cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Tinjauan Komparatif Bahasa Arab dan Bahasa Inggris Aforisme Al-Hikam: Analisis Sintaksis Muhammad Yunus Anis
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2872

Abstract

This article will investigate the Arabic language and English language based on Syntax analysis. In this case, syntax had been viewed as the arrangement between certain word and the other word, or with the other units of language which has the higher level than the word, such as: phrase, clause, and sentence. Generally speaking, this research will investigate the Arabic language based the four main theory in syntax (Liliane Haegeman, 1998), such as: (1) transitivity, (2) X-bar theory, (3) theta theory, and (4) case theory. This article will focus comprehensively in elaborating the data, both in Arabic language and English language, comparatively based on these four main theories. The material objects in this research was the units of language which had been collected from the book of Al-Hikam aphorism in trilingual edition (Arabic, Indonesia, and English). The observation method had been used for collecting the data, after that, the data will be analysed with two main steps, they are:  distributional method and comparative method. Transitive verbs in al-Hikam's aphorisms show God's behavior. The transitivity of verbs in Arabic is determined by the noun that comes after the verb. Meanwhile, based on the study of X-Bar theory in Arabic phrases that appear in al-Hikam's aphorisms, it can be concluded that the internal structure of noun phrases, that FN = N + Adj and FN = N + N. Furthermore, in the theta theory analysis, it can be concluded that FN in the form of (N + Adj) can occupy the AGENT position and FN in the form of (N + N) can occupy the PATIENT argument to form a propositional unit. Based on the case theory study, it can be concluded that the NOMINATIVE case is in the subject who acts as the AGENT, and the ACCUSATIVE case is in the direct object that becomes the object of the sufferer or target, namely acting as the PATIENT. The result of this research can be the new model of Arabic and English language analysis based on the syntax theory.AbstrakArtikel ini akan mengkaji bahasa Arab dan bahasa Inggris ditinjau dari sudut pandang sintaksis. Dalam hal ini, sintaksis dipandang sebagai pengaturan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan yang lebih besar dalam bahasa. Secara garis besar kajian ini akan menginvestigasi bahasa Arab ditinjau dari kajian empat teori sintaksis (Haegeman, 1998), yaitu: (1) transitivity, (2) X-bar theory, (3) theta theory, dan (4) case theory. Adapun secara khusus, artikel ini akan mengelaborasi data bahasa Arab dan bahasa Inggris secara komparatif berlandaskan pada keempat teori tersebut. Objek material dalam kajian ini adalah satuan kebahasaan (units of language) yang ada dalam kitab aforisme al-Hikam versi tiga bahasa (Arab, Indonesia, dan Inggris). Penjaringan data dilakukan dengan cara observasi kemudian data dianalisis dengan menggunakan dua tahap, yaitu: metode distribusional dan metode padan. Verba transitif dalam aforisme al-Hikam menunjukkan perilaku ketuhanan tertentu. Ketransitifan verba dalam bahasa Arab ditentukan oleh nomina yang muncul setelah verba. Sementara itu, berlandaskan pada kajian X-Bar theory dalam frasa bahasa Arab yang muncul dalam aforisme al-Hikam dapat disimpulkan struktur internal frasa nomina, bahwa FN = N + Adj dan FN = N + N. Selanjutnya dalam analisis theta theory, dapat disimpulkan bahwa FN yang berupa (N + Adj) dapat menduduki posisi agent dan FN yang berupa (N + N) dapat menduduki argumen patient untuk membentuk sebuah satuan proposisi. Berlandaskan pada kajian case theory dapat disimpulkan bahwa kasus nominatif berada dalam subjek yang berperan sebagai agent, dan kasus akusatif berada dalam objek langsung yang menjadi penderita atau sasaran, yaitu berperan sebagai patient. Kontribusi pembahasan dari kajian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam kajian bahasa Arab dan bahasa Inggris yang ada di Indonesia, khususnya terkait dengan kajian sintaksis (Arab: Ilmu-Naḥwu).
Transformasi Morfologis Nomina Corona, Delta, Omicron Pada Frasa Nomina dan Frasa Preposisi dalam Koran Daring Berbahasa Jerman Dewi Ratnasari; Sudarmaji Sudarmaji
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2976

Abstract

The purpose of this research is to describe the morphological transformation of nouns in the construction of German noun phrases and prepositional phrases. Data collection was carried out through read, and note from predetermined data sources. The data corpus was obtained from online German language newspapers Zeit Online, Spiegel, and Morgenpost and analyzed using the Direct Element Division Technique (DEDT). The results of the analysis show that the compound nouns that appear have the following forms: (i) compound nouns with a hyphen “–“, (ii) compound nouns without a hyphen “–“, (iii) compound nouns with zero filling elements, (iv) orthographically several compound nouns are written in a combined way. The use of a hyphen “–“ is one way to vary the morphological construction of compound nouns which contain the nouns Corona, Delta, and Omikron. Several prepositional phrases, which contain only the nouns Corona, Delta, and Omicron, do not have delimiters in the form of determinants as gender markers, so that the nouns Corona, Delta, and Omicron are no longer visible, resulting in deletion of determinants as gender markers. It can be said that the nouns Corona, Delta, and Omikron provide flexibility to German users, especially in carrying out morphological transformations in the formation of other compound nouns with their various variations. AbstrakTujuan penelitian ini mendeskripsikan transformasi morfologis nomina dalam konstruksi frasa nomina dan frasa preposisi bahasa Jerman. Pengumpulan data dilakukan melalui baca, dan catat dari sumber data yang telah ditetapkan. Korpus data diperoleh dari koran daring berbahasa Jerman Zeit Online, Spiegel,dan Morgenpost dan dianalisis dengan cara Teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). Hasil analisis memperlihatkan bahwa nomina majemuk yang muncul memiliki bentuk-bentuk: (i) nomina majemuk dengan tanda sambung “–“, (ii) nomina majemuk tanpa tanda sambung “–“, (iii) nomina majemuk dengan elemen pengisi nol, (iv) secara ortografis beberapa nomina majemuk ditulis dengan cara digabungkan. Penggunaan tanda sambung “–“ merupakan salah satu cara memvariasikan konstruksi morfologis nomina majemuk yang berunsur nomina Corona, Delta, dan Omikron. Beberapa frasa preposisi, yang berunsur hanya nomina Corona, Delta, dan Omikron, tidak memiliki pewatas berupa determinan sebagai pemarkah gender, sehingga gender nomina Corona, Delta, dan Omikron menjadi tidak terlihat, sehingga terjadi pelesapan determinan sebagai pemarkah gender. Dapat dikatakan bahwa nomina Corona, Delta, dan Omikron  memberikan keluwesan kepada pengguna bahasa Jerman khususnya untuk melakukan transformasi morfologis dalam pembentukan nomina majemuk lainnya dengan beragam variasinya. 
Sociophonetic Analysis of the Characters' Speech in "Troubled Blood" by R. Galbraith Clara Herlina Karjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5178

Abstract

British English has several regional varieties for almost every English county, e.g. Yorkshire, Lancashire, Cornwall, and so on. Each dialect can be distinguished by distinct vocabularies and pronunciation; for example the Cockney dialect use the glottal stop [?] instead of alveolar stop [t] in words like butter and bitter, so they are pronounced as [bΛ?ər] and [bɪ?ər]. These distinctive dialects’ pronunciation can be identified easily in spoken interaction, but it would be more problematic if it was represented in written text, such as in a novel. This paper attempts to analyse the distinguishing features of six intra-national varieties of British English found in the detective novel ‘Troubled Blood’ by Robert Galbraith, which is a pseudonym of J.K. Rowlings. The data for this study were taken from the speech samples of six characters from six regional dialects: Irish, Cornish, Scottish, Cockney, Eastender, and Essex. The speech samples data were extracted from the chapters in which the detective (Strike) or her partner (Robin) conversed with the chosen characters whose language backgrounds were stated clearly in the novel. The data were analysed by transcribing the speech samples phonetically, then from the transcriptions, phonetic features of each regional variation were identified using the theories of sociophonetic and regional variations. The interpretation of the sounds was based on the standard British English pronunciation. Results showed that a woman with East End dialect had some characteristics such as omission of initial h-sound, as in ‘appens, ‘ad, ‘eadaches, while a Scottish dialect was identified by the use of ‘havenae’ for ‘have not’. These results indicate that regional dialects or variations can be represented accurately in written text. Yet, it also suggests that the writer should have ample knowledge of each dialect to be able to represent distinctive variations in their writing.  AbstrakBahasa Inggris British memiliki beberapa variasi regional untuk hampir setiap wilayah Inggris, misalnya Yorkshire, Lancashire, Cornwall, dan sebagainya. Setiap dialek dapat dibedakan dengan kosakata dan pengucapan yang berbeda; misalnya dialek Cockney menggunakan glottal stop [?] alih-alih alveolar stop [t] dalam kata-kata seperti ‘butter’ dan ‘bitter’ sehingga diucapkan sebagai [bΛ?ər] dan [bɪ?ər]. Pengucapan dialek yang khas ini dapat diidentifikasi dengan mudah dalam interaksi lisan, tetapi akan lebih bermasalah jika direpresentasikan dalam teks tertulis, seperti dalam novel. Makalah ini mencoba menganalisis ciri-ciri pembeda dari enam dialek intra nasional Bahasa Inggris British yang ditemukan dalam novel detektif 'Troubled Blood' karya Robert Galbraith, yang merupakan nama samaran dari J.K. Rowling. Data untuk penelitian ini diambil dari sampel tuturan enam karakter dari enam dialek daerah: Irlandia, Cornish, Skotlandia, Cockney, Eastender, dan Essex. Data sampel ujaran diambil dari bab-bab di mana detektif (Strike) atau pasangannya (Robin) berbicara dengan karakter terpilih yang latar belakang bahasanya disebutkan dengan jelas dalam novel. Data dianalisis dengan mentranskripsikan sampel ujaran secara fonetis, kemudian dari transkripsi tersebut diidentifikasi ciri-ciri fonetik masing-masing variasi regional dengan menggunakan teori sosiofonetik dan variasi regional. Penafsiran suara didasarkan pada pengucapan bahasa Inggris standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang wanita dengan dialek East End memiliki beberapa karakteristik seperti penghilangan bunyi h awal, seperti pada 'appens, 'ad, 'eadaches, sedangkan dialek Skotlandia diidentifikasi dengan penggunaan 'havenae' untuk 'have not' . Hasil ini menunjukkan bahwa dialek atau variasi daerah dapat direpresentasikan secara akurat dalam teks tertulis. Namun, hal itu juga mensyaratkan bahwa penulis harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang setiap dialek untuk dapat mewakili variasi yang berbeda dalam tulisan mereka 
Kajian Linguistik Kognitif Pada Imbuhan Ber- dalam Bahasa Indonesia Riki Nasrullah; Arip Budiman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3937

Abstract

Academic discourse on beR- affixes in Indonesian has been widely studied and analyzed. Generally, the studies only focus on three main valences: form, structure, and meaning. In its development, cognitive linguistics can be another alternative to examine beR- affixes in Indonesian by looking at the symptoms of expanding their meaning. By basing on the theory of categorization of prototype meanings and expansion meanings, cognitive linguistics is felt to be able to answer problems that often arise in the realm of beR- meaning meanings that tend to overlap. The results of this study suggest that cognitive linguistics can be an alternative study to fill the gaps in the study of beR- affixes in Indonesian. From the perspective of cognitive linguistics, the meanings present in the beR affix can be said to have expansion symptoms. The categorization analysis can see this of the meaning of the prototype and the meaning of its expansion. The prototype meaning of ¬beR- is mainly "doing something" with five types: holding something, acquiring something, and untransitive, reflexive, and reciprocal deeds. The meaning of the expansion is only identified four types: owning, wearing, state, and number. AbstrakWacana akademik tentang imbuhan beR- dalam bahasa Indonesia sejatinya telah banyak dikaji dan dianalisis. Umumnya, kajian yang dilakukan hanya berkutat pada tiga valensi utama, yakni bentuk, struktur, dan makna. Pada perkembangannya, linguistik kognitif bisa menjadi alternatif lain untuk mengkaji imbuhan beR- dalam bahasa Indonesia dengan melihat gejala perluasan maknanya. Linguistik kognitif dengan mendasarkan pada teori kategorisasi makna prototipe dan makna perluasan dirasa mampu menjawab persoalan yang kerap muncul pada ranah makna imbuhan beR- yang cenderung tumpang-tindih. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa linguistik kognitif bisa menjadi alternatif kajian untuk mengisi rumpang kekosongan pada kajian imbuhan beR- dalam bahasa Indonesia. Ditilik dari perspektif linguistik kognitif, makna-makna yang ada pada imbuhan beR- bisa dikatakan mengalami gejala perluasan. Hal ini bisa telihat dengan adanya analisis kategoriasi pada makna prototipe dan makna perluasannya. Makna prototipe imbuhan ­beR- berdomain utama “melakukan sesuatu” dengan lima jenis, yakni mengadakan sesuatu, memperoleh sesuatu, perbuatan taktransitif, refleksif, dan resiprok. Adapun makna perluasannya hanya teridentifikasi empat jenis, yakni memiliki, memakai, keadaan, dan jumlah.
Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa Jawa Kromo Ketika Lebaran Pada Ranah Keluarga: Tinjauan Sosiolinguistik Riqko Nur Ardi Windayanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3803

Abstract

This study aims to reveal the shift and maintenance of formal Javanese (kromo) during Eid in the family domain by searching the language choices and its underlying factors. This is qualitative research. The research data consists of verbal data (the utterances that used when sungkeman or greeting as a central ritual in Eid) and social data, namely the reasons behind the use of these utterances. Both are obtained by semi-structured interviews. In addition, social data is obtained by literature study. The data are analyzed by using ethnographic methods, namely (1) analyzing the forms of language choice in accordance with the theory; and (2) explaining the constellation factors and language shifts-maintenance of informants’ explanations, interpretations, and expert explanations. Based on the research result, language choices include variations in the same language, code switching, and a combination of code-switching and code-mixing between formal Javanese, Indonesian, and Arabic. The selection is motivated by linguistic factors and social factors. This shows that the shift from Javanese to other languages during Eid do not fully occur. Its use is still maintained. Both are motivated by social factors of each. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pergeseran dan pemertahanan bahasa Jawa kromo ketika lebaran pada ranah keluarga dengan menelusuri pilihan bahasa dan faktor yang melatarbelakanginya. Data penelitian terdiri atas data verbal (tuturan-tuturan yang digunakan ketika sungkeman atau salaman sebagai ritual sentral dalam lebaran) dan data sosial, yaitu alasan-alasan di balik penggunaan tuturan-tuturan tersebut. Keduanya diperoleh dengan wawancara semi terstruktur. Sebagai tambahan, data sosial diperoleh dengan studi kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan metode etnografi, yaitu (1) menganalisis bentuk-bentuk pilihan bahasa sesuai dengan teori; serta (2) menjelaskan konstelasi faktor dan pergeseran-pemertahanan bahasa berdasarkan penjelasan informan, interpretasi, dan penjelasan pakar. Berdasarkan hasil penelitian, pilihan-pilihan bahasa meliputi variasi dalam bahasa yang sama, alih kode, dan gabungan alih kode-campur kode antara bahasa Jawa kromo, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Pemilihan itu dilatarbelakangi oleh faktor linguistis dan faktor sosial. Hal itu menunjukkan bahwa pergeseran dari bahasa Jawa kromo ke bahasa-bahasa lain pada saat lebaran tidak sepenuhnya terjadi. Penggunaannya masih dipertahankan. Keduanya dilatarbelakangi oleh faktor sosial masing-masing.
Pengaruh Tindak Tutur Direktif Guru terhadap Pembentukan Karakter Siswa dalam Proses Pembelajaran Selama Pandemi Covid-19 Yetty Morelent; Hasnul Fikri; Popi Fauziati; Eva Krisna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3121

Abstract

This study aims to describe the effect of directive speech acts used by teachers on the formation of student character in the learning process during the Covid-19 pandemic. The theory regarding directive speech acts in this study is based on sociopragmatic theory. The implemented research methodology is descriptive qualitative with 8 conditions, namely: 1) when entering class, 2) when starting a lesson, 3) during learning, 4) when giving assignments to students, 5) when asking assignments to students, 6) when asking students to correct assignments, 7) when concluding a lesson, and 8) when ending a lesson. The research data were obtained from teachers who teach Indonesian at the senior high school level in West Sumatra through questionnaires distributed using the Google form. The number of respondents who collected as many as 276 respondents. Based on the data collected, it was found that the directive speech acts used by the teacher resulted in the formation of students' character as many as 8 character pillars, namely: religious, honest, responsible, independent, curious, respectful, hard working, and disciplined. The most dominant character that appears is the character of responsibility. This behavior is reflected in the daily attitude of students in carrying out the mandate given as well as possible, such as doing assignments given by the teacher. The implications of this research can be used as a reference for character assessment. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh tindak tutur direktif yang digunakan guru terhadap pembentukan karakter siswa dalam proses pembelajaran selama pandemi Covid-19. Teori mengenai tindak tutur direktif dalam penelitian ini berlandaskan pada teori sosiopragmatik. Metodologi penelitian yang diimplementasikan adalah kualitatif deskriptif dengan 8 kondisi yaitu: 1) pada saat memasuki kelas, 2) pada saat memulai pelajaran, 3) pada pembelajaran berlangsung, 4) pada saat memberikan tugas kepada siswa, 5) pada saat meminta tugas kepada siswa, 6) pada saat meminta kepada siswa untuk memperbaiki tugas, 7) pada saat menyimpulkan pelajaran, dan 8) pada saat mengakhiri pelajaran. Data penelitian diperoleh dari guru-guru yang mengajar bahasa Indonesia tingkat SMA di Sumatera Barat melalui kuesioner yang disebarkan dengan google form. Jumlah responden yang terkumpul sebanyak 276 responden. Berdasarkan data yang terkumpul diperoleh hasil bahwa tindak tutur direktif yang digunakan guru menghasilkan pembentukan karakter siswa sebanyak 8 pilar karakter yaitu: religius, jujur, tanggung jawab, mandiri, rasa ingin tahu, menghargai, kerja keras, dan disiplin. Karakter yang paling dominan muncul adalah   karakter tanggung jawab. Perilaku ini tercermin dari sikap siswa sehari-hari dalam menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya, seperti mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Implikasi penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan penilaian karakter.
Tinjauan Pragmatik Siber Pada Acara Virtual Doa Lintas Agama Pray from Home untuk Mengatasi Pandemi Covid-19 Sahrul Romadhon; Ardi Wina Saputra; Denny Adrian Nurhuda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5195

Abstract

The purpose of this study is to explain the government's role in overcoming the Covid-19 problem through the socialization of PrayfromHome as an effort to improve ways to improve themselves in increasing the immunity of religious communities. This was done because a vaccine for the Covid-19 virus has not yet been found. To find out the role of the government, the researchers conducted data collection based on the propositions contained in the virtual joint editorial prayer offered by policy makers and representatives of interfaith prayer. The method used in this research is a qualitative research based on cyber pragmatics based on each thematic content contained in the editorial propositions of the prayers offered. The results of the study show that Pray from home activities have thematic content which is divided into (1) from the policy makers, the Covid-19 outbreak requires every religious adherent to provide physical and mental enthusiasm as an initial provision of intangible vaccines for the Indonesian people, (2) from the representative side of inter-religious prayer that raises several inner conditions, including (a) there are several acknowledgments of mistakes for all actions carried out in the world to the Creator before asking for the world to return to normal, (b) the existence of a form of superiority of God's natural power, as the greatest power, a place to surrender, (c) hope for all parties involved or at the forefront in handling the Covid-19 pandemic so as not to provide strength and safety during the handling process. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran pemerintah dalam mengatasi permasalahan Covid-19 melalui sosialisasi doa bersama PrayfromHome sebagai upaya meningkatkan keimanan yang berujung pada peningkatan imun umat beragama. Hal itu dilakukan karena vaksin dari virus Covid-19 belum ditemukan. Untuk mengetahui peran pemerintah tersebut, peneliti melakukan pengambilan data berdasarkan proposisi-proposisi yang terdapat dalam redaksional doa bersama secara virtual yang dipanjatkan oleh pemangku kebijakan dan perwakilan pendoa antaragama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif berbasis analisis pragmatik siber berdasarkan setiap muatan tematik yang terdapat dalam proposisi-proposisi redaksional doa yang dipanjatkan. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan Pray from Home memiliki muatan tematik yang terbagi atas (1) dari sisi pemangku kebijakan, adanya wabah pandemi Covid-19 ini mengharuskan setiap pemeluk agama untuk memberikan penguatan diri secara fisik maupun mental sebagai bekal awal vaksin tak benda bagi masyarakat Indonesia, (2) dari sisi perwakilan pendoa antaragama yang memunculkan beberapa kondisi batiniah, di antaranya (a) terdapat beberapa pengakuan kekhilafan atas segala perbuatan yang dilakukan didunia kepada Sang Pencipta sebelum meminta agar dunia kembali seperti sediakala, (b) adanya bentuk superioritas kekuatan alami Tuhan, sebagai kekuatan terbesar, tempat memasrahkan diri, (c) terselipkan harapan kepada semua pihak yang terlibat atau garda terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19 agar diberikan kekuatan serta keselamatan selama proses penanangan wabah berlangsung. 
Bahasa Ronggga sebagai Bahasa Vokalik I Nyoman Suparsa
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5182

Abstract

This study aims to find out whether the Rongga language (hereinafter abbreviated as bR) is a vocal language, and the reasons why bR is said to be a vocal language. This study uses a qualitative method. Data was collected using observation methods, field linguistics, literature assisted by elicitation techniques, record keeping, and recording. Data were analyzed qualitatively and presented descriptively. Based on the results of this study it was found that bR is a vocal language. This is based on (1) segmentation the series of letters <mb>, <nd>, <ngg> constitute a sound segment: labial prenasal inhibition [ᵐb], alveolar prenasal inhibition [ⁿd], and velar prenasal inhibition [ᵑg] so that the word -words in bR like <mbalu> are pronounced as [ᵐbalu] 'storm', <ndate> [ⁿdate] 'create', and <nggare> [ᵑgare] 'gali', and are not pronounced as [ǝmbalu], [ǝndate], and [ǝngare]. (2) Based on the canonical pattern of syllables and words, bR has a canonical pattern that always ends in a vowel, and, (3) every word from the Indonesian language that ends in a consonant, both in the middle and final positions of syllables and words when absorbed in bR always conforms to the canonical pattern of bR syllables and words. For example, <pagar> [paɠa].'fence', <adat> [aɗa] 'custom', <easy> [gapa] 'easy'. Thus, the Rongga language is a vocalic language. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahasa Rongga (selanjutnya disingkat bR) merupakan bahasa vokalik, dan alasan bR mengapa dikatakan sebagai bahasa vokalik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, linguistik lapangan, kepustakaan dibantu teknik elisitasi, pencatatan, dan perekaman. Data dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa ternyata bR merupakan bahasa vokalik. Hal ini didasarkan pada (1) secara segmentasi rangkaian huruf <mb>, <nd>, <ngg> merupakan sebuah segmen bunyi: hambat pranasal labial [ᵐb], hambat pranasal alveolar [ⁿd], dan hambat pranasal velar [ᵑg] sehingga kata-kata dalam bR seperti <mbalu> dilafalkan sebagai [ᵐbalu] ‘badai’, <ndate> [ⁿdate] ‘buat’, dan <nggare> [ᵑgare] ‘gali’, dan tidak dilafalkan sebagai [ǝmbalu], [ǝndate], dan [ǝnggare]. (2) Secara pola kanonik sukukata dan kata, bR mempunyai pola kanonik yang selalu berakhir dengan vokal, dan, (3) setiap kata dari bahasa Indonesia yang berakhir dengan konsonan, baik pada posisi tengah maupun akhir sukukata dan kata ketika terserap dalam bR selalu menyesuaikan diri dengan pola kanonik sukukata dan kata bR. Contohnya <pagar> [paɠa].’pagar’, <adat> [aɗa] ‘adat’, <gampang> [gapa] ‘gampang’. Dengan demikian, bahasa Rongga merupakan bahasa vokalik.
Motif Kawung Pada Batik Tradisional Yogyakarta: Kajian Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5219

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as the main analysis. The data and sources of data in this study were obtained through interviews with sources, namely the Javanese people, especially the Yogyakarta area who lived in Siak Regency with an age range of 40-60 years. The resource persons were selected only in this age range because they have followed the journey of batik kawung from the area of origin with the manual manufacturing process until now in the transmigration area and its manufacture using a printing machine. Two different circumstances and two different processes certainly give birth to different points of view which are very interesting to study. Data collection techniques are by interviewing, taking notes, and analysis. The analysis process uses 3 stages, namely script semantics to find general meaning or a dictionary, then cognitive semantic analysis stage to understand meaning based on its relationship with the user community, and finally inquisitive semantics to find reasons for using kawung motifs in batik with high-level thinking and a combination various discipline. The results of the study explain that the kawung batik motif was chosen because it reflects on the original tree, namely sugar palm, all of which are very useful for daily life. The community hopes that the use of kawung batik cloth will be useful for many people and the surrounding environment. The kawung motif symbolizes the value of holiness, perfection, and purity for the Javanese people. This can be seen from the shape of the kawung pattern which is very neatly described in the form of four kawung seeds arranged around each other. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Data dan sumber data pada penelitian diperoleh melalui wawancara narasumber yaitu masyarakat Jawa khususnya daerah Yogyakarta yang tinggal di Kabupaten Siak dengan rentang usia 40—60 tahun. Narasumber dipilih hanya pada rentang usia tersebut karena mereka telah mengikuti perjalanan batik kawung mulai dari daerah asal dengan proses pembuatannya yang manual hingga sekarang di daerah transmigrasi dan pembuatannya yang sudah menggunakan mesin cetak. Dua keadaan yang berbeda dan juga dua proses berbeda tentu melahirkan sudut pandang yang berbeda yang sangat menarik untuk diteliti. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, catat, dan juga analisis. Proses analisis menggunakan 3 tahap yaitu semantik skrip untuk menemukan makna secara umum atau kamus, kemudian tahap analisis semantik kognitif untuk memahami makna berdasarkan hubungannya dengan masyarakat pengguna, dan yang terakhir semantik inkuisitif untuk menemukan alasan penggunaan motif kawung dalam batik dengan pemikiran aras tinggi dan juga gabungan berbagai disiplin ilmu. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif batik kawung dipilih karena bercermin dari pohon asalnya yaitu aren yang ke semua bagiannya sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Masyarakat berharap bahwa pengguna kain batik motif kawung akan berguna bagi orang banyak dan juga lingkungan sekitar. Motif kawung melambangkan nilai kesucian, kesempurnaan dan juga kemurnian bagi masyarakat Jawa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pola kawung yang digambarkan dengan sangat rapi berbentuk empat buah biji kawung yang disusun saling mengelilingi.
Memotret Hoaks Covid-19 di Awal Pandemi Melalui Analisis Wacana Berbasis Linguistik Korpus Devi Ambarwati Puspitasari; Bayu Permana Sukma
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5152

Abstract

This study aims to identify the themes, characteristics and aspects behind the Covid-19 hoakses, particularly those appearing in Indonesia at the beginning of the pandemic, i.e March 2020. This study used a qualitative method by involving researchers as research instruments. The analysis was carried out through a critical discourse analysis framework supported by corpus linguistics. The data of this study are the Covid-19 hoaks corpus which has been confirmed as fake news and has been released by TurnBackHoaks.ID website managed by MAFINDO (Indonesian Anti Hoaks Society). The hoakses analyzed in this study were those which appeared sequentially for 16 days, from March 15 to March 31, 2020. The corpus of the Covid-19 hoakses consisted of 94 texts, 2,367 types, and 6,872 tokens, processed by using Antconc software. The analysis of word lists, concordances, and collocations was used to see texts’ composition of Covid-19 hoakses in Indonesia. The word list selected based on the results of corpus processing is the word with the highest frequency in the first to fiftieth rank. The chosen words are those other than prepositions or which is denoted by the symbol (p) in Indonesian Language Official Dictionary. The selection of non-prepositional words aims to facilitate data analysis with more specific keywords. The selected collocations are 1R (one right) and 1L (one left). Word lists and concordance analyses are used to see the tendency of hoaks texts’ content. Meanwhile, the collocation analysis aims to see the composition of words that appear in the Covid-19 hoaks texts. The results of the processing of the Covid-19 hoaks corpus were further deepened with a discourse analysis framework. In particular, the critical discourse analysis framework is used to analyze and explore the social and political context of circulating hoakses, especially hoakses involving the president as a symbol of the state and government. The results show that there are four hoaks themes about the Covid-19 in March 2020 i. e. health (29%), government policies (30%), criticism of President Joko Widodo (13%), and religion (5%). In terms of hoakses on criticism of President Joko Widodo, critical discourse analysis shows that the hoaks maker has the opposite ideology with him. These hoakses can also be seen as a portrayal of the socio-political condition in Indonesia after the 2014 presidential election. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema, ciri dan aspek yang melatarbelakangi kemunculan hoaks-hoaks Covid-19, khususnya hoaks yang muncul di Indonesia pada awal pandemi, yaitu bulan Maret 2020. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan peneliti sebagai instrumen penelitian. Analisis dilakukan dengan kerangka analisis wacana kritis yang didukung oleh linguistik korpus. Data dalam penelitian ini adalah korpus hoaks Covid-19 yang terkonfirmasi sebagai berita bohong dan telah dirilis oleh situs TurnBackHoaks.ID yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti hoaks Indonesia). Hoaks Covid-19 yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hoaks yang muncul secara berurutan selama 16 hari, yaitu tanggal 15 Maret hingga 31 Maret 2020. Korpus hoaks Covid-19 yang diteliti terdiri atas 94 teks, 2.367 tipe, dan 6.872 token. Korpus diolah menggunakan perangkat lunak Antconc. Analisis daftar kata, konkordans, dan kolokasi digunakan untuk melihat komposisi teks hoaks Covid-19 di Indonesia. Daftar kata yang dipilih berdasarkan hasil pengolahan korpus adalah kata dengan frekuensi tertinggi pada peringkat pertama sampai ke-50. Kata yang dipilih adalah kata selain preposisi atau yang dalam KBBI dilambangkan dengan simbol (p). Pemilihan kata non-preposisi bertujuan untuk mempermudah analisis data dengan kata kunci yang lebih khusus. Kolokasi yang dipilih adalah 1R (satu kanan) dan 1L (satu kiri). Analisis pada daftar kata dan konkordans digunakan untuk melihat kecenderungan isi teks hoaks. Sementara itu, analisis kolokasi bertujuan untuk melihat komposisi kata yang muncul pada teks-teks hoaks Covid-19. Hasil pengolahan korpus hoaks Covid-19 selanjutnya diperdalam dengan kerangka analisis wacana. Secara khusus, kerangka analisis wacana kritis digunakan untuk menganalisis dan mendalami konteks sosial dan politik dari hoaks yang beredar, khususnya hoaks yang melibatkan presiden sebagai simbol negara dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat tema hoaks terkait Covid-19 pada Maret 2020, yaitu hoaks bertema kesehatan (29%), kebijakan pemerintah (30%), kritik terhadap Presiden Joko Widodo (13%), dan keagamaan (5%). Terkait hoaks bertema kritik terhadap Presiden Joko Widodo, analisis dengan pendekatan wacana kritis menunjukkan bahwa pembuat hoaks memiliki ideologi yang berseberangan dengan Joko Widodo. Jika dirunut lebih jauh, hoaks-hoaks tersebut juga dapat dipandang sebagai gambaran dari kondisi sosial politik Indonesia pasca pilpres 2014.