cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 141 Documents
KRITIK WACANA “ALLAH PERLU DIBELA” : TINJAUAN ULANG ATAS QS. MUHAMMAD AYAT 7 DAN Q. AL-HAJJ AYAT 40 Royyani, Izza; Kumalasari, Aziza
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.6307

Abstract

AbstractThis article tries to review the understanding of Qs. Al-Hajj verses 40 and QS. Muhammad verse 7. From the verse quotation literally, Allah will reward those who help Him, concerning helping Allah Is this illustrated here as a favor to ordinary people? When should God need help? So it is necessary to emphasize the phrase ".... people who help His religion ..." in some classical and modern interpretations of the literature, so as to get a comprehensive description of the verse. In addition, this study uses the ma'na cum maghza approach initiated by Sahiron Syamsudin, the author tries to explore the meaning to be conveyed in the verse, both literally (ma'na) and its significance (maghza) in this modern era, so that a new discourse is formed to achieve peace in religion for the sake of mutual benefit in the midst of a plural society. The author gets the substance that what is meant to help God is about the delivery of truth, understanding pluralism in religion and enforcement of the teachings of Islam.AbstrakArtikel ini mencoba untuk meninjau ulang pemahaman atas Qs. Al-Hajj ayat 40 dan QS. Muhammad ayat 7. Dari kutipan ayat tersebut secara literalis Allah akan memberikan imbalan bagi siapa yang menolong-Nya, perihal menolong Allah disini apakah diilustrasikan sebagai tolong-menolong pada manusia biasa? Kapan sekiranya Allah perlu ditolong? Sehingga perlu untuk menegaskan kalimat “....orang yang menolong agama-Nya....” dalam beberapa literatur kitab tafsir klasik dan modern, sehingga mendapatkan deskripsi ayat yang komprehensif. Selain itu penelitian ini menggunakan pendekatan ma’na cum maghza yang digagas oleh Sahiron Syamsudin. Penulis mencoba menelusuri makna yang hendak disampaikan dalam ayat tersebut, baik secara literal (ma’na) dan signifikansinya (maghza) pada era modern ini, sehingga terbentuk wacana baru untuk mencapai perdamaian dalam beragama demi kemaslahatan bersama di tengah-tengah masyarakat plural. Penulis mendapatkan substansi bahwa yang dimaksud menolong Allah adalah perihal penyampaian kebenaran, paham pluralisme dalam beragama dan penegakkan terhadap ajaran-ajaran agama Islam.Kata Kunci: QS. Al-Hajj: 40, QS. Muhammad: 7, Ma’na cum Maghza.
Varietas Azab Di Dunia Dalam Al-Qur’an (Penafsiran Tematik QS. Al-Ankabut: 40) Riyandi, Yoga
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.6314

Abstract

AbstractThe Qur’an not only serves as a guidance for Muslims but also admonition for humans. Through its revelation, God gives rewards to those who obey Him and threatens with punishments to those who disobey Him. Q. al-Ankabut: 40one of Qur’anic verses discussing torment. The type of torment according to the Qur’an is divided into two: torment in the world and torment in the afterlife. The former can be understood in terms of both formal and substantial torment. Understanding the torment in the world, therefore, can encourage Muslims to avoid disobedience to God. Performing God’s commands is the very principle of human creation. Indeed, torment according to the Qur’an is not limited to four categories. But, this article particularly discusses four categories of torment in the world explained in Q. al-Ankabut: 40, namely Hasiba, Ash Shaihah, Khasafa fil Ardhi, and Aghraqa. These four torments are related to God’s speech in the previous verses and other verses in the Qur’an. It is significant, therefore, to study the verse to understand God’s torments to humans. The verse should be read thematically in relation to other verses.  AbstrakAl-Qur’an di samping sebagai hukum pedoman bagi umat Islam berfungsi juga sebagai sebuah kitab peringatan untuk manusia. Di dalamnya Allah swt. memberikan janji bagi orang-orang yang taat kepada-Nya dan mengancam dengan azab bagi yang durhaka kepada-Nya. QS. Al-Ankabut: 40 merupakan salah satu contoh ayat yang membicarakan tentang azab dari sekian banyak ayat. Karena pembahasan azab dalam al-Qur’an secara prinsipnya terbagi menjadi dua; yaitu azab di dunia dan azab di akhirat. Azab di dunia terbagi pula kepada azab yang dhahir dan maknawi. Mengetahui azab yang Allah swt. turunkan di dunia mampu mempengaruhi seseorang untuk menjauhi kemaksiatan kepada-Nya. Dan menjauhi azab dengan mewujudkan perintah Allah swt. merupakan perkara asas penciptaan manusia. Azab dalam al-Qur’an tidak terbatas pada 4 jenis saja, akan tetapi pada pembahasan ini dibatasi pada kajian surah Al-Ankabut ayat 40 yang mengkaji 4 jenis azab di dunia. Yaitu Hasiba, Ash Shaihah, Khasafa fi Al Ardhi dan Aghraqa. Keempat azab tersebut memiliki keterkaitan dengan pembicaraan Allah swt. pada ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat pada surat yang lain. Oleh karenanya sangat perlu mengkaji ayat tersebut agar mendapatkan kesimpulan yang benar terkait azab yang Allah berikan kepada hambanya. Kemudian akan disandingkan dengan beberapa ayat dan penafsiran yang berkaitan dengan tema azab. Kata Kunci: Azab Dunia, Empat Azab, Azab Dhahir.
Kajian terhadap Interpretasi Nicolai Sinai dalam An Interpretation of Sura>h al-Najm (QS.53) Ulya, Nurun Najmatul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.6318

Abstract

AbstractThe article discusses the interpretation of Surat al-Najm Nicolai Sinai by using the literature review method. The article aims to explain the background of the interpretation, the methods used, to the form of interpretation produced by Nicolai Sinai. As a way to find out the characteristics of the interpretation of Surah al-Najm Sinai compared to the interpretations of other exegete, the article also examines the interpretations made by other exegete on Surah al-Najm, both classical and contemporary. The study concludes that the background to Nicolai Sinai's interpretation of surah al-Najm is to voice his opinion on the debates of scholars about the verse ghara>ni>q and to discuss in more detail the verses that explain the encounter of the Prophet Muhammad with Allah. The following are Sinai's conclusions about Surah al-Najm that differ from the interpretation produced by exegetes. 1) the 7th verse of Surah al-Najm clearly says that the Prophet Muhammad met with Allah; 2) verses 23 and 26 to 32 are parenthetical paragraphs for the structure and content are not following the unity of the verse; 3) Satan verses or ghara>ni>q verses are not part of revelation. The Sinai's study was published in the Journal of Qur'anic Studies in 2011 with the title An Interpretation of Surah al-Najm (QS.53). AbstrakTulisan ini membahas interpretasi surat al-Najm Nicolai Sinai dengan menggunakan metode kajian pustaka. Tujuan kajian ini adalah hendak memaparkan latar belakang interpretasi, metode yang digunakan, hingga bentuk interpretasi yang dihasilkan oleh Nicolai Sinai. Tulisan ini juga mengkaji penafsiran yang dilakukan oleh mufassir lain terhadap surat al-Najm, baik klasik maupun kontemporer untuk mengetahui ciri khas interpretasi surat al-Najm Sinai dengan para mufassir lain. Kajian ini mendapatkan kesimpulan bahwa latar belakang interpretasi Nicolai Sinai terhadap surat al-Najm adalah untuk menyuarakan pendapatnya terhadap perdebatan para sarjanawan tentang ayat ghara>ni>q dan untuk membahas lebih detail ayat yang menjelaskan tentang berjumpanya Nabi Muhammad dengan Tuhan. Kesimpulan Sinai terhadap surat al-Najm yang berbeda dari penafsiran yang selama ini dilakukan oleh mufassir adalah: 1) ayat ke-7 surat al-Najm jelas mengatakan bahwa Nabi Muhammad bertemu dengan Tuhan, Sang Penutur Wahyu; 2) Ayat k3 23 dan 26 hingga 32 merupakan ayat sisipan karena secara struktur dan konten tidak sesuai dengan kesatuan surat; 3) Ayat setan atau ayat ghara>ni>q bukan bagian dari wahyu. Kajian Sinai ini dimuat dalam Journal of Qur’anic Studies pada tahun 2011 dengan judul An Interpretation ofSura>h al-Najm (QS.53).Kata Kunci: Interpretasi, Surat al-Najm, Nicolai Sinai
STUDI KRITIK MATAN HADIST devi, aulia
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.6438

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to describe the methodological study of hadith criticism. The research method is used with the approach of library study through the source of the library from various sources of literature about the methodology of the study of hadith criticism. Then analyzed and presented the data findings objectively. The result of this study is that the criticism of matan hadith is an attempt to research the hadith that is sahīh, in order to know if the hadith is maqbūl or mardūd. As for the steps are: Matan research reviewed from the quality of his isnay, researching the editor of the matan that is as good as it is, researching the content of matan and the latter is concluding the results of matan research. Then there are two methods of criticism that have been used from classical times to modern times, namely the muqāranah method and the mu'āradhah method. This method has been applied by the companions and tabi'in. This shows that criticism of hadith is necessary to be done with the aim of avoiding forgery against the hadith. AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang metodologis studi kritik matan hadits. Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan studi pustaka melalui sumber pustaka dari berbagai sumber literatur tentang  metodologis studi kritik matan haditst. Kemudian dianalisis dan disajikan hasil temuan data secara objektif. Hasil dari penelitian ini yaitu kritik matan hadits adalah suatu upaya kegiatan penelitian terhadap matan-matan hadits yang sanad-nya sahīh, dalam rangka untuk mengetahui apakah hadits tersebut maqbūl ataupun mardūd. Adapun langkah-langkahnya yaitu: Penelitian matan yang ditinjau dari kualitas sanad-nya, meneliti redaksi matan yang semakna, meneliti kandungan matan dan yang terakhir adalah menyimpulkan hasil penelitian matan. Kemudian ada dua metode kritik matan yang sudah dipakai sejak zaman klasik hingga zaman modern, yaitu metode muqāranah dan metode mu’āradhah. Metode inilah yang sudah diterapkan oleh para sahabat dan para tabi’in. Hal demikian menunjukkan bahwa kritik matan hadits sangat perlu untuk dilakukan dengan tujuan agar menghindari pemalsuan terhadap matan hadits. Kata Kunci: Langkah; Matan; Metode.
RIWAYAT-RIWAYAT ISRAILIYYAT DALAM TAFSĪR AL QUR’AN; ASAL-USUL DAN HUKUMNYA Akhmad, Muhammad Yasin; Suhandi, Suhandi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.6503

Abstract

AbstractThis research discusses the history of isra'iliyyat in the tafsir book and what is the law of narrating isra'iliyyat. While in the isra'iliyyat narration there is difference whether it is permissible or not and how the isra'iliyyat narration is contained in the tafsir books. The method used in this research is qualitative literature study (Library Research). The results show that the history of Isra'iliyyat is in accordance with Islamic syari'at, then the truth of Israiliyyat can be recognized and allowed to narrate it. Otherwise if it is contrary to Islamic law, it considered unthrue and may not be narrated, but this is allowed if the position has been explained in the interpretation. On the other hand, if there is no information in the Islamic Sharia regarding the content of israiliyyat, then the step that must be chosen is tawaquf, which is not punishing whether it is true or not.   AbstrakPenelitian ini membahas tentang riwayat isra’iliyyat dalam kitab tafsir serta bagaimana hukum meriwayatkan isra’iliyyat. Dimana dalam periwayatan isra’iliyyat terdapat perbedaan apakah boleh atau tidak serta bagaimana periwayatan isra’iliyyat yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif studi pustaka (Library Researh). Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa riwayat Isra’iliyyat tersebut sesuai dengan syari’at Islam, maka dapat diakui kebenarannya dan diizinkan untuk meriwayatkannya, sedangkan jika bertentangan dengan syari’at Islam maka didustakan dan tidak boleh diriwayatkan, namun diperbolehkan jika dijelaskan kedudukannya. Adapun jika belum ada keterangan sesuai atau tidaknya dengan Syari’at Islam maka tawaquf di dalamnya, yaitu tidak menghukumi benar atau tidaknya.Kata Kunci: Riwayat Israiliyyat, Tafsir al-Qur’an, Asal usul dan Hukumnya.
Memahami Hadits Kepemimpinan Dari Bangsa Quraisy dan Relevansinya Dengan Konsep Kepemimpinan Kontemporer Mustofa, Imam
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.6578

Abstract

AbstractThis paper examines the contextualization of the understanding of hadiths related to the leadership of the Quraysh tribe, where a problem arises how this hadith text intersects with the sociological and socio-cultural realities of modern society today and Islam has spread throughout the world and each country has already spread. Building and agreeing on a leadership system. This study is a normative literature study where the data comes from literature, books, books and articles related to the hadith study. Sources or studies of references are analyzed with content analysis using language, hadith, history and sociological approaches. Based on this study, the author can conclude that the hadith about the leadership of the Quraysh tribe textually states that the leadership of the Quraysh, however, needs a contextual understanding of the spirit and substance of the hadiths about the leadership of the Quraysh tribe that must be practiced and continue to carry out maqas} syari> 'ah ah that is in it such as justice, truth, and protection.   AbstrakTulisan ini mengkaji kontekstualisasi pemahaman hadits-hadits yang terkait dengan kepemimpinan dari suku Quraisy, dimana muncul sebuah persoalan bagaimana teks hadits ini bersinggungan dengan realitas sosiologis dan sosi-kultur masyarakat modern saat ini dan Islam sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan masing-masing negara sudah membangun dan menyepakati sistem kepemimpinan. Kajian ini merupakan kajian normatif kepustakaan dimana datanya berasal dari literatur, kitab, buku dan artikel yang berkaitan dengan kajian hadits tersebut. Sumber atau kajian dari referensi-refrensi dianalisa dengan analisa konten menggunakan pendekatan bahasa, ilmu hadits, sejarah dan sosiologis. Berdasarkan kajian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa hadits tentang kepemimpinan dari suku Quraisy secara tekstual memang menyatakan bahwa kepemimpinan dari kaum Quraisy, akan tetapi perlu pemahaman secara kontekstual dengan spirit dan substansi hadits-hadits tentang kepemimpinan dari suku Quraisy harus diamalkan serta tetap menjalankan maqas}id syari>’ah yang ada didalamnya seperti keadilan, kebenaran, dan pengayoman.Kata Kunci: Al-Aimmah; Kontekstualisasi Pemahaman Hadits; Qurasy.
TRADISI BACAAN AL-QUR’AN UNTUK IBU HAMIL (STUDI MUROTTAL AL-QUR’AN DALAM MEDIA YOUTUBE) Rahman, Mukhlish
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.6887

Abstract

AbstractThis paper talks about the tradition of reading the Koran for pregnant women, which has been a hereditary culture in society. The letters read during the procession vary, but the most frequently chosen ones are the letters of Yūsuf, Maryam, and Yāsīn. The tradition of reciting the Koran to pregnant women is later transformed and adapted to the digital world in the online media YouTube. In which in the uploaded content, it contains the reading of the Koran which in the traditions of the local community is often the choice to read. Therefore, this paper focuses on three problem formulations, first, how is the sacredness of the Koran in the digital world? Second, how is the tradition of reading the Koran for pregnant women in the community? And third, can this tradition be replaced by digital media? The research method is descriptive analytical method by describing the social phenomena that occurs. The approach is a historical-critical approach, by analyzing what are the factors that cause the phenomenon of the tradition of reading the Koran pregnant women to emerge, then it is digitally adapted into the You Tube media. The results of the research that the author gets is that with the rapid development of the times, it does not make the tradition of reading the Koran for pregnant women disappear or be abandoned, but instead this tradition can be transformed and adapted into a digital version.Although, the transformation is only limited to the physical form of reading the al-Qur'an, from the point of view of selecting the letter, it appears that it really adapts the local cultural traditions. The transformation of the tradition of reading the Koran for pregnant women into digital form, in this case You Tube media cannot replace traditions or culture such as mitoni, four months, etc. Because it contains elements of mutual cooperation between communities, which cannot be replaced by online media. AbstrakTulisan ini berbicara tentang tradisi membaca al-Qur’an untuk ibu hamil yang telah menjadi budaya turun temurun di tengah masyarakat. Adapun surat-surat yang dibaca ketika dalam prosesi tersebut bervariasi, tetapi yang paling sering menjadi pilihan adalah surat Yūsuf, Maryam, dan Yāsīn. Tradisi membacakan al-Qur’an untuk ibu hamil kemudian dalam perkembangannya bertransformasi dan diadaptasi ke dunia digital dalam media online YouTube. Dimana dalam konten-konten yang diunggah, berisi bacaan al-Qur’an yang dalam tradisi masyarakat lokal sering menjadi pilihan untuk dibaca. Maka dari itu Tulisan ini berfokus kepada tiga rumusan masalah, yaitu pertama, bagaimana sakralitas al-Qur’an di dunia digital ?. Kedua, bagaimana tradisi pembacaan al-Qur’an untuk ibu hamil di tengah masyarakat?, dan ketiga, apakah tradisi tersebut dapat digantikan dengan media digital? Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis dengan mencoba untuk mendeskripsikan fenomena sosial yang terjadi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis, dengan menganalisa apa saja faktor yang menyebabkan fenomena tradisi bacaan al-Qur’an untuk ibu hamil muncul, kemudian diadaptasi secara digital ke dalam media You Tube. Hasil penelitian yang penulis dapatkan adalah dengan perkembangan zaman yang pesat, tidak membuat tradisi  membaca al-Qur’an untuk ibu hamil menghilang atau ditinggalkan, namun sebaliknya tradisi tersebut dapat  bertransformasi dan diadaptasi ke dalam versi digital. Walaupun, transformasinya hanya sebatas bentuk fisik dari membaca al-Qur’an, namun dari segi pemilihan surat tampak bahwa benar-benar mengadaptasi tradisi budaya lokal. Tranformasi tradisi membacakan al-Qur’an untuk ibu hamil ke dalam bentuk digital, dalam hal ini media You Tube tidak dapat menggantikan tradisi atau budaya seperti mitoni, empat bulanan, dan lain sebagainya Karena di dalamnya mengandung unsur gotong royong antar masyarakat, yang tidak dapat digantikan dengan media online. Kata Kunci: Al-Qur’an, Digital, Ibu Hamil, Sakralitas, Tradisi.
Konsep Keharmonisan Rumah Tangga dalam Al-Quran ( Interpretasi Ma’na-Cum-Maghza atas Term Libas dalam QS. Al-Baqarah: 187 ) Sari, Maula; Fahrudin, Fahrudin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.7009

Abstract

AbstractThis research focuses on the study of "The Concept of Household Harmony in the al-Quran (Ma'na-Cum-Maghza Interpretation of Term Libas in QS. al-Baqarah: 187)". This research is motivated by many people who do not heed the harmony in their household and many people who interpret the word libas in QS. al-Baqarah: 187 means clothes only. In fact, the meanings contained in the word libas are very diverse which can be a guide in household harmony. Therefore, by using the Ma'na-Cum-Maghza approach, this study aims to explain the meanings contained in the word libas. This study concludes that the significance of this verse is that family harmony can be built through Gotong Royong, Loyalty, and Romance. AbstrakPenelitian ini fokus terhadap kajian “Konsep Keharmonisan Rumah Tangga dalam al-Qur’an (Interpretasi Ma’na-Cum-Maghza atas Term Libas QS. al-Baqarah: 187)”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat yang tidak mengindahkan keharmonisan dalam rumah tangganya dan banyak masyarakat yang memaknai kata libas dalam QS. Al-Baqarah: 187 bermakna pakaian saja. Padahal, makna yang ada dalam kata libas sangat beragam yang dapat menjadi pedoman dalam keharmonisan rumah tangga. Oleh karena itu, dengan menggunakan pendekatan Ma’na-Cum-Maghza penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna-makna yang ada dalam kata libas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa signifikansi dalam ayat ini mengandung keharmonisan keluarga dapat di bangun melalui Gotong Royong, Kesetiaan, dan Romantisme. Kata Kunci: Keharmonisan; Libas pada al-Baqarah: 187; Ma’na-Cum-Maghza.
TAFSIR QS. AN-NUR 24:32 TENTANG ANJURAN MENIKAH (Studi Analisis Hermeneutika Ma’na Cum Maghza) Herlena, Winceh; Hasri, Muads
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i2.7010

Abstract

AbstractMarriage requires sufficient mental, social, and material readiness to build a household. However, the Al-Qur'an calls for marriage even in a state of poverty.This contradicts the present context which requires preparedness before marriage. This paper aims to explore further the recommendations for marriage in QS. An-Nur: 32 with a few questions. First, what did QS. An-Nur: 32 mean to order marriage even though he was in poverty?. Second, what is the significance of QS. An-Nur: 32 is contextualized in the present context?. This research will use the theory of hermeneutics ma'na cum maghza which was popularized by Sahiron Syamsuddin. This research concludes that the recommendation to marry in a destitute state is not the main purpose of QS.An-Nur: 32, but rather as a liberator for slaves, a recommendation to respect those who cannot afford it, as well as a recommendation to marry for those who are able.  AbstrakPernikahan membutuhkan kesiapan mental, sosial, dan materi yang cukup untuk membangun rumah tangga. Namun al-Qur’an berkata lain, al-Qur’an menyerukan untuk menikah meskipun dalam keadaan fakir. Hal ini tentu saja mengalami kontradiksi dengan konteks sekarang yang mengharuskan kesiapan sebelum pernikahan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut anjuran menikah dalam QS. An-Nur: 32 dengan beberapa pertanyaan. Apa maksud dan tujuan QS. An-Nur: 32 memerintahkan menikah meskipun dalam keadaan fakir? kemudian bagaimana signifikansi dari QS. An-Nur: 32 dikontekstualisasikan dalam konteks sekarang? Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini akan menggunakan teori hermeneutika ma’na cum maghza yang dipopulerkan oleh Sahiron Syamsuddin. Dari penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anjuran menikah dalam keadaan fakir bukanlah maksud dan tujuan utama dari QS. An-Nur: 32, melainkan sebagai pembebas bagi para budak dan hamba sahaya, anjuran untuk lebih menghargai orang-orang yang tidak mampu, serta anjuran menikah bagi yang telah mampu. Kata Kunci: Maghza; Menikah; QS. An-Nur.
RESEPSI QUR’AN SURAH AL-FATIHAH DALAM LITERATUR KEISLAMAN PADA MASA ABAD PERTENGAHAN Mushthoza, Zidna Zuhdana; Yahya, Ahmad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i1.7011

Abstract

AbstractThis research focuses on the study of "QS.Al-Fatihah Reception in Islamic Literature in the Middle Ages". This research is motivated by the many phenomena that occur in society that are still thick with the tradition of reciting surah al-Fatihah, including as a talisman, as a treatment such as ruqyah, as a community ritual practice such as tahlilan, etc. These phenomena have become a common tradition among the people. However, many people do not know about the aims, principles, and history of how these practices originated. Therefore, by using the informative and perfomative theory initiated by Sam D. Gill, this study aims to find data from where the initial emergence of these phenomena was responded to by the community, understood and expressed and developed in the community through Islamic literature in the century. mid. This research concludes that from several existing reception books, broadly speaking it can be classified into two types of books. AbstrakPenelitian ini fokus terhadap kajian tentang “Resepsi QS.Al-Fatihah dalam Literatur keIslaman pada Abad Pertengahan”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena yang terjadi di masyarakat yang masih kental dengan tradisi pembacaan surah al-Fatihah, diantaranya sebagai jimat, sebagai pengobatan seperti ruqyah, sebagai praktek ritual masyarakat seperti tahlilan dan sebagainya. Fenomena-fenomena tersebut sudah menjadi sebuah tradisi yang umum di kalangan masyarakat. Namun, banyak orang yang belum mengetahui tentang tujuan-tujuan, dasar-dasar, dan sejarah awal mulanya praktek-praktek tersebut berasal. Oleh karena itu, dengan menggunakan teori informatif dan perfomatif yang digagas oleh Sam D. Gill maka penelitian ini bertujuan untuk mencari data-data darimana awal munculnya fenomena-fenomena tersebut direspon oleh masyarakat, dipahami dan diungkapkan serta berkembang di masyarakat melalui literatur-literatur keIslaman pada masa abad pertengahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa awal mula munculnya resepsi surah al-Fatihah bersumber dari kitab tafsir, kitab fadhail al-Qur’an, dan kitab ‘amaliyah. Kata Kunci: Penelitian, Surah al-Fatihah, Literatur Abad Pertengahan.

Page 7 of 15 | Total Record : 141