cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
DITIOENG MEMEH HOEDJAN: PEMIKIRAN PANGERAN ARIA SURIA ATMADJA DALAM MEMAJUKAN PEMUDA PRIBUMI DI SUMEDANG (1800-1921) Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.981 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.196

Abstract

AbstrakPangeran  Aria Suria Atmadja telah memajukan Sumedang di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, kehutanan, politik, kebudayaan, dan sektor lainnya. Atas jasa-jasanya dalam memajukan Sumedang, pada  25 April 1922 didirikan  monumen berbentuk Lingga yang  diresmikan oleh Gubernur Jenderal D. Fock.  Pada masa  pemerintah kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Paul van Limburg Stirum menguasai wilayah Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja mengusulkan agar para pemuda pribumi dilatih menggunakan senjata. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosok  Pangeran Aria Suria Atmadja, bagaimana dan dalam bidang  apa beliau berkiprah untuk memajukan Sumedang dan bagaimana  reaksi pemerintah kolonial terhadap  kiprahnya. Tulisan berjudul Ditioeng Memeh Hudjan merupakan karya luhung Pangeran Aria Suria Atmadja yang berisikan keinginan, cita-cita, dan harapan untuk memajukan pemuda pribumi di Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian   yang dilakukan diperoleh informasi bahwa  usulan Pangeran Aria Suria Atmadja agar pemerintah kolonial  melatih para pemuda  untuk menggunakan senjata ditolak. Pemerintah kolonial bereaksi dengan membuat tiga benteng pertahanan di Sumedang.  AbstractThe prince Aria Suria Atmadja drummed up Sumedang in various sectors as well as agriculture, fishery, forestry, politics, culture, and other sectors.  Because of his merit, on April 25th the Governor General D. Fock build a monumen, and the monumen shaped is Lingga ().   In the era of Dutch colonialism, General Paul van Limburg Stirum hold the governor of Sumedang.In that time, Prince Aria Suria Atmadja was raising a new issue that the young people have to train in using a weapon (gun).  What to do with this research is to know the figure of Prince Aria Suria Atmadja, especially to know the ways of Prince Aria in developing Sumedangand to find out the reaction of dutch collonial which is caused by the movement of the prince.  The writtten entitled Ditioeng Memeh Hudjanis one of the greatest masterpiece of Prince Aria Suria Atmadja, which is containing his will, hope and expectation in drumming up young people in Sumedang.  The method that writer used are related with Heuristic, criticism, interpretation, and historygraphy.  The result of the research show us that the suggestions of Prince Aria Suria Atmadja related to the use weapon (gun) was rejected by the dutch collonial.  The dutch collonial also build three defence fortress in Sumedang as the response to the movement.
PERLAWANAN PETANI DI TANAH PARTIKELIR TANJOENG OOST BATAVIA TAHUN 1916 Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.115 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.82

Abstract

AbstrakSepanjang abad XIX dan awal abad XX terjadi banyak pergolakan di Nusantara. Salah satu di antaranya terjadi di tanah partikelir Tanjoeng Oost Batavia. Perlawanan Entong Gendut di Tanjoeng Oost Batavia pada tahun 1916 berkaitan dengan sistem tanah partikelir di daerah tersebut. Peristiwa tersebut mencerminkan terjadinya ketegangan horizontal maupun vertikal. Di tanah partikelir Tanjoeng Oost Batavia, tuan tanah mengeksploitasi tanah dan petani yang hidup di wilayahnya. Sejak diberlakukannya UU Agraria 1870, pemilik modal menjadikan tanah sebagaialat produksi. Oleh karena itu, tidak ada lagi hubungan yang bersifat mutualistis, namun bergeser pada aspek komersialisasi pertanian. Para petani yang bekerja pada perkebunan memperoleh perlakuan yang sewenang-wenang. Peraturan tanah partikelir sering berubah-ubah, pajak tidak tetap, dan pemberlakuan kerja wajib. Dalam kondisi demikian, timbullah gerakan perlawanan yang dimotivasi oleh semangat keagamaan. Para pengikut Entong Gendut menganggap dirinya sebagai ratu adil. Penelitian yang mempergunakan metode sejarah ini bertujuan mengungkap perlawanan Entong Gendut dan respons pemerintah kolonial terhadap gerakan petani di tanah partikelir Tanjoeng Oost. Kajian mengenai resistensi petani era kolonial dalam konteks tanahpartikelir penting sebagai bahan refleksi sejarah. Meski pernyataan sejarah berulang sekarang dipertanyakan, namun terdapat kemiripan pola-pola protes sosial dari dulu hingga kini. AbstractThere are a lot of upheaval in the archipelago throughout the nineteenth century and early twentieth century. One of them are occurred on private land Tanjoeng Oost Batavia. Entong Geendut resistance in Tanjoeng Oost Batavia in 1916 relating to the system of private land in the area. These events reflect the horizontal and vertical tension. In the private land of Tanjoeng Oost Batavia, landlords exploit the land and the farmers who live in the territory. Since the enactment of the Agrarian Law, 1870, owners of capital make the soil as a production tool. Therefore, there is no relationship of mutualism, but shifts in aspects of agricultural commercialization. The peasants who worked on the plantation earned arbitrary treatment. Regulation of private land ever-changing, taxes are not fixed, and the imposition of compulsory labor. In such conditions, there was a resistance movement motivated by religious fervor. The fellow of Entong Gendut consider themselves to be fair queen. The research method is historical method and try to reveal the Entong Gendut struggle against the colonial government's as a response to the peasant movement in Oost Tanjoeng private land. The study of peasant resistance in colonial era important in the context of private land as a reflection of history. Although history repeats itself now as a questionable statements, but there are similar patterns of social protests of the past until now.
MITOS NYI RORO KIDUL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT CIANJUR SELATAN Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.529 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.248

Abstract

AbstrakNyi Roro Kidul adalah legenda yang sangat populer pada masyarakat di Pulau Jawa. Sebagian masyarakat hingga saat ini masih percaya terhadap wilayah kekuasaan Nyi Roro Kidul di sepanjang laut selatan Pulau Jawa berikut kekuatan gaib yang dapat memberikan ketentraman ataupun sebaliknya pada masyarakat. Dua hal tersebut ditanggapi masyarakat dalam bentuk pelaksanaan upacara penghormatan, tidak melanggar pantangan.Masyarakat Cianjur Selatan dengan wilayah administratif tepat berada di sepanjang pantai Kabupaten Cianjur adalah sebagaimana halnya masyarakat di sepanjang pantai Pulau Jawa yang juga melaksanakan ritual penghormatan kepada Nyi Roro Kidul berikut perilaku yang diupayakan sebisa mungkin untuk tidak melanggar pantangan Nyi Roro Kidul. Meski melakukan perilaku sama namun masyarakat di Cianjur Selatan tentu ada beberapa perbedaan dalam menanggapi keberadaan sosok penguasa laut selatan tersebut. AbstractNyi Roro Kidul is a real popular legend at public in Java island. Some of the existing finite publics still believing to power region of Nyi Roro Kidul alongside south sea Java island following occult strength of which can give peace  and or on the contrary at public. Two the things answered to public in the form of execution of respect ceremony, doesn't impinge abstention.Public north Cianjur with acurate administrative territory resided in coast wise Cianjur district is as also to public alongside coast Java island which also executes ritual respect to Nyi Roro Kidul following behavior strived can be be possible not to impinge abstention Nyi Roro Kidul. Even does same behavior but public in north Cianjur of course there are some difference in answering to existence of the south sea power figure.
PERPINDAHAN PENDUDUK DALAM TIGA MASA: KOLONISASI, KOKUMINGGAKARI, DAN TRANSMIGRASI DI PROVINSI LAMPUNG (1905-1979) M. Halwi Dahlan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.465 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.164

Abstract

AbstrakKolonisatie adalah program perpindahan penduduk versi pemerintah Hindia Belanda pada awal abad XX.  Program migrasi ini awalnya diberi nama Kolonisatieproof dan dijalankan sesuai dengan tuntutan Politik Etis bersama dengan program edukasi dan irigasi. Meski kelihatannya sebagai program yang peduli terhadap perbaikan kondisi masyarakat pribumi, tetapi sejatinya ketiga program tersebut dilaksanakan untuk kepentingan kolonialisme di Hindia Belanda yang telah sekian lama meraup keuntungan sejak masa VOC dan Hindia Belanda. Pada masa pemerintahan militer Jepang juga dilakukan perpindahan penduduk yang disebut kokuminggakari khusus di wilayah Lampung.  Penduduk yang dipindahkan ini adalah para rômusha dari Pulau Jawa.  Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, program perpindahan penduduk ini dilanjutkan dan disebut transmigrasi.  Tidak jauh berbeda dengan kolonisasi, sasaran perpindahan penduduk ini adalah dari daerah-daerah yang dianggap padat penduduknya terutama Pulau Jawa ke daerah lain di Indonesia.  Khusus Lampung, pelaksanaan perpindahan penduduk ini sangat bernilai karena daerah ini menjadi pionir proyek di tiga masa pemerintahan.  Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan tiga peristiwa perpindahan penduduk tersebut disertai perbandingan di antara ketiganya. Penulisan ini menggunakan teknik pengumpulan sumber melalui studi kepustakaan dan mengenai dampak yang ditimbulkan dianalisis menggunakan teori integrasi.  Abstract In the early twentieth century, the Nederland-Indie  government introduced a program Kolonisatie. At the beginning of its implementation, that program was know as Kolonisatieproof. The program is run in accordance with the Ethical Policy along with educational and irrigation program. Although it seems as programs that concerned to the improvement of indigenous peoples, but is actually that programs were implemented for the benefit of the Dutch East Indies's colonialism. In the reign of the Japanese military, migration program also conducted by goverment which known as kokuminggakari, especially in Lampung. The Population which displacement in kokuminggakari's program is the romushas of Java. After the independence of the Republic of Indonesia, this program continued and know as migration and transmigration. In the era of Indonesian independence, the government carried out the similar program with the colonization program. The purpose of this program is to moved the population from the densely region, especially in Java, to moved to other region in Indonesia. In Lampung, the implementation of this migration  is very important because the area has become a pioneer project in three periods. The purpose of this research was to describe the migration of three events with a comparison between the three events. This study uses the source collection techniques through the study of literature and the data were analyzed using the theory of integration.
KESENIAN GONDANG SEBAGAI REPRESENTASI TRADISI MASYARAKAT PETANI DI JAWA BARAT Rosyadi Rosyadi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.711 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.16

Abstract

This paper aims to reveal the existence of traditional art ofgondang which is a representation of a living tradition among the farmers in the rural areas of West Java. Gondang art stems from a tradition of ritual nutu (pound rice using a pestle and mortar) are sacred. Behind the sanctity of this tradition, there is another side that is capable of creating merriment, joy and cheerfulness, so that this tradition then elevated to an art, the art of traditional tutunggulan which is an instrumental art. Art aesthetic element is reinforced with the inclusion of singing elements. Then,gondang art is created as the development of tutunggulan art. On the appearance of gondang art, the element of the sacred has been much reduced; otherwise the entertainment element is more prominent so the gondangart becomes contemporary performing arts once highly favored by the Sundanese people, especially in rural areas. Now the existence of the art of gondangis in the middle of degraded and endangered, marginalized by the types of modern art. The method that the writer used in this research is descriptive method that relies on qualitative data.
MITOS DAN NILAI DALAM CERITA RAKYAT MASYARAKAT LAMPUNG Tjetjep Rosmana
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.33 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.215

Abstract

AbstrakUntuk mengungkapkan nilai-nilai luhur, sesungguhnya terdapat di dalam cerita rakyat, antara lain nilai-nilai luhur yang menyangkut tentang ajaran moral, harga diri, jati diri, kerja keras, tegang rasa, dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut sangat baik ditanamkan dalam kehidupan kita, terutama kepada anak-anak sebagai penerus bangsa. Dalam tulisan mitos dan nilai dalam cerita rakyat masyarakat Lampung ini menggunakan pendekatan deskritif analisis content untuk menjelaskan cerita rakyat yang dikumpulkan. Data yang dikumpulkan tersebut disusun dan dianalisis, terutama dari segi struktur cerita dan nilainya. Selain itu dipergunakan metode komparatif analisis untuk membedakan jenis cerita dengan harapan dapat menyimak nilai-nilai luhur tersebut sebagai sistem pengendalian sosial yang dapat mewujudkan kehidupan yang tenteram, bersatu, dan harmonis. Dari tulisan ini kiranya dapat digarisbawahi betapa pentingnya nilai-nilai luhur tersebut di dalam kehidupan kita, terutama untuk anak agar berbudi pekerti sebagai pembentuk karakter bangsa.AbstractFolklores are source for us to dig traditional values that live in society, such as the ones of moral, dignity, hard work, and others. This research is about myths and folklores of Lampung society. We/the author examined the structure and values that they convey to analyse meaning and content. The stories are compared one to another and a descriptive analitical approach was conducted to describe the result.
AHMAD SANOESI (1888-1950): PENGGERAK ORGANISASI AL-ITTIHADIJATOEL ISLAMIJJAH (AII) Wawan Hernawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.402 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.132

Abstract

AbstrakTerdapat perbedaan sikap politik yang dilakukan Sanoesi terhadap pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah pendudukan Jepang. Ia memilih konflik dengan pemerintah Hindia Belanda, sebaliknya kompromi dengan pemerintah pendudukan Jepang. Ia begitu antipati terhadap pemerintah Hindia Belanda, sebaliknya simpati terhadap pemerintah pendudukan Jepang. Penelitian ini bermaksud merekonstruksi pergerakan yang dilakukan Sanoesi semasa hidupnya (1888-1950). Ini menjadi penting, di tengah kecenderungan masyarakat yang selalu mengidolakan tokoh global, kita dituntut bersikap arif terhadap tokoh lokal yang mempunyai andil besar dalam upayanya menemukan sejarah bangsa. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, ditemukan bahwa pergerakan Sanoesi telah dirintis sejak masa muda hingga wafat menjemputnya. Sanoesi telah banyak memberikan kontribusi bagi tumbuhnya pola-pola pergerakan yang kemudian diikuti oleh generasi sesudahnya. Sanoesi pun berhasil memberikan solusi bagi masyarakat pribumi terutama dalam bidang pendidikan dan dakwah. Kehadiran organisasi Al-Ittihadijatoel Islamijjah (AII) di Indonesia adalah fakta. Fakta lainnya, mewakili organisasi yang dipimpinnya ia terpilih menjadi Wakil Residen Bogor, anggota Cuo Sangi In, anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai (BPUPKI), dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).AbstractSanoesi showed different attitude towards the government of Dutch Indies and the government of the Japanese occupation. He chose conflict with the first; instead compromise with the second. He was so antipathetic to the Dutch, otherwise sympathetic to the Japanese. This study intends to reconstruct Sanoesi movements during his lifetime (1888-1950). This would be important in the midst of tendency to idolize global leaders, and it would be wise to appreciate local leaders who have contributed in the development of the history of our nation. By conducting history methods, it was found that Sanoesi began his movement in his youth and continued until his death. Sanoesi had contributedgreatly to the growth of patterns for the movement which were followed by later generations. He provided solutions to indigenous people especially in education and dakwah (giving enlightment). The presence of Al-Ittihadijatoel Islamijjah organization (AII) in Indonesia is a proof for his contribution, and as representative for the organization he was elected Vice-Resident of Bogor, became member of Cuo Sangi-in, of Dokuritu Zyunbi Tyoosakai (BPUPKI), and of the Central Indonesian National Committee (KNIP).
PERAN PEREMPUAN PADA UPACARA TRADISIONAL RAHENGAN DI DESA CITATAH KECAMATAN CIPATAT Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.26 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.293

Abstract

Tujuan kajian ini melihat peran perempuan dalam upacara Rahengan di Desa Citatah Kecamatan Cipatat, bagaimana performativitas perempuan dan upacara Rahengan membentuk konstruksi identitas perempuan di masyarakat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peran perempuan yang menonjol dilihat dari struktur ritual,  atribut pakaian, dan penampilan. Secara struktur, perempuan lebih banyak memegang peranan dari sejak acara persiapan ritual hingga pasca ritual. Dewi Sri sebagai simbol kehidupan dianggap menjadi penanda utama gender acts yang membentuk identitasnya dalam wilayah gagasan keperempuanan yang serba simbolis. Dimensi atribut dan penampilan dalam ritual juga memegang peranan signifikan seperti tampak pada rias wajah, perilaku, dan pakaian. Performativitas dalam atribut dan penampilannya itu lebih disebabkan aturan adat yang hegemonik dan memaksa dirinya agar mendapatkan pengakuan di masyarakat. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan fokus penelitannya tentang etnografis feminis,  studi mengenai perempuan dalam praktik budaya. Penggalian data melalui wawancara mendalam dan studi pustaka. Kajian ini menggunakan analisis Butler tentang performativitas dan identitas dari Hall. 
MONTRADO 1818-1858: DINAMIKA KOTA TAMBANG EMAS Any Rahmayani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.65 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.105

Abstract

Abstrak        Penelitian ini menyajikan gambaran Kota Montrado pada 1818-1858.  Montrado,  pernah menjadi salah satu pusat kongsi pertambangan emas besar di Borneo Barat. Latar belakang penelitian ini adalah keberadaan kongsi-kongsi emas di Borneo Barat yang memegang peranan penting bagi perubahan yang terjadi di wilayah ini baik ekonomi, sosial dan politik. Permasalahan pokok yang dibahas adalah gambaran Kota Montrado dan perubahan yang terjadi seiring dengan dinamika kongsi pertambangan emas. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan proses terbentuknya Montrado sebagai pusat kongsi emas dan merekonstruksi keadaan Kota Montrado pada paruh pertama abad ke-19. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas empat tahapan: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Montrado masa kongsi merupakan kota yang lengkap dengan pusat pemerintahan, pusat perdagangan, sarana ibadah, kelengkapan infrastruktur dan sanitasi serta wilayah-wilayah pendukung. Ekologi kota ini berubah seiring dengan runtuhnya kongsi pertambangan emas yang berpusat di wilayah tersebut. Perubahan ini dapat dilihat dari berbagai sektor seperti penurunan jumlah penduduk akibat migrasi setelah perang, runtuhnya simbol-simbol kekuasaan kongsi (thang) serta perubahan dalam organisasi pemerintahan sekaligus kemasyarakatan Tionghoa yang berganti dengan sistem yang ditetapkan pemerintah kolonial.AbstractThis study presents an overview of Montrado City between 1818 through 1858. Montrado was the major of gold mining joint venture facility in West Borneo. The background of this research is the existence of gold syndicates in West Borneo that plays an important role for the changes of economic, social and political that occurred in this region. The main problem discussed here is the image of the City of Montrado and its changes that occur in line with the dynamics of the gold mining joint venture. The aim of this study is to describe the process of formation of the joint venture Montrado as a center of gold and reconstruct the state of Montrado City in the first half of the 19th century.The method used is the historical method which consists of four stages: heuristics, criticism, interpretation and historiography. The results showed that joint venture of Montrado City was a complete city with the center of government, trade centers, places of worship, the completeness of sanitation and infrastructure. This city ecology was changed along with the collapse of the gold mining joint venture in this region. These changes can be seen from various sectors such as the decline in population due to migration after the war, the collapse of the symbols of power of joint venture (thang) as well as changes in the organization of government in the Chinese community which is replaced by a system that defined by the colonial government.
KEARIFAN LOKAL BERDASARKAN TINGGALAN BUDAYA DI SITUS PARUMASAN CIAMIS Lia Nuralia
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5313.835 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.271

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menginventarisasi tinggalan budaya di Situs Parumasan Ciamis yang berhubungan dengan aspek kearifan lokal pada masyarakat tradisional yang tinggal di sekitar situs. Fokus kajian ditujukan pada tinggalan budaya materi dan non materi dalam konsepsi budaya masa lalu, termasuk pengelolaan lahan yang disakralkan dan yang lebih bersifat profan bagi masyarakat sekitar, yang diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian budaya, dengan pendekatan arkeologis secara deskriptif dan penalaran induktif. Cara pengumpulan data dilakukan dengan survei atau pengamatan langsung terhadap Situs Parumasan. Untuk memahami lebih jauh pandangan masyarakat terhadap keberadaan Situs Parumasan, dilakukan pula wawancara dengan Juru Kunci Parumasan dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan adanya kearifan lokal berdasarkan tinggalan arkeologis, makna ritual keagamaan, dan upacara adat di antaranya terjaganya kelestarian alam dan keberlangsungan hidup yang nyaman dan aman. AbstractThe purpose of this research is to make an inventory of cultural heritages in the site of Parumasan in Ciamis that has a relationship to the local wisdom of traditional community that lives around the site. The foci are material and non-material cultural heritage that lived in old times, including sacred-land management and a more profane ones that applied to their daily life. The author has conducted a cultural research method with archaeological approach, either desciptively or inductively. Data were obtained by surveying or observing Parumasan site. Interview with juru kunci (key person) of Parumasan was also perfomed in order to get data about the perspective of the site from the community’s point of view. The result is that there is local wisdom based on archaeological heritage, religious rites and adat ceeremony resulting in conservation of the nature as well as a peaceful life.

Page 6 of 36 | Total Record : 360


Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue