sufi, khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat yang terkait dengan Itsmun. Imam Al-Alusi merupakan tokoh mufassir klasik yang ternama, khususnya pada kalangan ulama tasawuf yang menggunakan tafsir aliran sufistik isyari. Pemikiran Al-Alusi dalam tafsir Rûh al-Ma’ânî tidak terlepas dari kiprah beliau dalam konteks idiologi beliau mengenai prihal aqidah. Adapun mengenai penafsiran beliau tentang ayat-ayat itsmun, Al-Alusi tidak terlepas dari kesufiannya dalam pemikirannya. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif analitis yang pokok kajiannya pada kitab tafsir Rûh al-Ma’ânî. Dengan menggunakan metode tersebut, peneliti mendapati secara umum Al-Alusi menyatakan bahwa itsmun adalah orang yang banyak dosa, orang kafir, kebohongan, serta dalam setiap ayat mengandung makna yang melawan Allah dan Rasul, serta memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Adapun solusi yang diberikan terhadap orang yang berbuat dosa yaitu dengan cara bertaubat kembali kepada petunjuk Allah dan menjauhi semua larangannya serta tidak mengulangi perbuatan dosa lagi.Kata Kunci: Itsmun, Tafsir Isyari, Imam al-Alusi
Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin Karya Muhammad ‘Ajjâj al-Khatîb Taufikurrahman, Taufikurrahman; Hisyam, Ali
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.4595

Abstract

AbstractThis study discusses Al-Sunnah Qabla Al-Tadwîn' by Muhammad ‘Ajjâj Al-Khatîb, a prominent figure of Islamic scholar and thinker from Damascus.It uses descriptive-analytical method. The result shows that the book discusses the history and development of both oral and written traditions in the period of the Prophet, Companions and Successors. The book also explains the periodization of the development of the hadith.This study, therefore, seeks to examine the mapping of the periodization of the prophetic tradition the author made. AbstrakPenelitian ini membahas tentang kitab ‘Al-Sunnah Qabla Al-Tadwîn’ Karya Muhammad ‘Ajjâj Al-Khatîb, sosok Ilmuwan dan pemikir Islam ternama dari Damaskus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis. Dari hasil penelitian ini menunujukkan bahwa kitab ‘Al-Sunnah Qabla Al-Tadwîn’ Karya Muhammad ‘Ajjâj Al-Khatîb membahas tentang sejarah dan perkembangan hadits baik lisan dan tulisan pada periode Nabi, Sahabat dan Tabi’in. Penelitian ini mencoba mengkaji tentang kitab ‘al-Sunnah Qabla al-Tadwîn’. Suatu kitab yang juga menjelaskan periodisasi perkembangan hadits, sehingga dengan penelitian yang dilakukan pada kitab tersebut, akan tampak bentuk pembagian atau pemetaan yang dilakukan oleh Muhammad ‘Ajjâj al-Khatîb sebagai pengarangnya. Kata Kunci: Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin, ‘Ajjâj al-Khatîb.
Kontekstualisasi Al-Qur’an Dan Pancasila Melalui Penguatan Muslim HUB Sebagai Pola Alternatif Dalam Menghadapi Industri 4.0 Adabi, Muhammad Akrom; Awwaliyah, Neny Muthi'atul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.4954

Abstract

AbstractThe Qur’an, which has the status of a Muslim holy book, is experiencing "alienation" because it is considered unable to make practical contributions to various new challenges that arise. Al-Qur’an and Pancasila, which are the two important handles of Indonesian Muslims, are expected to not only keep up with the times. More than that, the al-Qur’an and Pancasila must really be able to fill the void and give an active role through its values, to bring the progress of Indonesia with a distinctive personality in the face of the Industrial 4.0 era. This paper tries to review the strengthening of Muslim Hub as a strategy in dealing with Industry 4.0 through contextualization of the values of the Koran and Pancasila. This study uses Max Weber's theory of Protestant ethics. In a book entitled The Protestant Ethics and Spirit of Capitalism, Weber has done a thorough analysis of the relationship between capitalism and religion. AbstrakAl-Qur’an dan Pancasila harus betul-betul mampu mengisi kekosongan dan memberi peran aktif melalui nilai-nilainya, untuk membawa kemajuan Indonesia dengan kepribadian yang khas dalam menghadapi era Industri 4.0. Tulisan ini mencoba mengulas seputar penguatan muslim hub sebagai strategi dalam menghadapi Industri 4.0 melalui kontekstualisasi nilai al-Qur’an dan Pancasila. Dalam penelitian ini ada dua bukti empiris yang pertama order monastic, dimana orang saleh ternyata juga memiliki prestasi yang gemilang dari sisi material. Kedua sekte protestan yang memiliki prestasi yang gemilang dalam fase awal munculnya kapitalisme modern. Penelitian ini menggunakan teori Max Weber tentang etika Protestan. Dalam buku yang berjudul The Protestan Ethics and Spirit of Capitalism, Weber telah melakukan analisa yang mendalam mengenai relasi kapitalisme dan keagamaan yang menunjukkan betapa agama memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter pemeluknya. Jika ditarik ke kajian yang lebih luas, maka ideologi memiliki peran kuat dalam mempengaruhi perilaku pengikutnya, baik ideologi keagamaan maupun ideologi kenegaraan. Kata Kunci: Kontekstualisasi, Al-Qur’an, Pancasila, Industri 4.0.
Nilai-Nilai Al-Qur’an Dan Pancasila: Sebagai Basis Di Era Revolusi Industri 4.0 Putri, Endrika Widdia
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.5463

Abstract

AbstractThe era of the industrial revolution 4.0 is an era that utilizes the sophistication of technology, artificial intelligence, and digital to create conditions that are more effective and efficient in terms of the industry for the sake of convenience for humans. However, as the times evolve, industrial changes no longer go according to the purpose created. Also, the industrial revolution which has experienced these four changes, from time to time suffered a moral decline. Departing from this, this study will examine why moral decline occurred with the development of the industrial revolution and how the contribution of the values of the Qur'an and Pancasila to the industrial revolution era 4.0. This research is library research by using the method of interpretation and data analysis to obtain a conclusion. The results of this study are that moral decline is caused by the creators and technology developers themselves who create value-free science, thus leading to the collapse of moral values and humanity. Presenting the values of the Qur'an and Pancasila in the era of the industrial revolution 4.0 will make its development have high morality and humanity. Al-Qur'an and Pancasila will control at the same time be a good and bad measure in its development. AbstrakEra revolusi industri 4.0 adalah era yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, kecerdasan buatan dan digital untuk menciptakan kondisi yang lebih efektif dan efisien dalam hal perindustrian demi kemudahan bagi manusia. Namun, seiring berkembangnya zaman, perubahan industri tidak lagi berjalan sesuai dengan tujuannya diciptakan. Selain itu, revolusi industri yang telah mengalami empat kali perubahan ini, dari masa ke masa mengalami kemunduran moral. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini akan mengkaji kenapa terjadi kemunduran moral dengan seiring berkembangnya revolusi industri dan bagaimana kontribusi nilai-nilai al-Qur’an dan pancasila terhadap era revolusi industri 4.0. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode interpretasi dan analisis data sehingga didapatkan suatu kesimpulan. Adapun hasil penelitian ini yaitu kemunduran moral disebabkan oleh para pencipta dan pengembang teknologi itu sendiri yang menciptakan ilmu pengetahuan bebas nilai, sehingga mengantarkan runtuhnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Menghadirkan nilai-nilai al-Qur’an dan Pancasila di dalam era revolusi industri 4.0 akan menjadikan perkembangannya memiliki moralitas yang tinggi dan manusiawi. Al-Qur’an dan Pancasila akan mengontrol sekaligus menjadi ukuran baik dan buruk dalam perkembangannya. Kata Kunci: Al-Qur’an, Pancasila, Revolusi Industri 4.0
KARAKTERISTIK KITAB TAFSIR QOERAN DJAWEN Zainab, Zainab
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.5510

Abstract

AbstractQoeran Dajawen is a Qur’anic exegetical work in the Nusantara Archipelago, written as a solution in response to a religious condition in Indonesia, particularly in Surakarta city in the early 20thcentury. To uncover this exegetical work comprehensively, I use a descriptive-hermeneutical analysis. I argue that in interpreting the Qur’an, it employs an analytical method of interpretation (tahlili), highly articulated through the Sufi style approach. This can be seen that the author uses the concept of maqāmāt in interpreting many verses of the Qur’an. Furthermore, its source of interpretations highly relies on modernist Muslim literature, as it is closely associated with Muhammadiyah, the modernist Muslim organization in Indonesia.The uniqueness is that it is written in the Javanese-literary script (cacarakan) with Javanese krama inggil. The purpose is to facilitate the transmission of knowledge for the grassroots so that it is expected that they can adequately understand Islamic teachings.  AbstrakKitab Tafsir Qoeran Djawen adalah sebuah karya tafsir Nusantara yang ditulis guna sebagai solusi atas runyamnya kondisi keagamaan di Indonesia khususnya Surakarta pada awal abad 20 M. Guna mengungkap kitab ini secara komprehensif, penulis menggunakan analisis deskriptif-hermeneutis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kitab ini menggunakan metode tahlili dalam aplikasi penafsirannya. Coraknya sendiri sangat kental dengan corak sufi. Hal ini ditandai dengan ditemukan banyaknya penafsiran-penafsiran yang menggunakan konsep maqāmāt. Sedangkan sumber-sumber yang dipakai tafsir ini cenderung menggunakan literatur-literatur berbau modernis, sebab tafsir ini lekat dengan organisasi Muhammadiyah. Keunikan yang menjadikan karakter tersendiri bagi kitab ini adalah penulisan tafsir yang menggunakan aksara cacarakan disertai bahasa Jawa krama inggil. Hal ini dilakukan guna mempermudah dalam transfer of knowledge (transfer pengetahuan) untuk memahami ajaran agama Islam secara komprehensif bagi kalangan akar rumput. Kata Kunci: Tafsir Qoeran Djawen, Karakteristik, Metode.
Transformasi Perkembangan Tafsir: Model Tafsir Hadis Modern Fazlur Rahman Sebagai Kritik Terhadap Model Tafsir Sebelumnya Ananda, Annisa Rizki; Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.5635

Abstract

AbstractThis paper discusses about the transformation of the development of interpretation which was initiated by a modern commentator from Pakistan named Fazlur Rahman where he tried to restore the position of hadith which was considered to have stagnate and died in the growth of its interpretation. Fazlur Rahman offers a new method in increasing the growth of hadith science to be more developed and able to answer modern contexts with more complex problems. The purpose of this study is to reveal Fazlur Rahman's thoughts on hadith which are considered controversial but in fact have a very good purpose for the position of hadith it self, and to reveal the hadith research methods offered by Fazlur Rahman as a modern method in the science of hadith. This study uses the library research method and the results of the study found that the hadith method offered by Fazlur Rahman is a socio-historical method.AbstrakTulisan ini mengkaji tentang transformasi perkembangan tafsir yang digagas oleh seorang mufassir modern asal Pakistan bernama Fazlur Rahman dimana ia mencoba untuk mengembalikan kedudukan hadis yang dianggap mengalami stagnasi dan mati dalam pertumbuhan tafsirnya. Fazlur Rahman menawarkan metode yang baru dalam meningkatkan pertumbuhan ilmu hadis menjadi lebih berkembang dan dapat menjawab konteks modern dengan permasalahan yang lebih kompleks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap pemikiran Fazlur Rahman mengenai hadis yang dinilai kontroversional namun pada kenyataannya memiliki tujuan yang sangat baik bagi kedudukan hadis itu sendiri, serta mengungkap metode penelitian hadis yang ditawarkan Fazlur Rahman sebagai metode modern dalam ilmu hadis. Penelitian ini mengunakan metode library Research dan hasil penelitian ditemukan bahwa metode hadis yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman adalah metode sosio-historis.Kata Kunci: Fazlur Rahman; Metodologi Hadis; Pemikiran Modern.
TELAAH PEMIKIRAN POLITIK SURAT YUSUF: STUDI PEMIKIRAN DR. SA’ID HAWWA Hawari, Nadirsah
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v9i2.5890

Abstract

Al-Quran sebagai kitab suci bagi umat islam dan sumber petunjuk bagi umat manusa merupakan sumber inspirasi dan pemikiran dalam berbagai dimensi baik politik, ekonomi, sosial, pertahanan, dan budaya tanpa mengenal batasan waktu dan ruang. Ia merupakan panduan sekaligus dasar pemikiran dan gerak langkah bagi seorang muslim dalam mengaharungi bahtera kehidupan duniawi ini. Tulisan ini mencoba mengungkap satu sisi dari sekian banyak sisi i’jaziy al-Qur’an dalam bidang siyasah dimana al-Qur’an sebagai petunjuk bisa menjadi cerminan dalam persoalan-persoalan tata kehidupan dan kekuasaan. Surat Yusuf bukan sekedar sebuah cerita tentang seorang nabi yang mengawali kisah hidup dengan keperihan dan berujuang dengan kejayaan dan kekuasaan.Kata Kunci: Tafsir Siyasi, Surat Yusuf, Sa’id Hawwa  
Asbab An-Nuzul Dalam Penafsiran Al-Qur’an (Aspek Sejarah dan Kontekstual Penafsiran) Hafizi, Hafizi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.6047

Abstract

AbstractThe Qur’an is guidance for all human beings, the message of God revealed through various communicative styles. Qur’anic revelation to the Prophet Muhmmad is centrally discussed in the science of the Qur’an ('ulumul qur'ân) under the theme of ‘the occasion of revelation (asbâb an-nuzul). In producing law (istinbath), a Muslim jurist or exegete should not only rely on the text of the Qur’an but also the context in which it was revealed. It is significant, therefore, to examine the function of asbâb an-nuzul in the context of interpretation, using a descriptive-analytical method. It functions as follows. First, it makes Qur’anic verses more relevant to contemporary conditions. Second, by knowing the occasion of revelation, an exegete not onlyunderstand Qur’anic verses as a textual redaction but also in response to conditional needs in a given context.  AbstrakAl-Qur’an adalah hidayah bagi segenap manusia, dalam menurunkan pesan kewahyuan Allah swt. menggunakan berbagai macam gaya. Diturunkannya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. melalui berbagai proses yang melatar belakanginya, dalam pembahasan ‘ulumul qur’ân, ini disebut asbâb an-nuzul, ketika mengambil istinbath hukum dalam al-Qur’an seorang mufassir tidak hanya berpatokan pada teks al-Qur’an, melainkan juga harus melihat konteks ayat ketika diturunkan. Maka perlu adanya penelitian terhadap fungsi asbab an-nuzul dengan pendekatan deskriptif-analitis. Di antara fungsi asbâb an-nuzul dalam penafsiran ialah; pertama, untuk menjadikan ayat al-Qur’an lebih relevan dengan kondisi yang dihadapinya, Kedua, dengan mengetahui asbâb an-nuzul seorang mufassir tidak hanya melihat ayat al-Qur’an sebagai redaksi akan tetapi lebih kepada tuntunan kondisi. Kata Kunci: Asbâb An-Nuzul, Fungsi, Penafsiran, Kontekstual.

Page 6 of 15 | Total Record : 141