cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Penerapan Bahasa Persuasif dalam Mengikis Insecure Remaja di Kota Palu Ulinsa Ulinsa; Ali Karim; Idris Pattekai; Efendi Efendi; Mutmainah Mutmainah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5209

Abstract

This research examines the implementation of persuasive language in eroding insecurity for youth in Palu City. From the perspective of adolescent psycholinguistics who experience insecurity teenagers who have high ideals and want a successful future. This research aims to; 1) describe the types of educational persuasive language in eroding insecure for adolescents in the city of Palu, 2) describe the causal factor of insecure wrong education for youth in Palu city, and 3) describe the results of implementing persuasive language in eroding insecure for youth in Palu city. This research is presented in a qualitative form. The instrument used in collecting data in this paper is a mobile phone recorder. The type of data in this paper is written data and the source of the data is obtained from oral and written utterances from researchers toward experienced adolescents insecure in the city of Palu. Data collection techniques are carried out through stages; 1) observation, 2) interview, and 3) documentation. Technical data analysis was carried out through the following stages: 1) data collection, 2) data reduction, 3) data classification, and 4) conclusion. The results of the study show that 1) types of persuasive language in education erode insecurity in adolescents in the city of Palu including (1) persuasive education to invite/persuade, (2) persuasive education to urge/order, and (3) persuasive education to influence. 2) causal factors insecure for adolescents in the city of Palu, namely (1) educating by pampering, (2) educating with violence, and 3) the results of implementing persuasive language in eroding insecure in adolescents in the city of Palu it was declared successful from the 20 youths who were sampled. Implementation of the use of persuasive language in eroding insecurity in adolescents in the city of Palu was declared successful because the 20 youths who were sampled it was stated that they were able to revive their self-confidence by showing self-confidence in the form of work. AbstrakPenelitian ini mengkaji implementasi bahasa persuasif dalam mengikis insecure bagi remaja di kota Palu. Dari perspektif psikolinguistik remaja yang mengalami insecure pada dasarnya remaja yang memiliki cita-cita yang tinggi dan menginginkan masa depan yang sukses. Penelitian ini bertujuan untuk; 1) mendeskripsikan jenis bahasa persuasif pendidikan dalam mengikis insecure bagi remaja di kota Palu, 2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab insecure pendidikan yang salah bagi remaja di kota Palu, dan 3) mendeskripsikan hasil implementasi bahasa persuasif dalam mengikis insecure bagi remaja di kota Palu. Penelitian ini disajikan dalam bentuk kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam menggumpulkan data pada makalah ini adalah alat rekam telpon genggam. Jenis data pada makalah ini adalah data tertulis dan sumber data diperoleh dari tuturan lisan dan tulisan dari peneliti terhadap remaja yang mengalami insecure di kota Palu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tahapan; 1) obesrvasi, 2) wawancara, dan 3) dokumentasi. Teknis analisis data dilakukan melalui tahapan :1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) klasifikasi data, dan 4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) jenis bahasa persuasif pendidikan dalam mengikis insecure pada remaja di kota Palu meliputi (1) persuasif pendidikan mengajak/membujuk, (2) persuasif pendidikan menghimbau/memerintah, dan (3) persuasif pendidikan memengaruhi. 2) faktor-faktor penyebab insecure bagi remaja di kota Palu, yakni (1) mendidik dengan memanjakan, dan (2) mendidik dengan kekerasan, dan 3) hasil implementasi bahasa persuasif dalam mengikis insecure pada remaja di kota Palu dinyatakan berhasil dari 20 orang remaja yang dijadikan sampel. Impelementasi pemanfaatan bahasa persuasif dalam mengikis insecure kepada remaja di kota Palu dinyatakan berhasil karena dari 20 orang remaja yang dijadikan sampel dinyatakan dapat memunculkan kembali rasa percaya dirinya dengan menunjukkan rasa percaya diri dalam bentuk karya.
Appraisal System on Twitter: An Attitudinal Analysis Toward Alleged Islamic Blasphemy Case of M Kece Ai Yeni Yuliyanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5657

Abstract

This study examines the public's assessment of an Islamic blasphemy case named M. Kece on Twitter. It is a qualitative descriptive study. The data is a public assessment regarding the Islamic blasphemy case named M. Kece on Twitter using Appraisal Theory (Martin & White, 2005). Focusing on Attitudinal Analysis, the result shows the Attitudinal Analysis in social media, precisely Twitter, on the alleged Islamic blasphemy of M. Kece. Judgment is the most dominant, with as much as 54% over Affect (19%) and Appreciation (27%). In all three, more than three fourth of the data are negative. This dominant negative appraisal of netizens of Twitter users shows the public's assessment of what M. Kece has done, namely the content of his YouTube channel, which was reported and imprisoned due to a blasphemy case. This study affirmed that all content creators must be careful about the content they post. On the other hand, the viewer also must be selective about the content they access on social media not to be misleading. AbstrakStudi ini mengkaji penilaian publik terhadap kasus penistaan agama Islam bernama M. Kece di Twitter. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah penilaian publik terkait kasus penistaan agama Islam bernama M. Kece di Twitter dengan menggunakan Appraisal Theory (Martin & White, 2005). Berfokus pada Analisis Sikap, hasilnya menunjukkan Analisis Sikap di media sosial, tepatnya Twitter, tentang dugaan penistaan agama Islam terhadap M. Kece. Afeksi adalah yang paling dominan, dengan sebanyak 54% di atas judgment (19%) dan Apresiasi (27%). Dari ketiga kategori ini, lebih dari tiga perempat data merupakan penialaian negatif. Dominasi penilaian netizen pengguna Twitter ini menunjukkan penilaian mereka terhadap apa yang telah dilakukan M. Kece, yaitu konten channel YouTube-nya yang dilaporkan dan dipenjara akibat kasus penistaan agama. Penelitian ini menegaskan bahwa semua pembuat konten harus berhati-hati dengan konten yang mereka posting. Di sisi lain, penonton juga harus selektif terhadap konten yang mereka akses di media sosial agar tidak menyesatkan.
Representasi Aksi Sosial dalam Konstruksi Ideologi Media Berita Digital Terkait Kebijakan Pemerintah Selama Pandemi Jafar Lantowa; Rahmatan Idul
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5269

Abstract

In response to the Covid-19 pandemic, the government issued several policies disseminated through digital news media. However, these policies often become polemic in the community due to the different reporting based on the ideology of the media. The study aims to reveal the ideological construction of digital news media through linguistic representations of social actions in reporting on government policies during the pandemic through the employment of vocabulary and conjunctions. The data consists of digital news headlines on government policies during the pandemic generated through documentation from the three most popular digital media in Indonesia according to the Reuters Institute Digital News Report, namely Detik.com, Kompas.com, and CNN.com. The Critical Discourse concept applied is Theo van Leeuwen's social action framework to find the linguistic representation of each social action through the choice of words and conjunctions. Data analysis was carried out in two stages: analysis of the dimensions of social action to find linguistic representations of each social action in news discourse through word selection and conjunctions and ideological mapping which forms the basis of ideological classification of digital news media for every government policy related to handling Covid-19. As a result, it appears that detiknews.com does not agree with the implementation of PPKM, supports the vaccination program, and is neutral in social assistance data disputes between the central and regional governments. Kompas.com also stands in the same position on the issue of PPKM and vaccination. However, regarding the social assistance data dispute between the central and local governments, kompas.com tended to be on the government side. Meanwhile, cnnindonesia.com did not even question the PPKM-PSBB polemic, but emphasized its disapproval of paid vaccinations and sided with the central government in the social assistance data dispute between the central and regional governments. AbstrakSebagai respons terhadap pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang disebarkan melalui media berita digital. Sayangnya, kebijakan-kebijakan tersebut tak jarang menjadi polemik karena pemberitaan yang berbeda berdasarkan ideologi yang dianut media tersebut. Penelitian ini bertujuan mengungkap ideologi media berita digital serta konstruksinya melalui representasi linguistik aksi-aksi sosial dalam pemberitaan kebijakan pemerintah selama pandemi melalui pemanfaatan kosakata dan konjungsi. Data berupa judul berita pada platform digital yang memuat kebijakan pemerintah terkait Covid-19 yang dihasilkan melalui dokumentasi terhadap tiga media digital paling populer di Indonesia menurut Reuters Institute Digital News Report, yakni detik.com, kompas.com, dan cnn.com. Konsep wacana kritis yang diterapkan adalah kerangka aksi sosial Theo van Leeuwen untuk menemukan representasi linguistik setiap aksi sosial melalui pemilihan kata dan konjungsi. Analisis data dilakukan pada dua tahapan: analisis dimensi aksi sosial untuk menemukan representasi linguistik setiap aksi sosial dalam wacana berita melalui pemilihan kata dan konjungsi dan pemetaan ideologi yang menjadi dasar klasifikasi ideologi media berita digital terhadap setiap kebijakan pemerintah terkait penanganan covid-19. Hasilnya menunjukkan bahwa detiknews.com tidak setuju dengan penerapan PPKM, mendukung vaksinasi, dan netral dalam kisruh data bansos pusat-daerah. Kompas.com juga berdiri di posisi yang sama terkait PPKM dan vaksinasi. Namun, terkait kisruh data bansos pusat-daerah, kompas.com cenderung di sisi pemerintah. Sementara itu, cnnindonesia.com bahkan tidak mempermasalahkan polemik PPKM-PSBB, menitikberatkan ketidaksetujuannya pada vaksinasi berbayar, dan berpihak pada pemerintah pusat dalam kisruh data bansos pusat-daerah.
Representasi Tindak Tutur Negosiasi Penjual-Pembeli di Pasar Maricayya di Kota Makassar Siti Suwadah Rimang; Maria Ulviani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5942

Abstract

This study aims to explain variations in the use of seller refusal strategies and politeness of refusal speech acts in the context of negotiation. To realize the above objectives, this study was designed using a language functional approach with a qualitative descriptive research type. The research location was carried out in traditional markets in Makassar City. The research data is in the form of utterances. The techniques used in data collection were (1) recording and (2) interviews. Data analysis in this study used an interactive model which included the following stages: (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) verification and concluding. This method is expected to produce new theories related to the language of rejection at TKT 1-3 levels. The results of the study show that (1) the speech patterns of sellers and buyers in traditional markets in Makassar City found four patterns. Namely, call-answer patterns, request-information patterns, offer-rejection patterns, and offer-accept patterns, and (2) the forms of speech used by sellers and buyers, namely assertive speech which functions to state. Directive speech is divided into four purposes or objectives. Namely, command, beg, invite, and ask. Meanwhile, expressive speech is divided into three purposes or objectives. Namely, thanking, praising, and satirizing. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variasi penggunaan strategi penolakan penjual dan kesantunan tindak tutur penolakan dalam konteks negosiasi. Untuk merealisasikan tujuan tersebut di atas maka, penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan fungsional bahasa dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Pasar Maricayya Kota Makassar. Data penelitian ini berupa tuturan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah (1) perekaman dan (2) wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yang meliputi tahap: (1) pengumpulan data (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) verifikasi serta penarikan kesimpulan. Dengan metode tersebut, maka dapat menghasilkan teori baru yang berkenaan dengan bahasa penolakan pada level TKT 1-3. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) pola tuturan penjual dan pembeli di pasar Maricayya Kota Makassr ditemukan empat pola, yaitu: pola panggilan-jawaban, pola permintaan informasi-pemberian, pola tawaran-penolakan, dan pola tawaran-penerimaan dan (2) bentuk tuturan yang digunakan oleh penjual dan pembeli, yaitu tuturan asertif yang berfungsi menyatakan. Tuturan direktif terbagi atas empat maksud atau tujuan. Yakni, memerintah, memohon, mengajak, dan meminta. Adapun, tuturan ekspresif terbagi atas tiga maksud atau tujuan, yaitu: berterima kasih, memuji, dan menyindir.
Elipsis Posposisi Bahasa Jepang dalam Komik Akira Karya Hiromasa Okushima Mhd. Pujiono; Abdul Gapur; Taulia Taulia
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.2442

Abstract

In the context of everyday conversation, there is a phenomenon of ellipsis or disappearance in Japanese. One element of the word class that experiences ellipsis is postposition, which is a word class that plays an essential role in clarifying the function of a word in a sentence. This study examines the postpositional ellipsis in the Japanese conversation's comic Akira No. 2 by Hiromasa Okushima. The aim is to explain the form and process of the occurrence of Japanese postpositional ellipsis in conversation. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The data are conversational sentences with a postpositional ellipsis originating from the comic Akira No. 2 by Hiromasa Okushima Volume 1, chapter 1. Reading and note-taking techniques are used in data collection. The results indicate that there are postposition ellipsis wa (は), ga (が), no (の), e (へ), ni (に), o (を), and ka (か) occur in conversations between characters. The process of postposition ellipsis is influenced by the context of the conversation and occurs in character dialogue in comics in informal situations. Proposition ellipsis does not change the information or message in the sentence so that the interlocutor still understands the speaker's intent. AbstrakDalam konteks percakapan sehari-hari, terdapat fenomena elipsis atau pelesapan dalam bahasa Jepang. Salah satu unsur kelas kata yang mengalami elipsis adalah posposisi, yakni kelas kata yang berperan penting dalam memperjelas fungsi sebuah kata dalam kalimat. Dalam penelitian ini dikaji elipsis posposisi yang terjadi dalam percakapan bahasa Jepang dalam komik Akira No. 2 karya Hiromasa Okushima. Tujuannya adalah menjelaskan bentuk dan proses terjadinya elipsis posposisi bahasa Jepang pada percakapan.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data adalah kalimat percakapan yang mengalami elipsis posposisi yang bersumber dari komik Akira No. 2 karya Hiromasa Okushima Volume 1 chapter 1. Digunakan teknik simak dan catat dalam pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat elipsis posposisi wa (は), ga (が), no (の), e (へ), ni (に), o (を) dan ka (か) terjadi dalam percakapan antarkarakter. Proses elipsis posposisi dipengaruhi oleh konteks percakapan dan terjadi pada dialog karakter dalam komik dalam situasi tidak formal. Elipsis posposisi tidak mengubah informasi atau pesan di dalam kalimat sehingga lawan bicara tetap mengerti maksud pembicara.
Illocutionary Speech in Sampa' Tongkonan Discourse as an Oral Tradition of the Toraja People Anastasia Baan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.4263

Abstract

This study aimed to explore the meaning of illocutionary speech acts in the discourse of Sampa' Tongkonan, which is an oral tradition of the Toraja people. The researchers employed qualitative research methodology to collect data through interviews, observations, and documentation. The data analysis technique involved identifying, analyzing and describing the meaning of illocutionary speech. The study found that the illocutionary speech acts present in the Sampa' Tongkonan discourse were expressive, declarative, and directive. Expressive illocutionary utterances were used to express gratitude for the family clump, while declarative illocutionary speech was used to make statements to all family clumps. Directive illocutionary speech was used to make an appeal to the entire family. The study provides insights into the meaning of illocutionary speech in the Sampa' Tongkonan discourse as an oral tradition of the Toraja people. The findings have implications for the preservation and promotion of the Toraja culture. This study is significant because it sheds light on the unique cultural practices of the Toraja people and their oral tradition. It highlights the importance of understanding the meaning of illocutionary speech in the Sampa' Tongkonan discourse, which is an essential part of the Toraja culture. The study also provides a framework for future research on illocutionary speech in other oral traditions of the Toraja people. In conclusion, this study contributes to the understanding of the illocutionary speech acts present in the Sampa' Tongkonan discourse. The findings have implications for the preservation and promotion of the Toraja culture.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna dari tindak tutur ilokusi dalam wacana Sampa' Tongkonan, yang merupakan tradisi lisan dari masyarakat Toraja. Peneliti menggunakan metodologi penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data melibatkan identifikasi, analisis, dan deskripsi makna dari tindak tutur ilokusi. Studi ini menemukan bahwa tindak tutur ilokusi yang hadir dalam wacana Sampa' Tongkonan adalah ekspresif, deklaratif, dan direktif. Ucapan ilokusi ekspresif digunakan untuk mengungkapkan rasa terima kasih untuk kelompok keluarga, sedangkan ucapan ilokusi deklaratif digunakan untuk membuat pernyataan kepada semua kelompok keluarga. Ucapan ilokusi direktif digunakan untuk membuat sebuah permohonan kepada seluruh keluarga. penelitian ini memberikan wawasan tentang makna tindak tutur ilokusi dalam wacana Sampa' Tongkonan sebagai tradisi lisan dari masyarakat Toraja. Temuan ini memiliki implikasi untuk pelestarian dan promosi budaya Toraja. Studi ini penting karena memberikan gambaran tentang praktik budaya unik dari masyarakat Toraja dan tradisi lisan mereka. Studi ini juga memberikan kerangka kerja untuk penelitian masa depan tentang tindak tutur ilokusi dalam tradisi lisan lain dari masyarakat Toraja. Secara keseluruhan, studi ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang tindak tutur ilokusi yang hadir dalam wacana Sampa' Tongkonan. Temuan ini memiliki implikasi untuk pelestarian dan promosi budaya Toraja. Studi ini memberikan wawasan berharga tentang praktik budaya unik dari masyarakat Toraja dan tradisi lisan mereka. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat direplikasi dalam penelitian masa depan tentang tindak tutur ilokusi dalam tradisi lisan lain dari masyarakat Toraja.
Sistem Nama Diri Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar Dede Kosasih; Dian Hendrayana; Winci Firdaus; Denny Adrian Nurhuda; Basori Basori
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6106

Abstract

The background of this research is the curiosity about the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people. In the name string generally implies faith and wisdom (wisdom) and can reflect prayer, ideals (expectation). This means that the name given (bears) will be in accordance with the demands (expectations) of the community at the time it was made. The purpose of this study is to photograph the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people and to examine the factors and values underlying this practice. This study uses a qualitative methodological approach, namely descriptive analytical method. The data source in this study is the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people in three generations. Data collection techniques in this study were participant observation and observation and note-taking techniques. Data analysis techniques begin with collecting data, reducing data, conducting analysis based on classification. The results of this study show that the pattern of giving and changing names is caused by several reasons. First, driven for psychological reasons, in the form of hopes such as for the sake of glory, fame, profit and avoidance of disaster as well as inner satisfaction. Second, related to socio-cultural values that have roots in the past. From the diachronic study, the pattern of naming the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people has experienced a shift, although the shift or change is relatively not that massive. This is because the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people still adhere to traditions and customs that have been passed down from generation to generation. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan praktik pemberian nama diri di masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Dalam untaian nama itu umumnya menyiratkan keyakinan dan kebijaksanaan (wisdom) serta dapat merefleksikan doa, cita-cita (expectation). Artinya bahwa nama yang diberikan (disandangnya) tersebut akan sesuai dengan tuntutan (harapan) masyarakat pada masa dibuatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret praktik pemberian nama diri dalam masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dan akan mengkaji faktor-faktor dan nilai-nilai apa saja yang melatarbelakangi praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif yakni metode deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dalam tiga generasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan serta teknik simak dan catat. Teknik analisis data dimulai dengan mengumpulkan data, mereduksi data, melakukan analisis berdasarkan klasifikasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pola pemberian maupun pergantian nama disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, didorong karena alasan psikologis, berupa harapan seperti demi kejayaan, ketenaran, keuntungan dan terhindar dari malapetaka serta kepuasan batiniah. Kedua, yaitu berkaitan dengan nilai sosio-kultural yang mempunyai akar ke masa silam. Dari kajian secara diakronis pola pemberian nama masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah mengalami pergeseran, walaupun pergeseran atau perubahan itu relatif tidak begitu masif. Hal ini dikarenakan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar masih pengkuh (kuat) memegang tradisi dan adat istiadat yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Sifat Alami Gramatika Indonesia: Sistem Partikel Linguistik, Fungsi Penataan Konseptual, dan Representasi Kognitif Thafhan Muwaffaq; Arianty Visiaty
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.3039

Abstract

Our article aims to characterize the conceptual architecture of Indonesian grammar theoretically through a cognitive semantic approach. In its implementation, we applied introspective reflection on language data in the form of sentences that have been collected into a corpus. Applying the Conceptual Structuring System (Talmy, 2000b), we introspected the semantic function of grammar elements and their coherence with lexical elements that constitute sentences. We propose that conceptualization in the Indonesian language relies on the system of pairing and connecting morphemes, or what will be regarded here as linguistic particles. In other words, a sentence is a composition of complex particles that externalizes the organization of ideas, thoughts, or concepts as a predication construed into cognitive representations in the form of event schemas. Furthermore, the conceptual organization expressed as predication configures conceptual meaning with respect to spatiotemporal domains. This article sheds light on the cognitive architecture that conceptualizes Indonesian grammar, contributing to a deeper understanding of its structural characteristics and the experience of language meaning-making.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasikan arsitektur konseptual gramatika Indonesia secara teoretis melalui pendekatan semantik kognitif. Pada pelaksanaannya peneliti menerapkan refleksi introspektif atas data bahasa berupa kalimat yang telah dikumpulkan ke dalam korpus. Menerapkan Sistem Penataan Konseptual (Talmy, 2000b), peneliti mengintrospeksi fungsi semantik unsur gramatika dan kesinambungannya dengan unsur leksikal yang mengkonstitusikan kalimat. Peneliti memproposisikan konseptualisasi dalam bahasa Indonesia bertumpu pada sistem pemasangan dan penghubungan morfem atau apa yang akan disebut di sini sebagai partikel linguistik. Dalam kata lain, kalimat adalah susunan partikel kompleks yang mengeksternalisasikan organisasi ide, pikiran, atau konsep sebagai sebuah predikasi yang ditafsirkan ke dalam representasi kognitif berupa skema kejadian. Selanjutnya, organisasi konseptual yang dinyatakan sebagai predikasi mengkonfigurasi makna konseptual berdasarkan domain ruang dan waktu. Artikel ini mencerahkan arsitektur kognitif yang dikonseptualisasikan gramatika Indonesia, dalam cara yang mengkontribusikan pemahaman lebih dalam tentang karakteristik struktural dan pengalaman pemaknaan bahasa.
Eksplorasi Media Pembelajaran Bahasa: Implikasi pada Siswa Setyawan Pujiono; Maman Suryaman; Sulis Triyono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.3773

Abstract

Learning media is one of the important factors determining the success of the language learning process. The media will facilitate the work of teachers in carrying out the transfer of knowledge to students. In this regard, this study aims to (1) describe the suitability of the use of media in planning (RPP) with the implementation of language learning in the classroom, and (2) describe students' responses to the use of language learning media. Indonesian language learning media in public junior high schools in Sleman Regency. Qualitative and quantitative descriptive is research methods. Qualitative methods are carried out through observation instruments, interviews, and document analysis. The quantitative method is carried out through a questionnaire instrument. The research population is teachers and students of public junior high schools in Sleman Regency. The sampling technique used purposive sampling with strata technique (high, medium, low). The data analysis technique was descriptive qualitative and quantitative. The results of the study show that: first, the use of instructional media in planning and implementation is not appropriate. The learning media used by the teacher during learning are visual, conventional, and audio visual media. Second, students' responses to the use of learning media are categorized as good. The use of learning multimedia by teachers serves to stimulate thoughts, feelings, attention, and motivate students to learn so that language learning becomes more meaningful. AbstrakMedia pembelajaran merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan proses pembelajaran bahasa. Media akan mempermudah kerja guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Terkait dengan hal itu, penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kesesuaian penggunaan media di perencanaan (RPP) dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa di kelas dan (2) mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran bahasa. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui instrumen pengamatan, wawancara, dan analisis dokumen. Adapun metode kuantitatif dilakukan melalui instrumen angket. Populasi penelitian adalah guru dan siswa SMP Negeri di Kabupaten Sleman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan teknik strata (tinggi, sedang, dan rendah). Teknik analisis data dengan cara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, penggunaan media pembelajaran pada perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai. Media pembelajaran yang digunakan guru saat pembelajaran adalah media visual, konvensional, dan audio visual. Kedua, tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran berkategori baik. Penggunaan multimedia pembelajaran oleh guru berfungsi untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan memotivasi peserta didik untuk belajar sehingga pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna. 
Bentuk dan Jenis Komunikasi Bernada Ujaran Kebencian (Studi Kasus Terhadap Postingan dan Komentar Pada Akun Instagram @Nyinyir_Update_Official) Agus Mulyanto; Aneu Nuraeni; Siska Mareti Maulani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6099

Abstract

Language is a very important communication tool for humans to interact. One of the tools used to communicate is social media. It is undeniable that at this time on social media there is often the use of language deviations such as hate speech. This research focuses on analyzing the forms and types of hate speech in posts and comments on the @nyinyir_update_official Instagram account. The approach used is a qualitative approach with descriptive methods. The data collection technique was carried out using reading and note-taking techniques. Data is obtained from comments on @nyinyir_update_official Instagram account posts that contain hate speech. The results of the study show that the hate or dislike response is the creative impetus for creative language expression. Creative in finding different ways to berate or blaspheme. The technique used is to use referents that are nuanced with negative meanings. The technique used is to use referents that are nuanced with negative meanings. There are nine types of referents used to express hatred, namely: (1) circumstances 32 utterances, (2) animals 13 utterances, (3) body parts 23 utterances, (4) objects 10 utterances, (5) activities 4 utterances, (6) spirits 6 utterances, (7) kinship 10 utterances, (8) profession 4 utterances, (9) exclamation 2 utterances. Judging from the form, the core of hatred is expressed in words, phrases, and clauses as follows: (1) words as many as 28 hate speeches, (2) phrases 35 hate speeches, and (3) clauses 37 hate speech data. AbstrakBahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia untuk berinteraksi. Salah satu sarana yang digunakan untuk berkomunikasi yaitu media sosial. Tidak dipungkiri pada masa ini di media sosial sering terjadi penggunaan penyimpangan berbahasa seperti ujaran kebencian. Penelitian ini berfokus pada analisis bentuk dan jenis ujaran kebencian pada postingan dan komentar di akun Instagram @nyinyir_update_official. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Data diperoleh dari komentar pada postingan akun instagram @nyinyir_update_official yang mengandung ujaran kebencian. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa respons benci atau tidak suka merupakan dorongan kreatif membuat ungkapan bahasa kreatif. Kreatif dalam menemukan berbagai cara mencaci atau menghina. Teknik yang digunakan adalah menggunakan referen yang bernuansa makna negatif. Ada sembilan jenis referen yang digunakan untuk mengungkapkan kebencian, yaitu: (1) keadaan 32 ujaran, (2) binatang 13 ujaran, (3) bagian tubuh 23 ujaran, (4) benda 10 ujaran, (5) aktivitas 4 ujaran, (6) makhluk halus 6 ujaran, (7) kekerabatan 10 ujaran, (8) profesi 4 ujaran, (9) seruan 2 ujaran. Dilihat dari bentuknya, inti kebencian itu diungkapkan dengan kata, frasa, dan klausa sebagai berikut: (1) kata sebanyak 28 ujaran kebencian, (2) frasa 35 ujaran kebencian, dan (3) klausa 37 data ujaran kebencian.