Majalah Farmaseutik
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"Vol 18, No 3 (2022)"
:
18 Documents
clear
Hubungan Kesesuaian Terapi dengan Luaran Klinik Pasien Demam Berdarah Dengue di RSUD dr. TC. Hillers Kabupaten Sikka, Provinsi NTT
Maria hurek Making;
Nanang Munif Yasin;
Ika Puspita Sari
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i2.71969
Kabupaten Sikka adalah salah satu kabupaten di Provinsi NTT dengan angka kasus DBD tertinggi diawal tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian terapi dengan luaran klinik pasien demam berdarah dengue di RSUD dr. TC. Hillers, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT. Penelitian ini dilakukukan dengan cara studi observasional dengan rancangan penelitian cohort retrospektive. Subjek penelitian adalah pasien anak usia ≤ 18 tahun yang dirawat di RSUD dr.TC. Hillers pada periode Januari-Maret 2020 dengan diagnosis akhir DBD grade I,II,dan dengue shock syndrome (grade III dan IV) yang dipilih sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Luaran yang dinilai adalah keadaan klinis pasien, data laboratorium dan lama perawatan/lama sakit. Sebanyak 80 pasien yang masuk kriteria inklusi dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok yang sesuai dan tidak sesuai dengan PPK. Penilaian kesesuaian dilakukan dengan membandingkan rekam medik pasien dengan panduan praktik klinik (PPK) Rumah Sakit, selanjutnya setiap kelompok dianalisa kondisi membaik dan tidak membaik menurut kriteria WHO 2011 dan PPK RS. Analisis hubungan antara kesesuaian dengan luaran klinik menggunakan uji Chi-Square atau Fisher’s Exact sedangkan untuk mengontrol pengaruh variabel pengganggu terhadap luaran klinik digunakan analisis multivariate regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan pasien yang masuk dalam kriteria sesuai dengan PPK sebesar 77,5% dan pasien tidak sesuai sebesar 22,5%, dimana dari kategori sesuai terdapat 49 pasien dikatakan membaik sedangkan 13 pasien tidak membaik. Hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan p-value =0,546 yang berarti pemberian terapi suportif dan simpotomatis tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap luaran klinik pasien. Hasil analisis Chi-Square atau Fisher’s Exact antara kesesuaian terapi dengan trombosit, hematokrit dan lama rawat berturut-turut adalah (p=0,637; p= 0,7; dan p=1,00) yang menunujukkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara pemberian terapi cairan suportif dan terapi simptomatis terhadap luaran klinik. Hasil analisis multivariate menunjukkan variabel perancu usia, jenis kelamin, derajat penyakit dan komorbid tidak memiliki pengaruh terhadap luaran klinik.
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etil Asetat Fungi Endofit Eutypa linearis
Baiq Maylinda Gemantari;
Fitra Romadhonsyah;
Arief Nurrochmad;
Subagus Wahyuono;
Puji Astuti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.64133
Fungi endofit banyak dilaporkan mampu memproduksi senyawa metabolit yang memiliki beragam aktivitas biologis. Diisolasi dari salah satu tanaman berkhasiat Indonesia yang dikenal dengan nama tanaman jinten (Coleus amboinicus Lour.), pada penelitian ini dilakukan observasi aktivitas antimikroba fungi endofit Eutypa linearis. Ekstrak etil asetat dari media fermentasi E.linearis dalam beragam konsentrasi diujikan kepada beberapa mikroba bakteri dan fungi yakni Staphyloccocus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, dan Candida albicans. Aktivitas antimikroba dievaluasi menggunakan metode mikrodilusi pada media Mueller Hinton Broth untuk kultur bakteri dan Brain Heart Infussion Broth untuk kultur fungi. Nilai optical density pada panjang gelombang 600 nm yang diperoleh dari penggunaan microplate reader digunakan untuk menghitung nilai IC50 ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 ekstrak etil asetat media fermentasi E.linearis pada S.aureus adalah sebesar 260,69 µg/mL; P.aeruginosa 359,32 µg/mL; B.subtilis 163,74 µg/mL; dan C.albicans 92,75 µg/mL. Berdasarkan metode bioautografi kontak, diketahui senyawa aktif sebagai antimikroba tersebut merupakan kelompok senyawa yang polar.
Perbandingan Efektivitas Penggunaan Nifedipin Dengan Metildopa Dalam Mengontrol Tekanan Darah Pasien Preeklamsia
Sara Septi Widayani;
Fita Rahmawati;
Nanang Munif Yasin
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.64894
Preeklamsia merupakan salah satu gangguan hipertensi selama kehamilan dimana salah satu tanda yang dialami oleh pasien adalah terjadinya peningkatan tekanan darah yang ditunjukkan dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan diastolik ≥90 mmHg. Belum banyak bukti yang menunjukkan pilihan terapi paling efektif bagi pasien preeklamsia untuk mengatasi hipertensi selama kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efektivitas dan profil keamanan terapi antihipertensi yaitu nifedipin dengan metildopa pada pasien preeklamsia. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kohort retrospektif yang dilakukan di RSUD Tidar Magelang selama 3 bulan. Analisis statistik efektivitas diukur berdasarkan penurunan tekanan darah setelah penggunaan antihipertensi menggunakan independent t-test sementara profil keamanan diukur berdasarkan kejadian hipotensi setelah penggunaan antihipertensi. Pengukuran tekanan darah diamati selama 48 jam pasien menjalani rawat inap. Besar sampel penelitian ini adalah 56 dimana 34 pasien mendapat terapi nifedipin dan 22 pasien mendapat terapi metildopa. Hasil deskriptif karakteristik antara kedua kelompok menunjukkan tidak dapat perbedaan antara kelompok nifedipin maupun metildopa (p>0.05). Rata-rata tekanan darah sistolik setelah penggunaan nifedipin adalah 131.15±14.90 dan kelompok metildopa 130.23±12.42(p=0.952). Rata-rata tekanan darah diastolik setelah penggunaan nifedipin adalah 86.59±10.18 dan kelompok metildopa 85.14±7.92(p=0.738). Tidak terdapat perbedaan efektivitas dan profil keamanan pada pasien preeklamsia dengan pemberian nifedipin maupun metildopa.
Pengetahuan Tentang Program Ayo Buang Sampah Obat Pada Apoteker yang Bekerja di Apotek Wilayah Yogyakarta
Achmad Wahyudi;
Susi Ari Kristina
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.65083
Obat bebas OTC dan obat resep dapat dengan mudah dibeli di apotek dan banyaknya obat yang digunakan dapat memicu seseorang untuk menyimpan obat yang tidak digunakan dan obat kedaluwarsa di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang Program Buang Sampah Obat pada apoteker. Jenis penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah apoteker lima kabupaten di DIY sebanyak 261 apoteker. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner melalui google form untuk melihat pengetahuan apoteker. Kuesioner terdiri dari karakteristik apoteker dan pengetahuan tentang Program Ayo Buang Sampah Obat. Analisis data dilakukan secara deskriptif, uji chi-square di analisis multivariat menggunakan uji regresi logistic berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas praktik pembuangan obat melalui wastafel dalam bentuk cair 102 (39,1%) dan dikembalikan ke distributor dalam bentuk solid dan semi solid 68 (26,1%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa apotek melayani PRB, usia, dan lokasi apotek berhubungan dengan tingkat pengetahuan apoteker (p<0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan usia paling berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan (nilai Wald 3,068), dengan tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan apoteker tentang pembuangan obat cukup rendah, dikarenakan masih banyak apoteker membuang obat ke tempat sampah.
Faktor Penyebab Ketidakpatuhan terhadap Peraturan Pangan: Studi Kualitatif pada Distributor Pangan Olahan di Kota Gorontalo
Lyna Nurhayati;
Satibi Satibi;
Sumarni Sumarni
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.65455
Kepatuhan pelaku usaha terhadap peraturan pangan penting dalam menjamin keamanan produk yang diproduksi atau diedarkannya. Tujuan penelitian ini adalah menggali faktor-faktor penyebab ketidakpatuhan pelaku usaha distributor pangan olahan terhadap peraturan di bidang pangan di Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam yang direkam dengan alat perekam. Responden utama adalah pelaku usaha yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan jenis sarana dan jenis pelanggarannya. Jenis sarana distribusi yang terwakili yaitu kios, toko, toko berantai dan distributor besar pangan olahan. Jumlah responden utama yang diwawancarai berjumlah 12 responden, terdiri dari 5 responden utama dan 7 responden konfirmasi (tiap sarana 1 responden utama kecuali sarana 1 sebanyak 2 responden utama). Hasil wawancara responden utama ditranskrip untuk kemudian dianalisis. Proses analisis meliputi penentuan pernyataan responden utama yang dianggap menjawab pertanyaan penelitian, konfirmasi pernyataan tersebut ke responden konfirmasi, coding, penentuan subkategori dan kategori. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan pelaku usaha terhadap peraturan di bidang pangan. Faktor penyebab tersebut adalah kurangnya pengetahuan pelaku usaha terhadap peraturan, faktor keuangan yang berasal dari tingginya permintaan konsumen terhadap praktek yang dilarang, serta faktor ketidakpedulian yang dikarenakan perilaku malas dan kesibukan pada pekerjaan lain.
Prevalensi Bakteri Resisten Karbapenem di RSUP Dr. Sardjito Periode Januari-Agustus 2020
Firdhani Satia Primasari;
Ika Puspitasari;
Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.65823
Salah satu kasus resistensi yang memerlukan perhatian khusus saat ini adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik golongan karbapenem. Adanya resistensi terhadap penggunaan antibiotik karbapenem dan belum ditemukannya antibiotik baru menjadikan cakupan pilihan antibiotik menjadi cukup sulit. Banyak negara telah melaporkan kejadian resistensi bakteri karbapenem dan jumlahnya terus mengalami peningkatan. Di Indonesia, data tersebut masih sangat minim dan belum banyak yang mengkaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya prevalensi dari tiga macam bakteri, yaitu Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan Enterobacterales spp yang resisten terhadap antibiotik karbapenem. Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif yang mengambil data hasil uji sensitivitas isolat Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan Enterobacterales (Klebsiella pneumoniae dan Escherichia coli) periode Januari-Agustus 2020. Prevalensi dihitung dengan membandingkan jumlah bakteri yang resisten karbapenem terhadap total isolat bakteri yang ada. Dari hasil perhitungan, diperoleh bahwa prevalensi dari ketiga macam bakteri tersebut fluktuatif tiap bulannya. Di mana didapatkan pola bahwa antara bulan April-Mei prevalensi ketiga bakteri resisten karbapenem tersebut mengalami penunurunan kemudian untuk mengalami peningkatan untuk Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii. Prevalensi bakteri resisten karbapenem tertinggi ditemukan pada Acinetobacter baumannii dengan rentang prevalensi antara 46,43%-70%, diikuti Pseudomonas aeruginosa dengan prevalensi sebesar 12,82%-23,33%, dan Enterobacterales dengan prevalensi 0,73%-8,24%.
Kesesuaian Penggunaan Obat Kortikosteroid dengan Formularium Nasional dan Formularium Rumah Sakit Di RSA UGM Yogyakarta
Agatha Agnes Stephanie Ramanto;
Dwi Endarti;
Satibi Satibi;
Taufiqurohman Taufiqurohman
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66088
Kesesuaian penggunaan obat dengan formularium nasional dan formularium rumah sakit menjadi salah satu tolak ukur dalam meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Tujuan penelitian ini melihat nilai persentase kesesuaian dengan formularium nasional dan formularium rumah sakit serta total nilai penggunaan obat kortikosteroid di RSA UGM Yogyakarta. Penelitian deskriptif ini mengumpulkan data secara retrospektif dari SIM RSA UGM Yogyakarta berupa data penggunaan obat tahun 2013, 2016 dan 2019. Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel untuk memperoleh nilai persentase kesesuaian dengan formularium nasional dan formularium rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan persentase kesesuaian penggunaan obat kortikosteroid dengan formularium nasional pada pasien JKN tahun 2016 dan 2019 sebesar 91,01% dan 81,28%. Persentase kesesuaian dengan formularium rumah sakit pada seluruh pasien tahun 2013, 2016 dan 2019 secara berturut-turut mencapai 100%; 99,8% dan 100%. Total nilai penggunaan obat kortikosteroid tahun 2016 mencapai Rp. 82.112.427 dan tahun 2019 mencapai Rp. 140.217.560. Kesesuaian penggunaan obat kortikosteroid dengan formularium nasional belum mencapai 100%, sedangkan kesesuaian dengan formularium rumah sakit telah mencapai 100%. Hal ini menjadi pertimbangan untuk selalu melakukan evaluasi agar penggunaan obat sesuai dengan acuan yang berlaku di RSA UGM Yogyakarta.
Efektivitas Penggunaan Asam Folat Dalam Memperbaiki Luaran Fungsional Pasien Stroke Iskemik Akut
Ratih Rakasiwi;
Zullies Ikawati;
Ismail Setyopranoto
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66230
Hiperhomositeinemia terjadi pada pasien stroke iskemik akut dan dapat memperburuk luaran terapi karena bersifat neurotoksik. Asam folat merupakan salah satu pilihan terapi yang dapat menurunkan kadar homosistein. Studi mengenai efektivitas asam folat pada pasien stroke iskemik akut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan asam folat dalam membantu memperbaiki luaran fungsional dan mengurangi durasi rawat inap pasien stroke iskemik akut. Penelitian dilakukan secara observasional-analitik dengan desain kohort retrospektif. Dari 168 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, diperoleh 72 pasien menerima asam folat dan 96 pasien sebagai kelompok kontrol dimana tidak menerima asam folat selama rawat inap. Efektivitas penggunaan asam folat dalam membantu memperbaiki luaran fungsional diukur menggunakan skala Modified Barthel Index (MBI) dengan membandingkan perubahan skor MBI antara kedua kelompok ketika masuk rumah sakit dan ketika evaluasi pada minggu pertama perawatan. Perubahan skor MBI pada kelompok asam folat dan kelompok kontrol masing-masing sebesar 3,03±2,79 dan 2,55±2,59 (p=0,343) dengan rerata durasi rawat inap selama 7,12±1,44 dan 7,46±1,84 hari (p=0,442). Penggunaan asam folat selama pengamatan pada minggu pertama tidak signifikan secara statistik baik dalam membantu memperbaiki luaran fungsional maupun mengurangi durasi rawat inap pasien stroke iskemik akut. Penelitian lebih lanjut dengan intervensi dan pengamatan yang lebih lama hingga fase kronik (selama 3-6 bulan) perlu untuk dilakukan.
Perilaku Swamedikasi Masyarakat Wonosobo selama Pandemi Covid-19
Rezha Nur Amalia;
Eva Annisaa';
Ragil Setia Dianingati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66442
The COVID-19 pandemic has resulted in restrictions on health services. It is estimated that there is concern about being infected when going to a health care facility that can influence people's behavior to do self-medication. This study aims to determine the behavior of self-medication in the Wonosobo community during the Covid-19 pandemic and the factors that influence it. This research is an observational descriptive study with an online survey technique using a questionnaire and using 107 samples with certain criteria obtained using a purposive sampling technique. The majority of respondents did self-medication 1-2 times during the Covid-19 pandemic (67.3%). The reason for doing self-medication is because they used to do it before the pandemic (57%), and the most felt complaint was pain (16%). The majority of drugs consumed were antipyretic drugs (26%) and the majority had taken drugs that are legally allowed to be used for self-medication (96%). The majority of respondents buy drugs at pharmacies (92%) and if they do not recover, they will check with a doctor (59.8%). The results of the test of the relationship between self-medication behavior with factors of age, education, and knowledge (p <0.05). While the factors of employment, income, health facilities, ownership of health insurance, type of health insurance, and sources of information on drug selection had no significant effect (p>0.05). So it can be concluded that age, education, and knowledge affect self-medication behavior in the Wonosobo community during the Covid-19 pandemic.
Uji Aktivitas Penangkapan Radikal 2,2- difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) Ekstrak Kering Meniran (Phyllanthus niruri L)
Andayana Puspitasari Gani;
Retno Murwanti;
Dyaningtyas Dewi Pamungkas Putri;
Miftahus Sa'adah
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66591
Meniran (Phyllanthus niruri L), adalah salah satu tanaman obat yang telah banyak digunakan dalam sediaan obat tradisional dengan indikasi meningkatkan daya tahan tubuh. Diduga terdapat hubungan yang kuat antara aktivitas antioksidan dan respon imun, terutama respon imun humoral yang diperantarai oleh aktivitas makrofag. Pembuatan ekstrak kering sebagai bahan baku sediaan obat tradisional berpotensi menimbulkan adanya perubahan aktivitas ekstrak dikarenakan adanya pemanasan pada prosesnya. Untuk itu, pada penelitian ini diuji aktivitas penangkapan radikal DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ekstrak kering meniran dengan kadar flavonoid total sebesar 0,79 ± 0,06 % EK, memiliki aktivitas penangkapan radikal DPPH dengan IC50 sebesar 74,28 µg/mL. Proses pengeringan dan penambahan bahan pengisi pada ekstrak dapat berpengaruh pada aktivitas penangkapan radikal DPPH.