cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Kekuasaan Semantik dalam Analisis Wacana Kritis Debat Capres-Cawapres Wati Kurniawati; Ririen Ekoyanantiasih; Santy Yulianti; Menuk Hardaniawati; S. S.T. Wisnu Sasangka; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4966

Abstract

The use of language in relation to the ideology brought by the party in its political speech is important to study in relation to the life of the nation and state. The formulation of the problem in this research is how to use the language of politicians based on semantic power. The purpose of this study is to identify the language of politicians in terms of semantic power. This research uses descriptive and qualitative research methods. The data is taken from transcripts of Jokowi-Amin and Probowo-Sandiaga political speeches. The results showed that speech texts produced by political party figures had utilized linguistic features, such as text structure, vocabulary, language style or figure of speech, sentences, cohesion, coherence, transitivity, and pronouns. Textually, discourse and social show semantic features that are used to launch a social process: the formation of a positive image of a party in fighting for the interests of the people. The social processes and practices channeled by the political party figures are closely related to their social background, politics, and cultural values in particular and Indonesia in general. Verbal discourse in Jokowi-Amin, Prabowo-Sandiaga speeches was expressed in the form of a series of transitive active sentences and intransitive active sentences. Sentences that are expressed are sentences in the form of invitation sentences, exclamatory sentences, sentences of hope, sentences of promises, and sentences of statements. The speech discourses expressed by the orators also contain the use of language styles, namely hyperbole, metaphor, personification, and repetition. AbstrakPenggunaan bahasa yang berkaitan dengan ideologi yang dibawa oleh partai dalam pidato politiknya sangat penting untuk dikaji, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana penggunaan bahasa para politikus berdasarkan kekuasaan semantik. Tujuan penelitian ini ialah mengidentifikasi bahasa para politikus yang ditinjau dari kekuasaan semantik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Data diambil dari transkrip pidato politik Jokowi-Amin dan Probowo-Sandiaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pidato yang diproduksi oleh tokoh-tokoh partai politik telah memanfaatkan fitur-fitur linguistik, seperti struktur teks, kosakata, gaya bahasa atau majas, kalimat, kohesi, koherensi, ketransitifan, dan kata ganti. Secara tekstual, wacana dalam pidato politik tersebut menunjukkan fitur-fitur semantik yang digunakan untuk melancarkan suatu proses sosial: pembentukan citra positif suatu partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Proses dan praktis sosial yang disalurkan oleh tokoh-tokoh partai politik tersebut berkaitan erat dengan latar belakang sosial, politik, dan budaya mereka. Wacana verbal dalam pidato Jokowi--Amin, Prabowo--Sandiaga diekspresikan dalam bentuk rangkaian kalimat aktif transitif dan kalimat aktif intransitif. Kalimat-kalimat yang diungkapan adalah kalimat yang berbentuk kalimat ajakan, kalimat seruan, kalimat harapan, kalimat janji, dan kalimat pernyataan. Wacana pidato yang diungkapkan oleh para orator tersebut juga mengandung pemakaian gaya bahasa, yaitu gaya bahasa hiperbola, metafora, personifikasi, dan repetisi.
Mengungkap Makna Simbolik dalam Khazanah Leksikon Etnoarsitektur Hijau Keraton (Kajian Etnolinguistik di Keraton Kasepuhan Cirebon) Epi Yuningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4495

Abstract

The palace is an important part of the social and cultural center of a society, the local wisdom embedded in the Keraton Kasepuhan Cirebon building reflects the concept of sustainable development. This is an inseparable part of the language and cultural facts about the palace. Local knowledge that becomes the local wisdom of a community in the palace building has the potential to contribute to the state to exercise sustainable development authority, so that current and future developments still pay attention to the harmony of nature. This study aims to reveal the symbolic meaning of green ethnoarchitecture as a disaster mitigation effort to address the issue of Sustainable Development Goals (SDGs) or sustainable development recorded in the ethnoarchitecture lexicon of the Keraton Kasepuhan Cirebon. The approach used to study this phenomenon is relevant to be studied using an ethnolinguistic approach. Language data in the form of an ethnoarchitecture lexicon was analyzed using a qualitative descriptive method. Data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The results show that based on the description of the palace building, the architectural lexicon can be classified based on the type, section, and building material. The lexicon in addition to having a lingual function also has a symbolic meaning. The concept of green architecture is the use of sustainable building materials. The materials used meet the principles of green architecture as a reference for community disaster mitigation from potential disasters to support the creation of sustainable development goals by the goals of the SDGs. AbstrakKeraton merupakan bagian penting dari pusat sosial dan budaya suatu masyarakat, kearifan lokal yang tertanam dalam bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon mencerminkan konsep pembangunan berkelanjutan. Hal ini menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari fakta bahasa dan budaya mengenai keraton tersebut. Pengetahuan lokal yang menjadi kearifan lokal suatu masyarakat dalam bangunan keraton berpotensi memberikan sumbangsih bagi negara untuk menjalankan otoritas pembangunan yang bersifat berkelanjutan, sehingga pembangunan yang dijalankan saat ini dan nanti masih memerhatikan keselarasan alam. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik etnoarsitektur hijau sebagai upaya mitigasi bencana menyikapi isu Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan yang terekam dalam leksikon etnoarsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji fenomena ini relevan dikaji menggunakan pendekatan etnolinguistik. Data bahasa berupa leksikon etnoarsitektur yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan deskripsi bangunan keraton, leksikon arsitektur dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis, bagian, dan bahan bangunan. Leksikon tersebut selain mempunyai fungsi lingual, juga memiliki makna simbolik. Adapun konsep arsitektur hijau berupa penggunaan material bangunan yang berkelanjutan. Bahan yang digunakan memenuhi prinsip green architecture sebagai acuan mitigasi bencana masyarakat dari potensi bencana sehingga menopang terciptanya tujuan pembangunan yang berkelanjutan sesuai dengan tujuan SDGs.
Metafora dalam Meme Ucapan Selamat Pagi di Media Sosial Rini Damayanti; Fransisca Dwi Harjanti; Kaswadi kaswadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4862

Abstract

This study discusses the use of metaphors contained in good morning memes on social media. The problem studied is the types and purposes of writing memes in good morning greetings on social media. This research is a type of qualitative research whose data is sourced from social media, including WhatsApp and Facebook. Data were collected using the documentation method. The results of this study are the types of metaphors that are generally found in good morning greeting memes, among others; (1) anthropomorphic metaphors that use nature as a comparison with humans, including plants, mountains, seeds, light, and light; (2) animal metaphors that use animals as comparisons with humans, including birds, bees, and flies; (3) the metaphor of the structure of daily activities describes human traits that are far from gratitude, peace, and pride; (4) inanimate metaphor refers to a fixed form, for example, chest; (5) standard metaphor refers to a general form, for example, happiness cannot be separated from gratitude; and (6) creative metaphors are metaphors that are produced from the creativity of speakers, for example comparing God or God's hand with a painter. The purpose of using metaphors in good morning memes is to advise, encourage, invite gratitude, pray, and thank God. AbstrakPenelitian ini membahas tentang penggunaan metafora yang terdapat dalam meme ucapan selamat pagi di media sosial. Permasalahan yang dikaji adalah jenis-jenis dan tujuan ditulisnya meme dalam ucapan selamat pagi di media sosial. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang datanya bersumber dari media sosial, di antaranya adalah WhatsApp dan Facebook. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah jenis-jenis metafora yang umumnya terdapat dalam meme ucapan selamat pagi antara lain;  (1) metafora antropomorfisme yang menggunakan alam sebagai pembanding dengan manusia, di antaranya dengan tanaman, gunung, benih, cahaya, dan terang; (2) metafora binatang yang menggunakan binatang sebagai pembanding dengan manusia, di antaranya burung, lebah, dan lalat; (3) metafora struktur kegiatan sehari-hari menggambarkan sifat-sifat manusia yang jauh dari rasa syukur, rasa damai, dan kesombongan; (4) metafora mati mengacu pada bentuk yang bersifat tetap, misalnya lapang dada; (5) metafora standar mengacu pada bentuk yang bersifat umum, misalnya kebahagiaan tidak terlepas dari rasa syukur; dan (6) metafora kreatif merupakan metafora yang dihasilkan dari kreativitas penutur, misalnya membandingkan Tuhan atau tangan Tuhan dengan seorang pelukis. Tujuan penggunaan metafora dalam meme ucapan selamat pagi antara lain adalah menasihati, menyemangati, mengajak bersyukur, mendoakan, dan berterima kasih kepada Tuhan.
Balinese Language on the Street Signs in Singaraja Town, Bali: A Linguistic Landscape Analysis I Made Suta Paramarta
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4197

Abstract

The existence of local languages in Indonesia, including Balinese language is often related to marginalization issue. Some previous research revealed that Balinese language is rarely used in public spaces. The local government implements Governor Regulation Number 80 of 2018 to officially protect the language, including its existence in public spaces. This research explores the existence of Balinese language and script on the lingual street signs in Singaraja, North Bali. Further, the distribution of the lingual street signs is also investigated to reveal the government's primary and secondary target areas in language protection. The subjects of the study are 151 street signs that are placed by the department of transportation of Buleleng regency. The data are obtained through photograph taking and observation. The research reveals that the presence of Indonesian language marginalizes Balinese language. The regulation only successfully improves the use of Balinese script instead of the use of Balinese language. In terms of the sign distribution, the government focuses on signs with Balinese script at the center of the town due to the intense language contact in the area.  AbstrakKeberadaan bahasa daerah di Indonesia, termasuk bahasa Bali sering dihubungkan dengan isu marginalisasi. Beberapa penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa bahasa Bali jarang digunakan di ruang publik. Pemerintah daerah Bali telah menerapkan Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2018 untuk secara resmi melindungi bahasa dan aksara Bali, termasuk keberadaannya di ruang publik. Sehubungan dengan itu, penelitian ini menggali keberadaan bahasa dan aksara Bali pada rambu-rambu jalan lingual di Singaraja, Bali Utara. Selanjutnya, sebaran rambu-rambu jalan lingual juga diselidiki untuk mengungkap wilayah sasaran primer dan sekunder pemerintah dalam perlindungan bahasa Bali. Subyek penelitian adalah 151 rambu jalan yang dipasang oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng. Data diperoleh melalui pengambilan foto dan observasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahasa Bali terpinggirkan dengan kehadiran bahasa Indonesia. Peraturan gubernur tersebut hanya berhasil meningkatkan penggunaan aksara Bali ketimbang penggunaan bahasa Bali. Dalam hal distribusi tanda, pemerintah memfokuskan penggunaan tanda dengan aksara Bali di pusat kota karena kontak bahasa yang intens terjadi di daerah tersebut.
Strategi Penerjemahan Kata Zina dan Rafas: Sebuah Reinterpresentasi Fahmi Gunawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.4904

Abstract

While a growing body of research on translation strategy produced by novice translators have been undertaken by many scholars, there is a paucity of research on 'zina' and 'rafas' translation strategy from Arabic to Indonesian. To fill this lacuna, the present study aims to analyze novice translators strategy for rendering the words zina and rafas and why they used it. The present study adopted translation process research design and translation strategy theory proposed by Gambier (2010). The findings demonstrate that the meaning of adultery is not restricted to "sexual intercourse between a man and a woman who is not bound by a marriage contract", but also "female genitalia". Similarly, the word rafas refers to "intercourse," and also "making out" or "kissing." The novice translators discovered the meaning by employing the following four translation strategies:(1) searching and reading articles regarding the meaning of zina dan rafas through Publish or Perish dan Elicit Application, (2) downloading and reading multilingual dictionary, (3) downloading and reading monolingual dictionary, and (4) listening to lectures via YouTube. Convenience, language problems, and user satisfaction are tree factors that influence novice translator decisions to adopt the translation strategy. This study suggests that the meaning of the two words should be reviewed by utilizing annotation or addition translation techniques.  AbstrakMeskipun penelitian tentang strategi penerjemahan oleh penerjemah pemula telah banyak didokumentasikan para sarjana, masih sedikit yang menganalisis strategi penerjemahan kata zina dan rafas dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Untuk mengisi kesenjangan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penerjemahan kata zina dan rafas oleh penerjemah pemula dan mengapa mereka menggunakannya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian proses penerjemahan dan teori strategi penerjemahan Gambier (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata zina tidak hanya bermakna 'perbuatan’ bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat kontrak pernikahan' tetapi juga 'alat kelamin perempuan'. Demikian pula, kata rafas tidak hanya terbatas pada makna 'bersenggama', tetapi juga 'bercumbu rayu' dan 'berciuman'. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ada empat strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah pemula dalam mencari makna kedua kata tersebut, yaitu (1) melakukan navigasi dan membaca artikel tentang arti zina dan rafas melalui aplikasi Publish or Perish dan Elicit; (2) mengunduh dan membaca kamus multibahasa; (3) mengunduh dan membaca kamus satu bahasa; dan (4) mendengarkan ceramah melalui YouTube. Persoalan kemudahan, masalah bahasa, dan kepuasan pengguna merupakan tiga faktor penyebab mengapa strategi penerjemahan digunakan. Akhirnya, penelitian ini menyarankan untuk diadakan peninjauan ulang terhadap makna kedua kata tersebut dengan menggunakan teknik anotasi atau adisi.
Bahasa Informal dalam WhatsApp Grup sebagai Sarana Pemerolehan Bahasa Bagi Pemelajar BIPA di Indonesia Defina Defina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3614

Abstract

One of the current means of communication that students widely use is WhatsApp (WA), and in communicating, they often use non-standard language. This paper identifies 1) non-standard words, affixes, phrases, and rephrases with their abbreviations, 2) slang vocabulary and its abbreviations, and 3) regional and foreign vocabularies often obtained by BIPA students in WA and their abbreviations. This analytical descriptive research method analyzes slang, foreign, regional, and abbreviations obtained through WA. The informants are KNB students from the 2018/2019 class, totaling six people. The data collection technique was that they sent conversations in WA groups for two days, 18-19 June 2019, and wrote down the words they had just obtained. As a result, 1) standard-non-standard root words, affixes, and abbreviated phrases are in 7 forms, while repeated words are in two forms; 2) the slang vocabulary obtained is in the form of phonemes, abbreviations, and acronyms; 3) foreign, regional, and mixed vocabulary obtained in 5 forms and there are original forms. In conclusion, the language obtained by BIPA students is not only found in slang but also in regional and foreign expressions. The research implication is that the WA group can be a means of acquiring a non-formal variety of Indonesian for international students. AbstrakSalah satu sarana berkomunikasi saat ini yang banyak digunakan oleh mahasiswa adalah WhatsApp (WA) dan dalam berkomunikasi mereka sering menggunakan bahasa tidak baku. Tulisan ini mengidentifikasi 1) kata-kata baku-nonbaku, kata berimbuhan, frasa, dan kata ulang dengan penyingkatannya; 2) kosakata gaul dan penyingkatannya, dan 3) kosakata daerah serta asing yang sering diperoleh pemelajar BIPA dalam ber-WA serta penyingkatannya. Metode penelitian ini deskriptif analitis dengan menganalisis kata gaul, asing, daerah, dan singkatan yang diperolehnya melalui WA. Informan adalah mahasiswa KNB angkatan 2018/2019 yang berjumlah 6 orang. Teknik pengumpulan data adalah mereka mengirimkan percakapan dalam grup WA selama dua hari, 18-19 Juni 2019 serta menuliskan kata-kata yang baru mereka peroleh. Hasilnya, 1) kata dasar baku-nonbaku, kata berimbuhan, dan frasa yang disingkat ada dalam 7 bentuk, sedangkan kata ulang dalam dua bentuk; 2) kosakata gaul yang diperoleh ada berupa fonem-fonetik, singkatan, akronim; 3) kosakata asing, daerah, dan campuran yang diperoleh ada dalam 5 bentuk dan ada bentuk aslinya. Simpulan, bahasa yang diperoleh pemelajar BIPA tidak hanya ditemukan bahasa gaul, tetapi juga ungkapan daerah dan asing. Implikasi penelitian adalah grup WA dapat menjadi sarana pemerolehan bahasa Indonesia ragam nonformal bagi mahasiswa asing. 
Pengembangan Media Flipbook Berbasis Digital Quotient Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Mahasiswa Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia Aninditya Sri Nugraheni; Ragil Dian Purnama Putri; Shopyan Jepri Kurniawan; Anjar Sulistiawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5120

Abstract

The purpose of this study is to develop a digital quotient-based flipbook media to improve Indonesian language learning outcomes in Islamic universities. This research is an innovation in the implementation of online learning in Indonesian language courses during the COVID-19 pandemic. The method used in this research is Research & Development (R&D) 4D model (Define, Design, Development, and Disseminate). The developed product was tested on students to determine the effect on learning outcomes. Based on the results of the media expert's validation, it was obtained in the Very Good category with an ideal percentage of 95%, and the material expert validation obtained an ideal percentage of 90% with the Very Good category. This indicates that the digital quotient-based flipbook learning media book is feasible to be used as a learning medium. Then the media was tested on students of UIN Sunan Kalijaga and UIN Sunan Ampel, the data obtained was 2,787 > 2,145 = significant. The data shows an increase from before being given the media to before being given the media. Based on the results of the study, it can be concluded that the development of flipbook media based on digital quotient is effective in improving student learning outcomes.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengembangkan media flipbook berbasis digital quotient untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia di perguruan tinggi Islam. Penelitian ini merupakan inovasi pelaksanaan pembelajaran online pada mata kuliah Bahasa Indonesia selama masa pandemi Covid-19. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Research & Development (R&D) model 4D (Define, Design, Development, dan Disseminate). Produk yang dikembangkan diuji cobakan kepada mahasiswa untuk mengetahui pengaruh terhadap hasil belajar. Berdasarkan hasil validasi ahli media didapatkan kategori Sangat Baik dengan persentase keidealan sebesar 95%, dan validasi ahli materi mendapatkan persentase keidealan sebesar 90% dengan kategori Sangat Baik.  Hal ini menandakan bahwa buku media pembelajaran flipbook berbasis digital quotient layak digunakan sebagai media pembelajaran. Kemudian media diuji cobakan terhadap mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan UIN Sunan Ampel diperoleh data 2,787 > 2,145 = signifikan. Data menunjukkan adanya peningkatan dari sebelum diberikan media menjadi sebelum diberikan media. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa  pengembangan media flipbook berbasis digital quotient efektif mampu meningkatkan hasil belajar mahasiswa.
Pemanfaatan Sistem Appraisal sebagai Evaluasi terhadap Geowisata di Gunung Batur Bali dalam Travel Blog Prancis Nurul Hikmayaty Saefullah; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Nany Ismail; Rohaidah Haron
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2325

Abstract

In Systemic Functional Linguistics (SFL), the evaluation has the term appraisal, which is an approach to investigate, to describe, and to explain how language is used to evaluate an object being discussed in context (Martin & White, 2005). The purpose in this paper is to evaluate tourism object, Mount Batur Geopark in Bali, written by a French tourist in a travel blog that is published online, using the appraisal system. The writing in the travel blog uses spoken language that is characterized by a non-standard French structure, use of verbal communication terms, and icons that describe the expression of the author. The research method used in this library research in general is an analytical method with the process of collecting data through the observation method and analyzed by the referential equivalent method. The findings of this study in general can be said that the French tourist appreciate the natural beauty that exists in the tourist sites of Mount Batur. It can be said that the three subsystems of attitude (affect, appreciation, and judgment) as subsystems of the appraisal appear in the data. AbstrakDi dalam Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), evaluasi memiliki istilah appraisal, yakni satu pendekatan untuk menyelidiki, mendeskripsikan, dan menjelaskan bagaimana bahasa digunakan untuk mengevaluasi suatu objek yang dibicarakan di dalam konteks (Martin & White, 2005). Tulisan ini bertujuan mengevaluasi objek wisata berupa Taman Bumi Gunung Batur di Bali yang dituliskan oleh seorang wisatawan berkebangsaan Prancis di dalam travel blog yang dipublikasikan secara daring, melalui sistem appraisal. Tulisannya menggunakan bahasa lisan yang ditandai dengan struktur bahasa Prancis yang tidak baku, penggunaan istilah-istilah komunikasi lisan, dan ikon-ikon yang menggambarkan ekspresi penulis. Metode penelitian yang digunakan secara umum adalah metode analitis dengan proses pengumpulan data melalui metode observasi dan dianalisis dengan metode padan referensial. Temuan dari penelitian ini secara umum dapat dikatakan bahwa wisatawan Prancis mengapresiasi keindahan alam yang ada di lokasi wisata Gunung Batur. Dapat dikatakan bahwa ketiga subsistem dari attitude (affect, appreciation, dan judgment) sebagai subsistem dari appraisal muncul di dalam data.
Health Protocol Campaign in The City of Malang as a Covid-19 Pandemic Mitigation: A Study of Linguistic Landscape Muhammad Rozin; Scarletina Vidyayani Eka; Fredy Nugroho Setiawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5177

Abstract

This study aims to examine the portrait of linguistic landscape (LL) and its social aspects as reflected in the health protocols (Prokes ‘Protokol Kesehatan') banners and billboards in public spaces in Malang. Thus, it attempts to answer two questions: (1) what are the perceptions and attitudes of the people of Malang city towards the various calls for health protocol? and (2) how effective are the calls in impeding the outbreak of Covid-19 in Malang city? According to Backhaus (2006), several important criteria to consider to ensure valid data collection in LL study are geographic location, characteristics of banners and billboards, and what counts as monolingual and multilingual banners. The research areas were therefore divided into two: (1) some residential areas and shopping centers in Malang city to collect non-official signs and (2) city centers which include major arterial roads, Pasar Besar area, city square, and areas around the city hall to collect official signs. Data in the form of photos of billboards and banners were taken using a mobile phone camera between May and July 2021. The curated 63 photos of Prokes banners and billboards were then qualitatively analyzed following the LL framework (Backhaus, 2006; Spolsky & Cooper, 1991) and triangulated with data from interviews. Adopting random sampling technique, 11 interviewees belonging to the middle class and 10 from the lower class were chosen to determine public perceptions of the effectiveness of the calls. The results show that the non-official banners featured more multilingual banners than did the official ones, and hence amplifying the results of the existing research on LL. As for the respondents’ perception, official banners were more preferable as they used Boso Walikan and were more assertive and illustrative. Although the two respondent groups agreed that the banners were not effective, they had different views about what mediums were more effective. The middle class considered campaigns using social media to be more effective, while the lower class preferred direct counseling. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji potret lanskap linguistik (LL) dan aspek sosialnya sebagaimana tercermin dalam spanduk dan baliho Protokol Kesehatan (Prokes) di ruang publik di Kota Malang. Dengan demikian, ada dua pertanyaan yang akan dijawab: (1) bagaimana persepsi dan sikap masyarakat kota Malang terhadap berbagai seruan Protokol Kesehatan tersebut? dan (2) seberapa efektif himbauan tersebut untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 di kota Malang? Menurut Backhaus (Backhaus, 2006), beberapa kriteria penting yang perlu diperhatikan untuk memastikan pengumpulan data yang valid dalam studi LL adalah lokasi geografis, karakteristik spanduk dan baliho, dan tolok ukur spanduk monolingual dan multilingual. Oleh karena itu, lokus penelitian dibagi menjadi dua: (1) beberapa kawasan pemukiman dan pusat perbelanjaan di kota Malang untuk mengumpulkan rambu-rambu non-resmi dan (2) pusat kota yang meliputi jalan utama, kawasan Pasar Besar, alun-alun kota, dan kawasan sekitar Balai Kota untuk mengumpulkan rambu-rambu resmi. Data berupa foto baliho dan spanduk diambil menggunakan kamera ponsel antara bulan Mei dan Juli 2021. Sebanyak 63 foto spanduk dan baliho Prokes yang terpilih kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan kerangka LL (Backhaus, 2006; Spolsky & Cooper, 1991) dan ditriangulasi dengan data hasil wawancara. Mengadopsi teknik random sampling, 11 orang dari kelas menengah dan 10 orang dari kelas bawah dipilih untuk diwawancarai guna memahami persepsi mereka tentang efektivitas himbauan Prokes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spanduk tidak resmi menampilkan lebih banyak spanduk multibahasa daripada spanduk resmi, dan dengan demikian memperkuat hasil penelitian terdahulu tentang LL. Adapun terkait persepsi responden, spanduk resmi lebih disukai karena menggunakan Boso Walikan dan lebih tegas serta ilustratif. Meskipun kedua kelompok responden sepakat bahwa spanduk tidak efektif, mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang media apa yang lebih efektif. Kelas menengah menganggap kampanye menggunakan media sosial lebih efektif, sedangkan kelas bawah lebih menyukai penyuluhan langsung.
Pengaruh Podcast (Siniar) Youtube terhadap Peningkatan Keterampilan Berbicara Ummul Qura; Nini Ibrahim; Prima Gusti Yanti; Irwan Baadilla
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5147

Abstract

Currently, podcasts (Siniar) are programs that are very popular with the public, not students. Inside the program, there is a speaking activity which is a fundamental aspect for students. The problem that occurs in learning speaking skills is that conventional methods are still often used. Through the broadcast, it is hoped that learning activities will be more innovative and able to improve students' speaking skills. Thus, the purpose of the study was to see the effect of YouTube podcasts on students' speaking skills. The quantitative method applied in this research is quasi-experimental. The population used were all fourth-semester students of the Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UHAMKA. Determination of the sample with a non-probability sampling technique. The independent variable in this study is speaking skills, while the variable is the YouTube Podcast program. Data were collected through dissemination instruments in the form of questionnaires on Podcasts and speaking practice activities. The results showed that there was a constant regression coefficient score with a value of 0.296. This score means that if each student adds podcast activity, then speaking skills increase by 0.296. In other words, for every 1% increase in the value of the variable during podcast shows, the value of speaking skills increases by 0.296. Therefore, this study concludes that there is an effect between watching YouTube Podcasts on students' speaking skills. AbstrakSaat ini, podcast (siniar) menjadi acara yang banyak digemari oleh masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa. Di dalam siniar ada kegiatan berbicara yang merupakan aspek yang fundamental bagi mahasiswa. Masalah yang terjadi dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah masih seringnya metode konvensional digunakan. Melalui siniar, diharapkan kegiatan pembelajaran lebih inovatif dan mampu meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa. Dengan demikian, tujuan pada penelitian untuk melihat pengaruh podcast YouTube terhadap keterampilan berbicara mahasiswa. Metode kuantitatif yang diterapkan di penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi yang digunakan adalah semua mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UHAMKA. Penentuan sampel dengan teknik nonprobability sampling. Variabel bebas pada penelitian ini adalah keterampilan berbicara, sedangkan variabel terikat yaitu acara Podcast YouTube. Data dikumpulkan melalui penyebaran instrumen berupa angket pada Podcast dan kegiatan praktik berbicara. Hasil penelitian menunjukkan terdapat konstanta skor koefisien regresi dengan nilai 0,296. Skor ini bermakna bahwa tiap-tiap mahasiswa melakukan penambahan aktivitas menonton acara podcast, maka keterampilan berbicara meningkat sebesar 0,296. Dengan kata lain, setiap penambahan sebesar 1% nilai variabel saat menonton acara podcast, maka nilai keterampilan berbicara bertambah sebesar 0,296. Oleh karena itu, simpulan penelitian ini yaitu ada pengaruh antara menonton acara Podcast YouTube terhadap keterampilan berbicara mahasiswa.