cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
PANDANGAN ORIENTALIS TERHADAP IDENTITAS DAN ISU POLITIK TOKOH PEREMPUAN DALAM PUTRI CINA R. Myrna Nur Sakinah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.101 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.195

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas dua permasalahan tentang pandangan orientalis terhadap identitas dan isu politik yang terdapat pada novel Putri Cina karya Sindhunata. Karya ini memiliki kekuatan dalam mengungkap identitas dan isu politik. Hal ini dipengaruhi oleh tradisi dan posisi Putri Cina di tengah masyarakat Jawa dan Cina.  Penelitian ini berfokus pada kajian Postkolonial yang dikemukakan oleh Edward Said (1978). Hubungan kisah traumatik menjadi perempuan yang sama-sama mengalami kepedihan ini dianggap sebagai cara untuk memahami hal yang tidak dikenal dan dapat dikatakan sebagai sebuah proyeksi psikologis terhadap dunia eksternal. Dalam pendekatan ini peneliti akan menggunakan penelitian pendekatan kritik secara objektif. Itu berarti bahwa peneliti akan menekankan struktur karya sastra dalam pengembangan dunia pengarang, publik pembaca, dan situasi zaman yang melahirkan karya sastra tersebut. Dari hasil analisis ditemukan penilaian orientalis yang diperankan oleh tokoh perempuan pada novel Putri Cina karya Shindunata ini direpresentasikan dalam eksistensinya di tengah masyarakat Jawa dan Cina sebagai tokoh perempuan yang mencitrakan identitasnya dengan citra perempuan secara fisik, perilaku, psikis, dan sosial.   AbstractTwo subjects in this research were about the orientalist view of identity and political issue in Putri Cina novel of Sindhunata.  The power of this work was on revealing the identity and political issues, influenced by the hierarchy position of Chinese princess in the middle of Javanese and Chinese society.  This research focused on Postcolonial discussion by Edward Said (1978).  The traumatic relationship being the tragic women was considered as a way in understanding the unknown and can be said as a psychology reflection toward the external world.  The writer implemented critical approach objectively, means that the writer concerned on the structure of literary work in developing the world of authority, reader, and the situation of particular era.  The result found that the orientalist judgment of a woman character in Putri Cina of Shindunata represented her existences in the middle of Javanese and Chinese society as a woman who identified herself physically, attitude, and social.
POTENSI BUDAYA MASYARAKAT BAJO DI PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA Damardjati Kun Marjanto, Syaifuddin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v5i3.81

Abstract

AbstrakMasyarakat Bajo di Pulau Bungin, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, merupakan masyarakat laut yang berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka bermigrasi sejak ratusan tahun yang lalu dan akhirnya menetap di kawasan pantai Pulau Sumbawa. Pada awalnya mereka tidak mendiami daratan seperti sekarang ini, melainkan hidup di laut sekitar pantai dengan sistem perumahan di atas air laut. Lama-kelamaan sebagai akibat adanya pertumbuhan penduduk, mereka mulai mengusahakan daratan dengan cara menimbun air laut dengan batu maupun karang yang sudah mati. Sebagai akibat dari pengaruh lingkungan, kebudayaan suku Bajo di Pulau Bungin saat ini mempunyai ciri khas kebudayaan dua lingkungan yaitu lingkungan laut dan daratan. Lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat Bajo tersebut menghasilkan potensi, di mana potensi dimaknai sebagai kemampuan yang memungkinkan untuk dikembangkan. Potensi laut meliputi wilayah laut dan pantai yang kaya dengan sumberdaya alam, sedangkan wilayah daratan menjadi penting sebagai tempat tinggal dan wahana interaksi masyarakat. Potensi budaya di laut dan daratan yang meliputi sistem mata pencaharian tradisional, kesenian tradisional dan pengobatan tradisional tersebut apabila dapat dikelola dengan sebaik-baiknya, akan menjadi kekuatan bagi kemajuan masyarakat Bajo baik dalam bidang sosial maupun ekonomi. Dengan demikian penelitian ini penting dilakukan salah satu alasannya untuk menemukenali potensi budaya yang ada. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, adapun pengumpulan datanya dengan pengamatan dan wawancara. AbstractThe Bajo people in Bungin Island, Sumbawa regency, West Nusa Tenggara Province, is a marine society from South Sulawesi. They migrated to the island hundreds of years ago and eventually settled in the coastal region of Sumbawa Island. At first they did not inhabit the land as it is today; instead they lived at the sea around the coast with on-the-sea-water housing system. Due to population growth over time, they began to seek more land by piling up the sea with rocks and dead coral. As a result of environmental influences, the Bajo of Bungin Island has currently two environmental cultural characteristics, both marine and terrestrial. These are potential environments to be developed. The sea around them is very rich in natural resources while the mainland is important as a place to live in as well as for community interaction. The cultural potential they have are, among others, traditional subsistence, traditional art, and traditionalmedicine. All of these have to be well-managed so that they can support the Baja people either socially and economically. This research conducted with a qualitative approach, the data obtained through observations and interviews.
PERMAINAN CONGKAK: Nilai dan Potensinya bagi Perkembangan Kognitif Anak Dheka D. A. Rusmana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.805 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.247

Abstract

AbstrakPenelitian berjudul Permainan Congkak: Nilai dan Potensinya bagi Perkembangan Kognitif Anak ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap permainan tradisional yang merupakan warisan nenek moyang. Interpretasi yang penulis lakukan berupaya menggali nilai dan potensi yang terdapat dalam permainan Congkak dalam hubungannya dengan bidang psikologi khususnya perkembangan anak. Penelitian terhadap permainan tradisional sebagai salah satu bentuk folklor Nusantara secara interdisipliner terhadap ilmu psikologi ini mengungkapkan bahwa permainan Congkak sebagai permainan tradisional yang berkembang di banyak daerah di Nusantara ini memiliki berbagai nilai dan memiliki potensi dalam memengaruhi perkembangan anak khususnya pada aspek kognitif. AbstractThe research tittle is Congkak’s Game: Potential and Values for Children Kognitive Development. The research background is interest of writer about traditional games, which is a legacy of our ancestor. The writer interpretation has found a potential corelations in Congkak’s game in childrens kognitive development. The research about traditional games as one of the form in archipelago folklore interdisciplinary toward psychology science in children development, and revealed that Congkak’s game has a potential and values in influencing children development especially in cognitif aspect.
SEBA: PUNCAK RITUAL MASYARAKAT BADUY DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.163

Abstract

AbstrakPenelitian tentang upacara seba yang merupakan puncak kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat (Baduy) Kanekes di Kabupaten Lebak, bertujuan untuk mengetahui makna dan simbol yang ada dalam upacara tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan fungsional melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa upacara seba merupakan puncak acara ritual yang dilakukan setahun sekali yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan pemerintah atas kesejahteraan masyarakat Baduy yang telah dihasilkan dalam kurun satu tahun. Di samping itu upacara ini menjadi bukti adanya pengakuan secara adat dan bertujuan untuk bersilaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah baik di kabupaten maupun di provinsi yaitu kepada pejabat bupati dan gubernur yang secara informal mereka menjadi pemimpin masyarakat Baduy. Pelaksanaan upacara dipilih waktu yang terbaik untuk hari dan tanggal pelaksanaannya, terutama setelah selesai panen. Upacara seba merupakan rangkaian dari religi atau sistem kepercayaan agama Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Kanekes, maka upacara ini wajib dilakukan karena merupakan pusaka leluhur harus terus dijaga dan dilestarikan yang diwariskan secara berkesinambungan kepada anak cucunya secara tegas dan mengikat.AbstractThis research aims to find out meanings and symbols in seba, the culmination of (Baduy) Kanekes‟ religious ritual. By conducting descriptive research method the author applied functional approach. Data were collected through interviews and observation. The result shows that the seba ceremony is the culmination of series of religious ritual conducting every year. The ceremony is performed to express gratitude to God and the government for the prosperity they have gained during the year. On the other hand, seba is the evidence of customary recognition as well as a means of maintaining good relationship between Kanekes people and the government, either with bupati (the Regent)or the governor as their informal leaders. The Baduys determine good date and time which they think the best for performing the ceremony, especially after harvest time. Seba is a part of series in religious ritual of ancient Sundanese belief system (Sunda Wiwitan) which is embraced by the Baduys. The ceremony is an obligatory because it is the legacy of their ancestors which have to be preserved and to be passed on continuously to their descendants.
DIPATI UKUR DAN JEJAK PENINGGALANNYA DI KECAMATAN CIPARAY KABUPATEN BANDUNG (1627-1633) Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.201 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.15

Abstract

Figures are people who have the charisma and work. The work of a person can be a text or historical relics, either as a live or as petilasan (traces of something in the past eg. buildings, etc.). Dipati Ukur served the adipati (Duke) in Tatar Ukur and served as regent wedana of Priangan (1627-1733), suffered an unfortunate fate. He must bear removal as regent wedana and nomadic, following a dispute with Mataram Kingdom.  This study was conducted to answer the question who is Dipati Ukur?, has been active in what field?, and what legacy? The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The research results are to be obtained information that Dipati Ukur born in Purbolinggo Banyumas, Central Java. He was a descendant of Sunan Jambu Karang. From his wanderings after fighting a war against the Dutch in Batavia, he makes the building which is now a relic and petilasan (traces of something in the past eg. buildings, etc.). One proof of his legacy is the largest hill horn legacy in Sub-Ciparay, Bandung regency.
SUFISME DAN SINKRETISME ISLAM DI WILAYAH MALUKU Wuri Handoko
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.131

Abstract

Abstrak Masalah sufisme dan sinkretisme adalah persoalan yang umum dalam penelitian  tentang Islam. Namun dalam studi kasus di Maluku, mungkin yang termasuk jarang terangkat. Penelitian ini dengan fokus kajian arkeologi dan antropologi, merupakan penelitian yang bertujuan selain untuk melihat sejarah dan perkembangan konversi Islam pada awal masuknya, juga melihat perkembangan praktek Islam dalam konteks kekinian. Metode penelitian ini menggabungkan metode arkeologi dan antropologi selain survei untuk pengumpulan, pendeskripsian dan analisis data arkeologi terutama data monumental juga melakukan observasi dan wawancara untuk melihat berbagai praktik ritual yang berhubungan dengan Islam masa sekarang. Berbagai data arkeologi baik secara langsung maupun tidak langsung menghasilkan bahan interpretasi tentang praktik sufisme dan sinkretisme Islam. Hal ini semakin dipertegas oleh adanya berbagai ritual yang dilakukan oleh komunitas Islam yang memadukan antara paham Islam dengan adat dan tradisi lokal yang masih bertahan sampai sekarang. Dengan demikian, karakteristik Islam di Maluku menampilkan identitas Islam yang integratif, yakni sangat mengakomodir paham-paham budaya lokal.Abstract Sufism and sincretism are common findings in research about Islam but in case study of Maluku (Moluccas) they are rarely raised. The research, focused on archaeology and anthropology, aims to investigate Islam history and conversion in the early coming of Islam as well as searching knowledge about development  of Islamic practices today.  The author combined archaeological and anthropological methods to gain information and to describe and analyse archaeological data. Survey and interview were also applied to the method. Many archaeological data, either directly or indirectly, are very fruitful in interpreting Islam sufism and sincretism in Maluku. Not to mention Islamic rituals - which is combined with local traditions and custom - practised by Islam community.  Sufism and sincretism are common findings in research about Islam but in case study of Maluku (Moluccas) they are rarely raised. The research, focused on archaeology and anthropology, aims to investigate Islam history and conversion in the early coming of Islam as well as searching knowledge about development  of Islamic practices today.  The author combined archaeological and anthropological methods to gain information and to describe and analyse archaeological data. Survey and interview were also applied to the method. Many archaeological data, either directly or indirectly, are very fruitful in interpreting Islam sufism and sincretism in Maluku. Not to mention Islamic rituals - which is combined with local traditions and custom - practised by Islam community.
Peranan Bupati R.A.A. Wiratanuningrat dalam Pembangunan Kabupaten Tasikmalaya 1908-1937 Aam Amaliah Rahmat; Nina Herlina Lubis; Widyo Nugrahanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.975 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.46

Abstract

Tulisan ini membahas tentang peranan Bupati R.A.A. Wiratanuningrat dalam membangun Kabupaten Tasikmalaya. Perkembangan tersebut meliputi bidang pendidikan, infrastruktur, agama, pertanian dan ekonomi. Ada tiga hal yang dipersoalkan yaitu (1) bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan pemerintahan sebelum R.A.A. Wiratanuningrat memerintah? (2) siapakah R.A.A. Wiratanuningrat? (3) bagaimana kondisi ekonomi, sosial dan pemerintahan ketika R.A.A. Wiratanuningrat memerintah? Adapun metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut yaitu menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Kabupaten Tasikmalaya memang pada mulanya bernama Kabupaten Sukapura. Perpindahan Ibukota dari Manonjaya ke Tasikmalaya boleh dikatakan sebagai tonggak awal untuk melakukan pembangunan di Tasikmalaya walaupun memang perpindahan ini tidak terjadi pada masa Wiratanuningrat memerintah. Meskipun Bupati R.A.A. Wiratanuningrat bukan keturunan langsung dari dinasti “wiradadaha” tetapi R.A.A. Wiratanuningrat dapat memperlihatkan kemajuan di Kabupaten Tasikmalaya baik dari segi fisik maupun non fisik. Sehingga sampai sekarang dikenal sebagai bapak pembangunan dan bapak irigasi.   
TARI DIBINGI: SEBUAH UPAYA PENGGALIAN DATA AWAL TARIAN TRADISIONAL YANG TERANCAM PUNAH DI KABUPATEN PESISIR BARAT, LAMPUNG Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.47 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.374

Abstract

Kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam pada saat ini sedang menghadapi tantangan pelestarian akibat pengaruh budaya modern yang semakin mewabah pada sebagian besar generasi muda. Kesenian tradisional, salah satunya, merupakan unsur budaya yang sebenarnya dapat bertahan dengan cara mengkolaborasikan dengan gerak, tata panggung ataupun suara  dari kesenian lainnya yang menjadi senjata cukup ampuh minimal untuk mempertahankan jumlah peminatnya. Lain halnya dengan kesenian tradisional yang masih erat dalam memegang teguh prosedur adat seperti halnya tari dibingi sebagai sebuah tari tradisional yang ada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung. Ketentuan untuk mengadakan tahapan baik sebelum dan setelah pergelaran, membuat seniman kesulitan untuk mempergelarkan tari dibingi. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif ini merupakan sebuah penggalian data awal sebagai salah satu upaya memperkenalkan kembali keberadaan tari dibingi di tengah masyarakat khususnya masyarakat di Kabupaten Pesisir Barat.Indonesia's diverse cultural richness is currently facing the challenge of conservation due to the increasingly prevalent modern culture in most of the younger generation. Traditional art is one of them, which is an element of culture that can actually survive by collaborating with movements, stage performance, or the sound of other arts. It becomes a minimal powerful weapon to maintain the number of interested ones. It is different with the traditional arts that are still closely held to the traditional procedures, such as Dibingi Dance as a traditional dance in Pesisir Barat Regency, Lampung Province. The stages of rule to perform Dibingi Dance, both before and after, create difficulties for the artists. This qualitative descriptive research is an initial data extraction that attempts to reintroduce the existence of Dibingi Dance in the community, especially the people in Pesisir Barat Regency.
Bioskop di Mal: Konsumsi dan Komodifikasi dalam Budaya Urban Gorivana Ageza; Aquarini Priyatna; R. M. Mulyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.772 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.385

Abstract

Di kota Bandung, hampir semua mal memiliki bioskop, dan sebaliknya, tidak ada bioskop di luar mal. Artikel ini akan memaparkan konsekuensi dari keberadaan bioskop di mal. Artikel ini disusun berdasarkan observasi lapangan dan studi pustaka, yang kemudian ditafsirkan secara hermeneutika dengan pendekatan teori kritis. Observasi lapangan dilakukan di dua bioskop terbesar di Kota Bandung yakni CGV Cinemas mal Paris van Java dan Ciwalk XXI mal Cihampelas Walk. Fenomena bioskop di mal menunjukkan bahwa kehidupan urban menyebabkan komodifikasi ruang dan pengalaman. Berbelanja di mal dan menonton film di bioskop mal mengarahkan warga urban untuk melakukan konsumsi, serta memaksimalkan keuntungan yang didapat oleh mal dan bioskop. In Bandung city, virtually all shopping malls list movie theaters among their venue. Conversely, there is no movie theater located out of shopping mall. This article explains consequences of movie theater in shopping malls. This article is written based on field observation and literature study, which then was interpreted hermeneutically, using critical theory approach. Field observations were conducted at two biggest movie theaters in Bandung’s shopping malls, which are CGV Cinemas in Paris van Java Mall and Ciwalk XXI in Cihampelas Walk Mall. This phenomenon indicates that urban life causes commodification on space and experience. Both the act of shopping and watching movies in shopping malls lead urban people to a consumptive lifestyle while maximizing the revenues of both shopping malls and movie theaters.
NASKAH BETAWI: SKRIPTORIUM DAN DEKORASI NASKAH Mu'jizah Mu'jizah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.238 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.365

Abstract

Betawi pada abad ke-19 menjadi tempat penyalinan naskah atau skriptorium. Naskah disalin di lembaga pemerintah dan di beberapa kampung oleh masyarakat. Banyaknya naskah tersebut membuktikan bahwa intelektualitas masyarakat Betawi sudah tinggi. Naskah-naskah yang disalin masyarakat memiliki keunikan, terutama banyaknya dekorasi naskah berupa iluminasi, ilustrasi, dan kaligrafi. Dekorasi atau hiasan tersebut disesuaikan dengan jenis cerita. Dalam makalah ini dibahas skriptorium naskah Betawi dengan kekayaan naskahnya, pengarang dan penyalin, serta keberagaman dekorasi dalam bentuk iluminasi dan ilustrasi yang menjadi keunikan naskah Betawi. Metode kodikologi digunakan untuk membahas skriptorium dan dekorasi naskah Betawi. Dari pembahasan ini ditemukan bahwa pada abad ke-19 di Betawi banyak diproduksi naskah. Naskah yang disalin bukan hanya oleh Pemerintah Hindia-Belanda yang digunakan sebagai bahan pelajaran bagi para pejabat yang akan ditugasi ke Hindia-Belanda, melainkan oleh masyarakat yang naskahnya disewakan. Dekorasi berupa iluminasi dan ilustrasi  berfungsi sebagai hiasan untuk menarik minat pembaca. Kesimpulannya bahwa Betawi sebagai skriptorium naskah pada masa lalu memperlihatkan dinamika intelektualitas masyarakatnya yang banyak memproduksi naskah untuk bahan bacaan masyarakat. In the 19th century, Betawi became a scriptorium, place of writing manuscripts. The manuscripts copied in government agencies and in some vilages by community. The manuscripts consists of many genres. The large numbers of the manuscript prove that the community in Betawi was already high intellect. The manuscript from Betawi which was copied by scribes and has uniqueness. There are the large numbers of manuscripts was decorated by illumination, illustration, and calligraphy. An ornament is depends on a kind of story. In this paper we want to discussed, Betawi as a place of copied or scriptorium with riches of manuscripts, author and scribes, and the diversity of decorations like ilumination, illustration, and challigraphy as a uniquenessof of Betawi manuscript. Codicologi methods used to discuss of scriptorium, illumination, and illustration of the manuscripts. From discussion we found that Betawi has many scribes. In the government of Holland-Indies manuscript copied by scribes, they paid for writing manuscripts which was used as a lesson to officials will be assigned to Holland-Indies. Manucripts belong to the community was leased for many reader. The manuscripts decorated by illumination and illustration. It serves to attract the readers. The conclusion is scriptorium of Batawi manuscript in the past showed the intellectuality of Betawi people many producing manuscripts for materials reading.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue