cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
DINAMIKA TATA NIAGA KOPRA DI MINAHASA (1946-1958) Hasanuddin Anwar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.695 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.381

Abstract

Telah menjadi ingatan kolektif masyarakat Minahasa bahwa tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam konteks ini, pengolahan kelapa menjadikan kopra merupakan produk penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan pembangunan di daerah Minahasa. Setelah Indonesia merdeka, terjadi perebutan monopoli tata niaga kopra baik melalui Pemerintah Pusat (Jakarta), Pemerintah Daerah (Minahasa), maupun militer (Teritorium VII Wirabuana). Hal ini menyebabkan tata niaga kopra semakin tidak terkendali. Ekspor kopra yang diharapkan dapat memberikan kontribusi ekonomi berubah menjadi masalah politik setelah munculnya peristiwa Permesta. Mengacu pada masalah tersebut, artikel ini bertujuan mendeskripsikan kondisi historis tata niaga kopra di Minahasa tahun 1946-1958. Secara metodologis, artikel ini merupakan studi yang bertumpu pada penelitian pustaka dan arsip. Akhirnya artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa kebijakan Pemerintah Pusat dalam mengatur tata niaga kopra menimbulkan kekecewaan dan diskriminasi bagi masyarakat Minahasa. Timbulnya kekecewaan masyarakat Minahasa menyebabkan tata niaga kopra sebagai kekuatan ekonomi berubah menjadi gerakan politik anti Pemerintah Pusat.   It has become a collective memory of the Minahasa community that coconut plants (Cocos nucifera L.) are strategic commodities that have a social, cultural, and economic role in their lives. In this context, coconut processing makes copra an important product in improving the welfare of farmers and regional development. After Indonesian independence, the copra trading system being monopolized by Copra Foundation, which controlled by central government (Jakarta), local government (Minahasa), and military (Teritorium VII Wirabuana. This causes the copra trade system to become increasingly out of control and dissatisfaction of the Minahasa community. Copra as an economic power turns into an anti-Central Government political movement. There was a takeover of a number of CopraFoundation assets in Manado, and established the Minahasa Coconut Foundation. Then came the demands of regional autonomy by forming the Province of North Sulawesi. The Port of Bitung as an in-out gateway for goods, was only used for barter trade and smuggling of copra abroad, especially Singapore which involved a number of Minahasa civilian officials and military officers. Copra exports are expected to contribute economically has turned into a political problem.
FALSAFAH PENCA CIKALONG DALAM “GERAK SESER” Agus Heryana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.322 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.387

Abstract

Gerakan seser dalam Maenpo Cikalong bukanlah sebuah rangkaian gerakan dasar yang digunakan sebagai panduan dalam teknik silat, melainkan upaya dari pesilat untuk mendekati lawan tanpa mengangkat kaki. Gerak seser sering diabaikan dan dianggap tak bermakna. Padahal di dalamnya terkandung fungsi praktis dan falsafah yang melatarbelakangi munculnya gerak tersebut. Karena itulah tujuan penelitiannya adalah mengetahui bentuk gerak seser dan falsafahnya.  Metode yang digunakan untuk mendata dan menganalisanya adalah metode kualitatif-deskriptif analisis yakni pendeskripsian obyek sedetail mungkin kemudian dianalisis. Hasilnya adalah ditemukannya konsep falsafah pohon, yang bermakna ajeg tangtungan (kokoh pendirian). Simpulannya falsafah pohon merupakan pelengkap  falsafah sebelumnya, yaitu: (1) Lamun deleka sok cilaka (orang jahat akan celaka),(2) Laer aisan (adil); (3) Wijaksana (bijaksana); (4) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan (tidak membeda-bedakan perlakuaan kepada siapa pun); (5) Sauyunan (rukun); (6) Gelut jeung diri sorangan (melawan diri sendiri); (7) Hirup tawakal (tawakal); (8) Depe-depe handap asor (rendah hati). Gerak Seser in the Maenpo Cikalong is not a basic movement series used as a guide in silat techniques, but a quest to approach the opponent without lifting a foot. This simple movement is often ignored and considered meaningless. Whereas in the Gerak Seser contained practical functions and philosophy behind the emergence of the movement. That is why the purpose of this research is to find out the form of movement and philosophy. The method used to achieve that goal is a qualitative-descriptive method of analysis that is the description of the object and then analyzed. The result is the discovery of the philosophy concept called tree philosophy. The conclusions obtained are the philosophy of the tree into the soul of the Penca Cikalong rules and reduce the derivative of philosophy such as: (1) Lamun deleka sok cilaka (bad people will be harmed), (2) Laer aisan (fair); (3) Wijaksana (wise); (4) Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan (not discriminating anyone); (5) Sauyunan (rukun); (6) Gelut jeung diri sorangan (self-fighting); (7) Hirup tawakal (tawakal); (8) honest; (9) Depe-depe handap asor (humble). 
PEMBAURAN ETNIS CINA DAN KAUM BUMIPUTRA DI KOTA GARUT (TINJAUAN HISTORIS) Kunto Sofianto; Widyo Nugrahanto; Agusmanon Yuniadi; Miftahul Falah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.461 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.359

Abstract

Artikel ini membincangkan pembauran antara kaum bumiputra, terutama masyarakat Sunda dan etnis Cina di Kota Garut, Jawa Barat sejak zaman kolonial Belanda hingga post kemerdekaan Republik Indonesia (RI) 1945. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri empat tahap, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Untuk membantu eksplanasi tentang pembauran itu, penulis menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, psikologi, dan ilmu politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua faktor yang menyulitkan terjadinya pembauran antara kaum bumiputra dan kelompok etnis Cina. Faktor pertama, yaitu akar sejarah yakni status kelompok etnis Cina lebih tinggi daripada golongan bumiputra. Faktor kedua, perasaan Chinese Culturalism yang masih tertanam kuat di kalangan  kelompok etnis Cina. Akibatnya, perasaan itu mengarahkan mereka kepada sikap untuk senantiasa berorientasi kepada budaya leluhurnya yang memang sudah tua. Kedua faktor tersebut menyebabkan eksistensi masyarakat etnis Cina di Kota Garut, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. This article discusses integration between indigenous, especially Sundanese people and group of Chinese ethnic in Garut City, West Java since the Dutch colonial era until the post independence of the Republic of Indonesia (RI) 1945. Method used in this research is  historical method consisting of four steps, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. To assist the explanation of the assimilation, the author uses social sciences, especially sociology, anthropology, psychology, and political science. The conclusion of this research  appears to be two factors causing the difficulty of asimilation between Sundanese people and ethnic Chinese group. The first factor, the historical roots in which the Dutch Colonial Government classified Chinese ethnic group into higher position of legal and social than Sundanese people. The second factor, a strong sense of Chinese Culturalism that is still embedded in Chinese ethnic groups, namely a sense that always glorifies the culture of its ancestors. As a result, that a sense leads them to the attitude of always being oriented to the ancient culture of their ancestors. Both factors led to the existence of Chinese ethnic communities in Garut City, increasing prominently, both before and after Indonesian independence. 
PENDIDIKAN AHLAK SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN SUKAMANAH TASIKMALAYA Risa Nopianti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.815 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.362

Abstract

Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan memiliki visi yang cukup sentral dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain mengemban tugas mencerdaskan kognisi peserta didiknya, pesantren juga bertujuan untuk memberikan kecerdasan spiritual dan sosial. Kecerdasan spiritual tersebut salah satunya dibentuk oleh pendidikan akhlakul karimah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pendidikan ahlak dengan pembentukan karakter santri di pesanten Sukamanah, Tasikmalaya. Penelitian kualititaif dengan prespektif etnografi digunakan untuk memaparkan dan menganalisa data. Pendidikan ahlak memberikan bekal konsep spiritual pada diri seorang santri dalam bersikap dan berperilaku. Adapun salah satu implementasi praktis dari pendidikan akhlak adalah tata tertib dan tatakrama yang merupakan perwujudan dari tata kelakuan dan menjadi bagian dari norma sosial. Tata tertib dan tatakrama berperan penting untuk penanaman nilai-nilai sprititualitas dalam membentuk karakter para santri Pesantren as a religious education institution has a central vision in the intellectual life of the nation. In addition to carrying out the task of educating students cognition, pesantren also aims to provide spiritual and social intelligence. Spiritual intelligence can be formed by akhlakul karimah education. This study aims to determine the relationship of moral education with the formation of santri (students) characters in Sukamanah pesantren, Tasikmalaya. Qualitative research with an ethnographic perspective is used to describe and analyze data. Moral education has provided a spiritual concept for a santri in behaving and act. As for one of the practical implementations of moral education is the rules and manners which are the embodiment of behavior and become part of social norms. Rules and manners play an important role in the cultivation of spiritual values in shaping the character of the santri.
AKTIVITAS EKONOMI DAN PERDAGANGAN DI KARESIDENAN LAMPUNG PADA PERIODE 1856 HINGGA 1930 Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.69 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.361

Abstract

Letaknya yang berada di ujung selatan Pulau Sumatera menjadikan wilayah Lampung sebagai titik penting dalam arus perdagangan Jawa-Sumatera. Pada masa kolonial wilayah merupakan salah satu daerah penghasil utama komoditas ekspor Hindia Belanda. Kajian ini ingin melihat bagaimana bentuk dan gambaran dari aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Lampung pada periode 1856 hingga 1930?. Di samping itu kajian ini juga ingin melihat pembangunan sarana fisik apa sajakah yang dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk menunjang kegiatan ekonomi di Lampung?. Kajian ini bertujuan untuk menambah khasanah kajian sejarah ekonomi di wilayah Lampung yang selam ini masih sedikit mendapatkan perhatian. Memiliki wilayah yang subur dan luas telah menjadikan Lampung sebagai salah satu pusat komoditas sumber daya alam di Hindia Belanda. Komoditas alam seperti lada, kopi, tembakau, dan karet menjadi penunjang bagi berkembangnya ekonomi dan perdagangan. Pemebenahan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah kolonial memberikan pengaruh baik bagi pengembangan ekonomi di wilayah ini. The location on the southern tip of Sumatra Island makes the Lampung region as an important point in the Java-Sumatra trade flow. In the colonial period the region was one of the main producing areas of the Dutch East Indies export commodities. This study would like to see how the shape and picture of economic and trading activity in the area of Lampung in the period 1856 to 1930. In addition, this study also wants to see the type of physical development done by the colonial government to support economic activities in Lampung . This study aims to increase the repertoire of the study of economic history in the Lampung region which has received a little attention. Having a fertile and extensive area, has made Lampung as one of the centers of natural resource commodities in the Dutch East Indies. Natural commodities such as pepper, coffee, tobacco, and rubber are supporting the development of economy and trade. The improvement of infrastructure carried out by the colonial government had a good influence on economic development in this region. 
PERAN GANDA PEREMPUAN NELAYAN DI DESA MUARA GADING MAS LAMPUNG TIMUR Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.597 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.373

Abstract

Perempuan yang bekerja di sektor maritim mempunyai peran ganda, karena penghasilan suami sebagai pencari nafkah tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Dari fenomena itu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana peran ganda perempuan nelayan di Desa Muara Gading Mas Lampung Timur sehingga kedua tanggungjawab baik peran domestik dan publik berhasil dilaksanakan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran ganda perempuan nelayan di sektor maritim terkait dengan kontribusi perempuan nelayan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dan peran domestik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yakni pendekatan yang dipakai untuk memahami aktivitas kehidupan dan peran perempuan nelayan secara utuh dan holistik. Penelitian bersifat analisis deskriptif yakni menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga mudah dipahami dan disimpulkan. Adapun pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan foto. Hasil penelitian, terungkap mereka berhasil mengembangkan strategi adaptasi sehingga peran ganda tersebut dapat dilakukan dengan baik. Upaya yang dilakukan  adalah menciptakan sumber usaha baru, mengatur alokasi waktu, dan meningkatkan keterampilannya mengikuti berbagai pelatihan, serta usaha simpan pinjam. Women who work in the maritime sector have a dual role, because the husband's income as a breadwinner cannot meet the needs of the family. From this phenomenon, the problem is how the dual role of fisherwomen in Muara Gading Mas village, East Lampung, so that both responsibilities both domestic and public roles are successfully implemented. The purpose of this study was to determine the dual role of fisherwomen in the maritime sector related to the contribution in meeting economic needs and domestic roles. This study uses a qualitative approach. The approach used to understand the activities of life and the role of fisherwomen holistically. The research is descriptive analysis that is analyzing and presenting the facts systematically so that they are easily understood and concluded. The data collection is done through observation, in-depth interviews, literature studies, and photographs. The results of the study revealed that they had succeeded in developing adaptation strategies, so the dual role could be carried out well. Efforts are made to create new business sources, manage time allocations, and improve their skills in participating in various trainings, as well as savings and loan businesses.
Perjuangan M.A.Sentot dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan di Indramayu (1945-1949) Wahyu Iryana; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.555 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.396

Abstract

Perang mempertahankan negara Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan terjadi di beberapa daerah, termasuk perjuangan pasukan setan Muhammad Asmat Sentot di daerah Indramayu, Jawa Barat. Perlu ditekankan bahwa proses diplomasi tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas militer. Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah mengenai bagaimana biografi Sentot sebagai pemimpin perjuangan perang fisik di Indramayu (1945-1949)? Bagaimana perjuangan pasukan setan merah yang dipimpin oleh Sentot dalam mempertahankan kemerdekaan di daerah Indramayu Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biografi Sentot dan untuk memahami nilai-nilai heroik perjuangan Muhammad As’ad Sentot melawan Agresi Militer Belanda dalam mempertahankan wilayah Indramayu. Tulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, historiografi). Sedangkan teori yang digunakan adalah teori kausalitas. Hasil penelitian menunjukkan Sentot  merupakan tokoh sentral dalam peristiwa perang fisik untuk mempertahankan kemerdekaan di wilayah Indramayu, Jawa Barat. Ia mempunyai peranan penting untuk membangkitkan serta mengobarkan keberanian rakyat Indramayu melawan Belanda pada masa perang fisik (1945-1949).The war defended the post-independence Indonesian State of Independence in several areas, including the struggle of the red-blooded forces of Muhammad Asmat Sentot in the Indramayu area of West Java. It should be emphasized that the diplomacy process can not be separated by military activity. The problem raised in the research is about how the biography of Sentot as the leader of the physical war struggle in Indramayu (1945-1949)? How is the struggle of red demon troops led by Sentot in maintaining independence in Indramayu area of West Java Province? This study aims to determine the biography of Sentot and to understand the heroic values of Muhammad As'ad Sentot struggle against Dutch Military Aggression in defending the Indramayu region. This paper uses historical research methods (heuristics, criticism, interpretation, historiography). While the theory used is the theory of causality. The result of this research is that Sentot is a central figure in the event of physical war to defend the independence in Indramayu, West Java. He has an important role to raise and brave the people of Indramayu against the Dutch during the period of the physical war (1945-1949). 
Respons Masyarakat Kampung Naga terhadap Pembangunan Pariwisata Awaludin Nugraha; M. Baiquni; Heddy Shri Ahimsa-Putra; Tri Kuntoro Priyambodo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.735 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.380

Abstract

Pada kurun 1975-2010 Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah melakukan pembangunan pariwisata di Kampung Naga dengan tujuan meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Namun, masyarakat Kampung Naga melakukan respons negatif terhadap pembangunan tersebut. Mengapa masyarakat Kampung Naga melakukan respons negatif terhadap pembangunan pariwisata, padahal pembangunan tersebut dapat meningkatkan kehidupan ekonominya? Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk respons masyarakat Kampung Naga terhadap pembangunan pariwisata dan memahami penyebab munculnya respons itu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan datanya dilakukan dengan studi kepustakaan dan wawancara sejarah lisan. Teknik analisis datanya menggunakan model interaktif. Hasilnya menunjukkan bahwa bentuk respons negatif masyarakat Kampung Naga terhadap pembangunan pariwisata terjadi secara bertahap dari skala lokal sampai skala nasional. Respons negatif tersebut disebabkan adanya perbedaan pemaknaan terhadap konsep pariwisata. Bagi masyarakat Kampung Naga, pariwisata bermakna silaturahmi yang bertujuan mempererat persaudaraan, sedangkan bagi pemerintah adalah aset untuk mendapatkan keuntungan finansial. In the period 1975-2010 Tasikmalaya Regency Government has made tourism development in Kampung Naga. The purpose was to improve the economic life of Kampung Naga community. However, the Kampung Naga community responded negatively to that development. Why did the Kampung Naga community respond negatively to the development of tourism, whereas that development could improve the life of its economist? The purpose of this study is to describe the response form of Kampung Naga community to the tourism development and to understand the cause of the response. The research method used is a historical method, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Collecting data are using literature studiies and oral history interviews. Interactive model is used to analyze data. The result of this study shows that the negative response form of Kampung Naga community toward tourism development happened gradually from local scale to national scale. The response was caused by the difference of the meaning to the concept of tourism. For the community of Kampung Naga, tourism means a relationship that aims to strengthen the brotherhood, while for the government assets to improve financial benefit.
MITOS SILAT BEKSI BETAWI Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.485 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i2.371

Abstract

Silat beksi adalah penamaan dunia persilatan pada masyarakat Betawi. Silat beksi merupakan ilmu bela diri maen pukulan dengan empat pertahanan tubuh dari serangan lawan. Ilmu bela diri ini merupakan percampuran antara jurus silat Betawi dengan jurus-jurus bela diri dari Negeri Cina. Silat beksi sampai sekarang masih tumbuh dan berkembang pada masyarakat Betawi dibuktikan dengan adanya 120 sanggar silat beksi di Jakarta, hal inilah yang menarik bagi penulis untuk mengkaji apa yang menyebabkan produk budaya ini dapat bertahan bahkan berkembang. Ruang lingkup penulisan mencakup, Apakah yang dimaksud masyarakat Betawi? Apakah silat beksi itu? Adakah mitos silat beksi? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskripsi. Kesimpulan  penelitian, silat beksi bagi masyarakat Betawi memiliki nilai keagungan dan keluhuran, sehingga untuk mengungkapkannya munculah mitos-mitos misalnya ilmu ini diajarkan oleh makhluk jelmaan macan putih atau harimau.  Beksi silat is the name of the martial world in the Betawi community. Beksi silat is a martial arts style with four body defenses against opponents. This martial art is a mixture of Betawi and China martial arts. Beksi silat is still growing and developing in the Betawi community as evidenced by the existence of 120 Beksi silat studios in Jakarta. This becomes the writer’s interest to examine the reason of this martial art to survive and even develop. The scope of writing includes how the Betawi people are, what Silat Beksi Is, and the myths in Silat Beksi. This study uses a qualitative approach with description research methods. The conclusion of this study is that the Silat Beksi for the Betawi people has the value of majesty and nobility, so that some myths revealed. For example, this art was taught by white tiger or tiger incarnation.
DISKRIMINASI RAS DALAM NOVEL SUNDA SRIPANGGUNG KARYA TJARAKA: ANALISIS DEKONSTRUKSI DERRIDA Nur Solihah; Reiza D. Dienaputra
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.767 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i3.397

Abstract

Novel “Sripanggung” karya Tjaraka memuat rekaan gambaran kehidupan masyarakat etnis Sunda di perkebunan teh yang hidup sebagai buruh kontrak dan hidup di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana gambaran perlakuan diskriminasi pemerintah kolonial Belanda terhadap pribumi, khususnya etnis Sunda yang saat itu dipandang sebagai masyarakat kelas bawah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pembacaan dekonstruksi,  di mana teks sastra berupa ujaran yang ada di dalam novel “Sripanggung” karya Tjaraka dianalisis untuk mengungkapkan tindakan diskriminasi yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap etnis Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran-ujaran teks sastra dalam novel “Sripanggung” karya Tjaraka memuat representasi tindakan diskriminasi berdasarkan ras yang dilakukan pihak kolonial Belanda terhadap kaum pribumi etnis Sunda sehingga memengaruhi perkembangan struktur sosial masyarakat Sunda kala itu.  Tjaraka’s “Sripanggung” novel portrays of Sundanese familie’s daily life as labor contract of tea plantation that owned the Dutch colonial government. This article purpose is to reveal the discriminatory treatment of the Dutch colonial goverment against indigenous people, especially Sundanese who were seen as a lower class society. By using deconstruction reading method. “Sripanggung” by Tjaraka’s is in a form of literary works and inside of it contain of speech that analyzed to reveal the discriminatory action of Dutch Colonial government against Sundanese people. The result showed, the speeches in the novel accomodate representation of discrimination act based racial by the Dutch Colonial government against indigenous Sundanese people that affected the development of social structure of sundanese at that time.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue