cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Pola Prosodi Pada Anak Autism Spectrum Disorder Menggunakan Pendekatan Fonetik Eksperimental Tri Wahyu Retno Ningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.2452

Abstract

Suprasegmental elements or prosodic of research oriented to the measurement of speech signals and prosodic patterns. Research on  prosody in autistic children has shown atypical or inappropriate prosody Ningsih (2017), Klin & Volkmar (1995); Ehlers & Gillberg (1993); Kanner, (1943). The research showed that the Autism Spectrum Disorder (ASD) often faced up the obstacles in producing the pitch, stress, and intonation. The purpose of this research is to find out prosodic patterns in children with autism spectrum disorder (ASD). This research is using experimental phonetics as it’s method (Boersma dan Weenink, 2001). From this research it is found that the prosodic patterns described with sound wave and contours in Praat and result of the description are different and the differences are varied. The results showed that the subject of the study (ASD children) had indications of disturbances in producing contours. The prosody pattern tends to show a flat pattern.  AbstrakPenelitian unsur suprasegmental atau prosodi bertujuan untuk menghitung sinyal bunyi ujaran dan pola prosodi. Penelitian prosodi pada anak autis menunjukkan prosodi atipikal atau tidak wajar Ningsih (2017), (Klin & Volkmar 1995); Ehlers & Gillberg (1993); Kanner, (1943). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) mempunyai gangguan dalam memproduksi bunyi ujaran (pitch, tekanan, dan intonasi). Tujuan penelitian ini adalah menemukan pola prosodi pada anak dengan ASD menggunakan perangkat lunak Praat (Boersma dan Weenink, 2001). Penelitian ini menggunakan pendekatan fonetik eksperimental. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pola prosodi yang dideskripsikan melalui gelombang suara dan kontur intonasi pada Praat menunjukkan hasil deskripsi yang berbeda dan perbedaannya bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian (anak ASD) mempunyai indikasi gangguan dalam memproduksi  kontur ujaran. Pola prosodi yang dihasilkan cenderung menunjukkan pola mendatar (flat).
Tuturan Bermakna Budaya sebagai Pembelajaran Kearifan Lokal Masyarakat Banjar: Studi Etnopedagogi Rissari Yayuk; Derri Riss Riana; Jahdiah Jahdiah; Eka Suryatin; Dede Hidayatullah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5196

Abstract

This study discusses the form of Banjarese speech which contains a lexicon of local culture and local wisdom that can be taught behind the speech of cultural meaning. The purpose of the study is to describe the form of Banjarese speech which contains a lexicon of local culture and the form of local wisdom that can be taught behind the speech of cultural meaning. This study uses qualitative descriptive method with an ethnopedagogic approach. The research techniques are observation, documentation, and interviews. Data collection techniques are listening, recording, and getting involved in the research. The research steps are observation, data collection, data selection, presentation, analysis, and conclusions. The data source, speech that contains a lexicon with cultural meaning in the Banjar community, in Banjarmasin City, Banjar Regency, and Hulu Sungai Selatan. Data collection is from March 2021 to April 2022. Data validity is through triangulation of sources, theories, and methods. The study results that Banjarese speech that contains a lexicon of local cultural meanings include supporting parts for housing, livelihoods, literary arts, language, daily activities, and activities supporting equipment. The forms of local wisdom that can be taught behind these cultural speeches include creative, economic independence, politeness, entertainment and educative, health, hygiene, and adaptive. This finding shows that daily speech can be a source of learning local wisdom with cultural value for the Banjar community and others, both formal and non-formal, one of which is for local content material for students. AbstrakPenelitian ini membahas tentang wujud tuturan berbahasa Banjar yang memuat leksikon bermakna budaya lokal dan wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik  tuturan bermakna budaya tersebut. Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan wujud tuturan lisan berbahasa Banjar yang memuat leksikon  bermakna budaya lokal dan wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik tuturan bermakna budaya tersebut. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnopedagogi. Teknik penelitian observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik pengambilan data, antara lain simak, catat, dan libat. Langkah penelitian yang dilakukan, yaitu observasi, pengambilan data, pemilihan data, penyajian, analisis, dan simpulan. Sumber data, tuturan yang memuat leksikon bermakna budaya pada masyarakat Banjar, di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Hulu Sungai Selatan. Waktu pengambilan data mulai dari bulan Maret 2021 sampai dengan April 2022. Validitas data melalui triangulasi sumber, teori, dan metode. Hasil penelitian, yaitu tuturan berbahasa Banjar yang memuat leksikon bermakna budaya lokal meliputi bagian pendukung tempat tinggal, mata pencaharian, seni sastra, bahasa, aktivitas keseharian, dan peralatan pendukung aktivitas. Adapun wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik tuturan bermakna budaya tersebut meliputi kreatif, mandiri ekonomi, kesantunan, hiburan, dan edukasi kesehatan, kebersihan, dan adaptif. Temuan ini menunjukkan bahwa tuturan sehari-hari dapat menjadi sumber pembelajaran kearifan lokal bernilai budaya bagi masyarakat Banjar dan lainnya, baik formal maupun nonformal, salah satunya untuk materi muatan lokal bagi anak didik.
Exploring EFL Teachers’ Teaching Process in Reading PISA-Like Reading Texts Karima Putri Rahmadina; Emi Emilia
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.4683

Abstract

This paper presents partial results of a research project aiming to develop a training program for teachers to teach PISA-like reading texts with 24 participating teachers (10 Indonesian language teachers and 14 English language teachers) conducted in 2021. The result of the study has also been reported in Emilia, Sujatna, and Kurniasih (2022).  This study centers around the early stage of training, focusing on the teachers’ initial ability in teaching reading practice prior to the training. The data were collected from peer teaching and lesson plans made by the teachers prior to the sessions on teaching PISA-like reading texts. The data were then analyzed based on the theory of PISA Reading (OECD, 2019), reading as a social process (Wallace, 1992; Gibbons, 2014), and teaching reading through the use of text-based instructions (Emilia, 2011; Rose & Martin, 2012; Rose, 2020). The result of the study shows that some teachers had bridged the students’ access to text by activating their prior knowledge to help them understand the text. Nevertheless, some teachers had not provided guidance for the students when they read. This result suggests that the teachers still need guidance to teach reading, especially in teaching PISA-like reading texts. Hence, the data confirm the need for training teachers to teach PISA-like reading texts. AbstrakJurnal ini menyajikan sebagian hasil dari proyek penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan program pelatihan bagi guru untuk mengajar teks membaca setara PISA dengan 24 guru peserta (10 guru bahasa Indonesia dan 14 guru bahasa Inggris) yang dilakukan pada tahun 2021. Bagian lain dari proyek penelitian ini juga telah telah dilaporkan dalam Emilia, Sujatna, dan Kurniasih (2022). Studi ini berpusat pada tahap awal pelatihan, yang berfokus pada kemampuan awal guru dalam mengajarkan membaca sebelum diberikan input pelatihan. Data penelitian diperoleh dari sesi peer teaching dan RPP yang dibuat oleh guru sebelum diberikan sesi input pengajaran teks bacaan mirip PISA. Data penelitian kemudian dianalisis berdasarkan teori PISA Reading (OECD, 2019), membaca sebagai proses sosial (Wallace, 1992; Gibbons, 2014), dan pengajaran bahasa berbasis teks (Emilia, 2011; Rose & Martin, 2012; Mawar, 2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa guru terlihat mampu untuk menjembatani akses siswa untuk membaca teks dengan mengaktifkan pengetahuan awal mereka yang dapat membantu mereka memahami teks. Namun demikian, beberapa guru terlihat masih belum memberikan bimbingan kepada siswa ketika mereka membaca. Hasil ini menunjukkan bahwa guru masih membutuhkan bimbingan untuk mengajar membaca, terutama dalam mengajar teks bacaan mirip PISA. Oleh karena itu, data mengkonfirmasi perlunya pelatihan guru untuk mengajar teks bacaan seperti PISA.
Perbandingan Sistem Vokoid Minimal Bahasa Indonesia Antara Penyandang Hambatan Majemuk dan Anak Normal Rahayu - Pujiastuti; Mimas - Ardhianti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5202

Abstract

The limitations of people with multiple disabilities cause the development of vocoid production in children to be different from normal children. Therefore, this study aims to describe the differences and similarities of minimal Indonesian vocoid produced by persons with multiple disabilities and normal children. Through these differences and similarities, there was hope can be made that an appropriate response to vocoids the production of multiple disabilities. The approach used is descriptive qualitative with longitudinal data collection methods. The data is in the form of minimal vocoid that provides information on the differences and similarities of the Indonesian minimal vocoid system with multiple disabilities and normal children. Data collection uses observation techniques supported by fishing, recording, and field recording techniques. Data analysis uses techniques of sorting, turning, and connecting. The validity of the data used triangulation of theories, sources, and methods. The results of the study found differences, the minimal vocoid system of normal Indonesian children in sequence [a], [i], [u], while those with multiple disabilities were [a], [o], [u]. The similarity, there is a universal minimum vocoid system in Indonesian with multiple disabilities and normal children based on the position of the tongue and mouth shape due to the use of minimum effort rules. AbstrakKeterbatasan yang dimiliki penyandang hambatan majemuk menyebabkan perkembangan produksi vokoid anak berbeda dengan anak normal. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perbedaan dan persamaan vokoid minimal bahasa Indonesia yang dihasilkan penyandang hambatan majemuk dan anak normal. Dengan mengetahui perbedaan dan persamaan tersebut diharapkan dapat dilakukan penyikapan yang tepat terhadap produksi vokoid penyandang hambatan majemuk. Pendekatan yang digunakan deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data longitudinal. Data berupa vokoid minimal yang memberi informasi perbedaan dan persamaan sistem vokoid minimal bahasa Indonesia penyandang hambatan majemuk dan anak normal. Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan yang didukung teknik pemancingan, perekaman, dan pencatatan lapangan. Penganalisisan data menggunakan teknik pilah, balik, dan hubung. Keabsahan data menggunakan triangulasi teori, sumber, dan metode. Hasil penelitian menemukan perbedaan, yaitu sistem vokoid minimal bahasa Indonesia anak normal berurutan [a], [i], [u], sedangkan penyandang hambatan majemuk [a], [o], [u]. Persamaannya, ada keuniversalan sistem vokoid minimal bahasa Indonesia penyandang hambatan majemuk dan anak normal berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut karena penggunaan kaidah usaha minimal.
Preservasi Bahasa Jawa Krama Sebagai Monumen Hidup Kearifan Lokal Masyarakat Jawa Pranowo Pranowo; Benedictus Bherman Dwijatmoko; Danang Satria Nugraha
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3909

Abstract

This study examines the efforts to preserve the Javanese language (BJ) Krama as a living repository of indigenous knowledge. This study focuses on how to preserve BJ Krama for the younger generation of Yogyakarta (GMY), with subproblems (a) a description of GMY's capacity to speak Javanese Krama and (b) preservation efforts for BJ Krama for GMY. Sources of data for this study include ethnic Javanese students in a multilingual speech context (Javanese, Indonesian, English, and other regional languages), particularly those enrolled in the undergraduate program at Sanata Dharma University. This study's data consists of descriptions of questionnaire responses from student respondents. The technique of content analysis was employed to analyze the data. This investigation led to the discovery of techniques for retaining verbal-oral BJ Krama for GMY. There are two distinct discoveries in particular. First, contextually, the situation of GMY as young BJ speakers is that they are still engaged in learning BJ Krama despite facing internal and external barriers. Second, there are at least two projections regarding preservation initiatives, including (a) commencing cooperation with government and private entities and (b) building creative work spaces through various language-based business incubation activities. This essentially indicates that cross-institutional BJ Krama preservation efforts based on enhancing GMY creativity are viable and can be constructed at the level of praxis activities, in accordance with the local wisdom values agreed upon by the speech community group. AbstrakKajian ini mendeskripsikan upaya mempreservasi bahasa Jawa (BJ) Krama sebagai monumen hidup kearifan lokal. Permasalahan utama kajian ini adalah cara mempreservasi BJ Krama verbal-lisan untuk generasi muda Yogyakarta (GMY), dengan submasalah (a) deskripsi kemampuan GMY berbahasa Jawa Krama dan (b) upaya mempreservasi BJ Krama bagi GMY. Sumber data kajian ini adalah mahasiswa-mahasiswi etnis Jawa dalam lingkungan tutur multibahasa (bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah lain), khususnya pada program sarjana di Universitas Sanata Dharma. Data kajian ini berwujud uraian jawaban angket/kuesioner dari mahasiswa responden. Data dianalisis berdasarkan teknik analisis-isi (content analysis). Hasil penelitian ini, secara umum, adalah ditemukan cara-cara mempreservasi BJ Krama verbal-lisan untuk GMY. Secara khusus, terdapat dua temuan spesifik. Pertama, secara kontekstual, kondisi GMY sebagai penutur muda BJ adalah masih berminat menguasai BJ Krama tetapi menghadapi kendala internal dan eksternal. Kedua, berkaitan dengan upaya preservatif, sekurang-kurangnya terdapat dua proyeksi meliputi  (a) inisiasi kerjasama dengan instansi pemerintah maupun swasta dan (b) penciptaan ruang kerja kreatif dengan membuat berbagai kegiatan inkubasi usaha berbasis bahasa. Secara implikasional, dapat dinyatakan bahwa upaya preservasi BJ Krama lintas institusional berbasis optimalisasi kreativitas GMY bersifat prospektif dan dapat direalisasikan dalam tataran kegiatan praksis secara terstruktur sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang disepakati oleh kelompok masyarakat tutur.
Perubahan Bahasa Aceh: Tinjauan Realitas Penggunaan Bahasa Aceh dalam Interaksi Sosial di Aceh Teuku Alamsyah; Muhammad Iqbal; Rostina Taib
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5207

Abstract

This study aimed to describe changes the Acehnese language in the lexical aspect in the reality of everyday Acehnese speech. Qualitative research methods have also been established as research methods for all research activities. Two groups of bilingual speakers, namely the Acehnese (Aceh-Indonesian) ethnic community who speak two languages, namely Acehnese and Indonesian in daily social interactions and the bilingual Acehnese (Aceh-Indonesian) ethnic community who use the Acehnese language in social interactions have been designated as data source. The study was carried out in three districts/cities in Aceh Province, namely Banda Aceh City, Aceh Besar District, and Aceh Jaya District, involving participants in childhood, adulthood, and old age. The results showed that the lexical changes of language were in the form of lexical loss, lexical borrowing, and lexical creation. The most dominant factor causing the Acehnese lexical change is the external motivation factor. The conclusion of this study is that the lexical change of the Acehnese language in the context of bilingual speakers has taken place, is ongoing, and has the potential to continue in line with the social changes of society due to the progress of the times. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan bahasa Aceh pada aspek leksikal dalam realitas tuturan penutur bahasa Aceh sehari-hari. Metode penelitian kualitatif pula telah ditetapkan sebagai metode penelitian untuk keseluruhan aktivitas penelitian. Dua kelompok penutur bilingual, yaitu masyarakat etnis Aceh (Aceh-Indonesia) penutur dua bahasa, yaitu bahasa Aceh dan bahasa Indonesia dalam interaksi sosial sehari-hari dan masyarakat etnis Aceh bilingual (Aceh-Indonesia) yang menggunakan bahasa Aceh dalam interaksi sosial telah ditetapkan sebagai sumber data. Kajian dijalankan pada tiga kabupaten/kota di Provinsi Aceh, yaitu Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Jaya dengan melibatkan partisipan usia kanak-kanak, usia dewasa, dan usia tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan leksikal bahasa wujud dalam bentuk kehilangan leksikal, peminjaman leksikal, dan penciptaan leksikal. Faktor penyebab perubahan leksikal bahasa Aceh yang paling dominan adalah faktor motivasi eksternal. Simpulan hasil kajian ini adalah perubahan leksikal bahasa Aceh dalam konteks penutur bilingual telah berlangsung, sedang berlangsung, dan memiliki potensi akan terus berlangsung sejalan dengan perubahan sosial masyarakat akibat kemajuan zaman.     
PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Volume 11, No 2, Desember 2022
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Bentuk Pemakaian Prinsip Kesantunan pada Tuturan Direktif dalam Interaksi Mahasiswa Indra Nugrahayu Taufik; Diyas Puspandari; Reka Yuda Mahardika
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6139

Abstract

This study discussed directive speech (direct speech) in student conversations in the form of suggestions, requests, and orders. Direct speech is classified as productive in daily activities, so it is possible to find the use of maxims that are violated by students. This study also describes the form of politeness usage and the use of politeness principle maxims in students' direct speech. To describe and explain this, a qualitative descriptive research method was used, so that the forms and violations of maxims in the speech practices of the students were clearly explained. The results of the study show that the interaction between students in using directive utterances shows the use of the principle of the maxim of discretion; generosity/generosity; award; simplicity/humility; agreement; and sympathy. All the principles of politeness arise because of a combination of educational patterns in the family, community, and campus environment. AbstrakDalam penelitian ini dibahas terkait tuturan direktif (tuturan langsung) pada percakapan mahasiswa berupa saran, permintaan, dan perintah. Tuturan langsung tergolong produktif dalam aktivitas sehari-hari, sehingga memungkinkan ditemukan penggunaan maksim yang dilanggar oleh mahasiswa. Dalam penelitian ini juga dideskripsikan bentuk pemakaian kesantunan serta penggunaan maksim prinsip kesantunan pada tuturan langsung para mahasiswa. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hal tersebut digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, sehingga dipaparkan dengan jelas bentuk dan pelanggaran maksim dalam praktik tuturan para mahasiswa. Hasil penelitian memperlihatkan interaksi antar-mahasiswa dalam  menggunakan tuturan direktif menunjukkan pemakaian prinsip maksim kebijaksanaan; kedermawanan/kemurahan hati; penghargaan; kesederhanaan/kerendahan hati; permufakatan; dan kesimpatian. Semua prinsip kesantunan muncul karena gabungan pola pendidikan di keluarga, masyarakat, dan lingkungan kampus. 
Problematika Pembelajaran Bahasa Sunda Dimensi Linguistik dan Nonlinguistik Opah Ropiah; Fahmi Rakhman; Fajar Sukma Nur Alam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5197

Abstract

The purpose of this research is to find out the problems of learning Sundanese in linguistic and non-linguistic dimensions. The method used is a descriptive method with a qualitative research type. Sources of data in this study were the deputy head of curriculum, Sundanese language teachers, and class X students. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The instruments used were stationery, interview guides, cell phones, and questionnaires. Data analysis using content analysis. The results of this study are 1) Problems of learning Sundanese language linguistic dimensions phonological errors in 72 cases with a percentage of 53.33%, syntactic errors in 75 cases with a percentage of 55.5%, syntactic errors in 80 cases with a percentage of 59.2, lexical errors -Semantic 20 cases with a percentage of 15%.; 2) The problems of learning Sundanese in the non-linguistic dimension have several obstacles in the implementation of the 2013 curriculum, the teacher's learning model is still monotonous, the teacher's understanding of IT is still lacking, the learning media is still limited, and there is still a lack of student interest and motivation in learning languages. AbstrakTujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui problematika pembelajaran bahasa Sunda dimensi linguistik dan nonlinguistik. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian yaitu wakil kepala sekolah bagian kurikulum, guru bahasa Sunda, dan siswa kelas X. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan yaitu alat tulis, pedoman wawancara, handphone, dan angket. Analisis data menggunakan analisis isi. Hasil penelitian ini yaitu: 1) Problematika pembelajaran bahasa Sunda dimensi linguistik terdiri dari kesalahan fonologi sebanyak 72 kasus dengan persentase 53,33%, kesalahan morfologi sebanyak 75 kasus dengan persentase 55,5%, kesalahan sintaksis 80 kasus dengan persentase 59,2%, dan kesalahan leksiko-semantis 20 kasus dengan persentase 15%; 2) Problematika pembelajaran bahasa Sunda dimensi nonlinguistik terdapat beberapa kendala dalam penerapan kurikulum 2013, model pembelajaran guru yang masih monoton, pemahaman guru terhadap IT masih kurang, media pembelajaran masih terbatas, dan masih kurangnya minat dan motivasi siswa dalam belajar kebahasaan. 
The Effect of the Flipped Classroom Model on Improving Student Speaking Dyah Kristyowati; Jordy Satria Widodo; Resty Widya Kurniasari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5973

Abstract

This study aims to investigate the application of the flipped classroom learning model to influence class-A students' English speaking skills in the English Literature Study Program at Pakuan University, Bogor. This research uses action research. Action research is included in the scope of applied research (applied research) that combines knowledge, research, and action.  This type of research employs classroom action research with 30 students in class A during the odd semester of 2022/23 enrolled in Speaking III. The collection of data was conducted with the use of speaking tests and observation sheets. Analyzing the data, an average score of 83% of students who had problems with speaking because they did not reach the passing standard value established in the lecture contract, and only 17% of students who were able to achieve the passing grade standard were obtained in the pre-action phase. The cycle I graduation rate increased to 46%; in cycle II, 100% of students achieved the standard passing score. The results of this study indicate that the flipped classroom learning model can influence students' English speaking skills. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode flipped classroom dapat meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan Bahasa Inggris mahasiswa kelas A prodi Sastra Inggris Universitas Pakuan Bogor. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan. Penelitian tindakan termasuk dalam ruang lingkup penelitian terapan (applied research) yang menggabungkan pengetahuan, penelitian, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan subyek penelitian adalah siswa kelas A mata kuliah Speaking III pada semester ganjil 2022/2023 sebanyak 30 mahasiswa. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes speaking dan lembar observasi. Data tersebut dianalisis dan diperoleh skor rata-rata pada pratindakan sebesar 83% mahasiswa yang menunjukkan mengalami masalah dalam speaking karena tidak mencapai nilai standar kelulusan yang ditetapkan di kontrak perkuliahan dan hanya 17 % mahasiswa yang dapat mencapai standar nilai kelulusan, kemudian siklus I mengalami peningkatan dengan tingkat pencapaian kelulusan mahasiswa sebanyak 46%, selanjutnya pada siklus II diperoleh hasil sebanyak 100 % mahasiswa mencapai standar nilai kelulusan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode flipped classroom dapat meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan Bahasa Inggris mahasiswa.