cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2024)" : 12 Documents clear
MERARIQ TRADITION: NEGOTIATION COMMUNICATION OBTAINING A WALI NIKAH IN NORTH LOMBOK Andi Tamrin; Ali Ridho; Afna Fitria Sari; Wahyu Ilaihi
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3102

Abstract

Abstract: Merariq tradition is a sacred tradition to obtain a wali nikah in marriage for the people of Genggelang, North Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesian. In the process, it contains complicated negotiation communication between the two families of the prospective bride and groom. This research uses negotiation communication theory and the method applied is qualitative with a phenomenological approach. Data were obtained from interviews, observations, documentation and books and journals of national and international repute.  The formulation of the problems in this study are (1) why the Genggelang community conducts negotiation communication in the Merariq tradition; (2) how negotiation communication is carried out by the two families of the prospective bride to get a wali nikah. The result of the research is that in the implementation of the merariq tradition, a negotiation communication model is applied between the two families of the prospective bride and groom with the type of principled negotiation. Thus, the bargaining position of the two families of the bride and groom emphasizes the basis of kinship and togetherness. The use of integrative and distributive strategies to produce an agreement. Submission of ajikrama and pisuka as a sign that the bride and groom are getting married. However, the impact of compulsive negotiation communication causes ongoing conflict between the two families, this is contrary to the values of Islamic preaching. Keywords: Merariq, Tradition, Negotiation, CommunicationAbstrak: Tradisi Merariq adalah tradisi sakral untuk mendapatkan wali nikah dalam pernikahan bagi masyarakat Genggelang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Dalam prosesnya, terdapat komunikasi negosiasi yang rumit antara kedua keluarga calon mempelai. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi negosiasi dan metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan buku-buku serta jurnal bereputasi nasional dan internasional.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) mengapa masyarakat Genggelang melakukan komunikasi negosiasi dalam tradisi Merariq; (2) bagaimana komunikasi negosiasi yang dilakukan oleh kedua keluarga calon mempelai untuk mendapatkan wali nikah. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam pelaksanaan tradisi merariq diterapkan model komunikasi negosiasi antara kedua keluarga calon mempelai dengan jenis negosiasi berprinsip. Dengan demikian, posisi tawar kedua keluarga calon mempelai lebih mengedepankan asas kekeluargaan dan kebersamaan. Penggunaan strategi integratif dan distributif untuk menghasilkan kesepakatan. Penyerahan ajikrama dan pisuka sebagai tanda bahwa kedua mempelai akan menikah. Namun, dampak dari komunikasi negosiasi yang bersifat kompulsif menyebabkan konflik yang berkelanjutan antara kedua keluarga, hal ini bertentangan dengan nilai-nilai dakwah Islam.Kata Kunci : Merariq, Tradisi, Negosisasi, Komunikasi
POLITIK SEBAGAI JALAN PRAKTIK TASAWUF: TELAAH TERHADAP KONSEP ASFAR AL-ARBA’AH MULLA SHADRA Andi Muhammad Ikbal Salam; Nizar Nizar
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2702

Abstract

Abstract: This research aims to find out politics as a way of practicing Sufism based on the concept of asfar al-arba'ah Mulla Shadra. The research method used is qualitative research with a literature study approach, namely by examining or interpreting written material about the concept of asfar al-arba'ah. The results showed that the concept of four journeys (asfar al-arba'ah) Mulla Shadra consists of: the journey from being to God; second, the journey in the [names of] God with God; third, the journey from God to being with God; fourth, the journey in being with God. Mulla Shadra places the fourth spiritual journey as a political journey. The substance of politics is understood as a conscious effort to uncover the realities and regulations that dominate conscious activity and lead human collective life to the desired destiny. This view necessitates the necessity of regulation for society to sustain a harmonious life through submission to God. Submission to God means submission to the rules and traditions of the sunnah, including prophetic inevitability. Therefore, Mulla Shadra understands that the purpose of the mission of the prophets is the improvement of religion and the human world through philosophical and political management.Keywords: Mulla Shadra, Sufism, Politics, Asfar al-Arba'ahAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui politik sebagai jalan praktik tasawuf berdasarkan konsep asfar al-arba’ah Mulla Shadra. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatis dengan pendekatan studi pustaka yakni dengan mengkaji atau menginterpretasi bahan tertulis tentang konsep asfar al-arba’ah. Hasil penelitian menujukkan bahwa konsep empat perjalanan (asfar al-arba’ah) Mulla Shadra terdiri atas: perjalanan dari makhluk menuju Tuhan ; kedua, perjalanan di dalam [asma-asma] Tuhan bersama Tuhan; ketiga, perjalanan dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan; keempat, perjalanan di dalam makhluk bersama Tuhan. Mulla Shadra menempatkan perjalanan ruhani keempat sebagai perjalanan politik. Substansi politik dimaknai sebagai upaya sadar menyingkap realitas dan regulasi yang mendominasi aktivitas sadar dan menggiring kehidupan kolektif manusia kepada takdir yang diinginkan. Pandangan ini meniscayakan kemestian regulasi bagi masyarakat untuk melangsungkan kehidupan yang harmoni melalui ketundukan pada Tuhan. Tunduk pada Tuhan berarti tunduk pada aturan dan tradisi sunnah, termasuk keniscayaan kenabian. Karenanya Mulla Shadra memahami bahwa tujuan misi dari para nabi adalah sebagai perbaikan agama dan dunia manusia melalui manajemen filosofis dan politik.Kata Kunci: Mulla Shadra, Tasawuf, Politik, Asfar al-Arba’ah
NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD) DALAM RIWAYAT PROFETIK Siti Maemunah; Muhammad Asgar Muzakki
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2951

Abstract

Abstract: This article discusses narcissistic behavior in practicing religion as contained in prophetic history. The theme of narcissism amidst the prominence of social media can be said to be always relevant and evergreen, because narcissistic disorders can penetrate all groups. Including people who are labeled pious and diligent in worship. Interestingly, people with NPD even existed in the time of the Prophet, complete with characteristics and indicators of narcissism from modern psychology. Feeling the most right, the most entitled, arrogant, is indeed part of the “adab” chapter which is the main focus of the Islamic taching. So the Prophet taught us a way - or at least one way - to mentally forge a way to ward off the NPD disorder. Through interdisciplinary analysis that combines psychological and historical approaches, this research examines hadiths related to the NPD theme using a thematic-contextual study model. This research aims to contribute to a deeper understanding of narcissistic behavior in a religious context and offers potential solutions to reduce these tendencies.Key Words : Disorder, narcissism, humilityAbstrak Artikel ini membahas tentang perilaku narsistik dalam beragama yang termuat dalam riwayat kenabian. Tema narsisme di tengah prominennya media sosial boleh dibilang selalu relevan dan evergreen, karena gangguan narsistik bisa mempenetrasi semua kalangan. Termasuk orang yang dilabeli saleh dan rajin beribadah sekalipun. Menariknya, pengidap NPD bahkan sudah ada di zaman Nabi lengkap dengan karakteristik dan indikator narsisme dari psikologi modern. Merasa paling benar, paling berhak, angkuh, memang bagian dari bab adab yang menjadi sorotan utama agama Islam. Maka Nabi pun mengajarkan cara –atau sekurang-kurangnya salah satu cara untuk menempa mental guna menepis gangguan NPD tersebut. Melalui analisis interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dan sejarah, penelitian ini meneliti hadis-hadis berkaitan dengan tema NPD dengan model kajian tematik-kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku narsistik dalam konteks agama dan menawarkan solusi potensial untuk mengurangi kecenderungan tersebut.Kata Kunci : Gangguan, narsisme, kerendahan hati.
SOLIDARITAS MEKANIK KOMUNITAS TIONGHOA DAN JAWA DALAM MEMPERTAHANKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA M. Sauki
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3081

Abstract

Abstract: The nuances of Chinese customs and Javanese customs are very visible on a board that shows Chinese and Javanese writing (mandarin and ha na ca ra ka). Coexistence like this happened decades ago, when ethnic Chinese people came to Kediri and formed an area around the city center. Some even call it Cino Jowo (Javanese Chinese). Although they are of Chinese descent, they were born and lived in Java (Kediri). In general, there are two conditions for creating social interaction, namely, social contact and communication. The results of this study show that social solidarity and the first social interaction between ethnic Chinese and the Javanese people of Kediri City, especially in the area near the pier, occur in the form of labor. The Chinese employed the local community to help with their work, transporting and unloading the new ethnic Chinese goods from the Port of the Brantas River. This pattern of organic solidarity then spills over into mechanical solidarity. When social interaction between them increases, it indirectly fosters harmony between religious communities. Keywords: Social facts, Social solidarity, Inter-ethnic harmony Abstrak : Nuansa adat Tionghoa dan adat Jawa sangat terlihat di sebuah papan yang menunjukan tulisan Tionghoa dan Jawa (mandarin dan ha na ca ra ka). Hidup berdampingan seperti ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, ketika masyarakat etnis Tionghoa datang ke Kediri dan membentuk wilayah di sekitar pusat kota. Bahkan ada yang menyebutnya Cino Jowo (Cina Jawa). Meskipun mereka keturunan Tionghoa, akan tetapi mereka lahir dan tinggal di Jawa (Kediri). Secara umum ada dua syarat untuk menciptakan interaksi sosial yaitu, pertama kontak sosial dan komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa solidaritas sosial dan interaksi sosial pertama kali antara etnis Tionghoa dengan Masyarakat Jawa Kota Kediri khususnya di wilayah dekat dermaga terjadi dalam bentuk tenaga kerja. Orang-orang Tionghoa mempekerjakan Masyarakat sekitar untuk membantu pekerjaanya, mengangkut serta membongkar dagangan etnis cina yang baru datang dari Pelabuhan Sungai Brantas. Dari pola solidaritas organic ini kemudian merembah ke solidaritas mekanik. Ketika interaksi sosial diantara mereka semakin meningkat, secara tidak langsung menumbuhan keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Kata Kunci: Fakta Sosial, Solidaritas Sosial, Kerukunan Antar Etnis
KAMPUNG JAWA TONDANO DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI RUANG Anindya Puspita Putri; Henki Riko Pratama
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3111

Abstract

Abstract : The interaction between humans and the environment creates a cultural landscape which is a concrete manifestation of human adaptation to the environment. This research discusses Kampung Jawa Tondano in the scope of spatial archeology. Kampung Jawa Tondano is a famous historical settlement in Minahasa Regency, North Sulawesi. This village was founded by Kiai Mojo and his followers when they were exiled in Tondano. This research aims to look at the spatial dynamics and cultural continuity of Kampung Jawa Tondano from a spatial archaeological perspective. Most villages in Indonesia are created from cultural patterns. The character of a village based on Muslim residents and becoming a center for spreading religion is called an Islamic Village or Kauman. Kauman is not applied in the Kampung Jawa Tondano, the term kauman does not appear in the spatial expression in this village. The condition of exile status of minority community groups in Kampung Jawa Tondano is certainly a reason for not emphasizing religious aspects compared to tribal identity. Other components of the settlement in Kampung Jawa Tondano that have a relationship with Islamic and Javanese culture are the Al-Falah Mosque building and the Kiai Mojo Complex Tomb. The mosque building adopts the concept of a traditional Javanese mosque building. The placement of the Kiai Mojo Complex Tomb on a hill is evidence of the continuity of Javanese culture.Key Words : Settlement, Spatial Archaeology, Kampung Jawa Tondano, CultureAbstrak : Interaksi antara manusia dengan lingkungan menciptakan bentang budaya (cultural landscape) yang merupakan kenampakan konkrit dari hasil adaptasi manusia terhadap lingkungan. Kajian ini membahas tentang Kampung Jawa Tondano dalam lingkup arkeologi ruang. Kampung Jawa Tondano merupakan permukiman bersejarah yang terkenal di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kampung ini didirikan oleh Kiai Mojo dan pengikutnya ketika diasingkan di Tondano. Penelitian ini bertujuan melihat dinamika keruangan dan kesinambungan budaya Kampung Jawa Tondano dalam perspektif arkeologi ruang. Kebanyakan kampung di Indonesia tercipta dari corak budaya. Karakter kampung yang didasari oleh penduduk beragama Islam dan menjadi pusat penyebaran agama disebut sebagai Kampung Islam atau Kampung Kauman. Penyebutan nama Kampung Kauman tidak diterapkan di Kampung Jawa Tondano, sebutan kauman tidak tampak dalam ekspresi ruang di kampung ini. Kondisi status pengasingan dari kelompok masyarakat minoritas di Kampung Jawa Tondano tentunya menjadi alasan untuk tidak menonjolkan aspek religi dibandingkan identitas kesukuan. Komponen permukiman lainnya di Kampung Jawa Tondano yang memiliki relasi dengan budaya Islam dan Jawa adalah bangunan Masjid Al-Falah dan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya. Bangunan masjid mengadopsi konsep bangunan masjid tradisional Jawa. Penempatan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya di atas bukit merupakan bukti adanya kesinambungan budaya Jawa. Kata Kunci : Permukiman, Arkeologi Ruang, Kampung Jawa Tondano, Budaya
GREEN-DEEN IN THE QUR'AN: A STUDY OF TAFSIR AL-IBRīZ THE WORK OF BISRI MUSTHOFA Mutma'inah Mutma'inah; Ahmad Azis Abidin; Fadiah Qothrun Nada; Thiyas Tono Taufiq
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2803

Abstract

Abstract: Environmental damage in Indonesia is very critical so that it needs to be handled through various approaches, one of which is through reunderstanding religious texts. This article examined Bisri Musthofa's interpretation of the ecological verses in Tafsīr al-Ibrīz by exploring the concept of green-deen contained in it. This research was qualitative research by using content analysis methods with green-deen concept of Ibrahim Abdul Matin as an approach. This research found that the concept of green-deen in the book of Tafsīr al-Ibrīz includes four things: First, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, God as the owner of the whole nature and only God has dominion over it; Second, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, the whole creation of natures and everythings that happen in it are signs of Allah that shows God's power over the intelligent. Third, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah appointed man as a khalīfah and placed them on earth to serve, take care and guard His earth. Fourth, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, people of any religion are obliged to prevent destructions happen on Allah's earth.Keywords: Ecology; Green-Deen; Ulama Nusantara; InterpretationAbstrak: Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia sudah sangat kritis sehingga dibutuhkan penanganan melalui berbagai pendekatan, salah satunya melalui pemahaman ulang teks keagamaan. Artikel ini mengkaji penafsiran Bisri Musthofa terhadap ayat-ayat ekologi dalam kitab Tafsīr al-Ibrīz dengan menggali konsep green-deen yang ada di dalamnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis data (content analysis) dengan menggunakan konsep green-deen Ibrahim Abdul Matin sebagai pendekatan. Penelitian menemukan bahwa konsep green-deen dalam kitab tafsir al-Ibrīz meliputi empat hal; Pertama, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, Allah sebagai pemilik alam seisinya dan hanya Allah yang berkuasa atasnya; Kedua, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, penciptaan alam seisinya serta segala yang terjadi di dalamnya adalah ayat Allah yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang berakal. Ketiga, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah menunjuk manusia sebagai khalīfah yang ditempatkan di bumi untuk melayani, mengurus dan menjaga bumi Allah SWT. Keempat, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, manusia yang beragama haruslah mencegah terjadinya kerusakan di bumi Allah.Kata Kunci: Ekologi; Green-Deen; Nusantara’s Ulama; Tafsir
GREEN-DEEN IN THE QUR'AN: A STUDY OF TAFSIR AL-IBRīZ THE WORK OF BISRI MUSTHOFA Mutma'inah, Mutma'inah; Abidin, Ahmad Azis; Nada, Fadiah Qothrun; Taufiq, Thiyas Tono
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2803

Abstract

Abstract: Environmental damage in Indonesia is very critical so that it needs to be handled through various approaches, one of which is through reunderstanding religious texts. This article examined Bisri Musthofa's interpretation of the ecological verses in Tafsīr al-Ibrīz by exploring the concept of green-deen contained in it. This research was qualitative research by using content analysis methods with green-deen concept of Ibrahim Abdul Matin as an approach. This research found that the concept of green-deen in the book of Tafsīr al-Ibrīz includes four things: First, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, God as the owner of the whole nature and only God has dominion over it; Second, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, the whole creation of natures and everythings that happen in it are signs of Allah that shows God's power over the intelligent. Third, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah appointed man as a khalīfah and placed them on earth to serve, take care and guard His earth. Fourth, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, people of any religion are obliged to prevent destructions happen on Allah's earth.Keywords: Ecology; Green-Deen; Ulama Nusantara; InterpretationAbstrak: Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia sudah sangat kritis sehingga dibutuhkan penanganan melalui berbagai pendekatan, salah satunya melalui pemahaman ulang teks keagamaan. Artikel ini mengkaji penafsiran Bisri Musthofa terhadap ayat-ayat ekologi dalam kitab Tafsīr al-Ibrīz dengan menggali konsep green-deen yang ada di dalamnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis data (content analysis) dengan menggunakan konsep green-deen Ibrahim Abdul Matin sebagai pendekatan. Penelitian menemukan bahwa konsep green-deen dalam kitab tafsir al-Ibrīz meliputi empat hal; Pertama, Allah Ta’ala dewe kang mengerani lan nguwasani alam kabeh iki, Allah sebagai pemilik alam seisinya dan hanya Allah yang berkuasa atasnya; Kedua, sejatine kedadiane langit bumi saisine, gulir gumantine bengi lan rino iku kabeh dadi tondo tumerap wong-wong kang podo anduweni akal nuduhake kekuasaane Allah Ta’ala, penciptaan alam seisinya serta segala yang terjadi di dalamnya adalah ayat Allah yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang berakal. Ketiga, Allah Ta’ala manggonake marang siro kabeh ana ing bumine Allah Ta’ala, Allah menunjuk manusia sebagai khalīfah yang ditempatkan di bumi untuk melayani, mengurus dan menjaga bumi Allah SWT. Keempat, Embo’iyo umat-umat sakduruunge sira kabeh iku ono kang anduweni agomo, kang gelem nyegah sangking nggawe kerusakan ana ing bumi, manusia yang beragama haruslah mencegah terjadinya kerusakan di bumi Allah.Kata Kunci: Ekologi; Green-Deen; Nusantara’s Ulama; Tafsir
SOLIDARITAS MEKANIK KOMUNITAS TIONGHOA DAN JAWA DALAM MEMPERTAHANKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Sauki, M.
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3081

Abstract

Abstract: The nuances of Chinese customs and Javanese customs are very visible on a board that shows Chinese and Javanese writing (mandarin and ha na ca ra ka). Coexistence like this happened decades ago, when ethnic Chinese people came to Kediri and formed an area around the city center. Some even call it Cino Jowo (Javanese Chinese). Although they are of Chinese descent, they were born and lived in Java (Kediri). In general, there are two conditions for creating social interaction, namely, social contact and communication. The results of this study show that social solidarity and the first social interaction between ethnic Chinese and the Javanese people of Kediri City, especially in the area near the pier, occur in the form of labor. The Chinese employed the local community to help with their work, transporting and unloading the new ethnic Chinese goods from the Port of the Brantas River. This pattern of organic solidarity then spills over into mechanical solidarity. When social interaction between them increases, it indirectly fosters harmony between religious communities. Keywords: Social facts, Social solidarity, Inter-ethnic harmony Abstrak : Nuansa adat Tionghoa dan adat Jawa sangat terlihat di sebuah papan yang menunjukan tulisan Tionghoa dan Jawa (mandarin dan ha na ca ra ka). Hidup berdampingan seperti ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, ketika masyarakat etnis Tionghoa datang ke Kediri dan membentuk wilayah di sekitar pusat kota. Bahkan ada yang menyebutnya Cino Jowo (Cina Jawa). Meskipun mereka keturunan Tionghoa, akan tetapi mereka lahir dan tinggal di Jawa (Kediri). Secara umum ada dua syarat untuk menciptakan interaksi sosial yaitu, pertama kontak sosial dan komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa solidaritas sosial dan interaksi sosial pertama kali antara etnis Tionghoa dengan Masyarakat Jawa Kota Kediri khususnya di wilayah dekat dermaga terjadi dalam bentuk tenaga kerja. Orang-orang Tionghoa mempekerjakan Masyarakat sekitar untuk membantu pekerjaanya, mengangkut serta membongkar dagangan etnis cina yang baru datang dari Pelabuhan Sungai Brantas. Dari pola solidaritas organic ini kemudian merembah ke solidaritas mekanik. Ketika interaksi sosial diantara mereka semakin meningkat, secara tidak langsung menumbuhan keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Kata Kunci: Fakta Sosial, Solidaritas Sosial, Kerukunan Antar Etnis
KAMPUNG JAWA TONDANO DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI RUANG Putri, Anindya Puspita; Pratama, Henki Riko
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3111

Abstract

Abstract : The interaction between humans and the environment creates a cultural landscape which is a concrete manifestation of human adaptation to the environment. This research discusses Kampung Jawa Tondano in the scope of spatial archeology. Kampung Jawa Tondano is a famous historical settlement in Minahasa Regency, North Sulawesi. This village was founded by Kiai Mojo and his followers when they were exiled in Tondano. This research aims to look at the spatial dynamics and cultural continuity of Kampung Jawa Tondano from a spatial archaeological perspective. Most villages in Indonesia are created from cultural patterns. The character of a village based on Muslim residents and becoming a center for spreading religion is called an Islamic Village or Kauman. Kauman is not applied in the Kampung Jawa Tondano, the term kauman does not appear in the spatial expression in this village. The condition of exile status of minority community groups in Kampung Jawa Tondano is certainly a reason for not emphasizing religious aspects compared to tribal identity. Other components of the settlement in Kampung Jawa Tondano that have a relationship with Islamic and Javanese culture are the Al-Falah Mosque building and the Kiai Mojo Complex Tomb. The mosque building adopts the concept of a traditional Javanese mosque building. The placement of the Kiai Mojo Complex Tomb on a hill is evidence of the continuity of Javanese culture.Key Words : Settlement, Spatial Archaeology, Kampung Jawa Tondano, CultureAbstrak : Interaksi antara manusia dengan lingkungan menciptakan bentang budaya (cultural landscape) yang merupakan kenampakan konkrit dari hasil adaptasi manusia terhadap lingkungan. Kajian ini membahas tentang Kampung Jawa Tondano dalam lingkup arkeologi ruang. Kampung Jawa Tondano merupakan permukiman bersejarah yang terkenal di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Kampung ini didirikan oleh Kiai Mojo dan pengikutnya ketika diasingkan di Tondano. Penelitian ini bertujuan melihat dinamika keruangan dan kesinambungan budaya Kampung Jawa Tondano dalam perspektif arkeologi ruang. Kebanyakan kampung di Indonesia tercipta dari corak budaya. Karakter kampung yang didasari oleh penduduk beragama Islam dan menjadi pusat penyebaran agama disebut sebagai Kampung Islam atau Kampung Kauman. Penyebutan nama Kampung Kauman tidak diterapkan di Kampung Jawa Tondano, sebutan kauman tidak tampak dalam ekspresi ruang di kampung ini. Kondisi status pengasingan dari kelompok masyarakat minoritas di Kampung Jawa Tondano tentunya menjadi alasan untuk tidak menonjolkan aspek religi dibandingkan identitas kesukuan. Komponen permukiman lainnya di Kampung Jawa Tondano yang memiliki relasi dengan budaya Islam dan Jawa adalah bangunan Masjid Al-Falah dan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya. Bangunan masjid mengadopsi konsep bangunan masjid tradisional Jawa. Penempatan Kompleks Makam Kiai Mojo dan pengikutnya di atas bukit merupakan bukti adanya kesinambungan budaya Jawa. Kata Kunci : Permukiman, Arkeologi Ruang, Kampung Jawa Tondano, Budaya
MERARIQ TRADITION: NEGOTIATION COMMUNICATION OBTAINING A WALI NIKAH IN NORTH LOMBOK Tamrin, Andi; Ridho, Ali; Sari, Afna Fitria; Ilaihi, Wahyu
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.3102

Abstract

Abstract: Merariq tradition is a sacred tradition to obtain a wali nikah in marriage for the people of Genggelang, North Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesian. In the process, it contains complicated negotiation communication between the two families of the prospective bride and groom. This research uses negotiation communication theory and the method applied is qualitative with a phenomenological approach. Data were obtained from interviews, observations, documentation and books and journals of national and international repute.  The formulation of the problems in this study are (1) why the Genggelang community conducts negotiation communication in the Merariq tradition; (2) how negotiation communication is carried out by the two families of the prospective bride to get a wali nikah. The result of the research is that in the implementation of the merariq tradition, a negotiation communication model is applied between the two families of the prospective bride and groom with the type of principled negotiation. Thus, the bargaining position of the two families of the bride and groom emphasizes the basis of kinship and togetherness. The use of integrative and distributive strategies to produce an agreement. Submission of ajikrama and pisuka as a sign that the bride and groom are getting married. However, the impact of compulsive negotiation communication causes ongoing conflict between the two families, this is contrary to the values of Islamic preaching. Keywords: Merariq, Tradition, Negotiation, CommunicationAbstrak: Tradisi Merariq adalah tradisi sakral untuk mendapatkan wali nikah dalam pernikahan bagi masyarakat Genggelang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Dalam prosesnya, terdapat komunikasi negosiasi yang rumit antara kedua keluarga calon mempelai. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi negosiasi dan metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan buku-buku serta jurnal bereputasi nasional dan internasional.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) mengapa masyarakat Genggelang melakukan komunikasi negosiasi dalam tradisi Merariq; (2) bagaimana komunikasi negosiasi yang dilakukan oleh kedua keluarga calon mempelai untuk mendapatkan wali nikah. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam pelaksanaan tradisi merariq diterapkan model komunikasi negosiasi antara kedua keluarga calon mempelai dengan jenis negosiasi berprinsip. Dengan demikian, posisi tawar kedua keluarga calon mempelai lebih mengedepankan asas kekeluargaan dan kebersamaan. Penggunaan strategi integratif dan distributif untuk menghasilkan kesepakatan. Penyerahan ajikrama dan pisuka sebagai tanda bahwa kedua mempelai akan menikah. Namun, dampak dari komunikasi negosiasi yang bersifat kompulsif menyebabkan konflik yang berkelanjutan antara kedua keluarga, hal ini bertentangan dengan nilai-nilai dakwah Islam.Kata Kunci : Merariq, Tradisi, Negosisasi, Komunikasi

Page 1 of 2 | Total Record : 12