cover
Contact Name
Agus Alim Hakim
Contact Email
agusalim@apps.ipb.ac.id
Phone
+62251-8622932
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Division of Fisheries Resources Management, Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science Bogor Agricultural University Jl. Agatis, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
ISSN : 25988603     EISSN : 26148641     DOI : https://doi.org/10.29244/jppt.v1i1.20146
Journal of Tropical Fisheries Management (JPPT) is a scientific journal that is published electronically and in print relating to research results, and scientific proposals on fish biodiversity, fisheries biology, fish stock studies, fisheries policies, ecosystem-based fisheries management, capture technology, fishery product utilization, fish trade, fisheries management area planning, and local wisdom in tropical fisheries management to realize sustainable fisheries resources.
Articles 115 Documents
Ecoregional Site Study on Small Islands: A case study of the significance of flora for fisheries in the Anambas Islands Winata, Bayu; Christian, Yoppie; Desmiwati, Desmiwati; Wardhana, Ari Gunawan; Budiman, Mokhamad Asyief Khasan
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v8i1.54954

Abstract

The formation of the Anambas Islands was a form of earth's surface dynamics that occurred over millions of years. In the process, there were at least eight land formations on the Sunda shelf. This evolution of the earth's surface led to the emergence of large islands on the Sunda shelf along with small islands around them. This also makes the Sundanese shelf part of the volcano's volcanic route. The Bunguran Formation was a bedrock complex that is thought to originate from deep-sea sediments of the Jurassic-Cretaceous age. The rocks are quite old, indicating that this formation was exposed to the surface and formed islands in the arc of the Anambas Islands group. All of these natural processes create a unique type of ecosystem, namely a rocky beach ecosystem, where the rocks at the study location were large rocks with cliffs on some of the coastlines. Meanwhile, sloping and protected locations allow the dust substrate to mix with sand to create a thin mud that allows mangrove forests to grow. Development in Anambas was carried out to grow the economy in this region. The Regional Government consistently develops in various fields. Some that stand out are the fisheries, tourism, and oil and gas sectors. It was believed that forests play a role in maintaining fisheries stocks on the coast, especially mangrove forests. Because of this, there was a need for a study that could display the flora profile in the Anambas Islands ecoregion. The results of the study show 23 species of flora in coastal forests and seven species of mangroves.
Status biologi reproduksi Status Biologi Reproduksi Ikan Semar (Mene maculata) di Teluk Palabuhanratu pada Musim Barat: Status Biologi Reproduksi Ikan Semar (Mene maculata) di Teluk Palabuhanratu pada Musim Barat Gani, M. Jarier Abdillah; Zairion, Zairion; Boer, Mennofatria
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v8i1.55674

Abstract

Ikan semar (Mene maculata) merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi penting. Tingginya pemanfaatan kantong semar sebagai ikan konsumsi berpotensi mengganggu pola reproduksi, rekrutmen dan ketersediaan stok sumber daya ikan kantong semar, sehingga informasi mengenai biologi reproduksi sangat minim pada musim barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status biologi reproduksi ikan semar di Teluk Palabuhanratu. Penelitian berlangsung pada bulan September 2021 sampai dengan bulan Februari 2022 (mewakili musim barat), dengan sampel sebanyak 522 individu ikan. Sampel ikan diambil dengan menggunakan metode simple random sampling di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Data tersebut dianalisis untuk memperoleh nisbah kelamin, pola pertumbuhan alometrik, musim pemijahan, potensi reproduksi, dan ukuran dewasa kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio kelamin adalah 1:0,76 yang didominasi oleh ikan jantan. Ikan semar memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif. Puncak musim pemijahan pada periode penelitian terjadi pada bulan September dan Oktober dengan potensi reproduksi berkisar antara 11.988 hingga 21.164 butir telur. Pola pemijahan ikan semar terindikasi sebagai pemijahan total atau pemijahan yang terjadi secara serentak. Hasil analisis dengan metode Spearman-Karber menunjukkan bahwa ukuran pertama ikan semar betina dan jantan (Lm50) matang kelamin masing-masing adalah dengan panjang total (TL) 143 mm dan 150,5 mm, sehingga ikan betina lebih cepat dahulu matang kelamin dibanding ikan jantan.
Biodiversity and Vulnerability of Fisheries Resources in Berau Bay, West Papua Province Maulana, Riyan; Jabbar, Meuthia Aula; Yonvitner
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v8i1.55908

Abstract

Teluk Berau, yang terletak di Provinsi Papua Barat, merupakan salah satu wilayah perairan yang kaya akan keanekaragaman hayati di Indonesia. Ekosistem perairan ini menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi bagi masyarakat lokal yang bergantung pada perikanan. Namun, peningkatan aktivitas manusia termasuk penangkapan ikan intensif, polusi, dan perubahan iklim, menimbulkan ancaman serius terhadap kelestarian sumberdaya ikan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan mengkaji biodiversitas dan tingkat kerentanan sumberdaya ikan di Perairan Teluk Berau. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, pengambilan sampel ikan, dan analisis identifikasi spesies serta menghitung indeks keanekaragaman. Tingkat kerentanan sumberdaya ikan diperoleh dengan mengkategorisasikan status konservasi pada IUCN redlist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teluk Berau memiliki tingkat biodiversitas relatif tinggi dengan dominansi yang rendah. Nilai indeks biodiversitas pada perairan Teluk Berau tertinggi sebesar 3.35 yang didominasi oleh famili Carangidae, dan Scombridae. Hasil analisis tingkat kerentanan menunjukkan sebanyak 85.71% memiliki tingkat kerentana yang rendah. Namun, beberapa spesies menunjukkan tingkat kerentanan tinggi akibat aktivitas penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan perubahan iklim. Temuan ini menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah konservasi yang efektif untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan di kawasan ini. Upaya perlindungan habitat, pengelolaan penangkapan ikan yang berkelanjutan, serta edukasi kepada masyarakat lokal diharapkan dapat mengurangi kerentanan dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem perairan Teluk Berau.
Boosting Economy Mariculture di Kawasan Konservasi Laut Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pulau Kecil Pulau Seribu Aisyah Qurota A'yun
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/5h3jaj31

Abstract

Budidaya laut (mariculture) merupakan salah satu bentuk aktivitas blue ekonomi yang potensial menghasilkan sediaan pangan, tenaga kerja, serta keberlanjutan jangka panjang. Jaminan keberlanjutan biasanya juga ditentukan oleh kualitas habitat dan lingkungan yang disematkan pada program konservasi. Keberadaan konservasi terkait keberadaan mariculture menjadi stimulan keberlanjutan baik sebagai pendorong biomass ikan, linkgungan yang sehat serta produksi yang tinggi. Kajian boosting blue ekonomi dikawasan konservasi ini menjadi penting agar diketahui kemampuan konservasi mendukung produksi perikanan. Kajian dilakukan di kepulauan seribu pada kawasan penyangga dan pemukinan yang sudah berkembang budidaya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kegiatan budidaya belum memegang kaidah blue ekonomi. Secara umum peningkatan status konservasi mampu meningkatkan produksi dalam jumlah terbatas. Selama 15 tahun rata-rata operasional budidaya, peningkatan pendapatan terjadi, namun tergolong rendah namun tergolong signifikan. Begitu juga dengan tutupan karang belum menunjukkan perkembangan berarti, dan peningkatan produksi baru terlihat signifikan pada penutupan karang diatas 30%. Sehingga dapat dijelaskan bahwa peningkatan kualitas ekosistem mutlak dilakukan dalam memperkuat blue ekonomi.
Production Shock Phenomenon: An Overview of (Scomberoides sp; Megalaspis sp; and Decapterus sp) Production in Sunda Strait-Indonesia Boimin, Boimin
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/cs33y202

Abstract

In the last decade, fishery production has decreased (production shock) due to causes such as excess effort, climate change, and implications of inappropriate policies. The consequences of the policy also increase the risk and vulnerability of fish stocks and affect food security. This research was conducted in the Sunda-Indonesia Strait in 2019 using production data, efforts, and the results of interviews with fishers in Lempasing Landing Port-Lampung. The analysis carried out included the CPUE trend as an indicator of productivity, MSY analysis, and prediction models of changes in effort patterns in 3 species of Decapterus, Scomberoides, and Megalaspis sp. The results obtained during 2010-2019 show that the three fish species' production has decreased, including efforts. Efforts to catch Decapterus decreased 27.3% per year, Scomberoide decreased efforts by 18.8% per year, and Megalaspis decreased rates of efforts by 14.32% per year. The productivity assessed from CPUE appears to be increasing, which is influenced by a decrease in the effort. Stock potential with the three species' Fox model shows an under fishing status, which means the high stock or low effort. The production that decreases during under fishing indicates a production shock due to reduced fish stocks or decreased fishing capacity. The potential for production shock can increase due to natural disasters and inappropriate policies.

Page 12 of 12 | Total Record : 115